cover
Contact Name
Ahmad Arifuddin
Contact Email
arifuddin@uinssc.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
alibtida@uinssc.ac.id
Editorial Address
Jl. Perjuangan By Pass Sunyaragi, Cirebon, West Java 45132, Indonesia Universitas Islam Negeri Siber Syekh Nurjati Cirebon
Location
Kota cirebon,
Jawa barat
INDONESIA
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI
Core Subject :
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI is a high-quality peer-reviewed journal published by Department of Madrasah Ibtidaiyah Teacher Education, Faculty of Tarbiyah and Teacher Training, UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Indonesia in collaboration with Indonesian Islamic Elementary Education Lecturers Association (Perkumpulan Dosen PGMI Indonesia). Publishing twice a year, in June and October and already have a registration number p-ISSN: 2442-5133 and e-ISSN: 2527-7227. Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI is the leading journal in Islamic educational institutions concerning Islamic elementary education. The journal promotes research and scholarly discussion concerning Islamic Elementary education in Academic disciplines and Institutions, focusing on the advancement of scholarship both formal and non-formal education. Topics might be about curriculum development, teaching and learning, learning methodologies, instructional technologies, teacher competences, and assessments.
Arjuna Subject : -
Articles 281 Documents
The Effectiveness of the In-Service Training Model towards Improving Madrasah Ibtidaiyah Teachers' Performance in Supporting National Assessment Policy Moh Masnun; Patimah Patimah; Tati Nurhayati; Ardian Maulana; Ziah Pandani
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol. 11 No. 1 (2024): June 2024
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v11i1.16549

Abstract

AbstractThis study aims to investigates the effectiveness of the In-Service Training model in enhancing the performance of Madrasah Ibtidaiyah teachers in Indonesia, particularly in alignment with the National Assessment Policy. This research is a qualitative research using observation, interviews, and documentation for data collection. We analyzed the data through reduction, presentation, and conclusion stages. Findings indicate that the in-service training model significantly benefits Madrasah Ibtidaiyah teachers to improve their ability to support educational policy goals. Teachers and school leaders expressed a desire for sustained, needs-based training. Factors that facilitate successful training implementation include active participation by all teachers and school principals, positive attitudes toward professional development, and alignment of training activities with school-specific needs. However, there are persistent challenges, such as limited school resources, inadequate internet access, and teachers' low proficiency in digital skills. Furthermore, training availability often depends on external funding, such as school operational assistance affirmation grants, underscoring budget constraints as a barrier to consistent professional growth.Keywords: in-service training model, madrasah ibtidaiyah teachers performance, national assessment. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menyelidiki efektivitas model Pelatihan Dalam Jabatan (in-service training) dalam meningkatkan kinerja guru Madrasah Ibtidaiyah di Indonesia, khususnya yang selaras dengan Kebijakan Penilaian Nasional. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi untuk pengumpulan data. Data dianalisis melalui tahap reduksi, penyajian, dan kesimpulan. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa model In-Service Training secara signifikan memberikan manfaat bagi guru madrasah ibtidaiyah dalam meningkatkan kemampuan mereka untuk mendukung tujuan kebijakan pendidikan. Guru dan pimpinan sekolah menyatakan keinginan mereka untuk mendapatkan pelatihan yang berkelanjutan dan berbasis kebutuhan. Faktor-faktor yang memfasilitasi keberhasilan pelaksanaan pelatihan diantaranya partisipasi aktif dari semua guru dan kepala sekolah, sikap positif terhadap pengembangan profesional, dan penyelarasan kegiatan pelatihan dengan kebutuhan sekolah. Namun, tantangan tetap ada, terutama sumber daya sekolah yang terbatas, termasuk akses internet yang tidak memadai dan rendahnya kemampuan guru dalam keterampilan digital. Selain itu, ketersediaan pelatihan sering kali bergantung pada pendanaan eksternal, seperti dana BOS Afirmasi, yang menggarisbawahi keterbatasan anggaran sebagai penghalang bagi pertumbuhan profesional yang konsisten.Kata kunci: model in-service training, kinerja guru madrasah ibtidaiyah, asesmen nasional.
Developing a Comprehensive Assessment Tool for Elementary Students’ Scientific Literacy Hafiziani Eka Putri; Fitri Nuraeni; Nenden Permas Hikmatunisa; Ravy Hun; Salis Elmadani
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol. 11 No. 2 (2024): October 2024
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v11i2.16579

