cover
Contact Name
Desy Sukma Risalahwati
Contact Email
desyrisalahwati22@guru.smk.belajar.id
Phone
+6285727781118
Journal Mail Official
nexusjournal@journalweb.org
Editorial Address
Jalan KH. Abul Hasan, Samarinda, Kalimantan Timur 75116
Location
Kota samarinda,
Kalimantan timur
INDONESIA
Health Education, Advocacy, and Learning
ISSN : -     EISSN : 31235433     DOI : https://doi.org/10.64093/healing
Jurnal Healing: Health Education, Advocacy, and Learning adalah jurnal ilmiah yang berfokus pada bidang kesehatan seperti pendidikan, advokasi, dan pembelajaran kesehatan. Jurnal ini bertujuan untuk menyediakan platform bagi para peneliti, praktisi, dan akademisi untuk berbagi penelitian terbaru, pendekatan inovatif, dan praktek terbaik dalam meningkatkan kesehatan masyarakat melalui pendidikan dan advokasi. Healing juga mengedepankan penelitian interdisipliner yang melibatkan berbagai aspek kesehatan, termasuk aspek sosial, budaya, dan lingkungan yang mempengaruhi kesejahteraan individu dan komunitas. Jurnal ini menerima artikel dalam bentuk penelitian asli, ulasan literatur, kajian teoretis, dan laporan kasus yang berkaitan dengan topik kesehatan dan pendidikan. Dengan komitmen terhadap peningkatan kualitas hidup dan kesehatan, Healing berperan penting dalam menyebarkan pengetahuan yang berbasis bukti kepada para profesional kesehatan, pendidik, dan pembuat kebijakan untuk mendorong perubahan positif dalam masyarakat.
Articles 10 Documents
Peran Teknologi dalam Meningkatkan Kesehatan dan Kebugaran Pemain Sepakbola Ahmad Ma'ruf
Healing: Health Education, Advocacy, and Learning Vol. 1 No. 1 (2025): Healing: Health Education, Advocacy, and Learning
Publisher : Healing: Health Education, Advocacy, and Learning

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64093/healing.v1i1.522

Abstract

Seiring berjalannya waktu, teknologi dalam dunia pendidikan mengalami perkembangan, dan sekarang segala hal menggunakan teknologi untuk mempermudah segala hal, termasuk olahraga. Sepakbola memiliki banyak fitur yang kompleks, dan media dan teknologi harus membantu mengembangkan kompleksitasnya. Selain itu, dengan perkembangan teknologi, menjadi pendorong pengembangan sepak bola melalui penelitian. Jika sepak bola diubah menjadi industri olahraga, itu akan sangat menguntungkan dan memiliki peminat yang sangat besar. Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk mengumpulkan informasi tentang evaluasi aplikasi teknologi digital dalam olahraga sepakbola. Untuk mencapai tujuan ini, literatur sistematik deskriptif diperiksa dengan meninjau dokumen dan artikel jurnal yang relevan dengan topik tersebut. Studi kasus ini bertujuan untuk menentukan penerapan teknologi digital dalam olahraga sepakbola. Analisis data diambil dari buku, jurnal, dan hasil penelitian teoritis dari beberapa artikel yang dipilih sesuai dengan topik pembahasan. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa teknologi yang digunakan dalam olahraga sepakbola sangat maju. Dimulai dari sistem pertandingan, persyaratan pemain dan wasit, bahkan arena atau lapangan
Tantangan dan Solusi dalam Manajemen Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus Yuliana Chairunnisa
Healing: Health Education, Advocacy, and Learning Vol. 1 No. 1 (2025): Healing: Health Education, Advocacy, and Learning
Publisher : Healing: Health Education, Advocacy, and Learning

