cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Gedung Graha Medika Lt. 1, Ruang 104
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Brawijaya
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 02169347     EISSN : 23380772     DOI : http://dx.doi.org/10.21776/ub.jkb
Core Subject : Health,
JKB contains articles from research that focus on basic medicine, clinical medicine, epidemiology, and preventive medicine (social medicine).
Articles 822 Documents
PENGARUH PEMBERIAN DIET TINGGI KARBOHIDRAT DIBANDINGKAN DIET TINGGI LEMAK TERHADAP KADAR TRIGLISERIDA DAN HDL DARAH PADA Rattus novergicus galur wistar Tsalissavrina, Iva; Wahono, Djoko; Handayani, Dian
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 22, No 2 (2006)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (180.452 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2006.022.02.5

Abstract

ABSTRACT The improving social welfare and food availability has created a shift of consumption pattern that leads to high-fat foodsand low-complex carbohydrate, especially the fibrous foods.  As we know,carbohydrate has been considered as the safecomponent of foods, therefore, it is recommended to be consumed more. Recently, more experts have started to thinkabout the role of carbohydrate and the emergence of atherosclerosis. The Purpose of the research was to know the riskof high carbohydrate diet application compared to high fat blood triglyceride diet content and high Density Lipoprotein.Complete random design and Post Test Only Control Group was used in this research. Statistic test one way Anova wasused to know the difference resulted from diet aplication, and the situation of the difference continued  by Tukey   Test.The Value of Triglyceride is measured by using Calorimetric Enzymatic test – Glycerol 3 Phosphate –oxidase methodsand the value of HDL is measured by using Cholesterol Hydrolise – oxidase methods.  The result showed that the highestvalue of triglyceride were on the high fat diet group ( 169 mg/dl), followed by high carbohydrate diet ( 130,2 mg/dl) and thelowest was normal diet (81,2 mg/dl). The lowest value of HDL were on the normal diet group (32,7 mg/dl), followed byhigh fat diet (34,2 mg/dl) and the highest was high carbohydrate diet (38,4 mg/dl). The result of the statistical test over the
PENGARUH PEMBERIAN KOMBINASI NAC DENGAN VITAMIN C DAN E TERHADAP STRES OKSIDATIF PADA HUVECs DIPAPAR PLASMA EKLAMPSIA Baktiyani, Siti Candra Windu
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 23, No 3 (2007)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (403.873 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2007.023.03.6

Abstract

The blood plasma of preeclampsia contains oxidative stress factors. The oxidative stress is predicted asthe cause of dis-function and destruction of endothelial cell which will influence the severity of Preeclampsia and Eclampsia complications. Previous research showed that the treatment of antioxidant on preeclamsia was still controvertion. The  objectives of this research is to investigate the influence of the combination of NAC and vitamin C or vitamin E or bothof them on the level of H2O2, MDA, NO and GSH/GSSG ratio of endothelial cell culture exposed with Eclampsia plasma.The method wasan experimental study using HUVECs exposed with to 2%plasma Eclampsia as an Eclampsia model invitro. TheHUVECs were than treated with NAC 2µM only (group 1), NAC2µM + vitamin C 100 µM (group 2) , NAC 2 µM + vitamin E 100 µM (group 3), and NAC 2 µM + vitamin C 100 µM + vitamin E 100 µM (group 4) for 24 hours. The parameter measured in this study were H2O2, MDA, NO and GSH/GSSG ratio. Result showed that H2O2, MDA, and NO concentration are unsignificantly different among treatment groups although there was a decreasing on group treated with combination of NAC, vitamin C and Vitamin E.
Hubungan Orang Tua Perokok dengan Status Refraksi pada Anak F, Nur Khoma; A, Nanda Wahyu
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 27, No 4 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (490.714 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2013.027.04.9

