cover
Contact Name
Winci Firdaus
Contact Email
wincifirdaus1@gmail.com
Phone
+6288802310216
Journal Mail Official
jurnalranahbahasa@gmail.com
Editorial Address
Jalan Daksinapati Barat IV
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
ISSN : 23388528     EISSN : 25798111     DOI : https://doi.org/10.26499/rnh
Core Subject :
https://ojs.badanbahasa.kemendikdasmen.go.id/jurnal/index.php/jurnal_ranah/about/editorialPolicies#focusAndScope
Arjuna Subject : -
Articles 386 Documents
Exploring EFL Teachers’ Teaching Process in Reading PISA-Like Reading Texts Karima Putri Rahmadina; Emi Emilia
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 11, No 2 (2022): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v11i2.4683

Abstract

This paper presents partial results of a research project aiming to develop a training program for teachers to teach PISA-like reading texts with 24 participating teachers (10 Indonesian language teachers and 14 English language teachers) conducted in 2021. The result of the study has also been reported in Emilia, Sujatna, and Kurniasih (2022).  This study centers around the early stage of training, focusing on the teachers’ initial ability in teaching reading practice prior to the training. The data were collected from peer teaching and lesson plans made by the teachers prior to the sessions on teaching PISA-like reading texts. The data were then analyzed based on the theory of PISA Reading (OECD, 2019), reading as a social process (Wallace, 1992; Gibbons, 2014), and teaching reading through the use of text-based instructions (Emilia, 2011; Rose & Martin, 2012; Rose, 2020). The result of the study shows that some teachers had bridged the students’ access to text by activating their prior knowledge to help them understand the text. Nevertheless, some teachers had not provided guidance for the students when they read. This result suggests that the teachers still need guidance to teach reading, especially in teaching PISA-like reading texts. Hence, the data confirm the need for training teachers to teach PISA-like reading texts. AbstrakJurnal ini menyajikan sebagian hasil dari proyek penelitian yang bertujuan untuk mengembangkan program pelatihan bagi guru untuk mengajar teks membaca setara PISA dengan 24 guru peserta (10 guru bahasa Indonesia dan 14 guru bahasa Inggris) yang dilakukan pada tahun 2021. Bagian lain dari proyek penelitian ini juga telah telah dilaporkan dalam Emilia, Sujatna, dan Kurniasih (2022). Studi ini berpusat pada tahap awal pelatihan, yang berfokus pada kemampuan awal guru dalam mengajarkan membaca sebelum diberikan input pelatihan. Data penelitian diperoleh dari sesi peer teaching dan RPP yang dibuat oleh guru sebelum diberikan sesi input pengajaran teks bacaan mirip PISA. Data penelitian kemudian dianalisis berdasarkan teori PISA Reading (OECD, 2019), membaca sebagai proses sosial (Wallace, 1992; Gibbons, 2014), dan pengajaran bahasa berbasis teks (Emilia, 2011; Rose & Martin, 2012; Mawar, 2020). Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa guru terlihat mampu untuk menjembatani akses siswa untuk membaca teks dengan mengaktifkan pengetahuan awal mereka yang dapat membantu mereka memahami teks. Namun demikian, beberapa guru terlihat masih belum memberikan bimbingan kepada siswa ketika mereka membaca. Hasil ini menunjukkan bahwa guru masih membutuhkan bimbingan untuk mengajar membaca, terutama dalam mengajar teks bacaan mirip PISA. Oleh karena itu, data mengkonfirmasi perlunya pelatihan guru untuk mengajar teks bacaan seperti PISA.
Konstruksi Makna, Identitas Lokal, dan Spiritualitas dalam Folklor Batu Kuda: Kajian Semiotika Peirce Arif Firmansyah; Nova Aldhita Vatahhayati; Miftahul Malik
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 14, No 2 (2025): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v14i2.7839

