cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi
ISSN : 23026383     EISSN : 25021648     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi & Aplikasi (JPPFA) is interested in comparative studies that lead to new insights and challenge of orthodox theories; that have potential for policy impact; and that apply to broad range of settings, including industrial democracies as well as low and middle income countries, countries in political transition and countries recovering from armed conflict and social unrest. JPPFA also considers papers that look at education and development through the policies and practices of official development assistance and commercial education trade. JPPFA engages these approaches to deepen the understanding of the relationship between education policy and development.
Arjuna Subject : -
Articles 219 Documents
Pendidikan akhlak mulia pada sekolah menengah pertama Bina Anak Soleh Tuban Arif Unwanullah; Darmiyati Zuchdi
Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi Vol 5, No 1 (2017): June
Publisher : Graduate School, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (398.545 KB) | DOI: 10.21831/jppfa.v5i1.14400

Abstract

Pendidikan akhlak mulia selama ini lebih menekankan pada aspek pengetahuan dari pada aspek sikap dan aplikasinya. Fenomena tawuran pelajar dan pergaulan bebas menjadi bukti. Sekolah Islam berasrama dengan kurikulum khasnya dianggap berhasil mengelola pendidikan karakter akhlak mulia. Namun belum semua sekolah mampu mengelolanya secara efektif. Penelitian ini bertujuan mengetahui dan menggali data mengenai bagaimana perencanaan, implementasi, evaluasi, dan pengelolaan asrama (boarding school system) pendidikan  akhlak mulia dilakukan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif, merupakan studi kasus SMP BAS school boarding sistem Tuban. Temuan penelitian menunjukkan bahwa sekolah melakukan perencanaan program diawali dengan penetapan visi dan misi, tujuan, standart kelulusan, menyusun kurikulum terpadu mengintegrasikan antara kurikulum nasional dan kurikulum khas pondok pesantren dengan penekanan pada pendidikan akhlak mulia. evaluasi dilakukan terus menerus terhadap seluruh aspek kegiatan siswa. Keberhasilan ditandai adanya perubahan perilaku siswa seperti disiplin, rajin ibadah, taat, jujur, dan berprestasi. Masyarakat makin percaya dan lembaga makin berkembang. Salah satu rekomendasi penelitian agar semua pemangku kepentingan komitmen terhadap rencana, menjadi contoh dan melakukan pembinaan terus menerus serta menjalin kemitraan.Kata kunci: pengelolaan, pendidikan, akhlak mulia  GOOD MANNERS EDUCATION AT YUNIOR HIGH  SCHOOL TUBANAbstractGood manner education tends to emphasize on knowledge but weak on attitude and its application. The phenomenon of students do juvenile delinquency, promiscuity, and abuse of drugs. Islamic boarding schools with integrating curriculum of national and local /manhaj tarbiyah emphasizes on Islamic religion subjects and good manner values to students. However, many schools have not succeded in managing good manner education yet. This study is aimed to know and find out data about planning, implementation, evaluation, and management school boarding of good manner eduction as a case study of qualitative research in SMP BAS school boarding system Tuban. The study finds that the planning program is formulated in school vision and mission, gol,  standart graduation, develop integrated curriculum, and actualizes in active learning process, develop students’ extra activity, religious habit and leadership. Evaluation conducted on whole activities continuously. The success of managerial implementation has been indicated by students’ attitude changes such as disciplinary, obedience, learning achievement, and less violence. For making effective good manner education program should involve of parents community, togetherness and commitment.Keywords: managing, good manner, islamic based
Pendidikan karakter dalam Serat Tripama karya Mangkunegara IV Novia Wahyu Wardhani; Noeng Muhadjir
Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi Vol 5, No 2 (2017): December
Publisher : Graduate School, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (383.794 KB) | DOI: 10.21831/jppfa.v5i2.15696

