cover
Contact Name
Ferdinan Bashofi
Contact Email
ferdinanbashofi@uibu.ac.id
Phone
+6285755554384
Journal Mail Official
maharsi@uibu.ac.id
Editorial Address
Jl. Citandui No.46, Purwantoro, Kec. Blimbing, Kota Malang, Jawa Timur 65126
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Maharsi : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi
ISSN : 26562499     EISSN : 26848686     DOI : https://doi.org/10.33503/maharsi.v7i2
Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sociologi contains scientific articles, theoretical and empirical studies resulting from research by students, academics, and practitioners in the field of Science and Applied Science Education which can be implemented in the context of science learning. The scope of science in this journal includes but is not limited to Sociology, and History. The journal publishes state-of-art papers in fundamental theory, experiments, and simulation, as well as applications. Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sociologi  is a multidisciplinary journal committed to no single approach, discipline, methodology, or paradigm. This journal welcomes a variety of approaches (qualitative, quantitative, and mixed methods) to empirical research; and also publishes high-quality systematic reviews and meta-analyses.
Articles 171 Documents
Fenomena Sosial Married is Scary sebagai Faktor Penguat dalam Penurunan Nuptialitas dan Fertilitas di Indonesia Agustin, Alifa Sahara; Anggrayani, Sista; Hasya, Vila; Abdullah, Mirna Nur Alia
Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi Vol. 8 No. 1 (2026): Maharsi : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi
Publisher : UNIVERSITAS INSAN BUDI UTOMO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/maharsi.v8i1.3174

Abstract

Fenomena married is scary mencerminkan perubahan persepsi generasi muda terhadap pernikahan di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran fenomena tersebut sebagai faktor yang memperkuat penurunan nuptialitas dan fertilitas. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan analisis deskriptif untuk memahami pertimbangan individu dalam mengambil keputusan terkait pernikahan dan reproduksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekhawatiran terhadap pernikahan dipengaruhi oleh kondisi ekonomi, paparan media sosial, dan perubahan nilai. Ketidakstabilan finansial mendorong individu menunda pernikahan, sementara media sosial membentuk persepsi yang menekankan risiko dalam kehidupan rumah tangga. Selain itu, generasi muda cenderung memprioritaskan kesiapan diri serta kualitas hidup sebelum menikah. Kondisi ini meningkatkan kecenderungan penundaan pernikahan yang berdampak pada menurunnya angka kelahiran. Dengan demikian, fenomena married is scary tidak menjadi penyebab utama, tetapi berperan sebagai faktor yang memperkuat tren penurunan nuptialitas dan fertilitas di Indonesia.
Tinjauan Historis dan Kehidupan Sosial Ekonmi Masyarakat Transmigrasi Desa Petaling Jaya Kecamatan Sungai Gelam Kabupaten Muaro Jambi Provinsi Jambi Syarifuddin, Amir
Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi Vol. 8 No. 1 (2026): Maharsi : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi
Publisher : UNIVERSITAS INSAN BUDI UTOMO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/maharsi.v8i1.3178

Abstract

Transmigrasi merupakan program nyata yang diluncurkan oleh zaman orde baru. Pemerintah melakukan system tranmigrasi ini adalah bertujuan untuk pemerataan penduduk di seluruh Indonesia. Desa petaling Jaya merupakan salah satu lokasi tranmigrasi yang di pilih oleh pemerintah untuk menjadi lokasi transmigrasi. Desa petaling jaya merupakan desa terpencil di Kabupaten Muaro Jambi. Desa petaling jaya memiliki sumber daya alam yang sangat bagus karena adanya perkebunan rakyat yang sangat luas serta memiliki kandungan tanah yang sangat subur sehingga desa ini sangat cocok untuk sitem pertanian. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptip, metode ini digunakan karena sangat cocok dengan kondisi dilapangan penelitian. Metode ini menggunakan metode wawancara, kepustakaan dan menelusuri arsip mengenai tranmigrasi. Penelitian menunjukkan bahwa perkembangan masyarakat Desa Petaling Jaya sangatlah berkembang dengan pesat. Hal ini dapat dilihat perekonomian masyarakat Desa Petaling jaya menjadi lebih baik. Masyarakat tranmigrasi ini berhasil memanfaatkan sumber daya alam dengan melakukan system pertanian dan perkebunan. Maka dengan demikian system transmigrasi yang dilakukan oleh pemerintah berjalan dengan baik dan suskes.
Dampak Pertumbuhan Wisata Bernah de Vallei Terhadap Dinamika Sosial Masyarakat dan Aktivitas Pondok Amanatul Ummah Hadi, Auliya Nasywaa; Asilah, Amirah Salwa; Tiara, Nazwa; Anwar, Muhibbul; Eka, Tiara; Semesta, Harmoni; Setyawan, Katon Galih
Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi Vol. 8 No. 1 (2026): Maharsi : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi
Publisher : UNIVERSITAS INSAN BUDI UTOMO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/maharsi.v8i1.3193

