cover
Contact Name
Winci Firdaus
Contact Email
wincifirdaus1@gmail.com
Phone
+6288802310216
Journal Mail Official
jurnalranahbahasa@gmail.com
Editorial Address
Jalan Daksinapati Barat IV
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
ISSN : 23388528     EISSN : 25798111     DOI : https://doi.org/10.26499/rnh
Core Subject :
https://ojs.badanbahasa.kemendikdasmen.go.id/jurnal/index.php/jurnal_ranah/about/editorialPolicies#focusAndScope
Arjuna Subject : -
Articles 386 Documents
Pemanfaatan Teknologi untuk Pengajaran Bahasa Indonesia di Tengah Pandemi Covid-19 Syihaabul Hudaa; Ahmad Bahtiar; NFN Nuryani
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 9, No 2 (2020): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v9i2.2361

Abstract

Pandemic that struck Indonesia made learning activities at all levels of education unable to function as usual. This outbreak makes language learning activities at the university level using a variety of available technologies. However, teachers and learners have their own challenges, one of which is teaching techniques and the use of existing media. The purpose of writing this article is to convey the effectiveness of Indonesian language learning by using various kinds of available technology. This research uses direct action, by interacting with students through the Zoom, Whatsapp, and Google Classroom applications. Data in this study were collected using Google Class applications and Google Docs for collection. Then, the data are analyzed by the researchers to be presented in the discussion. The discussion of the material was carried out by researchers using the Zoom application. Based on research conducted by researchers concluded that two-way communication in language learning is needed. Students still need an interaction process, meaning that it is not enough to provide questions and answers in the Google Class column. The discussion at Zoom makes students able to work on the questions given by the lecturers well. The first cycle obtained unsatisfactory results, where students read the material and work on the questions without getting discussion through the Zoom application. However, the second cycle shows significant results where students have already gotten discussion in the Zoom application. AbstrakPandemi yang melanda Indonesia membuat kegiatan pembelajaran di semua tingkat pendidikan tidak bisa berjalan seperti biasanya. Wabah ini membuat kegiatan pembelajaran bahasa di tingkat universitas menggunakan pelbagai macam teknologi yang ada. Akan tetapi, pengajar dan pemelajar memiliki tantangannya tersendiri, salah satunya teknik pengajaran dan pemanfaatan media yang ada. Tujuan penulisan artikel ini untuk menyampaikan keefektivitasan pembelajaran bahasa Indonesia dengan menggunakan pelbagai macam teknologi yang ada. Penelitian ini menggunakan tindakan langsung, dengan melakukan interaksi kepada pemelajar melalui aplikasi Zoom, Whatsapp, dan Google Kelas. Data dalam penelitian ini dikumpulkan menggunakan aplikasi Google Kelas dan Google Docs untuk pengumpulannya. Kemudian, data tersebut dianalisis hasilnya oleh peneliti untuk disampaikan di dalam pembahasan. Pembahasan materi dilakukan oleh peneliti dengan menggunakan aplikasi Zoom. Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan oleh peneliti disimpulkan bahwa komunikasi dua arah dalam pembelajaran bahasa sangatlah diperlukan. Mahasiswa masih memerlukan proses interaksi, artinya tidak cukup dengan pemberian soal dan jawaban di kolom Google Kelas. Pembahasan di Zoom membuat mahasiswa mampu mengerjakan soal yang diberikan oleh dosen pengampu dengan baik. Siklus pertama didapatkan hasil yang kurang memuaskan, di mana mahasiswa membaca materi dan mengerjakan soal tanpa mendapatkan pembahasan melalui aplikasi Zoom. Akan tetapi, siklus kedua menunjukkan hasil yang signifikan yaitu mahasiswa sudah mendapatkan pembahasan di dalam aplikasi Zoom.
Analisis Bentuk Pemakaian Prinsip Kesantunan pada Tuturan Direktif dalam Interaksi Mahasiswa Indra Nugrahayu Taufik; Diyas Puspandari; Reka Yuda Mahardika
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 12, No 1 (2023): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v12i1.6139

