cover
Contact Name
Bayu Anggileo Pramesona
Contact Email
bayu.pramesona@fk.unila.ac.id
Phone
+6281274004767
Journal Mail Official
jka@fk.unila.ac.id
Editorial Address
Jalan Sumantri Brojonegoro No.1 Gedung C FK Unila lt. 1 Ruang Jurnal Lakuna Rajabasa Bandar Lampung Kode Pos 35145 Lampung
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Published by Universitas Lampung
ISSN : 26557800     EISSN : 2356332X     DOI : https://doi.org/10.23960/jka
Core Subject : Health,
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine is a peer-reviewed scientific journal published by the Faculty of Medicine, University of Lampung. This journal serves as a platform for disseminating research findings and scholarly discussions in the fields of medicine, public health, environmental health, and their intersections with agriculture and agromedicine. The journal emphasizes preventive, promotive, and educational health strategies, especially within rural and agrarian communities.
Articles 565 Documents
Aktivitas Antioksidan dan Antimikrobial pada Polifenol Teh Hijau Denny Habiburrohman; Asep Sukohar
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 5 No. 02 (2018): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Teh hijau merupakan minuman yang populer dikonsumsi di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Teh hijau (Camellia sinensis) memiliki kandungan polifenol berupa katekin. Kandungan polifenol dalam teh hijau terkenal akan fungsi antioksida, namun ditemukan pula fungsi sebagai antibakterial. Aktivitas antioksidan pada polifenol terhadap stres oksidatif dengan berperan sebagai scavenger ion bebas, kelasi logam dalam menyeimbangkan reaksi oksidasi sel dan bekerja pada enzim yang berperan dalam stress oksidatif serta meningkatkan produksi antioksidan endogen. Selain fungsinya sebagai antioksidan, polifenol juga dapat berperan sebagai antimikroba. Aktivitas antimikroba pada polifenol bekerja dengan merusak membran sel bakteri, menghambat sintesis asam lemak dan aktivitas enzim sehingga pertumbuhan dan perkembangan bakteri dapat dihambat.Kata kunci: antioksidan, antimikroba, teh hijau
Peran Kafein dalam Tatalaksana Nyeri Kepala dan Kafein Withdrawal Dicky Auliansyah; Novita Carolia
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 5 No. 02 (2018): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kafein merupakan zat psikoaktif yang sering dikonsumsi dalam kehidupan sehari-hari. Penggunaan kafein memiliki efek analgetik dalam tatalaksana nyeri kepala. Kafein dapat berperan secara mandiri sebagai analgetik maupun ajuvan. Namun, dampak dari penggunaan kafein yang berlebihan dan kafein withdrawal akan menyebabkan berbagai gejala, salah satunya nyeri kepala. Gejala ini bertentangan dengan fungsi kafein sebagai analgetik dalam nyeri kepala. Hal ini terjadi akibat mekanisme hipereksitabilitas kortikal dan peningkatan sensitisasi perifer dan sentral, sehingga penggunaan kafein bagaikan dua mata pisau yaitu dapat memberikan manfaat dalam terapi nyeri kepala atau dapat memicu timbulnya nyeri kepala.Kata kunci: analgetik, Kafein, Kafein withdrawal, nyeri kepala
Gangguan Fungsi Paru akibat Pajanan Pestisida pada Pekerja di Sektor Agrikultur M. Addin Syakir; Diana Mayasari
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 5 No. 02 (2018): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Saat ini penggunaan pestisida telah berkembang pesat terutama pada negara-negara berkembang, namun penggunaan pestisida yang berkembang pesat tidak diikuti dengan cara penggunaan pestisida yang tepat serta kurangnya pengetahuan tentang keselamatan dalam bekerja menyebabkan meningkatnya jumlah pekerja yang terpajan pestisida di lingkungan agrikultur. Pajanan pestisida menimbulkan efek yang dapat mengancam kesehatan salah satunya adalah gangguan pada fungsi paru yaitu Force Expiratory Volume dalam 1 detik (FEV1), Forced Expiratory Flow (FEF), dan Forced Vital Capacity (FVC). Mekanisme terjadinya gangguan pada fungsi paru berbeda setiap pestisida, namun berbagai penelitian menunjukkan bahwa organofosfat paling sering dalam menyebabkan gangguan terutama pada fungsi paru. Organofosfat dapat menghambat Asetilkolinesterase (AChE) menyebabkan asetilkolin berlebihan pada sinapsis kolinergik akhirnya menimbulkan manifestasi gangguan pernapasan dan penurunan fungsi paru. Gangguan pada fungsi paru baik bersifat obstruktif maupun restriktif yang dialami oleh pekerja yang terpajan pestisida di sektor agrikultur. Pentingnya memperhatikan risiko kesehatan yang berkaitan dengan pekerja agrikultur dan program yang mendukung dalam metode keselamatan dari pajanan pestisida, meningkatkan kesadaran penggunaan alat pelindung diri bersamaan dengan pemberian edukasi tentang pentingnya penggunaan alat pelindung diri serta informasi tentang risiko penyakit respirasi di lingkungan agrikultur dapat mengurangi risiko penyakit pernapasan di lingkungan agrikultur.Kata kunci: fungsi paru, pekerja, pestisida
