cover
Contact Name
Winci Firdaus
Contact Email
wincifirdaus1@gmail.com
Phone
+6288802310216
Journal Mail Official
jurnalranahbahasa@gmail.com
Editorial Address
Jalan Daksinapati Barat IV
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
ISSN : 23388528     EISSN : 25798111     DOI : https://doi.org/10.26499/rnh
Core Subject :
https://ojs.badanbahasa.kemendikdasmen.go.id/jurnal/index.php/jurnal_ranah/about/editorialPolicies#focusAndScope
Arjuna Subject : -
Articles 386 Documents
TINDAK TUTUR KOMISIF PEMENTASAN DRAMA “MANGIR WANABAYA” (SUATU TINJAUAN SOSIOPRAGMATIK) Andri Wicaksono
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 4, No 1 (2015): Jurnal Ranah
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v4i1.26

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk dan konteks sosial tuturan yang digunakan untuk menyatakan tindak tutur komisif berniat, berjanji, bersumpah, dan bernadar dalam Pementasan drama Mangir Wanabaya. Penelitian ini mempergunakan pendekatan pragmatik dan sosiolinguistik, yang selanjutnya disebut pendekatan sosiopragmatik. Masalah yang akan diteliti ialah bentuk pemakaian dan konteks tindak tutur komisif. Desain penelitian ini merupakan deskriptif kualitatif. Strategi yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis isi. Teknik pengumpulan data menggunakan studi dokumen. Pengumpulan data penelitian, yaitu dengan simak-catat konteks penggunaan bahasa yang alamiah agar dapat mengungkap maksud tuturan komisif secara tepat. Hasil penelitian membuktikan bahwa bentuk tindak tutur komisif pementasan drama Mangir Wanabaya dapat berupa kata, predikat propositif, dan konteks yang menyatakan komisif. Konteks dalam kajian pragmatik dapat dijadikan petunjuk untuk mengenali maksud. Tindak tutur komisif yang didapat adalah tindak tutur komisif berniat,tindak tutur komisif berjanji, tindak tutur komisif bersumpah, tindak tutur komisif bernadar.
Code Switching as Interlanguage Communication Strategy by Indonesian EFL Learners Endang Fauziati; Hartati Widiastuti; Hanif Maghfur Darussalam
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 9, No 2 (2020): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v9i2.2950

Abstract

This study was aimed at exploring the use of code switching (CS) as interlanguage communication strategy by EFL students when they were communicating in English. Particularly, this study tried to describe the patterns of CS as communication strategy and factors that contributed to the use of the CS as communication strategy by the EFL learners. It was a qualitative research using 30 students of one of Junior High School in Surakarta as research subjects. The data were collected through elicitation technique in which the research subjects were given a task to describe a cartoon. Their utterances were recorded and used as primary data source. Utterances that contained CS were identified and used as primary data. The data were analyzed qualitatively by inductive techniques, using Dornyei and Myers-Scotton analysis frameworks. The research findings were then interpreted based on relevant theory. The results showed that the students used three types of CS, namely tag code switching, intra-sentential code switching and inter-sentential code switching. Three factors identified as the reasons of the use of CS as communication strategy were bilingual, limited mastery of English and as a compensation strategy. It can be concluded that the use of CS by EFL learners is a natural and unavoidable phenomenon since this represents one of the communication strategies to compensate for the EFL learners' limited mastery of the target language they are learning. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi penggunaan alih kode sebagai strategi komunikasi bahasa antar pembelajar bahasa Inggris di Indonesia. Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pola alih kode dan faktor yang berkontribusi pada penggunaan alih kode tersebut sebagai strategi komunikasi oleh pembelajar bahasa Inggris. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan subjek penelitian 30 siswa dari salah satu SMP di Surakarta. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik elisitasi, yang dilakukan dengan memberikan tugas kepada subjek penelitian untuk mendeskripsikan sebuah kartun. Ucapan mereka direkam dan digunakan sebagai sumber data primer. Ucapan yang mengandung alih kode diidentifikasi dan digunakan sebagai data primer. Data dianalisis secara kualitatif dengan teknik induktif yang menggunakan kerangka analisis Dornyei & Myers-Scotton. Temuan penelitian kemudian diinterpretasikan berdasarkan teori yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa menggunakan tiga jenis alih kode, yaitu alih kode tag, alih kode intrasentensial, dan alih kode antarsentensial. Tiga faktor yang berkontribusi terhadap penggunaan alih kode tersebut adalah kedwibahasaan, penguasaan bahasa Inggris yang terbatas, dan sebagai strategi kompensasi. Dapat disimpulkan bahwa penggunaan alih kode oleh pembelajar bahasa Inggris merupakan fenomena alami dan tidak dapat dihindari dalam pembelajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing. Hal ini merupakan salah satu strategi komunikasi untuk mengompensasi keterbatasan penguasaan bahasa sasaran.
Praktik Sosial Budaya pada Berita Online Rencana DPR Mencetak Uang untuk Menanggulangi Dampak Covid-19 Agik Nur Efendi; Mubayyamah Mubayyamah
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 12, No 1 (2023): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v12i1.2788

