cover
Contact Name
Edwin Nurdiansyah
Contact Email
edwin@unsri.ac.id
Phone
+6285268434738
Journal Mail Official
jbti@unsri.ac.id
Editorial Address
Jl. Palembang-Prabumulih, Km. 32 Indralaya, Kab. Ogan Ilir.
Location
Kab. ogan ilir,
Sumatera selatan
INDONESIA
Bhineka Tunggal Ika: Kajian Teori dan Praktik Pendidikan PKn
Published by Universitas Sriwijaya
ISSN : 23557265     EISSN : 26146134     DOI : https://doi.org/10.36706/jbti.v11i02.4
The scope of the study in this journal are: Approaches, Strategies, Models and Evaluation of Pancasila & Citizenship Education Media and Learning Resources for Pancasila & Citizenship Education Pancasila & Citizenship Education Policy and Curriculum Value/Moral/Character Education Social and Political Education Legal Education (National and International)
Articles 99 Documents
PEMBENTUKAN MINAT BELAJAR MELALUI PENGUATAN INTERPERSONAL PADA PESERTA DIDIK KELAS VIII SMP NEGERI 1 INDRALAYA Tia Ratu Sak’diah; Mariyani
Bhineka Tunggal Ika Kajian Teori dan Praktik Pendidikan PKN
Publisher : Universitas Sriwijaya in Collaboration with AP3Kni (Asosiasi Profesi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Indonesia/Indonesia Association Profession of Pancasila and Civic Education)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jbti.v12i1.182

Abstract

Pendidikan sangat penting untuk pengembangan karakter dan kualitas sumber daya manusia, dengan fokus pada pengembangan kekuatan spiritual, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, dan keterampilan peserta didik. Namun, tantangan seperti kemerosotan moral, dibuktikan dengan isu-isu seperti perundungan dan kenakalan remaja, maka dari itu perlunya pemberikan pendidikan karakter bagi peserta didik di sekolah. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pembentukan minat belajar dengan penguatan interpersonal pada siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Indralaya. Teknik pengumpulan pada penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan 172 sampel yang dipilih secara acak. Instrumen penelitian berupa angket dengan 45 item pernyataan, diuji validitas dan reliabilitasnya. Hasil analisis data menunjukkan bahwa terdapat korelasi kuat antara kecerdasan interpersonal dan minat belajar, dengan nilai koefisien korelasi Pearson sebesar 0,718 dan signifikansi sebesar 0,000 (<0,05). Artinya, semakin tinggi kecerdasan interpersonal yang dimiliki siswa, semakin tinggi pula minat belajar mereka. Dengan demikian, penguatan kecerdasan interpersonal terbukti efektif dalam membentuk minat belajar peserta didik di tingkat sekolah menengah pertama.   Education plays a vital role in the development of character and the quality of human resources; however, challenges such as the moral decline among students necessitate the strengthening of character education. This study aims to examine the formation of learning interest through the enhancement of interpersonal intelligence among eighth-grade students at SMP Negeri 1 Indralaya. The research employed a quantitative approach using the Product Moment correlation method, involving 172 randomly selected students. The research instrument consisted of a questionnaire with 45 statement items, validated and tested for reliability. Data analysis revealed a strong correlation between interpersonal intelligence and learning interest, with a Pearson correlation coefficient of 0.718 and a significance value of 0.000 (<0.05). This indicates that the higher the students' interpersonal intelligence, the greater their interest in learning. Therefore, strengthening interpersonal intelligence is proven to be effective in fostering students' learning interest at the junior high school level.
KEGEMILANGAN BOROBUDUR SIMBOL TOLERANSI DUNIA SEBAGAI PENGUAT KARAKTER MASYARAKAT Sukron Mazid; Atsani Wulansari; Farikah; Mimi Mulyani
Bhineka Tunggal Ika Kajian Teori dan Praktik Pendidikan PKN
Publisher : Universitas Sriwijaya in Collaboration with AP3Kni (Asosiasi Profesi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Indonesia/Indonesia Association Profession of Pancasila and Civic Education)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jbti.v12i1.184