Pengaruh Allicin pada Bawang Putih (Allium sativum L.) terhadap Aktivitas Candida albicans sebagai Terapi Candidiasis Ahmad Syah Putra; Asep Sukohar
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 5 No. 02 (2018): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Infeksi penyakit yang disebabkan oleh jamur merupakan penyakit yang masih menjadi permasalahan kesehatan di Indonesia. Data menunjukkan bahwa prevalensi penyakit kulit yang disebabkan oleh infeksi jamur di Indonesia pada tahun 2000 mencapai 27,6%. Saat ini penggunaan obat antijamur sintetis sering digunakan untuk mencegah penyakit infeksi yang disebabkan oleh jamur, terutama oleh jamur C.albicans. Bawang putih merupakan salah satu tanaman herbal yang memiliki senyawa allicin. Senyawa allicin dapat bersifat sebagai anti-fungi. Beberapa penelitian melaporkan bahwa ekstrak bawang terbukti memiliki aktivitas sebagai fungistatik dan fungisida baik secara in vivo maupun secara in vitro dalam menghambat pertumbuhan C. albicans.Kata kunci: allicin, bawang putih (Allium sativum L.), Candida albicans.
Neuroprotektif pada Kehamilan Prematur Elma Sandya; Ratna Dewi Puspita Sari
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 5 No. 02 (2018): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Persalinan prematur merupakan persalinan yang terjadi pada kehamilan kurang dari 37 minggu (antara 20-37 minggu) atau dengan berat janin kurang dari 2500 gram. Kelahiran prematur merupakan salah satu penyumbang terbesar pada kematian perinatal. Bayi prematur mempunyai risiko kematian lebih tinggi dibandingkan dengan bayi yang lahir cukup bulan. Hal ini disebabkan mereka mempunyai kesulitan untuk beradaptasi dengan kehidupan di luar rahim akibat ketidakmatangan sistem organ tubuhnya. Masalah lain yang dapat timbul akibat kelahiran prematur adalah masalah perkembangan neurologi yang bervariasi dari gangguan neurologis berat, seperti kebutaan, gangguan penglihatan, dan tuli. Sehingga dibutuhkan suplementasi untuk melindungi perkembangan neurologi bayi prematur dengan pemberian neuroproteksi yaitu magnesium sulfat. Kelahiran prematur sangat berhubungan dengan meningkatnya infeksi intra-amniotik, yang menyebabkan peradangan ibu. Selain itu, peradangan pada ibu seperti peningkatan kadar interleukin 6 dalam cairan amnion dikaitkan dengan hasil perinatal yang merugikan. Janin juga bisa mengalami respon inflamasi yang menyebabkan cedera neurologis. Sindrom respon inflamasi janin dicirikan dengan meningkatnya plasma interleukin 6 sehingga intervensi terhadap uterus sangat penting dalam pencegahan sequelae neurologis. Magnesium sulfat mempunyai efek yang menguntungkan pada sel mati dengan menurunkan sitokin proinflammasi atau radikal bebas yang terbentuk selama proses hypoxic ischemia reperfusion dan proses inflammasi dalam kehamilan. Magnesium menjaga eksitotoksik calsium yang menyebabkan kerusakan jaringan, dengan non competitive voltage-dependent inhibition dari N-methyl- D-aspartate (NMDA) reseptor ke glutamat mengurangi masuknya kalsium ke dalam sel dan otak janin yang lebih rentan terhadap kerusakan oleh glutamat. Dengan memblokir reseptor glutamat oleh agen seperti magnesium sulfat dapat menurunkan risiko terjadinya kerusakan jaringan otak pada periode perinatal.Kata Kunci: magnesium sulfat , neuroprotektif, prematur
Penggunaan Air Tajin (Air Beras) untuk Rehidrasi Oral pada Penatalaksanaan Demam Dengue Achisna Rahmatika; Dwita Oktaria
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 5 No. 02 (2018): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Demam dengue adalah salah satu masalah kesehatan masyarakat utama di Indonesia. Lebih dari separuh anak di daerah perkotaan terinfeksi demam dengue pada usia 5 tahun, dan lebih dari 80 persen telah terinfeksi virus ini setidaknya satu kali pada usia 10 tahun. Penyakit ini memiliki spektrum klinis yang luas sehingga mencakup manifestasi klinis yang beragam dari tidak menunjukkan gelaja hingga parah. Komplikasi utama demam dengue jika tatalaksana yang tidak adekuat adalah dengue shock syndrome, kejang demam, perdarahan dan dehidrasi. Terdapat beberapa manajemen terapi yang dapat diberikan dalam penatalaksanaan dehidrasi, untuk mengganti cairan yang hilang akibat kebocoran plasma, demam dan muntah/diare, salah satunya air tajin (air