Abstract

This study aims to explain sociocultural practice in a news text about the DPR's plan to print money to overcome the impact of Covid-19 on the May 2020 edition of the online news portal. This news is interesting because it involves figures arguing with each other, even criticizing money printing plans. The news involved Dahlan Iskan criticizing and opposing the DPR's proposed money printing plan. The news is analyzed based on the assumption that the social context that exists outside the media influences the discourse that appears in the news. The source of this research data is found in the online news Kompas.com, Detik.com, and Republika.com May 2020 edition. The method used in this study is descriptive qualitative with a critical approach to norman Fairclough's model. The great point of concern of Fairclough is to see language as a social practice. The results of this study show that in the situational aspect there is a contra between Dahlan Iskan and the discourse raised by the DPR from the Golkar faction who asked to print money. There are two social aspects of the discourse battle. First, if the issuance of new money worth 600 trillion will cause inflationary impacts. Secondly, the discourse battle can be said to have a bit of an inner conflict between Dahlan Iskan and Soetrisno Bachir. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk memaparkan sociocultural practice dalam suatu teks berita seputar rencana DPR mencetak uang untuk menanggulangi dampak Covid-19 pada portal berita online edisi Mei 2020. Pemberitaan ini menarik karena melibatkan tokoh-tokoh yang saling beradu argumen, bahkan mengkritik rencana pencetakan uang. Berita tersebut melibatkan Dahlan Iskan yang mengkritik dan menentang rencana pencetakan uang yang diusulkan DPR. Berita tersebut dianalisis berdasarkan asumsi bahwa konteks sosial yang ada di luar media memengaruhi wacana yang muncul dalam berita. Sumber data penelitian ini terdapat pada berita daring Kompas.com, Detik.com, dan Republika.com edisi bulan Mei 2020. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan kritis model Norman Fairclough. Titik perhatian besar dari Fairclough adalah melihat bahasa sebagai praktik sosial. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam aspek situasional terdapat hal kontra antara Dahlan Iskan terhadap wacana yang dimunculkan oleh DPR dari fraksi Golkar yang meminta mencetak uang. Terdapat dua aspek sosial dari pertarungan wacana tersebut. Pertama, bila penerbitan uang baru senilai 600 triliun akan menimbulkan dampak inflasi. Kedua, pertarungan wacana tersebut dapat dapat dikatakan ada sedikit konflik batin antara Dahlan Iskan dengan Soetrisno Bachir.
Proses Grafemik dalam Kata Serapan Bahasa Sunda dari Bahasa Sansekerta Yudistira Fitra Sabarudin; Yayat Sudaryat; Nunuy Nurjanah
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 15, No 1 (2026): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v15i1.8522

