cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
REKA KARSA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 382 Documents
Perancangan Pusat Perbelanjaan Bahan Bangunan Melalui Pendekatan Arsitektur Industrial di Kota Bandung Abdilah, Jana; Hendrarto, Tecky
Reka Karsa: Jurnal Arsitektur Vol 13, No 2
Publisher : Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v13i2.13462

Abstract

ABSTRAK Pusat perbelanjaan bahan bangunan adalah fasilitas komersial yang menyediakan berbagai material konstruksi terintegrasi. Kota Bandung, proyek Material Builder Center yang terletak di Jalan Ahmad Yani menawarkan lokasi strategis dengan aktivitas perdagangan tinggi, memenuhi kebutuhan masyarakat dan industri konstruksi di kawasan ekonomi yang berkembang pesat ini. Proyek ini mengusung pendekatan Arsitektur Industrial dengan material mentah seperti beton ekspos, baja, dan kayu. Menggunakan konsep Open Space, desainnya mengutamakan efisiensi logistik, optimalisasi sirkulasi, serta estetika yang menarik, memberikan kenyamanan bagi pengguna dalam ruang yang luas dan fungsional. Metodologi penelitian ini mencakup persiapan, survei lokasi, studi teknis, perancangan konsep, dan desain teknis. Analisis SWOT digunakan untuk menilai potensi dan tantangan. Zonasi tapak terbagi menjadi empat area utama: publik, atrium, privat, dan service & pengelola, untuk efisiensi operasional dan pengalaman belanja yang nyaman. Proyek ini bertujuan menjadi pusat perbelanjaan bahan bangunan inovatif di Bandung, menyediakan produk berkualitas, meningkatkan pengalaman pelanggan, dan mendukung pembangunan berkelanjutan. Dengan konsep arsitektur yang efisien dan estetis, Material Builder Center diharapkan menjadi model pusat perbelanjaan yang fungsional dan terpercaya. Kata kunci: arsitektur industrial, open space, pembelanjaan modern, pusat perbelanjaan bahan bangunan ABSTRACT A building material shopping center is a commercial facility offering an integrated range of construction materials. In Bandung, the Material Builder Center project, located on Jalan Ahmad Yani, provides a strategic location with high trade activity, catering to both the community and the construction industry in this rapidly growing economic area. The project adopts an Industrial Architecture approach, featuring raw materials like exposed concrete, steel, and wood. The Open Space concept prioritizes logistical efficiency, circulation optimization, and aesthetics, ensuring user comfort in a spacious and functional environment. The research methodology includes preparation, site survey, technical study, concept design, and technical design. A SWOT analysis is used to evaluate potential and challenges. The site is zoned into four key areas: public, atrium, private, and service & management, aiming for operational efficiency and a pleasant shopping experience. This project aspires to be an innovative building materials center in Bandung, offering quality products, improving customer experiences, and contributing to sustainable development. With a functional and aesthetic architectural design, it is expected to become a model shopping center. Keywords: industrial architecture, open space, modern shopping, building material shopping center
Penerapan Desain Kontemporer Pada Fasad Perancangan Mall Sport Gear Di Segitiga Emas Kosambi Bandung Lestari, Sindy; Sihombing, Reza Pahlevi
Reka Karsa: Jurnal Arsitektur Vol 13, No 2
Publisher : Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v13i2.13472

