cover
Contact Name
MERIL VALENTINE MANANGKOT
Contact Email
merilvalentine@unud.ac.id
Phone
+6281237456666
Journal Mail Official
copingners.journal@gmail.com
Editorial Address
Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Udayana Jln. PB Sudirman, Denpasar-Bali 80113
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Coping : Community of Publishing in Nursing
Published by Universitas Udayana
ISSN : 27151980     EISSN : 27151980     DOI : -
Core Subject : Health,
Community of Publishing in Nursing (COPING) merupakan e-journal yang disunting oleh Dewan Redaksi Program Studi Sarjana Ilmu Keperawatan dan Profesi Ners Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Jurnal ini merupakan salah satu wahana pengembangan Evidence Based Nursing dalam pengembangan dan update ilmu-ilmu keperawatan serta meningkatkan kualitas asuhan keperawatan pada pasien. Naskah yang diterima oleh redaksi merupakan karya asli, belum pernah dipublikasikan / tidak sedang dalam proses seleksi maupun editing pada jurnal lain. Naskah yang diterima berupa hasil penelitian pada berbagai bidang kajian keperawatan, meliputi pendidikan keperawatan, keperawatan medikal bedah, keperawatan maternitas, keperawatan anak, keperawatan jiwa, manajemen keperawatan, keperawatan komunitas, keperawatan keluarga, keperawatan gerontik, keperawatan gawat darurat kritis, keperawatan pariwisata, dan penggunaan teknologi dalam keperawatan. Naskah akan disunting oleh dewan redaksi dan mitra bestari sebelum diterbitkan.
Articles 96 Documents
PENGARUH EDUKASI PERLINDUNGAN DIRI MELALUI AUDIO VISUAL PADA ANAK PRASEKOLAH TERHADAP PENGETAHUAN PENCEGAHAN KEKERASAN SEKSUAL Ni Kadek Yunda Virdian Purnami; Luh Mira Puspita; Kadek Cahya Utami; Ni Luh Putu Shinta Devi
Community of Publishing in Nursing Vol. 13 No. 4 (2025): Agustus 2025
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2025.v13.i04.p06

Abstract

Kekerasan seksual pada anak usia prasekolah di Indonesia masih tergolong tinggi dan membawa dampak serius terhadap proses tumbuh kembang anak. Salah satu langkah preventif yang dapat dilakukan adalah melalui pendidikan terkait upaya perlindungan diri dari lingkungan yang berisiko tinggi. Media audio visual menjadi metode yang potensial dalam menyampaikan edukasi tersebut karena mengandung unsur audio dan visual yang dapat dimanfaatkan secara bersamaan, sehingga mudah untuk dipahami. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh edukasi perlindungan diri yang disampaikan melalui media audiovisual terhadap pengetahuan anak usia prasekolah tentang pencegahan kekerasan seksual. Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian pra eksperimen dengan One Group Pretest-Posttest Design. Sampel penelitian berjumlah 76 orang yang dipilih dengan teknik total sampling. Hasil pretest dominan sebesar 61,8% dalam kategori pengetahuan cukup dan hasil posttest dominan sebesar 93,4% dalam kategori pengetahuan baik. Hasil uji analisis menggunakan uji Wilcoxon dengan nilai p-value 0,000 (α≤0,05) yang menunjukkan bahwa edukasi perlindungan diri melalui audio visual memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pengetahuan anak usia prasekolah tentang pencegahan kekerasan seksual. Edukasi perlindungan diri perlu diberikan kepada anak secara rutin dengan menggunakan media yang inovatif dan edukatif untuk meningkatkan pemahaman dan kemampuan anak dalam mencegah kekerasan seksual.  
GAMBARAN KELUHAN MUSKULOSKELETAL DAN FAKTOR-FAKTOR YANG BERKONTRIBUSI PADA PENGEMUDI BUS DI KANTOR DINAS PERHUBUNGAN KABUPATEN GIANYAR Putu Ariyanti Swandewi; I Kadek Saputra; Ni Ketut Guru Prapti
Community of Publishing in Nursing Vol. 12 No. 6 (2024): Desember 2024
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2024.v12.i06.p16

