cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi
ISSN : 23026383     EISSN : 25021648     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi & Aplikasi (JPPFA) is interested in comparative studies that lead to new insights and challenge of orthodox theories; that have potential for policy impact; and that apply to broad range of settings, including industrial democracies as well as low and middle income countries, countries in political transition and countries recovering from armed conflict and social unrest. JPPFA also considers papers that look at education and development through the policies and practices of official development assistance and commercial education trade. JPPFA engages these approaches to deepen the understanding of the relationship between education policy and development.
Arjuna Subject : -
Articles 219 Documents
TUAN GURU SEBAGAI TOKOH PEMBANGUNAN PENDIDIKAN DI PEDESAAN Aswasulasikin Aswasulasikin; Siti Irene Astuti Dwiningrum; Sumarno Sumarno
Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi Vol 3, No 1 (2015): Juni
Publisher : Graduate School, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (222.315 KB) | DOI: 10.21831/jppfa.v3i1.6669

Abstract

Tuan Guru sebagai tokoh agama dan tokoh masyarakat di Pulau Lombok mempunyai pengaruh yang besar di tengah-tengah masyarakatnya, karena tokoh masyarakat memiliki keunggulan, baik dalam ilmu pengetahuan, jabatan, dan secara langsung dari keturunan. Tuan Guru sebagai pusat orientasi nilai dan moral ikut bertanggung jawab dalam proses pencerdasan kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara. Secara kelembagaan Tuan Guru mengembangkan dua jenis pendidikan yaitu pendidikan formal dan non formal yang mendukung secara penuh tujuan dan hakikat pendidikan manusia itu sendiri, yaitu membentuk manusia mukmin yang sejati, memiliki kulitas moral dan intelektual. Pembangunan pendidikan melalui pendidikan formal yang dikembangkan oleh Tuan Guru melalui pendirian Pondok Pesantren yang di dalamnya di dirikan pendidikan dasar dan menengah yang terdiri dari:  madrasah ibtidaiyah (MI) setara SD, madrasah tsanawiyah (MTs) setara SLTP, madrasah aliyah (MA) setara SMA. Sedangkan pembangunan pendidikan non formal di pedesaan dikembangkan dalam bentuk diniyah.
PENDIDIKAN BUDI PEKERTI DI SEKOLAH Musa Pelu; Achmad Dardiri; Darmiyati Zuchdi
Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi Vol 3, No 2 (2015): Desember
Publisher : Graduate School, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (400.126 KB) | DOI: 10.21831/jppfa.v3i2.9820

Abstract

Penelitian ini bertujuan menggambarkan pemberdayaan modal sosial dan modal budaya dalam pelaksanaan Kurikulum Pendidikan Budi Pekerti di SMP Muhammadiyah 5 Surakarta dan SMP Kasatriyan 1 Surakarta.Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif dengan pendekatan naturalistik. Penelitian dilakukan di SMP Muhammadiyah 5 Surakarta dan SMP Kasatryan 1 Surakarta. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam, observasi, dan analisis dokumen. Instrumen penelitian adalah peneliti sendiri sebagai pengumpul data. Untuk memperoleh derajad validitas tinggi, digunakan teknik trianggulasi, recheck, dan peerdebriefing. Analisis penelitian dilakukan dengan teknik analisis interaktif yang meliputi tahapan pengumpulan data, reduksi data, sajian data, dan verifikasi/menarik kesimpulan. Kesimpulan penelitian ini adalah sebagai berikut. (1) Jaringan kerjasama yang sinergis dilandasi rasa percaya dan kesamaan nilai/norma merupakan modal sosial yang telah dimanfaatkan dan diberdayakan dalam rangka mendukung pelaksanaan kebijakan kurikulum pendidikan budi pekerti di SMP Muhammadiyah 5 Surakarta dan SMP Kasatriyan 1 Surakarta. (2) Kultur sekolah berbasis budi pekerti dan agama di SMP Muhammadiyah 5 Surakarta dan kultur sekolah berbasis budi pekerti dan multikultural serta kultur komunitas merupakan modal budaya utama yang dimanfaatkan dan dikelola dalam pelaksanaan Kurikulum Pendidikan Budi Pekerti.
MENCIPTAKAN BELAJAR YANG HUMANIS TANTANGAN PENDIDIK YANG PROFESIONAL DAN BERKARAKTER Siti Irene Astuti Dwiningrum
Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi Vol 4, No 2 (2016): Desember
Publisher : Graduate School, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (393.516 KB) | DOI: 10.21831/jppfa.v4i2.12420

