cover
Contact Name
Winci Firdaus
Contact Email
wincifirdaus1@gmail.com
Phone
+6288802310216
Journal Mail Official
jurnalranahbahasa@gmail.com
Editorial Address
Jalan Daksinapati Barat IV
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
ISSN : 23388528     EISSN : 25798111     DOI : https://doi.org/10.26499/rnh
Core Subject :
https://ojs.badanbahasa.kemendikdasmen.go.id/jurnal/index.php/jurnal_ranah/about/editorialPolicies#focusAndScope
Arjuna Subject : -
Articles 386 Documents
The ANTARA and TEMPO Media’s Framing Strategy Differences in Framing the Omnibus Law Ratification Issue Rize Rahmi; Sawirman Sawirman; Aslinda Aslinda
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 10, No 2 (2021): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v10i2.4146

Abstract

In this research, the authors compared the framing strategy used by the ANTARA media and TEMPO media for the issue of the ratification of the Omnibus Law on Job Creation. This research was conducted descriptively with comparative qualitative approach. A qualitative document procedure was applied in collecting the data. Fairclough's framework of Critical Discourse Analysis and the framing analysis model by Pan and Kosicki (1993) were combined to analyze the data. The result of the data analysis is presented in the table and the interpretation form. The result shows that TEMPO's framing strategy is more clearly defined, while ANTARA's strategy is less clear. In building a negative or positive representation, TEMPO Media tries to present information supported by many sources. Then, the use of images in TEMPO news supports the truth of information, while the use of images in ANTARA media improves the quality of information sources. The five news stories from ANTARA media selected in this study always use the face image of the selected informant as a source of news information. AbstrakPada penelitian ini, penulis membandingkan strategi pembingkaian yang digunakan media ANTARA dan TEMPO dalam membingkai isu pengesahan Omnibus Law Cipta Kerja. Penelitian ini dilakukan secara deskriptif dengan pendekatan komparatif kualitiatif. Prosedur dokumen kualitatif diterapkan dalam pengumpulan data. Kerangka analisis wacana kritis Fairclough dan model analisis pembingkaian oleh Pan dan Kosicki (1993) digabungkan untuk menganalisis data. Hasil analisis data disajikan dalam bentuk tabel dan interpretasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi pembingkaian TEMPO lebih jelas, sedangkan strategi ANTARA kurang jelas. Dalam membangun representasi negatif atau positif, TEMPO mencoba menghadirkan informasi yang didukung oleh banyak sumber. Kemudian, penggunaan gambar dalam berita TEMPO mendukung kebenaran informasi, sedangkan penggunaan gambar di media ANTARA meningkatkan kualitas sumber informasi. Kelima berita dari media ANTARA yang dipilih dalam penelitian ini selalu menggunakan foto sumber informasi yang terpilih pada berita.
Attitudinal Meaning in Kevin Carter’s Suicide Note Eva Tuckyta Sari Sujatna; Meita Lukitawati Sujatna; Kasno Pamungkas; Nurul Hikmayaty Saefullah
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 13, No 2 (2024): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v13i2.7248

