cover
Contact Name
Winci Firdaus
Contact Email
wincifirdaus1@gmail.com
Phone
+6288802310216
Journal Mail Official
jurnalranahbahasa@gmail.com
Editorial Address
Jalan Daksinapati Barat IV
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
ISSN : 23388528     EISSN : 25798111     DOI : https://doi.org/10.26499/rnh
Core Subject :
https://ojs.badanbahasa.kemendikdasmen.go.id/jurnal/index.php/jurnal_ranah/about/editorialPolicies#focusAndScope
Arjuna Subject : -
Articles 386 Documents
Korespondensi Fonemis dalam Bahasa Sunda Dialek Bandung, Ciamis, dan Karawang Deni Abdul Ghoni; Nunuy Nurjanah; Retty Isnendes
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 12, No 2 (2023): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v12i2.4663

Abstract

The purpose of this research is to see the similarity of Bandung, Karawang, and Ciamis dialects. The Bandung dialect was chosen as a lulugu or standard language, the Karawang dialect as a region that may have been influenced by the Betawi Malay language, and the Ciamis dialect as one of the historical centers of the Sunda kingdom during the Galuh period in 1371-1475 AD. The method used in this research is descriptive qualitative method with the data collection technique used is phenomenological document technique. Document techniques sourced from notes, books, and research data that has been done to strengthen interview data. While the phenomenological technique in question is the inventory of glosses that are determined in reality in the field. So that 6 glosses are obtained to be studied, and become 6 sets of phonemic correspondence from the 3 dialects that have been selected. The analysis shows that there are 9 phonemic correspondences with details: /l~h/, /u~a/, /s~Ø/, /a~Ø/, /b~w/, /g~k/, /au~ɔ/, /k~Ø/, /r~Ø/. From the 9 correspondences, 3 language groups were formed, namely DB, DK+DC as group 1; DB, DC+DK as group 2; and DK, DC+DB as group 3. AbstrakTujuan penelitian ini adalah untuk melihat kelompok dialek Bandung, Karawang, dan Ciamis. Dipilihnya dialek Bandung sebagai bahasa lulugu atau standar, dialek Karawang sebagai wilayah yang kemungkinan terpengaruhi oleh bahasa Melayu Betawi, dan dialek Ciamis sebagai salah satu  pusat sejarah kerajaan Sunda pada masa Galuh tahun 1371–1475 M. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik dokumen fenomenologis. Teknik dokumen yang bersumber dari catatan, buku, serta data penelitian yang pernah dilakukan untuk menguatkan data wawancara. Sedangkan teknik fenomenologis yang dimaksud adalah penginventarisasian glos yang ditentukan secara nyata di lapangan. Sehingga didapatkan 6 glos yang akan diteliti, dan menjadi 6 perangkat korespondensi fonemis dari 3 dialek yang telah dipilih. Hasil analisis menunjukkan adanya 9 korespondensi fonemis dengan rincian: /l~h/, /u~a/, /s~Ø/, /a~Ø/, /b~w/, /g~k/, /au~ɔ/, /k~Ø/, /r~Ø/. Dari 9 korespondensi tersebut, terbentuk 3 kelompok bahasa, yaitu DB, DK+DC sebagai kelompok 1; DB, DC+DK sebagai kelompok 2; dan DK, DC+DB sebagai kelompok 3.
ALIH KODE DAN CAMPUR KODE TUTURAN TUKUL ARWANA PADA ACARA “BUKAN EMPAT MATA Vita Nirmala
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 2, No 2 (2013): Jurnal Ranah
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v2i2.232

Abstract

Makalah ini membahas tentang alih kode dan campur kode yang dituturkan oleh Tukul Arwana dalam acara “Bukan Empat Mata”. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif yang difokuskan pada alih kode dan campur kode yang dituturkan oleh Tukul Arwana dan penyebab alih kode dan campur kode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa campur kode yang dituturkan oleh Tukul Arwana dalam bentuk kata dan frasa, sedangkan alih kode dalam bentuk kalimat. Alih kode dan campur kode digunakan dalam bahasa Inggris dan Jawa. Alasan mengapa Tukul Arwana menggunakan alih kode dan campur kode adalah untuk menciptakan suasana humor, santai, dan dalam situasi tidak formal.
Language Diversity in Syair Nasihat: An Alternative Effort to Strengthen National Identity through Literature Learning Asep Yudha Wirajaya; Bani Sudardi; Istadiyantha Istadiyantha; Warto Warto
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 10, No 2 (2021): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v10i2.4052

