cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Geodesi Undip
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geodesi Undip adalah media publikasi, komunikasi dan pengembangan hasil karya ilmiah lulusan Program S1 Teknik Geodesi Fakultas Teknik Universitas Diponegoro.
Arjuna Subject : -
Articles 839 Documents
Estimasi Produktivitas Kopi Menggunakan Citra SPOT-7 Dengan Transformasi Indeks Vegetasi Devi Nilam Sari; Bandi Sasmito; Firman Hadi
Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 1 (2023): Jurnal Geodesi Undip
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jgundip.2023.36910

Abstract

Kopi adalah komoditas perdagangan yang paling berharga kedua di dunia sehingga dapat meningkatkan devisa negara. Berlandaskan data produksi kopi 2021 yang diterbitkan oleh BPS (Badan Pusat Statistika), Provinsi Jawa Timur mendapatkan urutan ke-16 di Indonesia dalam produksi kopi. Salah satu perkebunan kopi yang ada di Jawa Timur adalah Kebun Bangelan di Desa Bangelan, Kabupaten Malang. Perkebunan Bangelan adalah perkebunan peninggalan Pemerintah Hindia Belanda. Perkebunan ini didirikan pada tahun 1901 sebagai kebun percobaan. Setiap tahun produktivitas dari Kebun Bangelan tidak menentu, oleh karena itu perlu adanya monitoring secara kontinu. Pada bidang pertanian, pengindraan jauh dapat dimanfaatkan untuk melakukan estimasi produktivitas dari tanaman kopi. Pengindraan jauh sendiri adalah akuisisi data suatu objek oleh sebuah alat yang tidak secara fisik melakukan kontak dengan objek tersebut. Salah satu keuntungan pengindraan jauh adalah citra dapat secara cepat meskipun untuk daerah yang sulit dijelajahi secara terrestrial. Riset ini memakai data citra SPOT-7 dengan indeks vegetasi NDVI (Normalized Difference Vegetation Index), MNDVI (Modified Normalized Difference Vegetation Index), dan GNDVI (Green Normalized Difference Vegetation Index). Klasifikasi yang dilakukan pada penelitian ini yaitu MESMA (Multiple Endmember Spectral Mixture Analysis) untuk mengatasi permasalahan piksel campuran. Tujuan dari riset ini untuk mengetahui akurasi klasifikasi tutupan lahan dengan MESMA dan mengetahui estimasi produktivitas kopi di Kebun Bangelan.Perhitungan estimasi produktivitas pada penelitian ini menggunakan regresi linier sederhana, polinomial, dan linier berganda. Berdasar perhitungan regresi linier sederhana, model estimasi terbaik dihasilkan oleh NDVI yang memiliki standar deviasi sebesar 0,506 ton/Ha dengan produktivitas sebesar 34.396,309 kg/Ha. Berlandas perhitungan dengan regresi polinomial, model estimasi terbaik dihasilkan oleh NDVI dengan standar deviasi sebesar 0,464 ton/Ha dan produktivitas sebesar 34.397,779 kg/Ha. Pada perhitungan dengan regresi linier berganda, model estimasi terbaik dihasilkan oleh NDVI dengan standar deviasi sebesar 0,352 ton/Ha dan produktivitas sebesar 34.397,899 kg/Ha.
Analisis Pengembangan Wilayah Perumahan dan Industri BSB City Terhadap Pola Tata Guna Lahan di Kecamatan Mijen, Kota Semarang Aulia Ghifari Syaddad; Moehammad Awaluddin; Arwan Putra Wijaya
Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 4 (2022): Jurnal Geodesi Undip
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jgundip.2022.35841