Abstract

This study explicates attitudinal meaning in a suicide note based on Systemic Functional Linguistic approach. This research aims to figure out the attitudinal meaning including affect, judgment, and appreciation in Kevin Carter’s suicide note. Kevin Carter was a photojournalist from South Africa who won a Pulitzer Prize in 1993 for a vulture patiently observing a little girl who collapsed in the forefront of hunger photograph who committed suicide in 33 years old. The method applied in this research is a qualitative research method. The data were taken from Kevin Carter’s suicide note, then they were classified based on the three types of attitude elements. The present writers draw the result of the three attitudinal meaning elements, firstly the affects (feeling) found in the Kevin Carter’s suicide note showed the emotions that deal with the negative feelings. Secondly, the judgment or ethics relate to attitude toward habit and behaviour delivered in the Kevin Carter’s suicide note deals with condemn as the negative moral. The last, the appreciation connects to aesthetics which involves the evaluation indicated in the Kevin Carter’s suicide note relates to the reaction which has a process type (affection) as an interpersonal. AbstrakPenelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan makna sikap di dalam sebuah catatan bunuh diri berdasarkan pendekatan Linguistik Sistemik Fungsional. Tujuan penelitian ini menggambarkan makna sikap yang meliputi afeksi, penilaian, dan apresiasi di dalam catatan bunuh diri Kevin Carter. Kevin Carter adalah seorang wartawan foto dari Afrika Selatan yang mendapat Pulitzer Prize pada tahun 1993 mengenai foto seekor burung nasar yang sedang mengamati seorang gadis kecil yang jatuh pingsan di depannya karena kelaparan yang bunuh diri pada usia 33 tahun. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode riset kualitatif. Data yang digunakan berasal dari catatan bunuh diri Kevin Carter, kemudian data tersebut diklasifikasi berdasarkan tiga elemen utama makna sikap. Para peneliti mendeskripsikan hasil penelitian, pertama, afeksi yang berhubungan dengan perasaan yang ditemukan di dalam catatan bunuh diri Kevin Carter menunjukkan emosi yang berhubungan perasaan yang bersifat negatif. Kedua, penilaian atau etika berhubungan dengan sikap mengenai kebiasaan dan perilaku yang terdapat di dalam catatan bunuh diri Kevin Carter berhubungan dengan kutukan (celaan) yang bersifat negatif. Ketiga, apresiasi berhubungan dengan estetika yang melibatkan evaluasi yang ditunjukkan di dalam catatan bunuh diri Kevin Carter yang berhubungan dengan reaksi yang ditunjukan oleh tipe proses (afeksi) sebagai interpersonal.
Keakuratan Terjemahan Gaya Bahasa pada Novel Lady Chatterley’s Lover Nidya Pratiwi; M.R Nababan; NFN Djatmika
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 7, No 2 (2018): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v7i2.634

Abstract

Translating accuracy of source language into target language in a literary work require high appropriatness that retain the beauty of the language. The purpose of this study is to identify and describe level of accuracy of the translation in the figure of speech appeared in D.H Lawrence's Lady Chatterley’s Lover novel and its translation. The data of this study were types of figure of speech in the original novel of D.H Lawrence's Lady Chatterley’s Lover and its translation. Assigning a qualitative approach, data were collected by means of document analysis and Focus Group Discussion. Meanwhile, the study indicates five types of language style found in the source text were translated by using translation equivalent technique, discursive creation, reduction, borrowing, literal, addition, modulation, explication, and adaptation.Farther more, the average accuracy of the translation is 2.8 out of 3, which indicates that the translation is good.AbstrakKeakuratan terjemahan dari bahasa sumber ke dalam bahasa target dalam karya sastra haruslah tepat dan tidak menghilangkan keindahan bahasanya. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi dan mendeskripsikan tingkat keakuratan terjemahan pada jenis gaya bahasa yang muncul dalam novel Lady Chatterley’s Lover karya D.H Lawrence dan terjemahannya. Data yang digunakan adalah ragam gaya bahasa yang muncul dalam novel Lady Chatterley’s Lover karya D.H Lawrence versi asli dan hasil terjemahannya. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dan data dikumpulkan dengan cara analisis dokumen serta Focus Group Discussion. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 5 gaya bahasa yang ditemukan pada penelitian ini diterjemahkan menggunakan 9 teknik penerjemahan, di antaranya padanan lazim (PL), kreasi diskursif (KD), reduksi, peminjaman (borrowing), literal, adisi, modulasi, eksplisitasi, dan adaptasi. Selain itu, rata-rata keakuratan pada terjemahan gaya bahasa adalah 2,8 dari skala 3 yang mengindikasikan terjemahan tersebut baik.   
Memotret Hoaks Covid-19 di Awal Pandemi Melalui Analisis Wacana Berbasis Linguistik Korpus Devi Ambarwati Puspitasari; Bayu Permana Sukma
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 11, No 2 (2022): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v11i2.5152