Abstract

This study discussed directive speech (direct speech) in student conversations in the form of suggestions, requests, and orders. Direct speech is classified as productive in daily activities, so it is possible to find the use of maxims that are violated by students. This study also describes the form of politeness usage and the use of politeness principle maxims in students' direct speech. To describe and explain this, a qualitative descriptive research method was used, so that the forms and violations of maxims in the speech practices of the students were clearly explained. The results of the study show that the interaction between students in using directive utterances shows the use of the principle of the maxim of discretion; generosity/generosity; award; simplicity/humility; agreement; and sympathy. All the principles of politeness arise because of a combination of educational patterns in the family, community, and campus environment. AbstrakDalam penelitian ini dibahas terkait tuturan direktif (tuturan langsung) pada percakapan mahasiswa berupa saran, permintaan, dan perintah. Tuturan langsung tergolong produktif dalam aktivitas sehari-hari, sehingga memungkinkan ditemukan penggunaan maksim yang dilanggar oleh mahasiswa. Dalam penelitian ini juga dideskripsikan bentuk pemakaian kesantunan serta penggunaan maksim prinsip kesantunan pada tuturan langsung para mahasiswa. Untuk mendeskripsikan dan menjelaskan hal tersebut digunakan metode penelitian deskriptif kualitatif, sehingga dipaparkan dengan jelas bentuk dan pelanggaran maksim dalam praktik tuturan para mahasiswa. Hasil penelitian memperlihatkan interaksi antar-mahasiswa dalam  menggunakan tuturan direktif menunjukkan pemakaian prinsip maksim kebijaksanaan; kedermawanan/kemurahan hati; penghargaan; kesederhanaan/kerendahan hati; permufakatan; dan kesimpatian. Semua prinsip kesantunan muncul karena gabungan pola pendidikan di keluarga, masyarakat, dan lingkungan kampus. 
Digital Interpreting Module Development for Consecutive and Simultaneous Interpreting: A Needs Analysis Putu Ayu Prabawati Sudana; Made Aryawan Adijaya; Rima Andriani Sari; Ni Putu Astiti Pratiwi; Putu Adi Krisna Juniarta
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 15, No 1 (2026): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v15i1.8547

Abstract

The article discusses a needs analysis for developing a digital interpreting module, with an emphasis on consecutive and simultaneous interpreting in higher education. This study employed a qualitative survey design in which questionnaires and semi-structured interviews were used to collect data from six professional interpreters. Key competencies, existing learning gaps, and digital learning needs were identified using descriptive and thematic analyses. The findings show that interpreting practice is commonly used in educational and tourism settings, such as workshops and field trips, where contextualized learning resources are required. The most crucial skill was the understanding of the tone, intent, and accents. Then, it was followed by stress management and cultural awareness. Another interesting aspect discussed in the article is the increasing use of web-based interpreting tools like Zoom, with minimal use of AI and LMS simulations. Abstrak Artikel ini membahas analisis kebutuhan untuk mengembangkan modul penerjemahan digital, dengan penekanan pada penerjemahan konsekutif dan simultan di lingkungan pendidikan tinggi. Penelitian ini menggunakan desain survei kualitatif, di mana kuesioner dan wawancara semi-terstruktur digunakan untuk mengumpulkan data dari enam juru bahasa profesional. Kompetensi kunci, kesenjangan pembelajaran yang ada, dan kebutuhan pembelajaran digital diidentifikasi melalui analisis deskriptif dan tematik. Temuan menunjukkan bahwa praktik penjurubahasaan umumnya digunakan dalam lingkungan pendidikan dan pariwisata, seperti lokakarya dan kunjungan lapangan, di mana sumber belajar yang kontekstual diperlukan. Keterampilan yang paling penting adalah pemahaman terhadap nada, niat, dan aksen. Selanjutnya, diikuti oleh manajemen stres dan kesadaran budaya. Aspek menarik lainnya yang dibahas dalam artikel ini adalah penggunaan yang semakin meningkat dari alat interpretasi berbasis web seperti Zoom, dengan penggunaan minimal AI dan simulasi LMS.
Metafora Kata Mata dalam Bahasa Melayu Riau: Analisis Semantik Kognitif Hermandra Hermandra
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 10, No 2 (2021): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v10i2.2243

