Maharsi : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi
Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sociologi contains scientific articles, theoretical and empirical studies resulting from research by students, academics, and practitioners in the field of Science and Applied Science Education which can be implemented in the context of science learning. The scope of science in this journal includes but is not limited to Sociology, and History. The journal publishes state-of-art papers in fundamental theory, experiments, and simulation, as well as applications. Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sociologi is a multidisciplinary journal committed to no single approach, discipline, methodology, or paradigm. This journal welcomes a variety of approaches (qualitative, quantitative, and mixed methods) to empirical research; and also publishes high-quality systematic reviews and meta-analyses.
Articles
171 Documents
KULTUR POLITIK TRADISIONAL JAWA PADA MASA REZIM ORDE BARU TAHUN 1967-1998
Kasman, Aloysius;
Rahadian, Septa
Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi Vol. 2 No. 1 (2020): Maharsi : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi
Publisher : UNIVERSITAS INSAN BUDI UTOMO
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33503/maharsi.v2i1.378
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan Rezim Orde Baru yang merupakan apa yang dilakukan Orde Baru melalui kekuasannya. Dalam ilmu politik, kekuasaan digunakan untuk mencapai tujuan yang lebih besar, yakni mcenyejahterakan rakyatnya, termasuk ideologi apa yang digunakan. Orde Baru hadir sebagai antitesis dari era demokrasi parlementer dan demokrasi terpimpin membuat, jarak terhadapnya, bahkan memperlihatkan permusuhan terhadap Orde Lama. Kekuasaan Orde Baru bermula pada tahun 1967-1998.Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang merupakan catatan relevansi dengan pemerintahan rezim Orde Baru yang berlandaskan pada kultur politik tradisional Jawa, jauh sebelum kedatangan kolonial Belanda di Nusantara. Metode-metode sejarah yang dipaparkan seperti, Pemilihan Topik (kedekatan emosional dan kedekatan intelektual ), Heuristik ( mencari dan mengumpulkan data ), Verifikasi ( kritik sumber buku interen dan eksteren ), Interpretasi (penafsiran) dan Historiografi (catatan sejarah ). Kemudian hasil dari penelitian Kultur politik tradional Jawa yang lahir jauh sebelum masa kolonial Belanda abad ke- xix sebagai dasar efektivitas penyalahgunaan kekuasaan Rezim Orde tahun 1967 sampai 1998 di Indoesia.
DIALOG DAN NEGOSIASI “RUANG PUBLIK” PASCA PEMBANGUNAN ACEH: Catatan Etnografi Atas Narasi Islam Dan Kebudayaan
Mujib, Ibnu
Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi Vol. 2 No. 1 (2020): Maharsi : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi
Publisher : UNIVERSITAS INSAN BUDI UTOMO
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33503/maharsi.v2i1.379
Tulisan ini mengusung perspektif dialog dan negosiasi tentang Islam dan budaya di Aceh. Sepuluh tahun setelah pembangunan di Aceh diasumsikan bahwa konteks tsunami bagi pembangunan Aceh telah memberikan pelajaran berharga bagi masyarakat, termasuk kompleksitas masalah khaos yang terus menerus direproduksi dan menjadi beban sejarah pasca bencana. pembangunan masyarakat Aceh. Beberapa hal penting yang dibahas dalam makalah ini adalah membuka dan mereproduksi “ruang publik” yang diharapkan dapat membangun narasi keterbukaan, egalitarianisme, inklusivitas Islam dari berbagai kelompok keberagaman. Makalah ini ditulis dengan pendekatan etnografi dengan penekanan pada metode kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa munculnya kebangkitan Islam di Aceh bukan hanya gejala benturan tajam budaya lokal dan global, tetapi juga merupakan bagian dari praktik sosial yang muncul akibat terbatasnya “ruang publik” yang diciptakan. Melalui tekanan budaya global yang masif pasca konflik dan tsunami, telah pula diwarnai pergeseran nilai-nilai di berbagai tingkatan, mulai dari gaya hidup, mentalitas, bahkan pada tataran pandangan dunia masyarakat Aceh. Oleh karena itu, bagaimana sebuah “ruang publik” yang dapat menampung berbagai kepentingan yang muncul, berdialog, bahkan menegosiasikan persimpangan kekacauan ini tercipta dan dikelola di era pasca pembangunan saat ini