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kegemilangan Candi Borobudur sebagai simbol peradaban toleransi dunia dan pembentuk karakter masyarakat. Borobudur melahirkan nilai-nilai luhur dari berbagai aktivitas dan rutinitas yang secara bertahap menjadi bagian dari pembudayaan dalam membentuk karakter baik masyarakat. Cerminan tersebut lahir dari keteladanan dan pembiasaan warga yang menginternalisasi nilai-nilai hidup melalui keberadaan Candi Borobudur. Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Keabsahan data diperoleh melalui triangulasi sumber dan metode. Analisis data dilakukan dengan model Miles dan Huberman yang mencakup reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegemilangan Borobudur sebagai simbol toleransi dunia mampu memperkuat karakter masyarakat melalui dua hal utama: (1) Borobudur sebagai simbol toleransi dunia yang membentuk perilaku dan karakter masyarakat melalui kegiatan rutin dan kunjungan spiritual, serta menjadi contoh harmoni antarumat beragama; (2) Borobudur menjadi simbol yang menginspirasi pembentukan karakter baik di masyarakat sekitarnya melalui pesan toleransi yang tersirat. Secara keseluruhan, keberadaan Candi Borobudur tidak hanya berdampak pada pelestarian nilai sejarah dan budaya, tetapi juga memiliki kontribusi signifikan dalam membangun karakter masyarakat yang inklusif, toleran, dan berkepribadian luhur.   This study aims to determine the splendor of Borobudur Temple as a symbol of world tolerance civilization and the formation of community character. Borobudur gives birth to noble values ​​from various activities and routines that gradually become part of the culture in forming good community character. This reflection is born from the exemplary behavior and habits of residents who internalize life values ​​through the existence of Borobudur Temple. The research method uses a qualitative descriptive approach through observation, interviews, and documentation. Data validity is obtained through triangulation of sources and methods. Data analysis is carried out using the Miles and Huberman model which includes data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results of the study show that the splendor of Borobudur as a symbol of world tolerance is able to strengthen community character through two main things: (1) Borobudur as a symbol of world tolerance that forms community behavior and character through routine activities and spiritual visits, as well as being an example of harmony between religious communities; (2) Borobudur becomes a symbol that inspires the formation of good character in the surrounding community through an implied message of tolerance. Overall, the existence of Borobudur Temple not only has an impact on preserving historical and cultural values but also has a significant contribution in building the character of an inclusive, tolerant and noble society.
STRATEGI PRAKTIK BAIK MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH PADA KURIKULUM MERDEKA DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN Dewi Aktalia; Camellia
Bhineka Tunggal Ika Kajian Teori dan Praktik Pendidikan PKN
Publisher : Universitas Sriwijaya in Collaboration with AP3Kni (Asosiasi Profesi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Indonesia/Indonesia Association Profession of Pancasila and Civic Education)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jbti.v12i1.187

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi praktik baik penerapan manajemen berbasis sekolah pada kurikulum merdeka dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di SMA negeri 1 Indralaya Utara. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif, informan dalam penelitian ini dipilih dengan teknik purposive sampling yang berjumlah 7 orang guru. Penelitian ini menggunkan teknik pengumpulan data berupa teknik wawancara, teknik observasi dan teknik dokumentasi. dengan Hasil penelitian ini menunjukan bahwa strategi praktik baik dalam pengimplementasian manajemen berbasis sekolah pada kurikulum merdeka dilakukan melalui sistem pengembangan rencana pembelajaran secarah berkala, meningkatkan kecakapan guru dalam mendesign kelas, respon peserta didik, tercukupinya sarana prasaran, dan membangun budaya positif serta kesesuain kurikulum yang sedang digunakan dengan karakteristik sekolah dan kebutuhan peserta didik   This study aims to find out the best practice strategy for the implementation of school-based management in the independent curriculum in improving the quality of learning at SMA Negeri 1 Indralaya Utara. This study uses a qualitative approach with a descriptive method, the informan in this study taken by purposive sampling technique with totaling 7 teachers. This research uses data collection techniques in the form of interview techniques, observation techniques and documentation techniques. The results of this study show that good practice strategies in the implementation of school-based management in the independent curriculum are carried out through the development system of periodic learning plans, improving teachers' skills in designing classrooms, student response, adequate infrastructure, and building a positive culture and conformity of the curriculum that is being used with the characteristics of the school and the needs of students
PEMENUHAN HAK POLITIK DAN PEMBERDAYAAN DISABILITAS MELALUI PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN BERBASIS SERVICE LEARNING UNTUK CIVIC EQUALITY Agil Nanggala
Bhineka Tunggal Ika Kajian Teori dan Praktik Pendidikan PKN
Publisher : Universitas Sriwijaya in Collaboration with AP3Kni (Asosiasi Profesi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Indonesia/Indonesia Association Profession of Pancasila and Civic Education)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jbti.v12i1.190