Abstract

Abstract Scientific literacy embodies the essential scientific knowledge and skills that students require for comprehending and applying scientific concepts in their daily lives. This study aimed to design an assessment tool for gauging elementary school students' scientific literacy. Adopting the Research and Development (R&D) approach, this study incorporates a 3D (Define, Design, and Develop) framework. The scientific literacy indicators devised encompass the ability to explain phenomena scientifically, evaluate and design scientific inquiry, and interpret data and evidence scientifically. The outcome of this research manifests as a Scientific Literacy Instrument comprising six open-ended questions accompanied by alternative answer schemes. The appropriateness of all items demonstrates a moderate level of validity. The reliability of the test items indicates a commendable degree of consistency. The complexity of the questions ranges from moderate to challenging. The discriminating power of each item indicates a noteworthy level of differentiation. Thus, the scientific literacy assessment tool formulated in this study serves as an effective means of evaluating students' scientific literacy in the context of elementary school science education.Keywords: instrument, scientific literacy, science learning.AbstrakLiterasi sains merupakan pengetahuan dan keterampilan ilmiah yang perlu dipahami dan diterapkan siswa dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan instrumen kemampuan literasi sains yang dapat digunakan pendidik untuk mengukur kemampuan literasi sains siswa dalam pembelajaran sains di sekolah dasar. Metode penelitian yang digunakan adalah Research and Development (R&D) dengan desain 3D (Define, Design, dan Develop). Indikator literasi sains yang dikembangkan antara lain menjelaskan fenomena, mengevaluasi dan merancang pertanyaan, serta menafsirkan data dan bukti secara ilmiah. Penelitian ini menghasilkan Instrumen Kemampuan Literasi Sains yang terdiri dari 6 soal essay dengan alternatif kunci jawaban. Hasil perhitungan validitas seluruh item mempunyai interpretasi sedang. Reliabilitas soal tes mempunyai interpretasi yang baik. Tingkat kesukaran butir soal interpretasi sedang hingga sulit. Daya pembeda tiap item diartikan dari baik sampai sangat baik. Dengan demikian instrumen tes kemampuan literasi sains yang dikembangkan dalam penelitian ini dapat digunakan sebagai instrumen untuk mengukur kemampuan literasi sains siswa di sekolah dasar.Kata kunci: instrumen, literasi sains, pembelajaran sains.
The Impact of the Pembina Learning Model on Elementary School Students' Understanding of Cultural Diversity Wina Dwi Puspitasari; Mubiar Agustin; Ernawulan Syaodih; Roni Rodiyana
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol. 11 No. 1 (2024): June 2024
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v11i1.16737

Abstract

AbstractMulticultural education is an important approach to making the spirit of Bhinneka Tunggal Ika the main foundation in elementary schools. By integrating the values of Bhinneka Tunggal Ika in learning, teachers can create a learning environment that respects differences, and forms citizens who are tolerant and respect diversity. The study aims to determine the impact of the Pembina learning model on elementary school students' understanding of cultural diversity. The research design uses a quasi-experimental design with a non-equivalent control group design. The experimental group used a value inquiry-based multicultural education learning model  (Pembina), and the control group received ordinary learning. The research population was fourth-grade students in four elementary schools, while the control group was in three elementary schools. The results of the research show that the Pembina learning model provides an increase of 68.7% in providing an understanding of cultural diversity, and social and emotional skills of students. The findings show that this learning model contributes to forming characters who are more tolerant and respectful of cultural differences, as well as creating a deeper learning environment.Keywords:  Pembina learning model, understanding of cultural diversity, multicultural education.AbstrakPendidikan multikultural merupakan pendekatan penting untuk menjadikan semangat Bhinneka Tunggal Ika sebagai landasan utama di sekolah dasar. Dengan mengintegrasikan nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika dalam pembelajaran, guru dapat menciptakan lingkungan belajar yang menghargai perbedaan, membentuk warga negara yang toleran dan menghargai keberagaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak model pembelajaran  Pembina terhadap pemahaman siswa sekolah dasar tentang keberagaman budaya. Desain penelitian menggunakan desain quasi eksperimen dengan desain kelompok kontrol non-ekuivalen. Kelompok eksperimen menggunakan model pembelajaran pendidikan multikultural berbasis inkuiri nilai (Pembina), dan kelompok kontrol menerima pembelajaran biasa. Populasi penelitian adalah siswa kelas IV di empat sekolah dasar, sedangkan kelompok kontrol di tiga sekolah dasar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran  Pembina memberikan peningkatan sebesar 68,7% dalam memberikan pemahaman tentang keberagaman budaya, keterampilan sosial dan emosional siswa. Temuan penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran ini berkontribusi dalam membentuk karakter yang lebih toleran dan menghargai perbedaan budaya, serta menciptakan lingkungan belajar yang lebih mendalam.Kata kunci: model pembelajaran  Pembina, pemahaman keberagaman budaya, pendidikan multikultural.
Project-based Authentic Assessment Needs Analysis for Teachers in Primary Schools Yuyun Dwi Haryanti; Sapriya Sapriya; Anggy Giri Prawiyogi; Ahmad Rifqy Ash-Shiddiqy; Raden Sudarwo
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol. 11 No. 1 (2024): June 2024
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v11i1.16982

