cover
Contact Name
Anwar Hafidzi
Contact Email
anwar.hafidzi@uin-antasari.ac.id
Phone
+6285251295964
Journal Mail Official
journalsharia@gmail.com
Editorial Address
Sharia Journal and Education Center Publishing Jalan Gotong Royong, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Indonesia Kode Pos 70711
Location
Kota banjarbaru,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory
ISSN : 30310458     EISSN : 30310458     DOI : https://doi.org/10.62976/ijijel.v3i3.1280
Core Subject : Religion, Social,
The Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory (IJIJEL) is a peer-reviewed academic journal that focuses on advancing research in Islamic jurisprudence, economics, and legal theory within the Indonesian context. Published quarterly (March, June, September, and December), the journal serves as a platform for scholars, researchers, and practitioners to explore theoretical and practical developments in Islamic law. IJIJEL welcomes original research articles, conceptual papers, critical reviews, and comparative studies covering topics such as Islamic legal methodology, contemporary jurisprudential issues, legal reform, and interdisciplinary perspectives. The journal aims to foster academic discourse, enhance understanding of Islamic law, and contribute to the integration of Islamic legal principles within Indonesia’s legal and socio-economic systems.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 550 Documents
Hak, Kewajiban dan Larangan Dalam Periode Krisis Rumah Tangga: Studi Terhadap Fenomena Barambangan dalam Adat Banjar Prof. Dr. H. Ahmadi Hasan, M.H.; Mujiburohman Abas, M.A., Ph.D
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 2 No. 1 (2024): Contemporary Insights into Islamic Jurisprudence: Exploring Commerce, Culture,
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v2i1.445

Abstract

Abstract This study explores the Barambangan phenomenon in Banjar Customary Law during household crises in South Kalimantan. The research aims to understand the contributing factors to Barambangan and highlight misconceptions in society regarding its association with divorce. The research methodology involves case studies and a review of Indonesian marriage law, focusing on the conditions of ta'lik (conditional divorce).The results indicate that Barambangan often arises from economic difficulties, lack of communication within families, and third-party interventions. Despite physical separation, Barambangan is not divorce but a reconciliation process facilitated by third-party mediation. Societal views equating Barambangan with divorce lack legal basis, especially within the context of Law No. 1/1974. In the context of Islamic law, family conflicts should be resolved through active negotiation and mediation by family or community leaders. In conclusion, Barambangan is not an automatic sign of divorce but a process toward reconciliation. A clear understanding of the distinction between Barambangan and divorce is crucial to avoid misconceptions in society. Keywords: Banjar, law, barambangan Abstrak Penelitian ini mengkaji fenomena Barambangan dalam Hukum Adat Banjar selama krisis rumah tangga di Kalimantan Selatan. Tujuan penelitian adalah untuk memahami faktor-faktor penyebab Barambangan dan menyoroti pandangan masyarakat yang keliru tentang hubungannya dengan perceraian. Metode penelitian melibatkan studi kasus dan tinjauan terhadap hukum perkawinan Indonesia, dengan fokus pada kondisi ta'lik (perceraian berdasarkan syarat tertentu).Hasil penelitian menunjukkan bahwa Barambangan sering disebabkan oleh kesulitan ekonomi, kurangnya komunikasi dalam keluarga, dan campur tangan pihak ketiga. Meskipun fisik terpisah, Barambangan bukanlah perceraian, melainkan proses rekonsiliasi dengan upaya mediasi oleh pihak ketiga. Pandangan masyarakat yang menyamakan Barambangan dengan perceraian tidak berdasar hukum, terutama dalam konteks UU No. 1/1974. Dalam konteks hukum Islam, konflik keluarga seharusnya diselesaikan melalui negosiasi dan mediasi aktif oleh tokoh keluarga atau masyarakat. Kesimpulannya, Barambangan bukanlah tanda otomatis perceraian, melainkan proses menuju perdamaian. Pemahaman yang jelas mengenai perbedaan antara Barambangan dan perceraian penting untuk menghindari pandangan keliru di masyarakat. Kata kunci: Banjar, Hukum, barambangan
The Influence of Digital Payment in Shaping The Consumption Behavior of Generation Z in Banjarmasin Putri, Indira Ulfa Cahyani
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 2 No. 1 (2024): Contemporary Insights into Islamic Jurisprudence: Exploring Commerce, Culture,
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v2i1.452