beras). Larutan rehidrasi oral, contohnya air tajin, memang sudah diakui aman dan efektif secara klinis untuk pengobatan pasien dengan diare atau kekurangan cairan dan dianggap sebagai terapi efektif untuk pengobatan dehidrasi ringan-sedang. Air beras merupakan cairan yang diperoleh setelah menguras beras yang akan dimasak, air ini memiliki keunggulan gizi dalam memberikan kalori lebih banyak dalam rehidrasi dari pada oral rehydration solution (ORS) dan keuntungan osmolarnya yaitu dapat melepaskan karbohidrat di usus secara bertahap. Air ini memiliki keunggulan gizi dalam memberikan kalori lebih banyak dalam rehidrasi dari pada formula larutan rehidrasi oral. Sehingga ini bisa menjadi salah satu pilihan alternatif terapi rehidrasi oral pada demam dengue.Kata kunci: air beras, air tajin, dehidrasi, demam dengue, rehidrasi oral.
Pengaruh Pemberian Epidermal Growth Factor pada Ulkus Diabetikum Arninda Rahman; Susianti Susianti
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 5 No. 02 (2018): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diabetes Melitus (DM) adalah penyakit yang ditandai dengan hiperglikemia dan pankreas tidak menghasilkan insulin atau ketika tubuh tidak dapat secara efektif menggunakan insulin. Hasil Riset Kesehatan Dasar pada tahun 2013, menunjukan prevalensi DM di Indonesia membesar sampai 57%. Tingginya prevalensi Diabetes Melitus tipe 2 disebabkan oleh faktor risiko misalnya jenis kelamin, umur, faktor genetik, kebiasaan merokok, aktivitas fisik, konsumsi alkohol, indeks masa tubuh, lingkar pinggang dan umur. Komplikasi penderita DM yang sudah parah akan menjalani amputasi anggota tubuh karena terjadi pembusukan (ulkus diabetikum). Ulkus diabetikum adalah suatu luka terbuka pada lapisan kulit sampai ke dalam dermis, yang biasanya terjadi di telapak kaki. Menurut The National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Disease, diperkirakan 16 juta orang Amerika Serikat diketahui menderita diabetes, dan jutaan diantaranya beresiko untuk menderita ulkus diabetikum. Dari keseluruhan penderita diabetes, 15% menderita ulkus di kaki, dan 12-14% dari yang menderita ulkus di kaki memerlukan amputasi. Ulkus diabetikum disebabkan adanya tiga faktor yang sering disebut trias, yaitu: iskemik, neuropati dan infeksi. Epidermal growth factor (EGF) adalah polipeptida 53-aminoacid diisolasi dari kelenjar submaksilaris tikus dewasa yang memanfaatkan aktivitas mitogenik yang kuat melalui pengikatan reseptor membran sel tertentu. EGF mengaktifkan sel mesenkim dan epitel untuk proliferasi dan merangsang perbaikan epidermal setelah cedera. EGF mengaktifkan pembelahan sel epidermal, stroma dan migrasi, merangsang angiogenesis, dan berpotensi mitogen pada keratinosit sehingga dapat memperbaiki jaringan yang rusak pada ulkus diabetikum.Kata Kunci:diabetes mellitus,faktor pertumbuhan epidermal, ulkus diabetikum
Penatalaksanaan Kehamilan dengan Tuberkulosis Paru Amri Yusuf; Merry Indah Sari
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 5 No. 02 (2018): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh Mycobakterium tuberkulosis dan masih menjadi masalah kesehatan utama dunia terutama di negara berkembang seperti Indonesia. World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi kuman TB. Tuberkulosis di Indonesia menduduki peringkat lima besar dunia bersama India, China, Filipina dan Pakistan. Angka prevalensi TB di Indonesia pada tahun 2016 adalah 391 per 100.000 penduduk, dimana hampir separuhnya adalah wanita pada usia produktif dan sekitar 1-3% merupakan wanita hamil yang menderita TB. Selama kehamilan dapat terjadi transmisi basil TB ke janin, biasanya terjadi secara limfatik, hematogen atau secara langsung. Diagnosis klinis TB pada kehamilan lebih sulit karena gejala yang muncul seperti kelelahan, sesak nafas, berkeringat, lemas, batuk, dan demam ringan mirip dengan gejala fisiologis kehamilan. World Health Organization sangat merekomendasikan skrining gejala dan pemeriksaan Xpert MTB (Mycobacterium tuberculosis)/RIF (Resistance to Rifampin) untuk mendiagnosis TB pada kehamilan. Pengobatan TB pada kehamilan sama seperti wanita yang tidak hamil. Dalam pengobatan menggunakan OAT (Obat antituberkulosis) seperti isoniazid, rifampisin, atau etambutol harus diperhatikan efek teratogenik pada janin. TB yang tidak diobati atau TB yang diobati terlambat dapat mengarah ke peningkatan morbiditas neonatal, berat lahir rendah, prematuritas, dan peningkatan komplikasi kehamilan, termasuk peningkatan morbiditas ibu, aborsi, perdarahan post partum, komplikasi persalinan, dan pre-eklampsia.Kata kunci: kehamilan, OAT, tuberkulosis paru.
