cover
Contact Name
Afdhal Ilahi
Contact Email
admin@jurnalcenter.com
Phone
+6281277798480
Journal Mail Official
admin@jurnalcenter.com
Editorial Address
Jl. Arifin Ahmad, Kelurahan Tangkerang Barat, Kec. Marpoyan Damai, Pekanbaru, Provinsi Riau, 28125
Location
Kota pekanbaru,
Riau
INDONESIA
Indonesian Journal of Islamic Studies
ISSN : 30898404     EISSN : 30898404     DOI : https://doi.org/10.62567/ijis
Core Subject : Religion,
Indonesian Journal of Islamic Studies (IJIS) discussing research results in the scope of Islamic science in a holistic manner. IJIS aims to facilitate and disseminate innovative and creative ideas of researchers, academicians, and practitioners who concentrate on interdisciplinary Islamic issues ranging from Islamic history, Islamic thought, Islamic laws, Islamic politics, Islamic economics, and Islamic education, and Islamic social-cultural. Indonesian Journal of Islamic Studies (IJIS) is published online by Jurnal Center Indonesia Publisher (JCI).
Articles 92 Documents
AKSIOLOGI ISLAM Fungsi dan Tujuan Ilmu Serta Keterjalinan Nilai Metakosmos,Makrokosmos dan Mikrokosmos Puaddi
Indonesian Journal of Islamic Studies (IJIS) Vol. 2 No. 1 (2026): Vol. 2 No. 1 Edisi Januari 2026
Publisher : JCI Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62567/ijis.v2i1.1937

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep tripatrik dalam aksiologi Islam,yang membagi realitas menjadi tiga dimensi utama :metakosmos,makrokosmos dan mikrokosmos.ketiga unsur ini tidak dipandang sebagai entitas yang terpisah,tetapi sebagai sistem yang saling terhubung dan mencerminkan keesaan tuhan dalam struktur kosmo.studi ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis kepustakaan,dengan menelaah literatur klasik dan kontemporer terkait filsafat islam,sains,dan tasawuf.hasil analisis ini menunjukkan bahwa metakosmos merepresentasikan realitas ilahiah sebagai sumber nilai dan makna,makrokosmos sebagai alam semesta yang dapat diobservasi,dan mikrokosmos sebagai manusia yang memiliki unsur jasmani dan rohan,relasi antara ketiga lapisan ini menjadi dasar dalam membangun epistemology sain islam yang integrative,menggabungkan aspek rasional,etis,dan spiritua. Pendekattan inin jga menjawab tantangan dualisme antara ilmu dan agama dalam pendidikandan pengembangan ilmu pengetahuan kontenporer.penelitian ini menyimpulkan bahwa integrasi tripatrik kosmos dapat menjadi landasan dalam merancang system pendiikan dan pengembangan sains yang holistik dan beroreitasi pada keberlanjutan moral dan spiritual umat manusia.
ANALISIS ISI KURIKULUM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM MATA PELAJARAN SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM (SKI) DI MTS AL-MUSYARROFAH Ahmad Bakir; Muhammad Zuhdi; Bobi Erni Rusadi
Indonesian Journal of Islamic Studies (IJIS) Vol. 2 No. 1 (2026): Vol. 2 No. 1 Edisi Januari 2026
Publisher : JCI Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62567/ijis.v2i1.1938

