cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Gedung Graha Medika Lt. 1, Ruang 104
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Brawijaya
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 02169347     EISSN : 23380772     DOI : http://dx.doi.org/10.21776/ub.jkb
Core Subject : Health,
JKB contains articles from research that focus on basic medicine, clinical medicine, epidemiology, and preventive medicine (social medicine).
Articles 822 Documents
Faktor yang Mempengaruhi Pemahaman Kepala Ruang Rawat Inap tentang Pelaporan Kinerja Utilitas Bangsal di Rumah Sakit Riskiyah, Riskiyah; Harijanto, Tatong; Noor, Viva Maiga Mahliafa
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 29, No 3 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2016.029.03.11

Abstract

Pelaporan kinerja rawat inap merupakan komponen penting dalam evaluasi dan perencanaan rumah sakit. Studi pendahuluan menunjukkan rendahnya kinerja pelaporan rawat inap oleh kepala ruang karena lemahnya pemahanan tentang cara penghitungan dan pelaporan indikator kinerja rumah sakit. Tujuan dari penelitian ini adalah mencari faktor-faktor yang mempengaruhi pemahaman kepala ruang rawat inap dalam menghitung dan melaporkan indikator kinerja efisiensi ruang, mengidentifikasi solusi dan evaluasi dampak solusi tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan melakukan wawancara tidak terstruktur kepada kepala bidang keperawatan, 5 kepala ruang serta 3 perawat di rawat inap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepala ruang rawat inap tidak mengetahui apa saja indikator efisiensi rumah sakit dan definisinya, perhitungan kinerja bangsal tidak terdeskripsikan dalam Tupoksi (Tugas Pokok dan Fungsi) kepala ruang, tidak ada panduan cara menghitung indikator efisiensi rumah sakit khususnya BOR (Bed Occupancy Rate) di unit rawat inap, belum ada kebijakan dari rumah sakit untuk kepala ruang rawat inap melaporkan kinerja efisiensi ruangan perbulan/pertahun, belum ada sosialisasi dan pelatihan, tidak adanya evaluasi kinerja manajemen bangsal setiap bulan dari rumah sakit. Alternatif solusi yang dipilih rumah sakit untuk mengatasi semua penyebab adalah sosialisasi dan pelatihan tentang perhitungan indikator kinerja ruang kepada petugas rumah sakit. Dampak dari sosialisasi tersebut adalah para kepala ruangan dapat menghitung dan melaporkan indikator kinerja efisiensi dimasing-masing ruangan. Dapat disimpulkan lemahnya pemahaman kepala ruang tentang indikator kinerja karena tidak adanya pelatihan dan panduan yang disebabkan tidak ada dukungan kebijakan dan anggaran.Kata Kunci: Indikator efisiensi rumah sakit, kepala ruang, pemahaman, rawat inap
Investigasi Forensik pada Kasus Kematian Dugaan Akibat Cedera Kepala Afandi, Dedi; Herkutanto, Herkutanto
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 30, No. 1 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (863.914 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2018.030.01.12

Abstract

Autopsi diperlukan dalam upaya menentukan penyebab kematian dan cara kematian. Autopsi seringkali tidak dapat dilakukan karena penolakan oleh keluarga. Laporan kasus ini menyajikan investigasi forensik pada kasus kematian yang diduga akibat cedera kepala pada korban yang telah dikremasi. Investigasi pada tempat kejadian meninggal, perhitungan indikator efek trauma pada kepala dan studi literatur dilakukan untuk membuktikan probabilitas kematian akibat cedera kepala dan probabilitas kemungkinan penyebab kematian pada korban.  Dari metode tersebut didapatkan probabilitas terjadinya cedera otak traumatik ringan adalah 8,33% dan probalitas kematian jantung mendadak 80,95%. Kasus ini menunjukkan pentingnya memahami aspek medikolegal trauma, memahami biomekanika trauma dan melakukan investigasi forensik.
Evaluasi Potensi Antidiabetes Sari Buah Markisa Ungu (Passiflora edulis var edulis) pada Tikus Model Diabetes Melitus yang Diinduksi Aloksan Muntafiah, Alfi; Pratama, Tisna Sendy; Ati, Viva Ratih Bening
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 30, No 3 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (421.953 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2019.030.03.5