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak pertumbuhan Wisata Bernah De Vallei terhadap dinamika sosial masyarakat Desa Kembangbelor serta aktivitas Pondok Amanatul Ummah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Informan penelitian terdiri atas masyarakat sekitar, pengelola wisata, pengurus pondok, santri, dan perangkat desa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan wisata membawa perubahan sosial yang nyata di masyarakat, terutama melalui munculnya aktivitas ekonomi baru, meningkatnya mobilitas warga, dan berubahnya pola interaksi sosial di sekitar kawasan wisata. Di sisi lain, keberadaan wisata juga menimbulkan dampak pada lingkungan Pondok Amanatul Ummah, terutama berupa gangguan kebisingan, kepadatan lalu lintas pada waktu tertentu, serta menurunnya kenyamanan belajar santri pada akhir pekan. Meski demikian, pihak pondok tetap mampu menjaga ketertiban melalui pengawasan internal yang ketat dan pembatasan mobilitas santri. Respons masyarakat dan pemerintah desa cenderung adaptif, dengan upaya menjaga keseimbangan antara pengembangan wisata, ketertiban sosial, dan kebutuhan lingkungan pendidikan. Temuan ini menunjukkan bahwa pertumbuhan wisata tidak hanya berdampak pada aspek ekonomi, tetapi juga memengaruhi dinamika sosial masyarakat dan stabilitas aktivitas lembaga pendidikan keagamaan di sekitarnya.
Kajian Aktivitas Sosial Ekonomi Klurak Eco Park sebagai Sumber Belajar IPS di Sekolah Menengah Pertama Rachmayanti, Friska; Dwiyanti, Annisah Zulfa; Fadila, Nur; Yuniarti, Cholifah; Rohmah, Emilia Dwi; Haqiqi, Alisya Nayla; Allyatuzzara, Shafa Nazhwa; Setyawan, Katon Galih
Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi Vol. 8 No. 1 (2026): Maharsi : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi
Publisher : UNIVERSITAS INSAN BUDI UTOMO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/maharsi.v8i1.3202

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji aktivitas sosial ekonomi yang terjadi di Klurak Eco Park serta menganalisis relevansinya sebagai sumber belajar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di tingkat SMP. Pengembangan Klurak Eco Park sebagai destinasi wisata berbasis alam di Desa Kembangbelor telah mendorong munculnya berbagai aktivitas ekonomi masyarakat, seperti usaha kuliner, jasa parkir, dan penyewaan fasilitas. Aktivitas tersebut memberikan dampak positif berupa peningkatan pendapatan masyarakat serta perubahan mata pencaharian dari sektor agraris ke sektor jasa. Namun, perkembangan ini juga menimbulkan dampak sosial berupa ketimpangan ekonomi, berkurangnya nilai gotong royong, meningkatnya individualisme, serta potensi konflik antarwarga. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi literatur. Subjek penelitian meliputi pengelola wisata, masyarakat sekitar, serta pihak terkait lainnya. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas sosial ekonomi di Klurak Eco Park tidak hanya berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat, tetapi juga memengaruhi struktur sosial dan pola interaksi masyarakat. Selain itu, aktivitas tersebut berpotensi menjadi sumber belajar IPS yang kontekstual karena memungkinkan siswa memahami konsep sosial ekonomi secara langsung melalui lingkungan nyata. Pemanfaatan ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran IPS yang lebih relevan, aplikatif, dan bermakna.
Konstruksi Sosial Tata Kelola Ekonomi Lokal Desa melalui Pengelolaan Pasar Sayur Pacet Berbasis BUMDes Rahmalia, Shaila Novinda Fitri; Maghfiroh, Anis; Meita, Nabilah; Ayunda Zahra, Zaskia; Dwi Rahmadani, Novita; Nadila Aurora Putri, Salsa
Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi Vol. 8 No. 1 (2026): Maharsi : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi
Publisher : UNIVERSITAS INSAN BUDI UTOMO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/maharsi.v8i1.3203