Abstract

This research aims to explore and describe the phenomenon of using digital payments and how this shapes consumption behavior among Generation Z in Banjarmasin City. Qualitative descriptive methods were used to describe this phenomenon, through interviews with 10 informants, each represented by 2 Generation Z in each sub-district in Banjarmasin City. The results of this research show that the use of digital payments not only has a practical impact in terms of ease of transactions, but also influences the mindset and consumption behavior of Generation Z by paying attention to factors such as security, comfort, time efficiency, as well as the ability to control impulse purchases, purchases irrationally, and wastefully. Overall, the use of digital payments is not only a means of transactions, but also forms a more modern and up-to-date consumption behavior pattern for Generation Z in Banjarmasin City.
Know Your Customer Principle as a Measure to Prevent Money Laundering In Banking (Study at BSI KCP Banjarmasin A. Yani) Rahmiyati, Maulida; Rimayanti
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 2 No. 1 (2024): Contemporary Insights into Islamic Jurisprudence: Exploring Commerce, Culture,
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v2i1.456

Abstract

Abstract This research is motivated by the problem of implementing the Know Your Customer Principle which can be seen through the implementation of customer acceptance policies, and procedures for identifying customers and monitoring procedures for customer accounts and transactions. This research aims to find out the implementation of Know Your Customer Principles in Sharia banking and also to find out how to prevent Money Laundering carried out by BSI KCP Banjarmasin A.Yani. This research is field research with a qualitative descriptive approach. The location of this research was carried out at Bank Syariah Indonesia (BSI) KCP Banjarmasin A. Yani. The results of this research reveal that the implementation of the Know Your Customer Principle has been carried out optimally with customer identification procedures and the use of the BISA Application in the context of implementing the Know Your Customer Principle. Apart from that, by having internal supervision of customers and the customer acceptance process is also carried out strictly, through identification and verification of customer data to avoid the entry of customers with bad intentions to the bank, this can prevent the crime of Money Laundering. Keywords: Know Your Customer Principle; Money Laundering; Bank Syariah Indonesia Abstrak Penelitian ini dilatarbelakangi oleh permasalahan penerapan Prinsip Mengenal Nasabah yang dapat dilihat melalui penerapan kebijakan penerimaan nasabah, dan prosedur identifikasi nasabah serta prosedur pemantauan terhadap rekening dan transaksi nasabah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan Prinsip Mengenal Nasabah pada perbankan Syariah dan juga untuk mengetahui cara pencegahan Pencucian Uang yang dilakukan oleh BSI KCP Banjarmasin A.Yani. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research) dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Lokasi penelitian ini dilakukan di Bank Syariah Indonesia (BSI) KCP Banjarmasin A. Yani. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa penerapan Prinsip Mengenal Nasabah telah dilakukan secara optimal dengan adanya prosedur identifikasi nasabah dan penggunaan Aplikasi BISA dalam rangka penerapan Prinsip Mengenal Nasabah. Selain itu, dengan adanya pengawasan internal terhadap nasabah dan proses penerimaan nasabah juga dilakukan secara ketat, melalui identifikasi dan verifikasi data nasabah untuk menghindari masuknya nasabah yang beritikad tidak baik ke bank, maka hal ini dapat mencegah terjadinya tindak pidana Pencucian Uang. Kata kunci: Prinsip Mengenal Nasabah; Pencucian Uang; Bank Syariah Indonesia
Pemberdayaan Masyarakat Miskin Melalui Program Padat Karya Tunai Desa Dalam Perspektif Ekonomi Pembangunan Islam (Studi Kasus Desa Banua Lawas Kabupaten Kotabaru) Hairullah, Fazry; Ansharullah
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 2 No. 1 (2024): Contemporary Insights into Islamic Jurisprudence: Exploring Commerce, Culture,
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v2i1.457

