cover
Contact Name
Anggar Titis Prayitno
Contact Email
anggar.titis.prayitno@uniku.ac.id
Phone
+6282133444457
Journal Mail Official
jesmat@uniku.ac.id
Editorial Address
Jalan Cut Nyak Dhien No.36A Kuningan, Jawa Barat, Indonesia.
Location
Kab. kuningan,
Jawa barat
INDONESIA
JES-MAT (Jurnal Edukasi dan Sains Matematika)
Published by Universitas Kuningan
ISSN : 24608904     EISSN : 26214202     DOI : https://doi.org/10.25134/jes-mat.v5i1
Core Subject : Education,
Jurnal Edukasi dan Sains Matematika (JES-MAT) (p-ISSN: 2460-8904, e-ISSN: 2621-4202) , is an electronic journal, provides a forum for publishing the original research articles, review articles from contributors, and the novel technology news related to mathematics education. This journal is designed and devoted to lectures, researchers, mathematics school teachers, teacher educators, university students who want to publish their research reports or their literature review articles (only for invited contributors) about mathematics education and its instructional. This journal encompasses original research articles, review articles, and short communications, including: Mathematics Education Mathematics Ability Scientific Learning Design Research Development Research Applied Mathematics
Articles 19 Documents
Analisis Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Peserta Didik SMP pada Materi Geometri Ditinjau dari Tingkat Self-Efficacy Salamatulummah; Iyon Maryono; Rifa Rizqiyani
JES-MAT: Jurnal Edukasi dan Sains Matematika Vol. 12 No. 2 (2026): Jurnal Edukasi dan Sains Matematika (JES-MAT)
Publisher : Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/jes-mat.v12i2.63

Abstract

Berpikir kritis matematis merupakan kompetensi esensial abad 21 yang masih rendah, khususnya pada geometri. Salah satu faktor afektif yang diduga memengaruhinya adalah self-efficacy. Kajian mengenai berpikir kritis matematis pada geometri berdasarkan tingkat self-efficacy masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis kemampuan berpikir kritis matematis peserta didik SMP pada geometri berdasarkan tingkat self-efficacy. Pendekatan yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Subjek penelitian terdiri dari tiga peserta didik kelas VIII SMP kabupaten Bandung yang dipilih secara purposive sampling berdasarkan hasil angket self-efficacy Bandura, masing-masing mewakili kategori tinggi (S1), sedang (S2), dan rendah (S3). Instrumen yang digunakan adalah angket self-efficacy (20 butir, skala Likert 1–4) dan tes uraian kemampuan berpikir kritis matematis pada geometri (lima soal) yang mengacu pada lima indikator Facione (1990): interpretasi, analisis, evaluasi, inferensi, dan eksplanasi. Teknik analisis data meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, dengan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa S1 memenuhi indikator interpretasi dan evaluasi dengan baik, tetapi masih lemah pada analisis, inferensi, dan eksplanasi. S2 hanya memenuhi sebagian indikator secara intuitif tanpa argumentasi matematis yang tuntas. S3 tidak mampu memenuhi kelima indikator dengan benar, mengalami kesalahan mendasar pada perhitungan dan pemahaman konsep. Dengan demikian, subjek dengan self-efficacy tinggi cenderung menunjukkan kemampuan berpikir kritis matematis yang lebih baik dibandingkan subjek dengan self-efficacy sedang dan rendah. Namun, karena penelitian ini hanya melibatkan tiga subjek, hubungan umum antara self-efficacy dan kemampuan berpikir kritis matematis belum dapat disimpulkan. Penelitian ini merekomendasikan agar guru merancang aktivitas geometri berbasis masalah nonrutin untuk mengembangkan kemampuan analisis, inferensi, dan eksplanasi matematis.
Implementasi Model Pembelajaran RADEC Berbantuan GeoGebra untuk Meningkatkan Berpikir Kritis Siswa pada Materi SPtLDV Marcela Zulfa; Hasan Basri; Sri Irawati; Rohmah Indahwati
JES-MAT: Jurnal Edukasi dan Sains Matematika Vol. 12 No. 1 (2026): Jurnal Edukasi dan Sains Matematika (JES-MAT)
Publisher : Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/jes-mat.v12i1.64