Abstract

Penelitian ini berupaya untuk merampungkan paradigma baru selaku missing link pada upaya pemenuhan hak politik dan pemberdayaan disabilitas melalui PKn berbasis service learning untuk civic equality, karena bersifat integratif. Penelitian ini berbasis literature review, dengan hasil penelitian, yaitu, PKn bersifat holistik untuk mengatasi stereotip ableisme, dan mewujudkan pemenuhan hak politik dan pemberdayaan disabilitas, untuk civic equality mengingat memiliki teori relevan, yaitu citizenship transformative dan civic empowerment untuk mengatasi individual atau medical model of disability. PKn selaku civic education adalah wahana strategis untuk memberi informasi holistik mengenai pemenuhan hak politik dan pemberdayaan disabilitas, lalu PKn selaku citizenship education adalah wahana strategis pemenuhan hak politik dan pemberdayaan disabilitas, yang bersifat sosio-kultural, praktik citizenship education, memuat service learning, agar holistik dan terpadu, lalu mengakomodir siasat kolaborasi pentahelix agar melibatkan lintas sektor, selaku penerapan spirit persatuan nasional, agar representatif dan integratif.   This research seeks to complete a new paradigm as a missing link in efforts to fulfill political rights and empower people with disabilities through service learning-based Civics for civic equality, because it is integrative. This research is based on a literature review, with research results, namely, Civics is holistic to overcome stereotypes of ableism and realizes the fulfillment of political rights and empowerment of people with disabilities, for civic equality considering that it has relevant theories, namely transformative citizenship and civic empowerment to overcome individual or medical models of disability. Civics as civic education is a strategic vehicle for providing holistic information regarding the fulfillment of political rights and empowerment of people with disabilities, then Civics as citizenship education is a strategic vehicle for fulfilling political rights and empowerment of people with disabilities, which is socio-cultural in nature, practices citizenship education, contains service learning, so that it is holistic and integrated, then accommodating pentahelix collaboration strategies to involve cross-sectors, as an implementation of the spirit of national unity, so that it is representative and integrative.
REKONTRUKSI MAKNA PANCASILA DALAM KONTEKS SUMBER TERTIB HUKUM (TINJAUAN FILSAFAT HUKUM) Agam Ibnu Asa; Muhammad Mukhtasar Syamsuddin
Bhineka Tunggal Ika Kajian Teori dan Praktik Pendidikan PKN
Publisher : Universitas Sriwijaya in Collaboration with AP3Kni (Asosiasi Profesi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Indonesia/Indonesia Association Profession of Pancasila and Civic Education)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jbti.v12i1.193

