cover
Contact Name
Winci Firdaus
Contact Email
wincifirdaus1@gmail.com
Phone
+6288802310216
Journal Mail Official
jurnalranahbahasa@gmail.com
Editorial Address
Jalan Daksinapati Barat IV
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
ISSN : 23388528     EISSN : 25798111     DOI : https://doi.org/10.26499/rnh
Core Subject :
https://ojs.badanbahasa.kemendikdasmen.go.id/jurnal/index.php/jurnal_ranah/about/editorialPolicies#focusAndScope
Arjuna Subject : -
Articles 386 Documents
Profil Pembelajaran Membaca di Sekolah Menengah Atas sebagai Landasan Pengembangan Model Pembelajaran Kreatif melalui Pedagogi Digital Alfa Mitri Suhara; Vismaia S. Damayanti; Yeti Mulyati; Andoyo Sastromiharjo
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 14, No 2 (2025): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v14i2.8492

Abstract

This study aims to examine the profile of reading instruction in senior high schools as a basis for the development of a creative learning model grounded in digital pedagogy. A qualitative descriptive research design was employed, involving teachers and students from SMAN 1 Padalarang, SMAN 2 Padalarang, and SMAN 1 Ngamprah as research participants. Data were collected through classroom observations, semi-structured interviews, and questionnaire distribution. The data analysis procedure followed the stages of data collection, data reduction, data display, conclusion drawing, triangulation, and synthesis of final findings. Findings from classroom observations indicate that reading instruction has not yet systematically integrated creativity-oriented practices and digital-based learning components. Interview data reveal that although teachers attempt to implement various instructional models, approaches, strategies, and media aligned with learning objectives, reading instruction remains predominantly focused on literal and inferential text comprehension. Consequently, learning activities designed to foster students’ creative engagement, linguistic competence, and literary appreciation are still constrained within conventional textual reading practices. Furthermore, questionnaire results demonstrate that students’ abilities in language analysis and literary appreciation through reading instruction have not developed optimally, either in depth or in accordance with learners’ needs for creative expression and meaning-making. Overall, the findings suggest that reading instruction at the senior high school level necessitates the development of an innovative, digitally mediated learning model that emphasizes creativity enhancement, provides expanded learning spaces, and fosters student motivation in a more optimal and sustainable manner. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan profil pembelajaran membaca di SMA sebagai landasan dalam pengembangan model pembelajaran kreatif melalui pedagogi digital. Adapun metode penelitian menggunakan deskriptif kualitatif dengan subjek penelitian guru dan siswa SMAN 1 Padalarang, SMAN 2 Padalarang, dan SMAN 1 Ngamprah. Teknik pengumpulan data berupa lembar observasi, wawancara, dan lembar angket dengan teknik analisis data melalui pengumpulan data, reduksi data, peyajian data, menarik kesimpulan, triangulasi, dan temuan akhir. Hasil penelitian berdasarkan lembar observasi diketahui pelaksanaan pembelajaran membaca belum sepenuhnya mengintergrasikan kretivitas dan digital. Hasil wawancara mengemukakan pembelajaran membaca yang dilaksanakan di SMA berupaya menggunakan berbagai model, pendekatan, strategi, dan media yang sesuai dengan tujuan pembelajaran namun, pembelajaran masih dominan pada pemahaman isi teks, secara menyeluruh mengarahkan pada kegiatan kreatif dan potensi kemampuan berbahasa serta bersastra siswa masih terbatas pada kegiatan membaca tekstual. Kemudian hasil sebaran angket menunjukan bahwa kemampuan menganalisis bahasa dan mengapresiasi sastra melalui pembelajaran membaca yang dilaksanakan belum berkembang secara optimal, mendalam, dan memenuhi kebutuhan siswa dalam berkreasi dan berekspresi. Berdasarkan hasil penelitian dan temuan dapat disimpulkan bahwa pembelajaran membaca di sekolah menengah atas sehingga membutuhkan model pembelajaran inovatif dengan memanfaatkan teknologi digital untuk penguatan dan mendorong kreativitas, memberikan ruang lebih banyak, dan memotivasi siswa secara optimal.
BENTUK-BENTUK EKSPRESI KEKERASAN VERBAL TERHADAP PEREMPUAN DI TAYANGAN TELEVISI Iqbal Nurul Azhar
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 1, No 2 (2012): Jurnal Ranah
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v1i2.50

