cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
REKA RACANA
ISSN : -     EISSN : 24772569     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 549 Documents
Perbandingan Peramalan Gelombang dengan Metode Groen Dorrestein dan Shore Protection Manual di Merak-Banten yang di Validasi dengan Data Altimetri (Hal. 1-11) Sofwatillah, Sofwatillah; Muliati, Yati
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 2, No 2: Juni 2016
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.05 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v2i2.1

Abstract

ABSTRAK Perhitungan besaran peramalan gelombang dapat dilakukan dengan berbagai macam metode. Namun, semua metode peramalan gelombang menggunakan parameter yang sama, yakni kecepatan (W), durasi (t) dan jarak seret (fetch). Hasil perhitungan peramalan gelombang divalidasi dengan data hasil pengukuran atau data hasil satelit altrimetri. Metode Shore Protectfon Manual (SPM) berlaku untuk mengolah data yang fetch terbatas maupun data dengan durasi yang terbatas Metode Groen Derrestein (GD) meru,aakan perhitungan peramalan gelombang dengan menggunakan graft. Kedua metode tersebut menghasilkan data tinggi gelombang dan periode gelombang di perairan dalam. Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan metode SPM dan GD dl Merak (Banten), tinggi gelombang dominan adalah 0,0 - 0,6m, sedangkan berdasarkan hasil data satelit, tinggi gelombang dominan adalah 0,9 - 1,2m , Faktor koreksi dengan metode SPM adalah 4,37 dan Faktor koreksi dengan metode GD adalah 4, 00. Berdasarkan dari faktor koreksi, maka metode GD lebih sesuai untuk digunakan pada lokasi studi. Kata kunci: peramalan, gelombang, SPM, Groen-Dorrestein, altimetri ABSTRACT Forecasting waves can be done by various methods However, all the methods of forecasting using the same parameters, which is speed (W), duration (t) and fetch. The wave forecasting calculation results are validated with measurement data or satellite altimetry data. Shore Protection Manual (SPM) method applies to situations where the data limited fetch or limited duration. Groen Dorrestein (GD) method is a wave forecasting calculations by using charts Both methods produce the wave height and wave period in the deep waters: Based on the results of analysis by using SPM and GD in Merak (Banten), the dominant wave height is 0, 0 - 0, 6m. While biased on satellite data, the dominant wave height is 0.9 - 1.2m. The correction factor is 4.37 SPM method and correction factor by Me method of GD is 4.00. Based on correction factor, the GD method is more suitable for use in the study area.Keywords:  forecasting, waves, SPM, Groen-Dorrestein, altimetry
Kajian Respon Bangunan Menggunakan Base Isolator pada Gedung Bertingkat Sistem Pracetak dan Sistem Cast in Situ. (Hal. 50-61) Ibrahim, Ardiansyah; Desmaliana, Erma; Pribadi, Amatulhay
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 5, No 1: Maret 2019
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (890.024 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v5i1.50