Abstract

Empowerment of poor communities is an initiative from individuals or groups to improve the quality of life, both socially and economically. This research focuses on exploring efforts to empower poor communities through village cash-intensive programs, by analyzing the economic perspective of Islamic development in Banua Lawas Village, Kotabaru. This research method is field in nature with a descriptive approach, carried out in Banua Lawas Village, Kelumpang Hulu District, Kotabaru Regency, South Kalimantan. The informants consisted of 12 people, including 2 village officials and 10 village cash labor program workers. Data was collected through interviews and documentation. The research results show that the village cash-intensive program has succeeded in empowering poor communities according to the theory of Jim Ife and Frank Tesoriero. The village government acts as a facilitator, educator, representative and technology supporter to achieve the program's objectives. Empowerment of poor communities is in accordance with the concept of Islamic development economics by M. Umer Chapra, by fulfilling the principles of monotheism, rububiyah, khalifah, and takziyah, as well as achieving Islamic economic goals, including fulfilling basic needs, increasing human dignity, sustaining life, and advancing community spirituality. Keywords: Community Empowerment; Poor, Village Cash Labor Intensive; Qualitative; Islamic Economics Abstrak Pemberdayaan masyarakat miskin adalah inisiatif dari individu atau kelompok untuk meningkatkan kualitas kehidupan, baik secara sosial maupun ekonomi. Penelitian ini difokuskan pada eksplorasi upaya pemberdayaan masyarakat miskin melalui program padat karya tunai desa, dengan menganalisis perspektif ekonomi pembangunan Islam di Desa Banua Lawas, Kotabaru. Metode penelitian ini bersifat lapangan dengan pendekatan deskriptif kualitatif, dilaksanakan di Desa Banua Lawas, Kecamatan Kelumpang Hulu, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan. Informan terdiri dari 12 orang, termasuk 2 aparatur desa dan 10 pekerja program padat karya tunai desa. Data dikumpulkan melalui wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program padat karya tunai desa berhasil memberdayakan masyarakat miskin sesuai teori Jim Ife dan Frank Tesoriero. Pemerintah desa berperan sebagai fasilitator, edukator, representatif, dan pendukung teknologi untuk mencapai tujuan program tersebut. Pemberdayaan masyarakat miskin sesuai konsep ekonomi pembangunan Islam oleh M. Umer Chapra, dengan memenuhi prinsip tauhid, rububiyah, khalifah, dan takziyah, serta mencapai tujuan ekonomi Islam, termasuk pemenuhan kebutuhan dasar, peningkatan martabat manusia, keberlanjutan hidup, dan kemajuan spiritualitas masyarakat. Kata Kunci: Pemberdayaan Masyarakat;Miskin, Padat Karya Tunai Desa; Kualitatif; Ekonomi Islam
Modus Operandi Izin Poligami Dalam Putusan Nomor: 0182/Pdt.G/2015/Pa.Mtw Di Pengadilan Agama Muara Teweh Qamaruddin; Nur Wakhidah; Rasyid Rizani; Muhammad Yusman
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 2 No. 1 (2024): Contemporary Insights into Islamic Jurisprudence: Exploring Commerce, Culture,
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v2i1.458

Abstract

Abstract This article aims to explore the causes of the modus operandi of polygamy permits in the Muara Teweh Religious Court in Decision Number 0182/Pdt.G/2015/PA.Mtw. This research is a sociological legal research with legislative, case, and fiqh approaches. The results prove that the modus operandi in Decision Number 0182/Pdt.G/2015/PA.Mtw was revealed after the decision obtained permanent legal force. Field findings show that the first wife experienced coercion, pressure and threats from the applicant to grant permission for polygamy. However, these facts were not revealed during the trial. The first wife's responses at the hearing appeared to agree to her husband remarrying, supported by witnesses who corroborated the petitioner's arguments. This decision then resulted in a divorce with the first wife several months after the verdict. When viewed from the normative side of the law, in addition to law containing legal certainty and expediency, justice should also be an integral part. In addition, based on contemporary maqashid, the law must protect the institution of family. The involvement of the first wife ensures that the legal process reflects justice and protects individual rights in the context of marriage. Keywords: Religious court decisions, Polygamy permission, Modus operandi Abstrak Artikel ini bertujuan mengeksplorasi penyebab terjadinya modus operandi izin poligami di Pengadilan Agama Muara Teweh dalam Putusan Nomor 0182/Pdt.G/2015/PA.Mtw. Penelitian ini merupakan penelitian hukum sosiologis dengan pendekatan perundang-undangan, kasus, dan fikih. Hasil penelitian membuktikan bahwa modus operandi dalam Putusan Nomor 0182/Pdt.G/2015/PA.Mtw terungkap setelah putusan tersebut memperoleh kekuatan hukum tetap. Temuan lapangan menunjukan bahwa istri pertama mengalami paksaan, tekanan dan ancaman dari pemohon agar mau memberikan izin poligami. Namun, fakta tersebut tidak terungkap selama persidangan. Jawaban istri pertama pada sidang tampak menyetujui suaminya untuk menikah lagi, didukung oleh saksi-saksi yang menguatkan dalil permohonan pemohon. Putusan ini kemudian berakibat pada perceraian dengan istri pertama setelah beberapa bulan putusan tersebut. Apabila dilihat dari sisi normatif hukum, selain hukum mengandung kepastian hukum dan kemanfaatan, maka keadilan seharusnya juga menjadi bagian integral. Selain itu berdasarkan maqashid kontemporer, hukum harus melindungi institusi keluarga. Keterlibatan istri pertama memastikan bahwa proses hukum mencerminkan keadilan serta melindungi hak-hak individu dalam konteks pernikahan. Kata Kunci: Putusan pengadilan agama, Izin poligami, Modus operandi
Tinjauan Terhadap Penyalahgunaan Dana dalam Yayasan Kemanusiaan: Studi Kasus pada Lembaga ACT Jenniviera, Johana; Maryam, Salsabilla; Arief, Aisah Putri; Bestari, Qodri; Mahipal, Mahipal
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 2 No. 1 (2024): Contemporary Insights into Islamic Jurisprudence: Exploring Commerce, Culture,
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v2i1.460

