cover
Contact Name
Winci Firdaus
Contact Email
jurnalsawerigadingkonfirmasi@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalsawerigadingkonfirmasi@gmail.com
Editorial Address
Jl. Sultan Alauddin No.7, Gn. Sari, Kec. Tamalate, Kota Makassar, Sulawesi Selatan 90221
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Sawerigading
ISSN : 08544220     EISSN : 25278762     DOI : 10.26499/sawer
SAWERIGADING is a journal aiming to publish literary studies researches, either Indonesian, local, or foreign literatures. All articles in SAWERIGADING have passed reviewing process by peer reviewers and edited by editors. SAWERIGADING is published by Balai Bahasa Sulawesi Selatan twice times a year, in June and December. SAWERIGADING focuses on publishing research articles and current issues related to language, literature, and the instructor. The main objective of SAWERIGADING is to provide a platform for scholars, academics, lecturers, and researchers to share contemporary thoughts in their fields. The editor has reviewed all published articles. SAWERIGADING accepts submissions of original articles that have not been published elsewhere nor being considered or processed for publication anywhere, and demonstrate no plagiarism whatsoever. The prerequisites, standards, and format of the manuscript are listed in the author guidelines and templates. Any accepted manuscript will be reviewed by at least two referees. Authors are free of charge throughout the whole process, including article submission, review and editing process, and publication.
Articles 348 Documents
LOKALITAS DALAM CERITA RAKYAT DATUMUSENG DAN MAIPA DEAPATI (Locality in Datumuseng and Maipa Deapati Folktale) Drs. Abdul Rasyid, M.Pd.
SAWERIGADING Vol 23, No 1 (2017): Sawerigading, Edisi Juni 2017
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v23i1.190

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi  penggambaran lokalitas dalam cerita Datumuseng dan Maipa Deapati baik bentuk maupun pengungkapan isinya,  sehingga hasil penelitian itu dapat digunakan sebagai sarana pemupukan apresiasi masyarakat terhadap karya sastra serta dapat dijadikan sebagai sumber penelitian lebih lanjut. Hasil yang diharapkan adalah risalah penelitian yang menyangkut deskripsi tentang lokalitas yang terdapat di dalam cerita Datumuseng dan Maipa Deapati agar masyarakat umum dapat menjadi sumbangsih bagi kebudayaan Indonesia yang sangat beragam. Selain itu, dapat menjadi salah satu alternatif pembentukan karakter  bangsa yang bangga akan tanah airnya.  Aspek lokalitas dapat dipahami oleh manusia dengan pikiran dan perasaan, yaitu dengan intuisi, penafsiran, unsur-unsur, sebab akibat, dan seterusnya. Unsur-unsur lokalitas dalam cerita Datumuseng dan Maipa Deapati akan dikaji dengan pendekatan antropologi sastra sebagai studi karya sastra dengan relevansi manusia.Metode  ini sebagaimana metode penelitian antropologi lainnya yaitu kajian penelitian yang diarahkan pada unsur-unsur etnografis atau budaya masyarakat, pola pikir masyarakat, tradisi pewarisan kebudayaan dari waktu ke waktu yang masih dilakukan. Data yang diperoleh diolah serta diuraikan dengan menggunakan pola penggambaran deskriptif. 
FOLOSOFIS ELOKKELONG DALAM LONTARAK BUGIS NFN Musayyedah
SAWERIGADING Vol 19, No 1 (2013): SAWERIGADING, Edisi April 2013
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v19i1.418

