Articles
15 Documents
Search results for
, issue
"Vol. 18 No. 2 (2023)"
:
15 Documents
clear
Pemodelan Quasigeoid Lokal Bali dari Data Gayaberat Teristris Menggunakan Formula Hotine
Triarahmadhana, Bagas;
Heiani, Leni Sophia;
Putra, Widy
GEOID Vol. 18 No. 2 (2023)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.12962/geoid.v18i2.1768
Quasigeoid lokal pulau Bali di definisikan menggunakan persamaan Hotine. Data yang digunakan kombinasi data gangguan gayaberat hasil pengukuran terestris, gayaberat lautDTU17, EGM2008 derajat 360 dan SRTM15dengan berbagai variasi jarak spheris diuji untuk menghasil quasigeoid teliti. Variasi jarak spherisyangdigunakan sebesar 0.1 , 0.3 , 0.5 , 0.7 , 0.9 , 1.1 , dan 1.3 . Quasigeoid dikoreksi dengan fungsi anomali gayaberat Bouguer untuk mendapatkan model geoid. Validasi geoid dibandingkan dengan 154 titik co-site GNSS/sipat datar teliti sepanjang jalur yang menghubungkan stasiun pasang surut laut Celukan Bawang ke Tanjung Benoa. Hasil perbandingan menunjukkan bahwa geoid dengan jarak spheris 0.9 paling akurat dengan nilai standar deviasi sebesar 20,9 cm. Standar deviasi menunjukkan bahwa terjadi pola penurunan nilai dari jarak spheris 0.3 ke 0.9 . Kondisi tersebut dapat disebabkan karena optimalisasi eliminasi kesalahan trunkasi gangguan gayaberat. Meskipun demikian, penelitian yang lebih komprehensif diperlukan untuk menunjukkan pengaruh hubungan antara jarak spheris dan interval data gayaberat yang tersedia.
Studi Tentang Implementasi LiDAR Pada Perencanaan Jalan Tol Ruas Aceh-Sigli
Hayuningsih, Annisa Farida;
Setyawan, Afradon Aditya;
Wiranata, Halim
GEOID Vol. 18 No. 2 (2023)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.12962/geoid.v18i2.1769
Jalan tol merupakan salah satu infrastruktur yang berperan untuk membantu meningkatkan perekonomian masyarakat. Melalui program Nawacita, Indonesia membangun infrastruktur jalan tol yang tersebar di seluruh daerah. Pada proses pembangunan jalan tol, diperlukan perencanaan jalur tol yang baik. Teknologi LiDAR merupakan salah satu teknologi penginderaan jauh yang mampu menghasilkan data point clouds obyek-obyek yang dipindai. Kumpulan data point clouds tersebut digunakan untuk membangun Digital Terrain Model (DTM) dan peta kontur. Pada penelitian bertujuan untuk melakukan studi terhadap implementasi teknologi LiDAR pada proses perencanaan jalur tol ruas Aceh-Sigli. Dari penelitian ini dihasilkan akurasi peta kontur yaitu 0.29. Berdasarkan standar Peraturan Badan Informasi Geospasial Nomor 6 Tahun 2018 tentang Pedoman Teknik Ketelitian Peta Dasar, peta kontur dengan interval 1 meter ini termasuk pada kategori peta RBI kelas 2. DTM yang dihasilkan dari penelitian ini mampu menyajikan kondisi topografi lokasi pembangunan jalan tol secara detail. Obyek-obyek yang mampu disajikan oleh DTM pada penelitian ini antara lain, obyek rumah, vegetasi, jaringan kabel, dan infrastruktur lainnya. Informasi obyek yang disajikan oleh DTM tersebut bermanfaat untuk mendesain jalur tol. Berdasarkan hasil penelitian ini, teknologi LiDAR dapat dimanfaatkan untuk memetakan kondisi topografi kawasan pembangunan jalan tol agar jalan tol yang dihasilkan memiliki kualitas yang baik. Toll roads are one of the infrastructures that play a role in helping improve the community's economy. Through the Nawacita program, Indonesia builds toll road infrastructure spread throughout the region. In the toll road construction process, good toll lane planning is needed. LiDAR technology is a remote sensing technology capable of generating point clouds of scanned objects. The collection of point clouds is used to build a Digital Terrain Model (DTM) and contour maps. This study aims to conduct a study on the implementation of LiDAR technology in the planning process of the Aceh-Sigli toll road section. From this research, the accuracy of the contour map is 0.29. Based on the standards of the Geospatial Information Agency Regulation Number 6 of 2018 concerning Basic Map Accuracy Technical Guidelines, this contour map with 1-meter intervals is included in the RBI class 2 map category. The objects that can be presented by DTM in this study include houses, vegetation, cable networks, and other infrastructure. The object information presented by the DTM is useful for designing toll roads. Based on the results of this study, LiDAR technology can be used to map the topographic conditions of the toll road construction area so that the resulting toll road has good quality.