Abstract

Syair Nasihat (hereinafter abbreviated as SN) is an old literary work written in Arabic letters and utilizing the diversity of languages that exist in the archipelago. Therefore, a study of the SN manuscript needs to be carried out comprehensively and holistically so that the diversity of languages used to instill the values of local wisdom can be used as a source of inspiration for literary learning in the future. The method used in this study is the text editing method, namely the critical edition method. The use of this method is expected to provide good and correct SN text edits. The text study method used is a literary research method, especially semiotic studies. Thus, the use of language and its symbols contained in the SN text can be fully disclosed so that the results of the study can be useful for the world of education in welcoming the Industrial Revolution 4.0 and Society 5.0. AbstrakSyair Nasihat (selanjutnya disingkat SN) merupakan karya sastra lama yang ditulis dengan huruf Arab dan memanfaatkan keragaman bahasa yang ada di Nusantara. Oleh karena itu, kajian terhadap naskah SN perlu dilakukan secara komprehensif dan holistik sehingga keragaman bahasa yang dimanfaatkan untuk menanamkan nilai-nilai kearifan lokal tersebut dapat dijadikan sumber inspirasi bagi pembelajaran sastra di masa yang akan datang. Adapun metode yang digunakan dalam kajian ini adalah metode penyuntingan teks, yaitu metode edisi kritis. Penggunaan metode ini diharapkan dapat menghadirkan suntingan teks SN yang baik dan benar. Adapun metode pengkajian teks yang digunakan adalah metode penelitian sastra, khususnya kajian semiotik. Dengan demikian, penggunaan bahasa beserta simbol-simbolnya yang terdapat dalam teks SN dapat diungkap secara tuntas sehingga hasil kajiannya dapat bermanfaat bagi dunia pendidikan dalam menyambut Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0.
Struktur Diksi dalam Penamaan Rumah Makan Pedas di Malang Raya Cicik Tri Jayanti
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 13, No 1 (2024): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v13i1.6034

Abstract

Potential consumers' interest in food is not only through taste but also the uniqueness of the place of origin or restaurant. One form of uniqueness is the naming of the restaurant. The use of word choices (diction) in naming restaurants varies, especially the use of spicy elements. In 2022, 246 restaurants in Malang will label place names and dishes with spicy taglines and their derivatives. Therefore, this research aims to analyze (1) the general structure of naming spicy restaurants in Malang Raya; (2) the specific structure of naming spicy restaurants in Malang Raya; and (3) spicy associations. Qualitative descriptions were used as a design framework in this research. The research data is in linguistic units in the names of spicy restaurants in Greater Malang. Data is in the form of words and sentences. There are seven procedures carried out for this research, including providing core data with five analysis steps: direct observation, textualization, developing analysis columns, segmentation, thematization, propositionalization, and data reduction stages. The following five steps include the process of (1) elaborating, (2) interpreting, (3) summarizing, (4) concluding, and (5) drawing suggestions. Based on these steps, the results were found: (1) the general structure of naming spicy restaurants in Malang, the most common and widely used, is the cooking element (essential ingredients) and the spicy element or spicy identity; (2) the unique structure for naming spicy restaurants in Malang Raya consists of product name, mention of restaurant identity, cuisine (essential ingredients), place (address), processing method, spicy elements, owner's name, spicy identity and additional information; (3) The choice of words (diction) in the spicy identity element uses references, namely creatures, body elements, humans, animals and objects, traits, verbs and circumstances or adverbs. AbstrakKetertarikan calon konsumen terhadap makanan tidak hanya melalui rasa, namun juga keunikan dari tempat asal atau rumah makan tersebut. Salah satu bentuk keunikan tersebut adalah penamaan rumah makan. Penggunaan pilihan kata (diksi) dalam penamaan rumah makan memiliki ragam yang bervariasi, terlebih pada penggunaan unsur pedas dalam penamaan rumah makan. Tahun 2022, tercatat 246 rumah makan di kota Malang yang melabeli nama tempat dan olahan dengan tagline pedas dan turunannya. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan menganalisis (1) struktur umum penamaan rumah makan pedas di Malang Raya; (2) struktur khusus penamaan rumah makan pedas di Malang Raya; dan (3) asosiasi pedas. Deskripsi kualitatif digunakan sebagai kerangka desain dalam riset ini.  Data penelitian berupa satuan kebahasaan pada nama-nama rumah makan pedas di Malang raya. Data berupa kata dan kalimat. Terdapat tujuh prosedur yang dilakukan untuk penelitian ini meliputi penyediaan data inti dengan lima langkah analisisnya, yakni pengamatan langsung, tekstualisasi, mengembangkan kolom analisis, memberikan segmentasi, tematisasi, proposisionalisasi, serta tahapan reduksi data. Lima Langkah berikutnya mencakup proses (1) penguaraian, (2) penafsiran, (3) perangkuman, (4) penyimpulan, dan (5) penarikan saran. Berdasarkan langkah-langkah tersebut, ditemukan hasil: (1) struktur umum penamaan rumah makan pedas di Malang raya paling umum dan banyak digunakan adalah unsur masakan (bahan dasar) dan unsur pedas atau asosiasi pedas; (2) struktur khusus penamaan rumah makan pedas di Malang Raya terdiri dari nama produk, penyebutan identitas rumah makan, masakan (bahan dasar), tempat (alamat), cara mengolah, unsur pedas, nama pemilik, asosiasi pedas dan keterangan tambahan; (3) Pemilihan kata (diksi) di dalam unsur asosiasi pedas menggunakan acuan, yaitu Makhluk, unsur tubuh, manusia, hewan,  dan benda, sifat, kata kerja, dan keadaan atau adverbia.   
Konstruksi Pemberitaan Isu Terorisme pada Media Massa: Tinjauan Imagologi dan Linguistik Kritis dan Kontribusinya dalam Pembentukan Karakter Siswa SMA Siti Maryam
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 7, No 1 (2018): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v7i1.580