Abstract

Special or unique meaning found in elokkelong was influenced by cultural and social culture where theexchange of meaning happens. Thus, the meaning should be interpreted based on social and cultural contexts.Semantic study became the focus in the research problem that intended to describe philosophic meaningimplied in elokkelong found in Buginese lontarak. Method used was descriptive qualitative in order tounderstand and interpret the meaning of a moment based on researcher perception. The result was expectedto understand in depth the meaning of elokkelong philosophy in Buginese lontarak. It was done becausemeaning was an abstract concept that needed to understand the situational meaning beyond elokkelong. AbstrakKekhasan atau keunikan makna yang terdapat dalam elokkelong dipengaruhi oleh konteks budaya danlingkungan tempat terjadinya pertukaran makna. Dengan demikian, makna harus diinterpretasikanberdasarkan konteks sosial dan konteks budaya. Telaah semantik menjadi fokus utama dalam permasalahankajian ini yang bertujuan mendeskripsikan makna filosofis yang terkandung dalam elokkelong yang terdapatdalam lontarak Bugis. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif yang bersifat deskriptif. Hasil yangdiharapkan dalam penelitian ini adalah untuk memahami lebih dalam tentang makna filosofis elokkelongdalam lontarak Bugis. Hal ini dilakukan sebab makna yang terkandung di dalamnya yang kadang-kadangbersifat abstrak sehingga untuk mengerti dan memahami makna di balik elokkelong itu bersifat situasional.
EKSPRESI FONOLOGIS ANAK AUTIS PADA PROGRAM MENENGAH; KAJIAN NEUROLINGUISTIK Rita Novita
SAWERIGADING Vol 17, No 1 (2011): Sawerigading, Edisi April 2011
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v17i1.327

Abstract

This paper discusses the phonological expressions of autistic children through neurolinguistics. The subjects of this research are autistic children in middle program that can use verbal expression. Based on the result of analysis, it is found that the autistic children of middle program do verbal substitution, verbal vanishment, verbal addition, and verbal irregularity. From those four mistakes, mistake often found is verbal elipsis. Subject tends to elipsis consonant [m] and [n]. It can happen because the subject is in a hurry to speak and also can happen because of left brain disorder.Abstrak Makalah ini membahas ekspresi fonologis anak autis melalui kajian neurolinguistik. Subjek penelitian ini adalah anak autis program menengah yang dapat menggunakan ekspresi verbal. Berdasarkan hasil analisis ditemukan bahwa anak autis program menengah melakukan verbal penggantian, verbal penghilangan, verbal penambahan, dan verbal ketidakteraturan. Dari keempat kesalahan tersebut, kesalahan yang banyak ditemukan adalah verbal penghilangan. Bunyi yang cenderung hilang adalah bunyi [m] dan [n]. Hal tersebut dapat terjadi karena subjek terburu-buru dalam mengucapkan kata dan adanya gangguan pada bagian otak kiri.
AFIKS PEMBENTUK VERBA DALAM BAHASA BINONGKO Jerniati I.
SAWERIGADING Vol 18, No 3 (2012): SAWERIGADING, Edisi Desember 2012
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v18i3.386

Abstract

Binongko language has a vey important role in daily life for the speakers. In addition to itsfunction as an instructional languae and ethnic identity, Binongko language is also one element of national cultural property. It means that its extinction of vernacular will impact to the loss of cultural elements which is unvaluable. Therefore, the preservation, maintenance, and development through language building and development like research on all aspects of the necessary absolutely must be done. Method used is descriptive. The analysis specifically shows that affix forming verb in Binongko language is much enough, but some of them are not productive its usage in daily communication. In addition, morphophonemic is hardly found in. Bahasa Binongko mempunyai peran yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari bagi masyarakat penuturnya. Selain karena fungsinya sebagai bahasa pengantar dan identitas etnik yang bersangkutan, bahasa Binongko juga merupakan salah satu unsur kekayaan budaya secara nasional. Artinya, punahnya sebuah bahasa daerah akan berdampak pula kepada punahnya unsur kebudayaan yang tiada ternilai harganya. Oleh karena itu, pelestarian dan pemertahanan serta perkembangan melalui pembinaan dan pengembangan bahasa, antara lain melalui penelitian dari berbagai aspek mutlak dilakukan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Pengkajian secara khusus ini menunjukkan bahwa afiks pembentuk verba dalam bahasa Binongko cukup banyak walaupun beberapa di antaranya tidak terlalu produktif penggunaannya dalam komunikasi sehari-hari. Sementara itu, proses morfofonemik hampir tidak ditemukan di dalamnya.
PERILAKU BERBAHASA ANTARA WANITA DAN PRIA: FENOMENA PERBEDAAN BERBAHASA BERDASARKAN SOSIOKULTURAL Nuraidar Agus
SAWERIGADING Vol 16, No 2 (2010): SAWERIGADING, Edisi Agustus 2010
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v16i2.294