Abstract

Markisa ungu mengandung komponen nutrisi dan fitokimia non nutrisi, dan potensinya pada beberapa kondisi medis telah dilaporkan. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi potensi antidiabetes sari markisa ungu. Penelitian true experimental ini menggunakan 30 ekor tikus putih (Rattus norvegicus) jantan galur Wistar, dibagi 5 kelompok: I) kontrol normal,  II) kontrol DM, dan III, IV, V perlakuan sari markisa ungu dosis 1,05; 2,1; dan 4,2mL/200gBB/hari melalui sonde, selama 21 hari. Induksi diabetes dengan aloksan intraperitoneal 120mg/kgBB dosis tunggal. Sampel darah diambil sebelum induksi, setelah induksi dan setelah perlakuan, melalui vena infra orbita. Kadar GDP diukur menggunakan spektrofotometer. Uji Wilcoxon terhadap kadar GDP pasca induksi dan perlakuan, didapatkan p=0,000, menunjukkan perbedaan signifikan kadar GDP antar kelompok normal dan DM. Uji Kruskal-Wallis terhadap kadar GDP pasca perlakuan juga demikian, didapatkan p<0,05. Uji post hoc Mann-Whitney: I vs II p=0,006; I vs III p=0,006; I vs IV p=0,045; I vs V p=0,025; II vs III p=0,361; II vs IV p=0,917; II vs V p=0,584; III vs IV p=0,715; III vs V p=1,000; IV vs V p= 0,584, yang berarti perbedaan hanya antara kelompok normal dengan kelompok diabet dengan atau tanpa perlakuan sari markisa ungu, namun tidak ada perbedaan antar kelompok DM tanpa atau dengan perlakuan sari markisa ungu. Kesimpulan penelitian adalah tidak terdapat perbedaan kadar GDP antara kelompok kontrol DM dengan kelompok yang diberi perlakuan sari markisa ungu berbagai dosis. 
Korelasi Antara Transforming Growth Factor -Î’1 Monosit dengan Kebocoran Vaskuler pada Demam Berdarah Dengue Supriatna, Mohamad; Tondy, Haryson; Ermin, Tatty; Istanti, Yusrina; RMD, Kisdjamiatun
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 26, No 1 (2010)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1126.587 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2010.026.01.1

Abstract

ABSTRAKSel monosit merupakan target utama infeksi virus Demam Berdarah Dengue (DBD) yang dapat memproduksi faktor vasoaktif yang mempengaruhi fungsi sel endotel dan berperan dalam kebocoran vaskuler. Transforming growth factor beta 1 (TGF-1) merupakan salah satu sitokin yang mempunyai banyak peran dalam patogenesis DBD. Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi hubungan antara TGF-1 terhadap indeks efusi pleura (IEP), total protein, albumin dan hematokrit sebagai indikator kebocoran vaskular. Studi dilakukan dengan desain cross sectional pada pasien DBD usia 13-14 tahun di RS dr. Kariadi selama Juli 2005 hingga Juli 2006. Sampel pemeriksaan adalah kultur whole blood supernatant culture yang diinduksi LPS pada subyek penelitian. Kadar monosit TGF-1, PEI, total protein, albumin dan hematokrit diukur pada hari 0 dan 2. Data di analisis dengan uji Wilcoxon dan korelasi Spearman. Pada hari 0 dan 2 dianalisis korelasi antara kadar monosit TGF-1, PEI juga protein total, albumin dan hematokrit. Rerata kadar TGF-1 monosit pada hari ke 2 (43.29±28.012 pg/ml) lebih tinggi dari hari 0 (35.27 ± 34.642 pg/ml, p=0.09, Wilcoxon test). Pada hari 0 terdapat korelasi signifikan level TGF-1 monosit dengan PEI (r=-0.31, p=0.04), tetapi tidak dengan total protein (r=0.19, p=0.2), albumin (r=0.11, p=0.5 ; r=--.08, p=0.6). Pada hari kedua tidak ada korelasi signifikan antara level TGF-1 monosit level dan PEI (r=-0.2,p=0.3), total protein (r=0.2, p=0.2), albumin (r-0.2, p=0.2) dan hematokrit (r=-0.04, p=0.8). Dapat di simpulkan bahwa TGF-1 mungkin berperan dalam proses inflamasi DBD melalui PEI sebagai salah satu indikator kebocoran plasma.Kata Kunci : Albumin, DBD, hematokrit, IEP, TGF-1, protein totalβ
MANIFESTASI KLINIS DAN LABORATORIS PENDERITA SINDROMA GUILLAIN BARRE DI RUANG PERAWATAN ANAK RSU DR. SAIFUL ANWAR MALANG Muid, Masdar
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 21, No 2 (2005)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.715 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2005.021.02.6