Abstract

ABSTRAKIndonesia merupakan wilayah yang memiliki resiko gempa yang cukup tinggi karena terletak pada pertemuan tiga lempeng tektonik,oleh karena itu telah dikembangkan metode desain alternatif dengan tujuan untuk mengurangi resiko kerusakan bangunan akibat beban gempa yang dikenal dengan nama sistem isolasi gempa (seismic isolation).Pada bangunan ini dipasang base isolator jenis High Damping Rubber Bearing (HDRB) dengan diameter 600 mm dan tinggi 407,9 mm.Berdasarkan hasil, diperoleh bahwa penggunaan base isolator dapat memperpanjang periode struktur bangunan dua kali untuk kedua sistem, kemudian dapat mereduksi gaya geser arah X mencapai 40% dan arah Y mencapai 50% untuk kedua sistem, lalu memperkecil simpangan antar lantai dan juga membutuhkan waktu yang lebih singkat untuk mencapai faktor partisipasi modal yang diinginkan sesuai peraturan yaitu minimal 90%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah struktur bangunan beton pracetak lebih efektif dibandingkan dengan beton cast in situ dari aspek respon struktur.Kata kunci: pracetak, cast in situ, high damping rubber bearing ABSTRACTIndonesia is prone to seismic hazard load due to its location situated on a meeting point of three tectonic plates, therefore the alternative design methods have been developed with the aim to reduce the risk of damage to buildings due to the load known as the earthquake isolation system. At one of the building analyzed in this research was provided with High Damping Rubber Bearing (HDRB) with a diameter of 600 mm and a height of 407,9 mm. Based on the results obtained, the use of base isolator can extend the period of the structure of the building twice forboth systems, reduce the shear force reached 40% in the X direction and 50% in the Y direction for both systems, and then minimize the deviation between floors of a building and also requires less time to achieve the desired modal participation factors according the regulations that is at least 90%. The conclusion of this research is that the structure of precast concrete is more effective than cast in situ concrete from the aspect of structure response.Keywords: precast, cast in situ, high damping rubber bearing
Perencanaan Pelabuhan Penyeberangan Desa Buton, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah (Hal. 56-65) Setiawan, Aji; Muliati, Yati; Madrapriya, Fachrul
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 2, No 4: Desember 2016
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (569.054 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v2i4.56

Abstract

ABSTRAK Kondisi pelabuhan di desa Buton saat ini yang merupakan pelabuhan tradisional yang tidak memadai untuk menampung kapal-kapal yang berkapasitas besar untuk bersandar. Seiring dengan meningkatnya arus penduduk dan kendaraan di Desa Buton, Kabupaten Morowali, Provinsi Sulawesi Tengah, maka dibutuhkan fasilitas pelabuhan yang memadai agar menunjang kemajuan perekonomian di desa Buton. Hasil perencanaan Pelabuhan di desa Buton menunjukkan bahwa dermaga jetty sesuai untuk kapal rencana penumpang maupun barang. Karakteristik kapal rencana pada pelabuhan ini adalah kapal dengan bobot 2000 GT agar terbesar pada daerah lokasi yaitu kapal Madani dengan 1106 GT dengan kapasitas 400 penumpang dan 22 kendaraan dapat berlabuh pada pelabuhan Penyeberangan Buton.Kata kunci: pelabuhan penyeberangan, buton, desain ABSTRACTButon port conditions in the village at this time which is a traditional port may be inadequate to accommodate ships of large capacity for lean. Along with the increasing flow of people and vehicles in the village of Buton, Morowali regency, Central Sulawesi province, it takes adequate port facilities in order to support economic progress in the village of Buton. Ports in the village planning results indicate that the pier jetty Buton according to plan boat passengers and goods. Characteristics ship in the port plans are ships weighing 2000 GT to be the largest in the location area that Madani ships with 1106 GT with a capacity of 400 passengers and 22 vehicles can be docked at the port of Buton Crossing. Keywords: ferry port, buton, design
Studi Mengenai Kadar Maksimum Abu Terbang Sebagai Subtitusi Semen pada Campuran Beton dengan Kuat Tekan Tetap. (Hal. 42-51) Dewanti, Dewindha Putri; Sihotang, Abinhot
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 5, No 3: September 2019
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (650.509 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v5i3.42