Pengaruh Australian Summer Moonson pada Precipitable Water Vapour di Jawa Timur Tahun 2015-2020
Handoko, Eko Yuli;
Maulida, Putra;
Kurniawan , Akbar;
Dermawan, Anak Agung Adhi
GEOID Vol. 18 No. 2 (2023)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.12962/geoid.v18i2.1770
Precipitable Water Vapor merupakan parameter iklim penting yang menunjukkan kelembaban yang tersedia di atmosfer dan memainkan peranan penting dalam siklus hidrologi karena terbentuk oleh penguapan/evapotranspirasi dari permukaan ke atmosfer, dapat mengembun menjadi awan dan dapat kembali kembali ke permukaan dalam bentuk presipitasi. Precipitable Water Vapor dapat dipengaruhi fenomena alam seperti siklus monsun. Saat ini, teknologi Sistem Satelit Navigasi Global saat ini dapat digunakan untuk mendapatkan nilai Precipitable Water Vapour. penelitian ini bertujuan menganalisa korelasi pengaruh monsun musim panas Australia dengan variasi PWV di Jawa Timur selama 5 tahun (2015 – 2020). Perbandingan Precipitable Water Vapor hasil pengukuran GPS dengan PWV alat Radiosonde dengan periode dan lokasi yang sama menunjukkan korelasi yang kuat (Corr = 0,9) dengan RSME sebesar 0,02 m. Sedangkan korelasi baik secara spasial dan temporal PWV pada stasiun CORS Jawa Timur bagian timur menunjukkan korelasi yang cukup kuat (Corr = 0.2 hingga 0,6) dengan monsun musim panas Australia dan korelasi semakin lemah pada stasiun CORS Jawa Timur bagian tengah dan barat.
Analisis Pemetaan Skala 1:1000 Menggunakan Data Unmanned Aerial Vehicle (UAV) (Studi Kasus: Waduk Selorejo - Kabupaten Malang)
Cahyono, Agung Budi;
Handayani, Hepi Hapsari;
Nurwatik , Nurwatik
GEOID Vol. 18 No. 2 (2023)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.12962/geoid.v18i2.1771
UAV Fotogrametri telah dipergunakan di berbagai sektor, salah satunya adalah untuk pemetaan dasar di Waduk Selorejo di desa Pandansari, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang. Penelitian ini adalah kerjasama Departemen Teknik Geomatika ITS dengan Perum Jasa Tirta I dalam rangka inventarisasi data dan kegiatan Mata Kuliah Kemah Kerja tahun 2022. Akuisisi data foto ini dilakukan dengan menggunakan wahana UAV jenis tipe rotor QuadCopter Dji Phantom 4 Pro sebanyak 3 unit. Berdasarkan pemotretan udara yang dilakukan di area wisata Waduk Selorejo, didapatkan hasil sebanyak 678 buah foto udara. Wilayah pemetaan mencakup bagian Selatan wilayah Waduk Selorejo. Perencanaan kontrol koordinat dilakukan terhadap 4 GCP (Ground Control Point) dan misi terbang pada 4 buah misi terbang. Misi terbang 1 dan 2 digunakan untuk pengolahan Blok I, misi terbang 2 dan 3 digunakan untuk pengolahan Blok II, serta misi terbang 3 dan 4 digunakan untuk pengolahan Blok III. Didapatkan hasil tinggi terbang rata-rata adalah 150 meter hingga didapatkan nilai Ground Sampling Distance (GSD) 4.23 cm/piksel. Dari hasil pengolahan data, didapatkan Circular Error (CE) 90% senilai 0.0602 meter dan memenuhi standar ketelitian peta RBI yang berada di rentang skala 1:1000 dan 1:2500 berdasarkan perka BIG No. 6 Tahun 2018.