Abstract

Dehumanisasi pendidikan merupakan fenomena sosial dalam proses pendidikan dan pembelajaran di sekolah. Perilaku kekerasan di sekolah oleh guru kepada siswa, pelecehan seksual, tindakan  bullying  antar siswa, tawuran antar pelajar, penggunaan media sosial yang tidak terkontrol oleh pendidikan, dan praktik aborsi di kalangan pelajar merupakan ragam gejala dehumanisasi pendidikan yang sangat memprihatinkan. Sistem pendidikan cenderung memaksa peserta didik mengembangkan kekuatan kognitif, dan kurang mengembangkan moralitas dan karakter peserta didik. Sistem belajar kurang mengembangkan potensi manusia secara optimal sesuai dengan eksistensi sebagai manusia yang ingin belajar digambarkan sebagai whole-person-learning, dengan pribadi yang utuh menghasilkan perasaan memiliki (feeling of belonging ) pada diri peserta didik. Sekolah harus dibangun berdasarkan prinsip-prinsip pendidikan humanis. Belajar yang humanis dapat diwujudkan oleh guru-guru yang mempunyai kemampuan untuk menerapkan prinsip-prinsip pendidikan humanis dalam mengajar di kelas dan mampu untuk  menjalankan multiperannya sebagai pendidik profesional. Akuntabilitas profesional diperlukan bagi guru untuk mencerminkan kompetensi dan integritas pendidik yang profesional dan  berkarakter. CREATING HUMANISTIC LEARNING A CHALLENGE TO PROFESSIONAL TEACHERS WITH HIGH CHARACTERAbstractDehumanization in education is an example of social phenomena existing in the process of character education in schools. Violation done by the teacher to the students, sexual abuse, bullying among students, students’ riot, social media misuse, and abortion cases are examples of worrying phenomena related to dehumanization in education. The educational system tends to force the students to maximize their cognitive potentials by neglecting the importance of their  moral and character education. The system is not, merely, helping the students to optimize their potentials which may be described as whole-person learning, having the sense of belonging. The schools should have been built by considering the values of humanity. Humanistic learning can be realized by the teachers having credentials to apply the values of humanity in the classroom. The professional accountability is also required to create teachers who are capable of showing their professional competence and integrity.Keywords:
Humanization of mathematics learning Sandra Bayu Kurniawan; Noeng Muhadjir
Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi Vol 5, No 1 (2017): June
Publisher : Graduate School, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (391.386 KB) | DOI: 10.21831/jppfa.v5i1.14305

Abstract

The study concerned here was to describe (1) the characteristics of humanistic mathematics learning and (2) the stages to actualize such learning. The said study was a qualitative one employing the phenomenological approach with six stages of inductive analysis. The data were validated by using the data source triangulation technique. The study involved 75 students of an elementary school, SD Mangunan, Berbah, Sleman, 36 students of a state senior high school, SMA Negeri 1 of Sewon, Bantul, and 42 students of another state senior high school, SMA Negeri 1 of Dlingo, Bantul. The results of the validation showed that the data were valid and consistent. The conclusions of the study are as follows. (1) Humanistic mathematics learning is characterized by the facts that the use of the mathematics learning media gives students space and time to explore and construct mathematical concept understanding and mathematics learning methods are applied by using an inductive approach. (2) The stages to realize humanistic mathematics learning include the setting of mathematics learning objectives based on humanism, existentialism, and religious teachings by building individual students’ strengths through independent and civilized manners, the setting of mathematics learning goals emphasizing balance among the domains of idea, intention, and action, and the setting of the development of contextual and cooperative mathematics learning strategies.Keywords: humanization, mathematics learning
Revitalisasi peran bahasa Arab untuk mengatasi konflik dalam perspektif multikultural Rohmatun Lukluk Isnaini
Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi Vol 6, No 1 (2018): June
Publisher : Graduate School, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (726.353 KB) | DOI: 10.21831/jppfa.v6i1.22554