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk menggali kembali nilai-nilai kearifan lokal masa lalu seperti dalam Serat Tripama Karya Mangkunegara IV sehingga dapat dibedakan mana yang harus diteladani dan mana yang tidak tetapi dapat dijadikan materi analisis nilai dalam pembelajaran. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan interpretasi, hermeneutik, dan verstehen. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis data model interaktif yang terdiri dari pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan verifikasi. Hasil penelitian ini adalah tidak semua nilai dapat dijadikan sumber keteladanan bagi pembentukan karakter peserta didik.  Nilai yang dapat diteladani adalah nilai niat yang baik, pengabdian yang tulus disertai dengan usaha, dan kerelaan berkorban pada kebenaran.Kata kunci: pendidikan karakter, serat tripama, Mangkunegara IV CHARACTER EDUCATION IN SERAT TRIPAMA BY MANGKUNEGARA IVAbstractThe purpose of this research is to dig again values local knowledge the past as work in the Serat Tripama Mangkunegara iv so as to be distinguishable which one to role models all and which ones have not but can be used as matter analysis value in learning. Methods used was a qualitative methodology with the approach interpretation, hermeneutic, and verstehen. Technique the analysis used is interactive data analysis model consisting of data collection, reduction data, presentation of data, and verification. The result of this research is not all value can be used as a source of exemplary for the establishment of character school tuition. Value that can be role models all is the value of good reasons, devotion sincere accompanied by business, and mutual consent sacrifice to the truth.Keywords: character education, serat tripama, Mangkunegara IV
Perangkat pembelajaran berbasis problem based learning untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif di sekolah dasar Diah Anita; Mumpuniarti Mumpuniarti
Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi Vol 6, No 2 (2018): December
Publisher : Graduate School, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (583.338 KB) | DOI: 10.21831/jppfa.v6i2.23632

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menghasilkan perangkat pembelajaran berbasis Problem-Based Learning yang layak digunakan, (2) mengungkapkan efektifitas perangkat pembelajaran yang dihasilkan tersebut dalam meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa. Penelitian dan pengembangan ini menggunakan model yang dikembangkan oleh Borg dan Gall yang terdiri dari 10 langkah. Penelitian ini dilakukan di SD Piyungan. Subjek uji coba dalam penelitian adalah guru dan siswa kelas tiga. Data dikumpulkan melalui wawancara, angket validasi, angket respon, tes kemampuan berpikir kreatif, dan dianalisis menggunakan independent t-test dan paired sample t-test dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) berdasarkan penilaian ahli, silabus dengan rerata skor 4,3, rencana pelaksanaan pembelajaran dengan rerata skor 4,5, lembar kerja siswa dengan rerata skor 4,6, dan buku ajardengan rerata skor 4,4 masuk dalam kategori sangat layak. Instrument penilaian dengan rerata skor 4,1 masuk dalam kategori layak. (2) Ada perbedaan yang signifikan terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa di kelas eksperimen dengan nilai signifikansi 0,05.Kata kunci:problem-based learning, berpikir kreatif, pemecahan masalah INSTRUCTIONAL KIT BASED ON PROBLEM BASED LEARNING TO IMPROVE CREATIVE THINKING ABILITY IN ELEMENTARY SCHOOLAbstractThis study aims: (1) to develop a suitable instructional kit based on Problem-Based Learning, and (2) to reveal the effectiveness of the develop instructional kit in improving creative thinking ability. This study was research and development using model developed by Borg and Gall consisting of 10 steps. It was conducted at Elementary School Piyungan. The subjects were teachers and grade III students. The data were collected through interviews, questionnaires, and tests and analysed using the independent t-test and paired sample t-test at significance level of 0.05. The result of this study showed that(1)  based on expert judgment, the syllabus had a mean score 4.3, the lesson plan had a mean score 4.5, the student worksheet had a mean score 4.6, and the instructional textbook had a mean score 4.4 was in good category while the assessment instruments had a mean score 4.1 was in very good category. There were significant differences of the treatment classes using the product in improving creative thinking ability of students with the score of  p0,05.Keywords: problem-based learning, creative thinking, problem solving
DINAMIKA RELASI POLITIK ANTARA OTONOMI GURU DAN DOMINASI KEKUASAAN Arif Rohman; Noeng Muhadjir; Suyata Suyata
Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : Graduate School, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (401.386 KB) | DOI: 10.21831/jppfa.v2i2.2622