Abstract

Pancasila sebagai dasar negara Indonesia memiliki peran yang sangat penting dalam sistem hukum nasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji rekonstruksi makna Pancasila sebagai sumber hukum dalam perspektif filsafat hukum, dengan fokus pada aspek ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Rekonstruksi makna Pancasila dalam konteks ini merujuk pada usaha untuk menafsirkan kembali atau memperbarui pemahaman tentang Pancasila agar lebih relevan dan aplikatif dalam perkembangan hukum yang dinamis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan yuridis filosofis, yang mengkaji teori-teori hukum serta peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan Pancasila. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pancasila, sebagai norma dasar (grundnorm), tidak hanya menjadi sumber legitimasi bagi norma hukum, tetapi juga menjadi fondasi eksistensi sistem hukum Indonesia. Secara epistemologis, Pancasila memberikan kerangka pengetahuan hukum yang lebih inklusif dengan memasukkan nilai-nilai etis, spiritual, dan kultural yang relevan dengan masyarakat Indonesia. Dalam dimensi aksiologis, Pancasila mengarahkan sistem hukum untuk tidak hanya fokus pada aspek formal tetapi juga pada keadilan substantif, dengan keberpihakan pada kelompok rentan dan kemanusiaan. Implikasi dari penelitian ini menekankan pentingnya integrasi nilai-nilai Pancasila dalam pembentukan peraturan perundang-undangan, pendidikan hukum, serta praktik yurisprudensi, guna menciptakan sistem hukum yang adil, berkepribadian, dan relevan dengan kondisi sosial-politik Indonesia.   Pancasila, as the foundation of the Indonesian state, plays a crucial role in the national legal system. This study aims to examine the reconstruction of the meaning of Pancasila as a source of law from a legal philosophical perspective, focusing on the aspects of ontology, epistemology, and axiology. The reconstruction of the meaning of Pancasila in this context refers to the effort to reinterpret or update the understanding of Pancasila to make it more relevant and applicable in the dynamic development of law. The methodology used in this study is a juridical philosophical approach, which examines legal theories and regulations related to Pancasila. The findings of this study indicate that Pancasila, as a fundamental norm (grundnorm), not only serves as a source of legitimacy for legal norms but also as the foundation for the existence of the Indonesian legal system. Epistemologically, Pancasila provides a more inclusive framework for legal knowledge by incorporating ethical, spiritual, and cultural values relevant to Indonesian society. In the axiological dimension, Pancasila directs the legal system to focus not only on formal aspects but also on substantive justice, with a bias toward vulnerable groups and humanity. The implications of this study emphasize the importance of integrating Pancasila’s values into the formulation of regulations, legal education, and jurisprudence practices, in order to create a just, distinctive legal system that is relevant to Indonesia’s socio-political conditions.
PENERAPAN METODE BRAINSTORMING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PENDIDIKAN PANCASILA SISWA KELAS 2B SD MAITREYAWIRA PALEMBANG Nurani Indah Syamprima; Cecil Hiltrimartin; Fauzie
Bhineka Tunggal Ika Kajian Teori dan Praktik Pendidikan PKN
Publisher : Universitas Sriwijaya in Collaboration with AP3Kni (Asosiasi Profesi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Indonesia/Indonesia Association Profession of Pancasila and Civic Education)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jbti.v12i1.211

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar Pendidikan Pancasila siswa kelas 2B SD Maitreyawira Palembang melalui penerapan metode brainstorming. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus, di mana setiap siklus terdiri atas dua pertemuan dan satu kali asesmen. Pada tahap pra-siklus, sebanyak 62% peserta didik telah mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Setelah penerapan metode brainstorming pada siklus I, persentase ketuntasan meningkat menjadi 76%, dan pada siklus II kembali meningkat menjadi 87%. Hasil ini menunjukkan bahwa metode brainstorming efektif dalam meningkatkan keberanian peserta didik dalam menyampaikan pendapat, partisipasi aktif dalam pembelajaran, serta berdampak positif terhadap peningkatan hasil belajar. Dengan demikian, metode brainstorming dapat menjadi alternatif strategi pembelajaran yang mendorong keterlibatan dan pemahaman peserta didik secara lebih optimal.   This study aims to improve the learning outcomes of Pancasila Education of grade 2B students of SD Maitreyawira Palembang through the application of brainstorming method. This research is a classroom action research conducted in two cycles, where each cycle consists of two meetings and one assessment. In the pre-cycle stage, 62% of students had reached the Minimum Completion Criteria (KKM). After applying the brainstorming method in cycle I, the percentage of completeness increased to 76%, and in cycle II it increased again to 87%. These results show that the brainstorming method is effective in increasing students' courage in expressing opinions, active participation in learning, and has a positive impact on improving learning outcomes. Thus, the brainstorming method can be an alternative learning strategy that encourages students' involvement and understanding more optimally.
PEMANFAATAN PLATFORM MERDEKA MENGAJAR (PMM) SEBAGAI SARANA PENINGKATAN KINERJA GURU DI SMP NEGERI 9 PALEMBANG Siti Amanah; Camellia
Bhineka Tunggal Ika Kajian Teori dan Praktik Pendidikan PKN
Publisher : Universitas Sriwijaya in Collaboration with AP3Kni (Asosiasi Profesi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Indonesia/Indonesia Association Profession of Pancasila and Civic Education)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jbti.v12i2.214