Pembuatan Peta Wisata Waduk Selorejo, Desa Pandansari, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang, Propinsi Jawa Timur
Yuwono, Yuwono;
Pratomo, Danar Guruh;
Pribadi , Cherie Bhekti;
Khomsin, Khomsin;
Kurniawan, Akbar;
Anjasmara , Ira Mutiara
GEOID Vol. 18 No. 2 (2023)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.12962/geoid.v18i2.1772
Sektor pariwisata dapat mendatangkan pemasukan untuk suatu daerah dan juga berakibat positif bagi masyarakat sekitarnya untuk peningkatan pendapatan dan kesejahteraan. Di Indonesia sangat banyak destinasi wisata, baik wisata alam, wisata budaya, wisata pendidikan, dan sebagainya.Waduk Selorejo merupakan salah satu objek wisata yang berada di Desa Pandansari, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Waduk ini dikelola oleh Perum Jasa Tirta. Objek wisata disini lebih tepat sebagai wisata keluarga. Pengelola yang dalam hal ini Perum Jasa Tirta berusaha untuk meningkat jumlah kunjungan wisata, salah satunya dengan menggelar pagelaran yang disukai dan diminati rakyat. Promosi pariwisata dilakukan dengan harapan memberikan hasil yang memuaskan pengunjung dan kontribusi pendapatan yang dapat membantu perusahaan untuk mempertahankan fungsinya sebagai pengelola infrastruktur sumber daya air. Selain untuk wisata, waduk juga untuk irigasi, PLTA, keperluan sehari hari masyarakat hilir yang membutuhkan air. Mengingat pentingnya fungsi waduk ini dan untuk menjaga kerbelangsungan kondisi air waduk dari pendangkalan misalnya, juga untuk membantu perencanaan pengembangan secara fisik daerah wisata ini, tentu dibutuhkan peta. Peta yang dapat menggambarkan integrasi antara kondisi daerah darat dan kondisi waduk (perairan) tersebut dapat dibuat integrasi dari Peta Topografi dan Peta Batimetri. Metode yang digunakan pada pembuatan Peta Topografi adalah dengan mengukur kondisi topografi daerah tersebut dengan peraltan Total Station, GPS, dan Waterpass. Selanjutnya dilakukan pengolahan data untuk mendapatkan koordinat. Selanjutnya koordinat diplot dengan skala tertentu yang diberi keterangan atau infomasi tambahan untuk menjadikan Peta Topografi. Untuk pembuaatan Peta Batimetri, pada prinsipnya sama tahapannya dengan pembuatan peta topografi, namun peralatan yang digunakan adalah alat ukur kedalaman dasar perairan (Echosounder) dan untuk positioning digunakan Global Positioning System (GPS). Integrasi dari dua peta ini akan dibuat Peta Wisata yang dapat membantu Pengelola Waduk Selorejo untuk memonitoring waduk dan juga untuk bahan pengembangan fisik daerah tersebut.