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan dinamika relasi politik antara otonomi guru dan dominasi kekuasaan. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif fenomenologis. Lokasinya di Kabupaten Bantul. Subjek terdiri dari 37 orang yang dipilih secara purposive. Prosedur penelitian ditempuh dengan lima langkah, dengan metode penggalian data: angket terbuka, wawancara mendalam, dan kajian dokumen. Trianggulasi melalui trianggulasi: metode dan sumber, diskusi ahli, dan penjelasan banding. Analisis data dilakukan secara kualitatif fenomenologis. Temuan penelitian adalah sebagai berikut. Pertama, upaya guru dalam membangun otonominya menuju sosok profesional dipengaruhi oleh dinamika politik. Kedua, terdapat politisasi guru oleh penguasa daerah, yang dilakukan melalui ‘praktik terselubung’ untuk ‘meraih dukungan’ dan berujung pada bargaining politik dan sharing kekuasaan. Ketiga, ada dua bentuk politik dominasi penguasa terhadap guru, yaitu melalui ‘politik kooptasi’ dan melalui ‘politik pengambilan hati’. Keempat, politik kooptasi berimplikasi negatif pada melemahnya sikap kritis guru, sedangkan politik pengambilan hati berimplikasi positif pada meningkatnya jumlah guru dalam studi lanjut dan meningkatnya kesejahteraan guru. Kata kunci: relasi politik, otonomi guru, dan dominasi kekuasaan
INKLUSIVITAS PESANTREN TEBUIRENG: MENATAP GLOBALISASI DENGAN WAJAH TRADISIONALISME Syamsul Ma'arif; Achmad Dardiri; Djoko Suryo
Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi Vol 3, No 1 (2015): Juni
Publisher : Graduate School, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (594.553 KB) | DOI: 10.21831/jppfa.v3i1.7814

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan inklusivitas Pesantern Tebuireng dalam menatap globalisasi. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data adalah teknik observasi, partisipasi, interview dan dokumentasi. Teknik analisis datanya adalah teknik analisis domain. Hasil penelitian menunjukkan Pesantren sebagai sebuah lembaga tertua di Indonesia sesungguhnya memiliki karakter unik dan khas yang berbeda dengan lembaga pendidikan agama Islam. Kelenturan sikap dan ekspresi keagamaan yang cenderung inklusif, sering ditunjukkan oleh komunitas pesantren. Hal ini disebabkan karena pada wataknya pesantren memiliki seperangkat aturan, nilai, dan norma yang membudaya dan bersumber pada alquran dan hadistdi samping bersumber pada kesepakatan para ulama. Begitu juga Pesantren Tebuireng, sebagai salah satu pesantren terkemuka di Indonesia terkenal sangat inklusif, senantiasa berusaha menjawab tuntutan-tuntutan globalisasi dengan senantiasa berpegang pada “tradisionalisme” dan kearifan lokal peninggalan Mbah Hasyim Asy’ari dan para leluhurnya. Terbukti dengan paradigma seperti ini, Tebuireng mampu berselayar di tengah tantangan modernitas tanpa harus tercerabut akar-akar kebudayaanya sendiri. Hal ini dapat dijadikan sebagai modal bagi pesantren dalam mendakwahkan prinsip-prinsip ajaran Islam kepada masyarakat tanpa mengalami benturan dan konflik dengan agama lain maupun kepercayaan lokal di Indonesia.
PENDAYAGUNAAN MODAL SOSIAL DALAM PENDIDIKAN KARAKTER Kurotul Aeni; Zamroni Zamroni; Darmiyati Zuchdi
Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi Vol 4, No 1 (2016): Juni
Publisher : Graduate School, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (384.261 KB) | DOI: 10.21831/jppfa.v4i1.9819