Abstract

This writing is library research relating to language function and social status, especially sex. It is intended to inform the characteristic diversity of woman and man language. The sex role actually can create diversity or language variation. Besides that, it can be a proof of social value and sign that in communication activity between woman to woman, man to woman enables language misunderstanding happen. Generally, woman and man have different stereotypes or language attitudes. Even though it is considered as variation, but it is reflection of social reality. Based on developing theory and phenomenon, woman speaker gives higher positive attitude than man. On the side of orderliness and neatness woman’s speech is more conservative and tends to the usage of more standardized and privilege language.  Abstrak Tulisan ini merupakan sebuah kajian pustaka yang terkait dengan fungsi bahasa dan status sosial, terutama jenis kelamin. Kajian pustaka ini bermaksud untuk menginformasikan adanya perbedaan karakteristik perilaku berbahasa wanita dan pria.  Peranan jenis kelamin  (sex role) ternyata dapat  menciptakan  perbedaan atau variasi dalam berbahasa.  Kecuali itu, dapat menjadi bukti nilai sosial sekaligus penanda bahwa dalam aktivitas berkomunikasi antara penutur wanita dan wanita, pria dan wanita, atau antara  penutur wanita dan pria, memungkinkan terjadinya kesalahpahaman berbahasa. Secara umum, wanita dan pria memiliki streotipe atau pola tingkah laku bahasa yang berbeda. Sekalipun  dianggap sebagai variasi, tetapi gejala itu merupakan pencerminan kenyataan sosial. Berdasarkan teori dan fenomena yang berkembang  bahwa penutur wanita memberikan sikap positif yang lebih tinggi daripada pria. Dari sudut  pandang ketertiban dan kerapihan pun tuturan wanita lebih konservatif dan lebih mengarah pada penggunaan kaidah berbahasa yang lebih baku dan prestisius.
Penanda Fatis Sosial-Politik: Perspektif Pragmatik Diskursif-Integratif Epistemologis Kristina Marta Noviance; R. Kunjana Rahardi
SAWERIGADING Vol 31, No 1 (2025): Sawerigading, Edisi Juni 2025
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v31i1.1536