Abstract

ABSTRACT Guillain Barre Syndrome is one of the leading diseases from Acute Flaccid Paralysis after the decrease in poliomyelitis. InGuillain Barre Syndrome, the motoric muscles becomes weak and it could also attack the respiratory muscle which is lifethreatening to patients. The objective of this study is to report Guillain Barre Syndrome cases from June 1999 until June2005 based on the clinical manifestation and laboratory in children care unit of dr. Saiful Anwar hospital. In this researchthere were 38 Guillain Barre Syndrome cases which were diagnosed using the Gilroy and Meyer criteria. 22 patients(57,9%)  were  male,  16  patients  (42,1%)  were  female.  18  patients  (43,36%)  were  below  5  years  of  age,  13  patients(34,21%) were between 5 to 10 years of age and 7 patients (18,42%) were between the age of 10 to15 years. The mostcommon infection that precedes was upper respiratory infenction which amounts to 32 cases (84,21%). The latent phasebetween 8 to 14 days were 11 patients (28,94%) and 15 to 21 days were 22 patients (57,89%). The progresive phase 1 to7 days occured in 17 patients (44,73%), 8 to 14 days also in 17 patients (44,73%).The clinical features were paresthesiasfollowed by weakness to 23 patients (60,52%) and weakness only in 15 patients (39,47%). The pattern of weakness bytetraparese  in  5  patients  (13,15%)  and  paraparese  in  33  patients  (86,84%).  The  distribution  of  weakness  was  more
AKTIVASI SPONTAN SEL T LIMFOSIT MENCIT YANG MENGALAMI DEFISIENSI IL2Rβ Endharti, Agustina Tri
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 23, No 1 (2007)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (262.849 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2007.023.01.7

Abstract

Homologous recombination applied to alter specific  endogenous gene, referred as gene targeting, provides the highest level of control over product mutation in cloned genes. In this experiment we showed that by using gene targeting a knock out mutation in IL-2Rβ gene could be generated. The findings of this study indicated that mice lacking the Interleukin-2 receptor β chain (IL2Rβ-/-) had spontaneously activated.T cells. In this study, we investigated abnormal expansion of activated T cells which showed high level of CD69.  These findings suggest that the IL2Rβ-/- mice may serve as animal model for autoimmune diseases and that the accumulation of activated T cell in the future could be usedin clinical setting to cure the diseases. Keywords:T cells, (IL2Rβ-/-), autoimmune
Ekstrak Metanol Daun Kelor Menurunkan Ekspresi BCL-2, TRAIL-R1, dan Kadar Caspase-3 Jaringan Kolon Tikus yang Diinduksi DMBA Sihite, Bov Adventus; endang, tinny
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 27, No 4 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2013.027.04.4