Abstract

Penelitian kualitatif dengan pendekatan naturalistik studi kasus ini bertujuan menganalisis bentuk, perbedaan, dan ciri khas pendayagunaan modal sosial dalam pendidikan karakter di  SD Sapen dan SD Budi Mulia Yogyakarta. Pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Keabsahan data dilakukan dengan konfirmasi hasil observasi, wawancara, dokumen wawancara. Uji kredibilitas data dilakukan dengan memperpanjang pengamatan, meningkatkan ketekunan, triangulasi data, analisis kasus negatif, member check, dan referensi. Analisis data menggunakan model interaktif Miles Huberman. Hasil penelitian menunjukkan pendayagunaan modal sosial dalam pendidikan karakter yang dilaksanakan dalam kegiatan pembelajaran, budaya sekolah, dan program karakter melalui inkulkasi nilai karakter dan keteladanan secara integral memperkuat karakter. Pendayagunaan modal sosial pada kegiatan ekstrakurikuler berpengaruh sangat kuat terhadap pembentukan karakter dibandingkan kegiatan intrakurikuler.Kata kunci: pendidikan karakter, modal sosial, program afektif, kedisiplinan, penugasan, living value, happy learning EMPOWERING THE SOCIAL CAPITAL IN THE CHARACTER EDUCATIONAbstractThe qualitative study by means of naturalistic case study approach was to analyze the form, the difference and the peculiarity of empowering the social capital in the character education conducted in the Muhammadiyah Sapen Elementary School and the Budi Mulia Dua Elementary School Yogyakarta. The data gathering was conducted by implementing observation, interview and documentation. The data validity was measured by confirming the results of observation, interview and interview document. The data credibility test was conducted by lengthening the observation, increasing the persistence, triangulating the data, analyzing the negative case, performing member checking and finding references. For the data analysis, the researcher made use of Miles Huberman interactive model. The results of the study showed that empowering the social capital in the character education that had been implemented in the form of learning activities, school culture and character programs by means of inculcation toward the character values and the role modelling integrally strengthened the students’ characters. Empowering the social capital in the extracurricular activities influenced heavily the character formation than in the intracurricular activities.Keywords: character education, social capital, affectiv programs, discipline, assignment, living value, happy learning
Pengembangan modul pembelajaran aksara jawa “Dinta Swara” dalam huruf Braille untuk siswa tunanetra Triyanto Triyanto; Sari Rudiyati
Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi Vol 5, No 2 (2017): December
Publisher : Graduate School, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (438.447 KB) | DOI: 10.21831/jppfa.v5i2.14765

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menghasilkan modul pembelajaran aksara Jawa“dinta swara” yang sesuai untuk siswa tunanetra, dan (2) mengukur efektifitas modul pembelajaran aksara Jawa dalam meningkatkan kemampuan siswa tunanetra mengenai baca tulis aksara Jawa dalam huruf Braille. Pengembangan modul pembelajaran ini dilakukan melalui studi pendahuluan, pembuatan desain produk, produk akhir, dan evaluasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modul pembelajaran aksara Jawa dalam huruf Braille efektif dalam meningkatkan kemampuan siswa tunanetra mengenai pelajaran bahasa Jawa, khususnya dalam materi baca tulis aksara Jawa. Peningkatan kemampuan tersebut terlihat dari hasil pretest dan posttest yang dilakukan. Pada pretest uji coba kelompok kecil diperoleh hasil 40,00, pada posttest uji coba kelompok kecil diperoleh hasil 7,33. Sedangkan pada pretest uji coba lapangan lebih luas diperoleh hasil 44,00, dan pada posttest uji coba lapangan lebih luas diperoleh hasil 70,66.Kata kunci: modul pembelajaran, aksara jawa, huruf braille, siswa tunanetra  DEVELOPING A MODULE FOR THE LEARNING OF THE JAVANESE ALPHABET “DINTA SWARA” IN BRAILLE FOR BLIND STUDENTAbstractThis study aims to: (1) produce a module of learning Java script "dinta swara" appropriate for blind students, and (2) measure the effectiveness of Javanese script module in improving the ability of students with visual impairment about reading Javanese script in Braille. The development of this learning module is done through preliminary study, product design, final product, and evaluation. The results showed that the Javanese script module in Braille is effective in improving the ability of blind students on Javanese lesson, especially in Javanese literacy reading material. Improvement of ability is seen from result of pretest and posttest done. In the small group trial pretest obtained 40.00 results, in small group trial posttest obtained results 7.33. While in pretest field trial more broadly obtained result 44,00, and at posttest field trial more broadly obtained result 70,66.Keywords: learning module, Javanese script, braille, blind student
Pendidikan kesetaraan di rumah inklusif Desa Kembaran Kecamatan dan Kabupaten Kebumen Mustolih Mustolih
Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi Vol 6, No 1 (2018): June
Publisher : Graduate School, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (48.094 KB) | DOI: 10.21831/jppfa.v6i1.22891