Abstract

Penelitian ini mengkaji bentuk-bentuk kekerasan verbal terhadap perempuan di beberapa program televisi popular. Pertimbangan umum diambilnya topik ini adalah karena isu-isu terkait kekerasan verbal terhadap perempuan masih sangat hangat dibicarakan. Studi ini menggunakan linguistik sebagai alat analisisnya. Dengan demikian, fokus kajian ini adalah ekspresi-ekspresi verbal yang digunakan untuk mengasari perempuan. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Metode untuk mengumpulkan data adalah observasi nonpartisipan dengan metode sadap sebagai teknik dasarnya dan metode rekam dan catat sebagai teknik lanjutannya. Metode untuk menganalisis data adalah metode identitas. Metode untuk menyajikan hasil analisis data adalah metode informal. Studi ini dilakukan selama bulan Agustus 2012 pada empat stasiun televisi swasta yaitu RCTI, SCTV, AnTV and TransTV. Beberapa temuan telah didapat yaitu: (1) banyak ekspresi kekerasan verbal dijumpai di program-program televisi (2) ekspresi-ekspresi tersebut beraneka ragam bentuknya
Dari Label ke Mitos: Analisis Semiotika "Anak Abah" sebagai Simbol Politik Afektif si Platform X Ikhwan Tirtana; Eni Maryani; Ira Mirawati
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 15, No 1 (2026): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v15i1.8537

Abstract

This study aims to reveal how the term “Anak Abah” functions as an affective political symbol in digital political communication on platform X. A qualitative approach with Roland Barthes’ semiotic analysis was employed. Data were collected through non- participant observation of X posts containing the term “Anak Abah” produced by Anies Baswedan supporters during the political campaign period (28 November 2023–10 February 2024) using purposive sampling. Data analysis was conducted in three operational stages: (1) identification of denotative meaning, (2) analysis of connotative meaning, and (3) derivation of mythological meaning. The findings indicate that “Anak Abah” does not merely serve as a supporter label but as a symbol of paternal relations emphasizing emotional closeness, moral legitimacy, and collective solidarity. This symbolic practice reflects the dominance of affective politics in digital public spheres, where emotional resonance often replaces rational policy discourse. The study contributes to language and political communication studies by affirming the ideological role of affective language in Indonesian digital politics. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana istilah “Anak Abah” berfungsi sebagai simbol politik afektif dalam komunikasi politik digital di platform X. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis semiotik Roland Barthes. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi non-partisipan berupa unggahan media sosial X yang memuat istilah “Anak Abah” dari akun-akun pendukung Anies Baswedan selama periode kampanye politik (28 November 2023–10 Februari 2024) dengan teknik purposive sampling. Teknik analisis data dilakukan dalam tiga tahap operasional: (1) identifikasi makna denotatif, (2) analisis makna konotatif, dan (3) penarikan makna mitos. Hasil penelitian menunjukkan bahwa “Anak Abah” tidak hanya berfungsi sebagai label pendukung, melainkan sebagai simbol relasi paternal yang menekankan kedekatan emosional, legitimasi moral, dan solidaritas kolektif. Praktik simbolik ini mencerminkan dominasi politik afektif dalam ruang publik digital, di mana resonansi emosional kerap menggantikan diskursus kebijakan rasional. Penelitian ini berkontribusi pada kajian bahasa dan komunikasi politik dengan menegaskan peran ideologis bahasa afektif dalam politik digital Indonesia.
KOSAKATA SISTEM PERTANIAN TRADISIONAL SUNDA: KAJIAN STRUKTUR DAN MAKNA Taufik Setyadi Aras
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 6, No 1 (2017): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v6i1.294