Abstract

ABSTRAK Perancangan fasad Mall Sport Gear di Segitiga Emas Kosambi Bandung bertujuan untuk menciptakan identitas arsitektural yang modern dan menarik, sekaligus mencerminkan konsep kontemporer dalam desainnya. Fasad berperan penting dalam menentukan karakter bangunan serta memberikan pengalaman visual yang berkesan bagi pengguna. Penelitian ini menyoroti penerapan elemen-elemen desain kontemporer pada fasad, seperti penggunaan material inovatif, permainan bentuk dan tekstur, serta integrasi pencahayaan alami yang optimal. Metode yang digunakan meliputi studi literatur, analisis kontekstual lokasi, serta analisis desain yang fokus pada kenyamanan dan ketahanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan material ramah lingkungan, desain fasad yang responsif terhadap iklim, serta penggunaan elemen transparansi dapat meningkatkan estetika sekaligus kenyamanan pengguna. Selain itu, penerapan teknologi smart fasad berkontribusi dalam mengoptimalkan efisiensi energi dan mendukung konsep bangunan hijau. Dengan demikian, desain fasad ini diharapkan dapat menjadi ikon arsitektur kontemporer yang tidak hanya berfungsi sebagai elemen estetika, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi minat lingkungan perkotaan dan daya tarik komersial mall tersebut. Kata kunci: desain kontemporer, fasad, mall sport gear, segitiga emas kosambi, smart facade  ABSTRACT The façade design of the Mall Sport Gear in Segitiga Emas Kosambi Bandung aims to create a modern and attractive architectural identity while reflecting contemporary design concepts. The façade plays a crucial role in defining the building's character and providing a memorable visual experience for users. This study highlights the application of contemporary design elements in the façade, such as the use of innovative materials, the interplay of forms and textures, and the integration of optimal natural lighting. The methods used include literature studies, contextual site analysis, and design analysis focusing on comfort and resilience. The findings indicate that the use of environmentally friendly materials, a climate-responsive façade design, and the incorporation of transparency elements can enhance both aesthetics and user comfort. Additionally, the implementation of smart façade technology contributes to optimizing energy efficiency and supporting the green building concept. Thus, this façade design is expected to become a contemporary architectural icon that not only serves as an aesthetic element but also adds value to urban sustainability and the commercial appeal of the mall. Keywords: Contemporary Design, façade, mall sport gear, segitiga emas kosambi, smart facade
Kajian Konsep Pengembangan Pariwisata Berbasis Warisan Budaya Lokal Pada Ruang Publik Taman Ismail Marzuki Riswanti, Sri; S, Natasya
Reka Karsa: Jurnal Arsitektur Vol 13, No 1
Publisher : Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v13i1.13220

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini merupakan studi untuk menginvestigasi sejauh mana penggabungan faktor budaya dan warisan lokal dalam pengembangan pariwisata Taman Ismail Marzuki (TIM) di Jakarta, Indonesia melalui sudut pandang desain interior, arsitektur, dan psikologi. TIM sebagai pusat budaya terkemuka yang dikenal dengan warisan seni dan budaya yang beragam dan dinamis, dengan menggunakan teori Place Attachment, dan Psikologi Lingkungan, penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana elemen desain dan arsitektur TIM berkontribusi terhadap pelestarian budaya dan meningkatkan pengalaman pengunjung. Menggunakan metode penelitian kualitatif, berupa pengumpulan data, wawancara, observasi, dan analisis elemen desain dan arsitektur. Tantangan dalam menjaga identitas, karakter dan keaslian ekspresi budaya berupa keseimbangan antara tuntutan komersial dengan pelestarian budaya tetap akan menjadi perhatian. Temuan yang diperoleh mengungkapkan bahwa revitalisasi TIM mampu menggabungkan konsep tradisional Indonesia dan elemen modern sehingga menciptakan ruang budaya modern unik yang menumbuhkan keharmonisan yang secara signifikan meningkatkan kesejahteraan emosional dan apresiasi budaya. Kata kunci: budaya warisan lokal, jakarta , psikologi lingkungan, pariwisata berkelanjutan, taman ismail marzuki ABSTRACT This research is a study to investigate the extent of incorporation of local culture and heritage factors in the tourism development of Taman Ismail Marzuki (TIM) in Jakarta, Indonesia through the viewpoints of interior design, architecture, and psychology. TIM as a leading cultural center known for its diverse and dynamic arts and cultural heritage. Using Place Attachment theory, and Environmental Psychology, this research aims to understand how TIM's design and architectural elements contribute to cultural preservation and enhance the visitor experience. Using qualitative research methods, in the form of data collection, interviews, observations, and analysis of design and architectural elements. The challenge of maintaining the identity, character and authenticity of cultural expressions in the form of balancing commercial demands with cultural preservation will remain a concern. The findings obtained reveal that the revitalization of TIM is able to combine traditional Indonesian concepts and modern elements thus creating a unique modern cultural space that fosters harmony that significantly improves emotional well-being and cultural appreciation. Keywords: local heritage culture,  jakarta,  environmental psychology, sustainable tourism, taman ismail marzuki
Penerapan Arsitektur Ekologi Pada Perancangan Ekowisata Gunung Halu Zakaria, Reza; Rahadian, Erwin Yuniar; Suryadini, Widya
Reka Karsa: Jurnal Arsitektur Vol 11, No 1
Publisher : Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v11i1.7608