Abstract

Hubungan antara orang tua perokok dengan status refraksi sampai saat ini belum begitu jelas. Hasil penelitian secara eksperimental pada hewan coba dan secara observasional pada manusia mempunyai hasil yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara orang tua yang merokok dengan status refraksi dan parameter biometri okular pada anak. Penelitian ini merupakan suatu penelitian analitik  observasional  pada pasien yang berkunjung ke poli mata sub divisi refraksi periode 1 September 2011 sampai 30 April 2012 dan didiagnosa dengan miopia, emetropia atau hipermetropia. Parameter biometri okular diukur menggunakan biometri. Rerata ketebalan kornea sentral  536,89±10,38 µm, panjang bola mata 24,11±1,29 mm, kedalaman bilik mata depan 3,62±0,29 mm dan ketebalan lensa 3,45±0,15 mm. Panjang bola mata dan kedalaman bilik mata depan didapatkan perbedaan yang bermakna antara kelompok dengan orang tua perokok dan yang tidak merokok. Orang tua perokok mempunyai hubungan yang signifikan dengan status refraksi, panjang bola mata dan kedalaman bilik mata depan, tetapi tidak berhubungan dengan ketebalan lensa.Kata Kunci: Anak, orang tua, parameter biometri okular,  rokok, status refraksi
Hubungan Status Refraksi, dengan Kebiasaan Membaca, Aktivitas di Depan Komputer, dan Status Refraksi Orang Tua pada Anak Usia Sekolah Dasar Komariah, Cicih; A, Nanda Wahyu
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 28, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (508.853 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2014.028.02.14

Abstract

Status refraksi seseorang dapat dipengaruhi oleh status faktor keturunan, kebiasaan membaca dan aktivitas di depan komputer. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pola status refraksi, kebiasaan membaca, aktivitas di depan komputer, dengan status refraksi orang tua pada anak usia sekolah dasar. Penelitian dilakukan dengan survei pada siswa Madrasah Ibtidaiyah Khadijah kelas 4 sampai 6. Data tentang status refraksi orang tua serta kebiasaan membaca dan aktivitas di depan komputer siswa diperoleh dengan menggunakan kuesioner, sedangkan status refraksi siswa diperoleh dengan menggunakan lensa coba dan Snellen Chart. Hasil penelitian menunjukkan, aktivitas membaca dalam waktu lama dan pada jarak dekat, kemudian rutinitas berada di depan layar komputer dengan durasi waktu yang panjang banyak didapatkan pada siswa miopia. Sebagian besar siswa hiperopia dan miopia mempunyai orang tua dengan status refraksi yang sama. Pada sebagian besar siswa yang tidak berkaca mata, orang tuanya juga tidak berkaca mata. Kebiasaan membaca lama dan dekat, serta aktivitas di depan komputer yang lama banyak didapatkan pada status refraksi tertentu. Status refraksi siswa sebagian besar sama dengan status refraksi orang tuanya. Hasil mengindikasikan hubungan pola kebiasaan membaca dan penggunaan komputer serta status refraksi orang tua dengan status refraksi anak.Kata Kunci: Aktivitas di depan komputer, kebiasaan membaca, status refraksi anak, status refraksi orang tua
Antidiabetic and Antioxidant Activities of 70% Ethanol-Diluted Extract of Piper Crocatum Leaves in Stretozotocin Induced Diabetic Rats Jusup, Sinu Andhi
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 29, No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2016.029.01.1

Abstract

Red betel plant (Piper crocatum) has been empirically used to cure diabetes mellitus. However, data regarding this plant are still limited. The aim of this study was to find antidiabetic and antioxidant activities of 70% ethanol-diluted extract of Piper crocatum leaves. Thirty Wistar rats aged 4 months were divided into 6 groups (I-VI) randomly. The groups of I-IV were injected with 40 mg i.p streptozotosin to induce DM. All groups were treated for 21 days. Group I (normal control group) and group II (diabetic control group) were given normal saline, while group III, IV, and V were treated with various doses of 70% ethanol-diluted extract of Piper crocatum  leaves (50, 100, 200 mg/kg.b.w/day). Group VI (positive control group) was given glibenclamide 0,9 mg/kg.b.w/day. On day 21, the body weight, fasting blood glucose, plasma MDA, and insulin levels of all rats were examined. The data were processed using statistics to determine the effectiveness of antidiabetic and antioxidant activities of the extract. A significant decrease in fasting blood glucose and plasma MDA levels were observed in group III, IV, and V (p=0,00), when compared to group II (diabetic control group). A significant increase in body weight (p=0,04) and plasma insulin levels (p=0,008) occurred in group V only. In conclusion, seventy percent ethanol-diluted extract of Piper crocatum leaves has potential antidiabetic and antioxidant activities.
Hubungan Faktor Risiko Malnutrisi dan Kadar Albumin Serum terhadap Lama Rawat Inap Pasien Kanker Ginekologi Larasati, Meirina Dwi; Probandari, Ari Natalia; Pamungkasari, Eti Poncorini
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 29, No. 4 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2017.029.04.6