Abstract

ABSTRAKPenggunaan beton dalam proyek konstruksi yang semakin besar, menuntut penggunaan semen yang semakin tinggi. Upaya yang banyak dilakukan adalah melakukan substitusi semen dengan suatu bahan yang sifatnya sama dengan semen. Abu terbang (fly ash) menjadi salah satu alternatif dalam pengurangan penggunaan semen. Pembuatan campuran beton normal digunakan cara SNI, dan untuk campuran beton abu terbang digunakan perancangan campuran beton metode Dreux dengan permodelan blended cement. Kuat tekan rencana yang dirancang sebesar 40 MPa dengan substitusi semen oleh abu terbang sebesar 0% sampai dengan 50%, dengan nilai pertambahan 5%. Ukuran maksimum agregat kasar yang digunakan adalah 20 mm, dan pengujian berupa kuat tekan beton dilakukakan saat umur beton mencapai 7 hari, 14 hari, dan 28 hari. Hasil kuat tekan beton umur 28 hari menunjukkan kadar maksimum substitusi semen oleh abu terbang menggunakan cara Dreux Gorrise dengan permodelan blended cement hanya mencampai kadar 20% abu terbang.Kata kunci: beton abu terbang, Dreux Gorrise, kuat tekan, semen blended ABSTRACTThe use of concrete in construction projects is getting bigger, demanding the use of cement which is increasingly high. The current effort is to do cement substitution with a material that has the same properties of cement. Fly ash is an alternative in reducing the use of cement. The preparation of normal concrete mixtures is used by SNI method, and for fly ash concrete mixtures, the Dreux method as a blended cement modeling concrete mixture design is used. The planned compressive strength of 40 MPa with cement substitution by fly ash is 0% to 50%, with a 5% increase. The maximum size of coarse aggregate used is 20 mm, and testing in the form of concrete compressive strength is done when the concrete reaches 7 days, 14 days, and 28 days. The results of 28 days old concrete compressive strength showed the maximum cement substitution level by fly ash using the Dreux Gorrise method with blended cement modeling only reaching 20% fly ash content.Keywords: fly ash concrete, Dreux Gorrise, compressive strength, blended cement
Kajian Kapasitas Dimensi Saluran Drainase pada Jalan Adipati Agung Kelurahan Baleendah, Bandung (Hal. 63-74) Tofan, Mochamad; Yustiana, Fransiska
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 3, No 3: September 2017
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (983.441 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v3i3.63

Abstract

ABSTRAKBanjir pada umumnya disebabkan oleh beberapa kemungkinan yaitu  peningkatan sedimentasi curah hujan, limbah dan vegetasi serta sampah di saluran tersebut. Saluran di Jalan Adipati Agung yang diukur diperiksa dengan membandingkan debit aliran permukaan dan debit aliran curah hujan menggunakan metode Rasional. Intensitas curah hujan ditentukan oleh rumus Ishiguro dan diubah menjadi kurva Intensitas Durasi Frekuensi (IDF). Intensitas curah hujan maksimum ditentukan oleh analisis frekuensi dengan distribusi Gumbel dan kala ulang yang digunakan untuk saluran tersebut adalah sepuluh tahun. Dimensi eksisting saluran Adipati Agung tidak sesuai dengan debit aliran permukaan. Perhitung dimensi yang tepat dengan mengubah lebar dan kedalaman saluran persegi serta mengubah material saluran agar mendapat nilai manning yang lebih kecil. Dimensi yang tepat untuk debit aliran permukaan 28,9 m3/detik memiliki lebar 2 m, kedalaman 2,7 m dan material beton dengan nilai manning 0,013 sehingga debit tampungan saluran menjadi 29,15 m3/detik dan saluran rencana dapat diterima.Kata kunci: intensitas, debit, mononobe, rasional, dimensi ABSTRACTFlood is generally caused by several possibilities, increased rainfall sedimentation, due to waste and vegetation and rubibsh on the channel. Existing channel on Adipati Agung street is measured than examined by compared the surface flow discharge with rainfall discharge. Surface flow discharge is determinated by Rational method. Rainfall intensity is determined by Ishiguro formula that suit with Intensitas Durasi Frekuensi (IDF) curve of intensity data. Maximum rainfall intensity is determined by frequency analysis with Gumbel distribution. It is use the return period of maximum rainfall capacity is ten years. Existing dimension of Adipati Agung channel is not meet with surface flow discharge. So it is has to Calculate the proper dimension by change the width and the depth of rectangular channel and also change the channel material in order to get less value of manning. The proper dimension for surface flow discharge 28,9 m3/sec has 2 m width, 2,7 m depth. Discharge channel Capasity is 29,15 m3/s.Keywords: intensity, discharge, mononobe, rasional, dimension
Tingkat Pelayanan Pejalan Kaki pada Skywalk Jalan Cihampelas Kota Bandung. (Hal. 28-37) Kusmeilan, Ervin; Prasetyanto, Dwi; Maulana, Andrean
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 4, No 2: Juni 2018
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (493.243 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v4i2.28