Abstract

This study aims to obtain and describe the moral value of the oral tradition of Horse Stone folklore based on Pierce's semiotics in classifying objects based on the classification of symbols, icons, and indices. Pierce's use of semiotics is related to the uses possessed by folklore itself. All types of folklore, whether oral folklore, partly oral folklore or non-oral folklore, have uses or functions that are very important for human life. This makes folklore in life can describe the way a person involves himself in the midst of community life. The method used qualitative method with a semiotic approach, because the results of data that have been generated and collected on the Horse Stone folklore will be described in the form of written data. Finally, the results of data processing are used as a proposal for literature teaching materials in high school based on the Independent Curriculum in the form of modules. Learning folklore or folklore has a very important role in efforts to preserve noble values and local cultural wisdom. In education, folklore can be used as a learning medium and can be used as learning material for students. The use of folklore as an educational medium can be utilized in various disciplines, which of course the selection of folklore used must be right with the subject matter to be delivered. The use of folklore as an educational medium also acts as one step in preserving existing local culture. Therefore, getting used to delivering lessons through teaching materials is an effort to preserve folklore as part of culture, both protection, utilization and development of folklore in the future. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh dan mendeskripsikan nilai moral dari tradisi lisan folklor Batu Kuda ini berdasarkan semiotik Pierce dalam penggolongan objek berdasarkan klasifikasi simbol, ikon, dan indeks. Penggunaan semiotika Pierce ini berkaitan dengan kegunaan yang dimiliki oleh folklor itu sendiri. Keseluruhan jenis folklor baik folklor lisan, folklor sebagian lisan ataupun folklor non lisan, memiliki kegunaan atau fungsi yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Hal tersebut membuat folklor dalam kehidupan itu dapat menggambarkan cara seseorang melibatkan dirinya di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Metode yang digunakan metode kualitatif dengan pendekatan semiotik, karena hasil data yang telah dihasilkan dan dikumpulkan pada folklor Batu Kuda akan dideskripsikan dalam bentuk data tertulis. Terakhir hasil pengolahan data dijadikan sebagai usulan bahan ajar sastra di SMA berdasarkan Kurikulum Merdeka berbentuk modul. Pada isi cerita folklor Batu Kuda ini, peneliti mendapatkan 11 hasil analisis data yang menggunakan semiotika Pierce yang pengklasifikasianya berdasarkan objeknya yang di dalamnya terdapat : Ikon adalah tanda yang menyerupai bentuk objek aslinya. Terdapat tiga (3) data dari hasil analisis ikon pada folklor Batu Kuda. Indeks adalah tanda yang berkaitan dengan hal yang bersifat kausal, atau sebab akibat. Terdapat tiga (3) data dari hasil analisis indeks pada folklor Batu Kuda. Dan Simbol adalah tanda yang berkaitan dengan penandanya dan juga petandanya. Terdapat lima (5) data dari hasil analisis simbol pada folklor Batu Kuda. Dengan total keseluruhan data yang diperoleh dalam analisis semiotika pada folklor Batu Kuda yaitu berjumlah sebelas (11) data yang terdiri dari tiga pengkategorisasian.
PERAN KUNCI DAN INSPIRASI “SANG PUTRI SEJATI”: ANALISIS WACANA KRITIS ATAS SURAT-SURAT KARTINI P. Ari Subagyo
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 3, No 2 (2014): Jurnal Ranah
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v3i2.41

Abstract

R.A. Kartini dijuluki “pendekar bangsa, pendekar kaumnya untuk merdeka”. Kepahlawanan Kartini secara formal diakui melalui Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia (Ir. Soekarno). Namun, kepahlawanan Kartini disangsikan oleh sejumlah pihak dalam media sosial. Kesangsian itu menunjukkan bahwa kepahlawanan Kartini tidak/kurang dipahami oleh masyarakat Indonesia. Apa sesungguhnya peran kunci dan inspirasi dari seorang Kartini? Melalui analisis wacana kritis (AWK) atas kehidupan Kartini sebagai teks, terungkap bahwa peran kunci Kartini dalam konteks zamannya adalah keberaniannya memperjuangkan emansipasi, mendobrak kekolotan adat, dan menentang penjajahan. Adapun lewat AWK atas surat-suratnya, terlacak bahwa Kartini menawarkan inspirasi mengenai (1) visi kebangsaan, (2) vitalnya pendidikan, (3) pentingnya membaca dan menulis, (4) sikap kritis dan berani, (5) kesederhanaan dan kerendahan hati, (6) keselarasan dalam keluarga, serta (7) kepercayaan diri membangun relasi. Melalui surat-suratnya yang analitis dan menyentuh, Kartini tampil mewujudkan kepemimpinan wacana (discursive leadership) bagi kaum hawa dan bangsanya.
Representasi Pejabat Pemerintah terhadap Kebijakan Lockdown Pada Tayangan ILC TV One Yustitiayu Novelly; Siska Andes Madya; Ngusman Abdul Manaf
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 10, No 1 (2021): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v10i1.3488