Abstract

Pembangunan merupakan tolak ukur dari perkembangan suatu daerah karena pengaruh pembangunan cukup besar terhadap perkembangan kawasan seperti pengembangan kawasan perumahan dan industri BSB City terhadap tata guna lahan di Kecamatan Mijen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan tata guna lahan Kecamatan Mijen sebelum dan sesudah adanya pengembangan BSB City pada tahun 1999, 2015, dan 2020, hasil pengaruh pengembangan wilayah perumahan dan industri BSB City terhadap pola perkembangan tata guna lahan di Kecamatan Mijen dan mengetahui kesesuaian pengembangan wilayah perumahan dan industri BSB City berdasarkan RTRW Kota Semarang pada tahun 2015 dan 2020. Dengan metode analisis spasial overlay intersect dan average nearest neighbor. Hasil penelitian berupa analisis sebelum adanya pengembangan BSB City di tahun 1999, persebaran penggunaan lahan didominasi oleh kelas hutan produksi tetap sebesar 3456,865 Ha, kelas pertanian tanaman pangan sebesar 1048,447 Ha, sesudah adanya pengembangan BSB city di tahun 2015, penggunaan lahan kelas hutan produksi tetap berkurang menjadi 3330,483 Ha, terjadi perubahan penggunaan lahan sebesar  dan kelas pertanian tanaman pangan berkurang menjadi 897,701 Ha, pada tahun 2015-2020 pertambahan luasan penggunaan lahan paling banyak ada pada kelas perumahan clustered seluas 102,388 Ha atau 1,903%, dan pengurangan luasan paling banyak ada pada kelas hutan produksi tetap seluas 226,863 Ha atau 4,216% dari total luas penggunaan lahan di Kecamatan Mijen, analisis pengaruh pengembangan wilayah perumahan dan industri BSB City terhadap pola perkembangan tata guna lahan adalah pada tahun 1999 bersifat acak atau random, pada tahun 2015 dan 2020 bersifat berkelompok atau clustered, dan kesesuaian pengembangan wilayah perumahan dan industri BSB City berdasarkan RTRW Kota Semarang Tahun 2011-2031, pada tahun 2015 seluas 138,711 Ha atau 87,168%. Dan pada tahun 2020 adalah seluas 231,961 Ha atau 84,445%. Sedangkan luas pengembangan kawasan yang tidak sesuai dengan RTRW Kota Semarang Tahun 2011-2031 adalah seluas 20,420 Ha atau 12,832%. Dan pada tahun 2020 seluas 42,729 Ha atau 15,555%.
Analisis Tingkat Risiko Tsunami Kota Ambon Dengan Metode Analytical Hierarchy Process (AHP) Ajeng Roro Setiowati; L.M. Sabri; Abdi Sukmono
Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 1 (2023): Jurnal Geodesi Undip
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jgundip.2023.37286

Abstract

Kota Ambon sebagai ibu kota Provinsi Maluku yang terletak pada Kawasan Rawan Bencana (KRB) pesisir Pulau Ambon memerlukan upaya mitigasi bencana tsunami mengingat 40% kejadian tsunami yang tercatat di Indonesia selama rentang tahun 1600-2015 terjadi di wilayah Maluku. Pembuatan peta risiko bencana tsunami adalah salah satu upaya mitigasi dengan memetakan tingkat risiko dan potensi kerugian yang dapat ditimbulkan oleh bencana. Pada penelitian ini pemetaan risiko tsunami akan menggunakan Model Crunch dengan parameter yang mengacu pada Perka BNPB No. 2 Tahun 2012. Berdasarkan Model Crunch, tingkat risiko tsunami diperoleh dari hasil perkalian tingkat ancaman dan tingkat kerentanan. Pemetaan tingkat ancaman menggunakan metode Hloss dengan model tsunami setinggi 10 meter. Pemetaan tingkat kerentanan menggunakan metode overlay dan Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk penentuan bobot tiap parameter. Parameter tingkat kerentanan terdiri atas kepadatan penduduk, kepadatan bangunan, kontribusi PDRB, dan lingkungan. Hasil penelitian risiko bencana tsunami diperoleh bahwa pesisir Kota Ambon didominasi oleh tingkat risiko rendah dengan luas 386,699 Ha atau 89,256% dari total wilayah berisiko. Tingkat risiko sedang memiliki luas 43,962 Ha (10,147%) yang terdiri atas Kecamatan Sirimau dengan luas 26,836 Ha dan Kecamatan Nusaniwe dengan luas 17,125 Ha. Dua kelurahan memiliki risiko tinggi terhadap tsunami yaitu Kelurahan Silale dan Kelurahan Waihaong dengan luas wilayah berisiko masing-masing sebesar 1,964 Ha dan 2,172 Ha. Tingkat risiko tsunami di Kota Ambon dapat dikatakan rendah berdasarkan hasil pengolahan yang telah diperoleh. Hal ini dapat disebabkan karena pertumbuhan penduduk dan pembangunan yang kurang merata dan cenderung berpusat di Kecamatan Sirimau dan Kecamatan Nusaniwe.
Analisis Penerapan Indikator Smart City Terhadap Sistem Penanggulangan Banjir Di Kota Semarang Yunaedi Yunaedi; LM Sabri; Yasser Wahyuddin
Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 4 (2022): Jurnal Geodesi Undip
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jgundip.2022.35853

