cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Gedung Graha Medika Lt. 1, Ruang 104
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Brawijaya
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 02169347     EISSN : 23380772     DOI : http://dx.doi.org/10.21776/ub.jkb
Core Subject : Health,
JKB contains articles from research that focus on basic medicine, clinical medicine, epidemiology, and preventive medicine (social medicine).
Articles 822 Documents
Penyebab dan Solusi Lama Waktu Tunggu Pelayanan Obat di Instalasi Farmasi Rawat Jalan Rumah Sakit Faramita, Nanditya Ika; Wiyanto, Satra
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 29, No 3 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2084.453 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2016.029.03.2

Abstract

Waktu tunggu pelayanan obat merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kepuasan pasien. Tahun 2013 kepuasan pasien terhadap waktu tunggu pelayanan obat di Instalasi Farmasi Rawat Jalan (IFRJ) Rumah Sakit X sebesar 57,7%, menurun dari tahun sebelumnya yaitu 85%. Berdasarkan hasil studi pendahuluan, diketahui bahwa rata-rata waktu tunggu pelayanan obat di IFRJ adalah 66 menit, lebih rendah dari Standar Pelayanan Minimum (SPM) yang ditetapkan. Hal ini mengindikasikan bahwa pelayanan obat di IFRJ belum maksimal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor penyebab dan menemukan solusi atas permasalahan waktu tunggu pelayanan obat. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif dengan melakukan analisa alur pelayanan, observasi, wawancara, dan diskusi grup. Pencarian akar masalah dilakukan melalui Fokus Grup Diskusi (FGD) dengan peserta petugas IFRJ dan Manajer Penunjang Medis. Hasil penelitian menunjukkan adanya penumpukan resep pada petugas entri IFRJ. Hal tersebut disebabkan resep dokter belum sesuai dengan kebijakan obat RS, banyaknya obat racikan, petugas farmasi juga berperan sebagai customer service, dan kesulitan pemenuhan SDM. Berdasarkan daftar permasalahan tersebut dilakukan analisa “5 Why” dan brainstrorming untuk menemukan akar masalah. Akar masalah yang ditemukan adalah komunikasi yang kurang efektif antara staf IFRJ dengan staf medis. Solusi yang disepakati yaitu membentuk tim untuk menjembatani komunikasi antara staf IFRJ dan staf medis. Terbentuknya tim ini diharapkan dapat memperbaiki komunikasi antara staf IFRJ dan staf medis sebagai upaya perbaikan waktu tunggu pelayanan obat di IFRJ.Kata Kunci: Farmasi rawat jalan, waktu tunggu
RISIKO MALNUTRISI TERHADAP JUMLAH CD4⁺ ORANG DENGAN HIV/AIDS YANG MENJALANI TERAPI ANTIRETROVIRAL DI MIMIKA Adiningsih, Setyo; Widiyanti, Mirna
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 30, No. 1 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.703 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2018.030.01.8