Abstract

Identity of Indonesia as agrarian country begins fading. A lot of the traditional farmers change their job to industrial sectors then impacting on behavior patterns of society to the environment and reducing the knowledge and skills in the traditional farming. The issues examined are the vocabulary of Sundanese traditional agricultural systems by using study the structure and semantics. The method used in this research is a qualitative descriptive method. This research applies some theories from Djajasudarma (2009 and 2013), Kridalaksana (2005), and Ramlan (1991). The results of this study that a category of vocabulary of Sundanese traditional agriculture systems divide into four classes, verbs and verbal, nouns and nominal, numeralia, derivative formand adjectives. The structure divides into two forms; base form and derivative form. Derivative form has four types, affixation, reduplication, acronym, and the combined of word. The meaning of vocabulary referring to tools and equipment, cultivation activities, circumstances and conditions of paddy, planting, place and crock, time, traditional ceremonies, community leaders’ rice pests, and size or dosage.ABSTRAKIdentitas Indonesia sebagai negara agraris mulai luntur. Tidak sedikit petani tradisional beralih pekerjaan ke sektor industri sehingga berdampak pada pola perilaku masyarakat terhadap lingkungan serta mengikis pengetahuan dan keterampilan dalam tata cara bertani tradisional. Masalah yang diteliti adalah kosakata sistem pertanian tradisional berbahasa Sunda dengan menggunakan kajian struktur dan makna. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Teori yang digunakan yaitu teori Djajasudarma (2009 dan 2013), Kridalaksana (2005), dan Ramlan (1991) . Berdasarkan penelitian, diketahui empat kelas kata yang ditemukan, yaitu verba(l), nomina(l), numeralia, dan adjektiva. Struktur kosakata ada dua bentuk, yaitu bentuk dasar dan turunan. Bentuk turunan ada empat, yaitu berdasarkan afiksasi, reduplikasi, akronim, dan gabungan kata. Makna kosakata mengacu pada peralatan dan perkakas, aktivitas penggarapan, keadaan dan kondisi padi, proses penanaman, nama tempat dan wadah, nama waktu, upacara tradisional, tokoh masyarakat, hama padi, serta ukuran atau takaran.
Transivitas dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Sunda Puspa Mirani Kadir; Pika Yestia Ginanjar; Cece Sobarna
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 10, No 2 (2021): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v10i2.4184

Abstract

The phenomenon of language is found mainly in Indonesian language and Sundanese language, one of which is the passive verbs; especially when the verb experiences the process of forming derivative words, either through affixation, reduplication, and compounding. Hopper and Thomson (1980) explain the relationship of transitivity and diathesis in the grammatical structure of verbs, especially in the field of study of affectedness of object; transitivity is divided into two types; (1) structural transitivity related to the predicate and two main arguments; and (2) traditional transitivity related to all elements in a clause transferring the action from agent to patient. This research aims to describe the transitivity level of Indonesian language by doing contrastive research with Sundanese language, based in the theory of Hopper and Thompson (1980) which focuses on the middle construction. The Sundanese language data is taken from sample sentences in Mangle Magazine (Edition 2018-2019), the drama script "Lalakon", and book “Kajian Bentuk dan Makna Konseptual Preposisi Bahasa Sunda”(Sobarna, C. dan Santy, 2019). The research results show there is a close relationship between Sundanese language passive sentence structures with prefixes ka-, ti-, with the infix -ar- and Indonesian language sentence structures with verbs prefixed ter-, also and Indonesian language verbs cannot be separated from the actions/activities of the actors, whether it is realized or not. AbstrakFenomena kebahasaan banyak ditemukan dalam bahasa Indonesia dan bahasa Sunda, salah satunya adalah bahasan verba pasif, terutama pada saat verba tersebut mengalami pembentukan kata turunan baik melalui proses afiksasi, reduplikasi maupun pemajemukan. Hopper dan Thompson (1980) menjelaskan hubungan transitivitas dan diatesis pada struktur gramatikal verba, khususnya pada bidang kajian affectedness of object yang mengklasifikasikan ketransitifan ke dalam dua jenis: (1) ketransitifan struktural yang berhubungan dengan predikat dan dua buah argumen inti; (2) Ketransitifan tradisional yang berhubungan dengan semua unsur di dalam sebuah klausa pemindahan tindakan dari agen ke pasien (Hopper & Thompson, 1980). Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan tingkat transitivitas bahasa Indonesia dengan melakukan penelitian kontrastif dengan bahasa Sunda, berdasarkan teori Hopper dan Thompson (1980) yang memfokuskan kajian pada konstruksi tengah. Data bahasa Sunda diambil dari contoh kalimat yang ada dalam Majalah Mangle (Edisi 2018-2019), naskah drama “Lalakon”, dan buku  “Kajian Bentuk dan Makna Konseptual Preposisi Bahasa Sunda” (Sobarna, C. dan Santy, 2019). Hasil pembahasan konstruksi tengah (middle construction), terlihat bahwa adanya keterkaitan erat antara struktur kalimat pasif bahasa Sunda yang berprefiks ka-,ti-, berinfiks -ar- dan struktur kalimat bahasa Indonesia yang memiliki verba berprefiks ter-., serta verba bahasa Indonesia tidak terlepas pada perbuatan/aktivitas pelaku apakah itu disadari atau tidak disadari.
Menilik Isu Lingkungan dan Kelestarian Alam dalam UU IKN melalui Linguistik Korpus Bayu Permana Sukma; Devi Ambarwati Puspitasari; Winci Firdaus
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 13, No 2 (2024): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v13i2.6838