Abstract

The issue of terrorism is one of the issues that have become public consumption for free at some time. Such issues have been dispersed in such a way, that berkitan with the issue of terrorism to global terrorism issues nationwide. It has started to have an impact on the formation of the mindset and character of the community, one of them against students at the level of theupper menangah school (HIGH SCHOOL). The character and mindset was formed and acquired through the contents of mass media news coverage of related issues of terrorism by means of construction in such a way by each of the mass media (especially print media) with differing goals and methods. This becomes something interesting when further related how the form of the construction of the mass media (print) contemporary form of terrorism through the preview imagologi and critical linguistics has deemed contributions towards the formation of character of the community, particularly high school students. In this case, the collection of data is carried out by an examination of the literature and advanced observation then analyzed using the theory of imagologi and critical Linguistics, then research results presented in narrative form (informal methods).Research results are obtained, namely the occurrence of construction news coverage by various mass media print of terrorism in Indonesia and in the world. The construction was done through analogy, transfer of facts, and discrimination against particular groups are considered a trigger action terrorism AbstrakIsu terorisme merupakan salah satu isu yang telah menjadi konsumsi umum secara bebas pada beberapa waktu terakhir. Isu tersebut telah tersebar sedemikian rupa, baik yang berkitan dengan isu terorisme nasional hingga isu terorisme global. Hal tersebut pun telah mulai berdampakpada pembentukan pola pikir dan karakter masyarakat, yang salah satunya terhadap siswa pada tingkat sekolah menangah atas (SMA). Pola pikir dan karakter tersebut dibentuk dan diperoleh melalui isi pemberitaan media massa terkait isu terorisme dengan cara konstruksi yang sedemikian rupa pula oleh masing-masing media massa (khususnya media cetak) dengan metode dan tujuan yang berbeda-beda. Hal inimenjadi sesuatu yang menarik untuk ditelaah lebih jauh terkait dengan bagaimana bentuk konstruksi media massa (cetak) terhadap isu kontemporer berupa terorisme melalui tinjauan imagologi dan linguistik kritis yang dianggapmemiliki kontribusi terhadap pembentukan karakter masyarakat, khususnya siswa sekolah menengah atas. Dalam hal ini, pengumpulan data dilakukan dengan telaah pustaka dan observasi lanjutan yang kemudian dianalisis menggunakan teori imagologi dan linguistik kritis, kemudian hasil penelitian disajikan dalam bentuk naratif (metode informal).Hasilpenelitian yang diperoleh yaitu terjadinya konstruksi pemberitaan oleh berbagai media massa cetak terhadap isu terorisme, baikdi Indonesia maupun di dunia. Konstruksi tersebut dilakukan melalui analogi, pengalihan fakta, dan diskriminasi terhadap golongan tertentu yang dianggap sebagai pemicu aksi terorisme.
Gim Edukasi Berbasis Android pada Mata Kuliah Bahasa Indonesia Rianto Rianto
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 11, No 1 (2022): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v11i1.4667