Abstract

This study aims to examine the metaphor of the word "eye" in Riau Malay. This research is a qualitative descriptive study using cognitive semantic analysis. The research data was taken from the speech of the Malay community who used the metaphorical expression of the word "eye". The technique used in collecting data is an interview technique assisted by fishing, tapping, and listening to conversational techniques accompanied by recording techniques. Data analysis techniques in the form of data collection, data analysis, and drawing conclusions. The results showed that the use of the word mata can bring up various metaphorical expressions in the language of the Riau Malay community. Practically, the use of the eye can be found in the eye of the basket, knife blade, pineapple eye, hook, fish eye, ring eye, boil eye, panda eye, eye bag, ankle, head eye, and fish eye. The meanings that emerge can be understood and interpreted logically through the life experiences of the Riau Malay community. Experience as a marker that connects the meaning of the expressions conveyed by the Riau Malay community when communicating.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji metafora kata “mata” dalam bahasa Melayu Riau. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif menggunakan analisis semantik kognitif. Data penelitian diambil dari tuturan masyarakat Melayu yang banyak menggunakan ungkapan metafora kata “mata”. Teknik yang digunakan dalam mengumpulkan data adalah teknik wawancara yang dibantu dengan teknik pancing, sadap, dan simak libat cakap yang disertai dengan teknik rekam. Teknik analisis data berupa pengumpulan data, analisis data, dan penarikan simpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan kata mata dapat memunculkan berbagai ungkapan metafora dalam berbahasa masyarakat Melayu Riau. Secara secara praktis, penggunaan mata dapat ditemukan pada mata telanjang, mata pisau, mata nanas, mata kail, mata ikan, mata cincin, mata bisul, mata panda, kantong mata, mata kaki, mata kepala, dan mata ikan. Makna yang muncul dapat dipahami dan diinterpretasi secara logika melalui pengalaman hidup masyarakat Melayu Riau. Pengalaman sebagai penanda yang menjadi penghubung maksud dari ungkapan yang disampaikan masyarakat Melayu Riau saat berkomunikasi.
ROCKY GERUNG POLITICS OBSERVER IN CRITICIZING THE GOVERNMENT ON THE YOUTUBE CHANNEL Khairur Rizki; Agustina Agustina
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 12, No 2 (2023): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v12i2.7196

Abstract

This research was motivated by the delivery of criticism towards the government which is considered less polite by some circles. The purpose of this study is to explain the politeness in the language of RG political observers when criticizing the government. This type of research is qualitative research. The method used in this research is descriptive method. The main instrument is the researcher himself. The data of this research is in the form of speeches by political observers of the RG which contain criticism of the government. The data source for this research is the RG YouTube channel. The data collection technique used is the observation and note taking technique. The data validation technique used in this study is triangulation. Technical data analysis is carried out by analyzing data according to the theoretical studies used to answer research questions that have been formulated. The research results show that. First, GM political observers in criticizing the government tend to use speech acts of direct criticism, although they sometimes use indirect criticism. Second, in criticizing RG, the dominant uses the maxim of praise, then agreement, and wisdom. However, RG tends to violate the politeness principles, especially the maxims of praise. This is because the criticism given tends to be direct without paying attention to the face of the speech partner or being criticized by RG.
Metafungsi Interpersonal Siberteks Vaksinasi Covid-19: Perspektif Multimodalitas R. Kunjana Rahardi
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 11, No 1 (2022): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v11i1.4196