Abstract

AbstractLearning and assessment are an inseparable whole. Assessment, if designed appropriately, thoroughly and used appropriately in assessment procedures, can contribute to effective learning and have an impact on the competence of quality students. This study aims to analyze the need for project-based authentic assessment of teachers in elementary schools. This research includes descriptive qualitative research on elementary school teachers in Banjarnegara Regency, Central Java. Data was collected through literature studies of reputable international articles indexed by Scopus and field studies through questionnaires distributed to 103 elementary school teachers, interviews, and documentation studies of 10 elementary school teachers. Data analysis using the Miles and Huberman model includes: data collection, data reduction, data presentation, and conclusions. The results of the study showed that the majority of teachers' assessments focused on the knowledge aspect using a multiple-choice test, the attitude aspect using observation, and the skill aspect using project assessment. Due to a lack of references, teachers struggle to develop assessment instruments and thus lack a clear rubric. The conclusion of this study is that teachers have difficulty implementing project-based authentic assessments so they need a practical authentic assessment companion book.Keywords: authentic assessments, project-based, primary school teacher.AbstrakPembelajaran dan penilaian menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Penilaian bila dirancang dengan tepat, menyeluruh dan digunakan secara tepat dalam prosedur penilaian dapat berkontribusi pada pembelajaran yang efektif serta berdampak pada kompetensi peserta didik yang berkualitas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebutuhan penilaian autentik berbasis proyek terhadap guru di sekolah dasar. Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif deskriptif terhadap guru Sekolah Dasar di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Data dikumpulkan melalui studi literatur artikel internasional bereputasi terindeks scopus dan studi lapangan melalui kuesioner yang dibagikan terhadap 103 guru SD, wawancara, dan studi dokumentasi terhadap 10 guru SD. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman meliputi: pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk penilaian mayoritas guru pada aspek pengetahuan menggunakan tes pilihan ganda, aspek sikap dengan menggunakan observasi, dan aspek keterampilan diukur dengan penilaian proyek. Guru kesulitan dalam mengembangan instrumen penilaian sehingga tidak memiliki rubrik yang jelas diakibatkan kurangnya referensi. Simpulan penelitian ini bahwa guru kesulitan menerapkan penilaian autentik berbasis proyek sehingga membutuhkan buku pendamping penilaian autentik yang praktis.Kata kunci: penilaian autentik, berbasis proyek, guru sekolah dasar.
The Digital Era: Transformation of Elementary School Students' Character through Social Media Interaction Ainun Jariah; Sukron Fujiaturrahman; Syafruddin Muhdar
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol. 11 No. 1 (2024): June 2024
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v11i1.16992