Abstract

This study aims to analyze and determine the extent to which environmental issues and natural sustainability are accommodated in Law no. 3 of 2022 concerning IKN using a corpus linguistics approach. The data collected in this research is the complete text of Law no. 3 of 2022 concerning IKN, which covers the entire text of the law, including preambles, articles and attachments consisting of 1,099 tokens and reaching 8,653 word frequencies. This research utilizes the use of tools, namely AantConc version 4.2. The analysis techniques applied are word frequency analysis, keywords, concordance, and N-grams. The results of the findings and analysis of statistical data related to vocabulary on environmental topics show that there is no significance in environmental topics that are facilitated in the contents of Law No. 3 of 2023, especially regulations related to law enforcement against environmental violations. The only keyword that appeared in the first hundred hits was the word 'environment' and it was ranked 78th, far below the words 'authority' and 'government' which were in the top ten area, and development-related keywords which were in the top ten, ranked 20th to 30th. Other keywords related to natural sustainability were found in ranks 200th to 800th, out of a total of 1,099 existing tokens. It shows that environmental and sustainability issues are not discussed in a sufficient proportion since their occurrence is significantly fewer than the frequency of the other keywords related to government and development.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengetahui sejauh mana isu lingkungan dan kelestarian alam diakomodasi di dalam UU No. 3 Tahun 2022 tentang IKN dengan menggunakan pendekatan linguistik korpus. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah teks lengkap dari UU No. 3 Tahun 2022 tentang IKN, yang mencakup seluruh naskah undang-undang, termasuk preambule, pasal-pasal, dan lampiran yang terdiri atas 1.099 token dan mencapai 8.653 frekuensi kata. Penelitian ini memanfaatkan penggunaan alat bantu, yaitu AntConc versi 4.2. Teknik analisis yang diterapkan adalah analisis frekuensi kata, kata kunci, konkordasi, dan N-gram. Hasil temuan dan analisis data statistik terkait kosa kata dengan topik lingkungan menunjukkan bahwa tidak ditemukan signifikasi topik lingkungan yang terfasilitasi dalam isi Undang-undang No.3 Tahun 2023, khususnya peratutan terkait penegakan hukum terhadap pelanggaran lingkungan. Satu-satunya kata kunci yang muncul di seratus hits pertama hanyalah kata ‘lingkungan’ dan berada di peringkat ke-78, jauh di bawah kata ‘otorita’ dan ‘pemerintahan’ yang berada di area sepuluh besar, dan kata kunci terkait pembangunan yang berada di peringkat 20 sampai 30. Kata kunci terkait kelestarian alam lainnya ditemukan pada peringkat ke-200 hingga ke-800, dari total 1.099 token yang ada. Hal ini menunjukkan bahwa isu lingkungan dan kelestarian alam tidak banyak dibahas dalam UU IKN karena jumlah kemunculannya tidak sebesar kata-kata kunci lain yang terkait dengan pemerintahan dan pembangunan.
Kesantunan Tindak Tutur Bamamai dalam Bahasa Banjar: Berdasarkan Skala Kesantunan Leech NFN Jahdiah
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 7, No 2 (2018): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v7i2.530