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis isi Kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) pada mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di madrasah dengan pendekatan analisis konten (content analysis). Kajian ini didasari pentingnya SKI sebagai mata pelajaran yang tidak hanya menyajikan peristiwa sejarah, tetapi juga memuat nilai moral, budaya, dan identitas keislaman yang berperan dalam pembentukan karakter peserta didik. Analisis dilakukan terhadap struktur kurikulum, kompetensi, dan substansi materi yang tercantum dalam regulasi resmi, termasuk KMA 450 Tahun 2024. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isi kurikulum SKI memiliki karakter integratif yang menggabungkan aspek historis dengan nilai-nilai keagamaan, serta berfungsi sebagai sarana penguatan literasi sejarah dan pembentukan karakter. Kurikulum disusun secara spiral mulai dari tingkat dasar hingga menengah, selaras dengan tahapan perkembangan kognitif peserta didik. Meski demikian, temuan empiris memperlihatkan adanya sejumlah kendala, seperti keluasan materi yang tidak sebanding dengan kedalaman pembelajaran, keterbatasan waktu belajar, dan variasi kompetensi guru dalam bidang historiografi. Analisis juga menegaskan bahwa kurikulum SKI perlu lebih adaptif terhadap perkembangan zaman melalui integrasi literasi digital, pendekatan historiografi kritis, dan model pembelajaran berbasis proyek. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kurikulum SKI memiliki potensi kuat dalam membentuk pemahaman sejarah Islam yang komprehensif dan relevan, namun memerlukan penguatan pada aspek implementasi agar mampu menjawab tantangan pendidikan Islam di era modern. Rekomendasi diberikan untuk perbaikan substansi kurikulum, peningkatan kompetensi guru, dan penyediaan sumber belajar yang lebih variatif.
KINERJA EPISTEMOLOGI ISLAM KETERJALINAN NALAR BAYANI, BURHANI, IRFANI MUHAMMAD ABID AL JABARI Lisa Amelia; Sri Murhayati
Indonesian Journal of Islamic Studies (IJIS) Vol. 2 No. 1 (2026): Vol. 2 No. 1 Edisi Januari 2026
Publisher : JCI Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62567/ijis.v2i1.1939

Abstract

Nalar bayani, irfani, dan burhani merupakan tiga kerangka epistemologis utama dalam tradisi keilmuan Islam yang berperan penting dalam proses pembentukan, pengembangan, dan validasi pengetahuan. Ketiga nalar ini tidak berdiri secara terpisah, melainkan saling melengkapi dalam membangun pemahaman manusia terhadap realitas, baik yang bersumber dari wahyu, akal, maupun pengalaman spiritual. Nalar bayani bertumpu pada teks-teks otoritatif, khususnya Al-Qur’an dan Hadis, dengan penekanan pada pemahaman kebahasaan, penafsiran, dan penalaran normatif. Melalui pendekatan ini, kebenaran ilmu ditentukan berdasarkan kesesuaian makna dengan teks dan otoritas keagamaan, sehingga nalar bayani berperan besar dalam pengembangan ilmu-ilmu keislaman seperti fikih, tafsir, dan ushul fikih. Sementara itu, nalar irfani menekankan dimensi batin dan pengalaman spiritual sebagai sumber pengetahuan. Nalar ini berangkat dari keyakinan bahwa kebenaran tidak hanya dapat dicapai melalui teks dan rasio, tetapi juga melalui penyucian jiwa, intuisi, dan pengalaman langsung dengan realitas transenden. Pengetahuan dalam nalar irfani bersifat subjektif namun mendalam, karena diperoleh melalui proses kontemplasi, riyadhah, dan kedekatan spiritual kepada Tuhan. Oleh karena itu, nalar irfani banyak berkembang dalam tradisi tasawuf dan filsafat spiritual Islam, dengan tujuan mencapai pemahaman hakikat yang melampaui makna lahiriah. Adapun nalar burhani berpijak pada rasio dan logika demonstratif sebagai sarana utama dalam memperoleh kebenaran. Nalar ini menekankan argumentasi rasional, kausalitas, dan pembuktian sistematis yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Dalam tradisi Islam, nalar burhani banyak digunakan dalam filsafat, ilmu kalam rasional, serta pengembangan ilmu pengetahuan yang bersifat empiris dan analitis. Kebenaran dalam nalar burhani diukur melalui konsistensi logis dan kesesuaian antara teori dan realitas.
AL-MABĀNI WA AL-MA‘ĀNI: RELASI ANTARA BENTUK ṢARFIYYAH DAN MAKNA SEMANTIS DALAM BAHASA ARAB Muhammad Rahmat Alimin; Nizar; Hamzah
Indonesian Journal of Islamic Studies (IJIS) Vol. 2 No. 1 (2026): Vol. 2 No. 1 Edisi Januari 2026
Publisher : JCI Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62567/ijis.v2i1.1970