Abstract

The objective of this study is to describe the findings on the forms, pragmatic meanings, and functions of phatic markers in sociopolitical internet media, using an epistemologically-based discursive-integrative pragmatic perspective. The data consist of manifestations of forms, pragmatic meanings, and functions of phatic markers in sociopolitical discourse on internet platforms. The substantive data sources are sociopolitical texts containing phatic markers across various online platforms. The data collection method employed is the observation method, using recording and note-taking techniques. Data collection concluded upon the identification of clear classifications and types of data ready for appropriate analysis methods and techniques. The technique applied in the analysis is the comparative relationship technique. This study has produced the following findings: (1) The markers “Come On,” “Yes, Right?” and “Nah” to express the intention to convince; (2) The markers “I apologize inwardly”, “I appreciate”, and “Please…” to build an image and power relations; (3) The markers “Yes, right!”, narrative repetition, and personalization of reality to frame the narrative of optimism; (4) The markers “Nah”, “I am sure”, and “Yes” to express the intention of optimism; (5) The markers “Mr. President”, Causal Structure, and Digital Diction “Banget” as strategies for legitimization, rationalization, and audience adaptation; (6) The phatic markers “If You Can”, “99.9 Percent”, and “Can’t Live Him Back” as strategies for modulation, rationalization, and emotionalization in leadership representation.  AbstrakTujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan hasil riset bentuk, makna pragmatik, dan fungsi penanda fatis sosial-politik media internet dalam perspektif pragmatik diskursif-integratif berbasis epistemologis. Data berupa manifestasi bentuk, makna pragmatik, dan fungsi penanda fatis sosial-politik dalam media internet. Sumber data substantif penelitian ini adalah teks-teks sosial-politik yang mengandung penanda-penanda kefatisan dalam berbagai platform internet. Metode pengumpulan data yang diterapkan adalah metode simak dengan teknik rekam dan catat. Metode analisis data yang diterapkan dalam penelitian ini adalah metode analisis padan ekstralingual. Metode analisis padan ini lazim disebut sebagai metode kontekstual. Selanjutnya teknik yang diterapkan dalam rangka analisis data tersebut adalah teknik hubung banding. Penelitian ini telah menghasilkan temuan-temuan berikut ini: (1) Penanda “Come On,” “Iya, Kan?” dan “Nah” untuk menyatakan maksud meyakinkan; (2) Penanda “Mohon maaf lahir batin”, “Saya apresiasi”, dan “Silakan…” untuk membangun citra dan relasi kekuasaan; (3) Penanda “Iya, kan!”, pengulangan naratif, dan personalisasi realitas untuk membingkai narasi optimisme; (4) Penanda “Nah”, “Saya yakin”, dan “Ya” untuk menyatakan maksud optimis; (5) Penanda “Bapak Presiden”, Struktur Kausal, dan Diksi Digital “Banget” sebagai strategi legitimasi, rasionalisasi, dan adaptasi Audiens dalam Pidato Sri Mulyani; (6) Penanda Fatis Sosial-Politik “Kalau Bisa”, “99,9 Persen”, dan “Nggak Bisa Hidupkan Dia Kembali” sebagai Strategi Modulasi, Rasionalisasi, dan Emosionalisasi dalam Representasi Kepemimpinan.
Wawasan Seks Masyarakat dalam Novel Sebab Kita Semua Gila Seks Karya Ester: Sosiologi Sastra Terry Eaglton Nensilianti Nensilianti; Ridwan Ridwan; Hendra Pratama Putra
SAWERIGADING Vol 31, No 1 (2025): Sawerigading, Edisi Juni 2025
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v31i1.1364

Abstract

This study aims to explore societal perceptions of sexuality through a narrative analysis of Ester Pandiangan’s novel Sebab Kita Semua Gila Seks (Because We Are All Sex-Crazed). Employing a qualitative descriptive method with a documentation approach, data were extracted from thematically relevant excerpts within the novel through critical reading, thematic coding, and quotation mapping. The analysis process involved data reduction, thematic structuring, and conclusion drawing, validated through theoretical triangulation. Terry Eagleton’s sociological literary theory provides the analytical lens to investigate the ideological mechanisms embedded in the text. The study identifies three ideological problems related to sexuality and three patriarchal patterns that restrict individual sexual agency. The findings contribute a novel perspective to literary sociology by demonstrating how contemporary literature critiques sexual repression and gender inequality. This research seeks to foster critical awareness and open dialogue on sexual education, gender equity, and culturally grounded social transformation.  AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji pemahaman masyarakat terhadap seksualitas melalui analisis naratif dalam novel Sebab Kita Semua Gila Seks karya Ester Pandiangan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan dokumentasi. Data diperoleh dari narasi-narasi tematik dalam novel, dikumpulkan melalui teknik pembacaan kritis, penandaan tematik, dan pencatatan kutipan relevan. Teknik analisis data mencakup reduksi data, penyajian temuan, dan penarikan kesimpulan, serta diverifikasi melalui triangulasi teori. Pendekatan teori sosiologi sastra Terry Eagleton digunakan untuk menelaah relasi antara ideologi sosial dan representasi seksualitas. Hasil penelitian mengidentifikasi tiga bentuk problematika ideologi masyarakat terhadap seks dan tiga manifestasi dominasi patriarki yang membatasi kebebasan seksual individu. Temuan ini menawarkan perspektif baru dalam kajian sosiologi sastra dan menunjukkan karya sastra kontemporer berperan sebagai media kritik sosial terhadap represi seksual dan ketimpangan gender. Penelitian ini diharapkan mendorong kesadaran kritis dan dialog terbuka terkait pendidikan seks, kesetaraan gender, dan transformasi sosial berbasis literasi budaya.
ALTERNATIF PENGEMBANGAN AKSARA LONTARA ( Alternative Way of Developing Aksara Lontara ) Abd. Aziz Ahmad
SAWERIGADING Vol 15, No 2 (2009): Sawerigading
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v15i2.56