Recurrent Pregnancy Loss Rodiani Rodiani; Bella Yanita
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 5 No. 02 (2018): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu komplikasi dari kehamilan adalah abortus atau kematian janin. Kejadian abortus sebanyak tiga kali atau lebih secara berturut-turut dapat didefinisikan sebagai recurrent miscarriage (RM). Kematian janin yang terjadi pada usia gestasi lebih dari 20 minggu disebut sebagai recurrent pregnancy loss (RPL). Dua terminologi ini seringkali dianggap sama. Insidensi RM atau RPL diperkirakan mencapai 4,5% dari total kehamilan di seluruh dunia. Etiologi RPL yang paling banyak ditemukan antara lain kelainan anatomi, genetik, hormonal, infeksi dan psikologis. Pemeriksaan penunjang dilakukan untuk menegakkan diagnosis recurrent pregnancy loss, meliputi pemeriksaan radiologis (ultrasonografi, histerosalfingografi) dan pemeriksaan laboratorium (pemeriksaan hormonal, kariotipe genetik, kultur, biopsi). Anjuran terapi yang diberikan dapat disesuaikan dengan etiologi yang ditemukan. Pada kasus RPL akibat infeksi maka diberikan antimikroba sesuai bakteri yang ditemukan dalam kultur. Pada kelainan anatomi maka dapat dilakukan tindakan pembedahan. Pada sindrom antifosfolipid dapat diberikan kombinasi aspirin dosis rendah dan heparin berat molekul rendah. Kelainan hormonal dapat diterapi sesuai dengan jenis hormon yang mengalami gangguan. Selain itu, dukungan psikologis merupakan hal yang sangat penting dan harus diberikan pada pasien dan pasangan. Prognosis relatif recurrent pregnancy loss dapat dibagi menjadi tiga (baik, sedang, buruk) dan disesuaikan dengan kriteria klinis.Kata Kunci: abortus berulang, obesitas, recurrent pregnancy loss, sindrom antifosfolipid
Peran Split Thickness Skin Graft (STSG) pada Open Degloving Muhamad Rizki Prayuda; Anggraeni Janar Wulan
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 5 No. 02 (2018): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Open degloving merupakan salah satu tipe degloving soft tissue injuries (DSTIs), suatu kondisi yang ditandai dengan avulsi kulit dan jaringan subkutan dari otot yang mendasari dan fascia sekunder akibat gaya geser tiba-tiba pada permukaan kulit, terbukti secara klinis sebagai hilangnya jaringan lunak dengan kulit avulsi, serta flap jaringan subkutan dari jaringan dalam yang mendasarinya, bersama dengan abrasi, ecchymosis atau luka kulit. Manajemen cedera degloving dalam kondisi akut adalah resusitasi, termasuk profilaksis tetanus dan manajemen cedera terkait, seperti trauma perut atau kandung kemih dan fraktur. Kemudian, pengobatan definitif dari cedera degloving harus dilakukan. Pada open degloving, debridemen jaringan nekrotik dan otot dasar yang non vital harus dilakukan, lalu ditutup menggunakan skin graft. Split-thickness skin grafts (STSG) digunakan untuk menutupi defek sehingga memungkinkan pengawasan luka yang lebih baik. Lokasi STSG biasanya diambil dari lengan bagian dalam, paha, bokong, kulit kepala, atau perut. STSG ditempatkan pada luka dan diperbaiki dengan jahitan yang dapat diserap. Kesimpulannya, STSG berperan sebagai penutup luka yang terjadi pada open degloving soft tissue injury karena mampu menutup defek yang lebih luas dan membantu mempercepat penyembuhan luka.Kata Kunci : open degloving, skin graft, STSG