Abstract

Abstract This research analyzes the Islamic perspective, legal outlook, media role, and humanitarian foundation's responsibility concerning cases of fund misappropriation, focusing on the controversy involving the Aksi Cepat Tanggap (ACT) Foundation in Indonesia. From an Islamic standpoint, corruption and fund misuse are considered serious violations of justice, honesty, and trustworthiness values. The Quran and Hadith provide guidance on the importance of transparency, integrity, and responsible fund management. Legally, fund misappropriation violates regulations governing fundraising and management, as seen in the ACT case, which exceeded government-permitted limits. Media also play a crucial role in highlighting fund misappropriation cases, framing them as ethical breaches and betrayals of trust. Finally, the humanitarian foundation's responsibility, particularly ACT, in adhering to laws and financial principles, comes under scrutiny, with assessments of the foundation's organizational involvement in fund management. In conclusion, fund misappropriation by humanitarian foundations is not just a legal issue but also threatens the integrity and public trust in humanitarian missions. Law enforcement, transparency, and good governance are key to addressing challenges of corruption and fund misuse in the humanitarian sector. Abstrak Penelitian ini menganalisis pandangan Islam, perspektif hukum, peran media, dan tanggung jawab yayasan kemanusiaan terhadap kasus penyelewengan dana, dengan fokus pada kontroversi yang melibatkan Yayasan Aksi Cepat Tanggap (ACT) di Indonesia. Dari sudut pandang Islam, korupsi dan penyalahgunaan dana dianggap sebagai pelanggaran serius terhadap nilai-nilai keadilan, kejujuran, dan amanah. Al-Qur'an dan hadis memberikan pedoman tentang pentingnya transparansi, integritas, dan pengelolaan yang bertanggung jawab terhadap dana. Dari segi hukum, penyalahgunaan dana melanggar peraturan yang mengatur pengumpulan dan pengelolaan dana, seperti yang terjadi dalam kasus ACT yang melebihi batas yang diizinkan oleh pemerintah. Media juga memainkan peran penting dalam menyoroti kasus penyelewengan dana, dengan framing yang menggambarkan pelanggaran etika dan kepercayaan. Terakhir, tanggung jawab yayasan kemanusiaan, khususnya ACT, dalam mematuhi undang-undang dan prinsip-prinsip keuangan menjadi sorotan utama, dengan penilaian terhadap keterlibatan organ yayasan dalam pengelolaan dana. Kesimpulannya, penyelewengan dana oleh yayasan kemanusiaan bukan hanya masalah hukum, tetapi juga mengancam integritas dan kepercayaan publik terhadap misi kemanusiaan. Penegakan hukum, transparansi, dan tata kelola yang baik menjadi kunci dalam mengatasi tantangan korupsi dan penyalahgunaan dana di sektor kemanusiaan.
Analisis Yuridis Terhadap Tindak Pidana Pemalsuan Dokumen Humaira R, Khaila; Rizaldi, M. Zaki; Hosnah, Asmak Ul
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 2 No. 1 (2024): Contemporary Insights into Islamic Jurisprudence: Exploring Commerce, Culture,
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v2i1.461