Abstract

Tulisan ini bermaksud menghadirkan kembali peran bahasa Arab sebagai bahasa yang dapat mempersatukan umat. Dalam penelitian ini diketahui adanya disfungsi peran bahasa Arab sebagai bahasa internasional Perserikatan Bangsa-Bangsa dan bahasa resmi 25 negara di benua Asia-Afrika. Bahasa Arab tidak dapat menjembatani berbagai konflik diantara negara-negara Arab yang dikenal sebagai masyarakat multikultural. Melalui penelitian kualitatif yang bersifat studi literatur dapat digambarkan secara jelas, objektif, sistematis, analitis dan kritis untuk melakukan revitalisasi peran bahasa Arab. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran bahasa Arab perlu direvitalisasi melalui perspektif multikultural untuk mengatasi konflik berkepanjangan di negara-negara Arab. Berikut adalah beberapa tahapan revitalisasi peran bahasa Arab untuk mengatasi konflik dalam perspektif multikultural; 1) menegaskan kembali tentang urgensi bahasa Arab sebagai bahasa Agama Islam yang mempunyai substansi penting dalam mengajarkan nilai-nilai kebaikan terutama tentang kesadaran multikultural yang termaktub dalam Alquran dan sunnah; 2) mendeklarasikan kembali tentang posisi bahasa Arab sebagai bahasa resmi negara yang harus digunakan sesuai dengan ketentuan bahasa Arab fusha secara massif dan konsekuen; 3) memperkuat komitmen berbahasa Arab dengan baik dan benar dalam berkomunikasi yang disesuaikan dengan etika dan moral; 4) mengutamakan penggunaan bahasa Arab dalam berbagai forum pendidikan dan pemerintahan tanpa mengesampingkan penggunaan bahasa asing Inggris atau Perancis; 5) menggunakan bahasa Arab fusha secara lisan maupun tulisan agar meminimalisir penggunaan bahasa Arab ‘amiyyah yang berbeda dari suatu negara dan antar negara.Kata kunci: Peran bahasa Arab, revitalisasi, multikultural REVITALISASI PERAN BAHASA ARAB UNTUK MENGATASI KONFLIK DALAM PERSPEKTIF MULTIKULTURALAbstractThis paper intends to bring back the role of Arabic as a language that can unite the people. In this study, there was a dysfunction of the role of Arabic as the international language of the United Nations and the official language of 25 countries in the Asia-Africa continent. Arabic cannot bridge various conflicts between Arab countries known as multicultural societies. Through qualitative research with the character of literature, it can be described clearly, objectively, systematically, analytically and critically to revitalize the role of Arabic. The results of the study show that the role of Arabic language needs to be revitalized through a multicultural perspective to overcome prolonged conflicts in Arab countries. The following are some stages of revitalizing the role of Arabic to overcome conflicts in a multicultural perspective; 1) reaffirming the urgency of Arabic as the language of Islam that has important substance in teaching good values, especially about multicultural awareness embodied in the Qur'an and the sunnah; 2) re-declare the position of Arabic as the official language of the country that must be used in accordance with the provisions of the Arabic language in a massive and consistent manner; 3) strengthen the commitment in Arabic properly and correctly in communicating in accordance with ethics and morals; 4) prioritizing the use of Arabic in various educational and government forums without prejudice to the use of English or French foreign languages; 5) using Arabic fusha both verbally and in writing to minimize the use of Arabic ‘amiyyah which is different from one country and between countries.Keywords: The role of Arabic, revitalization, multicultural
Muatan pendidikan kewaranegaraan sebagai upaya membelajarkan civic knowledge, civic skills, dan civic disposition di sekolah dasar Hendita Rifki Alfiansyah; Muhammad Nur Wangid
Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi Vol 6, No 2 (2018): December
Publisher : Graduate School, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (467.889 KB) | DOI: 10.21831/jppfa.v6i2.23764

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui muatan pendidikan kewarganegaraan di lingkup siswa sekolah dasar sebagai upaya membelajarkan civic knowledge, civic skills, dan civic dispositions. Penelitian ini merupakan studi literature yang membahas pentingnya muatan pendidikan kewarganegaran di lingkup siswa sekolah dasar sebagai upaya membelajarkan civic knowledge, civic skills, dan civic dispositions. Muatan pendidikan kewarganegaraan terutama di lingkup siswa sekolah dasar menjadi kunci penting dalam memberikan pemahaman kepada siswa akan pentingnya konsep kewarganegaraan, menumbuhkan pengetahuan tentang bernegara, keterampilan bernegara, serta karakter bernegara. Hasil studi yang dilakukan menunjukkan bahwa muatan pendidikan kewarganegaraan menjadi salah satu alternatif cara dari pemerintan dalam mempersiapkan siswa menjadi warga negara yang aktif.Kata kunci: pendidikan kewarganegaraan, sekolah dasar, warga negara yang aktif THE CONTENT OF CITIZENSHIP EDUCATION AS AN EFFORT TO LEARN CIVIC KNOWLEDGE, CIVIC SKILLS, AND CIVIC DISPOSITION IN ELEMENTARY SCHOOL AbstractThis study aimed to determine the urgency of the content of citizenship education in the scope of elementary school students. This research was a literature study that discussed the importance of the content of citizenship education in the scope of elementary school students as an effort to learn civic knowledge, civic skills, and civic dispositions. The content of citizenship education,  especially in the scope of elementary school students was an important key in providing students with an understanding of the importance of the concept of citizenship, fostering knowledge about the state, state skills, and character of the state. The results of the study conducted show that the content of citizenship education was an alternative way of government in preparing students to become active citizens.Keywords: citizenship education, elementary school, active citizens
Model Pembelajaran Matematika Berbasis Pendidikan Multikultural Sri Wulandari Danoebroto
Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi Vol 1, No 1 (2012): Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi
Publisher : Graduate School, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (88.785 KB) | DOI: 10.21831/jppfa.v1i1.1054