Abstract

This study aims to identify the themes, characteristics and aspects behind the Covid-19 hoakses, particularly those appearing in Indonesia at the beginning of the pandemic, i.e March 2020. This study used a qualitative method by involving researchers as research instruments. The analysis was carried out through a critical discourse analysis framework supported by corpus linguistics. The data of this study are the Covid-19 hoaks corpus which has been confirmed as fake news and has been released by TurnBackHoaks.ID website managed by MAFINDO (Indonesian Anti Hoaks Society). The hoakses analyzed in this study were those which appeared sequentially for 16 days, from March 15 to March 31, 2020. The corpus of the Covid-19 hoakses consisted of 94 texts, 2,367 types, and 6,872 tokens, processed by using Antconc software. The analysis of word lists, concordances, and collocations was used to see texts’ composition of Covid-19 hoakses in Indonesia. The word list selected based on the results of corpus processing is the word with the highest frequency in the first to fiftieth rank. The chosen words are those other than prepositions or which is denoted by the symbol (p) in Indonesian Language Official Dictionary. The selection of non-prepositional words aims to facilitate data analysis with more specific keywords. The selected collocations are 1R (one right) and 1L (one left). Word lists and concordance analyses are used to see the tendency of hoaks texts’ content. Meanwhile, the collocation analysis aims to see the composition of words that appear in the Covid-19 hoaks texts. The results of the processing of the Covid-19 hoaks corpus were further deepened with a discourse analysis framework. In particular, the critical discourse analysis framework is used to analyze and explore the social and political context of circulating hoakses, especially hoakses involving the president as a symbol of the state and government. The results show that there are four hoaks themes about the Covid-19 in March 2020 i. e. health (29%), government policies (30%), criticism of President Joko Widodo (13%), and religion (5%). In terms of hoakses on criticism of President Joko Widodo, critical discourse analysis shows that the hoaks maker has the opposite ideology with him. These hoakses can also be seen as a portrayal of the socio-political condition in Indonesia after the 2014 presidential election. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tema, ciri dan aspek yang melatarbelakangi kemunculan hoaks-hoaks Covid-19, khususnya hoaks yang muncul di Indonesia pada awal pandemi, yaitu bulan Maret 2020. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan melibatkan peneliti sebagai instrumen penelitian. Analisis dilakukan dengan kerangka analisis wacana kritis yang didukung oleh linguistik korpus. Data dalam penelitian ini adalah korpus hoaks Covid-19 yang terkonfirmasi sebagai berita bohong dan telah dirilis oleh situs TurnBackHoaks.ID yang dikelola oleh MAFINDO (Masyarakat Anti hoaks Indonesia). Hoaks Covid-19 yang dianalisis dalam penelitian ini adalah hoaks yang muncul secara berurutan selama 16 hari, yaitu tanggal 15 Maret hingga 31 Maret 2020. Korpus hoaks Covid-19 yang diteliti terdiri atas 94 teks, 2.367 tipe, dan 6.872 token. Korpus diolah menggunakan perangkat lunak Antconc. Analisis daftar kata, konkordans, dan kolokasi digunakan untuk melihat komposisi teks hoaks Covid-19 di Indonesia. Daftar kata yang dipilih berdasarkan hasil pengolahan korpus adalah kata dengan frekuensi tertinggi pada peringkat pertama sampai ke-50. Kata yang dipilih adalah kata selain preposisi atau yang dalam KBBI dilambangkan dengan simbol (p). Pemilihan kata non-preposisi bertujuan untuk mempermudah analisis data dengan kata kunci yang lebih khusus. Kolokasi yang dipilih adalah 1R (satu kanan) dan 1L (satu kiri). Analisis pada daftar kata dan konkordans digunakan untuk melihat kecenderungan isi teks hoaks. Sementara itu, analisis kolokasi bertujuan untuk melihat komposisi kata yang muncul pada teks-teks hoaks Covid-19. Hasil pengolahan korpus hoaks Covid-19 selanjutnya diperdalam dengan kerangka analisis wacana. Secara khusus, kerangka analisis wacana kritis digunakan untuk menganalisis dan mendalami konteks sosial dan politik dari hoaks yang beredar, khususnya hoaks yang melibatkan presiden sebagai simbol negara dan pemerintah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat empat tema hoaks terkait Covid-19 pada Maret 2020, yaitu hoaks bertema kesehatan (29%), kebijakan pemerintah (30%), kritik terhadap Presiden Joko Widodo (13%), dan keagamaan (5%). Terkait hoaks bertema kritik terhadap Presiden Joko Widodo, analisis dengan pendekatan wacana kritis menunjukkan bahwa pembuat hoaks memiliki ideologi yang berseberangan dengan Joko Widodo. Jika dirunut lebih jauh, hoaks-hoaks tersebut juga dapat dipandang sebagai gambaran dari kondisi sosial politik Indonesia pasca pilpres 2014.
Analisis Kesulitan Pembelajaran Bahasa Indonesia di Kabupaten Donggala Gazali Gazali; Gusti Ketut Alit Suputra; Ni Kadek karmaeni
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 14, No 1 (2025): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v14i1.7270