Abstract

ABSTRAK Wisata Alam Mount Halu memiliki banyak potensi sebagai destinasi wisata karena lokasinya di perdesaan dan memiliki pemandangan alam yang indah.  Dengan pertumbuhan tren pariwisata di seluruh dunia, ekowisata telah menjadi salah satu jenis wisata yang semakin diminati karena memiliki kemampuan untuk mendorong pelestarian budaya dan lingkungan serta memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar.  Untuk menemukan prospek, masalah, dan kebutuhan area, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan mengumpulkan data literatur serta observasi langsung di lapangan.  Selama proses perancangan, prinsip-prinsip arsitektur ekologi digunakan untuk menanggapi bagaimana sumber daya alam terbatas dan bagaimana menjaga lingkungan secara berkelanjutan.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggabungan potensi tapak seperti iklim mikro, kontur, dan vegetasi dengan penggunaan material lokal dapat mengurangi kerusakan lingkungan.  Penggunaan bambu gombong sebagai lapisan kedua di bangunan, penerapan sirkulasi yang ramah lingkungan, dan pembatasan perkerasan di daerah tertentu adalah contoh implementasi desain berkelanjutan.  Hasilnya menunjukkan bahwa memasukkan prinsip ekologi ke dalam desain ecotourism Mount Halu dapat memperkuat karakter tempat itu sekaligus mengoptimalkan manfaat lingkungan sekitar. Kata kunci: arsitektur ekologi, ekowisata, gunung halu  ABSTRACT Mount Halu Nature Tourism possesses significant potential as a tourist destination due to its rural setting and scenic natural landscape. In line with global tourism trends, ecotourism has become increasingly popular for its capacity to encourage environmental and cultural conservation while generating positive impacts for surrounding communities. This study employs a qualitative approach by collecting data through literature review and direct field observation to identify the prospects, challenges, and needs of the area. During the design process, principles of ecological architecture are applied to address the limitations of natural resources and to promote environmental sustainability. The findings indicate that integrating site potentials—such as microclimate conditions, contour characteristics, and existing vegetation—with the use of local materials can effectively reduce environmental degradation. Examples of sustainable design implementation include the use of bambu gombong as a secondary skin for buildings, environmentally responsive circulation systems, and the restriction of hardscape areas in selected zones. Overall, the results demonstrate that incorporating ecological principles into the design of Mount Halu Ecotourism strengthens the character of the site while optimizing its environmental benefits. Keywords: ecological architecture, ecotourism, gunung halu
Penerapan Arsitektur Futuristik Pada Penerapan Taman Bunga Gardenia Themepark di Kabupaten Bandung Wafda Abdullah, Muhammad Daffa; Wahadamaputera, Shirley; Suryadini, Widya
Reka Karsa: Jurnal Arsitektur Vol 11, No 2
Publisher : Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v11i2.9994