Abstract

This study discusses speech act of bamamai (nagging) in Banjar language. Bamamai is an expressive speech act. Bamamai usually involves the speaker's emotion toward the speech partner when the speech is not in accordance with what the speaker wants. This research aims to describe bamamai speech acts based on Leech’s politeness scale. The method used in this research is descriptive qualitative. The data collected are descriptive, taken from the speakers’ conversations in Banjar language’s oral variety. The theory used in this research is the politeness scale by Leech, namely (1) cost and benefit scale, (2) optionality scale, (3) indirectness scale, (4) authority scale and (5) distance scale. The research shows that there are polite speeches in the bamamai (nagging) speech act because they are in accordance with Leech’s politeness scale, namely the indirectness, authority and optionality scale. On the other hand, there are impolite speeches in bamamai (nagging) speech act because they are not in accordance with the indirectness scale and social distance scale. AbstrakPenelitian ini membahas mengenai tindak tutur bamamai (mengomel) dalam bahasa Banjar. Bamamai termasuk tindak tutur ekspresif. Bamamai biasanya melibatkan emosi penutur kepada mitra tutur ketika tuturan mitra tutur tidak sesuai dengan yang diinginkan oleh penutur. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan tindak tutur bamamai berdasarkan skala kesantunan Leech.  Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskripsif kualitatif. Data yang dikumpulkan berbentuk deskriptif percakapan penutur berbahasa Banjar dalam ragam lisan. Teori yang digunakan dalam penelitian ini skala kesantunan yang dikemukakan oleh Leech, yaitu (1) skala kerugian dan keuntungan, (2) skala pilihan, (3) skala ketidaklangsungan, (4) skala keotoritasan, dan (5) skala jarak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam tindak tutur bamamai terdapat tuturan yang santun karena sesuai dengan skala kesantunan yang dikemukakan oleh Leech, yaitu skala ketidaklangsungan, keotoritasan, dan pilihan. Sebaliknya, dalam tindak tutur bamamai terdapat tuturan yang tidak santun karena tidak sesuai dengan skala ketidaklangsungan dan skala jarak sosial.
Preservasi Bahasa Jawa Krama Sebagai Monumen Hidup Kearifan Lokal Masyarakat Jawa Pranowo Pranowo; Benedictus Bherman Dwijatmoko; Danang Satria Nugraha
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 11, No 2 (2022): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v11i2.3909