Abstract

Sistem Smart City memanfaatkan perkembangan informasi teknologi dalam meningkatkan layanan perkotaan guna mencapai tujuan secara keberlanjutan dalam masalah sosial, ekonomi,dan lingkungan. Di Indonesia, indikator penerapan sistem Smart City mengacu pada Garuda Smart City Framework (GSCF) dengan meluncurkan inisiatif 100 Smart Cities pada kota-kota yang dianggap layak dan mampu, salah satunya di Kota Semarang. Sistem Smart City di Kota Semarang dimanfaatkan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang dalam menginisiasi sistem penanggulangan bencana, yaitu dengan mengembangkan Sistem Peringatan Dini Bencana atau Early Warning System (EWS). Penerapan indikator Smart City di Kota Semarang telah berjalan cukup baik terutama dalam aspek Smart Infrastructure, Technology, dan Environtment yang ditandai dengan cakupan 12 stasiun EWS sebesar 86,74 %, terhadap sub sistem DAS yang ada. Penerapan indikator Smart City dalam aspek penanggulangan banjir di kawasan hilir juga telah berjalan cukup baik. Hal tersebut ditandai dengan cakupan komponen alarm peringatan dari stasiun EWS sebesar 42,93% di kawasan rawan banjir sepanjang aliran sungai primer.
Analisis Pola Persebaran dan Kesesuaian Penggunaan Lahan Terhadap Rencana Detail Tata Ruang Tahun 2022-2042 Kawasan Perkotaan Wonogiri Ahmad Hilmy Al Mutawally; Arwan Putra Wijaya; Nurhadi Bashit
Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 2 (2023): Jurnal Geodesi Undip
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jgundip.2023.38087