Abstract

Ekstrak metanol daun kelor atau Moringa oleifera dapat berfungsi sebagai antioksidan, antiproliferasi, maupun antitumor. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan pengaruh pemberian ekstrak methanol daun kelor khususnya varietas NTT terhadap ekspresi protein-protein apoptosis (TRAIL R1, Bcl-2, dan caspase-3) pada jaringan kolon tikus wistar yang diinduksi DMBA. Rancangan eksperimental post test group design dilakukan dilakukan pada 30 ekor tikus wistar yang dipilih secara random acak lengkap. Semua tikus dikondisikan dalam keadaan homogen dan dibagi dalam 5 kelompok perlakuan berdasarkan dosis ekstrak metanol daun kelor var NTT dan DMBA yang diberikan secara peroral dan selanjutnya diamati selama 60 hari. Pemeriksaan TRAIL-R1 dan Bcl-2 dengan metode imunohistokimia (Anti human/mouse/rat Bcl-2 purified mouse monoclonal IgG2 dan Anti-m TRAIL R1 purified Rat monoclonal IgG2A, R&D system). Pemeriksaan caspase-3 dengan metode ELISA (human/mouse caspase-3 Duoset IC® ELISA R&D System). Data dianalisis dengan uji ANOVA dan korelasi. Hasil menunjukkan pemberian ekstrak metanol daun kelor var NTT memberikan rerata TRAIL R1 yang lebih rendah bermakna pada dosis 20 dan 40 mg/KgBB  namun tidak pada dosis 80 mg/KgBB. Ketiga dosis tersebut juga memberikan rerata Bcl-2 lebih rendah dibanding kontrol positif. Tidak ada hubungan bermakna rerata caspase-3 antar perlakuan dengan (F=0,375, p=0,824). Dapat disimpulkan pemberian ekstrak metanol daun kelor varian NTT dapat menurunkan ekspresi TRAIL-R1 pada dosis 20 dan 40mg/KgBB dan ekspresi Bcl-2 pada semua dosis namun tidak berpengaruh terhadap kadar rerata caspase-3 pada jaringan kolon tikus yang diinduksi DMBA.Kata Kunci: Bcl-2, caspase-3, daun kelor, DMBA, kanker, TRAIL-R1
Antiplasmodial Test of Tinospora crispa Stem Extract against Plasmodium falciparum 3D7 Strain In Vitro Ihwan, Ihwan; Rifa'i, Muhaimin; Fitri, Loeki Enggar
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 28, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2014.028.02.6

Abstract

This study aimed to prove the existence of anti-plasmodial activity from Tinospora crispa (T. crispa) stem extracts and to determine the IC50 values as well as the best T. crispa stem extract concentration in inhibiting the growth of P. falciparum 3D7 strain in vitro. The degree of parasitemia was observed by counting the number of infected red blood cells in Giemsa stained blood films under a light microscope with a magnification of 1000x. The Plasmodium DNA concentration was measured using flow cytometryc with Propidium Iodide (PI) staining. Analysis of fourier transform infrared (FTIR) spectrophotometer showed that the methanol extracts of T. crispa stem contained tinocrisposide compound. From the quantitative test results of Thin Layer Chromatography (TLC), it was obtained 0,22 % alkaloids that might contain compounds of berberine and palmatine. One way ANOVA statistical analysis showed that the degree of parasitemia and the concentration parasite DNA of treatment group of dose of 2,0mg/ml was significantly lower compared to the control group after 48 hours (p=0,001) and 72 hours (p=0,001) of incubation. The T. crispastem methanol extract has anti-plasmodium activity, with IC50 values between 0,27 mg/ml and 0,29mg/ml, and the effective dose to inhibit the growth of P. falciparum 3D7 strain is 2,0 mg/ml with reducing parasitemia degree by 47,12% and 56,83% after 72 hours of incubation. From this study shown the methanol extract of T. crispastem was able to reduce the parasitemia degree of P. falciparum 3D7 strain in vitro and could to be a potential candidate for anti malarias.Keywords: Antiplasmodium, methanol extract, T. crispa, Plasmodium falciparum
Implementasi Komunikasi Efektif Perawat-Dokter dengan Telepon di Ruang ICU Rumah Sakit Wava Husada Nazri, Fajar; S, Siti Juhariah; S, Muhammad Arif
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 28, No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2015.028.02.11