Abstract

This study examines the efforts to preserve the Javanese language (BJ) Krama as a living repository of indigenous knowledge. This study focuses on how to preserve BJ Krama for the younger generation of Yogyakarta (GMY), with subproblems (a) a description of GMY's capacity to speak Javanese Krama and (b) preservation efforts for BJ Krama for GMY. Sources of data for this study include ethnic Javanese students in a multilingual speech context (Javanese, Indonesian, English, and other regional languages), particularly those enrolled in the undergraduate program at Sanata Dharma University. This study's data consists of descriptions of questionnaire responses from student respondents. The technique of content analysis was employed to analyze the data. This investigation led to the discovery of techniques for retaining verbal-oral BJ Krama for GMY. There are two distinct discoveries in particular. First, contextually, the situation of GMY as young BJ speakers is that they are still engaged in learning BJ Krama despite facing internal and external barriers. Second, there are at least two projections regarding preservation initiatives, including (a) commencing cooperation with government and private entities and (b) building creative work spaces through various language-based business incubation activities. This essentially indicates that cross-institutional BJ Krama preservation efforts based on enhancing GMY creativity are viable and can be constructed at the level of praxis activities, in accordance with the local wisdom values agreed upon by the speech community group. AbstrakKajian ini mendeskripsikan upaya mempreservasi bahasa Jawa (BJ) Krama sebagai monumen hidup kearifan lokal. Permasalahan utama kajian ini adalah cara mempreservasi BJ Krama verbal-lisan untuk generasi muda Yogyakarta (GMY), dengan submasalah (a) deskripsi kemampuan GMY berbahasa Jawa Krama dan (b) upaya mempreservasi BJ Krama bagi GMY. Sumber data kajian ini adalah mahasiswa-mahasiswi etnis Jawa dalam lingkungan tutur multibahasa (bahasa Jawa, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan bahasa daerah lain), khususnya pada program sarjana di Universitas Sanata Dharma. Data kajian ini berwujud uraian jawaban angket/kuesioner dari mahasiswa responden. Data dianalisis berdasarkan teknik analisis-isi (content analysis). Hasil penelitian ini, secara umum, adalah ditemukan cara-cara mempreservasi BJ Krama verbal-lisan untuk GMY. Secara khusus, terdapat dua temuan spesifik. Pertama, secara kontekstual, kondisi GMY sebagai penutur muda BJ adalah masih berminat menguasai BJ Krama tetapi menghadapi kendala internal dan eksternal. Kedua, berkaitan dengan upaya preservatif, sekurang-kurangnya terdapat dua proyeksi meliputi  (a) inisiasi kerjasama dengan instansi pemerintah maupun swasta dan (b) penciptaan ruang kerja kreatif dengan membuat berbagai kegiatan inkubasi usaha berbasis bahasa. Secara implikasional, dapat dinyatakan bahwa upaya preservasi BJ Krama lintas institusional berbasis optimalisasi kreativitas GMY bersifat prospektif dan dapat direalisasikan dalam tataran kegiatan praksis secara terstruktur sesuai dengan nilai-nilai kearifan lokal yang disepakati oleh kelompok masyarakat tutur.
Stance, Syntax and Gender Identity in Indonesian Films: a Sociopragmatic and Interactional Discourse Study Tuti Wijayanti; Shafariana Shafariana; Johar Amir
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 14, No 1 (2025): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v14i1.8208