Abstract

Kabupaten Wonogiri merupakan salah satu kabupaten yang termasuk dalam wilayah pengembangan perkotaan SUBOSUKAWONOSRATEN. Pengembangan Perkotaan Wonogiri memiliki tujuan untuk meningkatkan fungsi kegiatan perkotaan yang diharapkan dapat memberikan pengaruh untuk mengatasi permasalahan seperti tingginya tingkat kemiskinan dan kepadatan penduduk yang terjadi di Kabupaten Wonogiri. Permasalahan tersebut mengakibatkan terjadinya peralihan dari penggunaan lahan yang awalnya merupakan lahan pertanian berubah menjadi lahan permukiman. Hal tersebut juga dapat berimbas pada terbentuknya pola persebaran baru dan berpeluang untuk tidak sesuai dengan peraturan yang ada. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa perubahan penggunaa lahan tahun 2016-2022, pola persebaran pemukiman tahun 2016 dan 2022, dan kesesuaian penggunaan lahan tahun 2002 dengan RDTR tahun 2022-2042 di Kawasan Perkotaan Wonogiri. Data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Citra Satelit Worldview-2 Tahun 2016 dan 2022. Metode yang digunakan untuk melakukan identifikasi penggunaan lahan yaitu digitasi on-screen. Pola persebaran permukiman didapatkan menggunakan metode analisis tetangga terdekat. Kesesuaian penggunaan lahan dengan RDTR didapatkan dengan menggunakan metode overlay. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa adanya perubahan penggunaan lahan tahun 2016-2022 pada kelas Lahan Kosong terjadi penurunan sebesar 25,566 Ha atau 0,553 % dan Zona Pertanian sebesar 12,608 Ha atau 0,288 %. Peningkatan lahan terbangun terjadi pada Zona Perumahan sebesar 16,663 Ha atau 0,381 %, , Zona perdagangan dan Jasa sebesar 8,061 Ha atau 0,184 %, Hasil pada pola persebaran permukiman pada tahun 2016 dan 2022 termasuk dalam pola persebaran mengelompok dengan sitem permukiman membentuk pola linier yang mengarah ke timur dari pusat kegiatan perkotaan. Hasil kesesuaian penggunaan lahan tahun 2022 terhadap RDTR Kawasan Perkotaan Wonogiri tahun 2022-2042 sebesar 3534,822 Ha atau 80,864 % dan ketidaksesuaian sebesar 836,448 Ha atau 19,136 %.  
Implementasi Sistem Informasi Geografis Untuk Identifikasi Daerah Rawan Tanah Longsor (Studi Kasus: Kapanewon Dlingo dan Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul) Fitria Damayanti; L.M. Sabri; Yasser Wahyuddin
Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 2 (2023): Jurnal Geodesi Undip
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jgundip.2023.38044

Abstract

Kabupaten Bantul merupakan salah satu daerah di Daerah Istimewa Yogyakarta dengan tingkat kejadian tanah longsor tinggi. Berdasarkan data BPBD Kabupaten Bantul pada sepanjang tahun 2019-2021 terdapat 426 kejadian tanah longsor. Intensitas kejadian tanah longsor tinggi di Kabupaten Bantul berada di Kapanewon Dlingo dengan 100 kejadian dan Kapanewon Imogiri dengan 117 kejadian sepanjang tahun 2019-2021. Upaya untuk mengurangi kerugian dan meningkatkan kewaspadaan terhadap bencana tanah longsor dilakukan dengan memetakan daerah rawan tanah longsor. Hasil pemetaan daerah rawan tanah longsor tersebut dievaluasi kesesuaiannya terhadap RTRW dan dilakukan penilaian kondisi kesiapsiagaan untuk mengoptimalkan kemampuan dalam menghadapi bencana tanah longsor. Pemetaan daerah rawan tanah longsor menggunakan dua metode yaitu Fuzzy AHP dan Permen PU No.22/PRT/M/2007. Kedua metode tersebut di validasi dengan data kejadian tanah longsor tahun 2019-2021 dari BPBD Kabupaten Bantul. Peta kerawanan tersebut dievaluasi dengan RTRW Kabupaten Bantul tahun 2010-2030. Sedangkan penilaian kondisi kesiapsiagaan ditentukan berdasarkan nilai Indeks Kesiapsiagaan Bencana. Pemetaan daerah rawan tanah longsor metode Fuzzy AHP diperoleh kesesuaian sebesar 89,78%. Sedangkan, pemetaan dengan metode Permen PU No.22/PRT/M/2007 memiliki kesesuaian sebesar 81,75%. Hasil evaluasi peta kerawanan dengan pola ruang RTRW pada peta kerawanan metode Fuzzy AHP sebesar 89,326% dianggap sesuai dengan RTRW dan 10,674% dianggap kurang sesuai dengan RTRW, dan pada peta kerawanan metode Permen PU No.22/PRT/M/2007 sebesar 92,210% dianggap sesuai dengan RTRW dan 7,790% kurang sesuai dengan RTRW. Adapun tingkat kondisi kesiapsiagaan di daerah rawan tanah longsor memiliki persentase 73,36% yaitu pada kategori siap, dengan nilai setiap parameternya adalah parameter pengetahuan sebesar 94,14%, kebijakan 42,50%, rencana tanggap darurat 68%, sistem peringatan bencana 71%, dan mobilisasi sumberdaya 54,75%.
Analisis Kualitas Perairan Waduk Cacaban dengan Menggunakan Data Citra Landsat 8 & 9 Multitemporal Resi Ahdityas; Abdi Sukmono; Bandi Sasmito
Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 2 (2023): Jurnal Geodesi Undip
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jgundip.2023.38199