Abstract

ABSTRAKSkywalk merupakan jalan yang dibangun di atas jalan Cihampelas dengan tujuan memberikan keamanan dan kenyamanan bagi para pejalan kaki dan pedagang kaki lima. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik, kapasitas dan tingkat pelayanan pejalan kaki pada Skywalk Bandung. Analisis karakteristik dan kapasitas pejalan kaki didapat dengan menggunakan metode Greenshields dan analisis tingkat pelayanan pejalan kaki menggunakan perhitungan US HCM. Hubungan antar variabel karakteristik pejalan kaki dihubungkan dengan persamaan  Vs = 46,644 - 22,009D  untuk kepadatan dengan kecepatan, Q = 46,644D  – 22,009D^2  untuk kepadatan dengan arus dan Q = 2,119Vs – 0,0454Vs^2  untuk kecepatan dengan arus. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa kapasitas pejalan kaki jalan Skywalk sebesar 25 pejalan kaki/min/m. Tingkat pelayanan pejalan kaki di Skywalk Bandung termasuk dalam kategori tingkat pelayanan “F ” pada hari Sabtu 27 Mei 2017 saat kondisi macet dengan kondisi para pejalan kaki berjalan dengan arus yang sangat lambat dan terbatas karena sering terjadi konflik dengan pejalan kaki yang searah atau berlawanan.Kata kunci: karakteristik, kapasitas, tingkat pelayananABSTRACTSkywalk is a pedestrian street which is built on Cihampelas street with the aim of providing safety and comfort for pedestrians and street vendor. The purpose of this study is to determine the characteristics, capacity and level of pedestrian services on the Skywalk. Analysis of pedestrian characteristics and capacity is obtained by using Greenshields method and pedestrian service level analysis using US HCM calculation. Variable correlation of pedestrian characteristics connected by equation Vs = 46,644 – 22,009D  for density with speed, Q = 46,644D  – 22,009D^2  for density with flow and Q = 2,119Vs– 0,0454Vs^2  for speed and flow. The results of this study show that the capacity of pedestrian street Skywalk for 25 pedestrians/min/m. Level of pedestrian service on the Skywalk street in Bandung included in the “F” level of service on Saturday 27 May 2017 when jam condition by pedestrians condition walk with very slow and limited flow because frequent conflict between pedestrians  in the same direction or in opposite is often.Keywords: characteristics, capacities, level of service
Pengoptimalan Fungsi Lahan Sebagai Upaya Penanggulangan Banjir Kecamatan Rancaekek dengan Metode Sustainable Urban Drainage System (Hal. 1-13) Priyanto, Ruri Arista; Yosananto, Yedida
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 2, No 1: Maret 2016
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (543.164 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v2i1.1