Abstract

AbstractThe digital age presents significant challenges and roles in molding the character of elementary school students through social media. Today's youth are exposed to diverse information and interactions via online platforms, presenting new challenges in instilling positive values, attitudes, and behaviors. This study aims to explore how social media influences the character formation of elementary school students in the digital age. Employing a qualitative method with a phenomenological approach, the research involves 27 sixth-grade elementary students, along with teachers and parents as informants. Research tools include observation sheets illustrating social media's influence on character formation and interviews with teachers and parents. The research findings indicate that social media plays a significant role in shaping students' character. Most students demonstrate positive attitudes toward character values potentially influenced by social media, including time discipline, creativity, independence, responsibility, environmental awareness, a strong social spirit, and a high curiosity for new experiences. Keywords: digital age, social media, student’s character. AbstrakEra digital menimbulkan tantangan dan peran yang besar dalam membentuk karakter siswa sekolah dasar melalui media sosial. Anak-anak saat ini terpapar berbagai informasi dan interaksi melalui platform online, yang menciptakan tantangan baru dalam menanamkan nilai-nilai, sikap, dan perilaku positif. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana media sosial memengaruhi pembentukan karakter siswa sekolah dasar di era digital. Dengan menggunakan metode kualitatif dan pendekatan fenomenologis, penelitian melibatkan 27 siswa sekolah dasar kelas enam, serta guru dan orang tua sebagai informan. Instrumen penelitian meliputi lembar observasi yang menggambarkan pengaruh media sosial pada pembentukan karakter dan wawancara dengan guru dan orang tua. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media sosial memiliki peran signifikan dalam membentuk karakter siswa, dengan sebagian besar menunjukkan sikap positif terhadap nilai-nilai karakter yang mungkin terpengaruh oleh penggunaan media sosial meliputi: religiusitas, toleransi, moral yang baik, disiplin waktu, kreativitas, kemandirian, tanggung jawab, kepedulian terhadap lingkungan, semangat sosial yang kuat, dan rasa ingin tahu yang tinggi terhadap hal-hal baru.Kata kunci: era digital, media sosial, karakter siswa.
Microlearning Instructional Design with Process Approach for Improving Early Reading Skills of Prospective Elementary School Teachers Bagus Cahyanto; Titis Angga Rini; Evi Rizqi Salamah; Muhammad Ali Rohmad
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol. 11 No. 2 (2024): October 2024
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v11i2.17073

Abstract

AbstractTeaching early reading is a crucial skill for prospective elementary school teachers. However, in practice, there is a persistent observation of a low mastery of teaching methods in this area which is a mandatory pedagogical competency for teachers. This study aimed to describe the improvement of college students' proficiency in teaching early reading through microlearning-based instructional design with a process approach. The process approach refers to the implementation of the stages of reading instruction, namely in the pre-reading, during reading and post-reading stages. This study uses quantitative and qualitative data through tests, field notes, and documentation. The N-Gain test was utilized to analyze the quantitative data, employing one-group pretest and posttest design. Concurrently, the qualitative data from field notes and documentation underwent analysis through display, reduction, and verification data. The results of this study indicate that the implementation of microlearning-based instructional design with a process approach significantly enhances the early reading teaching skills of prospective elementary school teachers. Notably, improvements are observed across in the pre-reading, during-reading, and post-reading stages. The impact is particularly pronounced in the during-reading stage, where collage students exhibit enhanced mastery of teaching methods and adept use of appropriate media. The conclusion of this study shows the efficacy of an instructional design tailored to and focused on the specific needs of learning segments, which provides a better learning experience in teaching early reading.Keywords: early reading, instructional design, microlearning, process approach.                                                         AbstrakPengajaran membaca permulaan menjadi salah satu kompetensi yang harus dikuasi mahasiswa calon guru sekolah dasar meskipun dalam praktiknya, ada pengamatan terus-menerus tentang penguasaan metode pengajaran yang rendah di area ini yang merupakan kompetensi pedagogik wajib bagi guru. Penelitian ditujukan untuk mendeskripsikan peningkatan keterampilan mahasiswa dalam pengajaran membaca permulaan melalui desain instruksional berbasis microlearning dengan pendekatan proses. Pendekatan proses ini mengacu pada penerapan tahapan pengajaran membaca yakni dalam tahap pra, saat, dan pasca membaca. Penelitian ini menggunakan data kualitatif dan kuantitatif dengan pengumpulan datanya melalui tes, catatan lapangan, dan dokumentasi. Hasil datanya dianalisis dengan statistik deskriptif melalui uji N-Gain berdasarkan hasil tes dari one group pretest and postest design. Analisis juga dilakukan melalui data display, reduksi, dan verifikasi untuk hasil catatan lapangan dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa desain instruksional berbasis microlearning dengan pendekatan proses dapat meningkatkan keterampilan pengajaran membaca permulaan mahasiswa calon guru sekolah dasar dalam kategori cukup signifikan. Peningkatan ini meliputi pengajaran pada tahap pra, saat, dan pasca membaca permulaan khususnya pada tahap saat membaca dalam penguasaan metode dan penggunaan media yang tepat. Kesimpulannya menunjukkan bahwa desain intruksional yang didesain secara khusus dan terfokus dalam segmen-segmen pembelajaran memberikan pengalaman belajar yang lebih baik pada mahasiswa dalam pengajaran membaca permulaan.Kata kunci: desain intruksional, membaca permulaan, microlearning, pendekatan proses.
Implementation of Teaching Materials Containing Majalengka Local Wisdom to Improve Ecoliteracy in Elementary Schools Devi Afriyuni Yonanda; Dudu Suhandi Saputra; Irma Sofiasyari; Islahuddin Islahuddin; Devita Cahyani Nugraheny
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol. 11 No. 2 (2024): October 2024
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v11i2.17086