Abstract

Berpikir kritis merupakan salah satu kecakapan mendasar yang perlu diasah dalam pembelajaran matematika karena turut menunjang kemampuan siswa dalam menganalisis serta menyelesaikan berbagai persoalan. Penilaian kemampuan berpikir kritis pada penelitianini mengacu pada lima indikator, yakni interpretasi, analisis, evaluasi, inferensi, dan eksplanasi. Hasil pengamatan awal memperlihatkan bahwa kemampuan berpikir kritis siswa pada materi Sistem Pertidaksamaan Linear Dua Variabel (SPtLDV) belum berkembang secara maksimal, sehingga penelitian ini dirancang untuk mengoptimalkan kemampuan tersebut melalui implementasi model pembelajaran RADEC yang dikombinasikan dengan media GeoGebra. Penelitian dilaksanakan dengan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dalam dua siklus, melibatkan 33 peserta didik kelas X-4 SMA Negeri 3 Sampang Tahun Ajaran 2025/2026 sebagai subjek kajian. Pengumpulan data dilakukan melalui lembar observasi, angket, dan tes, yang selanjutnya dianalisis secara deskriptif. Temuan penelitian memperlihatkan adanya peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa, ditunjukkan oleh naiknya rata-rata skor dari 67,64 pada Siklus I menjadi 75,15 pada Siklus II, disertai kenaikan ketuntasan klasikal dari 54,55% menjadi 81,82%. Skor aktivitas belajar siswa turut naik dari 1,58 menjadi 2,15, sedangkan respons positif siswa terhadap pembelajaran bertambah dari 67,27% menjadi 83,63%. Berdasarkan temuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa penerapan model RADEC berbantuan GeoGebra terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa pada materi SPtLDV.
Analisis Kemampuan Pemecahan Masalah Siswa Dalam Mengerjakan Soal HOTS Ditinjau dari Tingkat Kecemasan Moh Fathorrozi; Hasan Basri
JES-MAT: Jurnal Edukasi dan Sains Matematika Vol. 12 No. 1 (2026): Jurnal Edukasi dan Sains Matematika (JES-MAT)
Publisher : Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/jes-mat.v12i1.66

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan pemecahan masalah siswa dalam mengerjakan soal higher order thinking skills (HOTS) ditinjau dari tingkat kecemasan matematika. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Subjek penelitian adalah siswa kelas XI MA Al-Falah Tlanakan tahun ajaran 2025/2026 yang dipilih secara purposive berdasarkan tingkat kecemasan matematika, yaitu satu siswa dengan tingkat kecemasan rendah, satu siswa dengan tingkat kecemasan sedang, dan satu siswa dengan tingkat kecemasan tinggi. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui angket kecemasan matematika, tes soal HOTS dan wawancara. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Indikator kemampuan pemecahan masalah yang digunakan mengacu pada langkah-langkah polya, yaitu memahami masalah, menyusun rencana, melaksanakan rencana, dan memeriksa kembali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa dengan tingkat kecemasan rendah mampu memenuhi hampir seluruh indikator pemecahan masalah polya. Siswa dengan tingkat kecemasan sedang mampu memahami masalah dan menyusun rencana, namun masih mengalami kesulitan dalam melaksanakan rencana secara optimal dan memeriksa kembali hasil pengerjaannya. Sementara itu, siswa dengan tingkat kecemasan tinggi mengalami kesulitan pada sebagian besar indikator pemecahan masalah, terutama dalam memahami masalah, menentukan strategi penyelesaian, dan memeriksa kembali jawabannya. Dengan demikian, tingkat kecemasan matematika berpengaruh terhadap kemampuan siswa dalam mengerjakan soal HOTS. Semakin rendah tingkat kecemasan siswa, semakin baik kemampuan pemecahan masalah yang ditunjukkan. Semakin tinggi tingkat kecemasan siswa, semakin besar hambatan yang dialami siswa dalam mengerjakan soal HOTS.
Analisis Pembelajaran Mandiri Mahasiswa dalam Konteks Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) Anisa; Suci Yuniati
JES-MAT: Jurnal Edukasi dan Sains Matematika Vol. 12 No. 2 (2026): Jurnal Edukasi dan Sains Matematika (JES-MAT)
Publisher : Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/jes-mat.v12i2.68