Abstract

The objective of this study is to analyze the learning difficulties in Indonesian language instruction in Donggala Regency and to provide solutions to address the challenges faced by elementary students in learning the Indonesian language. This research uses a descriptive qualitative approach with data collection techniques including observation, interviews, and documentation. The data analysis technique follows the Miles and Huberman model, which consists of four stages: data collection, data reduction, data display, and conclusion drawing. The results reveal that students encounter four main types of difficulties in learning Indonesian: (1) difficulty in understanding sentence structure due to limited ability in organizing grammatical components; (2) difficulty in speaking Indonesian, mainly influenced by the dominance of the mother tongue at home; (3) writing errors, particularly in spelling, capitalization, and punctuation; and (4) inability to read fluently, especially in recognizing and pronouncing words correctly. The contributing factors include limited vocabulary, differing linguistic backgrounds, monotonous teaching methods, and inadequate learning media. Proposed solutions involve implementing contextual teaching methods, utilizing visual and audio media, and providing intensive teacher guidance tailored to students’ characteristics. Abstrak Tujuan Penelitian ini adalah menganalisis kesulitan pembelajaran Bahasa di kabupaten Donggala dan memberikan solusi dalam menghadapi kesulitan siswa pada pembelajaran Bahasa Indonesia. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan model miles dan huberman yang terdiri dari tahapan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa mengalami empat jenis kesulitan utama dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, yaitu: (1) kesulitan memahami struktur kalimat karena rendahnya kemampuan dalam mengorganisasi unsur-unsur kalimat secara gramatikal; (2) kesulitan berbicara menggunakan Bahasa Indonesia yang disebabkan oleh pengaruh bahasa ibu yang dominan di lingkungan rumah; (3) kesalahan penulisan, terutama dalam ejaan, huruf kapital, dan penggunaan tanda baca; serta (4) belum bisa membaca secara lancar, terutama dalam mengenali dan mengucapkan kata dengan benar. Faktor penyebab kesulitan tersebut meliputi keterbatasan kosakata, perbedaan latar belakang bahasa, metode pembelajaran yang kurang bervariasi, serta keterbatasan media pembelajaran. Solusi yang ditawarkan meliputi penerapan metode pembelajaran yang kontekstual, pemanfaatan media visual dan audio, serta pendampingan intensif dari guru sesuai karakteristik siswa.
Ekspresi Verbal-Gramatikal Penyandang Afasia Broca Berbahasa Indonesia: Suatu Kajian Neurolinguistik Riki Nasrullah; Dadang Suganda; NFN Wagiati; Sugeng Riyanto
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 9, No 1 (2020): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v9i1.1490