Abstract

The purpose of this study is to see how the representation of government officials about the pros and cons of lockdown by those who are pro with the policy of government officials; and how the representation of government officials about the lockdown counter by those who are counter to the policy of government officials in conveying their ideology in a speech on the ILC TV ONE talk show with the theme Corona: Pro and Counter Lockdown. This type of research is qualitative research with descriptive methods. The data in this study were in the form of speeches from each of the speakers, namely government officials and experts. The subjects in this study were government officials and experts who were the speakers at the ILC TV ONE program. The approach of this research is AWK Norman Fairclough's qualitative approach. The results of this study indicate that, that there is no one vote whether the pros or cons lockdown. Because there are a lot of considerations and shadows if the lockdown is done what the impact is and if nothing is done. There are 3 findings of representation from government officials' statements on the lockdown policy, namely (1) Government officials in their speeches do not have strong control to make decisions, local government officials still play it safe and maintain respect for the government above it. (2) Central government officials, which are represented by the President's spokesman, can only provide an educational explanation on what is social distancing and what is lockdown and the policies that are carried out; and (3) Representative government officials and experts criticizing the policies taken by the government have not been maximized and are not firm. AbstrakTujuan penelitian ini adalah untuk mengungkapkan bagaimana representasi pejabat pemerintah  tentang pro dan kontra lockdown oleh pihak yang pro dengan kebijakan pejabat pemerintah; dan bagaimana representasi pejabat pemerintah tentang prokontra lockdown oleh pihak yang kontra dengan kebijakan pejabat pemerintah dalam menyampaikan ideologinya dalam tuturan di talk show ILC TV ONE dengan tema Corona: Pro dan Kontra Lockdown. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis wacana kritis model Norman Fairclough yang meliputi teks, discourse practice, dan sociocultural practice. Pendekatan penelitian ini berupa pendekatan kualitatif prespektif AWK Norman Fairclough. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, bahwa tidak satu suara apakah pro atau kontra lockdown. Karena banyak pertimbangan dan bayangan-bayangan jika lockdown dilakukan apa dampaknya dan jika tidak dilakukan apapula dampaknya. Ada 3 temuan representasi dari tuturan pejabat pemerintah atas kebijakan lockdown, yaitu (1) Pejabat pemerintah dalam tuturannya tidak mempunyai kendali yang kuat untuk membuat keputusan, pejabat pemerintah daerah masih bermain aman dan menjaga kehormatan kepada pemerintah diatasnya. (2) Pejabat pemerintah pusat yaitu diwakili oleh jubir Presiden hanya bisa memberikan penjelasan pendidikan mengenai apa itu sosial distancing dan apa itu lockdown serta kebijakan yang dilakukan; dan (3) Pejabat pemerintah wakil rakyat dan pakar mengkritisi kebijakan yang diambil pemerintah belum maksimal dan tidak tegas.
Embracing Cultural Threads: A Qualitative Exploration of English Language Teaching Materials Within an Intercultural Perspective in an Indonesian Multilingual Context Billy Nathan Setiawan
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 12, No 2 (2023): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v12i2.6840