Abstract

AbstractThe environment is a precious resource that requires maintenance and preservation. Nonetheless, awareness regarding the significance of environmental conservation requires enhancement, particularly among elementary school students. This quasi-experimental research aimed to enhance the eco-literacy of elementary school students. This study's subjects were purposively selected elementary school students from Majalengka Regency. The research data consisted of both test and non-test instruments. Subsequent to data collection, it was analyzed utilizing a qualitative method with inductive techniques and a quantitative method employing statistical tests. The findings indicated a substantial enhancement in eco-literacy among the experimental group relative to the control group. The results demonstrate that utilizing teaching materials grounded in local wisdom can effectively enhance elementary students' comprehension and awareness of environmental issues. This study significantly contributes to the advancement of environmental education in Indonesia by highlighting the necessity of incorporating and integrating local values into eco-literacy instruction in elementary schools.Keywords: teaching materials, local wisdom, ecoliteracy.AbstrakLingkungan merupakan sumber daya yang sangat berharga yang perlu dipelihara dan dilestarikan. Meskipun demikian, kesadaran akan pentingnya pelestarian lingkungan perlu ditingkatkan, khususnya di kalangan siswa sekolah dasar. Penelitian kuasi-eksperimental ini bertujuan untuk meningkatkan literasi ekologi siswa sekolah dasar. Subjek penelitian ini adalah siswa sekolah dasar yang dipilih secara purposif di Kabupaten Majalengka. Data penelitian terdiri dari instrumen tes dan non-tes. Setelah data terkumpul, data dianalisis menggunakan metode kualitatif dengan teknik induktif dan metode kuantitatif dengan menggunakan uji statistik. Temuan penelitian menunjukkan peningkatan yang substansial dalam literasi ekologi di antara kelompok eksperimen dibandingkan dengan kelompok kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan bahan ajar yang didasarkan pada kearifan lokal dapat secara efektif meningkatkan pemahaman dan kesadaran siswa sekolah dasar tentang isu-isu lingkungan. Penelitian ini memberikan kontribusi yang signifikan terhadap kemajuan pendidikan lingkungan di Indonesia dengan menyoroti perlunya menggabungkan dan mengintegrasikan nilai-nilai lokal ke dalam pengajaran literasi ekologi di sekolah dasar.Kata kunci: bahan ajar, kearifan lokal, literasi ekologi.
Maintaining Local Languages in the Elementary Schools in Indonesia through Pierre Bourdieu’s Cultural Reproduction Strategies Mohammad Andi Hakim; Eri Kurniawan; Wawan Gunawan; Budi Hermawan
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol. 11 No. 1 (2024): June 2024
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v11i1.17345

