cover
Contact Name
Fahrullah
Contact Email
bnjakys@gmail.com
Phone
+6285250916350
Journal Mail Official
bnjakys@gmail.com
Editorial Address
https://bnj.akys.ac.id/BNJ/about/editorialTeam
Location
Kota samarinda,
Kalimantan timur
INDONESIA
Borneo Nursing Journal
ISSN : 26855054     EISSN : 26548453     DOI : https://doi.org/10.61878/bnj.
Core Subject : Health, Science,
Borneo Nursing Journal (BNJ) adalah jurnal yang diterbitkan dua kali dalam satu tahun oleh Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda bekerjasama dengan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Yarsi Pontianak. Adapun ruang lingkup/topik dalam BNJ adalah bidang Keperawatan. Dalam setiap edisinya, BNJ menerbitkan minimal 5 naskah hasil penelitian dan satu artikel editorial notes. Penulis yang dapat mengirimkan artikel ke BNJ tidak dibatasi hanya pada tenaga pengajar Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda saja, tetapi penulis yang berasal dari perguruan tinggi lain pun dapat mengirimkan manuskrip. Setiap manuskrip yang masuk akan di-review oleh reviewer yang memiliki berbagai macam latar belakang keilmuan yang relevan dengan topik manuskrip.
Articles 591 Documents
Pengembangan Metode E-SAR (Skrining Anemia Remaja) Pada Remaja Putri Di Daerah Kepulauan Tinta Juliana; Rici Gusti Maulani; Desfa Anisa; Ayuandini; Fransiska
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.474

Abstract

Kasus anemia pada remaja putri saat ini perlu menjadi perhatian khusus. Salah satu penyebabnya adalah kebiasaan pola makan yang kurang sehat dan gizi yang tidak seimbang. Faktor berikutnya dikarenakan masih adanya remaja putri yang masih belum paham terkait dengan tanda gejala dan dampak anemia khususnya di daerah kepulauan. Dengan adanya hal ini, perlunya dilakukan penelitian. Metode skrinning anemia berbasis website, dengan sasaran remaja yang saat ini hidup di era digitalisasi. Penelitian ini menggunakan model ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation) sebagai kerangka pengembangan. Tahap analisis dilakukan untuk mengidentifikasi kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi sasaran penelitian. Selanjutnya, pada tahap desain, peneliti merancang produk sesuai tujuan dan kebutuhan yang ditemukan. Tahap pengembangan dilakukan dengan membuat produk serta melakukan validasi ahli dan revisi. Produk yang telah dikembangkan kemudian diuji pada tahap implementasi kepada kelompok sasaran untuk melihat efektivitas dan keterterimaannya. Tahap terakhir adalah evaluasi, baik formatif maupun sumatif, untuk menilai kelebihan, kelemahan, serta keefektifan produk yang dihasilkan. Penelitian ini dapat menjadi salah satu rekomendasi terhadap pemerintah sehingga dapat menjadi salah satu fasilitas kesehatan yang modern.
Hubungan Stigma dan Resiliensi Keluarga dengan Kekambuhan pada Pasien Skizofrenia Fina Oktavia; Fathra Annis Nauli; Tesha Hestyana Sari
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.475