Abstract

This study aimed to investigate the selection, adaptation and use of English language teaching and learning (ELTL) resources from an intercultural perspective (Liddicoat & Scarino, 2013) in order to provide greater sensitivity to the local context. In recent decades, scholars in the field have attempted to move towards the inclusion of local content in ELTL, including in Indonesia, in order to challenge the 'native speaker' paradigm, which has been criticized for lacking sensitivity to the local context. However, little research has been conducted to examine the role of resources in providing opportunities for intercultural interaction between students' own languages and cultures and English (as the target language and culture). A case study within a qualitative paradigm, involving document analysis and an in-depth teacher interview, was conducted at an international university in Indonesia. Thematic analysis of the data revealed that the selection, adaptation and use of resources that invited attentiveness to language and beyond, and that took into account students' 'lifeworlds' ('home cultures and languages, and the trajectory of experiences, interests, motivations and values developed from them' [Liddicoat & Scarino, 2013]), provided engagement and meaningfulness in ELTL in the local context. The study also showed that 'both the range of texts and what teachers do with them' (Kohler, 2020) were fundamental to providing meaningful ELTL experiences in the local context. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menyelidiki pemilihan, adaptasi, dan penggunaan materi pengajaran dan pembelajaran bahasa Inggris (ELTL) dari perspektif lintas budaya (Liddicoat & Scarino, 2013) untuk memberikan kepekaan yang lebih besar terhadap konteks lokal. Dalam beberapa dekade terakhir, para ahli di bidang ini telah mencoba untuk bergerak menuju inklusi konten lokal dalam ELTL, termasuk di Indonesia, untuk menantang paradigma 'penutur asli', yang telah dikritik karena kurangnya kepekaan terhadap konteks lokal. Namun, hanya sedikit penelitian yang telah dilakukan untuk meneliti peran materi belajar mengajar dalam memberikan kesempatan untuk interaksi antarbudaya antara bahasa dan budaya siswa dan bahasa Inggris (sebagai bahasa dan budaya target). Sebuah studi kasus dalam paradigma kualitatif, yang melibatkan analisis dokumen dan wawancara mendalam dengan guru, dilakukan di sebuah universitas internasional di Indonesia. Analisis tematik terhadap data menunjukkan bahwa pemilihan, adaptasi, dan penggunaan materi belajar mengajar yang mengundang perhatian terhadap bahasa dan sekitarnya, serta mempertimbangkan 'dunia kehidupan' siswa ('budaya dan bahasa asal, serta lintasan pengalaman, minat, motivasi, dan nilai-nilai yang dikembangkan dari mereka' [Liddicoat & Scarino, 2013]), memberikan keterlibatan dan kebermaknaan dalam ELTL dalam konteks lokal. Studi ini juga menunjukkan bahwa 'baik ragam teks dan apa yang dilakukan guru dengan teks tersebut' (Kohler, 2020) merupakan hal yang mendasar dalam memberikan pengalaman ELTL yang bermakna dalam konteks lokal.
PERGESERAN PEMAKAIAN PRONOMINA PERSONA DALAM BAHASA INDONESIA “GAUL” Icuk Prayogi
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 2, No 2 (2013): Jurnal Ranah
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v2i2.234

Abstract

Berbicara ragam gaul bahasa Indonesia sekarang ini pastilah pikiran tertuju pada “bahasa” Alay. Jauh sebelum itu, sebenarnya ragam gaul telah ada. Hanya, Alay yang sekarang muncul adalah perubahan dari ragam gaul pada zaman dulu. Karena beberapa hal, bentuk dan aturan pemakaian ragam ini dimungkinkan berubah. Pemakaian pronomina persona juga dimungkinkan mengalami atau pergeseran (shift). Pronomina persona kau atau saya, misalnya, akan sungguh terasa janggal bila diucapkan remaja zaman sekarang dalam konteks percakapan normal dengan remaja lain di Jakarta. Oleh karena itu, makalah sederhana ini membahas tentang pronomina persona apa saja yang mengalami pergeseran serta bagaimana pergeseran pemakaian pronomina persona dalam bahasa Indonesia “gaul”. Dengan metode kualitatif dan data dari berbagai sumber (terutama film), diharapkan menghasilkan gambaran yang cukup tentang pergeseran ini serta mengapa hal ini sampai terjadi.
Bahasa Sakai sebagai Variasi Melayu: Tinjauan Aspek Linguistik Diakronis Burhanuddin Burhanuddin
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 10, No 2 (2021): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v10i2.859

Abstract

This paper intends to explain the linguistic evidence (phonology and lexicon) which shows Sakai language as one of the diachronic linguistic Malay variations. Methodologically, data is collected using documentation method of Proto-Melayu (PM) and Sakai Language Dictionary. The collected data is then analyzed using a top-down approach of joint innovation methods. Based on the fact that the innovation and retention of phonology of PM in their respective BS are both regular (correspondence) and irregular (variation) In addition, the retention of the lexicon field reinforces the BS as one of the Malay variants. The comparison of BS with Minangkabau (MIN) language found quite a lot of correspondences and variations of both innovation and variation which implies that both isolates are variants of the same language, although there is a difference between the two isolates. This reinforces the view that the Sakai language is one of the Malay language variants. AbstrakTulisan ini bertujuan menjelaskan bukti linguistik (fonologi dan leksikon) yang menunjukkan bahasa Sakai sebagai salah satu variasi Melayu secara linguistik diakronis. Secara metodologis, data dikumpulkan menggunakan metode dokumentasi berupa Proto-Melayu (PM) dan Kamus Bahasa Sakai. Data yang terkumpulkan kemudian dianalisis menggunakan pendekatan top-down metode inovasi bersama (shared innovations). Berdasarkan kenyataan bahwa ditemukan inovasi dan retensi fonologi PM ke dalam BS masing-masing baik bersifat teratur (korespondensi) maupun tidak teratur (variasi) Di samping itu, retensi bidang leksikon menguatkan BS sebagai salah satu varian Melayu. Hasil perbandingan BS dengan bahasa Minangkabau (MIN) ditemukan cukup banyak korespondensi dan variasi baik yang bersifat inovasi maupun variasi yang menyiratkan bahwa kedua isolek tersebut adalah varian dari bahasa yang sama, meskipun terdapat perbedaan antara kedua isolek tersebut. Hal ini menguatkan pandangan bahwa bahasa Sakai merupakan salah satu varian bahasa Melayu.
Struktur Mikro Sintaksis Takarir Instagram Ridwan Kamil dan Ganjar Pranowo Silvia Ratna Juwita; Dadang S. Anshori; Vismaia S. Damaianti; Yeti Mulyati; Oktian Fajar Nugroho; Nurul Febrianti; Imam Sutanto
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 13, No 1 (2024): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v13i1.5727