Abstract

Hubungan status gizi dengan Cluster of Differentiation 4 (CD4?) pada Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) yang menjalani terapi antiretroviral (ARV) di Papua belum banyak diketahui. Penelitian bertujuan menganalisis hubungan status gizi terhadap jumlah CD4? subjek penelitian. Parameter status gizi yang digunakan yaitu Indeks Massa Tubuh (IMT) dan anemia. Jenis penelitian adalah observasional deskriptif dengan desain cross-sectional. Inklusi yaitu pasien laki-laki dan perempuan sedang terapi ARV minimal 6 bulan, memiliki data CD4? dan rekam medis lengkap. Subjek penelitian yaitu 64 pasien HIV/AIDS yang menjalani terapi ARV di Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM) Mimika Papua bulan Januari sampai Oktober 2015, telah menyetujui inform consent dan memenuhi kriteria inklusi. Data dianalisis menggunakan statistik Fisher's Exact test dan Odds Ratio (OR). Mayoritas subjek penelitian adalah perempuan sebanyak 76,6%, kisaran umur 15-35 tahun sebanyak 60,9%, IMT >18,5 sebanyak 85,9%, kadar hemoglobin (Hb) <13g/dL sebanyak 73,4%, dan lama terapi ?60 bulan sebanyak 75%. Hasil Fisher's Exact test dan OR, ada hubungan signifikan IMT terhadap jumlah CD4? dengan nilai p?0,05=0,006 dan OR=13,867 serta 95% interval konvidensi (CI)=2,396-80,266. Hal ini menunjukkan subjek penelitian dengan IMT?18,5 atau malnutrisi berisiko 13,867 kali untuk memiliki jumlah CD4? ?200sel/ul dibandingkan subjek dengan IMT?18,5. Variabel jenis kelamin, umur, kadar Hb, dan lama terapi ARV tidak berhubungan signifikan dengan jumlah CD4?. IMT kurus (malnutrisi) berhubungan signifikan dengan jumlah CD4? rendah yaitu ?200sel/ul. Jumlah CD4? ?200sel/ul berisiko mempercepat status HIV menjadi stadium 4 atau sakit berat yang mengarah kepada AIDS. 
EKSPRESI GLUT4 PADA NEURON HIPOKAMPUS RATTUS NOVERGICUS DIABETIK YANG DIINJEKSI STREPTOZOTOCIN DAN NICOTINAMIDE Harahap, Herpan Syafii; Padauleng, Novrita; Nurhidayati, Nurhidayati; Ekawanti, Ardiana
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 30, No 3 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2019.030.03.6

Abstract

Diabetes melitus merupakan faktor risiko independen untuk terjadinya gangguan kognisi. Upaya pengembangan hewan coba untuk penelitian pengaruh diabetes terhadap kognisi terus dilakukan. Rattus novergicus merupakan salah satu spesies tikus yang sering digunakan sebagai hewan model diabetik melalui injeksi streptozotocin. Protein GLUT4 neuron hipokampus diduga berperan penting dalam mempertahankan fungsi kognitif yang pada kondisi hiperglikemia. Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi ekspresi GLUT4 pada neuron hipokampus Rattus novergicus diabetik yang diinjeksi streptozotocin dan nicotinamide. Penelitian eksperimental ini dilakukan dengan menggunakan 20 ekor Rattus novergicus yang dibagi secara acak menjadi 4 kelompok, yaitu 2 kelompok kontrol (K1 dan K2) dan 2 kelompok diabetik (D1 dan D2). Masing-masing kelompok terdiri dari 5 ekor tikus. Rattus norvegicus pada kelompok D1 dan D2 diinduksi diabetes dengan injeksi streptozotocin 70mg/kgBB dan nicotinamide 110mg/kgBB secara intraperitoneal dosis tunggal. Kadar glukosa darah puasa diperiksa pada hari ke-4 untuk memastikan tikus model diabetik mengalami hiperglikemia. Tikus kelompok K1 dan D1 diterminasi pada hari ke-7, sedangkan tikus kelompok K2 dan D2 diterminasi pada hari ke-14. Dilakukan pengambilan jaringan otak dan pemeriksaan imunohistokimia untuk melihat ekspresi GLUT4 pada neuron hipokampus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata ekpresi GLUT4 pada tikus kelompok diabetik secara signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan tikus kelompok kontrol pada pengamatan hari ke-14 (p<0,05), namun tidak pada pengamatan hari ke-7 (p>0,05). Rerata ekspresi GLUT4 tikus kelompok diabetik secara signifikan lebih tinggi pada pengamatan hari ke-14 dibandingkan dengan pengamatan hari ke-7 (p<0,05). Dapat disimpulkan, terjadi peningkatan ekspresi GLUT4 pada neuron hipokampus Rattus novergicus diabetik yang diinjeksi streptozotocin dan nicotinamide.
Efek Quercetin terhadap Kadar Adipocyte-Fatty Acid Binding Protein Sudiarto, Sudiarto; Soeharto K, Setyawati; Febrina, Shinta
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 26, No 1 (2010)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (514.29 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2010.026.01.2