Abstract

Sejak mulai dioperasikan dari tahun 1958, salah satu permasalahan utama yang dialami oleh Waduk Cacaban adalah tingginya tingkat sedimentasi. Sedimentasi yang terjadi bahkan menyebabkan daya tampung waduk menyusut dari 90 juta  menjadi hanya tinggal 55 juta  pada tahun 2016. Untuk menjaga fungsi waduk tetap optimal, selain dengan melakukan rehabilitasi, pemantauan kondisi waduk juga perlu dilakukan secara berkala. Berdasarkan permasalahan yang terjadi di Waduk Cacaban, pemantauan parameter kualitas air dapat dilakukan dengan menggunakan model algoritma empiris yang terbentuk dari hubungan nilai spektral citra Landsat dan data in situ parameter kualitas perairan. Penelitian ini bertujuan untuk memperkirakan tingkat sebaran Total Suspended Solid (TSS), klorofil-a dan perubahan luasan perairan secara temporal dari tahun 2013 hingga 2022 berdasarkan model algoritma yang terbentuk. Hasil penelitian yang telah dilakukan yaitu luasan perairan Waduk Cacaban pada periode 2013-2016 mengalami penambahan luas sebesar 68.391 .  Penyempitan luasan Waduk Cacaban pada periode 2016-2019 sebesar -907.949 . Pada rentang 2019-2022 terjadi penambahan luasan sebesar 857.554 . Hasil kualitas perairan Waduk Cacaban pada tahun 2013, 2016, 2019 dan 2022 berdasarkan indeks pencemaran dengan parameter TSS dan klorofil-a baku mutu kelas 2, mengkategorikan perairan Waduk Cacaban tergolong pada kelas memenuhi baku mutu dan tercemar ringan. Baku mutu air kelas 2 merupakan air yang peruntukannya dapat digunakan untuk prasarana/sarana rekreasi air, pembudidayaan ikan air tawar, peternakan dan pengairan tanaman. Luas perairan waduk tahun 2013 yang memenuhi baku mutu air seluas 5.814.787  dan kelas tercemar ringan seluas 594.807 . Luas perairan waduk tahun 2022 yang memenuhi baku mutu air seluas 6.341.205  dan kelas tercemar ringan seluas 88.185 .
Analisis Perubahan Laju Erosi Pada Sub DAS Keduang Tahun 2016 – 2021 Dengan Metode Universal Soil Loss Equation (USLE) Rihadatul Aisy; Abdi Sukmono; Hana Sugiastu Firdaus
Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 2 (2023): Jurnal Geodesi Undip
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jgundip.2023.38065