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya tata kelola ekonomi desa melalui pemanfaatan potensi lokal yang dikelola secara partisipatif. Pasar Sayur Pacet merupakan salah satu pusat aktivitas ekonomi masyarakat yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat transaksi jual beli, tetapi juga sebagai ruang sosial yang mempertemukan pengelola BUMDes, pedagang, pembeli, dan masyarakat sekitar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konstruksi sosial dalam tata kelola ekonomi desa melalui pengelolaan Pasar Sayur Pacet berbasis BUMDes. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Data diperoleh melalui observasi, wawancara semi terstruktur, dan dokumentasi. Informan penelitian meliputi pengelola BUMDes, pedagang Pasar Sayur Pacet, pembeli, serta tokoh masyarakat atau perangkat desa yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Teknik analisis data menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldaña yang meliputi kondensasi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tata kelola Pasar Sayur Pacet terbentuk melalui interaksi sosial antara BUMDes, pedagang, dan pembeli. BUMDes berperan dalam menata pasar melalui sistem sewa, pembagian lokasi, iuran kebersihan, aturan paguyuban, dan pengaturan jam operasional. Sementara itu, pedagang dan pembeli membentuk praktik ekonomi lokal melalui kepercayaan, pelayanan, kualitas barang, serta hubungan sosial yang berlangsung secara terus-menerus. Maka dari itu, tata kelola Pasar Sayur Pacet tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga merupakan hasil konstruksi sosial masyarakat lokal.
Makna Simbolik dan Sakralitas Ritual Trance dalam Kesenian Bantengan di Desa Claket Binar Khalika, Norma; Wulaninyu, Dina; Rivani Rasendriya, Callista; Lisa Salsabilla, Nur; Monik Ardianita Cahyani, Cesylia; Rosantiani, Ita; Niswatin
Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi Vol. 8 No. 1 (2026): Maharsi : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi
Publisher : UNIVERSITAS INSAN BUDI UTOMO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/maharsi.v8i1.3205

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh semakin memudarnya pemahaman masyarakat terhadap dimensi sakral dalam kesenian Bantengan akibat pengaruh modernisasi dan komersialisasi yang menggeser fungsi kesenian dari yang semula sarat makna menjadi sekadar tontonan. Kondisi tersebut menimbulkan kesenjangan antara nilai simbolik yang terkandung dalam setiap unsur pertunjukan dengan praktik yang berkembang di masyarakat. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam makna simbolik serta mengungkap sakralitas ritual trance (kesurupan) dalam kesenian Bantengan di Desa Claket, Kabupaten Mojokerto. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif untuk memperoleh pemahaman yang komprehensif terhadap fenomena budaya yang diteliti. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dengan informan kunci, observasi lapangan, dokumentasi, serta studi pustaka yang relevan. Data yang diperoleh kemudian dianalisis melalui tahapan reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan dengan menerapkan teknik triangulasi guna menjamin keabsahan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesenian Bantengan di Desa Claket merupakan sistem budaya yang kompleks yang memadukan dimensi simbolik, sakral, dan spiritual-komunal. Makna simbolik tercermin dalam berbagai elemen pertunjukan, seperti kepala banteng yang melambangkan kekuatan dan keberanian, macan sebagai representasi tantangan, serta pecut sebagai simbol kendali spiritual. Sementara itu, sakralitas ritual trance tampak dalam rangkaian tahapan ritual yang terstruktur, mulai dari pembukaan hingga penutupan, yang berfungsi sebagai media komunikasi antara manusia dengan kekuatan spiritual. Dengan demikian, kesenian Bantengan tidak hanya berperan sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana ekspresi spiritual dan pelestarian nilai-nilai budaya lokal yang diwariskan secara turun-temurun.
Pengaruh Kesadaran Historis terhadap Motivasi Pendakian di Gunung Penanggungan: Studi Jalur Kedungudi Rohmah, Ayu Fillatul; Fitriyah, Maulida; Agustin, Siti Nor Aziza Dwi; Abror, Muhammad Wafi Zada; Ilham, Arifin; Puspa, Anjallina Devita; Segara, Nuansa Bayu
Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi Vol. 8 No. 1 (2026): Maharsi : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi
Publisher : UNIVERSITAS INSAN BUDI UTOMO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/maharsi.v8i1.3210