Abstract

ABSTRAK Tema taman tematik di Indonesia umumnya masih didominasi oleh taman bermain, padahal Indonesia memiliki kekayaan flora yang berpotensi besar untuk dikembangkan sebagai daya tarik wisata. Kekurangan sarana rekreasi berbasis edukasi flora di Kabupaten Bandung mendorong perlunya pengembangan taman tematik bunga sebagai alternatif destinasi wisata. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif untuk mengidentifikasi potensi kawasan, kebutuhan pengunjung, serta strategi desain yang tepat dalam perancangan Gardenia Theme Park. Data diperoleh melalui studi literatur, analisis tapak, dan kajian desain. Hasil perancangan menunjukkan bahwa penerapan gaya futuristik pada bangunan di dalam taman mampu menciptakan identitas visual yang unik dan menarik bagi pengunjung. Penataan tapak dirancang dengan skybridge yang menghubungkan hampir seluruh fasilitas sehingga mendukung sirkulasi ramah lingkungan dan memaksimalkan penyerapan air hujan. Elemen desain lainnya meliputi cottage bertipe pilotis yang memberikan pengalaman menginap di atas lanskap alami, green roof pada visitor center yang sekaligus menjadi area pertunjukan musik, serta tiga bangunan conservatory flora yang menampilkan koleksi tanaman Indonesia, Asia, dan mancanegara. Bentuk futuristik conservatory diwujudkan melalui massa menyerupai tetesan air dengan struktur space truss baja dan penutup atap low-e glass untuk mengoptimalkan cahaya dan menjaga kelembapan ruang. Temuan ini menunjukkan bahwa Gardenia Theme Park berpotensi menjadi solusi inovatif dalam menghadirkan sarana rekreasi yang edukatif dan berkelanjutan di Kabupaten Bandung, dengan mengintegrasikan keindahan alam dan teknologi modern dalam satu kawasan. Kata kunci: taman tematik bunga, futuristik, kabupaten bandung  ABSTRACT Thematic parks in Indonesia are generally dominated by recreational playgrounds, despite the country’s rich floral diversity which holds significant potential to be developed as an attractive tourism asset. The limited availability of flora-based educational recreational facilities in Bandung Regency highlights the need for a flower-themed park as an alternative tourist destination. This study employs a descriptive–qualitative approach to identify site potentials, visitor needs, and appropriate design strategies for the development of the Gardenia Theme Park. Data were obtained through literature review, site analysis, and design studies. The design results indicate that applying futuristic architectural expressions within the park creates a distinctive visual identity that enhances visitor appeal. The site layout incorporates a skybridge system connecting most facilities, supporting environmentally friendly circulation and maximizing rainwater absorption. Additional design elements include pilotis-style cottages that provide a unique elevated lodging experience, a green roof on the visitor center that also functions as a live music venue, and three floral conservatories showcasing plant collections from Indonesia, Asia, and other regions. The futuristic character of the conservatories is articulated through building masses inspired by water droplets, supported by steel space-truss structures and low-e glass roofing to optimize daylight and maintain interior humidity. These findings demonstrate that the Gardenia Theme Park has strong potential to become an innovative recreational facility that is educational and environmentally sustainable for Bandung Regency, integrating natural beauty with modern technological advancements within a unified landscape. Keywords: thematic parks, futuristic, bandung regency area
Analisis Ruang Kumpul Out Door Mahasiswa Kampus Itenas Pramudya, Raden Rafi; Chandrawisudha, Moch. Fiqry; Syauqi, Muhammad Faikar; Apandi, Pujia Rahayu; Dewi, Agustina Kusuma
Reka Karsa: Jurnal Arsitektur Vol 12, No 1
Publisher : Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v12i1.11641

Abstract

ABSTRAK Ruang kerja luar ruangan, juga dikenal sebagai ruang kumpul terbuka, adalah komponen penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang inklusif, fleksibel, dan kondusif di lingkungan perguruan tinggi.  Di kampus Itenas Bandung, ada banyak ruang terbuka dan titik kumpul yang masih terbatas, dan semuanya belum digunakan atau dirawat dengan baik.  Meskipun demikian, ruang komunal seperti taman kampus, area rooftop, dan zona kerja luar ruang memiliki potensi besar untuk mendukung aktivitas akademik, meningkatkan kenyamanan belajar, dan meningkatkan interaksi sosial antar mahasiswa.  Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui ketersediaan dan kondisi Meeting Point dan Ruang Kerja Luar Ruangan di Kampus Itenas serta bagaimana mereka dapat digunakan sebagai tempat belajar alternatif.  Penelitian ini dilakukan dengan melakukan observasi lapangan dan memberikan kuesioner kepada siswa untuk mendapatkan data langsung tentang persepsi, kebutuhan, dan cara menggunakan ruang luar.  Hasil penelitian ini digunakan sebagai dasar untuk menciptakan standar dan pertimbangan untuk perencanaan titik kumpul yang dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas ruang terbuka di kampus. Kata kunci: kampus, ruang terbuka, titik kumpul, outdoor.  ABSTRACT Outdoor working spaces, also referred to as open gathering areas, are essential components in fostering an inclusive, flexible, and conducive learning environment within higher education settings. At the Itenas Bandung campus, the availability of open spaces and communal gathering points remains limited, and many existing areas are either underutilized or inadequately maintained. Nevertheless, communal outdoor environments—such as campus gardens, rooftop areas, and other outdoor working zones—offer significant potential to support academic activities, enhance learning comfort, and strengthen social interaction among students. The aim of this study is to examine the availability and conditions of meeting points and outdoor working spaces at the Itenas campus, as well as their potential use as alternative learning environments. The research was conducted through field observations and the administration of questionnaires to students to obtain direct data regarding their perceptions, needs, and patterns of outdoor space utilization. The findings of this study serve as a basis for formulating standards and considerations for planning potential gathering points that can contribute to improving the quality and functionality of open spaces on campus. Keywords: campus, outdoor space, meeting point, outdoor
Pendekatan Arsitektur Neo Vernakular pada Rancangan Islamic Center Fachrozy, Muhammad Rahfi; Latifah, Nur Laela; Jamaludin, Jamaludin
Reka Karsa: Jurnal Arsitektur Vol 10, No 3
Publisher : Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v10i3.7529