Abstract

Pengemudi bus di Kantor Dinas Perhubungan Kabupaten Gianyar merupakan pekerjaan yang berisiko mengalami keluhan muskuloskeletal. Sebanyak 9 dari 14 pengemudi mengeluhkan berbagai masalah kesehatan, salah satunya keluhan muskuloskeletal. Pengemudi yang mengalami keluhan muskuloskeletal dapat merasakan nyeri, kaku, dan kelemahan pada otot serta sendi, sehingga menurunkan konsentrasi mereka dalam mengemudikan kendaraan. Faktor yang dapat mempengaruhi keluhan ini antara lain usia, jenis kelamin, kebiasaan merokok, kebiasaan olahraga, kesesuaian beban kerja, postur tubuh yang tidak ergonomis, durasi mengemudi, pajanan getaran, dan masa kerja. Situasi tersebut dapat membahayakan keselamatan pengemudi serta penumpangnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran keluhan muskuloskeletal dan faktor-faktor yang berkontribusi pada pengemudi bus di Kantor Dinas Perhubungan Kabupaten Gianyar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain deskriptif observasional. Populasi penelitian mencakup seluruh pengemudi bus yang bekerja di Kantor Dinas Perhubungan Kabupaten Gianyar. Teknik sampling yang digunakan adalah total sampling. Alat ukur dalam penelitian ini terdiri dari tiga bagian kuesioner, yaitu kuesioner data demografi, Nordic Body Map, dan kuesioner faktor risiko. Hasil penelitian menemukan bahwa sebanyak 71,4% responden mengalami keluhan muskuloskeletal dengan tingkat risiko tinggi. Berdasarkan hasil ini, saran yang dapat diberikan kepada instansi terkait adalah melakukan evaluasi terkait desain ergonomis dari kursi, roda kemudi, dan pedal bus untuk meningkatkan kenyamanan dan meminimalisir keluhan muskuloskeletal yang terjadi pada pengemudi bus.
HUBUNGAN EFIKASI DIRI DENGAN PERILAKU PERTOLONGAN PERTAMA KECELAKAAN PADA PELAKU WISATA DI OBYEK WISATA CEKING DESA TEGALLALANG Nikadek Pramesti Dewi Puspita Sari; Made Oka Ari Kamayani; I Made Suindrayasa; Meril Valentine Manangkot
Community of Publishing in Nursing Vol. 13 No. 5 (2025): Oktober 2025
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2025.v13.i05.p07

Abstract

Kecelakaan saat berwisata merupakan hal yang tidak diinginkan namun dapat terjadi. Salah satu obyek wisata yang memiliki potensi terjadinya kecelakaan yaitu obyek wisata Ceking. Lingkungannya yang panas karena berada di pinggir sawah, area lahan yang tidak rata, serta lokasi yang berdekatan dengan jalan raya, meningkatkan risiko kecelakaan bagi pengunjung. Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan perilaku pertolongan pertama, yaitu tindakan cepat yang dilakukan seseorang untuk menyelamatkan korban kecelakaan. Tindakan ini memerlukan efikasi diri, yakni keyakinan individu terhadap kemampuannya dalam mengambil tindakan yang dapat memengaruhi keselamatan diri maupun orang lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan efikasi diri dengan perilaku pertolongan pertama kecelakaan pada pelaku wisata. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan rancangan deskriptif korelatif yang menggunakan pendekatan cross-sectional. Pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah non probability sampling dengan teknik purposive sampling. Populasi dalam penelitian ini adalah semua pelaku wisata yang berada di obyek wisata dengan jumlah sampel 100 responden. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner efikasi diri dan kuesioner perilaku pertolongan pertama kecelakaan. Analisis bivariat dilakukan dengan uji Spearman Rank. Hasil penelitian didapatkan berdasarkan uji Spearman Rank menunjukkan p = 0,000 dengan nilai r = 0,427, dapat diartikan terdapat hubungan dengan kekuatan sedang antara efikasi diri dengan perilaku pertolongan pertama kecelakaan dengan arah hubungan positif, maka semakin tinggi efikasi diri semakin tinggi juga perilaku dalam memberikan pertolongan pertama kecelakaan. 
HUBUNGAN EFIKASI DIRI DENGAN DIABETES DISTRESS PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS II DENPASAR BARAT I Kadek Wira Yoga Prasetya; Meril Valentine Manangkot; Kadek Eka Swedarma
Community of Publishing in Nursing Vol. 12 No. 6 (2024): Desember 2024
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2024.v12.i06.p10