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64093/healing.v1i1.523

Abstract

Manajemen pendidikan anak berkebutuhan khusus menghadirkan tantangan kompleks bagi pendidik, terutama terkait keterbatasan fasilitas, minimnya pelatihan, dan komunikasi yang belum optimal dengan orang tua maupun siswa. Namun, berbagai solusi dapat diterapkan untuk mengatasi tantangan ini. Strategi pembelajaran individual menjadi kunci dalam memenuhi kebutuhan unik setiap anak, sementara kolaborasi dengan tenaga ahli seperti psikolog, terapis, atau konselor dapat memberikan dukungan tambahan. Pemanfaatan teknologi juga berperan penting dalam menciptakan media pembelajaran yang interaktif dan efektif. Dengan pendekatan yang tepat, pendidik dapat menciptakan lingkungan belajar yang inklusif, di mana setiap anak mendapatkan kesempatan yang setara untuk berkembang secara akademik, sosial, dan emosional. Artikel ini menekankan pentingnya pelatihan berkelanjutan bagi pendidik serta dukungan kebijakan dari institusi pendidikan untuk memastikan implementasi pendidikan inklusif berjalan maksimal.
Adversity Quotient Sebagai Solusi Kesehatan Mental dan Peningkatan Kreativitas di Masa Pandemi Covid-19 Raka Pratama; Nadya Putri Azzahra
Healing: Health Education, Advocacy, and Learning Vol. 1 No. 1 (2025): Healing: Health Education, Advocacy, and Learning
Publisher : Healing: Health Education, Advocacy, and Learning

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64093/healing.v1i1.525

Abstract

Pandemi Covid-19 menghadirkan tantangan kesehatan mental yang signifikan dan berpotensi menghambat kreativitas. Artikel ini mengeksplorasi peran Adversity Quotient (AQ), yaitu kemampuan individu untuk mengatasi kesulitan, sebagai solusi untuk menjaga kesehatan mental dan meningkatkan kreativitas selama masa sulit ini. AQ yang tinggi berkorelasi dengan kemampuan yang lebih baik dalam mengelola stres, kecemasan, dan mempertahankan perspektif positif di tengah ketidakpastian pandemi. Lebih lanjut, AQ juga memfasilitasi pemikiran inovatif dan adaptasi kreatif dalam menghadapi batasan-batasan yang muncul. Artikel ini menyoroti pentingnya AQ sebagai sumber daya psikologis krusial untuk ketahanan mental dan fleksibilitas kognitif, yang memungkinkan individu tidak hanya bertahan tetapi juga berkembang. Selain itu, artikel ini juga menggarisbawahi potensi pengembangan AQ melalui strategi praktis untuk memperkuat kemampuan individu dan organisasi dalam menghadapi tantangan di masa depan dan mendorong pemulihan yang inovatif pasca-pandemi. Dengan demikian, pemahaman dan peningkatan AQ menjadi esensial untuk memelihara kesehatan mental dan memicu kreativitas di era krisis global.
Pola Perilaku Sosial dan Kaitannya dengan Indikator Kesehatan Mental Siswa Tuna Laras di SMP Dimas Arya Nugraha; Aulia Rahma Salsabila
Healing: Health Education, Advocacy, and Learning Vol. 1 No. 1 (2025): Healing: Health Education, Advocacy, and Learning
Publisher : Healing: Health Education, Advocacy, and Learning