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN VISUALIZATION AUDITORY KINESTETIC (VAK) DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPS SISWA SMPN MONCOK
Naharuddin Arsyad, Muhammad;
Nuryati, Helensiana
Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi Vol. 1 No. 2 (2019): Maharsi : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi
Publisher : UNIVERSITAS INSAN BUDI UTOMO
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33503/maharsi.v1i2.381
Pembelajaran IPS di SMP Negeri Moncok masih terdapat berbagai permasalahan yang menyebabkan kualitas pembelajaran dan hasil belajar belum optimal. Salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan adalah model pembelajaran Visualization Auditory Kinestetic (VAK). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar sebelum dan sesudah penerapan model Visualization Auditory Kinesthetic. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen, dengan desain penelitian one group pre-test post-test design. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII SMP Negeri Moncok Pengambilan sampel dilakukan melalui teknik purposive sampling yaitu satu kelas. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik tes dan teknik dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis statistik t-Test. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, menggunakan rumus uji t-Test diketahui bahwa t hitung = - 8,172 dan untuk t tabel diperoleh dengan cara nilai @ = 5 % (0,05) dengan derajat kebebasan (df) n-1 atau 29-1 = 28. Pengujian 2 sisi (signifikansi = 0,025) hasil diperoleh untuk t tabel adalah 2,048. Didapatkannya hasil -t hitung < -t tabel (-8,172 < -2,048) maka H0 ditolak dan Ha diterima. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Visualization Auditory Kinestetic pada materi interaksi sosial dapat meningkatkan hasil belajar IPS Sosiologi siswa kelas VII SMP Negeri Moncok.
Makna Perilaku Sosial Remaja Penikmat Kopi Lelet di Kota Rembang
Fahmi Syahrial, Mario
Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi Vol. 1 No. 2 (2019): Maharsi : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi
Publisher : UNIVERSITAS INSAN BUDI UTOMO
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33503/maharsi.v1i2.382
Kebiasaan dan tradisi ngopi dalam perkembangannya juga diikuti oleh remaja di kota Rembang. Semula kebiasaan ngopi didominasi oleh orang dewasa dan orang tua, tapi kini dalam perkembangannya remaja yang sebagian besar pelajar mulai terpengaruh dan mengikuti kebiasaan ngopi. Budaya ngopi pada masyarakat Rembang telah berkembang dan melahirkan sub-kultur penikmat kopi lelet sebagian besar masih remaja. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan subjek penelitian adalah penikmat kopi di kotaRembang yang minum kopi lelet di warung kopi. Fokus penelitian adalah terhadap perilaku sosial remaja penikmat kopi lelet di Rembang. Tujuan penikmat kopi lelet berkumpul bersama selain bertujuan untuk menikmati secangkir kopi lelet juga memiliki tujuan untuk menjalin komunikasi, bertukar informasi dan menjalin keakraban antara sesama penikmat dan penikmat kopi. Perilaku sosial lain yang nampak dari penikmat kopi lelet adalah dari perilaku konsumsi, yang mana mempunyai selera kopi yang sama. Perilaku konsumsi yang dilakukan adalah minum kopi dan merokok. Aktifitas merokok, minum kopi (ngopi), dan melukis rokok dengan ampas kopi (nglelet rokok) pada saat nongkrong dan berkumpul bersama di warung kopi merupakan suatu hal yang wajib dilakukan, karena kopi dan rokok mampu mempererat dan mengakrabkan sesama penikmat kopi lelet. Minum kopi dan merokok di warung kopi sudah menjadi gaya hidup remaja di kota Rembang. Hal ini dikarena ada usaha dan keinginan untuk selalu memenuhi kebutuhan minum kopi dan merokok di warung kopi. Gaya hidup yang ditunjukan oleh remaja penikmat kopi lelet yang dapat diartikan sebagai ukuran harga diri dan munculnya perubahan perilaku menuju masyarakat konsumsi.