Abstract

Aktivitas pendakian gunung di kalangan masyarakat, khususnya generasi muda, terus meningkat dan tidak lagi semata-mata dimaknai sebagai kegiatan rekreasi, tetapi juga sebagai sarana edukasi serta pencarian pengalaman baru. Gunung Penanggungan, khususnya jalur Kedungudi, memiliki karakteristik unik karena terdapat sebelas situs candi peninggalan masa Majapahit yang berpotensi memengaruhi motivasi pendaki. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh kesadaran historis terhadap motivasi pendakian di jalur tersebut. Pendekatan kuantitatif eksplanatori diterapkan melalui survei terhadap 128 responden dengan teknik purposive sampling. Data dianalisis menggunakan regresi linier sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesadaran historis responden berada pada kategori sedang menuju tinggi (mean = 3,32), sedangkan motivasi pendakian berada pada kategori sedang (mean = 3,02). Persamaan regresi Y = 15,177 + 0,999X dengan signifikansi 0,000 (p < 0,05) membuktikan adanya pengaruh positif dan signifikan kesadaran historis terhadap motivasi pendakian. Nilai R² sebesar 0,312 menunjukkan kontribusi sebesar 31,2%, sementara 68,8% dipengaruhi faktor lain seperti rekreasi, interaksi sosial, dan tantangan fisik. Temuan ini menunjukkan bahwa aspek sejarah dapat menjadi daya tarik penting dalam aktivitas pendakian. Hasil penelitian mengimplikasikan pentingnya integrasi edukasi historis dalam pengelolaan jalur pendakian berbasis warisan budaya.
Museum sebagai Arena Hegemoni Kultural: Analisis Representasi Kekuasaan dan Nasionalisme di Museum Brawijaya dalam Pembelajaran Mata Kuliah Hegemoni Dunia Arsyad, Muhammad Naharuddin; Amalia, Rustanti
Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi Vol. 8 No. 1 (2026): Maharsi : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi
Publisher : UNIVERSITAS INSAN BUDI UTOMO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/maharsi.v8i1.3194

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi kekuasaan dan nasionalisme dalam penyajian koleksi Museum Brawijaya, pemanfaatannya sebagai sumber pembelajaran dalam mata kuliah Hegemoni Dunia, serta respon dan pemahaman mahasiswa setelah mengikuti pembelajaran berbasis museum. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus, serta diperkuat dengan analisis wacana kritis untuk mengkaji relasi antara pengetahuan, kekuasaan, dan ideologi. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan Focus Group Discussion (FGD), kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Museum Brawijaya merepresentasikan kekuasaan dan nasionalisme melalui narasi sejarah, simbol visual, dan tata pamer yang menempatkan militer sebagai aktor utama dalam sejarah nasional. Representasi ini mencerminkan praktik hegemoni kultural yang bekerja melalui konstruksi pengetahuan sejarah yang diterima kebenarannya. Pemanfaatan museum dalam pembelajaran terbukti mampu menghadirkan pengalaman belajar yang kontekstual, meningkatkan keterlibatan mahasiswa, serta mengembangkan kesadaran kritis terhadap relasi antara pengetahuan dan kekuasaan. Selain itu, pembelajaran berbasis museum mendorong perubahan respon mahasiswa dari sikap afirmatif menjadi reflektif dan kritis, serta meningkatkan kemampuan berpikir historis dan kesadaran ideologis. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa museum tidak hanya berfungsi sebagai media edukasi, tetapi juga sebagai arena produksi makna yang memiliki peran penting dalam pengembangan pembelajaran sejarah yang kritis, reflektif, dan transformatif.
Reaktualisasi Wayang Potehi sebagai Simbol Harmoni Multietnis di Jombang Amallia, Firsty; Madina, Amanda Alta; Wardhani, Wurri Setya; Imawati, Yunita Kurnia
Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi Vol. 8 No. 1 (2026): Maharsi : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi
Publisher : UNIVERSITAS INSAN BUDI UTOMO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/maharsi.v8i1.3211