Abstract

Kajian relasi antara bentuk (al-mabāni) dan makna (al-ma‘āni) merupakan aspek fundamental dalam linguistik Arab yang menegaskan keterpaduan antara sistem morfologi (al-ṣarf) dan semantik (al-dalālah). Dalam bahasa Arab, setiap perubahan bentuk kata tidak hanya merepresentasikan variasi gramatikal, tetapi juga mengandung implikasi makna yang sistematis dan bermakna. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis secara komprehensif hubungan antara bentuk ṣarfiyyah dan makna semantis melalui pendekatan morfosintaksis, dengan menelaah keterkaitan antara struktur morfologis dan fungsi sintaktis dalam pembentukan makna. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif–kualitatif berbasis studi kepustakaan dengan mengkaji karya-karya linguistik klasik, seperti Al-Kitāb karya Sibawaih dan Al-Khaṣā’iṣ karya Ibn Jinnī, serta membandingkannya dengan perspektif linguistik modern. Hasil kajian menunjukkan bahwa dalam bahasa Arab, bentuk berfungsi sebagai wadah makna (al-mabnā qālib al-ma‘nā), di mana perubahan huruf, pola wazan, dan struktur derivatif senantiasa membawa konsekuensi semantis yang jelas dan teratur. Relasi antara bentuk dan makna bersifat non-arbitrer serta mengikuti kaidah linguistik yang logis. Dengan demikian, pemahaman terhadap konsep al-mabāni wa al-ma‘āni menjadi landasan penting dalam studi morfosintaksis Arab dan memiliki relevansi aplikatif dalam pembelajaran bahasa Arab modern, khususnya dalam penguatan analisis gramatikal dan semantik..
AL-USLUB AL-INSYA’I WA AL- KHABARI (ANALISIS SINTAKSIS DAN PRAGMATIK DALAM KALIMAT ARAB) Nur Atika Putri; Ummul Khaeriah; Hamzah
Indonesian Journal of Islamic Studies (IJIS) Vol. 2 No. 1 (2026): Vol. 2 No. 1 Edisi Januari 2026
Publisher : JCI Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62567/ijis.v2i1.1973

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan dan fungsi al uslub al- insya’i dan al-uslub al-khabari dalam bahasa arab melalui pendekatan sintaksis dan pragmatik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka (library research).Data dikumpulkan melalui penelaahan literatur berupa kitab nahwu dan balaghah Arab, buku linguistik modern, serta artikel ilmiah yang relevan. Analisis data dilakukan dengan model interaktif yang meliputi kondensasi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara sintaksis, al-khabarī dibentuk melalui jumlah ismiyyah dan jumlah fi‘liyyah yang berfungsi menyampaikan informasi yang dapat diuji kebenarannya, sedangkan al-insyā’ī direalisasikan melalui struktur khusus seperti fi‘il amr, fi‘il muḍāri‘ majzūm dengan lā an-nāhiyah, serta adawāt al-istifhām dan nidā’. Dari sisi pragmatik, makna kedua jenis kalimat tersebut tidak selalu bersifat literal, melainkan sangat dipengaruhi oleh konteks tutur, tujuan komunikasi, dan relasi sosial antara penutur dan mitra tutur. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengintegrasian analisis sintaksis dan pragmatik sangat penting untuk memahami fungsi dan makna kalimat bahasa Arab secara komprehensif, baik dalam konteks akademik, pendidikan, maupun teks keagamaan.
AL-ISM WA AL-TASHRIF: STRUKTUR I’RAB DAN ISYTIQAQ Nawal Sa’adah; Muhammad Riswan Liling; Hamzah
Indonesian Journal of Islamic Studies (IJIS) Vol. 2 No. 1 (2026): Vol. 2 No. 1 Edisi Januari 2026
Publisher : JCI Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62567/ijis.v2i1.2085