KEN ANGROK PENDIRI WANGŚA RĀJASA
Firmasyah, Defan;
Yahmin, Yahmin
Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi Vol. 1 No. 2 (2019): Maharsi : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi
Publisher : UNIVERSITAS INSAN BUDI UTOMO
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33503/maharsi.v1i2.383
This research have a purpose to reveal Ken Angrok’s figure in establish Tumapĕl’s Kingdom and also Wangśa Rājasa’s cause Ken Angrok establish this family’s name in 13th Century. In this research, have a research’s methods can be use, that is historiography’s methods. Historiography’s methods consist of four stage. This stage is: 1) Heuristic (aggregation of data source, that is ancient inscription, manuscript, foreign’s report and folklore); 2) Criticical Source (verify to accurate data source); 3) Interpretation (declension to various sata source); and 4) Historriography (writing about result’s research into form about scientific activities). This research can be conclusion that is Ken Angrok succesfull fall out Kaḍiri’s Kingdom and establish his kingdom and the new dynasty’s name. Successful from Ken Angrok because the right political strategy and with support from the clergy, the leader from local’s area and the leader from vilages in the east Kawi’s Mountain and the legitimacy from politics pass through his wedding with Ken Dĕḍĕs.
KEHIDUPAN ETNIS MADURA PASCA KONFLIK DENGAN ETNIS DAYAK TAHUN 1997 DI DESA PAHAUMAN KEC. SENGAH TEMILA KABUPATEN LANDAK KALIMANTAN BARAT
Juwanda, Juwanda;
Maulidya Saffanah, Winin
Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi Vol. 1 No. 2 (2019): Maharsi : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi
Publisher : UNIVERSITAS INSAN BUDI UTOMO
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33503/maharsi.v1i2.384
Etnis Madura tidak kembali kedaerah asalnya ada dua faktor yaitu faktor internal dan eksternal faktor internal ialah faktor keluarga dan faktor eksternal adalah faktor mata pencaharian dan lahan. cara beradaptasi Etnis Madura terhadap masyarakat Dayak melalui dua cara yaitu dengan mempelajari bahasa setempat dan silaturahmi atau mengunjungi tempat tinggal warga sekitar. , kondisi Kalimantan Barat saat ini pada tahun 2018 sudah aman dan tentram kembali aturan-aturan yang awal sudah diberlakukan lagi serta kondisi antara etnis Madura dan etnis Dayak sudah tidak ada rasa benci maupun dendam.
PERMAINAN TRADISIONAL BOI BOIAN DALAM KOMPETENSI KALOBORASI PADA PEMBELAJARAN SEJARAH UNTUK KESIAPAN MAHASISWA IKIP BUDI UTOMO MALANG DALAM MENYONGSONG KECAKAPAN ABAD 21
Boli Witin, Romaldus;
Pebri Setiani, Puspita
Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi Vol. 1 No. 2 (2019): Maharsi : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi
Publisher : UNIVERSITAS INSAN BUDI UTOMO
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33503/maharsi.v1i2.385
Masalah yang dihadapi dan yang peneliti dilakukan adalah berdasarkan latar belakang masalah dapat didefinisikan masalah sebagai berikut :apakah modep pembelajaran TGT Terintegrasi permainan Boi-Boian dapat meningkatkan kompetensi kolaborasi kecakapan abad 21 dalam materi proses penyebaran adama Budha dan Hindu Indonesia di SMA Negeri 1 Wulandoni. Dalam penelitian ini peneliti mengambil data di SMA Negeri 1 Wulandoni yaitu dengan subjek penelitian siswa kelas XII IPA dan IPS, tehnik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah berupa angket dan lembar observasi. Penelitian ini dibantu dengan menggunakan model pembelajaran TGT terintegrasi permainan Boi- boian. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kuantitatif. Berdasarkan hasil penelitian pada siswa/siswi SMA Negeri 1 Wulandoni dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh signifikan yang positif pada penerapan model pembelajaran Team games tournament berbantuan dengan permainan boi-boian untuk meningkatkan kompetensi kolaborasi kecakapan abad 21 terhadap hasil belajar afektif siswa kelas XI IPS SMA NEGERI 1 WULANDONI. Selanjutnya dilakukan pengujian untuk mengetahui pengaruh perbedaan antara nilai pre-test dan nilai post-test kreativitas siswa. Dari hasil pengolahan terlihat bahwa angka signifikansi untuk peubah adalah 0,000. Karena nilainya jauh di bawah 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh pemberian treatmen/perlakuan pada siswa dengan model pembelajaran TGT.