Abstract

ABSTRAKDiet tinggi lemak, meningkatkan resiko aterosklerosis akibat stress oksidatif LDL yang di tunjukkan dengan peningkatan petanda  inflamasi Adipocyte Fatty Acid Binding Protein  ( A-FABP  ). Quercetin, senyawa  flavonoid mempunyai potensi antioksidan. Penelitian dilakukan untuk membuktikan efek pemberian quercetin  terhadap penurunan serum A-FABP. Desain post test only control group dilakukan dengan hewan coba tikus wistar  jantan yang di bagi dalam 2 kelompok control  dengan  diet  normal  dan  1% methylcellulose  group,  diet  tinggi  lemak  dengan  1% methylcellulose,  dan  tiga kelompok  perlakuan  dengan  diet  tinggi  lemak  dan  pemberian  quercetin  dosis  2mg/kgBB,  10mg/kgBB,  quercetin 50mg/kgBB. Berbeda dengan hipotesis uji pearson menunjukkan hubungan korelasi positif peningkatan dosis quercetin   dengan AFBP serum concentrations  ( p<0.05,  r=0,97).Kata Kunci  : Adipocyte –Fatty Acid Binding Protein, diet  tinggi  lemak, quercetin
FAKTOR-FAKTOR YANG MELATARBELAKANGI MOTIVASI SESEORANG UNTUK MENGGUNAKAN SUNTIKAN SILICONE CAIR DI MALANG TAHUN 2001 Asmika, Asmika; Chuluq, Chusnul; Sutrisnani, Catur Suci
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 21, No 2 (2005)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (132.276 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2005.021.02.7

Abstract

ABSTRACT Recently it has been reported that some women have suffered from illness complication as the effect of the use the liquid silicone to beautify themselves. Knowledge deprivation and eagerness to achieve complete beauty in an easy and cheap way makes them undertake a short cut which is getting the injection. The research is intended to know some factors underlying a person’s motivation to use liquid silicone injection in Malang in 2001. The research was a descriptive cross sectional method. The population was person who use liquid silicone injection in Malang 2001, this assume were 20 persons during the research (June – December 2001). This research showed that 15 respondents (75 %) of the samples knew the benefits of liquid silicone injection but did not know the effect of the injection, the education of this respondents were secondary and tertiary level 13 respondents (65 %), 6 respondents (30 %) of the sample working as beauticians, 6 respondents (30 %) of the samples having salary  Rp. 250.000,00 - Rp.500.000,00 per month,  9 respondents (45 %) of the samples feeling more beautiful and self confident after getting liquid silicone injection, 6 respondents (30 %) of the samples getting family permission, 12 respondents (60 %) of the samples having a social network to use the injection, 5 respondents (25 %) of the samples getting secondary health services and 4 respondents (20 %) of the samples getting
PENGARUH LINGKUNGAN KERJA PERAWAT TERHADAP PELAKSANAAN PRAKTEK KEPERAWATAN DI RUMAH SAKIT UMUM Dr. SAIFUL ANWAR MALANG TAHUN 2006 Putra, Kuswantoro Rusca; Hamid, Achir Yani S.; Mustikasari, Mustikasari
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 23, No 1 (2007)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.872 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2007.023.01.9

Abstract

The implementation of nursing practice is related tonurses' working environment. The working environment components consist of leadership, culture and management; control over workload; control over practice; and adequate source. The purpose of this study is to identify any correlation between the nurses work environment with the implementation of nursing practice. The research was conducted in IRNA(Inpatients Ward) I and of IRNA II RSU Dr. Saiful  Anwar on May 1stuntil 20th, 2006. Correlation was chosen as the research design using cross sectional study on 196 nurses with two instruments: nurses' work environment, and implementation of nursing practice. The result based on analysis with regression linier indicates that there is a significant correlation between working nurse environment(leadership, culture and management; control over workload; control overpractice; and adequate source) with the implementation of nursing practice (p &lt; 0.05) and control over practice is the biggest sub variable that influences the implementation of nursing practice(B=1.302). In conclusion, the nurse’s working environment influences implementation of nursingpractice in hospital. Keywords:Work environment, Implementation of nursing practice
Determinan Keberhasilan Pemberian Air Susu Ibu Eksklusif Kurniawan, Bayu
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 27, No 4 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (515.539 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2013.027.04.11