Abstract

Kajian ini membahas keterkaitan antara taṣrīf (morfologi), i‘rāb (sintaksis), dan isytiqāq (derivasi makna) dalam sistem bahasa Arab. Ketiga unsur ini saling berhubungan dalam membentuk struktur, fungsi, dan makna kata. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan menganalisis berbagai contoh kata dan kalimat dalam bahasa Arab. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa taṣrīf menjelaskan bentuk kata dan perubahannya, i‘rāb menunjukkan fungsi kata dalam kalimat, sedangkan isytiqāq menjelaskan makna asal dan turunannya. Pemahaman terhadap hubungan ketiganya penting untuk memperdalam analisis linguistik Arab dan meningkatkan efektivitas pembelajaran bahasa Arab.
ART IN ISLAM: BEAUTY AS INVITATION – A PHILOSOPHICAL AND SOCIOLOGICAL STUDY OF ISLAMIC ART AS A FORM OF DA ‘WAH IN CONTEMPORARY SOCIETY Dheen Muhammedh
Indonesian Journal of Islamic Studies (IJIS) Vol. 2 No. 1 (2026): Vol. 2 No. 1 Edisi Januari 2026
Publisher : JCI Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62567/ijis.v2i1.1920

Abstract

Attraction to the beauty, pattern and symbolism of Islamic Art can draw observers to considerations of the divine. Beauty can serve to reflect the communication of Islam. This study explores the philosophical concepts of tawḥīd, or iḥsān and fiṭrah and the sociological concepts of reception and Cultural Translation to posit Islamic Art as the Islamic pedagogy of moral philosophy of art, a pedagogy of Islamic artistic inter-religious dialogue. Using Islamic calligraphy, mosque architecture and digital art as evidencebased qualitative research, the study documents the fit of the proposition and the aesthetic joys of art in beauty as a lingua franca of faith inter-culture. The study documents the experience of the ethics of Islamic Art as compassion in voiceless daʿwah. The aesthetic of Islamic Art becomes the moral pedagogy of spiritual compassion and the daʿwah aesthetic of work converted to the experience of beauty. The study proposes the lived experience of sincerity as beauty, unrivaled, is one of the most persuasive communications of Islam in the modern world in the compassionate and loving distance of the ethical.
TRANSFORMASI MAHAR MENUJU MAHAR PRODUKTIF: KAJIAN MAQĀṢID AL-SHARĪ‘AH DAN PROSPEK PEMBAHARUAN HUKUM KELUARGA ISLAM Husnul Khotimah; Jumni Nelli
Indonesian Journal of Islamic Studies (IJIS) Vol. 2 No. 1 (2026): Vol. 2 No. 1 Edisi Januari 2026
Publisher : JCI Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62567/ijis.v2i1.1989

Abstract

Mahar merupakan salah satu rukun penting dalam perkawinan Islam yang memiliki legitimasi normatif dalam Al-Qur’an dan hadis. Namun, dalam praktik sosial, mahar sering dipahami sebatas simbol formal yang cenderung konsumtif dan kurang memberi dampak jangka panjang bagi keberlangsungan rumah tangga. Berangkat dari persoalan tersebut, penelitian ini bertujuan menganalisis konsep mahar produktif dalam perspektif hukum Islam serta implikasinya terhadap pemberdayaan ekonomi keluarga. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian normatif (library research), didukung dengan pendekatan yuridis-normatif dan sosiologis-hukum. Sumber data terdiri dari Al-Qur’an, hadis, literatur fiqh klasik dan kontemporer, regulasi hukum positif Indonesia, serta penelitian terdahulu. Analisis dilakukan secara deskriptif-analitis dengan kerangka maqāṣid al-sharī‘ah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahar produktif memiliki dasar hukum yang sah dalam fiqh karena memenuhi syarat māl mutaqawwim. Praktiknya dapat ditemukan di beberapa daerah di Indonesia, seperti tanah di Minangkabau, ternak di NTB, dan peralatan usaha di Jawa. Mahar produktif terbukti memberikan dampak positif berupa pemberdayaan ekonomi istri, penguatan ketahanan rumah tangga, serta kontribusi dalam menekan angka perceraian akibat faktor ekonomi, meskipun masih menghadapi tantangan budaya yang memandang mahar sebagai simbol semata. Dari perspektif maqāṣid al-sharī‘ah, mahar produktif lebih selaras dengan tujuan syariat karena menghadirkan maslahat yang berkelanjutan. Oleh karena itu, mahar produktif memiliki prospek sebagai bagian dari ijtihad kontemporer hukum keluarga Islam, yang dapat dikembangkan melalui fatwa, regulasi, dan edukasi masyarakat, sehingga mendukung pembaharuan hukum Islam di Indonesia tanpa meninggalkan prinsip dasar syariat.
ANALISIS PERAN DEWAN PENGAWAS SYARIAH DALAM PENGAWASAN OPERASIONAL BANK SYARIAH DI INDONESIA Muhammad Rizal Firdaus
Indonesian Journal of Islamic Studies (IJIS) Vol. 2 No. 1 (2026): Vol. 2 No. 1 Edisi Januari 2026
Publisher : JCI Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62567/ijis.v2i1.2006