Abstract

This study emmployed a descriptive qualitative method using critical discourse analysis (CDA) whitin a socio-pragmatic framework to examine syntactic constructions in contemporary Indonesian film dialogues that reflect gender ideologies. Data were collected through documentation, field notes, and purposive sampling from five gender-themed films released between 2021—2023: Yuni; Before, Now, & Then; Bismillah Kunikahi Suamimu; Budi Pekerti; and Susuk: The Curse of Beauty. Data analysis adapted Milles & Huberman’s interactive model, including data reduction, display, and conclusion drawing using Sara Mills’s CDA approach. Finding reveal that syntactic structures is contemporary Indonesian films reflect complex gender ideologies, where active, passive, imperative, and evaluative forms are used to construct female agency, powerlessness, or emotional positioning. Analysis of five films –Yuni (2021); Before, Now, & Then (2022); Bismillah Kunikahi Suamimu (2023); Budi Pekerti (2023); and Susuk: Kutukan Kecantikan (2023)– reveals that while active and motivational syntax often portrays women as agent of resistance, passive, and directive forms requently frame them as submissive or emotionally burdened. Imperatives serve both as tools of social enforcement and empowerment. Evalauative verbs and negation subtly encode internalized norms and limitations. These patterns demonstrate that syntax is ideologically loaded, not neutral. The findings have implications for gender-aware scriptwriting, curriculum development in language and media education, and media policy interventions aimed at promoting inclusive narrative practices. Abstrak Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatid dengan pendekatan analisis wacana kritis (AWK) berbasis sosiopragmatik untuk menganalisis struktur sintaksis dalam dialog film Indonesia kontemporer yang merepresentasikan ideologi gender. Data dikumpulkan melalui dokumentasi, catatan lapangan, dan purposive sampling dari lima film bertema gender yang dirilis antara tahun 2021—2023: Yuni, Before, Now, & Then, Bismillah Kunikahi Suamimu; Budi Pekerti, dan Susuk: Kutukan Kecantikan. Teknik analisis data mengadaptasi model interaksi Miles & Huberman, meliputi reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dengan kerangka analisisi wacana Sara Mills. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur sintaksis dalam film-film Indonesia kontemporer merepresentasikan ideologi gender yang kompleks, yang bentuk aktif, pasif, imperatif, dan evaluatifnya digunakan untuk membingkai agensi, ketidakberdayaan, atau posisi emosional tokoh perempuan. Analisis terhadap lima film –Yuni (2021); Before, Now, & Then (2022); Bismillah Kunikahi Suamimu (2023); Budi Pekerti (2023); dan Susuk: Kutukan Kecantikan (2023)– menunjukkan bahwa kalimat aktif dan motivasional sering menampilkan perempuan sebagai agen perlawanan, sedangkan bentuk pasif dan direktif kerap membingkai mereka dalam posisi tunduk atau terbebani secara emosional. Kalimat imperatif digunakan baik untuk menegakkan norma sosial maupun memberdayakan. Verba evaluatif dan negasi mengungkap norma yang terinternalisasi secara halus. Temuan ini menunjukkan bahwa sintaksis sarat ideologi dan tidak bersifat netral. Implikasinya mencakup pelatihan penulisan naskah berbasis kesadaran gender, pengembangan kurikulum bahasa dan media, serta kebijakan media yang mendorong praktik naratif yang lebih inklusif.
Penerjemahan Frasa Verbal dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia NFN Engliana; Ira Miranti
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 9, No 1 (2020): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v9i1.862

Abstract

This research analyzes the translation of English phrasal verbs into Indonesian. The goal of this research is to identify the translators’ understanding by means of equivalent translation of the phrasal verbs in Indonesian. Such goal is valuable since it helps us to see how the translators were able to comprehend meanings in context. The translation results also enable us to recognize the translators’ understandings of phrasal verbs of source language and their meanings in target language. This is a qualitative research which employs content analysis method. The data analysis technique is categorizing, or separation of the translation results based on the source language’s phrasal verbs type prior to applying meaning equivalence principles to the translations. The results of the analysis show that the respondents still face difficulties in translating English phrasal verbs into Indonesian because they are fixated on the verbal structures of source language and lack of understanding of the rules of the source language structure (linguistic barrier). Metacognitive barrier plays a role in the translation process due to lack of background knowledge gained from experience, thus affecting the ability to build strategies and influence decision-making.AbstrakPenelitian ini menganalisis penerjemahan frasa verbal dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi pemahaman penerjemah melalui kesepadanan makna frasa verbal bahasa Indonesia. Usaha identifikasi ini bermanfaat untuk mengenali bahwa pemahaman makna kombinasi frasa verbal bahasa sumber dan konteks penggunaan frasa verbal dalam kalimat dapat diserap dengan baik oleh penerjemah sehingga dapat menghasilkan terjemahan yang tepat. Penelitian ini didasarkan pada pendekatan kualitatif, yaitu menggunakan metode kajian isi. Teknik analisis data menggunakan kategori atau pemisahan hasil terjemahan berdasarkan jenis frasa verbal bahasa sumber, kemudian kriteria kesepadanan makna diterapkan pada hasil terjemahan. Hasil analisis menunjukkan bahwa para responden masih menghadapi kesulitan menerjemahkan frasa verbal bahasa Inggris ke bahasa Indonesia karena mereka masih terpaku pada struktur frasa verbal bahasa sumber dan kurang memahami kaidah struktur bahasa sumber (linguistic barrier). Didapati juga metacognitive barrier, yaitu kurang latar belakang pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman sehingga mempengaruhi kemampuan membangun strategi dan memengaruhi pengambilan putusan.