Abstract

Abstract The crime of document forgery is one form of crime that has a serious impact on security and trust in various aspects of community life. Juridical analysis of the crime of document forgery is important in an effort to understand the legal basis, the role of law enforcement agencies, and the legal consequences associated with the act. This research aims to explore various legal aspects related to criminal acts of document forgery, including legal definitions, types of document forgery, criminal sanctions applied, and law enforcement efforts carried out by related institutions. Qualitative method with normative legal analysis used to examine various laws, regulations, court decisions, and related literature to understand the juridical aspects related to criminal acts of document forgery. The results of the analysis show the legal complexities involved in handling document forgery cases, including challenges in proof, determination of proportional sanctions, and protection of individual rights. This study provides an in-depth understanding of the legal framework governing the crime of document forgery, as well as providing a foundation for the improvement of law enforcement policies and procedures to increase effectiveness in handling similar cases in the future. Keywords: Criminal Offense, Document Forgery, Criminal Sanctions Abstrak Tindak pidana pemalsuan dokumen merupakan salah satu bentuk kejahatan yang memiliki dampak serius terhadap keamanan dan kepercayaan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Analisis yuridis terhadap tindak pidana pemalsuan dokumen menjadi penting dalam upaya memahami dasar hukum, peran lembaga penegak hukum, serta konsekuensi hukum yang terkait dengan tindakan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menggali berbagai aspek hukum yang terkait dengan tindak pidana pemalsuan dokumen, meliputi definisi hukum, jenis-jenis pemalsuan dokumen, sanksi pidana yang diberlakukan, dan upaya penegakan hukum yang dilakukan oleh lembaga terkait. Jurnal ini dibuat dengan Metode kualitatif analisis hukum normatif yang digunakan untuk meneliti berbagai undang-undang, peraturan, putusan pengadilan, serta literatur terkait untuk memahami aspek-aspek yuridis yang terkait dengan tindak pidana pemalsuan dokumen. Hasil analisis menunjukkan kompleksitas hukum yang terlibat dalam penanganan kasus pemalsuan dokumen, termasuk tantangan dalam pembuktian, penentuan sanksi yang proporsional, dan perlindungan hak-hak individu. Studi ini memberikan pemahaman yang mendalam tentang kerangka hukum yang mengatur tindak pidana pemalsuan dokumen, serta memberikan landasan bagi perbaikan kebijakan dan prosedur penegakan hukum untuk meningkatkan efektivitas dalam menangani kasus-kasus serupa di masa depan. Kata Kunci: Tindak Pidana, Pemalsuan Dokumen, Sanksi Pidana
Penerapan Sanksi Pidana Pada Pasal 170 KUHP; Analisa Pelaku Tindak Pidana Pencurian Dengan Kekerasan Azzam, Muhamad Fatih; Junior, Rogie Garcia; Hosnah, Asmak Ul
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 2 No. 1 (2024): Contemporary Insights into Islamic Jurisprudence: Exploring Commerce, Culture,
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v2i1.463