Abstract

Pasien diabetes melitus tipe 2 sering mengalami stres dalam menghadapi penyakitnya. Salah satu faktor yang mempengaruhi adalah efikasi diri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara efikasi diri dengan diabetes distress pada pasien diabetes melitus tipe 2 di Puskesmas II Denpasar Barat. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif korelasi dengan pendekatan cross-sectional. Jumlah responden sebanyak 93 orang yang dipilih melalui purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan kuesioner Diabetes Management Self Efficacy Scale (DMSES) dan Diabetes Distress Scale (DDS). Analisis data menggunakan uji Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki efikasi diri yang rendah (62,37%), sedangkan diabetes distress sebagian besar berada dalam kategori sedang (96,8%). Hasil analisis dengan uji Spearman Rank menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara efikasi diri dengan diabetes distress (p value = 0,000, nilai r = -0,677). Berdasarkan hasil analisis ini, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara efikasi diri dengan diabetes distress pada pasien diabetes melitus tipe 2 di Puskesmas II Denpasar Barat. Saran yang dapat diberikan adalah agar perawatan pasien dioptimalkan dengan mempertimbangkan tingkat distress yang dialami oleh pasien diabetes melitus.
HUBUNGAN KUALITAS TIDUR DENGAN KECERDASAN EMOSINAL PADA REMAJA SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN KESEHATAN PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA Dina Khania Febrianti Fatimah; Kadek Eka Swedarma; Ni Putu Emy Darma Yanti; Putu Ayu Emmy Savitri Karin
Community of Publishing in Nursing Vol. 13 No. 3 (2025): Juni 2025
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2025.v13.i03.p03

Abstract

Pada masa remaja, individu sering kali menghadapi masalah tidur dan ketidakstabilan emosi yang diakibatkan oleh perubahan biologis, psikologis, serta tekanan dari lingkungan akademik dan sosial. Mutu tidur yang suboptimal berpotensi memberikan efek merugikan pada kesehatan mental, termasuk kapasitas emosional seseorang. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menginvestigasi korelasi antara kualitas tidur dan kecerdasan emosional pada remaja yang bersekolah di SMK Kesehatan PGRI Denpasar. Penelitian ini mengaplikasikan metodologi kuantitatif dengan pendekatan deskriptif korelasional dan desain cross-sectional. Sebanyak 77 responden, yang dipilih melalui teknik total sampling, menjadi sampel penelitian. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) untuk menilai kualitas tidur dan kuesioner Emotional Intelligence Scale (EIS) untuk mengukur kecerdasan emosional. Hasil studi menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki kualitas tidur yang buruk (75,3%) dan tingkat kecerdasan emosional dalam kategori sedang (57,1%). Analisis menggunakan uji Spearman Rank mengindikasikan tidak adanya hubungan yang signifikan antara kualitas tidur dan kecerdasan emosional (p = 0,494; r = -0,079). Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat korelasi yang signifikan antara kualitas tidur dan kecerdasan emosional pada kelompok remaja yang menjadi sampel dalam penelitian ini.
HUBUNGAN KEBIASAAN POSISI DUDUK DENGAN GANGGUAN MUSKULOSKELETAL PADA PENABUH DI BANJAR KEBALIAN DESA SUKAWATI I Wayan Gede Arya Jayadiatmika; Oka Ari; Made Suindrayasa; Kadek Saputra
Community of Publishing in Nursing Vol. 13 No. 2 (2025): April 2025
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2025.v13.i02.p08

Abstract

Penabuh gamelan di Bali umumnya memainkan alat musik dalam posisi duduk bersila dalam waktu lama yang berpotensi menimbulkan gangguan muskuloskeletal. Gangguan muskuloskeletal menjadi salah satu keluhan umum yang dapat menurunkan kenyamanan, produktivitas, dan kualitas hidup para penabuh. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kebiasaan posisi duduk dengan keluhan muskuloskeletal pada penabuh di Banjar Kebalian, Desa Sukawati. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif korelatif dan teknik total sampling yang melibatkan seluruh penabuh aktif yang tergabung dalam Sekaa Gong Banjar Kebalian dan Sanggar Tabuh Prakempha. Pengumpulan data dilakukan secara langsung (door to door) melalui instrumen kuesioner posisi duduk dan Nordic Body Map (NBM) untuk mengidentifikasi tingkat risiko keluhan muskuloskeletal. Data dianalisis menggunakan uji chi-square untuk mengetahui hubungan antara variabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 42,3% penabuh menggunakan posisi duduk bersila saat menabuh dan mengeluhkan nyeri pada punggung bawah, bahu, lengan, serta tungkai. Sebagian besar responden berada dalam kategori risiko rendah (75%). Hasil uji statistik menunjukkan nilai signifikansi sebesar p = 0,794 (p > 0,05), yang mengindikasikan tidak terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara posisi duduk dengan keluhan muskuloskeletal pada penabuh. Namun demikian, aktivitas menabuh yang bersifat repetitif, dilakukan dalam posisi duduk statis, serta melibatkan gerakan berulang secara intensif, dapat menjadi faktor pemicu munculnya keluhan muskuloskeletal, terutama pada area tangan, leher, punggung, dan pergelangan tangan bagian tubuh yang paling rentan terhadap gangguan akibat postur yang tidak ergonomis dan beban kerja yang berlebihan.  
HUBUNGAN EFIKASI DIRI DENGAN SAFETY CULTURE PRAMUWISATA MENGENAI PERTOLONGAN PERTAMA PADA KECELAKAAN WISATA AIR DI WILAYAH TANJUNG BENOA Ni Made Ayu Trisna Wardani; I Made Suindrayasa; Made Oka Ari Kamayani; I Gusti Ngurah Juniartha
Community of Publishing in Nursing Vol. 13 No. 1 (2025): Februari 2025
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2025.v13.i01.p06