Abstract

Skizofrenia merupakan gangguan jiwa kronis yang membutuhkan perawatan jangka panjang. Kekambuhan pada pasien sering dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk stigma keluarga dan tingkat resiliensi keluarga. Stigma yang tinggi dapat menghambat dukungan, sedangkan resiliensi yang baik dapat membantu mengurangi risiko kekambuhan. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan stigma dan resiliensi keluarga dengan kekambuhan pada pasien skizofrenia. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif deskriptif korelasional dengan pendekatan cross sectional. Populasi adalah seluruh keluarga pasien skizofrenia di wilayah kerja Puskesmas Rawat Jalan Sidomulyo Kota Pekanbaru sebanyak 136 orang dengan teknik total sampling. Instrumen yang digunakan meliputi kuesioner Schedule for Clinical Assessment in Neuropsychiatry (SCAN) untuk mengukur stigma keluarga, Connor-Davidson Resilience Scale (CD-RISC) untuk menilai resiliensi keluarga, serta kuesioner frekuensi kekambuhan. Ketiga instrumen telah melalui uji validitas dan reliabilitas sehingga layak digunakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar keluarga memiliki stigma rendah (40,2%) dan resiliensi cukup (57,4%). Sebagian besar pasien skizofrenia tidak mengalami kekambuhan (52,5%). Uji Chi-Square dan Fisher’s Exact Test menunjukkan adanya hubungan signifikan antara stigma dan resiliensi keluarga dengan kekambuhan dengan p-value < 0,05. Disarankan agar tenaga kesehatan meningkatkan edukasi kepada keluarga terkait pengurangan stigma dan penguatan resiliensi untuk mencegah kekambuhan pasien skizofrenia.
Pengaruh Pemberian Terapi Reminiscence Terhadap Penurunan Ansietas Pada Lansia Di Desa Satria Kecamatan Mootilango Kabupaten Gorontalo Rahma Wahyunensi Hamzah; Ibrahim Paneo; Andi Nur Aina Sudirman; Inne Ariane Gobel
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.476

Abstract

Ansietas merupakan gangguan psikologis yang umum terjadi pada lansia akibat perubahan fisik, sosial, dan emosional seiring bertambahnya usia. Salah satu intervensi non farmakologis yang dapat digunakan untuk menurunkan tingkat ansietas adalah terapi reminiscence, yaitu terapi psikologis yang mengajak individu untuk mengingat kembali pengalaman hidup yang menyenangkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi reminiscence terhadap penurunan ansietas pada lansia di Desa Satria, Kecamatan Mootilango. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan desain pra-eksperimental One Group Pretest-Posttest Design. Sampel terdiri dari 20 lansia yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Terapi diberikan dalam tiga sesi selama dua minggu, mencakup tahap kehidupan masa anak-anak, remaja, dan dewasa. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Paired Sample T-Test. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan signifikan tingkat ansietas setelah pemberian terapi reminiscence, dengan nilai p = 0,000 (p<0,05), sehingga hipotesis alternatif diterima. Hal ini membuktikan bahwa terapi reminiscence dapat secara efektif menurunkan ansietas pada lansia. Kesimpulannya, terapi reminiscence memberikan pengaruh signifikan terhadap penurunan ansietas dan dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif intervensi keperawatan non farmakologis yang efektif dalam meningkatkan kesehatan mental lansia.
Pengaruh Pendidikan Kesehatan Dengan Metode Mixed Media Education Intervention Program Terhadap Pengetahuan dan Sikap Anak Sekolah Dasar Tentang Karies Gigi Rahmadhani Sahara; Syeptri Agiani Putri; Masrina Munawarah Tampubolon
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.477

Abstract

Anak-anak sekolah dasar berisiko tinggi mengalami karies gigi akibat keterbatasan pengetahuan dan kurangnya sikap positif terhadap kesehatan gigi dan mulut. Angka kejadian karies gigi di Indonesia sendiri masih tergolong tinggi, termasuk di Kota Pekanbaru. Salah satu sekolah yang turut mengalami permasalahan ini adalah SDN 95 Pekanbaru. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Mixed Media Education Intervention Program terhadap pengetahuan dan sikap anak terkait karies gigi. Metode yang digunakan yaitu kuantitatif dengan desain quasi eksperimental dengan pendekatan pretest – posttest with control group design. Sampel dalam penelitian sebanyak 54 responden yang terdiri atas kelompok intervensi dan kelompok kontrol masing-masing terdiri atas 27 responden dengan teknik proportionate stratified random sampling. Analisa bivariat yang digunakan adalah Uji wilcoxon signed test dan Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel pengetahuan dan sikap memiliki nilai p-value 0,000 (p < 0.05), Hal ini menunjukkan bahwa adanya pengaruh yang signifikan dari intervensi pendidikan kesehatan melalui gabungan tiga metode terhadap pengetahuan dan sikap anak sekolah dasar terkait karies gigi. Metode Mixed Media Education Intervention program terbukti dapat meningkatkan pengetahuan dan sikap siswa terhadap pencegahan karies gigi.
Hubungan Kepatuhan Minum Obat Terhadap Kualitas Hidup Pasien Tuberkulosis Di Wilayah Kerja UPTD. Puskesmas Jombang, Jember Ahmadi Ahmadi; Musthika Wida Mashitah
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.478