Abstract

Skrining gizi menjadi tahapan awal penentuan risiko malnutrisi dan albumin sebagai salah satu parameter malnutrisi. Keduanya dapat mengidentifikasi status gizi dan menentukan intervensi gizi dalam mencegah komplikasi dan memperpendek masa lama rawat inap. Tujuan penelitian untuk menganalisis hubungan risiko malnutrisi yang diukur menggunakan Malnutrition Screening Tool (MST) dan kadar albumin serum terhadap lama rawat inap pasien kanker ginekologi. Penelitian observasional dengan rancangan kohort prospektif dilakukan pada bulan Februari s.d April 2016. Sebanyak 64 pasien dilakukan skrining risiko malnutrisi menggunakan MST dengan wawancara. Kadar albumin serum dan lama rawat inap dilihat dari catatan medis pasien. MST mampu mendeteksi risiko malnutrisi pada 33 orang (51,6%) dan tidak berisiko manlutrisi pada 31 orang (48,4%). Meskipun secara statistik tidak signifikan subjek berisiko malnutrisi meningkatkan lama rawat inap 0,66 kali (95% CI=0,29-1,51) dan hipoalbumin 1,31 kali (95% CI=0,47-3,66). Tindakan pembedahan dan status bekerja menjadi faktor yang berperan pada lama rawat inap pasien kanker ginekologi.
Korelasi antara kadar Osteocalcin, HbA1C dan 25(OH)D3 pada Anak dengan Diabetes Melitus Tipe 1 wulandari, hajeng
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 30, No 2 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (583.09 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2018.030.02.5

Abstract

Masalah yang terjadi di banyak negara salah satunya adalah Diabetes Melitus tipe 1. Prevalensi DM tipe 1 di Indonesia masih belum jelas. DM tipe 1 disebabkan berkurangnya sekresi insulin akibat kerusakan fungsi sel β pankreas oleh karena respon autoimun. Diabetik osteopati merupakan salah satu komplikasi DM, yaitu peningkatan terjadinya osteoporosis. Penelitian ini bertujuan mencari korelasi antara kadar 25(OH)D3, kontrol glikemik dengan mengukur kadar HbA1c dan osteocalcin , sebagai penanda biokimia struktur tulang. Dua puluh enam anak dengan DM tipe 1 adalah sebagai subjek penelitian. Data dianalisis secara statistik dengan menggunakan Shapiro Wilk, korelasi Pearson dan Spearman. Karakteristik sampel menunjukkan jenis kelamin didominasi perempuan 58%  dan didominasi dengan gizi baik (73%). Status vitamin D didominasi defisiensi (61,5%). Kadar HbA1C <7,5 % sebanyak 27%. Rerata usia pasien adalah 12,31 ± 3,069 tahun, dosis insulin 1,17±0,233 IU, kadar GDP 115,08±46,742 mg/dL, dan kadar GDS 144,65±76,365 mg/dL. Tidak didapatkan korelasi yang signifikan antara kadar HbA1c (p=0,472, r=-0,148) dan osteocalcin (p=0,407, r=0,17) dengan kadar 25(OH)D3. Demikian juga antara osteocalcin dan kadar HbA1c. Kesimpulan tidak diapatkan korelasi antara kadar osteocalcin , kadar HbA1c,  dan kadar 25(OH)D3.
Aktifitas Fisik Berat Menyebabkan Degenerasi Sel Hepatosit melalui Mekanisme Stres Oksidatif hairrudin, Hairrudin; Helianti, Dina; Widiastuti, Yulestrina
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 27, No 2 (2012)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2012.027.02.2