Abstract

The purpose of this study was to describe the interpersonal metafunctions of the Covid-19 vaccination cybertext in a multimodality perspective. The source of the locational data for this research was the posters of Covid-19 vaccination obtained from google pictures which have been downloaded and acknowledged that their citation was in accordance with applicable scientific procedures, so that they did not conflict with ethical clearance principles of internet-based research. The data of this research were in the form of speeches and graphic images contained in Covid-19 vaccination posters which contain interpersonal metafunctions. Data were collected by reading and taking notes. The method that accommodates the two data collection techniques was the observation method. Data that had been collected properly is selected to separate good data from bad data. Good data were then classified to obtain data types to be subjected to data analysis methods and techniques. Data were validated against relevant experts and theories. The data were analyzed using the extra lingual equivalent analysis method. The matching process was carried out on the extra lingual aspects. The results of this research on interpersonal metafunctions in this multimodality perspective were: (1) Interpersonal metafunctions that provide clarity on the flow of the Covid-19 vaccination, (2) Interpersonal metafunctions that motivate people to undergo Covid-19 vaccination, (3) Interpersonal metafunctions for inviting the success of the Covid-19 vaccination program, (4) Interpersonal metafunctions that provide an explanation for the impact of Covid-19 vaccination, (5) Interpersonal metafunctions invite residents to administer Covid-19 vaccinations. With the findings of metafunction in cybertext through the research, it can be emphasized that interpersonal metafunctions in a multimodality perspective can manifest in various ways. The diversity of these manifestations cannot be separated from technology as a major part of culture which determines the development of language in this new era. AbstrakTujuan penelitian ini adalah mendiskripsikan manisfetasi metafungsi interpersonal teks siber vaksinasi Covid-19 dalam perspektif multimodalitas. Sumber data lokasional penelitian ini adalah poster-poster vaksinasi Covid-19 yang diperoleh dari google pictures yang telah diunduh dan diakui penyitirannya sesuai dengan prosedur ilmiah yang berlaku, sehingga tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip etik (ethical clearance) penelitian berbasis internet. Data penelitian ini berupa tuturan dan gambar grafis yang terdapat dalam poster-poster vaksinasi Covid-19 yang di dalamnya terkandung metafungsi interpersonal. Data diperoleh di seputar waktu pelaksanaan penelitian, yakni pertengahan hingga akhir tahun 2021. Data dikumpulkan dengan teknik membaca dan mencatat. Metode yang mewadahi kedua teknik pengumpulan data tersebut adalah metode simak. Data yang telah dikumpulkan dengan baik diseleksi untuk memisahkan data baik dan data nakal atau tidak baik. Data yang baik selanjutnya diklasifikasi untuk mendapatkan tipe-tipe data untuk dikenakan metode dan teknik analisis data. Data divalidasikan kepada pakar dan teori yang relevan. Data dianalisis dengan metode analisis padan ekstralingual. Lanskap pemadanan dilakukan pada aspek-aspek ekstralingualnya. Hasil penelitian metafungsi interpersonal dalam perspektif multimodalitas ini ini adalah: (1) Metafungsi interpersonal pemberi kejelasan alur pelaksanaan vaksinasi Covid-19, (2) Metafungsi interpersonal pemotivasi orang menjalani vaksinasi Covid-19, (3) Metafungsi interpersonal pengajak menyukseskan program vaksinasi Covid-19, (4) Metafungsi interpersonal pemberi penjelasan dampak vaksinasi Covid-19, (5) Metafungsi interpersonal pengajak warga melaksanakan vaksinasi Covid-19. Dengan temuan-temuan metafungsi dalam siberteks tersebut dapat ditegaskan bahwa metafungsi interpersonal dalam perspektif multimodalitas dapat bermanifestasi beragam. Keberagaman manifestasi tersebut tidak lepas dari teknologi sebagai bagian pokok dari budaya yang menjadi penentu  perkembangan bahasa di era baru sekarang ini.
Manifestasi Variasi Pola Retorika dan Fungsi Bahasa dalam Bingkai Komunikasi Politik: Studi Kasus Praktik Retorika Anggota DPD RI Euis Nicky Marnianti Suhendar; Yeti Mulyati; Vismaia S. Damayanti
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 13, No 2 (2024): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v13i2.7095