Abstract

Waduk Gajah Mungkur merupakan waduk serba guna yang terletak di Wilayah Wonogiri. Waduk Gajah Mungkur mengalami masalah serius, yaitu penumpukan sedimen di dasar danau. Penumpukan sedimen dapat menyebabkan pendangkalan pada waduk. Sedimentasi tersebut berasal dari erosi pada DAS yang mengalir ke Waduk Gajah Mungkur. Sub DAS Keduang merupakan bagian dari DAS Bengawan Solo yang mengalir ke Waduk Gajah Mungkur. Sub DAS ini merupakan penyumbang erosi terbesar pada waduk Gajah Mungkur. Adanya perubahan tutupan lahan dicurigai menjadi faktor utama tingginya laju erosi di Sub DAS Keduang. Perhitungan laju erosi di Sub DAS Keduang merupakan salah satu langkah dasar untuk pengelolaan DAS yang baik. Oleh karena itu, penelitian ini bermaksud untuk mengetahui perubahan laju erosi yang terjadi pada Sub DAS Keduang tahun 2016 – 2021 dan unntuk mengetahui faktor penyebab terjadinya perubahan laju erosi. Metode yang digunakan adalah Unniversal Soil Loss Equation (USLE) dengan data yang digunakan berupa data curah hujan, data jenis tanah, Digital Elevation Model (DEM), Citra Spot, dan data administrasi. Hasil dari analisis yang diperoleh terjadi penurunan laju erosi  dari tahun 2016 – 2021. Laju erosi dihasilkan pada tahun 2016 sebesar 1.829.554,91 ton/ha/thn kemudian turun menjadi 1.128.910,89 ton/ha/thn di tahun 2021. Perubahan tutupan lahan tidak terjadi secara signifikan sedangkan curah hujan turun cukup banyak sehingga curah menjadi faktor utama terjadi perubahan laju erosi di Sub DAS Keduang.
Identifikasi Lahan Murah di Pinggiran Kota Semarang Sebagai Potensi Pengembangan Perumahan Terjangkau (Studi Kasus: Kelurahan Rowosari dan Kelurahan Jabungan, Kota Semarang) zepat beniko damanik; Fauzi Janu Amarrohman; Abdi Sukmono
Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 2 (2023): Jurnal Geodesi Undip
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jgundip.2023.38379

Abstract

Mengacu pada Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2021, Masyarakat Berpenghasilan Rendah yang selanjutnya disebut MBR adalah masyarakat yang mempunyai keterbatasan daya beli sehingga perlu mendapat dukungan pemerintah untuk memperoleh rumah. Sebagaimana yang telah di programkan oleh pemerintah bahwa MBR dapat memiliki rumah dengan persyaratan bahwa Rumah Umum adalah rumah yang diselenggarakan untuk memenuhi kebutuhan rumah bagi MBR dan berlaku pembatasan penghasilan agar target program tersebut mendapatkan sasaran yang tepat. Terkhususnya Kelurahan Rowosari dan Jabungan sebagai daerah pinggiran Kota Semarang sangat cocok untuk dilakukan penelitian dalam menentukan lokasi yang layak dan terjangkau untuk memenuhi kebutuhan tempat tinggal di Kota Semarang, namun perlu dilakukan kajian khusus dalam menentukan lokasi mana yang paling cocok dengan memperhatikan aspek harga tanah ataupun variabel fisik tanah seperti luas ataupun kelerengan  yang memenuhi spesifikasi kelayakan perumahan terkhususnya untuk MBR dalam rangka mewujudkan kawasan siap bangun (Kasiba) dengan meperhatikan aspek lingkungan siap bangun (Lisiba). Analisis yang digunakan adalah klasifikasi area pemukiman dan non-pemukiman untuk memisahkan kawasan yang telah terbangun dan belum terbangun, kemudian dilakukan analisis terhadap luasan dan kelerengan untuk mengetahui kelayakan kawasan pembangunan perumahan berdasarkan spesifikasi kebutuhan ruang. setelah diketahui kawasan mana yang cocok maka perlu dikaji lagi harga tanah pada kawasan tersebut dengan metode penilaian tanah yang kemudian disesuaikan terhadap peta RDTR Kota Semarang, Sehingga diperoleh hasil Kelurahan Jabungan terdapat 2 zona yang memungkinkan yaitu zona 16 dan 18, sedangkan Kelurahan Rowosari terdapat 3 zona yang sesuai yakni zona 23, 25 dan 26.Kata kunci :  Kasiba, Lisiba, Masyarakat Berpenghasilan Rendah, Penilaian Tanah, RDTR.
Analisis Perubahan Guna Lahan dan Ruang Terbuka Hijau di Area Jalan Tol Depok-Antasari Seksi II Safira Devi Kirana; Moehammad Awaluddin; Arief Laila Nugraha
Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 2 (2023): Jurnal Geodesi Undip
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jgundip.2023.38070