Abstract

Tuberkulosis (TBC) merupakan penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis dan masih menjadi masalah kesehatan masyarakat global dengan angka kejadian dan mortalitas yang tinggi, termasuk di Indonesia. Keberhasilan pengobatan TBC sangat bergantung pada tingkat kepatuhan pasien dalam minum obat sesuai pedoman nasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat kepatuhan minum obat dengan kualitas hidup pasien TBC di wilayah kerja UPT. Puskesmas Jombang pada tahun 2025. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif korelasional dengan sampel 52 responden yang dipilih secara simple random sampling dari populasi 69 pasien TBC. Instrumen yang digunakan adalah MMAS-8 untuk menilai kepatuhan minum obat dan WHOQoL-BREF untuk mengukur kualitas hidup pada empat domain: fisik, psikologis, hubungan sosial, dan lingkungan. Berdasarkan hasil penelitian, mayoritas pasien memiliki kepatuhan minum obat tinggi (46,2%) dan kualitas hidup yang bervariasi, dengan sebagian besar kualitas hidup fisik dan lingkungan berada pada kategori tinggi, sedangkan kualitas hidup psikologis dan sosial cenderung sedang. Analisis menunjukkan adanya hubungan signifikan antara kepatuhan minum obat dengan kualitas hidup pada semua domain (p-value = 0,000), yang menunjukkan bahwa semakin tinggi kepatuhan pasien, semakin baik kualitas hidupnya. Temuan ini menegaskan pentingnya edukasi, dukungan keluarga, dan pemantauan pengobatan secara konsisten melalui strategi DOTS untuk meningkatkan keberhasilan terapi dan kesejahteraan pasien TBC secara menyeluruh.
Peran Baby Safety Care Dalam Peningkatan Budaya Patient Safety Pada Bidan Di Kota Samarinda Siti Saidah; Dian Samtyaningsih; Herni Johan; Rahmawati
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.479

Abstract

Setiap ibu hamil memiliki risiko sebesar 8,6% mengalami insiden yang salah satunya dipengaruhi oleh keterbatasan pengetahuan bidan mengenai patient safety, sehingga diperlukan strategi intervensi yang mampu meningkatkan budaya keselamatan pasien di fasilitas pelayanan kebidanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas aplikasi Baby Safety Care terhadap peningkatan budaya patient safety pada bidan di Kota Samarinda. Metode penelitian yang digunakan adalah quasi-experimental dengan rancangan pretest-posttest control group design. Sebanyak 34 bidan dilibatkan sebagai sampel penelitian, yang kemudian dibagi ke dalam kelompok intervensi menggunakan aplikasi Baby Safety Care dan kelompok kontrol menggunakan buku. Pengukuran dilakukan sebelum dan sesudah intervensi untuk menilai perubahan budaya patient safety yang meliputi aspek pengetahuan, sikap, dan praktik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan nilai rata-rata budaya patient safety antara sebelum dan sesudah intervensi, di mana kelompok intervensi menunjukkan peningkatan yang lebih signifikan dibandingkan kelompok kontrol. Analisis statistik menunjukkan nilai p sebesar 0,001 pada kelompok yang menggunakan aplikasi Baby Safety Care, sedangkan pada kelompok kontrol yang menggunakan buku diperoleh nilai p sebesar 0,152. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan aplikasi Baby Safety Care memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan budaya patient safety pada bidan, sementara penggunaan buku tidak memberikan perubahan yang bermakna. Berdasarkan perbandingan nilai mean difference, intervensi melalui aplikasi Baby Safety Care terbukti lebih efektif dibandingkan dengan intervensi menggunakan buku dalam meningkatkan pemahaman dan praktik budaya patient safety pada bidan di Kota Samarinda. Temuan ini menegaskan bahwa inovasi berbasis digital dapat menjadi solusi strategis untuk mendukung peningkatan mutu pelayanan kebidanan, khususnya dalam aspek keselamatan pasien. Dengan demikian, aplikasi Baby Safety Care berpotensi diintegrasikan dalam program pelatihan maupun pembelajaran berkelanjutan bagi bidan sebagai upaya membangun budaya patient safety yang lebih kuat di tingkat pelayanan kesehatan dasar.
Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Tingkat Kecemasan Anak Usia Prasekolah Yang Menjalani Hospitalisasi Tiara Asyifa Putri; Riri Novayelinda; Nurhannifah Rizky Tampubolon
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.480