Abstract

Perkembangan pesat teknologi Artificial Intelligence (AI) generatif telah membuka peluang baru sekaligus tantangan dalam mendukung pembelajaran mandiri mahasiswa di perguruan tinggi. Penelitian ini bertujuan menganalisis tingkat pembelajaran mandiri mahasiswa berbasis Self-Regulated Learning (SRL) dalam konteks pemanfaatan AI, dengan fokus pada empat indikator: perencanaan belajar, pengelolaan belajar, monitoring dan strategi belajar, serta evaluasi diri. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan teknik purposive sampling terhadap 45 mahasiswa semester VI Program Studi Pendidikan Matematika UIN Sultan Syarif Kasim Riau pada semester ganjil 2025/2026. Instrumen penelitian berupa angket tertutup skala Likert empat poin (12 butir pernyataan) yang telah divalidasi isi oleh dua dosen ahli dan diuji reliabilitasnya menggunakan Cronbach's Alpha. Validitas konstruk didukung melalui corrected item-total correlation dengan seluruh butir memenuhi nilai r > 0,30. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif berbantuan IBM SPSS Statistics 26. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pembelajaran mandiri mahasiswa secara keseluruhan berada pada kategori tinggi (M = 3,19; SD = 0,82). Indikator monitoring dan strategi (M = 3,38; SD = 0,42) serta evaluasi diri (M = 3,35; SD = 0,47) tergolong tinggi, sementara perencanaan belajar (M = 3,07; SD = 0,65) dan pengelolaan belajar (M = 2,96; SD = 0,66) berada pada kategori sedang. Temuan ini mengindikasikan bahwa mahasiswa telah mengintegrasikan AI sebagai alat bantu belajar, khususnya untuk pemahaman materi dan evaluasi diri, namun masih memerlukan penguatan pada perencanaan proaktif dan manajemen waktu. Penelitian ini memberikan kontribusi baru berupa pemetaan capaian pembelajaran mandiri mahasiswa pendidikan matematika secara spesifik pada tiap indikator SRL dalam konteks pemanfaatan AI, yang dapat menjadi dasar empiris bagi penyusunan strategi pedagogis yang lebih terarah dalam mengoptimalkan peran AI pada pembelajaran mandiri di era digital.
Efektivitas Media Pembelajaran Multisensori Tactile-Visual-Auditory Berbasis Seni Rupa Terhadap Pemahaman Konsep Matematika Siswa SD Inklusif Noviea Varahdilah Sandi; Dian Purwaningsih; Mohammad Ilhami Hakim; Ujang Khiyarusoleh; Eca Putriyanti
JES-MAT: Jurnal Edukasi dan Sains Matematika Vol. 12 No. 2 (2026): Jurnal Edukasi dan Sains Matematika (JES-MAT)
Publisher : Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/jes-mat.v12i2.71

Abstract

Pembelajaran matematika pada sekolah dasar inklusif menghadapi tantangan berupa keberagaman karakteristik dan kebutuhan belajar siswa. Penggunaan media yang hanya mengandalkan satu bentuk penyampaian informasi belum tentu mampu memberikan pengalaman belajar yang sesuai bagi seluruh siswa. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas media pembelajaran multisensori Tactile-Visual-Auditory (TVA) berbasis seni rupa terhadap pemahaman konsep matematika siswa sekolah dasar inklusif. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode quasi-experimental dan desain pretest-posttest control group design. Subjek penelitian terdiri atas 60 siswa yang dibagi ke dalam kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, masing-masing berjumlah 30 siswa. Kelompok eksperimen mengikuti pembelajaran menggunakan media TVA berbasis seni rupa, sedangkan kelompok kontrol menggunakan pembelajaran konvensional. Data dikumpulkan melalui tes pemahaman konsep matematika, observasi, wawancara, respons pengguna, dan dokumentasi. Analisis dilakukan menggunakan statistik deskriptif, uji prasyarat, uji-t, perhitungan N-gain, dan effect size. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok eksperimen mengalami peningkatan skor rata-rata sebesar 24,13 poin, lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol sebesar 12,20 poin. Nilai N-gain kelompok eksperimen mencapai 0,58 dalam kategori sedang, dengan perbedaan peningkatan yang signifikan (p < 0,001) dan effect size sebesar 1,02 dalam kategori besar. Temuan tersebut menunjukkan bahwa integrasi pengalaman taktil, visual, dan auditori melalui unsur seni rupa, seperti bentuk, warna, tekstur, dan pola, dapat membantu siswa membangun pemahaman konsep matematika secara lebih konkret dan bermakna. Dengan demikian, media TVA berbasis seni rupa efektif digunakan sebagai alternatif pembelajaran matematika yang adaptif bagi siswa sekolah dasar dalam lingkungan pendidikan inklusif.
Peran Media Pembelajaran Berbasis Unplugged Coding terhadap Computational Thinking dan Numerasi: Tinjauan Sistematis Literatur Muhamad Rifki Maulana Ramadhany; Imam Kusmaryono
JES-MAT: Jurnal Edukasi dan Sains Matematika Vol. 12 No. 2 (2026): Jurnal Edukasi dan Sains Matematika (JES-MAT)
Publisher : Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/jes-mat.v12i2.73