Abstract

Hepar mempunyai peranan yang penting dalam mempertahankan homeostasis metabolisme tubuh. Stres oksidatif akibat aktifitas fisik berat dapat meningkatkan produksi Reactive Oxygen Species (ROS) yang kemudian menyebabkan kondisi patologis pada sel hepatosit, ditandai dengan perubahan struktur dan fungsinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak stres oksidatif akibat aktifitas fisik berat terhadap kerusakan sel hepatosit. Penelitian ini menggunakan 16 ekor tikus putih Wistar jantan yang berumur 3 bulan, dengan berat badan antara 150 s.d. 200 gram yang dibagi ke dalam kelompok kontrol dan perlakuan. Aktifitas fisik berat yang berupa renang dengan beban dan intensitas maksimal diberikan pada kelompok kontrol, dilakukan setiap pagi selama 30 hari. Penilaian stres oksidatif ditentukan melalui pengukuran kadar MDA serum menggunakan teknik Thiobarbituric Acid Reactive Substance (TBARS). Perubahan histopatologi sel hepatosit berupa degenerasi sel dinilai berdasarkan klasifikasi sistem skoring NAFLD dari the Pathology Committee of the NASH Clinical Research Network. Rerata kadar MDA pada kelompok kontrol sebesar 42,38 nmol/ml, sedangkan pada kelompok perlakuan sebesar 89,63 nmol/ml. Pada pengamatan histopatologi hepar menunjukkan adanya proses degenerasi sel. Dapat disimpulkan bahwa aktifitas fisik berat dapat menyebabkan degenerasi sel hepatosit melalui mekanisme stres oksidatif.Kata Kunci: Aktifitas fisik berat, degenerasi, sel hepatosit, stres oksidatif.
MANFAAT PEMBERIAN GELOMBANG ULTRASONIK INTENSITAS RENDAH UNTUK MEMPERCEPAT PEMBENTUKAN KALUS FRAKTUR TIBIA Hantoko, Sidho; Dradjat, Respati Suryanto
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 19, No 2 (2003)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (785.255 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2003.019.02.1

Abstract

ABSTRACT Fracture healing relative require more times.  Many effort have been done to shorten the time, including stimulation with low intensity ultrasonic.    Invitro  studies  and  animal  experimentation  have  been  proved  in  various  results.  Physical  therapy  equipments  in  the hospitals using ultrasonic wave posible to stimulate process of fracture healing. Clinical experimental study was done in our series, the samples was divided randomly into 2 groups.  One group was stimulated with low intensity ultrasonic from Sonopuls-591 with 1 MHz frequency, 0,2 W/cm2 intensity, for 15 minutes.  The other group withuot stimulation as the control group.  The variable were pain, sticky, and callus formation were evaluated perodically. The Results were the degrees of pain in control group higher than control. The bony union (sticky) was no difference within both group.  The callus formation was higher in the treatment group (p = 0,069). Our Conclusion is 15 minutes Low intensity ultrasonic stimulation, that was given 10 times within 3 days time interval was significanly  increase callus formation (p = 0,069). Key words: Fracture healing, ultrasonic, callus formation.
IDENTIIFKASI PROTEIN IMUNOGENIK CHLAMYDIA PNEUMONIAE TERHADAP SERUM PENDERITA INFARK MIOARD AKUT Murwani, Sri; Hidayati, Dwi Yuni Nur
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 23, No 2 (2007)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (661.466 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2007.023.02.6

Abstract

Chlamydia pneumoniae is human respiratory tract pathogen and recently investigated as pathogen causingatherosclerosis and acute myocardial infarction (AMI). This research was carrier out to detect proteinpattern of C. pneumoniae, and to study it relation to AMI throughdetection of immunogenic protein. Design research  was laboratory observational and analyzed descriptively. The subject was C. pneumoniae. Protein pattern the bacteria was detected by electrophoresis method, and to detect the immunogenic protein was done immunoblotting. Serum was obtained from AMI patients in Saiful Anwar and Lavallette hospitals.  The result showed, protein pattern C. pneumoniae wasprotein with molecular weight 117, 107, 97, 91, 86, 61, 58, 52, 46, 44, 34, 23, 19, 9, 5, 4 kDa. Immunogenic proteins vary between AMI patients was 117, 107, 86, 61, 58, 52, 46, 44,  34 kDa. Non immunogenic proteins were 97, 91, 23, 19, 9, 5 and 4 kDa. Protein 61 kDa react to all of patient’s serum. It was concluded, C. pneumoniae have protein fractions 117, 107, 97, 91, 86, 61, 58, 52, 46, 44, 34, 23, 19, 9, 5, and 4kDa. Immunogenic proteins vary between AMI patients was 117, 107, 86, 61, 58, 52, 46, 44, 34 kDa, and 61 kDa was the  immunodominant protein. The result proved C. pneumoniae as causative agent of atherosclerosis and acute myocardial infarction, in Indonesia particularly. Key words:C. pneumoniae, immunogenic, AMI