Abstract

This study aims to explain the patterns of construction of verbal expressions in the grammatical aspects of Indonesian Broca’s aphasia persons. People with Broca's aphasia have different verbal-grammatical expressions from normal speakers, so it is necessary to do research to create a pattern of the verbal expression. This pattern can help and facilitate the process of restoring language competence in Indonesian Broca’s aphasia persons, so the speech therapy process can be grounded in that pattern. This study was conducted using qualitative-descriptive methods with a case study approach. The research data were in the forms of verbal expressions. This study was conducted at the National Brain Center Hospital. Three (3) respondents were involved as the research subjects that met the inclusion criteria. The results showed that the overall types of verbal expressions in the grammatical aspect of people with Broca’s aphasia are (a) irregular repetition and elimination of affixation; (b) word categorization; (c) phrases with lect deficits and phrases with imperfect shapes; (d) removal and exchange of syntactic functions, removal of conjunctions. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menjelaskan pola-pola konstruksi ekspresi verbal aspek gramatikal dari penyandang afasia Broca berbahasa Indonesia. Para penyandang afasia broca memiliki ekspresi verbal-gramatikal yang berbeda dengan penutur normal, sehingga perlu untuk dilakukan penelitian untuk membuat pola atas ekspresi verbal tersebut. Pola tersebut pada masa nanti dapat membantu dan memudahkan proses pemulihan kompetensi berbahasa pada penyandang afasia broca berbahasa Indonesia, sehingga proses terapi wicara dapat berpijak pada pola tersebut. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan jenis kualitatif-deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Data penelitian ini berupa ekspresi verbal para penyandang afasia Broca berbahasa Indonesia. Secara keseluruhan penelitian ini mengambil lokasi di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional. Sebanyak 3 (tiga) orang informan dijadikan sampel penelitian yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tipe realisasi gramatikal pada luaran wicara pengandang afasia broca adalah (a) penghilangan dan pengulangan afiksasi secara tidak teratur, (b) kategorisasi kata, (c) frasa dengan defisit leksikal dan frasa dengan bentuk yang tidak sempurna, dan (d) penghilangan dan pertukaran fungsi sintaksis, penghilangan konjungsi.
Bahasa Ronggga sebagai Bahasa Vokalik I Nyoman Suparsa
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 11, No 2 (2022): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v11i2.5182

Abstract

This study aims to find out whether the Rongga language (hereinafter abbreviated as bR) is a vocal language, and the reasons why bR is said to be a vocal language. This study uses a qualitative method. Data was collected using observation methods, field linguistics, literature assisted by elicitation techniques, record keeping, and recording. Data were analyzed qualitatively and presented descriptively. Based on the results of this study it was found that bR is a vocal language. This is based on (1) segmentation the series of letters <mb>, <nd>, <ngg> constitute a sound segment: labial prenasal inhibition [ᵐb], alveolar prenasal inhibition [ⁿd], and velar prenasal inhibition [ᵑg] so that the word -words in bR like <mbalu> are pronounced as [ᵐbalu] 'storm', <ndate> [ⁿdate] 'create', and <nggare> [ᵑgare] 'gali', and are not pronounced as [ǝmbalu], [ǝndate], and [ǝngare]. (2) Based on the canonical pattern of syllables and words, bR has a canonical pattern that always ends in a vowel, and, (3) every word from the Indonesian language that ends in a consonant, both in the middle and final positions of syllables and words when absorbed in bR always conforms to the canonical pattern of bR syllables and words. For example, <pagar> [paɠa].'fence', <adat> [aɗa] 'custom', <easy> [gapa] 'easy'. Thus, the Rongga language is a vocalic language. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah bahasa Rongga (selanjutnya disingkat bR) merupakan bahasa vokalik, dan alasan bR mengapa dikatakan sebagai bahasa vokalik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Data dikumpulkan dengan menggunakan metode observasi, linguistik lapangan, kepustakaan dibantu teknik elisitasi, pencatatan, dan perekaman. Data dianalisis secara kualitatif dan disajikan secara deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian ini ditemukan bahwa ternyata bR merupakan bahasa vokalik. Hal ini didasarkan pada (1) secara segmentasi rangkaian huruf <mb>, <nd>, <ngg> merupakan sebuah segmen bunyi: hambat pranasal labial [ᵐb], hambat pranasal alveolar [ⁿd], dan hambat pranasal velar [ᵑg] sehingga kata-kata dalam bR seperti <mbalu> dilafalkan sebagai [ᵐbalu] ‘badai’, <ndate> [ⁿdate] ‘buat’, dan <nggare> [ᵑgare] ‘gali’, dan tidak dilafalkan sebagai [ǝmbalu], [ǝndate], dan [ǝnggare]. (2) Secara pola kanonik sukukata dan kata, bR mempunyai pola kanonik yang selalu berakhir dengan vokal, dan, (3) setiap kata dari bahasa Indonesia yang berakhir dengan konsonan, baik pada posisi tengah maupun akhir sukukata dan kata ketika terserap dalam bR selalu menyesuaikan diri dengan pola kanonik sukukata dan kata bR. Contohnya <pagar> [paɠa].’pagar’, <adat> [aɗa] ‘adat’, <gampang> [gapa] ‘gampang’. Dengan demikian, bahasa Rongga merupakan bahasa vokalik.
Finding Opportunity in a Crisis: The Analysis of Climate Change Representation on Teenager Activist’s Speeches Siti Awaliyah Mansyur; Wawan Gunawan
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 14, No 2 (2025): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v14i2.7607