Abstract

Komunikasi antara perawat dengan dokter melalui telepon di ruang ICU cenderung lebih berisiko terjadi kasus-kasus sentinel. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran implementasi komunikasi efektif perawat-dokter melalui telepon dan pengalaman perawat berkomunikasi dengan dokter. Penelitian dilakukan dengan pendekatan studi observasional deskriptif terhadap perawat di ruang ICU. Pengukuran frekuensi implementasi komunikasi perawat dengan dokter melalui telepon dilakukan menggunakan lembar audit teknik komunikasi SBAR dan TBAK, dan survey menggunakan kuesioner. Hasil penelitian ini ditemukan komponen A (Assessment) merupakan komponen komunikasi SBAR dengan frekuensi terendah (21%). Audit teknik komunikasi TBAK menemukan perawat tidak melakukan konfirmasi kembali (0%) ketika berkomunikasi dengan dokter melalui telepon. Permasalahan yang dialami perawat ketika berkomunikasi dengan dokter diantaranya perawat sulit menghubungi dokter (50%), dan perawat merasa mengganggu dokter sebelum berkomunikasi (50%). Kebiasaan dokter berkomunikasi dan pembatasan waktu telepon ruangan merupakan situasi sulit yang sering dialami perawat saat berkomunikasi. Lemahnya kemampuan perawat berkomunikasi dan belum adanya pembakuan teknik komunikasi adalah faktor penghambat komunikasi efektif. Pengembangan standar komunikasi efektif dengan telepon (n=8) dan pelatihan komunikasi bagi tenaga kesehatan (n=7) merupakan dua solusi terpilih. Penelitian ini mengidentifikasi lemahnya komunikasi telepon terutama dalam aspek penilaiaan dan konfirmasi kembali yang dapat meningkatkan risiko insiden keselamatan. Ketiadaan teknik komunikasi yang baku dan kelemahan kemampuan perawat untuk berkomunikasi merupakan akar pemasalahan komunikasi telepon yang tidak efektif yang dapat dikelola dengan standar komunikasi dan pelatihan.Kata Kunci: Dokter, ICU, komunikasi efektif, perawat, telepon
Keterlambatan Diagnosis Diabetes Mellitus pada Kehamilan Brahmantyo, Herwindo Pudjo; Nurshanty, Ade; Sasiarini, Laksmi
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 29, No. 3 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2017.029.03.18

Abstract

Prevalensi wanita dengan diagnosis Diabetes Mellitus (DM) meningkat sepanjang tahunnya termasuk dalam kehamilan. Kami laporkan kasus seorang wanita 36 tahun dengan persalinan anak pertama yang dikonsultasikan dengan peningkatan gula darah sesudah persalinan. Dari hasil anamnesa dan pemeriksaan fisik tidak didapatkan riwayat DM pada pasien dan keluarga yang dapat menjadi penyebab keterlambatan diagnosis DM pada kehamilan. Anamnesis, observasi dan hasil pemeriksaan laboratorium mengindikasikan potensi DM yang dimulai sebelum kehamilan namun tidak dikonfirmasi melalui skrining pemeriksaan gula darah pada kehamilan. Bayi yang dilahirkan mempunyai berat badan normal namun sempat mengalami hipoglikemia. Pasien diberikan terapi injeksi insulin basal dimulai pada dosis 6 iu dan dinaikkan bertahap menjadi 8 iu dan 10 iu, sesuai dengan hasil evaluasi hingga tujuan terapi tercapai. Kasus ini menunjukkan pentingnya penggalian riwayat dengan teliti dan skrining DM dalam kehamilan pada mereka yang berisiko untuk mencegah komplikasi pada janin maupun ibu. Kata Kunci: Diabetes mellitus, kehamilan, komplikasiÂ