Abstract

This study aims to capture the variations in rhetorical patterns and language functions in the context of political communication of the members of the Regional Representative Council of the Republic of Indonesia (Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia/DPD RI) for the 2019-2024 period and the implications of this rhetoric for public policy in Indonesia. DPD RI members hold a unique position as they are not party representatives but regional representatives at the national level. This makes rhetorical skills crucial for effectively conveying community and regional aspirations. This study adopts a qualitative approach with analytical descriptive methods, using transcriptions of Committee III of DPD RI meetings with the Minister of Women Empowerment and Child Protection of Indonesia (2019-2024). Data analysis involves identification, reduction, analysis, and interpretation. Results reveal that the rhetorical construction employed by DPD RI members encompasses six distinct patterns: (1) Ethos-Pathos-Logos (E-P-L); (2) Pathos-Logos-Ethos (P-L-E); (3) Logos-Pathos-Ethos (L-P-E); (4) Ethos-Logos-Pathos (E-L-P); (5) Logos-Ethos-Pathos (L-E-P); and (6) Pathos-Ethos-Logos (P-E-L). This study also identified three types of language functions in the rhetoric of DPD RI Members: (1) expressive language functions, such as expressions of greetings and salutations, gratitude, concern, appreciation, and willingness; (2) directive language functions with five categories (interrogative, hope, recommendation, instruction, and request); and (3) poetic language functions in the form of rhymes. The implications of DPD RI Members' rhetoric on public policy and political communication in Indonesia are significant because they can create synergy between DPD RI as a legislative institution and related ministries as representatives of the government in the executive institution. This synergy supports the birth of more effective, responsive, and targeted public policies in handling regional issues through central government policies. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk memotret variasi pola retorika dan fungsi bahasa dalam konteks komunikasi politik Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) Periode 2019-2024 serta implikasi retorika tersebut terhadap kebijakan publik di Indonesia. Di ranah politik, kemahiran retorika Anggota DPD RI sebagai anggota legislatif dinilai memiliki daya tarik tersendiri karena karakteristiknya yang bukan perwakilan suatu partai, melainkan perwakilan daerah di tingkat nasional. Oleh karena itu, kemahiran retorika menjadi kompetensi penting yang harus dimiliki oleh Anggota DPD RI agar mampu menyuarakan aspirasi masyarakat dan daerahnya secara efektif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif analitis. Sumber data penelitiannya adalah transkripsi rekaman rapat kerja Komite III DPD RI bersama Menteri PPPA RI. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan studi dokumentasi terhadap transkripsi rekaman rapat tersebut. Teknik analisis data dimulai dengan mengidentifikasi data, mereduksi data, menganalisis data, serta menginterpretasikan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa retorika Anggota DPD RI tersebut terdiri atas enam variasi pola seperti berikut: (1) Ethos-Pathos-Logos (E-P-L); (2) Pathos-Logos-Ethos (P-L-E); (3) Logos-Pathos-Ethos (L-P-E); (4) Ethos- Logos-Pathos (E-L-P); (5) Logos-Ethos-Pathos (L-E-P); dan (6) Pathos-Ethos-Logos (P-E-L). Penelitian ini juga mengidentifikasi tiga jenis fungsi bahasa dalam retorika Anggota DPD RI: (1) fungsi bahasa ekspresif, seperti ungkapan salam dan sapaan, terima kasih, keprihatinan, apresiasi, dan kesediaan; (2) fungsi bahasa direktif dengan lima kategori (interogatif, harapan, rekomendasi, instruksi, dan permintaan); dan (3) fungsi bahasa puitis berupa pantun. Implikasi retorika Anggota DPD RI terhadap kebijakan publik dan komunikasi politik di Indonesia sangat signifikan karena dapat menciptakan sinergi antara DPD RI sebagai lembaga legislatif dan kementerian terkait sebagai perwakilan pemerintah di lembaga eksekutif. Kesinergisan ini mendukung lahirnya kebijakan publik yang lebih efektif, responsif, dan tepat sasaran dalam menangani isu-isu daerah melalui kebijakan pemerintah pusat.
Serapan Bahasa Arab Pada Budaya Akikah Ni Daganak Tubu Berbahasa Angkola Husniah Ramadhani Pulungan; Suhono Suhono; Sumarlam Sumarlam
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 8, No 1 (2019): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v8i1.975

Abstract

This study analyzes borrowing on Arabic in Angkola language. The purpose of this study is to classify the process of borrowing Arabic in Angkola language from the tradition of aqiqah, this is the same as the body. It is done as an effort to inventory the description of forms, rules, and use of borrowing Arabic language. This research is descriptive qualitative with the technique refer and note. The data analysis technique uses domain analysis, taxonomic analysis, compound analysis, and analysis of cultural themes. The results show that the emergence of adaptation is more often compared to the emergence of adoption while the hybrid and translation uptake are not found. Thus, the use of borrowing Arabic in the event aqiqah daganak tubu does not cause a shift in the language of Angkola into araba-araban, precisely the borrowing of Arabic is very helpful in completing the lexicon of the Angkola language specifically for the use of religious terms in communication in the community.ABSTRAKPenelitian ini menganalisis borrowing bahasa Arab pada bahasa Angkola. Tujuan dari penelitian ini untuk mengklasifikasi proses borrowing bahasa Arab pada bahasa Angkola dari tradisi aqiqah ni daganak tubu. Hal ini dilakukan sebagai salah satu upaya untuk menginventarisasikan pendeskripsian bentuk, kaidah, dan penggunaan borrowing bahasa Arab. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik simak dan catat. Teknik analisis data menggunakan analisis domain, analisis taksonomi, analisis komponensial, dan analisis tema budaya. Hasil analisis menunjukkan bahwa kemunculan adaptasi yang lebih sering dibandingkan dengan kemunculan adopsi sedangkan hibrida dan serapan terjemahan tidak ditemukan. Dengan demikian, maka penggunaan borrowing bahasa Arab dalam acara aqiqah ni daganak tubu tidak menyebabkan terjadinya pergeseran pada bahasa Angkola menjadi kearab-araban, justru borrowing bahasa Arab sangat membantu guna melengkapi leksikon bahasa Angkola khususnya untuk penggunaan istilah keagamaan dalam komunikasi di masyarakat Angkola.
Analisis Bahasa Sindiran dalam Debat: Studi Kasus Debat Pertama Capres Indonesia Tahun 2024 Rizka Adinda; Mariyadi Mariyadi
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 14, No 1 (2025): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v14i1.7455