Kesesuaian Penggunaan Lahan di Kota Metro Terhadap Pola Ruang
Rahmadi, Eko;
Dewi, Citra;
Anisa, Rahma;
Fajriyanto , Fajriyanto
GEOID Vol. 18 No. 2 (2023)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.12962/geoid.v18i2.1773
Perkembangan perekonomian di Kota Metro yang didominasi bidang industri, jasa dan pertanian berbanding lurus dengan peningkatan kebutuhan akan lahan. Pemenuhan kebutuhan akan lahan yang berimplikasi dengan kondisi ekonomi pada tingkat kabupaten/kota membutuhkan penggunaan lahan yang selaras dengan acuan yang ada agar mencapai tujuan pembangunan. Penelitian ini dilakukan dengan mengolah data citra landsat 8 menggunakan metode klasifikasi terbimbing dan pengujian hasil klasifikasi dengan menggunakan matriks konfusi. Proses analisis kesesuaian penggunaan lahan terhadap pola ruang dilakukan dengan menggunakan teknik overlay. Hasil penelitian menunjukkan kelas penggunaan lahan terdapat 4 kelas yaitu pemukiman, pertanian, tanah terbuka dan tubuh air. Luas penggunaan lahan yang sesuai dengan pola ruang sebesar 5416,75 Ha, sedangkan luas penggunaan lahan yang tidak sesuai sebesar 1457,25 Ha. Kata kunci: kesesuaian lahan; penggunaan lahan; pola ruang
Pembuatan Model 3D Bangunan LoD3 Dengan Pemanfaatan Foto Udara dan Fotogrametri Terrestris
Apriansyah, Muh;
Harintaka, Harintaka
GEOID Vol. 18 No. 2 (2023)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.12962/geoid.v18i2.1774
Foto udara maupun fotogrametri terrestris yang merupakan teknologi dari fotogrametri dapat digunakan untuk pemodelan 3D. Untuk menampilkan sebuah informasi secara visual yang mengutamakan nilai estetika dan bentuk ojeknya. Fotogrametri telah lama digunakan untuk dokumentasi bangunan dan benda cagar budaya. Teknik ini memungkinkan untuk membuat model 3D dari foto 2D, dan dengan demikian sangat berguna dalam visualisasi detail arsitektur suatu bangunan atau gedung. Pada penelitian ini, dilakukan pemodelan bangunan 3D di wilayah Asrama Putri Ratnaninngsih Kinanti Universitas Gadjah Mada menggunakan metode kombinasi foto udara dan fotogrametri terrestris dengan memanfaatkan teknologi SfM (structure from motion). Point cloud diperoleh dari pengolahan foto udara dan fotogrametri terrestris. Kamera yang terpasang pada wahana udara yang digunakan untuk mengakuisisi data foto memungkinkan untuk mengakuisisi bagian bangunan seperti atap dan detail bangunan atau bagian gedung yang tidak memungkinkan menggunakan fotogrametri terrestris. Point cloud yang diperoleh dari hasil pengolahan SfM digunakan untuk melakukan pemodelan 3D dengan melakukan digitasi manual setiap elemen bangunan seperti jendela,pintu, lorong dan elemen bangunan lainya sesuai batasan tepi pada point cloud. Model 3D bangunan yang berhasil dimodelkan dari 1201 foto dan 19 buah sebaran titik kontrol tanah, apabila dilihat secara visual serupa dengan model dan bentuk obyek yang sebenarnya. Fasad yang terbentuk dari pemodelan hampir mengikuti model aslinya seperti pintu, jendela, lorong, dan teralis dapat terlihat pada model 3D. Metode yang diterapkan dalam penelitian ini memberikan hasil yang baik. Model 3D yang dihasilkan dari penelitian ini memiliki ketelitian posisi geometri sebesar 8,843 cm dan ketelitian tinggi (H) 5,377 cm, ketelitian dimensi sebesar 11,120 cm dengan kelengkapaan semantik bangunan yang sesuai dengan bangunan aslinya. Proses pemodelan 3D secara otomastis menggunakan teknologi SfM (Structure from Motion) tersebut menghasilkan model bangunan 3D dalam Level of Detail (LoD) 3 dengan nilai Root Mean Square Error < 0,5 meter berdasarkan standar City Geography Markup Language (CityGML).