Abstract

AbstractThis research examines cultural reproduction strategies for maintaining local languages in elementary schools in Indonesia. The academic struggle for local language maintenance programs needs to be refined with alternative thinking and solutions. The study was conducted using a qualitative approach and a library research and outlines various findings regarding local language maintenance programs in elementary schools. Maintaining local languages in the management of elementary schools in Indonesia can be done through Pierre Bourdieu’s cultural reproduction strategies through programs orientated towards strengthening aspects of 1) Habitus, which focuses on externalizing awareness of the importance of preserving local languages; 2) capital, which focuses on resources and supporting capacity for local language preservation; and 3) arena, which focuses on educational and learning activities. The design of strengthening local language preservation through habitus is carried out in several steps: 1) applying linguistic knowledge; 2) promoting language loyalty, pride, and awareness of norms; 3) engaging in literature on language preservation and authenticity; and 4) fostering a positive language attitude. Meanwhile, the capital strengthening program through resources and carrying capacity is carried out: 1) the implementation of the Indonesian Language Policy; 2) the promotion of family, neighborhood, and religious values; 3) linguistic diversity. The strengthening program implemented through the arena includes: 1) strategies that include formal learning, extracurricular activities, and mandatory activities; and 2) technology, documentation, and revitalization.Keywords: habitus, capital, arena, cultural reproduction.AbstrakPenelitian ini mengkaji strategi reproduksi budaya dalam pemertahanan bahasa daerah pada sekolah dasar di Indonesia. Perjuangan akademik terhadap program pemertahanan bahasa daerah perlu disempurnakan dengan pemikiran dan solusi alternatif. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif dan telaah pustaka untuk menguraikan berbagai temuan mengenai program pemertahanan bahasa daerah di sekolah dasar. Pemertahanan bahasa daerah dalam pengelolaan sekolah dasar di Indonesia dapat dilakukan melalui strategi reproduksi budaya Pierre Bourdieu melalui program yang berorientasi pada penguatan aspek 1) habitus, yang fokus pada eksternalisasi kesadaran akan pentingnya pelestarian bahasa daerah; 2) kapital, yang fokus pada sumber daya dan daya dukung pelestarian bahasa daerah; dan 3) arena, yang fokus pada kegiatan pendidikan dan pembelajaran. Rancangan penguatan pelestarian bahasa daerah melalui habitus dilakukan dengan beberapa langkah: 1) penerapan pengetahuan linguistik; 2) mempromosikan kesetiaan berbahasa, kebanggaan, dan kesadaran terhadap norma; 3) menggeluti kepustakaan tentang pelestarian dan keaslian bahasa; dan 4) menumbuhkan sikap berbahasa yang positif. Sedangkan program penguatan kapital melalui sumber daya dan daya dukung dilakukan: 1) kebijakan Bahasa Indonesia; 2) keluarga, lingkungan sekitar, dan agama; 3) keberagaman bahasa. Program penguatan melalui arena tersebut adalah: 1) strategi meliputi pembelajaran formal, ekstrakurikuler, dan wajib; 2) teknologi, dokumentasi dan revitalisasi.Kata kunci: habitus, kapital, arena, reproduksi budaya.
Effectiveness of the P5 Program in the Merdeka Curriculum to Increase the Creativity and Independence of Class V Elementary School Students Abdul Muin; Siti Maisaroh; Wandri Ramadhan; Jamiu Temitope Sulaimon
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol. 11 No. 1 (2024): June 2024
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v11i1.17954