Abstract

ABSTRAK Sambas merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Kalimantan Barat dengan mayoritas penduduknya beragama Islam. Hal ini menyebabkan di sana banyak dilaksanakan kegiatan ke-Islaman, tetapi masih belum tersedia suatu wadah yang dapat menunjang ibadah sekaligus meningkatkan kualitas hidup umat muslim. Sehingga, diperlukan Islamic center yang merupakan pusat peribadatan, pendidikan, kemasyarakatan, dan penyiaran agama serta budaya Islam. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data yaitu kualitatif. Pendekatan tema yang dipilih untuk perancangan ini adalah arsitektur neo vernakular yang merupakan penggabungan antara arsitektur tradisional dan modern. Arsitektur tradisional yang diacu berasal dari suku asli Kalimantan Barat yaitu suku Dayak dan suku Melayu Tradisional. Neo vernakular dipilih dengan tujuan menghasilkan desain Islamic center yang modern dan fungsional sesuai kebutuhan di zaman modern tanpa mengabaikan unsur/ nilai lokalitas tradisional setempat. Tema ini diterapkan pada pola sirkulasi kendaraan dan pejalan kaki yang dapat menjangkau seluruh bangunan seperti sungai, massa bangunan yang mengadaptasi bentuk rumah Panjang suku Dayak bernama Ompuk Domuk, atap yang bentuknya mengadaptasi dari rumah suku Melayu Tradisional (atap Potong Limas, atap Potong Godang) dan Ompuk Domuk, pola batik Pucuk Rebung pada ornamen arsitektural, penerapan neo pada struktur dan material bangunan yang lebih modern, serta adanya paduan warna material alami dan kontras.Kata kunci: islamic center, islam, kabupaten sambas, neo vernakular ABSTRACT Sambas is one of the regencies in West Kalimantan Province, where the majority of the population is Muslim. This demographic condition has led to the frequent organization of Islamic activities; however, the region still lacks a dedicated facility that can simultaneously support religious practices and enhance the quality of life of the Muslim community. Therefore, the development of an Islamic Center—which functions as a hub for worship, education, social activities, and the dissemination of Islamic religion and culture—is required. The data collection for this study employed a qualitative approach. The design adopts a neo-vernacular architectural theme, which integrates traditional and modern architectural elements. The traditional references are drawn from the indigenous ethnic groups of West Kalimantan, namely the Dayak and the traditional Malay communities. The goal of using neo-vernacular architecture is to create a modern and functional design for an Islamic Center that still respects the cultural and traditional values of the area. This theme is reflected in several design aspects: a circulation pattern for vehicles and pedestrians inspired by river networks; building masses adapted from the longhouse form of the Dayak Ompuk Domuk; roof forms derived from traditional Malay houses (Potong Limas and Potong Godang) and Ompuk Domuk; architectural ornamentation incorporating the Pucuk Rebung batik motif; and modern interpretations in building structure and material selection. The design also emphasizes the combination of natural material tones with contrasting colors to reinforce both modernity and regional identity. Keywords: architecture, modern, tropic, education
Pemanfaatan Sumber Energi Alami Pada Perancangan Rumah Sakit Ibu Anak H.I.S Bandung Sari, Fitri Nisriina; Wahadamaputera, Shirley; Hartati, Etih
Reka Karsa: Jurnal Arsitektur Vol 11, No 1
Publisher : Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v11i1.7558