Abstract

The use of android-based learning media when distance learning has not been optimized so that boredom arises in the learning process carried out by students, especially learning about the theory of writing scientific papers in Indonesian language courses. So it is necessary to design an innovative learning media so that students are motivated to learn better during distance learning. This study aims to describe the design process for making the Edu Karim game or short for an android-based scientific work educational game. The research method used in this research is Research and Development (R & D) about the analysis, design, development, implementation, and evaluation or ADDIE stages. The data analysis technique used in this research is quantitative-descriptive of the average score of the validator of learning media experts and student responses to the Edu Karim game. The results of the study show that educational games for Indonesian language courses are very suitable to be used in learning to write Indonesian language scientific papers in universities. AbstrakPenggunaan media pembelajaran berbasis android saat pembelajaran jarak jauh belum dioptimalkan sehingga timbul rasa bosan dalam proses pembelajaran yang dilakukan oleh mahasiswa khususnya belajar tentang teori menulis karya ilmiah pada mata kuliah bahasa Indonesia. Maka perlu dirancang sebuah media pembelajaran yang inovatif agar mahasiswa termotivasi untuk belajar lebih baik saat pembelajaran jarak jauh. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses desain pembuatan gim Edu Karim atau kependekan dari gim edukasi karya ilmiah berbasis android. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Research and Development (R & D) dengan mengacu pada tahap analisis, perancangan, pengembangan, implementasi, dan evaluasi atau ADDIE. Teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah kuantitatif deskriptif dari skor rata-rata validator ahli media pembelajaran serta respons mahasiswa terhadap gim Edu Karim. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gim edukasi karya ilmiah mata kuliah bahasa Indonesia sangat layak digunakan dalam pembelajaran menulis karya ilmiah mata kuliah bahasa Indonesia di perguruan tinggi.
Taraf Kognat Bahasa Geser dan Bahasa Melayu Ambon Dewi Mayangsari; Hendro Kumoro; Nurdiana Kusumawicitra; Aling Madani
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 14, No 1 (2025): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v14i1.6539

Abstract

Geser and Ambonese Malay languages belong to the Austronesian language family and are spoken by communities in the Maluku region of Indonesia. This study aims to determine the cognate levels of the Geser and Ambonese Malay languages through lexicostatistical and glottochronological calculations. The data used in this research comprises both primary and secondary sources. Primary data were obtained through questionnaires distributed to informants, while secondary data were derived from the Ambonese Malay dictionary. Data collection was conducted using the observation method with a non-participatory observation technique. The data analysis employed a lexicostatistical method and was presented in both formal and informal formats. The findings revealed five phoneme correspondences, namely /f~p/, /w~b/, /n~ŋ/, /u~o/, and /h~ø/. The kinship status indicates a 37% similarity percentage, which falls into the category of a family language. Furthermore, glottochronological analysis shows that Geser and Ambonese Malay were a single language 2,584–2,000 years ago and began diverging from their parent language between 561 BCE and 23 BCE (calculated from 2023). Abstrak Bahasa Geser dan bahasa Melayu Ambon termasuk rumpun bahasa Austronesia yang dituturkan oleh masyarakat di wilayah Maluku, Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan taraf kognat bahasa Geser dan bahasa Melayu Ambon berdasarkan perhitungan leksikostatistik dan glotokronologi. Data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui kuesioner yang dibagikan kepada para informan. Data sekunder bersumber pada kamus bahasa Melayu Ambon. Metode pengumpulan data dilakukan dengan metode simak melalui teknik simak bebas libat cakap. Analisis data yang digunakan adalah metode leksikostatistik dan disajikan secara formal maupun informal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan lima korespondensi bunyi antara lain /f~p/, /w~b/, /n~ŋ/, /u~o/, dan /h~ø/. Adapun status kekerabatan menunjukkan bahwa persentase kesamaan sebesar 37% yang termasuk dalam kategori keluarga bahasa (family language). Dari hasil analisis glotokronologi pun terlihat bahwa bahasa Geser dan bahasa Melayu ambon ini merupakan bahasa tunggal 2.584–2.000 tahun yang lalu serta bahasa Geser dan bahasa Melayu Ambon mulai berpisah dari bahasa induknya antara 561 SM – 23 SM (dihitung dari tahun 2023).
Motif Kawung Pada Batik Tradisional Yogyakarta: Kajian Semantik Inkuisitif Hermandra Hermandra
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 11, No 2 (2022): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v11i2.5219