Abstract

ABSTRAKRancaekek merupakan salah satu Kecamatan di Kabupaten Bandung yang beralih fungsi sebagai tatanan wilayah industri dan diikuti pertumbuhan populasi penduduk yang menyebabkan perubahan tata guna lahan dan menghilangkan fungsi Kecamatan Rancaekek sebagai wetland atau rawa dalam siklus hidrologi sebagai lahan resapan dan penampungan.Dalam penyelesaian masalah perlu adanya pengumpulan data sekunder dan primer dengan melakukan survey wilayah secara langsung. Menganalisis kondisi eksisting, melakukan perbandingan sistem-sistem draianase berkelanjutan dengan melihat strength, weakness, opportunity dan treat dari sistem drainase tersebut.Konsep sistem drainase yang dipilih adalah sistem dari negara Inggris, Amerika dan Australia. Metode yang dipilih dari sistem-sistem drainase yang sesuai dengan melihat kriteria teknis, kondisi eksisting dan pemeliharaannya adalah green roof, living wall, rain garden, permukaan permaeble, cisterns, rain garden tree pit, swales, kolam detensi, infiltration trenches, stromwater drainet, constructed wetlands, stormwater system boom.Kata kunci: Sistem Drainase Berkelanjutan, Rancaekek Wetland, metode ABSTRACTRancaekek is one of the Bandung District in to switch the function as industrial areas and followed the population growth that led to changes in land use and eliminates the function of the District Rancaekek as a wetland or marsh in the hydrological cycle as a catchment area and bank water.In solving the need for secondary and primary data collection by surveying the area directly. Analyze the existing condition, doing a comparison of sustainable drainage systems to see strength, weakness, opportunity and treat of the drainage system. The drainage concept selected system is a system of state Britain, America and Australia. Preferred Method of systems appropriate drainage by looking at technical criteria, the existing condition and maintenans is a green roof, a living wall, rain garden, surface permaeble, cisterns, rain garden tree pit, swales, ponds detention, infiltration trenches, stromwater drainet, constructed wetlands, stormwater system boom.Keyword: Sustainable Drainage System, Rancaekek Wetland, method
Studi Mengenai Perancangan Campuran Beton Abu Terbang dengan Pendekatan Blended Sand (Hal. 88-97) Nirwan, Reza Fauzi; Saelan, Priyanto
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 4, No 4: Desember 2018
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1083.29 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v4i4.88

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini dilakukan untuk mengetahui hasil perancangan campuran beton abu terbang yang mensubtitusi semen dengan cara pendekatan sand blended, yaitu abu terbang yang mensubtitusi semen diperlakukan sebagai agregat halus, sehingga agregat halus merupakan campuran dari pasir dan abu terbang. Penelitian dilakukan dengan kuat tekan rencana 20 MPa dan 30 MPa. Substitusi semen oleh abu terbang sebesar  10 %, 20 %, dan 30 % dari berat semen. Ukuran maksimum agregat kasar yang digunakan adalah 20 mm, dan pasir dengan modulus kehalusan 2,768, slump rencana 6 cm dan 10 cm. Hasil pengujian tekan silinder beton berdiameter 10 cm dan tinggi 20 cm menunjukkan bahwa kuat tekan beton abu terbang yang dihasilkan berdekatan dengan beton acuan yaitu beton tanpa abu terbang, untuk semua kadar abu terbang yaitu sampai dengan kadar subtitusi semen oleh abu terbang sebesar 30 %. Pendekatan sand blended dapat dilakukan dalam perancangan campuran beton abu terbang.Kata Kunci : beton abu terbang, kuat tekan, pasir blendedABSTRACTThis is research was performed to know the result of the test of fly ash concrete mix designed by sand blended method. Fly ash will be treated as fine aggregate so that the total fine aggregate is the consist of fly ash and sand. 20 MPa and 30 MPa concrete mix are designed for 10 %, 20 % and 30 % by weight of cement subtitution by fly ash. Concrete mix use 20 mm maximum aggregate size, finess modulus of sand 2.768, and 6 cm and  10 cm slump. Compressive strength tests of 10 cm diameter and 20 cm height cylinder showed that the stength of fly ash concrete is the same as the strength of initial concrete. Fly ash concrete mix can be designed by sand blended approximation.Keywords : fly ash concrete, compressive strength, blended sand
Studi Mengenai Analisis Penampang Balok Prategang Parsial pada Beban Kerja. (Hal. 83-95) Margan, Dally; Saelan, Priyanto
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 5, No 2: Juni 2019
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (453.232 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v5i2.83