Abstract

Watersport memiliki potensi terjadinya kecelakaan wisata air yang dapat menyebabkan bahaya fisik hingga kematian akibat kurangnya penerapan safety culture. Salah satu faktor yang mempengaruhi safety culture adalah efikasi diri. Pramuwisata wisata air memiliki peranan penting dalam memberikan pertolongan pertama pada kecelakaan wisata air. Salah satu lokasi wisata air yaitu di Wilayah Tanjung Benoa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan efikasi diri dengan safety culture pramuwisata mengenai pertolongan pertama pada kecelakaan wisata air. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode penelitian deskriptif korelasional dengan model pendekatan cross sectional. Responden pada penelitian ini merupakan pramuwisata yang bekerja di perusahaan watersport di Wilayah Tanjung Benoa yang dipilih menggunakan metode cluster sampling dengan total sampel berjumlah 91 pramuwisata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas pramuwisata memiliki efikasi diri dalam kategori sedang sebanyak 61 responden (67%) dan mayoritas safety culture dalam kategori baik sebanyak 46 responden (50,5%). Uji Spearman Rank didapatkan hasil nilai p = 0,0001 < 0,05 dan nilai r = 0,459. Simpulan dari penelitian ini yaitu terdapat hubungan positif yang sedang antara efikasi diri dengan safety culture pramuwisata mengenai pertolongan pertama pada kecelakaan wisata air di Wilayah Tanjung Benoa. Pengelola watersport diharapkan memberikan pelatihan pertolongan pertama sehingga diharapkan dapat meningkatkan efikasi diri dan safety culture pramuwisata.
GAMBARAN PENERAPAN PERILAKU IBU DALAM UPAYA PENCEGAHAN PERMASALAHAN GIZI PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS I DENPASAR UTARA Lisa Yultiana Rizky; Luh Mira Puspita; Ni Luh Putu Shinta Devi; Kadek Cahya Utami
Community of Publishing in Nursing Vol. 12 No. 5 (2024): Oktober 2024
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2024.v12.i05.p01

Abstract

Usia balita adalah kelompok usia yang rentan terhadap permasalahan gizi yang dapat memengaruhi berbagai hal dalam proses pertumbuhan dan perkembangan hingga degradasi kondisi kesehatan di usia dewasa. Pemberdayaan masyarakat dimulai dari unit terkecil, yaitu keluarga. Perilaku ibu adalah faktor penting yang memengaruhi pemenuhan gizi sekaligus mencegah terjadinya permasalahan gizi pada balita. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi gambaran penerapan perilaku ibu dalam upaya pencegahan permasalahan gizi pada balita di Puskesmas I Denpasar Utara. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional dan menggunakan teknik sampling yakni consecutive sampling. Penelitian ini dilakukan kepada 104 responden yakni ibu yang memiliki balita yang berusia 12-59 bulan. Pengambilan data dilakukan dengan menyebarkan kuesioner modifikasi KADARZI dan CFPQ kepada setiap responden. Peneliti menggunakan analisis univariat untuk mengidentifikasi setiap variabel penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas penerapan perilaku ibu berada di kategori baik dengan nilai sebanyak 51%. Berdasarkan hasil penelitian, diharapkan para ibu balita dapat meningkatkan perilaku yang baik dalam memberikan pengasuhan kepada balitanya, sehingga mampu mencegah terjadinya permasalahan gizi pada balita. 
HUBUNGAN KADAR HEMOGLOBIN DENGAN TINGKAT CANCER-RELATED FATIGUE PADA PASIEN KANKER PAYUDARA PASCA KEMOTERAPI Putu Agus Permana Indrajaya; Putu Oka Yuli Nurhesti; Desak Made Widyanthari
Community of Publishing in Nursing Vol. 12 No. 5 (2024): Oktober 2024
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2024.v12.i05.p11