Abstract

Instagram is one of the social media of choice for 1.39 billion active users, including regional leaders who use this platform to convey information through captions in their content. The captions of Ridwan Kamil and Ganjar Pranowo, as regional heads with millions of followers, were chosen by researchers to be analyzed using a qualitative approach and critical discourse analysis (AWK) developed by Teun A. Van Dijk. Data taken from the Instagram captions of the two regional heads during the Cianjur earthquake disaster period at the end of November 2022 and the 2023 New Year's Eve floods that occurred in Semarang. The aim of this research is to identify the syntactic microstructure of regional leaders' Instagram caption discourse, which includes: (1) coherence, (2) sentence structure, and (3) use of pronouns. The results of the research show that there are similarities and differences in the estimates of the two regional leaders on each microstructural element. In Ridwan Kamil, elements of causal and positive coherence, active and passive sentence forms, as well as the use of the pronouns "I" and "we" were found. Meanwhile, in Ganjar Pranowo, elements of causal and positive coherence, active sentence forms, and the use of the pronoun "we" were found. AbstrakInstagram menjadi salah satu media sosial pilihan bagi 1,39 miliar pengguna aktif, termasuk pemimpin daerah yang menggunakan platform ini untuk menyampaikan informasi melalui takarir dalam kontennya. Takarir dari Ridwan Kamil dan Ganjar Pranowo, sebagai kepala daerah dengan jutaan pengikut, dipilih oleh peneliti untuk dianalisis menggunakan pendekatan kualitatif dan analisis wacana kritis (AWK) yang dikembangkan oleh Teun A. Van Dijk. Data diambil dari takarir Instagram kedua kepala daerah tersebut selama periode bencana gempa Cianjur pada akhir November 2022 dan banjir malam pergantian tahun baru 2023 yang terjadi di Semarang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi struktur mikro sintaksis wacana takarir Instagram dari pemimpin daerah tersebut, yang mencakup: (1) koherensi, (2) susunan kalimat, dan (3) penggunaan kata ganti. Hasil penelitian menunjukkan adanya persamaan dan perbedaan dalam takarir kedua pemimpin daerah pada setiap elemen struktur mikro. Pada Ridwan Kamil, ditemukan elemen koherensi sebab-akibat dan positif, bentuk kalimat aktif dan pasif, serta penggunaan kata ganti "saya" dan "kita". Sementara pada Ganjar Pranowo, ditemukan elemen koherensi sebab-akibat dan positif, bentuk kalimat aktif, serta penggunaan kata ganti "kita".
Konjungsi Ekstratual dalam Teks Al-Mutawassimin Dhimas Muhammad Yasin
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 7, No 1 (2018): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v7i1.464