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64093/healing.v1i1.526

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi aspek-aspek perilaku sosial siswa tunalaras di SMPN 7 Samarinda. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Tekhnik pengumpulan data menggunakan metode studi kasus. Teknik pengolahan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teknik triangulasi. Hasil penelitian ini berupa identifikasi aspek perilaku social tunalaras meliputi : aspek perilaku, aspek akademik dan aspek emisional. Kemudian mengetahui sejauh mana pemahaman guru BK SMPN 7 Samarinda mengenai perilaku siswa tuna laras. Salah satu guru menjelaskan bahwa perilaku tuna laras merupakan bentuk perbuatan dimana seseorang menjadi sulit mengendalikan emosi, sulit fokus, tidak bisa diam dalam satu tempat untuk waktu yang lama, secara akademik belum bisa mencapai standar yang ada, dan juga saat guru menyampaikan intruksi kepada siswa tuna laras maka ia sering salah paham atau persepsinya berbeda dengan apa yang dimaksud. Salah satu penyebab tuna laras bisa dari pola asuh keluarga yang kurang adanya bimbingan, arahan atau intruksi yang tepat. Cara menangani siswa tuna laras yaitu dengan sabar, konsisten, guru harus perhatian tidak mudah menjudge siswa tuna laras dan memberikan gaya belajar yang tidak monoton disesuaikan dengan keadaan. Dan salah satu solusi untuk anak tuna laras dalam belajar lebih cocok menggunakan metode pembelajaran aktif karna ia mudah bosan terhadap sesuatu.
Program Makanan Gratis: Strategi Intervensi Pemerintah dalam Mencegah Malnutrisi dan Penyakit Tidak Menular Farhan Althaf Ramadhan; Intan Maharani Kusuma; Reza Fadillah Akbar
Healing: Health Education, Advocacy, and Learning Vol. 1 No. 1 (2025): Healing: Health Education, Advocacy, and Learning
Publisher : Healing: Health Education, Advocacy, and Learning

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64093/healing.v1i1.527

Abstract

Program Makanan Gratis merupakan salah satu strategi intervensi yang diterapkan oleh pemerintah Indonesia untuk mengatasi masalah malnutrisi, terutama pada kelompok masyarakat yang rentan. Malnutrisi, yang meliputi kekurangan gizi dan kelebihan gizi, dapat berkontribusi pada peningkatan prevalensi penyakit tidak menular (PTM) seperti diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas program tersebut dalam memperbaiki status gizi dan mencegah timbulnya PTM. Metode yang digunakan dalam penelitian ini meliputi analisis data sekunder dari kementerian terkait, serta survei lapangan pada penerima manfaat program. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program makanan gratis dapat meningkatkan konsumsi gizi seimbang di kalangan keluarga miskin, namun terdapat tantangan dalam pemilihan menu yang tepat dan distribusi yang merata. Diperlukan upaya lebih lanjut dalam memastikan keberlanjutan dan efektivitas program, termasuk penyuluhan tentang pola makan sehat dan perbaikan sistem distribusi. Kesimpulannya, meskipun program ini menunjukkan dampak positif dalam pencegahan malnutrisi dan PTM, penyempurnaan dan pengawasan yang lebih ketat perlu dilakukan untuk mencapai tujuan jangka panjang.
Pendidikan Agama Islam Berbasis Moderasi dan Multikulturalisme: Kerangka Pedagogis untuk Mencegah Intoleransi di Era Globalisasi Suci Ramadhani; Aam Amaliatus Sholihah; Amalia Nur Aini
Healing: Health Education, Advocacy, and Learning Vol. 1 No. 2 (2025): Healing: Health Education, Advocacy, and Learning
Publisher : Healing: Health Education, Advocacy, and Learning