Abstract

The study aims to reveal the ideology and representation of climate change in the speeches of youth activist Greta Thunberg using eco-critical discourse analysis from an ecolinguistic perspective. Data were collected from Thunberg's speeches and analysed through detailed discourse analysis techniques to uncover themes and ideological constructs. Results show that climate change is portrayed as a human-caused crisis requiring systemic and regulatory changes. The identified ideology, termed imaginative green radicalism, frames climate change as an opportunity for collective action rather than a burden. According to Stibbe's ecolinguistics’ criteria, this discourse qualifies as beneficial discourse and should be promoted widely in society. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap ideologi dan representasi perubahan iklim dalam pidato aktivis remaja Greta Thunberg dengan menggunakan analisis wacana eko-kritis dari perspektif ekolingusitik. Data dikumpulkan dari pidato Thunberg dan dianalisis menggunakan teknik analisis wacana untuk mengidentifikasi tema dan konstruksi ideologi. Hasil menunjukkan bahwa perubahan iklim direpresentasikan sebagai krisis yang disebabkan oleh tindakan manusia yang memerlukan perubahan sistem dan regulasi. Ideologi yang ditemukan, disebut sebagai imaginative green radicalism, memandang perubahan iklim sebagai kesempatan untuk bekerja sama secara kolektif, bukan sebagai beban. Berdasarkan kriteria ekolingusitik Stibbe, wacana ini dikategorikan sebagai wacana menguntungkan (beneficial discourse) yang perlu dipromosikan secara luas di masyarakat.
RETENSI DAN INOVASI FONOLOGIS PROTOBAHASA MELAYIK PADA BAHASA MELAYU TAMIANG Muhammad Toha
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 5, No 1 (2016): Jurnal Ranah
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v5i1.40