Abstract

ABSTRAK Kota Bandung memiliki rumah sakit rujukan untuk berobat bukan hanya bagi masyarakat Bandung, tapi juga luar daerah, termasuk rumah sakit ibu dan anak. Sebuah rumah sakit yang mudah dijangkau moda transportasi antar kota dirancang berlokasi di jalan Kebon Jati, guna memenuhi kebutuhan sarana tersebut. Pelayanan rumah sakit ibu anak akan membutuhkan banyak energi untuk operasional kegiatannya. Rumah sakit H.I.S ini didesain dengan menerapkan konsep arsitektur hijau yang memperhatikan penghematan energi,melalui pemanfaatan sumber daya alami secara optimal dalam hal penghawaan dan pencahayaan di dalam bangunan pada area umum. Orientasi massa bangunan dipertimbangkan sebagai upaya pemanfaatan sinar matahari untuk memperoleh kualitas pencahayaan yang baik pada dekat koridor perimeter luar dan ruang rawat inap. Desain sistem ventilasi silang dengan bukaan jendela, diterapkan sebanyak mungkin untuk menghemat penggunaan AC pada peralihan dari ruang semi steril ke kotor. Desain semi basemen diangkat 120 cm dari muka tanah guna mengurangi penggunaan alat mekanis pada area parkir. Solar panel pada bangunan dimanfaatkan untuk penghematan penggunaan listrik, sedikit perawatan. Konsep ini akan memberikan dampak positif untuk menciptakan kesembuhan pasien dengan bangunan sekitarnya. Kata kunci: rumah sakit, arsitektur hijau, energi  ABSTRACT The city of Bandung has a referral hospital for treatment not only for the people of Bandung, but also outside the region, including a maternal and child hospital. A hospital that is easily accessible by means of inter-city transportation is designed to be located on Jalan Kebon Jati, to meet the needs of these facilities. Mother and child hospital services will require a lot of energy for operational activities. This HIS hospital is designed by applying the concept of green architecture that pays attention to energy savings, through optimal utilization of natural resources in terms of air conditioning and lighting in buildings in public areas. The orientation of the building mass is considered as an effort to utilize sunlight to obtain good lighting quality near the outer perimeter corridor and inpatient rooms. Cross ventilation system design with window openings, applied as much as possible to save the use of air conditioning in the transition from semi-sterile to dirty rooms. The semi- basement design is raised 120 cm from the ground to reduce the use of mechanical devices in the parking area. Solar panels in buildings are used to save electricity use, less maintenance. This concept will have a positive impact on creating healing for patients with the surrounding buildings. Keywords: hospital, green architecture,  energy
Penerapan Konsep Desain Iklusif Dalam Perancangan Rumah Susun Laseta Zulkarnaen, Deden Hanif Iskandar; Kustianingrum, Dwi; Karnita, Rosa
Reka Karsa: Jurnal Arsitektur Vol 13, No 1
Publisher : Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v13i1.13443

Abstract

ABSTRAK Ubanisasi di Kota Bandung semakin meningkat menjadikan kebutuhan hunian turut meningkat, terutama di area kawasan padat penduduk. Rumah susun vertikal menjadi solusi, namun sering kali mengabaikan kebutuhan kelompok rentan, termasuk penyandang disabilitas. Oleh karena itu, penerapan prinsip desain inklusif diperlukan untuk memastikan aksesibilitas dan kenyamanan bagi semua penghuni. Dalam merancang rumah susun Laseta di jalan Seokarno-Hatta Kota Bandung, dirancang dengan konsep desain inklusif. lokasi site terpotong oleh jalan umum jalan Sumber Sari selebar 5 meter. Komplek rumah susun ini di rancang dalam dua massa bangunan utama yang dapat menampung 2.500 orang. Rumah susun ini terdiri dari dua menara yang masing-masing memiliki ketinggian sembilan dan tujuh lantai, dua podium, dan satu basement semi-basement. Di dalamnya terdapat fasilitas apotek, tempat pengasuh anak, minimarket, dan area komersial. Metode perancangan mengutamakan analisis peraturan desain inklusif diantaranya adalah memenuhi kriteria jalur navigasi yang jelas, ramp yang memadai, dan elevator yang mudah diakses untuk meningkatkan kenyamanan pengguna. Dengan menggabungkan podium dengan area komersial dengan fasilitas umum diharapkan ekonomi dan kebutuhan masyarakat diperhatikan. Melalui perancangan rumah susun Laseta diharapkan dapat menjadi tempat tinggal yang inklusif  yang menerima berbagai kebutuhan hidup penghuninya baik yang umum maupun berkebutuhan khusus. Kata kunci: aksesibilitas, desain inklusif, rumah susun, penyandang disabilitas  ABSTRACT Urbanization in the city of Bandung is increasing, leading to a rise in housing demand, especially in densely populated areas.  Vertical apartment buildings become a solution, but often neglect the needs of vulnerable groups, including people with disabilities.  Therefore, the application of inclusive design principles is necessary to ensure accessibility and comfort for all residents.In designing the Laseta apartment complex on Seokarno-Hatta Street in Bandung City, it was conceived with an inclusive design concept.  The site location is cut by the public road Sumber Sari, which is 5 meters wide.  This apartment complex is designed with two main building masses that can accommodate 2,500 people.  This apartment complex consists of two towers, each with a height of nine and seven floors respectively, two podiums, and one semi-basement.  Inside, there are pharmacy facilities, a childcare center, a minimarket, and commercial areas.The design method prioritizes the analysis of inclusive design regulations, including meeting the criteria for clear navigation paths, adequate ramps, and easily accessible elevators to enhance user comfort.  By combining the podium with commercial areas and public facilities, it is hoped that the economy and the needs of the community will be taken into account. Through the design of the Laseta apartment complex, it is hoped to become an inclusive living space that accommodates the various needs of its residents, both general and special needs.. Keywords: apartment buildings, inclusive design, accessibility, people with disabilities
Penerapan Tema Arsitektur Organik Pada Rancangan Archaios Museum Di Goa Pawon Sulistianti, Erika Dwi; Rahadian, Erwin Yuniar; Yakin, Yuki Achmad
Reka Karsa: Jurnal Arsitektur Vol 11, No 2
Publisher : Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v11i2.7620