Abstract

This study uses an inquisitive semantic approach as the main analysis. The data and sources of data in this study were obtained through interviews with sources, namely the Javanese people, especially the Yogyakarta area who lived in Siak Regency with an age range of 40-60 years. The resource persons were selected only in this age range because they have followed the journey of batik kawung from the area of origin with the manual manufacturing process until now in the transmigration area and its manufacture using a printing machine. Two different circumstances and two different processes certainly give birth to different points of view which are very interesting to study. Data collection techniques are by interviewing, taking notes, and analysis. The analysis process uses 3 stages, namely script semantics to find general meaning or a dictionary, then cognitive semantic analysis stage to understand meaning based on its relationship with the user community, and finally inquisitive semantics to find reasons for using kawung motifs in batik with high-level thinking and a combination various discipline. The results of the study explain that the kawung batik motif was chosen because it reflects on the original tree, namely sugar palm, all of which are very useful for daily life. The community hopes that the use of kawung batik cloth will be useful for many people and the surrounding environment. The kawung motif symbolizes the value of holiness, perfection, and purity for the Javanese people. This can be seen from the shape of the kawung pattern which is very neatly described in the form of four kawung seeds arranged around each other. AbstrakPenelitian ini menggunakan pendekatan semantik inkuisitif sebagai analisis utamanya. Data dan sumber data pada penelitian diperoleh melalui wawancara narasumber yaitu masyarakat Jawa khususnya daerah Yogyakarta yang tinggal di Kabupaten Siak dengan rentang usia 40—60 tahun. Narasumber dipilih hanya pada rentang usia tersebut karena mereka telah mengikuti perjalanan batik kawung mulai dari daerah asal dengan proses pembuatannya yang manual hingga sekarang di daerah transmigrasi dan pembuatannya yang sudah menggunakan mesin cetak. Dua keadaan yang berbeda dan juga dua proses berbeda tentu melahirkan sudut pandang yang berbeda yang sangat menarik untuk diteliti. Teknik pengumpulan data yaitu dengan wawancara, catat, dan juga analisis. Proses analisis menggunakan 3 tahap yaitu semantik skrip untuk menemukan makna secara umum atau kamus, kemudian tahap analisis semantik kognitif untuk memahami makna berdasarkan hubungannya dengan masyarakat pengguna, dan yang terakhir semantik inkuisitif untuk menemukan alasan penggunaan motif kawung dalam batik dengan pemikiran aras tinggi dan juga gabungan berbagai disiplin ilmu. Hasil penelitian menjelaskan bahwa motif batik kawung dipilih karena bercermin dari pohon asalnya yaitu aren yang ke semua bagiannya sangat berguna bagi kehidupan sehari-hari. Masyarakat berharap bahwa pengguna kain batik motif kawung akan berguna bagi orang banyak dan juga lingkungan sekitar. Motif kawung melambangkan nilai kesucian, kesempurnaan dan juga kemurnian bagi masyarakat Jawa. Hal ini dapat dilihat dari bentuk pola kawung yang digambarkan dengan sangat rapi berbentuk empat buah biji kawung yang disusun saling mengelilingi.
Penggunaan Terminologi dan Komunikasi Kesehatan dalam Pemberitaan #HIVAIDS Xavery Alberto Lartutul; Deddy Mulyana; Purwanti Hadisiwi
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 14, No 2 (2025): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v14i2.8377