Abstract

Pemberian ASI eksklusif secara nasional pada tahun 2010-2012 hanya 33,6-35%. Menyusui adalah perilaku kesehatan multidimensional yang dipengaruhi oleh interaksi dari faktor sosial, demografi, biologi, pre/postnatal, dan psikologi. Penelitian dilakukan untuk mengidentifikasi faktor determinan pemberian ASI eksklusif. Cross sectional retrospective study dilakukan di Instalasi Rawat Jalan dan Rawat Inap RS Muhammadiyah Lamongan pada Januari-Maret 2013. Sebanyak 150 ibu dari anak berusia 6-24 bulan dilibatkan sebagai sampel penelitian yang diambil dengan metode purposive quota sampling. Kuesioner digunakan sebagai instrumen penelitian untuk mengevaluasi faktor sosiodemografik, pre/postnatal, dan psikososial terhadap keberhasilan ibu memberikan ASI eksklusif dengan uji korelasi Spearman. Hasil menunjukkan angka ASI eksklusif sebesar 35,3% dengan masa pemberian terbanyak sampai usia 4 bulan. Permasalahan menyusui (rs=0,249, p=0,002) dan kunjungan ke klinik laktasi, keinginan (rs=0,306, p=0,000), keyakinan (rs=0,306, p=0,000), dan persepsi ibu tentang kepuasan bayi saat menyusu (rs=0,263, p=0,001), dukungan suami (rs=0,318, p=0,000) dan orang tua (rs=0,290, p=0,000) mendorong keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Usia tua (rs=-0,196, p=0,016), ibu bekerja (rs=-0,170, p=0,038), pemberian susu formula di instansi pelayanan kesehatan(rs=-0,335, p=0,000), MPASI dini pada bayi usia &lt;6 bulan (rs=-0,710, p=0,000), dan pemakaian empeng (pacifier) (rs=-0,189, p=0,020) menjadi faktor yang menghalangi keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Pemberian MPASI dini merupakan faktor determinan negative yang paling kuat, sedangkan keyakinan dan persepsi ibu yang kuat tentang menyusui merupkan faktor determinan positif yang paling kuat. Kata Kunci: ASI eksklusif, pre/post natal, psikososial, sosiodemografi
Ekstrak Ethanol Daun Sirsak (Annona Muricata) Berpotensi Memiliki Efek Kemoterapi pada Kanker Payudara Tikus Putih Kasban, Muhartono Sudarmo; Windarti, Indri; Busman, Hendri; S, Hendri Tarigan; DJ, Bayu Putra
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 28, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (558.289 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2014.028.02.7

Abstract

Kanker payudara merupakan jenis kanker yang terbanyak di derita wanita dan memerlukan kemoterapi berbiaya tinggi dengan efek samping yang banyak. Daun sirsak (Annona muricata) mengandung senyawa asetogenin bersifat sitotoksik terhadap sel kanker. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek kemoterapi daun sirsak pada kanker payudara tikus. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang dilakukan di Laboratorium Patologi Anatomi FK Unila pada bulan Mei-September 2013 dengan menggunakan 25 ekor tikus betina  Sprague Dawley yang dibagi dalam 5 kelompok, yaitu Kelompok I, kontrol negatif; kelompok II, diberikan 75mg/kg BB DMBA, kelompok III diberikan 75mg/kg BB DMBA+ekstrak daun sirsak 100mg/kgBB, kelompok III, 75mg/kg BB DMBA + ekstrak daun sirsak 200mg/kgBB, 75mg/kg BB DMBA+ekstrak daun sirsak III 400mg/kgBB. Ekstrak daun sirsak diberikan selama 4 minggu. Dilakukan pemeriksaan histopatologi untuk menilai apoptosis yang terjadi setelah pemberian daun sirsak. Hasil dianalisis menggunakan uji Kruskall Wallis dan uji Man Whitney. Pemberian ekstrak etanol daun sirsak dapat memicu kejadian apoptosis pada KIII, KIV, KV sebesar 2,5%, 3,44%, dan 3,56% lebih tinggi dari kejadian apoptosis kelompok kontrol positif sebesar 1,80% (p&lt;0,05). Dapat disimpulkan ekstrak etanol daun sirsak berpotensi memiliki efek kemoterapi pada kanker payudara tikus putih yang diinduksi DMBA.Kata Kunci: Ekstrak daun sirsak, efek kemoterapi, DMBA, kanker payudara
Faktor Sumber Daya Manusia dan Komitmen Manajemen yang Mempengaruhi Surveillance Infeksi Nosokomial di Rumah Sakit Paru Batu S, Yuni Kartika; Hariyanti, Tita; Pujiastuti, Lucia
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 28, No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2015.028.02.12