Abstract

ABSTRAK Di kawasan Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, terdapat sebuah gua alami dan situs purbakala. Di Gua Pawon, ditemukan kerangka manusia purba yang konon merupakan nenek moyang orang Sunda. Adapun pertanyaan yang diajukan adalah tidak adanya tempat untuk menyimpan peninggalan purbakala tersebut, maka diusulkan untuk membangun museum arkeologi yang dapat dijadikan sebagai wadah bagi benda-benda tersebut untuk mengedukasi pengunjung, terutama bagaimana manusia pertama membuat sejarah. Diwariskan secara turun-temurun, penambahan fasilitas pariwisata untuk daya tarik museum arkeologi yang diusulkan diharapkan dapat menjadi salah satu sumber ekonomi bagi masyarakat di sekitar museum. Metode yang digunakan dalam perancangan adalah melakukan observasi lapangan, yaitu meninjau lapangan secara langsung dan mengumpulkan data dengan membaca jurnal dan artikel. Studi literatur dan studi banding pada bangunan yang selaras dengan bangunan yang diusulkan. Informasi dan data yang dikumpulkan, diolah dan disusun kemudian diidentifikasi sebagai pedoman yang dapat digunakan sebagai acuan dalam proses perencanaan bangunan. Berdasarkan pertanyaan dan data yang diperoleh, analisis menghasilkan desain bangunan yang mengadopsi pendekatan organik, yaitu dengan menerapkan eksterior dan interior bangunan yang mampu selaras dengan alam, seperti bangunan yang mengikuti kontur dan desain yang selaras dengan alam untuk menampung penemuan-penemuan yang bisa diselamatkan. Kata kunci: arsitektur organik, cipatat, museum ABSTRACT Located in Gunung Masigit Village area, Cipatat District, West Bandung Regency, there is a natural cave and archaeological site. In Pawon Cave, an ancient human skeleton was found which is said to be the ancestor of the Sundanese. The question posed is that there is no place to store these ancient relics, so it is proposed to build an archaeological museum that can be used as a place for these objects to educate visitors, especially how the first humans made history. Inherited from generation to generation, the addition of tourism facilities for the attraction of the proposed archaeological museum is expected to be one of the economic resources for the community around the museum. The method used in the design is to conduct field observations, namely to review the field directly and collect data by reading journals and articles. Literature studies and comparative studies on buildings that are in line with the proposed building. Information and data that are collected, processed and compiled are then identified as guidelines that can be used as a reference in the building planning process. Based on the questions and data obtained, the analysis results in building designs that adopt an organic approach, namely by applying buildings that are able to be in harmony with nature, such as buildings that follow contours and designs that are in harmony with nature to accommodate salvageable inventions. Keywords: organic architecture, cipatat, museum