Abstract

ABSTRAKPenampang balok prategang parsial dapat dirancang dengan dua metode analisis yaitu metode analisis terhadap beban runtuh dan metode analisis terhadap beban kerja. Perancangan penampang balok prategang parsial pada umumnya dilakukan dengan menggunakan metode analisis terhadap beban runtuh yang telah ditetapkan dalam SNI 03-2847-2002, namun perancangan menggunakan pendekatan beban kerja tidak dicantumkan. Oleh karena itu dilakukan studi analisis untuk mengetahui sejauh mana metode analisis terhadap beban kerja dapat diaplikasikan dalam perancangan penampang balok prategang parsial. Studi kasus ini dilakukan dengan persentase 60, 70, 80, dan 90. Dari hasil studi kasus didapatkan bahwa dengan menggunakan metode analisis terhadap beban kerja dapat dilakukan namun dengan batasan persentase prategang yang beragam yaitu 90, 95, dan 99. Metode analisis terhadap beban kerja dapat dilakukan pada kasus-kasus tertentu dan menggunakan beton dan tendon dengan mutu tinggi untuk faktor keamanan bangunan.Kata kunci: beton prategang parsial, pendekatan beban kerja, persentase prategang, lebar retak ABSTRACTPartial prestressed beam section can be designed with two analysis methods are failure load analysis method and service load analysis method. The design of the partial prestressed beam section generally is using the failure load analysis method which has been specified in SNI 03-2847-2002, but the design with the analytical method of service load is not included. Therefore an analytical study was conducted to determine the extent to which the service load analysis method can be applied for the design of a partial prestressed beam section. This case study was carried out at 60, 70, 80, and 90 prestressed percentages. From the case study results it was found that using the analysis method of service load can be done but with variations of a limited percentage are 90, 95, and 99. The method of analysis of workload can be done in certain cases and using high-quality concrete and tendons for building safety factor.Keywords: partial prestressed concrete, service load analysis method, prestressed percentage, crack width
Analisis Model Fisik dan Model Numerik pada Daya Dukung Fondasi Lingkaran di Atas Tanah Lunak (Hal. 48-58) Wulandari, Devy Dhea; Hamdhan, Indra Noer
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 3, No 2: Juni 2017
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (706.819 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v3i2.48

Abstract

ABSTRAKPada umumnya fondasi dangkal tidak cocok untuk tanah kompresif seperti tanah lunak karena daya dukungnya yang rendah. Oleh karena itu diperlukan adanya perkuatan untuk meningkatkan daya dukung tanah dan meminimalisasi terjadinya penurunan. Analisis daya dukung pada fondasi dangkal dengan tipe lingkaran ini dilakukan dengan menambah lapisan perkuatan di atas tanah lunak berupa lapisan granular dan geogrid. Pada kedua jenis perkuatan tersebut dilakukan variasi ketebalan lapisan granular dan posisi kedalaman geogrid. Analisis dilakukan dengan metode numerik berbasis elemen hingga dan metode analitik yang selanjutnya dibandingkan dengan hasil uji fisik laboratorium yang telah dilakukan oleh Demir, A (2009). Semakin tinggi ketebalan lapisan granular dan geogrid maka daya dukung yang dihasilkan akan semakin besar. Daya dukung maximum berada pada tanah lunak yang diberi perkuatan lapisan granular 1,5D dan geogrid 0,25D.Kata kunci: fondasi dangkal, tanah lunak, lapisan granular, geogrid, daya dukung, penurunan, metode elemen hingga ABSTRACTShallow foundation generally not compatible on compressive soil like soft soil because of its poor bearing capacity therefore, soil improvement is required to increase its bering capacity and to decrease its settlement. In this circle type of shallow foundation, the bearing capacity analysed by adding reinforcement layer such as granular and geogrid above soft soil. On both reinforcements, variation of thickness granular layer and depth position of geogrid are applied. This study was analysed by numerical method with finite element based on analytical method, then the result from both methods compared to physical test result on laboratory which was done by Demir, A (2009). The more thick granular layer and geogrid applied on soft soil, the higher its bearing capacity. The maximum of bearing capacity was on soft soil that 1,50D granular layer and 0,25D geogrid applied.Keywords: shallow foundation, soft soil, granular layer, geogrid, bearing capacity, settlement, finite element method

Page 9 of 55 | Total Record : 549