Abstract

Sarcasm is a way of conveying meaning or messages through humorous or figurative insinuations and harsh criticism, including during the Indonesia’s 2024 presidential debate. Therefore, this study aims to reveal the application and meaning of sarcasm in the first 2024 presidential debate. The study adopts a descriptive qualitative research design. The data in this study are sourced from video recordings of the first 2024 presidential debate on YouTube. This study utilizes data in the form of words, phrases, clauses, sentences, and discourse containing sarcasm obtained through the note-taking technique. The collected data were then analyzed based on the data analysis technique guidelines of Miles and Huberman (1994) to identify the forms of language style through the analysis process with the following stages; 1) data collection on the aspects of sarcasm, 2) data reduction by sorting the data to be analyzed, 3) presenting data in tables, and 4) drawing conclusions/verification from the analysis as findings. The results of this study found that there are styles of sarcasm, namely innuendo, irony, and cynicism, by looking at the meaning in the words of the 2024 presidential debate speakers. The styles of innuendo and irony are the most dominant types of sarcasm that appear in the results of this study. Abstrak Sindiran menjadi suatu cara dalam menyampaikan makna atau pesan dengan menyindir baik secara lucu atau kias dan kritik pedas termasuk saat debat Capres Indonesia 2024. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengungkap pengaplikasian dan makna sindiran pada debat pertama Capres 2024. Penelitian mengadopsi jenis penelitian kualitatif deskriptif. Data dalam penelitian ini bersumber dari rekaman video debat pertama Capres 2024 pada kanal YouTube. Penelitian ini memanfaatkan data berupa kata, frasa, klausa, kalimat dan wacana yang terkandung sindiran melalui teknik simak catat. Data-data yang telah dikumpulkan kemudian dianalisis berdasarkan panduan teknik analisis data model Miles dan Huberman (1994) untuk menemukan bentuk-bentuk gaya bahasa melalui proses analisis dengan tingkatan; 1) pengumpulan data berupa aspek sindiran, 2) reduksi data dengan memilah data yang akan dianalisis, 3) penyajian data dalam tabel, dan 4) penarikan kesimpulan/verifikasi dari analisis sebagai hasil temuan. Hasil penelitian ini menemukan terdapat gaya bahasa sindiran yaitu gaya bahasa sindiran innuendo, ironi, dan sinisme dengan melihat makna dalam kata-kata penutur debat Capres 2024. Gaya bahasa sindiran innuendo dan ironi merupakan jenis sindiran yang paling dominan muncul dalam hasil penelitian.
TINGKAT KEBERTERIMAAN TERJEMAHAN ISTILAH BUDAYA OSING: SEBUAH STUDI KASUS TERPANCANG Wiwin Indiarti; Wulan Wangi
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 4, No 1 (2015): Jurnal Ranah
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v4i1.22

Abstract

Artikel ini didasarkan pada penelitian yang menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif dengan disain studi kasus terpancang dan berorientasi pada produk penerjemahan. Tujuannya adalah menilai tingkat keberterimaaan terjemahan istilah budaya Osing (Using) yang terdapat pada 3 publikasi pariwisata dwibahasa yang secara resmi diterbitkan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi berdasarkan ideologi yang dianut serta strategi penerjemahan yang diterapkan oleh penerjemah. Parameter yang dipakai untuk menilai tingkat keberterimaan diadopsi dari Instrumen Pengukur Tingkat Keberterimaan Terjemahan milik Prof. Nababan. Hasil studi menunjukkan bahwa terjemahan istilah budaya Osing ke dalam Bahasa Inggris dalam sumber data primer memiliki tingkat keberterimaan yang tergolong tinggi karena keberpihakan penerjemah terhadap budaya dan bahasa sasaran (pembaca sasaran/turis asing) yang dibuktikan dengan pilihan ideologi domestikasi dan strategi penerjemahan yang sesuai, yaitu transposisi (90 kali), sinonim (69 kali), padanan deskriptif (26 kali), penambahan-semantik (23 kali), penambahan-struktural (13 kali), penyusutan (11 kali), perluasan (10 kali), penghilangan (6 kali), terjemahan resmi (5 kali), analisis komponensial (2 kali) dan padanan budaya (1 kali). Secara lebih rinci penerjemahan 381 data primer menghasilkan 261 data (94,75%) yang tergolong berterima, 3 data (0,79%) kurang berterima, dan 17 data (4,46%) tidak berterima.

Page 8 of 39 | Total Record : 386