Abstract

Pendahuluan: Hospitalisasi adalah pengalaman anak saat menjalani suatu proses perawatan dan tinggal di rumah sakit karena alasan kesehatan atau keadaan darurat sampai anak pulang ke rumah kembali. Tujuan: Penelitin bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan tingkat kecemasan anak usia prasekolah yang menjalani hospitalisasi, meliputi usia, jenis kelamin, lama rawat, pengalaman hospitalisasi, serta perilaku caring perawat. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel berjumlah 126 responden yang diambil menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner Caring Profesional Scale (CPS) dan Spence Children’s Anxiety Scale Parent Report (SCAS) yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya Analisis yang digunakan menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Hasil analisis uji chi-square, diperoleh nilai p value < α (0,05) yang menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara faktor lama rawat (0,008), usia (0,043), pengalaman hospitalisasi (0,001), serta perilaku caring perawat (0,000). Namun jenis kelamin tidak menunjukkan hubungan yang signifikan (0,721). Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa usia, lama rawat, pengalaman hospitalisasi, dan perilaku caring perawat berhubungan dengan tingkat kecemasan, sedangkan jenis kelamin tidak menunjukkan hubungan yang signifikan.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kualitas Hidup Anak Usia Sekolah Dengan Epilepsi Di Pekanbaru Nur Allima; Riri Novayelinda; Syeptri Agiani Putri
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.481

Abstract

Pendahuluan: Epilepsi merupakan gangguan neurologis kronis yang dapat menurunkan kualitas hidup anak pada aspek fisik, psikologis, sosial, dan pendidikan. Faktor klinis serta sosial keluarga berperan penting terhadap kualitas hidup anak dengan epilepsi. Tujuan: Mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi kualitas hidup anak usia sekolah dengan epilepsi di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru. Metode: penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel berjumlah 60 anak usia 7–12 tahun yang dipilih menggunakan purposive sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner kualitas hidup dan karakteristik responden. Analisis yang digunakan yaitu univariat dan bivariat menggunakan uji Spearman untuk variabel numerik dan uji Chi-Square untuk variabel kategorik. Karena sebagian tabel tidak memenuhi asumsi uji Chi-Square (expected count > 20%), maka digunakan uji alternatif Fisher’s Exact. Hasil: analisis univariat menunjukkan mayoritas responden berjenis kelamin laki-laki (65%) dengan kategori kualitas hidup terbanyak adalah sedang (71,7%), diikuti tinggi (16,7%) dan rendah (11,7%). Uji Spearman menunjukkan hubungan signifikan antara frekuensi kejang dengan kualitas hidup, sedangkan usia dan lama mengalami epilepsi tidak signifikan. Uji Fisher’s Exact menunjukkan hubungan signifikan antara kualitas hidup dengan pendapatan orang tua dan pendidikan orang tua, sedangkan jenis kelamin tidak signifikan. Kesimpulan: terdapat hubungan antara frekuensi kejang, pendapatan orang tua, dan pendidikan orang tua dengan kualitas hidup anak usia sekolah dengan epilepsi.
Pemanfaatan Pangan Lokal Jantung Pisang Kepok Dalam Peningkatan Produksi ASI Sri Heryani; Yudita Ingga Hindiarti; Kurniati Devi Purnamasari; Anisa Puspitasari
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.482