Abstract

AbstractIt has been recognized that the development of “Aksara Lontara” isunsatisfactory, especially in facilitating the punctuation needed to spell the soundof aksara Lontara. Expressing culture through an understanding of locallanguage orthography may give contribution to the connection history of ournation in the past and the present time.The aksara Lontara is used for severalfunctions, such as writing religion book, names of street/road, name plates, andmany others. However, people find difficulties in reading such a spelling ofaksara Lontara. Therefore, punctuation as a sign of consonants for aksaraLontara is required to be developed.In this article, five signs of consonants foraksara Lontara are proposed. They are “o”, “x”, and “Ö” above the letter, “_”below the letter, and the letter written in smaller font, as in m into “m” whichsounds “m”. 
REPRESENTATION OF THE DISMISSED KPK EMPLOYEES IN THE JAKARTA POST ARTICLES (Representasi Pegawai KPK yang Diberhentikan pada Artikel The Jakarta Post) Ai Yeni Yuliyanti; Ponia Mega Septiana; Titania Sari; Busro Busro
SAWERIGADING Vol 27, No 2 (2021): SAWERIGADING, EDISI DESEMBER 2021
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v27i2.921

Abstract

This qualitative study analyzes the strategy used by The Jakarta Post to represent the dismissed KPK employees in the case of their failure in the Civic test as an employment status transition within the antigraft body and its representation. The researchers use Critical Discourse Analysis specifically the Social Actor Representation (SAR) theory from Theo Van Leeuwen (2008). It is supported by Richardson's (2007) theory to analyze the text producer’s lexical choice and the transitivity theory of Halliday and Matthiessen (2004) to analyze role allocation. This study shows that The Jakarta Post represents the dismissed KPK employees' both exclusion and inclusion strategy, but inclusion is dominant. The dismissed KPK employees are represented negatively. It is shown from the lexical choice used through the words ‘dismiss’, ‘fire’, and ‘fail’ to represent them. The Jakarta Post also uses other strategies: classification and individualization and collectivism. 
STRUKTUR SEMANTIS VERBA YANG BERMAKNA 'MEMOTONG' DALAM BAHASA BALI I Nengah Budiasa
SAWERIGADING Vol 18, No 2 (2012): SAWERIGADING, Edisi Agustus 2012
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v18i2.353