Abstract

AbstractThis study aims to evaluate the effectiveness of the Strengthening Pancasila Student Profile (P5) Program within the Independent Curriculum at State Elementary School (SDN) 01 Tanjung Paku, SDN 06 Tanjung Paku, and SDN 10 Nan Balimo in Solok City, West Sumatra, during the 2023/2024 academic year. A mixed-methods approach was employed, integrating quantitative and qualitative methods. The quantitative approach involved surveys using Likert-scale questionnaires and standardized tests to assess the understanding and application of Pancasila values among fifth-grade students before and after participating in the P5 Program. The qualitative approach included in-depth interviews with fifth-grade teachers to gather their perspectives on program implementation and classroom observations to examine its integration into daily teaching and learning activities. The findings revealed a significant improvement in students' understanding and application of Pancasila values after participating in the P5 Program for one academic year. Quantitative data analysis indicated positive changes in students’ comprehension of Pancasila values. Meanwhile, qualitative analysis highlighted that while teachers faced challenges in implementing the program, they observed its positive impact on students’ creativity and independence. Therefore, it can be concluded that the P5 Program within the Independent Curriculum is effective in enhancing students’ understanding of Pancasila values and fostering their creativity and independence.Keywords: Pancasila, P5 program, student creativity, student independence.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas Program Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dalam Kurikulum Merdeka di SDN 01 Tanjung Paku, SDN 06 Tanjung Paku, dan SDN 10 Nan Balimo, Kota Solok, Sumatera Barat pada tahun ajaran 2023/2024. Metode penelitian yang digunakan adalah campuran (mixed-methods), menggabungkan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Pendekatan kuantitatif melibatkan survei menggunakan kuesioner dengan skala Likert dan tes standar untuk mengukur pemahaman dan penerapan nilai-nilai Pancasila oleh siswa kelas V sebelum dan setelah mengikuti Program P5. Pendekatan kualitatif melibatkan wawancara mendalam dengan guru kelas V untuk mendapatkan perspektif mereka tentang implementasi Program P5 dan observasi langsung di kelas untuk melihat bagaimana program ini diimplementasikan dalam aktivitas belajar mengajar sehari-hari. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan signifikan dalam pemahaman dan penerapan nilai-nilai Pancasila oleh siswa kelas V setelah mengikuti Program P5 selama satu tahun akademik. Analisis data kuantitatif menunjukkan adanya perubahan yang positif dalam pemahaman siswa terhadap nilai-nilai Pancasila. Sementara itu, analisis kualitatif mengungkapkan bahwa guru mengalami tantangan dalam implementasi program, namun merasakan dampak positif terhadap kreativitas dan kemandirian siswa. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa Program P5 dalam Kurikulum Merdeka efektif dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap nilai-nilai Pancasila serta mendukung perkembangan kreativitas dan kemandirian siswa kelas V sekolah dasar.Kata kunci: Pancasila,  program P5, kreativitas siswa, kemandirian siswa.
The Influence of Problem-Based Learning Model Assisted by Interactive Multimedia Google Sites on Critical and Creative Thinking Skills in Elementary School Galih Yoga Pradana; Rif'at Shafwatul Anam; Neni Mariana; Ika Tri Yunianika
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol. 11 No. 2 (2024): October 2024
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v11i2.18281

Abstract

AbstractThis study aims to (1) assess the significant impact of the Problem-Based Learning (PBL) model, enhanced by Google Sites interactive multimedia, on the critical thinking abilities of fifth-grade elementary students, (2) evaluate the significant effect of the PBL model, supported by Google Sites interactive multimedia, on the creative thinking skills of these students, and (3) examine the combined influence of the PBL model, aided by Google Sites interactive multimedia, on both critical and creative thinking skills of fifth-grade students. This quasi-experimental research utilized a nonequivalent control group design, involving fifth-grade students divided into a control group and an experimental group, each consisting of 30 students. Data analysis was conducted using independent sample t-tests and MANOVA tests. The hypothesis testing results indicate that (1) the PBL model with Google Sites interactive multimedia significantly enhances critical thinking skills, (2) it significantly boosts creative thinking skills, and (3) it has a simultaneous positive effect on both critical and creative thinking skills of fifth-grade students. Future learning is encouraged to develop more diverse educational games to further motivate student learning.Keywords: problem-based learning, interactive multimedia, google sites, critical  and creative thinking.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk (1) mengkaji dampak signifikan model Problem-Based Learning (PBL) yang disempurnakan dengan multimedia interaktif Google Sites terhadap kemampuan berpikir kritis siswa sekolah dasar kelas lima, (2) mengevaluasi dampak signifikan model PBL yang didukung oleh multimedia interaktif Google Sites terhadap keterampilan berpikir kreatif siswa tersebut, dan (3) menguji pengaruh gabungan model PBL yang dibantu oleh multimedia interaktif Google Sites terhadap keterampilan berpikir kritis dan kreatif siswa kelas lima. Penelitian kuasi eksperimen ini menggunakan desain kelompok kontrol non-ekuivalen, yang melibatkan siswa kelas lima yang dibagi menjadi kelompok kontrol dan kelompok eksperimen, yang masing-masing terdiri dari 30 siswa. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji-t sampel independen dan uji MANOVA. Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa (1) model PBL dengan multimedia interaktif Google Sites secara signifikan meningkatkan keterampilan berpikir kritis, (2) secara signifikan meningkatkan keterampilan berpikir kreatif, dan (3) secara simultan memiliki efek positif terhadap keterampilan berpikir kritis dan kreatif siswa kelas lima. Pembelajaran di masa depan didorong untuk mengembangkan permainan edukatif yang lebih beragam untuk lebih memotivasi pembelajaran siswa.Kata kunci: pembelajaran berbasis masalah, multimedia interaktif, situs google, berpikir kritis dan kreatif.