Abstract

Pemberian ASI eksklusif masih menjadi tantangan di Indonesia dan dipengaruhi oleh produksi ASI serta pengetahuan ibu. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa jantung pisang kepok, sebagai sumber pangan lokal yang kaya vitamin, mineral, dan senyawa lactogogum, berpotensi meningkatkan produksi ASI melalui stimulasi hormon prolaktin dan oksitosin. Literature review ini bertujuan mengidentifikasi bukti ilmiah mengenai efektivitas olahan jantung pisang kepok terhadap produksi ASI serta peran edukasi dalam meningkatkan praktik menyusui. Metode peninjauan dilakukan dengan menelaah artikel penelitian nasional yang relevan, termasuk studi quasi-eksperimen dan program pengabdian masyarakat yang mengevaluasi konsumsi olahan jantung pisang kepok serta edukasi pada ibu menyusui. Hasil peninjauan menunjukkan konsistensi temuan bahwa konsumsi jantung pisang kepok, baik dalam bentuk sayur maupun nugget, berkontribusi pada peningkatan produksi ASI, sementara kegiatan edukasi terbukti meningkatkan pengetahuan dan sikap ibu terkait praktik menyusui. Meskipun demikian, sebagian besar penelitian memiliki keterbatasan berupa ukuran sampel kecil, durasi intervensi pendek, dan metodologi yang belum homogen, sehingga menyebabkan variasi hasil. Literatur juga menunjukkan bahwa faktor sosial budaya dan dukungan keluarga masih menjadi kendala dalam keberhasilan ASI eksklusif. Secara keseluruhan, jantung pisang kepok berpotensi sebagai intervensi lokal yang murah, aman, dan mudah diakses untuk membantu produksi ASI, namun dibutuhkan penelitian dengan desain lebih kuat dan sampel lebih besar untuk memastikan efektivitasnya. 
Pengaruh Edukasi Toilet Training Dengan Media Modul Terhadap Pengetahuan Ibu Pada Anak Usia Toddler Windy Lavenia Rahayu; Ganis Indriati; Syeptri Agiani Putri
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.483

Abstract

Pendahuluan: Toilet training merupakan proses melatih anak agar mampu buang air secara mandiri serta membiasakan mereka menggunakan tempat yang tepat. Pengetahuan ibu menjadi salah satu faktor penting dalam keberhasilan toilet training. Tujuan: Mengetahui pengaruh edukasi toilet training dengan media modul terhadap pengetahuan ibu pada anak usia toddler Metode: Penelitian ini menggunakan desain quasy experiment dengan rancangan one group pretest–posttest design. Sampel terdiri dari 34 ibu yang memenuhi kriteria inklusi dan dipilih dengan teknik purposive sampling. Analisis data menggunakan uji paired t-test. Hasil: Mayoritas responden berusia 26-35 tahun sebanyak 22 orang, berpendidikan terakhir SMA sebanyak 24 orang, 21 orang adalah Ibu Rumah Tangga, memiliki anak usia 25-36 bulan sebanyak 17 orang, dan jenis kelamin anak yaitu perempuan sebanyak 19 orang. Hasil uji paired t-test menunjukkan (p value 0,000 < α 0,05) terdapat pengaruh edukasi toilet training dengan media modul terhadap pengetahuan ibu pada anak usia toddler. Kesimpulan: Edukasi toilet training dengan media modul mempengaruhi pengetahuan ibu pada anak usia toddler. Saran: Ibu dengan anak toddler diharapkan dapat memanfaatkan edukasi toilet training dengan berbagai media khususnya modul dalam meningkatkan pengetahuannya. Tenaga kesehatan dapat memanfaatkan media modul untuk meningkatkan pengetahuan ibu tentang toilet training. Penelitian selanjutnya disarankan melibatkan sampel yang lebih luas guna menguji pengaruh modul dengan lebih optimal.