Abstract

Balinese verb which means 'memotong' is analysed by NSM (Natural Semantic Metalanguage) theory introduced by Anna Wierybicka . This theory, then, known as MSA is used to determine the semantic primes and semantic structure of those verbs.The purpose of this paper is to describe the group, the type, and the semantic structure of verbs which means 'memotong in Balinese language. It uses observative method for collecting data, equal and distributive method to analyze data, and informal method to provide the result of analysis. From the data analyzed, it is found that the Balinese verb which means 'memotong' consists of two groups, those are, (1) the verb which means 'memotong' by using instrument and (2) the verb which means 'memotong' without instrument inperforrming the acction. It is also shown from the result that the Balinese verbs which mean 'memotong ' only have one type of semantic primes, that is, do : cut. In NSM semantic structure, this type has syntax pattern: X do something to Y and Y cut by X. Abstrak Verba yang bermakna 'memotong' dalam bahasa Bali dikaji dengan teori NSM (Natural Semantic Metalanguage) yang dikemukakan oleh Anna Wierzbicka. Teori ini yang kemudian dikenal dengan teori MSA (Metabahasa Semantik Alamiah) dipakai untuk menentukan makna asali dan struktur semantis verba tersebut. Tujuan makalah ini alah untuk menjelaskan kelompok, tipe, dan struktur semantis verba yang bermakna 'memotong dalam bahasa Bali. Dalam pengumpulan data digunakan metode simak, untuk analisis data digunakan metode padan dan agih, dan untuk penyajian hasil analisis digunakan metode informal. Berdasarkan data yang dianalisis, hasil kajiannya menunjukkan bahwa verba yang bermakna 'memotong' dalam bahasa Bali terdiri atas dua kelompok, yaitu (a) kelompok verb bahasa Bali yang bermakna 'memotong' dengan menggunakan alat dan (2) kelompok verbabahasa Bali tanpa menggunakan alat dalam melakukan tindakan. Hasil kajiannya juga menunjukkan bahwa verba bahasa Bali yang bermakna 'memotong' hanya memiliki satu tipe makna asali, yaitu melakukan : terpotong. Dalam struktur semantis MSA, tipe ini memiliki pola sintaksis X melakukan sesuatu pada Y dan Yterpotong oleh X.

Page 4 of 35 | Total Record : 348


Filter by Year

2009 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 31, No 2 (2025): Sawerigading, Edisi Desember 2025 Vol 31, No 1 (2025): Sawerigading, Edisi Juni 2025 Vol 30, No 2 (2024): Sawerigading, Edisi Desember 2024 Vol 30, No 1 (2024): Sawerigading, Edisi Juni 2024 Vol 29, No 2 (2023): Sawerigading, Edisi Desember 2023 Vol 29, No 1 (2023): Sawerigading, Edisi Juni 2023 Vol 28, No 2 (2022): SAWERIGADING, EDISI DESEMBER 2022 Vol 28, No 1 (2022): SAWERIGADING, EDISI JUNI 2022 Vol 27, No 2 (2021): SAWERIGADING, EDISI DESEMBER 2021 Vol 27, No 1 (2021): SAWERIGADING, EDISI JUNI 2021 Vol 26, No 2 (2020): SAWERIGADING, EDISI DESEMBER 2020 Vol 26, No 1 (2020): Sawerigading, Edisi Juni 2020 Vol 25, No 2 (2019): Sawerigading, Edisi Desember 2019 Vol 25, No 1 (2019): Sawerigading, Edisi Juni 2019 Vol 24, No 2 (2018): Sawerigading, Edisi Desember 2018 Vol 24, No 1 (2018): Sawerigading, Edisi Juni 2018 Vol 23, No 2 (2017): Sawerigading, Edisi Desember 2017 Vol 23, No 1 (2017): Sawerigading, Edisi Juni 2017 Vol 21, No 3 (2015): Sawerigading Vol 20, No 3 (2014): Sawerigading Vol 20, No 2 (2014): Sawerigading Vol 20, No 1 (2014): Sawerigading Vol 19, No 3 (2013): SAWERIGADING, Edisi Desember 2013 Vol 19, No 2 (2013): SAWERIGADING, Edisi Agustus 2013 Vol 19, No 1 (2013): SAWERIGADING, Edisi April 2013 Vol 18, No 3 (2012): SAWERIGADING, Edisi Desember 2012 Vol 18, No 2 (2012): SAWERIGADING, Edisi Agustus 2012 Vol 18, No 1 (2012): Sawerigading, Edisi April 2012 Vol 17, No 3 (2011): Sawerigading, Edisi Desember 2011 Vol 17, No 2 (2011): SAWERIGADING, Edisi Agustus 2011 Vol 17, No 1 (2011): Sawerigading, Edisi April 2011 Vol 16, No 3 (2010): Sawerigading, Edisi Desember 2010 Vol 16, No 2 (2010): SAWERIGADING, Edisi Agustus 2010 Vol 16, No 1 (2010): Sawerigading, Edisi April 2010 Vol 15, No 3 (2009): Sawerigading Vol 15, No 2 (2009): Sawerigading More Issue