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola pendidikan di Rumah Inklusif Kembaran, dasar untuk pendidikan inklusif di sana dan tantangan dalam mengimplementasikan pendidikan inklusif di sana. Segmentasi lembaga pendidikan berdasarkan perbedaan agama, etnis, dan bahkan perbedaan kemampuan baik secara fisik maupun mental yang dimiliki oleh siswa masih terjadi di Indonesia, ini menunjukkan bahwa pendidikan di Indonesia belum mengakomodasi keragaman. Temuan pendidikan yang dilakukan di Rumah Inklusif adalah pendidikan pembebasan yang menempatkan anak-anak luar biasa atau anak-anak dengan kebutuhan khusus untuk belajar bersama dengan anak-anak normal dalam satu kelas di rumah joglo dekat dengan tempat mereka tinggal. Yang dimaksud dengan pembebasan adalah bahwa siswa diberi kebebasan untuk menentukan menu pendidikan mereka sendiri. Tantangan penerapan pendidikan inklusif di rumah inklusif Kembaran Kebumen adalah kurangnya pemahaman publik tentang kondisi anak-anak penyandang cacat. Dalam proses pendidikan, rumah inklusif terbatas dalam hal fasilitas, dan ada kekurangan staf sukarela untuk membantu anak-anak cacat. Hal ni terbukti dengan banyaknya fasilitas publik, terutama di Kebumen, yang tidak ramah bagi penyandang cacat. Kelahiran rumah inklusif di Kebumen adalah bentuk perlawanan terhadap kurangnya perhatian pemerintah dalam menangani anak-anak berkebutuhan khusus di Kebumen. Pemerintah belum melakukan apa-apa, tepatnya untuk mengecualikan anak-anak penyandang cacat di sekolah-sekolah Luar Biasa (SLB). Ini membuat siswa apalagi orang tua merasa minder.Kata kunci: inklusif, difabel, persamaan EQUALITY PEDAGOGY  DI RUMAH INKLUSIF DESA KEMBARAN KECAMATAN DAN KABUPATEN KEBUMENAbstractThis study aims to analyze the pattern of education in the Kembaran Inclusive Houses, the basis for inclusive education there and the challenges of implementing inclusive education there. Segmentation of educational institutions based on differences in religion, ethnicity, and even differences in abilities both physically and mentally possessed by students still occur in Indonesia, this indicates that education in Indonesia has not accommodated diversity.Findings of inclusive education carried out in Inclusive Houses is a liberation education that places exceptional children or children with special needs to study together with normal children in one class at a joglo house close to where they live. What is meant by liberation is that students are given the freedom to determine their own education menu. The challenge of implementing inclusive education in Kembaran Kebumen inclusive homes is the lack of public understanding the conditions of children with disabilities. In the process  education, inclusive homes are limited in terms of facilities, and there is a lack of volunteer staff to assist disabled children. This hall is proven by the many public facilities, especially in Kebumen, which are not friendly to the disabled. The birth of an inclusive house in Kebumen is a form of resistance to the lack of government attention in dealing with children with special needs in Kebumen. The government has not done anything, precisely to exclude children with disabilities in Extraordinary schools. This makes students more than parents feel less.Keywords: inclusive, difabel, equality
Penerapan permainan puzzle untuk meningkatkan kemampuan membilang Nola Nari; Yulia Akmay; Dewi Sasmita
Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi Vol 7, No 1 (2019): June
Publisher : Graduate School, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (306.629 KB) | DOI: 10.21831/jppfa.v7i1.26499