Kajian Terhadap Aspek Geospasial Kabupaten dan Kota yang Bercirikan Kepulauan di Indonesia
Putri , Debi Nadia;
Arsana, I Made Andi
GEOID Vol. 18 No. 2 (2023)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.12962/geoid.v18i2.1775
Indonesia adalah salah satu negara kepulauan (archipelagic state) yang memiliki kondisi geografis sangat strategis. Luas wilayah perairan Indonesia terbagi menjadi perairan kepulauan dan perairan pedalaman yang memiliki luas 3.092.085 km2, laut teritorial memiliki luas 282.583 km2, untuk zona ekonomi eksklusif seluas 2.936.345 km2 dan luas landas kontinen Indonesia yaitu 2.749.001 km2. Dengan demikian Indonesia memiliki total wilayah laut seluas 3.223.137 km2 dan luas daratan sebesar 1.890.739 km2. Jumlah pulau yang ada di Indonesia dan sudah terverifikasi pada tahun 2017 tercatat sebanyak 16.056 pulau. Pulau-pulau dan ruang laut tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak luput dari pengelolaan dan tanggung jawab pemerintah Indonesia. Meskipun demikian, jumlah dan posisi pulau serta jarak antar pulau seringkali menjadi kendala dalam pembangunan sehingga menyebabkan tidak meratanya pembangunan yang ada di Indonesia khususnya pada daerah pulau-pulau kecil dan pulau-pulau terluar. Hal ini memerlukan perhatian dan langkah khusus agar isu ketidakmerataan pembangunan bisa diatasi, salah satunya dengan memberi kewenangan kepada pemerintah daerah dalam melakukan pengelolaan. Undang-Undang No 23/2014 pasal 14 menyatakan bahwa “daerah kabupaten/kota yang memiliki hasil laut mendapatkan pembagian hasil laut yang berada dalam batas wilayah 4 mil laut yang diukur dari garis pantai ke arah laut lepas atau kearah perairan kepulauan”. Hal ini menegaskan bahwakewenangan pengelolaan pulau-pulau dan wilayah laut diserahkan kepada pemerintah daerah kabupaten/kota. Pada proses pengelolaannya, daerah yang memiliki wilayah laut luas dengan banyak pulau tentunya berbeda dengan daerah yang tidak memiliki wilayah laut dan pulau-pulau. Karena kompleksitasnya, perlu dilakukan pengelolaan khusus untuk daerah yang memiliki laut dan pulau-pulau yang diistilahkan dengan “Bercirikan Kepulauan”. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi daerah kabupaten/kota yang bercirikan kepulauan berdasarkan aspek geospasialnya. Analisis dilakukan mulai dari 1) menentukan batas daerah laut 2) menghitung luas wilayah laut dan daratan 3) mengitung jumlah pulau dan gugusan pulau yang ada disetiap kabupaten/kota. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini yaitu kabupaten/kota yang memenuhi syarat secara geospasial sebagai daerah kepulauan yaitu sebanyak 66 kabupaten/kota.
Literature Review: Pengaruh Administrasi Pertanahan dalam Penilaian Tanah
Deviantari, Udiana Wahyu;
Djurdjani, Djurdjani
GEOID Vol. 18 No. 2 (2023)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.12962/geoid.v18i2.1776
Sistem Administrasi Pertanahan dalam suatu negara dapat menentukan infrastruktur dalam mengimplementasi kebijakan pertanahan dan strategi pengelolaan pertanahan. Pentingnya tanah sebagai faktor produksi dan bahan untuk pembangunan menyoroti peran administrasi tanah dalam pembangunan ekonomi suatu negara. Pajak tanah merupakan instrumen yang dapat memberikan manfaat untuk pembangunan perkotaan. Dalam menentukan pajak tanah harus memadai, efisien dan adil. Permasalahan perpajakan properti adalah dalam pengenaan pajak properti yang dinilai terlalu rendah, dan pemungutan pajaknya yang kurang baik. Permasalahan tersebut akibat dari administrasi pertanahan yang tidak efisien, yaitu kurangnya transparansi informasi pertanahan. Tujuan dalam makalah adalah kajian literatur review mengenai pengaruh administrasi tanah dalam penilaian tanah di Indonesia. Dalam evaluasi administrasi tanah dalam penilaian tanah di Indonesia berdasarkan kelembagaan, hak atas tanah dan properti, penilaian tanah dan properti, kriteria penentuan pajak tanah. Dari hasil kajian dapat disimpulkan bahwa perlu adanya perangkat untuk standarisasi dan integrasi data, dalam hal ini adalah ISO 19110. Dan dalam proses penentuan pajak tanah dapat di kombinasikan dengan pemodelan yang dapat digunakan untuk memprediksi nilai pajak tanah dan properti serta melakukan otomatisasi dalam perhitungan NJOP.