Abstract

Kota Depok merupakan kota yang berbatasan langsung dengan Kota Jakarta yang merupakan Ibu Kota Indonesia saat ini. Pembangunan jalan Tol Depok-Antasari yang menjadi penghubung Kota Jakarta dan Kota Depok memicu aktivitas lain di sekitar area jalan tol. Seiring berjalannya waktu, sangat dikhawatirkan adanya penurunan kuantitas RTH sebagai komponen pemanfaatan utama ruang non-terbangun. Berdasarkan hal di atas, maka perlu dilakukannya penelitian mengenai pola perubahan lahan permukiman dan perkembangannya yang dapat dianalisis dengan memanfaatkan pendekatan dari sistem informasi geografis berupa metode Nearest Neighbor dan Standard Deviational Ellipse pada citra tahun 2017 dan 2021, yang kemudian dilakukan validasi lapangan dengan titik sampel yang diperoleh dengan menggunakan metode Anderson. Kemudian hasil yang diketahui bahwa terdapat perubahan pertambahan luas untuk perumahan sebesar 2,1% dengan luasan sebesar 86,07 ha dalam kurun waktu tahun 2017 hingga 2021, sedangkan untuk Ruang Terbuka Hijau mengalami penurunan sebesar 146,78 ha. Kuantifikasi RTH dari tahun 2017 dan tahun 2021 mengalami penurunan sekitar sekitar 3,53% yaitu seluas 142,792 Ha. Persentase RTH pada BWK Cinere di Kota Depok pada tahun 2017 hanya 10,5% sedangkan di tahun 2021 mengalami penurunan menjadi 9,8%, yang dimana hal ini perlu diperhatikan agar tidak menimbulkan permasalahan di kemudian hari. Hasil pola persebaran dari hasil proses dengan menggunakan metode pendekatan nearest neighbor, untuk kelas perumahan memiliki nilai z-score sebesar -3,96 dan RTH memiliki nilai z-score sebesar -2,061. Keduanya memiliki nilai z-score di atas -1,65 maka hasil pola yang dihasilkan yaitu clustered, dimana perumahan dan RTH memiliki pola persebaran yang tersebar acak secara mengelompok. Sedangkan, hasil dari arah perkembangannya pada perumahan menghasilkan ellipse dengan nilai rotasi yang dihasilkan yaitu 6o34’30,34” dan 171o24’56,25” yang dimana kedua arah ellipse tersebut mengarah ke arah jalan tol tepatnya pada area exit toll Brigif dan exit toll Sawangan. Hal tersebut dapat dikatakan seiring tahun 2017 hingga 2021 arah perkembangan perumahan yaitu mendekati area tol.

Filter by Year

2012 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 2 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 13, No 1 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 4 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 3 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 2 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 1 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 4 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 3 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 2 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 1 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 4 (2021): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 3 (2021): Jurnal Geodesi Undip Volume 10, Nomor 2, Tahun 2021 Volume 10, Nomor 1, Tahun 2021 Volume 9, Nomor 4, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 3, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 2, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020 Volume 8, Nomor 4, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 3, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 2, Tahun 2019 Vol 8, No 1 (2019) Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 3, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 2, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018 Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 2, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017 Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 3, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016 Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015 Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014 Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013 Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012 More Issue