PENINGKATAN HASIL BELAJAR SOSIOLOGI POKOK BAHASAN PERUBAHAN SOSIAL (CONTRAVENTION) MELALUI METODE PEMBELAJARAN TEAM ACCELERATE DINTRUCTION PADA SISWA KELAS XII SMA NEGERI 1 BONTOMARANNU KABUPATEN GOWA
Amir, Arfenti Amir;
Nur, Irwan
Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi Vol. 1 No. 2 (2019): Maharsi : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi
Publisher : UNIVERSITAS INSAN BUDI UTOMO
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33503/maharsi.v1i2.386
Masalah utama dalam penelitian ini yaitu bagaimana meningkatkan hasil belajar sosiologi pokok bahasan perubahan sosial (Contravention) melalui metode pembelajaran Team Accelerated Intruction pada siswa kelas XII SMA Negeri 1 Bontomarannu Kabupaten Gowa. Penelitian ini bertujuan untuk peningkatan hasil belajar sosiologi pokok bahasan perubahan sosial (Contravention) melalui Metode pembelajaran Team Accelerated Intruction pada siswa kelas XII SMA Negeri 1 Bontomarannu Kabupaten GowaJenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) yang terdiri dari dua siklus dengan 4 tahapan, yaitu: perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi yang dilakukan secara berulang. Guru sebagai salah satu komponen penting dalam kegiatan belajar mengajar, memiliki peran ganda yakni sebagai pengajar dan sebagai pendidik. Selain sebagai pengajar dan pendidik, guru juga memiliki peran yang sangat besar dalam pengelolaan kelas. Dengan pemaksimalan fungsi dan peran guru akan berimplikasi pada perbaikan dan peningkatan proses pembelajaran yang salah satu indikatornya berupa peningkatan hasil belajar siswa.Salah satu kemampuan yang diharapkan dikuasai oleh pendidik dalam hal ini adalah bagaimana mengajarkan sosiologi dengan baik dan benar agar tujuan pengajaran dapat dicapai semaksimal mungkin. Pengajaran sosiologi di sekolah menengah berfungsi untuk meningkatkan kemampuan siswa mengaktualisasikan potensi-potensi diri mereka dalam memahami dan mengungkapkan berbagai perubahan sosial yang ada dewasa ini.Materi peubahan Sosial merupakan salah satu materi pelajaran sosiologi yang di ajarkan di kelas XII SMA/MAN sederajat.
KONFLIK PERTANAHAN ANTARA PETANI DENGAN PUSKOPAD (PUSAT KOPERASI ANGKATAN DARAT) TNI-AD DI DESA HARJOKUNCARAN KECAMATAN SUMBERMANJING WETAN KABUPATEN MALANG.