Abstract

Abstrak Indonesia sebagai negara yang multikultur menghadapi persoalan internal berupa melemahnya semangat kebangsaan dan memudarnya nilai-nilai budaya daerah sehingga memicu konflik SARA, ketidakadilan hingga krisis jati diri. Pluralitas bangsa Indonesia disatu sisi memang merupakan kekuatan, namun disisi lain menjadi rentan konflik bila tidak ada kesepahaman, toleransi dan saling pengertian dalam menyikapi perbedaan. Pendidikan multikultural dipandang sangat strategis dalam upaya membangun kesadaran tersebut. Tahap awal yang perlu segera dilakukan adalah penyadaran melalui sosialisasi yang dapat dimulai pada level sekolah, untuk bisa saling mengenal dan memahami keanekaragaman budaya, sehingga menumbuhkan sikap saling menghargai identitas etnik yang sama maupun berbeda. Implementasi pendidikan multikultural di level sekolah tidak dilakukan secara terpisah melainkan terintegrasi dalam mata pelajaran, termasuk matematika. Model pembelajaran matematika berbasis pendidikan multikultural dikembangkan dari lima dimensi pendidikan multikultural James Banks yaitu integrasi budaya dalam konten matematika, konstruksi pengetahuan matematika melalui konteks dan pemahaman budaya, kesetaraan pedagogik, mengurangi prejudice dan memberdayakan kultur sekolah yang kondusif. Pembelajaran matematika berbasis pendidikan multikultural bertujuan untuk mengoptimalkan prestasi belajar matematika sekaligus menumbuhkan kesadaran, kesepahaman, toleransi, saling pengertian dan semangat kebangsaan individu siswa sebagai bagian dari masyarakat yang multikultur. Kata kunci: pembelajaran matematika, ethnomathematics, pendidikan multikultural
SUMBER BELAJAR DAN DAMPAKNYA TERHADAP POLA PIKIR KEAGAMAAN SANTRI Tafrikhuddin Tafrikhuddin; Abdul Gafur; Ajat Sudrajat
Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : Graduate School, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (563.842 KB) | DOI: 10.21831/jppfa.v2i2.2657

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan dampak sumber belajar terhadap pola pikir keagamaan santri. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologis. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut. 1) Pola pikir santri terbagi menjadi tiga varian, yaitu: tekstual mutlak (koservatif), menengah (moderat), dan kemandirian (modern/kritis); 2) Pola pikir santri dapat digolongkan dalam bidang-bidang: (a) pola pikir santri dalam bidang tauhid/kalam, santri menganut paham aswaja (ahlussunnah wal jama`ah), yaitu konsep yang mengafirmasi sifat-sifat Allah Swt, tanpa mengidentikkan dengan sifat manusia (mutasyabbihah), mempercayai dengan ainul yaqin bahwa zatullah wahidun, tidak murakab, tidak ada bagian-bagiannya seperti manusia (sumber belajar  mengacu kitab شَرْحُ جَوْهَرُ التَّوْحِيْدِ لِلْبَاجُوْرِىِّ); (b) pola pikir santri dalam bidang fikih mengikuti mazhab empat (mazahibul arbaah), yaitu: Abu Hanifah (150 H), Malik Ibn Anas (179 H), Al-Syafi’i (204 H), dan Ibn Hanbal (241 H), hal ini terjadi karena pertimbangan pandangan legalistik santri yang menganut paham aswaja (sumber belajar mengacu kitab    اَلْفِقْهُ عَلَى مَذَاهِبِ الْاَرْبَعَةِ لِلْجَزِرِى); (c) pola pikir santri dalam bidang tasawuf dan etika mengikuti konsepsi sufistik Al-Ghazali, hal ini terlihat dalam persoalan yang masuk kategori fikih-teologis seperti ziarah kubur, tahlil, tawasul, dan sebagainya, santri mengumandangkan dakwah kultural yang moderat dan toleran dalam menyikapi tradisi lokal (sumber belajar mengacu kitab مِنْهَاجُ الْعَابِدِيْنِ لِلْغَزَالِىّ). Kata kunci: sumber belajar, pola pikir
NILAI-NILAI EDUKATIF LAGU-LAGU MINANG UNTUK MEMBANGUN KARAKTER PESERTA DIDIK Desyandri Desyandri
Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi Vol 3, No 2 (2015): Desember
Publisher : Graduate School, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (441.227 KB) | DOI: 10.21831/jppfa.v3i2.7566