Studi Ketelitian Planimetris dan Luas Hasil Foto Udara Unmanned Area Vehicle (UAV) Guna Menunjang Kegiatan Pendaftran Tanah Sistematik Lengkap (PTSL) (Studi Kasus : Desa Candi Laras Selatan dan Desa Baringin B, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan)
Hariyanto, Teguh;
Pakaya, Ihsan
GEOID Vol. 18 No. 2 (2023)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.12962/geoid.v18i2.1777
Program percepatan sertipikat Hak Atas Tanah melalui Program Pendaftaran Tanah Sistem Lengkap (PTSL), tengah digencarkan oleh Kementerian Agraria dan Tata Ruang / Badan Pertanahan Nasional (BPN) tahun 2017-2025. Program ini diharapkan akan mampu memecahkan konflik pertanahan yang ada di Indonesia serta mampu mendorong pergerakan dan kemajuan ekonomi masyarakat. Masih banyak bidang-bidang tanah yang belum terpetakan di setiap Kantor Pertanahan di seluruh Indonesia. Oleh sebab itu, dibutuhkan metode pengukuran dan pemetaan bidang tanah yang efektif dan efisien untuk menunjang program pemerintah tersebut.Salah satu metode yang dapat digunakan selain pengukuran terestris adalah metode fotogrametri menggunakan wahana pesawat tanpa awak atau biasa disebut Unmanned Aerial Vehicle (UAV). Pengujian ketelitian geometri dilakukan dengan berpedoman pada peraturan BIG Nomor 6 Tahun 2018 tentang Perubahan Peraturan Kepala Badan Informasi Geospasial Nomor 15 Tahun 2014 Tentang Pedoman Teknis Ketelitian Peta Dasar. Sedangkan pengujian ketelitian planimetrik dilakukan dengan membandingkan luas serta jarak dari sampel bidang tanah antara hasil pengukuran UAV dengan hasil pengukuran Pendaftaran Tanah Sistem Lengkap (PTSL) yang berpedoman pada Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang / Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 1997. Hasil dari orthorektifikasi foto udara digunakan untuk menganalisis perbedaan luas dan jarak antara data pengukuran di lapangan dengan delineasi pada foto udara.Berdasarkan Peraturan Kepala Badan Informasi Geospasial Nomor 6 tahun 2018 mengenai Perubahan Atas Peraturan Kepala Badan Informasi Geospasial Nomor 15 Tahun 2014 tentang Pedoman Teknis Ketelitian Peta Dasar, akurasi geometrik yang dihasilkan berdasarkan ICP dengan nilai akurasi horizontal (CE90) yaitu sebesar 0,076 meter dan nilai akurasi vertikal (LE90) sebesar 0,108 meter memenuhi klasifikasi ketelitian geometri peta RBI skala 1:1000 kelas 3 dengan nilai CE90 kurang dari 0,9 meter dan nilai LE90 kurang dari 0,4 meter. Nilai RMSE berdasarkan pada Peraturan Menteri Negara Agraria / Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 1997 Tentang Pedoman Teknis Ketelitian Peta Dasar Pendaftaran sebesar 0,285 meter dan memenuhi skala 1:1000 dimana besar toleransi yang diberikan yaitu lebih besar atau sama dengan 0,3 mm pada skala peta. Hasil perbandingan luas berdasarkan pada Peraturan Menteri Negara Agraria / Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun pada 16 bidang permukiman 13 bidang (81,25%) memenuhi toleransi, dari 12 bidang persawahan dan menunjukkan 7 bidang (58,33%) memasuki toleransi dan dari 8 bidang hanya 1 bidang (12,5%) yang memenuhi toleransi.