Abstract

Cancer-related fatigue (CRF) dapat dijumpai pada pasien kanker yang menjalani berbagai jenis perawatan seperti kemoterapi, radioterapi, transplantasi sumsum tulang, dan metode perawatan kanker lainnya. Kemoterapi adalah prosedur pemberian obat yang ditujukan untuk memperlambat pertumbuhan sel kanker dalam tubuh. Terapi kemoterapi melibatkan penggunaan obat-obatan yang menghambat pertumbuhan sel. Terdapat beberapa efek samping yang terjadi dari prosedur ini, diantaranya adalah mual, muntah, kebotakan, kelelahan, kulit kering, perubahan pada kulit dan kuku yang menyebabkan mereka menjadi lebih gelap, serta penurunan kadar hemoglobin. Perubahan kadar hemoglobin salah satunya disebabkan oleh peningkatan kerusakan sel darah merah akibat dari proses kemoterapi yang dijalani. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan kadar hemoglobin dengan tingkat CRF pada pasien kanker payudara pasca kemoterapi. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode cross-sectional yang dilaksanakan selama Januari-Maret 2024. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan purposive sampling (n=30). Data dalam penelitian ini dikumpulkan menggunakan kuesioner Multidimensional Fatigue Inventory (MFI-20) dan data sekunder hasil pemeriksaan kadar hemoglobin. Hasil penelitian yang didapatkan menggunakan Uji Pearson’s Product Moment menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara kadar hemoglobin dengan tingkat CRF pada pasien kanker payudara pasca kemoterapi dengan nilai p=0,017 dan nilai r=-0,432. Dapat disimpulkan bahwa kadar hemoglobin berhubungan dengan tingkat CRF dengan arah hubungan negatif yaitu semakin tinggi kadar hemoglobin semakin rendah tingkat CRF pada responden. Responden dalam penelitian ini diharapkan dapat mengetahui dan melakukan manajemen terhadap CRF yang dialami seperti rutin melakukan aktivitas fisik dan mengatur pola serta asupan nutrisi setiap harinya.
GAMBARAN KESIAPSIAGAAN PARA NELAYAN TENTANG PERTOLONGAN PERTAMA PADA KEJADIAN TENGGELAM (WATER RESCUE) DI PANTAI LABUHAN DESA ANTIGA Ni Putu Juliantari; I Gusti Ngurah Juniartha; I Kadek Saputra
Community of Publishing in Nursing Vol. 12 No. 6 (2024): Desember 2024
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2024.v12.i06.p14

Abstract

Keadaan darurat dapat terjadi kapan saja, termasuk di perairan. Salah satu kejadian darurat yang sering terjadi diperairan adalah tenggelam, yang kerap menimpa nelayan karena kurangnya persiapan saat melaut. Kematian akibat tenggelam bisa dicegah dengan pertolongan pertama yang cepat dan tepat, sehingga kesiapsiagaan sangat penting untuk mencegah dan menangani insiden tenggelam. Kesiapsiagaan tenggelam menjadi peran penting terhadap antisipasi maupun pemberian pertolongan pertama pada kejadian tenggelam. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan karakteristik dan kesiapsiagaan nelayan dalam memberikan pertolongan pertama pada insiden tenggelam (water rescue) di pantai Labuhan, Desa Antiga. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif observasional, dengan teknik purposive sampling yang melibatkan 67 responden sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Data dikumpulkan melalui kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden memiliki pengalaman buruk terkait insiden tenggelam, seperti pernah tenggelam, diterjang gelombang, terjatuh dari kapal, atau terseret ombak. Tingkat kesiapsiagaan mereka tergolong cukup siap (52,2%), namun pengetahuan dan sikap cenderung kurang siap (55,2%), serta sistem peringatan bencana cenderung kurang siap (46,3%). Sementara perencanaan keadaan darurat masuk kategori sangat siap (52,2%), dan mobilisasi sumber daya berada pada tingkat sangat siap (46,3%). Kesimpulannya, banyak nelayan Desa Antiga menganggap bahwa kematian akibat tenggelam termasuk hal yang biasa dan dapat terjadi pada nelayan yang memiliki pengalaman. Karena itu, kesiapsiagaan perlu ditingkatkan. Penelitian ini menyarankan agar institusi keperawatan dan pemerintah mengadakan edukasi dan pelatihan terkait penanggulangan insiden tenggelam untuk meningkatkan kesiapsiagaan para nelayan.

Page 2 of 10 | Total Record : 96