Abstract

Pembelajaran abad ke-21 menuntut peserta didik memiliki kemampuan computational thinking dan numerasi sebagai bagian dari keterampilan berpikir tingkat tinggi. Salah satu pendekatan yang berkembang dalam mendukung kemampuan tersebut adalah unplugged coding, yaitu aktivitas pembelajaran konsep pemrograman tanpa menggunakan perangkat digital. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran media pembelajaran berbasis unplugged coding terhadap pengembangan computational thinking dan numerasi melalui pendekatan Systematic Literature Review (SLR). Kajian dilakukan terhadap 35 artikel ilmiah yang dipublikasikan pada rentang tahun 2016–2026 dan diperoleh dari berbagai basis data ilmiah. Proses analisis dilakukan melalui tahapan identifikasi, seleksi, evaluasi, dan sintesis literatur berdasarkan tema penelitian yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa unplugged coding banyak digunakan dalam pembelajaran untuk melatih kemampuan berpikir logis, pemecahan masalah, algoritma, dan pola berpikir sistematis sebagai bagian dari computational thinking. Selain itu, media pembelajaran berbasis aktivitas konkret, visual, manipulatif, dan permainan mampu meningkatkan keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran matematika.
Profil Kemampuan Penalaran Logis Calon Guru Matematika dalam Menyelesaikan Pembuktian Logika Ditinjau dari Adversity Quotient Ninik Mutianingsih; Eko Sugandi; Lydia Lia Prayitno; Agus Prasetyo Kurniawan; Maghfirotul Latifah
JES-MAT: Jurnal Edukasi dan Sains Matematika Vol. 12 No. 2 (2026): Jurnal Edukasi dan Sains Matematika (JES-MAT)
Publisher : Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/jes-mat.v12i2.95

Abstract

Kemampuan penalaran logis merupakan kompetensi fundamental yang wajib dimiliki oleh calon guru matematika dalam memecahkan masalah pembuktian logika. Namun, pencapaian kemampuan ini kerap dipengaruhi oleh daya tahan mental mahasiswa dalam menghadapi kesulitan, yang dikenal sebagai Adversity Quotient (AQ). Penelitian deskriptif kuantitatif ini bertujuan untuk menganalisis profil kemampuan penalaran logis calon guru matematika ditinjau dari kriteria AQ (climbers, campers, dan quitters). Subjek penelitian dipilih menggunakan teknik purposive sampling yang terdiri dari tiga mahasiswa calon guru mewakili masing-masing kategori AQ (KYA sebagai climbers, NNA sebagai campers, dan SMP sebagai quitters). Data dikumpulkan melalui angket AQ, tes kemampuan penalaran logis, dan wawancara berbasis tugas, kemudian dianalisis melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Subjek climbers (KYA) memenuhi seluruh indikator penalaran logis (mengumpulkan fakta, menetapkan asumsi, menilai asumsi, dan menentukan kesimpulan) secara sistematis dan valid; (2) Subjek campers (NNA) memenuhi tiga indikator dan hanya belum memenuhi indikator mengumpulkan fakta secara tertulis; serta (3) Subjek quitters (SMP) belum memenuhi seluruh indikator penalaran logis secara substantif karena cenderung menarik kesimpulan secara spekulatif tanpa prosedur pembuktian yang sah. Temuan ini menegaskan bahwa adanya perbedaan profil kemampuan penalaran logis pada subjek dengan kategori AQ yang berbeda.
Pendekatan Deep Learning dan Contextual Teaching and Learning Berbantuan Wayground: Efektivitasnya terhadap Kemampuan Koneksi Matematis Siswa Deva Putri Sari; Muhammad Khoiril Akhyar; Nalsa Cintya Resti
JES-MAT: Jurnal Edukasi dan Sains Matematika Vol. 12 No. 2 (2026): Jurnal Edukasi dan Sains Matematika (JES-MAT)
Publisher : Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/jes-mat.v12i2.96