Abstract

The issue of HIV and AIDS is not only a health concern but also a social one, heavily influenced by how the media communicates it to the public. This study aims to examine the use of terminology and health communication practices in news coverage about HIV and people living with HIV on the online platform harianjogja.com during the period of February 2024 to June 2025. The research employs a qualitative approach using Norman Fairclough’s Critical Discourse Analysis model. Data were collected through documentation of news texts published within the specified period, then analyzed by examining the three dimensions of Fairclough’s framework: text, discourse practice, and social practice. The findings reveal that the news coverage remains dominated by terminology inconsistent with the UNAIDS Terminology Guidelines 2015, such as “AIDS sufferers” and “deadly virus.” The language used in the news texts tends to frame people living with HIV as objects of suffering or sources of moral threat. Editorial practices are frequently driven by considerations of audience appeal and clickbait dynamics, which in turn undermine empathetic perspectives and a human rights oriented framework.Such reporting potentially reinforces stigma, weakens public empathy, and hinders progress toward achieving the global Three Zero HIV 2030 targets. This study underscores the urgency of transforming health journalism toward a more humanistic, inclusive, and equitable approach through cross-sectoral collaboration, including with affected communities. Abstrak Isu HIV dan AIDS tidak hanya menjadi permasalahan kesehatan, tetapi juga isu sosial yang sangat dipengaruhi oleh cara media mengkomunikasikannya kepada publik. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penggunaan terminologi dan praktik komunikasi kesehatan dalam pemberitaan mengenai HIV dan orang yang hidup dengan HIV di media daring harianjogja.com selama periode Februari 2024 hingga Juni 2025. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode Analisis Wacana Kritis model Norman Fairclough. Data dikumpulkan melalui dokumentasi teks berita yang dipublikasi pada periode tersebut, kemudian dianalisis dengan menelaah tiga dimensi analisis Fairclough: teks, praktik wacana, dan praktik sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberitaan masih didominasi oleh istilah yang tidak sesuai dengan pedoman UNAIDS Terminology Guidelines 2015, seperti penderita AIDS dan virus mematikan. Bahasa yang digunakan dalam teks berita cenderung membingkai orang yang hidup dengan HIV sebagai objek penderitaan atau sumber ancaman moral. Praktik redaksional sering dibentuk oleh orientasi pada daya tarik publik dan logika klikbait, sehingga mengorbankan perspektif empatik dan pendekatan berbasis hak asasi manusia. Pemberitaan semacam ini berpotensi memperkuat stigma, melemahkan empati publik dan menghambat pencapaian target global Three Zero HIV 2030. Penelitian ini menegaskan urgensi transformasi jurnalisme kesehatan menuju pendekatan yang lebih humanistik, inklusif, dan adil melalui kolaborasi lintas sektor, termasuk komunitas terdampak.
OLAH KATA DALAM MEDIA LUAR RUANG SEBAGAI INDUSTRI KREATIF Wati Kurniawati
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 4, No 2 (2015): Jurnal Ranah
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v4i2.31

Abstract

Pada era globalisasi dan memasuki pasar terbuka pada tingkat Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) penggunaan kata dan istilah asing tetap marak sebagai industri kreatif. Tatanan kehidupan dunia yang baru tersebut telah mengubah pola pikir dan perilaku masyarakat dalam berbagai sendi kehidupan. Masalah dalam penelitian ini adalah apakah olah kata atau penggunaan kata dan istilah asing pada media luar ruang sudah menerapkan kaidah yang diatur Pusat Bahasa? Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan penggunaan kata dan istilah asing dalam media luar ruang. Metode dalam penelitian ini adalah metode deskriptif yang ditunjang dengan teknik pengumpulan data dan analisis. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan merekam/memfoto/mencatat kata dan istilah asing yang digunakan pada media luar ruang, yaitu dari papan nama, papan petunjuk, papan iklan, kain rentang, dan baliho yang berjumlah 71 buah. Data diklasifikasi berdasarkan bentuk kata, frasa, klausa, kalimat, dan wacana di dalam sebuah konstruksi bahasa. Selanjutnya data ditabulasikan dan dianalisis. Teori yang diacu adalah Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (2003), A Grammar of Contemporary English (1972), dan Pengindonesiaan Kata dan Ungkapan Asing (2006). Temuan dalam penelitian ini mendeskripsikan penggunaan kata dan istilah asing pada media luar ruang, yaitu pada papan nama yang sesuai dengan kaidah 2 dan kaidah 5 berjumlah 33 buah (46,4%) dan pada papan iklan 7 buah (9,9%). Sementara itu, penggunaan kata dan istilah asing pada papan nama yang tidak sesuai dengan kaidah 1, 2, 3, 4 berjumlah 29 buah (40,6%) dan pada kain rentang 2 buah (2,7%). Data yang sesuai dengan kaidah berjumlah 40 buah (56,3%). Data yang tidak sesuai dengan kaidah berjumlah 31 buah (43,7%). Dengan demikian, frekuensi data yang sesuai dengan kaidah lebih dominan dibandingkan dengan data yang tidak sesuai dengan kaidah.

Page 7 of 39 | Total Record : 386