Abstract

This article, discussed the type, position, and function of extra-textual conjunctionin the text of Al-Mutawassimīn. This research uses descriptive qualitative research method. The data in this study are text and Al-Mutawassimīn text edits. Sources of data in this study are Al-Mutawassimīn manuscripts stored in the Library of Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat(PKBM) Pinilih, Soditan RT.01 / RW.03 Gumpang, Kartasura, Sukoharjo, Central Java with book number 900,331. Based on the assessment of the text, it can be concluded: extra-textual conjunction in the text of Al-Mutawassimīn, include: the conjunction adapun, the conjunction bermula, and the conjunction maka; conjunctions position adapunand bermula is located at the beginning of sentences, whereas the conjunction maka is located at the beginning of the sentence and at the end of the sentence. Extra-textual conjunction function is as an introductory discourse. AbstrakTulisan ini membahas jenis, posisi, dan fungsi konjungsi ekstratekstual dalam teks Al-Mutawassimīn.Penelitian ini menggunakan metodepenelitian deskriptif kualitatif. Data dalam penelitian ini adalah teks dansuntingan teks Al-Mutawassimīn. Sumber data dalam penelitian ini adalah naskah Al-Mutawassimīnyang tersimpan di Perpustakaan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Pinilih, Soditan RT01/RW03 Gumpang, Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah dengan nomor buku 900.331.Berdasarkan pengkajianteks, hasil penelitian menunjukkan bahwa konjungsi ekstratekstual dalam teks Al-Mutawassimīn, meliputi konjungsi adapun, bermula, dan maka. Posisi konjungsi adapundan bermulaterletak diawal kalimat, sedangkan konjungsi maka terletak di awal kalimat dan tengahkalimat. Fungsi konjungsi ekstratekstual adalah sebagai wacana pengantar. 
Kekuasaan Semantik dalam Analisis Wacana Kritis Debat Capres-Cawapres Wati Kurniawati; Ririen Ekoyanantiasih; Santy Yulianti; Menuk Hardaniawati; S. S.T. Wisnu Sasangka; Winci Firdaus
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 11, No 1 (2022): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v11i1.4966

Abstract

The use of language in relation to the ideology brought by the party in its political speech is important to study in relation to the life of the nation and state. The formulation of the problem in this research is how to use the language of politicians based on semantic power. The purpose of this study is to identify the language of politicians in terms of semantic power. This research uses descriptive and qualitative research methods. The data is taken from transcripts of Jokowi-Amin and Probowo-Sandiaga political speeches. The results showed that speech texts produced by political party figures had utilized linguistic features, such as text structure, vocabulary, language style or figure of speech, sentences, cohesion, coherence, transitivity, and pronouns. Textually, discourse and social show semantic features that are used to launch a social process: the formation of a positive image of a party in fighting for the interests of the people. The social processes and practices channeled by the political party figures are closely related to their social background, politics, and cultural values in particular and Indonesia in general. Verbal discourse in Jokowi-Amin, Prabowo-Sandiaga speeches was expressed in the form of a series of transitive active sentences and intransitive active sentences. Sentences that are expressed are sentences in the form of invitation sentences, exclamatory sentences, sentences of hope, sentences of promises, and sentences of statements. The speech discourses expressed by the orators also contain the use of language styles, namely hyperbole, metaphor, personification, and repetition. AbstrakPenggunaan bahasa yang berkaitan dengan ideologi yang dibawa oleh partai dalam pidato politiknya sangat penting untuk dikaji, terutama dalam kaitannya dengan kehidupan berbangsa dan bernegara. Rumusan masalah dalam penelitian ini ialah bagaimana penggunaan bahasa para politikus berdasarkan kekuasaan semantik. Tujuan penelitian ini ialah mengidentifikasi bahasa para politikus yang ditinjau dari kekuasaan semantik. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dan kualitatif. Data diambil dari transkrip pidato politik Jokowi-Amin dan Probowo-Sandiaga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teks pidato yang diproduksi oleh tokoh-tokoh partai politik telah memanfaatkan fitur-fitur linguistik, seperti struktur teks, kosakata, gaya bahasa atau majas, kalimat, kohesi, koherensi, ketransitifan, dan kata ganti. Secara tekstual, wacana dalam pidato politik tersebut menunjukkan fitur-fitur semantik yang digunakan untuk melancarkan suatu proses sosial: pembentukan citra positif suatu partai dalam memperjuangkan kepentingan rakyat. Proses dan praktis sosial yang disalurkan oleh tokoh-tokoh partai politik tersebut berkaitan erat dengan latar belakang sosial, politik, dan budaya mereka. Wacana verbal dalam pidato Jokowi--Amin, Prabowo--Sandiaga diekspresikan dalam bentuk rangkaian kalimat aktif transitif dan kalimat aktif intransitif. Kalimat-kalimat yang diungkapan adalah kalimat yang berbentuk kalimat ajakan, kalimat seruan, kalimat harapan, kalimat janji, dan kalimat pernyataan. Wacana pidato yang diungkapkan oleh para orator tersebut juga mengandung pemakaian gaya bahasa, yaitu gaya bahasa hiperbola, metafora, personifikasi, dan repetisi.