Abstract

Artikel ini menganalisis peran Dewan Pengawas Syariah (DPS) dalam pengawasan operasional bank syariah di Indonesia. Dengan pertumbuhan bank syariah yang pesat, terutama di negara dengan mayoritas penduduk Muslim, DPS menjadi lembaga yang krusial untuk memastikan bahwa semua aktivitas bank sesuai dengan prinsip-prinsip syariah. Fungsi DPS tidak hanya terbatas pada pengawasan administrasi, tetapi juga mencakup pemberian fatwa, nasihat, dan pengarah terhadap inovasi produk. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur untuk mengkaji tantangan yang dihadapi oleh DPS, seperti keterbatasan tenaga ahli dan kompleksitas produk keuangan, serta solusi yang dapat diimplementasikan, termasuk peningkatan kapabilitas sumber daya manusia dan pemanfaatan teknologi informasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa DPS berkontribusi signifikan dalam menjaga integritas sistem perbankan syariah dan membangun kepercayaan masyarakat terhadap industri ini. Dengan demikian, DPS berperan sebagai pilar utama dalam keberlangsungan dan kredibilitas bank syariah di Indonesia, yang diharapkan dapat terus berkembang dan beradaptasi dengan dinamika pasar dan regulasi yang ada.
HAKIKAT IBADAH DALAM ISLAM: ANTARA RITUAL DAN SPIRITUAL Azka Rafi Pasha; Ziska Tsaniawika Farrasi; Muhammad Daffa Rindra Putra; Andriyani; Ayunda Larasati Sekarputri; Wahdi Sayuti
Indonesian Journal of Islamic Studies (IJIS) Vol. 2 No. 1 (2026): Vol. 2 No. 1 Edisi Januari 2026
Publisher : JCI Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62567/ijis.v2i1.2060

Abstract

Ibadah dalam islam memiliki makna yang sangat luas dan mendalam, tidak hanya terbatas pada pelaksanaan ritual formal seperti shalat, zakat dan haji, tetapi yang mencakup dimensi spiritual yang menghubungkan manusia secara langsung dengan Allah SWT. Ibadah yang sejati bukan sekadar gerakan fisik atau bacaan lisan, melainkan bentuk penghambaan total yang menuntut keikhlasan, kekhusyukan, dan kesadaran batin. Penelitian ini bertujuan untuk menggali hakikat ibadah secara menyeluruh melalui Metode pendekatan kajian pustaka terhadap berbagai sumber ilmiah dan tafsir keagamaan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan desain studi pustaka dalam pengumpulan dan analisis data. Pendeketan desain studi ini dipilih untuk memperoleh pemahaman mendalam tentang hakikat ibadah dalam Islam yang mencakup ritual dan spiritualitas. Sumber data dalam penelitian ini bersumber dari literatur primer seperti Al-Qur’an dan hadits. Sedangkan sumber dari literatur sekunder mencakup buku-buku tentang hakikat ibadah, jurnal akademik/ilmiah, dan artikel ilmiah. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa derajat penghambaan yang sempurna. Ibadah yang dilandasi keikhlasan dan pemahaman mendalam akan melahirkan ketenangan jiwa, memperkokoh iman, serta mendorong manusia untuk berbuat kebaikan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, ibadah menjadi sarana penyucian diri sekaligus jalan menuju kebahagiaan hakiki dunia dan akhirat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ibadah dalam Islam mencakup aspek ritual dan spiritual yang menuntut keikhlasan serta kesadaran batin. Melalui kajian pustaka, ditemukan bahwa ibadah yang dipahami dan diamalkan secara mendalam mampu menumbuhkan ketenangan jiwa, memperkuat iman, serta menjadi sarana penyucian diri menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.

Page 8 of 10 | Total Record : 92