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64093/healing.v1i2.806

Abstract

Indonesia sebagai negara multikultural menghadapi tantangan meningkatnya intoleransi, diskriminasi, dan perundungan berbasis identitas di lingkungan pendidikan. Data Puslitjakdikbud Kemendikbud (2017) dan survei Setara Institute (2023) menunjukkan adanya kecenderungan sikap eksklusif di kalangan pelajar, yang dipengaruhi pemahaman kebangsaan yang sempit, penanaman nilai agama yang eksklusif, serta faktor keluarga. Kajian ini menegaskan urgensi kerangka pedagogis integratif yang menggabungkan Pendidikan Agama Islam (PAI) berbasis moderasi beragama (wasathiyyah) dan pendidikan multikultural untuk membangun iklim sekolah yang dialogis, demokratis, dan inklusif. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain Systematic Literature Review (SLR) mengikuti protokol PRISMA pada literatur tahun 2019 2025, dianalisis melalui content analysis tematik. Hasil sintesis menunjukkan bahwa integrasi nilai moderasi (komitmen kebangsaan, toleransi, anti-kekerasan, keterbukaan budaya) dan dimensi pendidikan multikultural efektif mendorong perubahan paradigma keagamaan peserta didik menuju lebih reflektif, inklusif, serta memperkuat empati sosial. Namun, implementasi masih terkendala resistensi ideologis, kapasitas guru, keterbatasan bahan ajar, dan tantangan literasi digital. Studi ini merekomendasikan penguatan kurikulum, pelatihan guru berkelanjutan, asesmen autentik afektif-sosial, serta kolaborasi sekolah keluarga komunitas untuk pencegahan intoleransi secara berkelanjutan.
Peran Konten Kreator dalam Membangun Literasi Kesehatan Mental di Ruang Digital Sitti Rahmatillah; Kautsar Eka Wardhana
Healing: Health Education, Advocacy, and Learning Vol. 1 No. 2 (2025): Healing: Health Education, Advocacy, and Learning
Publisher : Healing: Health Education, Advocacy, and Learning

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64093/healing.v1i2.807

Abstract

Ruang digital dan platform media sosial kini berperan sebagai salah satu sumber informasi utama bagi masyarakat, termasuk dalam aspek kesehatan mental. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyelidiki kontribusi konten kreator dalam meningkatkan pemahaman tentang kesehatan mental di lingkungan digital, terutama melalui media sosial. Metode yang digunakan meliputi kajian pustaka dan analisis konten untuk menilai bagaimana konten kreator menyampaikan informasi mengenai kesehatan mental secara informatif, menarik, dan mudah diakses. Hasil dari penelitian ini memperlihatkan bahwa konten kreator memiliki peran yang sangat krusial sebagai penghubung informasi dengan memberikan pendidikan yang sesuai, mengurangi stigma, serta menciptakan lingkungan yang aman untuk mendiskusikan masalah kesehatan mental. Melalui metode komunikasi yang lebih kreatif dan personal, konten kreator mampu menarik perhatian audiens yang lebih luas dan mendorong peningkatan kesadaran publik mengenai isu-isu psikologis. Namun, tantangan tetap ada terkait akurasi informasi dan risiko misinformasi tanpa arahan dari para profesional. Temuan penelitian ini menekankan pentingnya kerjasama antara konten kreator dan pakar kesehatan mental untuk menghadirkan konten yang lebih tepat dan berdampak.
Dampak Penggunaan Gadget Terhadap Karakter Peserta Didik Kelas VIII SMP Hasanuddin 6 Semarang Ahmad Rendy Hermawan
Healing: Health Education, Advocacy, and Learning Vol. 1 No. 2 (2025): Healing: Health Education, Advocacy, and Learning
Publisher : Healing: Health Education, Advocacy, and Learning

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64093/healing.v1i2.808

Abstract

Di era digital saat ini banyak peserta didik yang menggunakan gadget dalam kehidupan sehari-hari, khususnya peserta didik di SMP 6 Hasanuddin Kota Semarang. Penggunaan gadget dapat memiliki dampak positif atau negatif, tergantung pada penggunanya.Namun realitanya di SMP 6 Hasanuddin Kota Semarang terdapat beberapa peserta didik yang menggunakan gadget secara sembunyi-sembunyi pada saat jam pelajaran berlangsung meskipun adanya aturan sekolah yang melarang membawa gadget ke kelas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana dampak penggunaan gadget terhadap karakter peserta didik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data diperoleh melalui wawancara kepada guru dan peserta didik kelas VIII yang menggunakan gadget. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gadget memberikaan dampak negatif terhadap karakter peserta didik,diantaranya ketika jam pelajaran berlangsung di kelas peserta didik tidak disiplin , jujur saat belajar dan konsentrasi belajar menjadi terganggu.
Gender dalam Pendidikan Islam Rega Armella; Husnul Yaqin; Noorthaibah
Healing: Health Education, Advocacy, and Learning Vol. 1 No. 2 (2025): Healing: Health Education, Advocacy, and Learning
Publisher : Healing: Health Education, Advocacy, and Learning