Abstract

Abstract A criminal act, namely committing theft with violence, often occurs in Indonesia. There are various variations to mention this crime, until finally the term robbery emerged which is theft using violence. The act of stealing by committing acts of violence can cause the death of a person, if the attempted theft is carried out by two or more people together and accompanied by various conditions, it can be punished by the death penalty, life imprisonment or temporary imprisonment for a period of twenty years. Imprisonment, taking into account the elements of the consequences; serious injury, minor injury or death. This is regulated in article 170 of the Criminal Code and article 362 of the Criminal Code. The research method used in preparing this journal is legal research based on the Library Research method. The search in question is looking for good and correct knowledge in the form of secondary, primary and tertiary legal materials that can be used to answer questions from ignorance and solve certain problems as well as to look for systematic and consistent answers. In this research, the author took problem formulations such as: 1. Factors that cause someone to commit violent crimes?, 2. Firm steps taken by the police as law enforcers in dealing with criminal acts of violent theft? Keywords: Crime of Theft,Violence, Constitution Abstrak Pada sebuah perbuatan tindak pidana yaitu melakukan pencurian dengan kekerasan begitu banyak terjadi di Indonesia. Berbagai variasi untuk menyebutkan kejahatan tersebut, hingga terakhir muncul istilah begal yang merupakan pencurian dengan menggunakan kekerasan. Perbuatan mencuri dengan melakukan perbuatan kekerasan dapat menyebabkan kematian seseorang, jika percobaan pencurian tersebut dilakukan oleh dua orang atau lebih secara bersama-sama dengan disertai berbagai macam keadaan dapat dihukum dengan hukuman mati, hukuman penjara seumur hidup maupun hukuman penjara sementara selama lamanya yaitu dua puluh tahun penjara, dengan mempertimbangkan nya unsur timbulnya akibat; luka berat, luka ringan ataupun meninggal dunia. Hal ini diatur dalam pasal 170 Kitab Undang Undang Hukum Pidana dan pasal 362 Kitab Undang Undang Hukum Pidana. Metode penelitian yang digunakan dalam penyusunan jurnal ini adalah penelitian hukum yang didasarkan pada metode Penelitian Pustaka ( Library Research ). Pencarian yang dimaksud adalah mencari pengetahuan yang baik dan benar berupa bahan hukum sekunder, primer dan tersier yang dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan dari ketidaktahuan dan memecahkan permasalahan tertentu serta untuk mencari jawaban yang sistematis dan konsisten. Dalam penelitian ini penulis mengambil rumusan masalah seperti: 1. Faktor-faktor yang menyebabkan seseorang melakukan perbuatan kejahatan dengan kekerasan?, 2. Langkah tegas pihak kepolisian sebagai penegak hukum dalam menanggulangi tindak pidana pencurian dengan kekerasan? Kata Kunci: Tindak Pidana Pencurian, Kekerasan, Undang Undang
Practice of Buying and Selling Grain With Deferred Payment According to Islamic Law in Rantau Badauh District Ni'mah, Mudawamatun
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 2 No. 2 (2024): Implementation and Dynamics of Islamic Law and Civil Law in Indonesia
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v2i2.464

Abstract

Abstract The background of this research is that buying and selling in accordance with Islamic law must avoid what is forbidden, such as avoiding elements of gharar or uncertainty which can cause losses between one of the parties. In its development, apart from buying and selling in cash, buying and selling is also done in a tough manner. In the Rantau Badauh community, some people buy and sell grain using a deferred payment method, while the priority is handing over the grain to the buyer. However, the price and payment time are not specified at the beginning of the agreement. The problem in this research is the practice of buying and selling grain with deferred payment in Rantau Badauh District and how Islamic law reviews the practice of buying and selling grain with deferred payment. Keywords: Buying and selling, Grain, Deferred payment Abstrak Latar belakang penelitian ini adalah jual beli yang sesuai dengan syariat Islam harus menghindari apa yang diharamkan, seperti menghindari unsur gharar atau ketidakpastian yang dapat menimbulkan kerugian antara salah satu pihak. Dalam perkembangannya, selain jual beli secara tunai, jual beli juga dilakukan dengan cara tangguh. Pada masyarakat Rantau Badauh, sebagian masyarakat melakukan jual beli gabah dengan cara pembayaran ditangguhkan, yang diutamakan adalah penyerahan gabah kepada pembeli. Namun, harga dan waktu pembayaran tidak ditentukan di awal perjanjian. Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana praktik jual beli gabah dengan pembayaran ditangguhkan di Kecamatan Rantau Badauh dan bagaimana tinjauan hukum Islam terhadap praktik jual beli gabah dengan pembayaran ditangguhkan. Kata Kunci: Jual Beli, Gabah, Pembayaran Ditangguhkan
Implementasi Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Selatan Nomor 12 Tahun 2022 Tentang Penyelenggaraan Toleransi Kehidupan Bermasyarakat Apriliani, Apriliani; Faralita, Ergina
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 2 No. 2 (2024): Implementation and Dynamics of Islamic Law and Civil Law in Indonesia
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v2i2.465