Abstract

Surveilans infeksi nosokomial merupakan salah satu kegiatan dalam program Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) di rumah sakit. Studi Pendahuluan menunjukkan angka kejadian plebitis di RS Paru Batu pada tahun 2013 tercatat sebesar 8,23% dan pada bulan Juni 2014 tercatat sebesar 6,3%. Kejadian ini cukup tinggi mengingat standar kejadian plebitis yang direkomendasikan oleh standar pelayanan medis minimal tahun 2008 adalah sebesar ≤1,5%.. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi akar permasalahan kurang optimalnya pelaksanaan program pelaporan surveillance infeksi nosocomial di RS Paru Batu. Penelitian dilakukan dengan pendekatan deskriptif kualitatif dengan studi dokumen, wawancara terstruktur dan observasi. Pencarian akar masalah dilakukan dengan melakukan Focus Group Discussion dengan peserta 1 perawat IPCN (Infection Prevention Control Nurse), 8 kepala ruangan rawat inap di RS Paru Batu, koordinator keperawatan dan koordinator pelayanan medis. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar komponen surveilans belum dijalankan dengan benar sesuai Petunjuk Teknis Surveilans dari Kemenkes tahun 2010. Hal tersebut disebabkan kurangnya dukungan manajemen untuk program dan sarana penunjang PPI, belum adanya sosialisasi program kepada seluruh pelaksana surveilans, serta belum adanya fungsi pengawasan terhadap pelaksanaan program surveilans infeksi nosokomial. Hasil tapisan pilihan solusi terbaik dengan skala matriks adalah pengesahan SK pengangkatan Komite dan Tim PPI, menyusun panduan surveilans infeksi nosokomial dan sosialisasi surveilans infeksi nosokomial.Kata Kunci:  Angka kejadian plebitis, IPCN, sumberdaya manusia, surveilans infeksi nosokomial
Infeksi HIV Bersamaan dengan Systemic Lupus Erythematosus Sariningsih, Fajar; Suryana, Bagus Putu Putra; Ismanoe, Gatoet
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 29, No. 3 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2017.029.03.14

Abstract

Munculnya Systemic Lupus Erythematosus (SLE) dan Human Immuno Deficiency Virus (HIV) yang terjadi secara bersamaan merupakan hal yang eksklusif. Tulisan ini melaporkan kasus HIV dan SLE yang terjadi bersamaan pada seorang wanita usia 50 tahun. Pasien mengalami keluhan yang mendukung adanya infeksi HIV dengan ditemukannya gejala diare kronis, penurunan berat badan, batuk-batuk, demam-demam, kelelahan badan, sariawan, nyeri sendi, dan allopesia. Pemeriksaan laboratorium yang mendukung diagnosis HIV pada pasien ini adalah peningkatan LED, tes determinan yang reaktif, dan penurunan CD4+. Pasien juga menderita SLE yang ditunjukkan dengan ditemukannya gejala allopesia (kerontokan rambut), sariawan yang tidak nyeri, sering menderita sakit sendi-sendi, demam yang hilang timbul tanpa penyebab jelas, riwayat trombositopenia (penurunan jumlah trombosit), penurunan berat badan. Hasil pemerikaan laboratorium immunologi yang mendukung diagnosis SLE adalah ANA test yang positif, ds DNA yang positif dan coombs test +2. Pemberian terapi antiretroviral dan chloroquin yang diberikan menunjukkan hasil perbaikan gambaran laboratorium dan gejala klinis pada bulan keempat pengobatan.Kata Kunci: Human Immuno Deficiency Virus (HIV), Systemic Lupus Erythematosus (SLE)