Abstract

This research was conducted diachronically. The object of this research is the PM phonemes which experienced retention and innovation in Melayu Tamiang language which observed the diachronic perspective. The data used in this research are 400 vocabularies. It was collected in Durian Village, Rantau District; Rantau Bintang Village, Bandar Pusaka District; Sekerak Kanan Village, Sekerak District and Bandar Khalifah Village, Tamiang Hulu District. The data was collected using listening and speaking method along with registering and recording techniques. The data were analysed using qualitative method. Diachronically, the result of the research showed that PM vowels, such as /*a/, /*ə/, /*i/ and /*u/ are still passed down by BMT until now. However, there are innovation occurred to *u < /U/ and *a < /ɔ/ vowels. Similarly, some PM consonants such as /*b/, /*d/,  /*g/, /*h/, /*j/, /*k/, /*l/, /*m/, /*n/, /*p/, /* r/, /*s/, /*t/, /*w/, /*y/, /*ñ/, /*ŋ/ and /*ˀ/ are still maintained by BMT, while the consonant phonemes which experienced innovation are *h < Ø/ , *k <  /ˀ/, *l < /ˀ/, *r < /R/ , *s < /h/ and *t < /ˀ/.  ABSTRAKAbstrakPenelitian Protobahasa Melayik ini dilakukan secara diakronis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan fonem protobahasa Melayik (PM) yang mengalami retensi dan inovasi pada bahasa Melayu Tamiang (BMT) ditinjau dari persepektif diakronis. Data yang digunakan sebanyak 400 kosakata. Pengumpulan data dilakukan di Kampung Durian, Kec. Rantau, Desa Rantau Bintang, Kec. Bandar Pusaka, Desa Sekerak Kanan, Kec. Sekerak, dan Desa Bandar Khalifah, Kec. Tamiang Hulu. Pengumpulan data dilakukan dengan metode simak dan cakap dengan teknik catat dan rekam. Data dianalisis dengan menerapkan metode kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fonem vokal PM seperti /*a/, /*ə/, /*i/, dan /*u/ masih diwariskan oleh BMT hingga kini. Namun inovasi terjadi pada vokal *u < /U/ dan *a < /ɔ/. Inovasi terjadi dengan sejumlah fonem konsonan PM, seperti /*b/, /*d/, /*g/, /*h/, /*j/, /*k/, /*l/, /*m/, /*n/, /*p/, /* r/, /*s/, /*t/, /*w/, /*y/, /*ñ/, /*ŋ/, dan /*ˀ/ masih dipertahankan oleh BMT sampai saat ini. Fonem konsonan yang mengalami inovasi adalah * h < Ø/ , *k < /ˀ/, *l < /ˀ/, *r < /R/ , *s < /h/ dan *t < /ˀ/.
Kesalahan Pemahaman dan Pengaplikasian Kalimat Pasif dan Kalimat Benefaktif Bahasa Jepang Sri Iriantini; Vina Febriani Setiawan
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 10, No 1 (2021): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v10i1.1736

Abstract

Passive sentence is one of the universal language features that all languages have. In spite of its universality, every language have its own specific form of passive sentences. Japanese and Indonesian, for specific case, have their own rules regarding passive sentence constructions. Japanese passive constructions, are marked with the use of ‘jodoushi’ (passive suffixes reru/rareru) which inflectionally embedded to the roots (core verbs). Meanwhile, Indonesian passive sentences uses affixes di-, ter-, and ke-an. However, there is an interesting construction in Japanese benefactives,  which semantically may convey passive meaning. Thus, they may appear as Indonesian passive sentences when being translated. This often leads Indonesian Japanese learners to misunderstand and misapply Japanese passive sentences. This study discusses errors in understanding and applying Japanese passive sentences produced by the 4th and 6th semesters of Japanese students of Universitas Kristen Maranatha Bandung. The study was conducted by giving passive and benefactive sentences to the students and asking them to choose which correct construction to use.  AbstrakBentuk kalimat pasif merupakan salah satu ciri universal yang dimiliki oleh bahasa yang ada. Oleh karena itu, semua bahasa mempunyai bentuk kalimat pasif.Bahasa Jepang dan bahasa Indonesia pun memiliki kalimat pasif. Bentuk kalimat pasif bahasa Jepang ditandai dengan penggunaan jodoushi (sufiks penanda bentuk pasif) reru/rareru yang secara inflektif melekat pada verba inti. Sementara itu, bentuk kalimat pasif bahasa Indonesia menggunakan afiks di-, ter-, dan ke-an. Namun, ada satu hal yang menarik.Di dalam bahasa Jepang terdapat struktur benefaktif yang secara semantis bermakna pasif sehingga jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi kalimat pasif. Hal itulah yang membuat pemelajar dari Indonesia sering salah memahami dan mengaplikasikan kalimat pasif dalam bahasa Jepang.Dalam penelitian ini dibahas kesalahan pemelajar Indonesia semester 4 dan 6 di Universitas Kristen Maranatha dalam memahami dan mengaplikasikan kalimat pasif bahasa Jepang. Penelitian dilakukan dengan cara memberikan soal kalimat pasif dan kalimat benefaktif, lalu meminta mahasiswa memilih bentuk pasif ataukah benefaktif yang tepat digunakan

Page 6 of 39 | Total Record : 386