Rusdi Rusdi
Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi Vol. 1 No. 1 (2019): Maharsi : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi
Publisher : UNIVERSITAS INSAN BUDI UTOMO
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33503/maharsi.v1i1.392
Penelitian ini bertujuan untuk (1). Mengetahui Latar Belakang terjadinya konflik pertanahan Antara Petani dengan Puskopad Pusat Koperasi Angkatan Darat) TNI-AD di Desa Harjokuncaran; (2) Mengetahui proses terjadinya konflik; (3). Menemukan bentuk penyelesaian konflik pertanahan antara Petani dengan Puskopad (Pusat Koperasi Angkatan Darat) TNI-AD di Desa Harjokuncaran; (4). Mengetahui peranan institusi-institusi negara (BPN Kab. Malang, Pemda Kab. Malang) dalam penyelesaian konflik tersebut di atas.Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, dengan didukung data primer, dan sekunder. Adapun pengambilan data menggunakan teknik Purposive Sample. Analisis Deskriptif kualitatif, dan cara penarikan kesimpulan bersifat induktif.Hasil dari penelitian ini adalah: (1) Latar belakang terjadinya konflik pertanahan Antara Petani dengan Puskopad Pusat Koperasi Angkatan Darat) TNI-AD di Desa Harjokuncaran karena masing-masing pihak merasa memiliki hak atas tanah tersebut; (2) Proses terjadinya konflik pertanahan Antara Petani dengan Puskopad Pusat Koperasi Angkatan Darat) TNI-AD di Desa Harjokuncaran, dimana terjadi demonstrasi dari warga desa Harjokuncaran menuntut kemepilikan tanah terhadap Puskopad (Pusat Koperasi Angkatan Darat) TNI-AD yang sampai menimbulkan korban jiwa dari pihak warga; (3) Bentuk penyelesaian konflik pertanahan antara Petani dengan Puskopad (Pusat Koperasi Angkatan Darat) TNI-AD di Desa Harjokuncaran diantaranya para warga petani desa tersebut diberikan hak atas kepemilikan tanah; (4) Institusi-institusi negara (BPN Kab. Malang, Pemda Kab. Malang) dalam penyelesaian konflik pertanahan antara Petani dengan Puskopad (Pusat Koperasi Angkatan Darat) TNI-AD di Desa Harjokuncaran perannya kurang maksimal sehingga menimbulkan konflik tersebut.
REVOLUSI MENTAL MELALUI PENDIDIKAN MEMBATIK DI SEKOLAH DENGAN MOTIF ARCHA SINGOSARI
Amanah Agustin
Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi Vol. 1 No. 1 (2019): Maharsi : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi
Publisher : UNIVERSITAS INSAN BUDI UTOMO
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33503/maharsi.v1i1.393
Unesco menetapkan batik Indonesia sebagai “Intangible Cultural Heritages” (kekayaan tak benda) yang mempunyai teknik dan simbol budaya yang menjadi identitas rakyat Indonesia. Demikian besar peran batik dalam kehidupan bangsa Indonesia sejak masa lalu hingga saat ini, karena itu sangat wajar apabila upaya-upaya untuk terus mengeksplore dan mengembangkan seni batik di tanah air terus di lakukan, termasuk seni batik Malang sebagai bagian dari seni batik Indonesia. Motif batik di Malang masih belum menemukan ciri khas motif yang dapat dijadikan sebagai ikon batik Malang. Penciptaan seni batik masih berorientasi pada lingkungan alam sekitar. Padahal dari peninggalan masa kerajaan Singosari berupa arca-arca, yakni Arca Siwa, Durga Mahisasuramardini, Ganesya, Mahakala, Nandiswara, Mandala Parwati dan Brahma ditemukan motif yang dipahatkan pada kain yang dikenakan arca-arca tinggalan tersebut. Kain yang dikenakan bermotif ‘Kawung’ untuk arca jenis kelamin maskulin, sedangkan untuk jenis kelamin feminine mengenakan kain yang bermotif ‘Jlamprang’. Motif-motif dari masa Singasari yang bertemakan kawung dan jlamprang juga memiliki ciri khusus yaitu dalam hal kehalusan guratan, sulur-sulurannya, geometrisnya tumpal, motif pohon hayat, dan bonggol teratai. Revitalisasi batik motif archa singasari pada seni batik malang dapat dilakukan dengan ’menghidupkan kembali’ seni batik malangan ini melalui dunia pendidikan. Revitalisasi batik melalui proses pembelajaran dapat membangun mentalitas peserta didik melalui membatik. Membangun mentalitas berkaitan dengan penanaman aspek kecerdasan emosional (emotional intelligence), dan kecerdasan emosional ini merupakan pengembangan konsep Soft skills. Pembelajaran membatik dengan mengembangkan kemampuan soft skills dapat dilakukan melalui proses pembelajaran di kelas maupun melalui berbagai kegiatan di sekolah