Abstract

Penelitian ini dilatar belakangi oleh rendahnya kemampuan membilang pada anak di Taman Kanak-kanak Pembina Utara Payakumbuh yang disebabkan oleh media yang digunakan kurang menarik bagi anak. Penelitian bertujuan untuk membantu anak dalam meningkatkan kemampuan membilang melalui permainan puzzle, karena permainan puzzle adalah permainan yang menarik bagi anak dan dapat melatih kemampuan anak dalam membilang. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode kuantitatif dengan jenis penelitian pre-eksperimental. Desain penelitian yaitu dengan tipe one group pretest-postest design. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa TK yang berada di TK Pembina Utara Payakumbuh yang mana sampel penelitian ini adalah kelompok B2 TK Pembina Utara Payakumbuh yang terdiri dari 16 orang anak. Pengambilan sampel yaitu dengan menggunakan teknik purposive sampling, yaitu kelompok B2 sebagai sampel dalam penelitian ini yang berjumlah 16 orang. Instrumen penelitian yang digunakan adalah tes berupa lembar kemampuan membilang anak, dan pengujian hipotesis dengan uji statistik (uji-t). Berdasarkan penelitian yang dilakukan di TK pembina Utara Payakumbuh, secara deskriptif terjadi peningkatan kemampuan membilang setelah menerapkan permainan puzzle, dengan kategori kemampuan sedang (N-gain = 0,59). Selanjutnya secara inferensial di peroleh thitung = 4,03 dan ttabel = 2,95. Dengan demikian thitung ttabel, berarti terdapat peningkatan kemampuan membilang anak setelah menerapkan permainan puzzle. AbstractThis research is motivated by the low ability to say to children in the North Peyakumbuh Kindergarten, which is caused by the media used less attractive to children. The research aims to help children improve their ability to say through puzzle games, because puzzle games are games that are interesting for children and can train children’s abilities in numeracy. This study uses a quantitative method with a type of pre-experimental research. The research design is by type one group pretest-posttest design. The population in this study were kindergarten students who were in the North Pembakumbuh Kindergarten Kindergarten where the sample of this study was a group of B2 North Kindergarten Payakumbuh consisting of 16 children. The sampling is by using purposive sampling technique, namely group B2 as a sample in this study which amounted to 16 people. The research instrument used was a test in the form of a child ability ability sheet, and hypothesis testing with a statistical test (t-test). Based on the research conducted at the North Kindergarten supervisor of Payakumbuh, descriptively there was an increase in the ability to say after applying puzzle games, with a medium ability category (N-gain = 0.59). Furthermore, inferentially obtained tcount = 4.03 and ttable = 2.95. tcount ttable, means that there is an increase in the ability to say children after applying a puzzle game.
Tranformasi Learning dalam Pendidikan Multikultural Keberagaman Amin Maulani
Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi Vol 1, No 1 (2012): Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi
Publisher : Graduate School, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (131.823 KB) | DOI: 10.21831/jppfa.v1i1.1049

Abstract

Abstrak Pendidikan multikultural seharusnya bisa menjadi suatu proses transformasional, bukan sekedar proses toleransi. Artinya pendidikan multikultural bukan sekedar mengajar tentang kebudayaan yang berbeda-beda kebudayaan dari berbagai kelompok etnik dan keagamaan dan mendukung apresiasi, kenyamanan, toleransi tehadap budaya lain. Sebagai proses transformasional, pendidikan multikultural hadir sebagai proses melalui seluruh aspek pendidikan diuji dan dikritik serta dibangun kembali atas dasar ideal-ideal persamaan dan keadilan sosial; membantu perkembangan semua orang dari semua kebudayaan. Indonesia merupakan salah satu negara multikultural terbesar didunia yang menganut paham Bhineka Tunggal Ika. Kenyataan ini dapat dilihat dari sosio-kultural dan gegografisnya meliputi agama, ras, suku, budaya dan lainnya. Pendidikan multikultural menawarkan satu alternatif melalui penerapan strategi dan konsep pendidikan yang berbasis pada pemanfaatan keragaman yang ada di masyarakat, seperti keragaman etnis, budaya, bahasa, agama, status sosial, gender, kemampuan, umur, dll. Karena itulah yang terpenting dalam pendidikan multikultural adalah seorang pendidik tidak hanya dituntut untuk menguasai dan mampu secara profesional mengajarkan materi yang diajarkan. Lebih dari itu, seorang pendidik juga harus mampu menanamkan nilai-nilai inti dari pendidikan multikultural seperti demokrasi, humanisme, dan pluralisme atau menanamkan nilai-nilai keberagamaan. Pada akhirnya dapat dihasilkan output yang tidak hanya cakap sesuai dengan disiplin ilmunya, tetapi juga mampu menerapkan nilai-nilai keberagamaan dalam memahami dan menghargai keberadaan pemeluk agama dan kepercayaan lain. Kata kunci: transformasi learning, pendidikan multikultural, keberagamaan

Page 8 of 22 | Total Record : 219