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk megetahui pemanfaatan Platform Merdeka Mengajar (PMM) sebagai sarana peningkatan kinerja guru di SMP Negeri 9 palembang. Penelitian menggunakan  pendeketan kualitatif dengan desain penelitian deskriptif. informan yang terdiri dari wakil kepala sekolah bidang kurikulum dan 2 guru. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data yaitu wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PMM memberikan manfaat dalam mendukung kinerja guru, terutama dalam memahami dan mengimplementasikan Kurikulum Merdeka. Meskipun terdapat tantangan seperti keterbatasan sarana dan keterampilan teknologi, penggunaan PMM telah meningkatkan motivasi dan produktivitas guru. Dengan demikian, dukungan dan pelatihan berkelanjutan sangat penting untuk memaksimalkan pemanfaatan PMM dalam meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah.   This study aims to determine the utilization of the teaching independence platform as a means of improving teacher performance in SMP Negeri 9 palembang. The study used a qualitative approach with descriptive research design. informants consisting of vice principal of curriculum and 2 teachers. This study used data collection techniques, namely interviews, observations, and documentation. The results showed that PMM provides significant benefits in supporting teacher performance, especially in understanding and implementing the Independent curriculum. Despite challenges such as limited technological means and skills, the use of PMM has increased teachers ' motivation and productivity. Thus, continuous support and training is essential to maximize the utilization of PMM in improving the quality of education in schools
Peran mahasiswa sebagai agent of change dalam pembentukan karakter bangsa Uswatun Hasanah
Bhineka Tunggal Ika Kajian Teori dan Praktik Pendidikan PKN
Publisher : Universitas Sriwijaya in Collaboration with AP3Kni (Asosiasi Profesi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Indonesia/Indonesia Association Profession of Pancasila and Civic Education)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jbti.v12i2.217

Abstract

Mahasiswa merupakan kelompok intelektual yang memiliki peran penting dalam dinamika perubahan sosial dan pembangunan bangsa. Peran mahasiswa sebagai agent of change (agen perubahan) tercermin dalam kemampuan mereka untuk berpikir kritis, menggerakkan masyarakat, serta memberikan solusi atas persoalan bangsa. Dalam konteks pembentukan karakter bangsa, mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila, memperkuat nasionalisme, serta menumbuhkan kesadaran etis di tengah tantangan globalisasi, krisis moral, dan degradasi budaya. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis peran mahasiswa sebagai agent of change dalam pembentukan karakter bangsa, dengan pendekatan kualitatif kajian literatur. Hasil analisis menunjukkan bahwa mahasiswa mampu berkontribusi dalam pembentukan karakter bangsa melalui tiga peran utama, yaitu: (1) penguatan nilai dan moral, (2) penggerak perubahan sosial, dan (3) pelopor inovasi. Namun, masih terdapat tantangan berupa rendahnya kesadaran kritis, pengaruh budaya, serta lemahnya integrasi nilai-nilai karakter dalam kurikulum. Oleh karena itu, diperlukan sinergi antara mahasiswa, perguruan tinggi, dan masyarakat untuk mewujudkan generasi muda berkarakter.   Students are an intellectual group that plays a crucial role in the dynamics of social change and national development. Their role as agents of change is reflected in their ability to think critically, mobilize society, and provide solutions to national problems. In the context of national character formation, students have a moral responsibility to instill the values ​​of Pancasila, strengthen nationalism, and foster ethical awareness amidst the challenges of globalization, moral crisis, and cultural degradation. This article aims to analyze the role of students as agents of change in national character formation using a qualitative literature review approach. The analysis shows that students are able to contribute to national character formation through three main roles: (1) strengthening values ​​and morals, (2) driving social change, and (3) pioneering innovation. However, challenges remain, including low critical awareness, cultural influences, and the weak integration of character values ​​into the curriculum. Therefore, synergy is needed between students, universities, and the community to create a young generation with character.
PERAN KEDEWASAAN KULTURAL MAHASISWA PPKN DALAM PENGUATAN SIKAP TOLERANSI PADA MASYARAKAT MULTIKULTURAL Tetti Eka Purnama
Bhineka Tunggal Ika Kajian Teori dan Praktik Pendidikan PKN
Publisher : Universitas Sriwijaya in Collaboration with AP3Kni (Asosiasi Profesi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Indonesia/Indonesia Association Profession of Pancasila and Civic Education)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jbti.v12i2.218