Abstract

Penelitian berfokus pada reaktualisasi wayang potehi di Jombang dan harmoni sosial multietnis antara masyarakat Jawa dan Tionghoa. Wayang Potehi kini bisa dinikmati masyarakat luas, meskipun sempat mengalami pelarangan pada masa Orde Baru dan pandemi COVID-19. Pengumpulan data melalui wawancara dengan ketua komunitas wayang potehi, dalang, dan masyarakat sekitar, serta melalui kajian literatur. Metode wawancara dengan teknik Snowball sehingga informasi didapatkan secara berkelanjutan. Data dianalisis menggunakan metode Miles dan Huberman (kondensasi data, penyajian data menggunakan timeline, dan penarikan kesimpulan). Hasil penelitian dibandingkan dengan literatur dan penelitian lain yang relevan untuk memvalidasi temuan. Wayang Potehi di Jawa Timur, khususnya di Gudo, Jombang, telah berkembang menjadi lebih dari sekadar seni hiburan dan menjadi simbol harmoni sosial dan budaya antara etnis Tionghoa dan suku Jawa. Dukungan masyarakat dan pihak berwenang membantu kelangsungan pertunjukan. Reaktualisasi dari segi sosial, ekonomi, dan keagamaan, menjadikannya lebih inklusif dan melibatkan berbagai kalangan, termasuk anak-anak pesantren. Secara ekonomi, pertunjukannya mendapat dukungan donatur dan berkembang hingga ke luar negeri. Dalam aspek keagamaan, menunjukkan adaptasi budaya dengan tampil di berbagai tempat, termasuk gereja dan pesantren. Simbol harmoni sosial melibatkan toleransi, koeksistensi, pluralisme dan keberagaman, kompetisi serta kreativitas. Pementasannya berhasil mendorong toleransi dan kebersamaan antara berbagai agama dan etnis, serta memperlihatkan fleksibilitas budaya yang luas. Pementasannya diberbagai acara lintas agama, menunjukkan kemampuannya memfasilitasi toleransi multietnis. Di Gudo, masyarakat dari berbagai agama hidup rukun dan menghormati satu sama lain. Kreativitas terlihat dari berbagai bentuk inovasi, seperti boneka dengan wajah tokoh-tokoh penting dan penyesuaian bahasa daerah.
Perbandingan Interaksi Sosial Antara Masyarakat Lokal dan Pendaki Di Basecamp Gunung Penanggungan Jalur Tamiajeng dan Jalur Kedungudi Dwi Ananta, Zaki; Meimonah Awalia, Angelita; Zulfa Nuriyyah, Audrey; Afza Marhaini, Nabila; Lutviyanti, Trisari; Niswatin
Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi Vol. 8 No. 1 (2026): Maharsi : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi
Publisher : UNIVERSITAS INSAN BUDI UTOMO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/maharsi.v8i1.3215

Abstract

Studi ini bertujuan untuk menganalisis serta membandingkan pola interaksi antara penduduk setempat dan para pendaki di Basecamp Gunung Penanggungan melalui jalur Tamiajeng dan Kedungudi. Interaksi sosial dalam konteks wisata pendakian memainkan peranan penting dalam membangun hubungan masyarakat, kerjasama ekonomi, dan dinamika budaya sosial antara pendaki dan komunitas lokal. Penelitian ini menerapkan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif komparatif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan, wawancara mendalam dengan pengelola basecamp, relawan, dan pendaki, serta pengumpulan dokumentasi sebagai data tambahan. Analisis data dilakukan dengan melaksanakan tahapan pengurangan, penyajian, dan penarikan kesimpulan secara sistematis menggunakan teknik triangulasi untuk memastikan kevalidan data. Temuan dari penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan dalam pola interaksi sosial di kedua jalur. Jalur Tamiajeng menunjukkan tingkat interaksi yang lebih tinggi, awalnya bersifat transaksional tetapi kemudian berkembang menjadi jejaring sosial yang lebih luas dan terorganisir. Di sisi lain, jalur Kedungudi memperlihatkan interaksi yang lebih jarang dalam hal frekuensi, namun memiliki hubungan yang lebih mendalam, bersifat pribadi, dan komunal. Perbedaan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti jumlah pendaki, manajemen basecamp, fasilitas yang tersedia, serta karakteristik para pendaki. Di samping itu, penelitian ini menemukan bahwa komunikasi, kesadaran pendaki terhadap peraturan, dan sikap saling menghargai merupakan aspek penting dalam menciptakan interaksi sosial yang harmonis. Hasil dari penelitian ini memberikan kontribusi bagi kajian sosiologi pariwisata, khususnya yang berkaitan dengan interaksi sosial dalam wisata berbasis masyarakat, serta dapat dijadikan acuan bagi pengelola untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan hubungan sosial di area pendakian.