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64093/healing.v1i2.809

Abstract

Kesetaraan gender dalam pendidikan Islam masih menjadi isu krusial dalam wacana kontemporer. Meskipun ajaran normatif Islam menempatkan laki-laki dan perempuan pada posisi yang setara dalam kewajiban menuntut ilmu, praktik sosial sering kali belum sepenuhnya mencerminkan nilai-nilai tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara komprehensif konsep gender dalam pendidikan Islam melalui analisis normatif-teologis dan data empiris. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif melalui metode studi kepustakaan, penelitian ini mengkaji sumber-sumber primer (Al-Qur’an dan Hadis) serta sumber-sumber sekunder yang meliputi artikel jurnal, dokumen kebijakan, dan data statistik dari Badan Pusat Statistik Indonesia. Hasil penelitian mengungkapkan lima prinsip fundamental kesetaraan gender dalam Al-Qur’an, yaitu: kesetaraan sebagai hamba Allah, kesetaraan sebagai khalifah di bumi, kesetaraan dalam menerima perjanjian primordial dengan Tuhan, keterlibatan aktif dalam drama kosmik, serta kesetaraan potensi untuk mencapai prestasi maksimal. Analisis terhadap lima dimensi pendidikan Islam akses, kurikulum, metode pembelajaran, model pembelajaran, dan evaluasi menunjukkan adanya kesenjangan antara ideal normatif dan realitas empiris. Meskipun Indeks Ketimpangan Gender menurun dari 0,459 pada tahun 2022 menjadi 0,421 pada tahun 2024, hambatan kultural seperti nilai-nilai patriarkal, penafsiran konservatif terhadap teks-teks keagamaan, dan struktur birokrasi yang maskulin masih menjadi kendala. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pendidikan Islam yang responsif gender memerlukan strategi yang komprehensif melalui penguatan kesadaran akan kesetaraan gender, pengembangan kurikulum yang inklusif, serta penerapan kebijakan Pengarusutamaan Gender di lembaga-lembaga pendidikan Islam.
Kebermaknaan Hidup Pada Anak Korban Broken Home Kota Samarinda Rizky Reza Pahlevi; Samsir; Muhamad Hasan Abdillah
Healing: Health Education, Advocacy, and Learning Vol. 1 No. 2 (2025): Healing: Health Education, Advocacy, and Learning
Publisher : Healing: Health Education, Advocacy, and Learning

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64093/healing.v1i2.811

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh anggapan umum bahwa perpisahan orang tua sering berdampak negatif terhadap kondisi emosional, harapan hidup, dan tujuan hidup anak. Namun, temuan empiris menunjukkan adanya dinamika positif yang berkembang dari pengalaman tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi hasrat hidup bermakna serta cara remaja dari keluarga broken home dalam memaknai kehidupannya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Informan penelitian terdiri atas tiga siswa korban broken home di MTs At-Taqwa Samarinda yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan metode deskriptif analitik yang meliputi tahap pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun berasal dari keluarga broken home, para informan tetap memiliki hasrat hidup yang bermakna, ditunjukkan melalui cita-cita yang jelas serta motivasi untuk membahagiakan orang-orang terdekat yang memberikan dukungan emosional. Pengalaman keluarga yang tidak utuh justru membentuk kemandirian, tanggung jawab, dan pemahaman baru mengenai makna keluarga dan kehidupan melalui relasi positif serta aktivitas produktif. Penelitian ini menegaskan pentingnya dukungan emosional dan bimbingan dari guru, konselor, dan orang tua dalam memperkuat makna hidup serta ketahanan psikologis remaja korban broken home.

Page 1 of 1 | Total Record : 10