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap dan mengidentifikasikan nilai-nilai edukatif lagu-lagu Minang untuk membangun karakter peserta didik. Metode penelitian adalah penelitian konseptual (literatur review), teknik pengumpulan data menggunakan observasi berperan serta, wawancara, dokumentasi, dan catatan lapangan, sedangkan teknik analisis data menggunakan analisis hermeneutik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lagu Minangkabau dan Kampuang nan Jauah di Mato memiliki 9 (sembilan) nilai-nilai edukatif, yaitu: (1) Ketuhanan (syarak atau agamo), (2) kecintaan terhadap ranah Minang, (3) persaudaraan dan gotong-royong, (4) kesatuan dan kebersamaan, (5) musyawarah dan mufakat, (6) adil dan damai, (7) keteguhan hati, (8) waspada, dan 9) disiplin. Nilai-nilai edukatif lagu-lagu Minang tersebut dijadikan sebagai pedoman dalam mengarahkan pikiran, tindakan, dan perilaku peserta didik, sehingga dapat diwujudkan peserta didik yang beradat, beradab, berkarakter. Kata kunci: nilai-nilai edukatif, adat Minangkabau, lagu Minang, pembangunan karakter Abstract This research aims to uncover and identify the educational values of Minang songs for student character building. The research method is a conceptual research (literature review), data collection techniques using participant observation, interviews, documentation, and field notes, while data analysis techniques using hermeneutic analysis. The results showed that Minangkabau and Kampuang nan Jauah di Mato songs has 9 (nine) educational values, namely: (1) belief (syarak or agamo), (2) love of the realm Minang, (3) fraternity and mutual assistance, (4) unity and togetherness, (5) deliberation and consensus, (6) fair and peaceful, (7) courage, (8) alert, and (9) discipline. Educational values of Minang songs are used as guidelines in directing thoughts, actions, and behavior of students, so it can be realized the students were well-mannered, cultured, and charactered. Keywords: educational values, custom of Minangkabau, Minang songs, character building
MENGHINDARI KEKERASAN DALAM PENGELOLAAN KARAKTER SISWA Yulianto Hadi
Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi Vol 4, No 1 (2016): Juni
Publisher : Graduate School, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (426.312 KB) | DOI: 10.21831/jppfa.v4i1.12117

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menelaah, mengetahui, dan memahami pengelolaan pendidikan karakter, kususnya bagi siswa SMA dan sederajat. Artikel ini merupakan kajian terhadap kondisi nyata yang berkembang di dunia pendidikan Indonesia, kususnya mengenai pengelolaan karakter siswa. Simpulan dari kajian ini adalah sebagai berikut: (1)edukasi dan pembentukan karakter terhadap anak yang dilakukan di sekolah, kelompok, dan masyarakat sosial  hendaknya menghindari pemaksaan kehendak dengan segala bentuk abuse; (2) pembentukan karakter yang salah satunya diprogramkan oleh pemerintah dengan menitipkan di instansi/lembaga militer perlu dikaji ulang secara mendalam; (3) proses pendidikan dan pengelolaan karakter akan lebih berhasil apabila mengikuti beberapa tahapan pengelolaan kesadaran integral.Kata kunci: kekerasan, dan pengelolaan karakter AVOIDING ABUSE IN MANAGING THE STUDENTS’ CHARACTERAbstractThis article aims to know, discover, and comprehend the character education management, especially of senior high school students and of those at the same level. This article is a study of the factual condition in Indonesian education, especially in managing the students’ characters. The conclusions of the study are: 1) education and character formation of the students in school, group/party, and social communities may avoid coercion of one’s desire, in every form of abuse; 2) character formation  programmed by the government by sending students to the military agency needs to be re-examined deeply; 3) education process and character management will be successful if it follows several stages of integral consciousness management.Keywords: abuse  and character management

Page 7 of 22 | Total Record : 219