Abstract

Abstract According to Trends in Religious Harmony Data from the Ministry of Religion of the Republic of Indonesia in 2022, it is stated that there are 10 provinces that are categorized as low tolerance areas in Indonesia, one of these provinces is South Kalimantan Province. The reason for the low data is influenced by several factors, one of which is caused by differences in community typology in assessing the data. Other reasons also arise due to the potential for conflict that occurs both within religious groups and outside religions. South Kalimantan Province Regional Regulation Number 12 of 2022 was formed with the aim of formulating the issues faced in implementing Tolerant Community Life in South Kalimantan Province and ways to overcome these problems. However, implementation in the field is still lacking, this is partly due to a lack of socialization of these regulations in the community. The aim of this research is to find out how South Kalimantan Province Regional Regulation Number 12 of 2022 is implemented regarding the Implementation of Tolerance in Community Life. And to identify obstacles in the implementation. This research is empirical legal research with a legal sociology approach. Data collection techniques used were interviews, observation and documentation with 4 related agencies, namely the DPRD of South Kalimantan Province, the Regional Office of the Ministry of Religion of South Kalimantan Province, FKUB of South Kalimantan Province and KESBANGPOL of Banjarmasin City as well as 4 community informants who were at the research location, namely in Kalimantan Province. South. This finding shows that the implementation of this Regional Regulation has not been fully implemented well. This can be seen from the large number of people who are not aware of this regulation because this regulation is still considered a new regulation, socialization of this regulation has not been distributed evenly to the public. Arranging permits for the implementation/celebration of religious events is quite difficult in the management system and there are 4 inhibiting factors in implementing this regulation, namely first, lack of communication, second, lack of resources, third, excessive attitude of implementers and fourth, obstacles in the bureaucratic structure. Keywords: Implementation, South Kalimantan provincial regulation number 12 of 22, implementation of tolerance in social life Abstrak Menurut Tren Data Kerukunan Umat Beragama dari Kementerian Agama Republik Indonesia tahun 2022 menyatakan terdapat 10 provinsi yang dikategorikan sebagai daerah toleransi rendah di Indonesia salah satu provinsi tersebut ialah Provinsi Kalimantan Selatan. Sebab dari rendahnya data tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya disebabkan oleh perbedaan tipologi masyarakat dalam penilaian data tersebut. Sebab lain juga muncul disebabkan oleh adanya potensi konflik yang terjadi baik dalam intern beragama ataupun ekstren beragama. Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Selatan Nomor 12 Tahun 2022 ini dibentuk bertujuan untuk merumuskan hal-hal yang dihadapi dalam penyelenggaraan Toleransi Kehidupan Bermasyarakat di Provinsi Kalimantan Selatan dan cara-cara mengatasi persoalan tersebut. Namun, dalam pengimplementasiannya di lapangan masih kurang hal ini salah satunya disebabkan oleh kurangnya sosialisasi terhadap peraturan tersebut di masyarakat. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui bagaimana Implementasi Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Selatan Nomor 12 Tahun 2022 tentang Penyelenggaraan Toleransi Kehidupan Bermasyarakat. Dan untuk mengidentifikasi kendala dalam implementasi tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian hukum empiris dengan pendekatan sosiologi hukum. Teknik pengumpulan data yang digunakan melalui wawancara, observasi dan dokumentasi dengan 4 instansi terkait yakni DPRD Provinsi Kalimantan Selatan, Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Selatan, FKUB Provinsi Kalimantan Selatan dan KESBANGPOL Kota Banjarmasin serta 4 informan masyarakat yang berada di lokasi penelitian yaitu di Provinsi Kalimantan Selatan. Penemuan ini menemukan bahwa implementasi Peraturan Daerah ini belum sepenuhnya terlaksana dengan baik. Hal ini terlihat dari banyaknya masyarakat yang tidak mengetahui akan adanya peraturan tersebut disebabkan karena peraturan ini masih tergolong peraturan baru, sosialisasi peraturan ini belum tersalurkan secara merata kepada masyarakat. pengurusan izin pelaksanaan/perayaan acara keagamaan yang agak susah dalam sistem pengurusannya dan terdapat 4 faktor penghambat dalam pengimlementasian peraturan ini yakni pertama kurangnya komunikasi, kedua kurangnya sumber-sumber, ketiga sikap pelaksana berlebihan dan keempaat, terkendala dalam struktur birokrasi. Kata Kunci: Implementasi, Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Selatan Nomor 12 Tahun 2022;, Penyelenggaraan Toleransi Kehidupan Bermasyarakat

Page 11 of 55 | Total Record : 550