Abstract

Banyak siswa kelas XI memandang matematika sebagai kumpulan prosedur yang berdiri sendiri, sehingga kemampuan mereka mengaitkan antartopik, menghubungkan matematika dengan disiplin lain, dan menerapkannya dalam situasi sehari-hari masih terbatas. Penelitian eksperimen semu ini membandingkan kemampuan koneksi matematis siswa yang belajar melalui Contextual Teaching and Learning (CTL) yang diintegrasikan dengan prinsip Deep Learning berbantuan platform kuis Wayground dengan siswa yang belajar melalui direct instruction pada materi regresi linear metode kuadrat terkecil. Desain Nonequivalent Control Group melibatkan dua kelas utuh kelas XI SMA Negeri 1 Kandat (masing-masing n = 35) yang diampu guru matematika yang sama, dengan dua pertemuan perlakuan di antara pretest dan posttest. Kemampuan koneksi matematis diukur menggunakan tes uraian yang divalidasi tiga pakar dengan hasil Aiken's V sebesar 0,96 untuk pretest dan 0,97 untuk posttest, yang mencakup tiga indikator, yaitu menghubungkan antartopik matematika, mengaitkan matematika dengan disiplin ilmu lain, dan mengaitkan matematika dengan kehidupan sehari-hari. Skor pretest kedua kelas tidak berbeda (Mann-Whitney U = 605,5; p = 0,933). Pada posttest, kelas eksperimen memperoleh skor lebih tinggi (median 83 berbanding 79; U = 400,0; Z = -2,541; p = 0,011; r = 0,30) dengan ukuran efek sedang. Rerata N-Gain kelas eksperimen 0,78 dan kelas kontrol 0,70 (t(68) = 4,111; p < 0,001; d = 0,98). Efek terstandar tergolong besar, tetapi selisih mentahnya setara sekitar delapan poin persentase dari peningkatan yang masih mungkin dicapai, dan rerata kedua kelas sama-sama berada di dekat batas 0,70 antara kategori sedang dan tinggi. Karena intervensi diberikan sebagai satu paket pada kelas yang tidak diacak, temuan ini menunjukkan asosiasi, belum menjadi bukti kausal yang kuat, dan tidak memisahkan kontribusi tiap komponen. Hasil tersebut menunjukkan bahwa perpaduan konten kontekstual, refleksi yang terarah, dan kuis digital berumpan balik seketika layak dipertimbangkan sebagai rancangan pembelajaran statistika di SMA. Guru disarankan mengaitkan setiap langkah perhitungan dengan konteks yang dekat dengan siswa, menyediakan waktu refleksi yang cukup, dan memakai Wayground sebagai pelengkap diskusi, sedangkan penelitian lanjutan disarankan memakai durasi perlakuan lebih panjang, sampel acak atau lintas sekolah, serta desain yang memisahkan kontribusi tiap komponen.
Pengembangan LKPD Literasi Numerasi Berpendekatan Teaching at the Right Level dan Discovery Learning pada Materi Persamaan Garis Lurus Abdillah Labiib Fauzan; Muhammad Khoiril Akhyar; Ahmad Syamsudin
JES-MAT: Jurnal Edukasi dan Sains Matematika Vol. 12 No. 1 (2026): Jurnal Edukasi dan Sains Matematika (JES-MAT)
Publisher : Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/jes-mat.v12i1.102

Abstract

Literasi numerasi peserta didik Indonesia masih rendah, tercermin dari skor matematika PISA 2022 sebesar 366, atau 106 poin di bawah rata-rata OECD (472). Studi pendahuluan di SMP Bina Insan Mandiri Nganjuk melalui lembar observasi dan rekap nilai tugas prasyarat menunjukkan 22 dari 30 peserta didik kelas VIII (73%) kesulitan mengubah masalah kontekstual menjadi model matematika. Kondisi ini diperparah oleh pembelajaran satu arah dan LKPD konvensional yang seragam serta minim penalaran kontekstual. Penelitian ini bertujuan mengembangkan LKPD literasi numerasi yang memadukan pendekatan Teaching at the Right Level (TaRL) dan model Discovery Learning pada materi Persamaan Garis Lurus, serta menguji kevalidan, kepraktisan, dan keefektifannya. Penelitian pengembangan ini menggunakan model 4D dengan subjek 30 peserta didik kelas VIII yang dipilih melalui sampling jenuh. Data dihimpun melalui wawancara, observasi, validasi ahli, angket, dan pretest-posttest, lalu dianalisis secara deskriptif-kuantitatif dan dengan N-Gain. Hasil penelitian menunjukkan LKPD sangat valid (materi 94%; media 95%), sangat praktis (pendidik 91%; enam peserta didik uji kelompok kecil 83%), dan efektif dengan rerata N-Gain 0,85 (tinggi); 26 dari 30 peserta didik (86,7%) mencapai skor minimal 75 pada posttest. Disimpulkan bahwa LKPD yang dikembangkan layak digunakan pada kelas dengan kemampuan awal heterogen dan diikuti peningkatan hasil belajar yang tinggi, meskipun tanpa kelompok pembanding peningkatan tersebut belum dapat diatribusikan sepenuhnya pada produk. Penelitian lanjutan direkomendasikan menggunakan desain kuasi-eksperimen multisekolah serta mengintegrasikan GeoGebra untuk memperkuat representasi grafik bagi peserta didik pada level dasar.

Page 2 of 2 | Total Record : 19