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran kedewasaan kultural mahasiswa PPKn dalam memperkuat sikap toleransi pada masyarakat multikultural. Mahasiswa PPKn memiliki posisi strategis sebagai calon pendidik dan agen perubahan yang diharapkan mampu menghadapi tantangan keberagaman budaya di Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, melibatkan mahasiswa PPKn Universitas Negeri Padang. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, kemudian dianalisis dengan Teknik triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan kedewasaan mahasiswa tercermin melalui sikap toleransi, empati, keterbukaan, dan kemampuan bekerjasama dalam lingkungan multikultural. Kedewasaan kultural berperan penting dalam memperkuat sikap toleransi melalui keteladanan, penyebaran nilai-nilai kebhinekaan, serta keterlibatan aktif mahasiswa dalam aktifitas sosial. Penelitian ini menegaskan bahwa kedewasaan kultural merupakan fondasi penting bagi mahasiswa PPKn dalam membangun sikap toleransi yang inklusif dan harmonis di tengah masyarakat majemuk.   This study aims to analyze the role of cultural maturity of PPKn students in strengthening tolerance in a multicultural society. PPKn students have a strategic position as prospective educators and agents of change who are expected to be able to face the challenges of cultural diversity in Indonesia. This study uses a qualitative approach with a case study method, involving PPKn students at Padang State University. Data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation, then analyzed using triangulation techniques. The results show that student maturity is reflected in attitudes of tolerance, empathy, openness, and the ability to cooperate in a multicultural environment. Cultural maturity plays an important role in strengthening tolerance through role models, dissemination of diversity values, and active student involvement in social activities. This study confirms that cultural maturity is an important foundation for PPKn students in building an inclusive and harmonious attitude of tolerance in a pluralistic society.
INTERNALIZATION OF MULTICULTURAL VALUES THROUGH PANDATARA ACTIVITIES AT TARUNA NUSANTARA SENIOR HIGH SCHOOL MAGELANG Eni Kurniawati
Bhineka Tunggal Ika Kajian Teori dan Praktik Pendidikan PKN
Publisher : Universitas Sriwijaya in Collaboration with AP3Kni (Asosiasi Profesi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Indonesia/Indonesia Association Profession of Pancasila and Civic Education)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jbti.v12i2.219

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis proses penanaman nilai-nilai multikultural melalui kegiatan pandatara, yaitu pameran seni dan budaya Nusantara, di SMA Taruna Nusantara Magelang. Metode penelitian yang digunakan yaitu kualitatif dengan teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, serta studi dokumentasi. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa pandatara tidak hanya berperan sebagai wahana pembinaan disiplin dan kepemimpinan siswa, tetapi juga menjadi sarana strategis dalam menginternalisasi nilai-nilai multikulturalisme secara efektif. Nilai-nilai multikultural pada kegiatan Pandatara yaitu: 1) toleransi; 2) saling menghargai; 3) keadilan & kesetaraan; 4) keterbukaan; 5) kerja sama (gotong royong); 6) persatuan dalam keberagaman; 7) empati. Aspek ini menjadi elemen krusial dalam membentuk karakter peserta didik yang datang dari berbagai latar budaya, etnis, dan agama. Melalui interaksi intensif dalam berbagai kegiatan bersama, siswa menunjukkan sikap saling menghormati, empati, dan kerja sama lintas budaya yang tumbuh secara alami. Hal ini turut mendukung terwujudnya suasana sekolah yang ramah, inklusif, dan penuh keharmonisan. Penelitian ini merekomendasikan agar kegiatan serupa dikembangkan secara berkelanjutan sebagai strategi dalam pendidikan karakter berbasis multikultural.   This study aims to describe the process of internalizing multicultural values ​​through Pandatara activities (Nusantara arts and culture exhibitions) at Taruna Nusantara Senior High School, Magelang. This study uses a qualitative approach with data collection techniques in the form of observation, in-depth interviews, and documentation. The results of the study indicate that Pandatara activities not only function as a means of developing discipline and leadership, but also as an effective medium for internalizing multicultural values. The multicultural values ​​in Pandatara activities are: 1) tolerance; 2) mutual respect; 3) justice & equality; 4) openness; 5) cooperation; 6) unity in diversity; 7) empathy. These are important components in the character formation of students who come from diverse cultural, ethnic, and religious backgrounds. Through intensive interactions in various joint activities, students demonstrate attitudes of mutual respect, empathy, and cross-cultural cooperation that grow naturally. These activities contribute to the creation of an inclusive and harmonious school environment. This study recommends that similar activities be developed sustainably as a strategy in multicultural-based character education.

Page 9 of 10 | Total Record : 99