Abstract

This study aims to explore the graphemic process in Sundanese loan words from Sanskrit and to document the graphemic process in Sundanese loan words from Sanskrit , The method used in this study is qualitative with a descriptive-analytical approach to Sundanese loan words from Sanskrit, the main data source used is the Danadibrata Sundanese Dictionary and two supporting data sources, namely the Sanskrit-Indonesian Dictionary and A Sanskrit-English Dictionary. The data collection technique uses the literature study technique, while the data processing technique uses the Immediate Constituent Analysis (ICA) technique, so that in this study the word elements analyzed from the data obtained are graphemes listed in Sundanese loan words from Sanskrit. The results of the study show that there are nineteen change processes, namely initial silnaan, middle silnaan, final silnaan, initial swarabakti, middle swarabakti, final swarabakti, metathesis, haplology, intervocalic voicing, nasal assimilation, loss of retraction, rotachism, platyphthongization, diphthongization, monophthongization, rising vowel, falling vowel, degemination, gemination, loss of aspiration, shortening, lenition, and vocalization. As well as two forms of grapheme change formation that need to be considered, namely loss of aspiratio and shortening. Abstrak Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi proses perubahan grafemik kata serapan bahasa Sunda dari bahasa Sansakerta dan mendokumentasikan perubahan bentuk kata-kata serapan bahasa Sunda dari bahasa Sanesekerta. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis terhadap kata serapan bahasa Sunda dari bahasa Sansekerta, sumber data utama yang digunakan adalah Kamus Basa Sunda Danadibrata serta dua sumber data pendukung yakni Kamus Sansekerta-Indonesia dan A Sanskrit-English Dictionary. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik studi pustaka, sedangkan teknik mengolah data menggunakan teknik Immediete Constituent Analysis (ICA), sehingga pada penelitian ini unsur kata yang dianalisis dari data yang didapatkan adalah grafem yang tertera pada kata serapan bahasa Sunda dari bahasa Sansekerta. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat Sembilan belas proses perubahan grafemik yakni sirnaan awal, sirnaan tengah, sirnaan akhir, swarabakti swarabakti awal, swarabakti tengah, swarabakti akhir, metatesis, haplologi, menyuarakan intervokalik, asimilasi nasal, hilang retraksi, rotakisme, platalisasi, diftongisasi, monoftongisasi, vokal naik, vokal turun, degeminasi, geminasi, hilang aspirasi, pemendekan, lenisi, dan vokalisasi. Serta dua bentuk formasi perubahan grafem yang perlu diperhatikan yakni hilang aspirasi dan pemendekan.
PEMETAAN VITALITAS BAHASA-BAHASA DAERAH DI BENGKULU: PENTINGNYA TOLOK UKUR DERAJAT KEPUNAHAN BAGI PELINDUNGAN BAHASA DAERAH Sarwo F. Wibowo
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 5, No 2 (2016): Jurnal Ranah
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v5i2.149

Abstract

Studies about protection of local languange so far is sporadic. The earlier studies carried out only based on common sense information or researcher interest, not based on scientific fact of languange exticntion degree. It is happen because there is no benchmark which languange is more urgent to revitalize. This paper describes the result of languanges vitality mapping in Bengkulu and its strategic position on the efforts of local languanges protection. The number of languange based on Peta Bahasa Pusat Bahasa. To determine degree of languange extinction, UNESCO formula which include nine indicators (1) intergenerational language transmission, (2) absolute number of speakers, (3) proportion of speakers within the total population, (4) trends in existing languange domains, (5) response to new domain and media, (6) material for languange education and literacy, (7) govermental and institutional languange attitudes and policies, (8) including official status and use, (9) community member attitudes towards their own languange, 10) amount and quality of documentation. Data was collected which some methods, i.e. library research (for indicator 2, 3, 6 and 9), interview (indicator 7 and 8), observation (indikator 5), and survey (indikator 1, 4, 9). Then, data interpreted based on languange endangerment scale , that is safe, at risk, disappearing, moribund, nearly extinct, dan extinct. The interpretation then converted to languange vitality map with some colour graduation. ABSTRAKPenelitian mengenai pelindungan bahasa daerah yang dilakukan selama ini bersifat sporadis. Penelitian tersebut dilakukan berdasarkan informasi (common sense) atau ketertarikan peneliti saja, bukan didasarkan pada fakta ilmiah tentang derajat kepunahan bahasa. Hal ini tentu saja disebabkan oleh karena belum ada tolok ukur yang dapat dijadikan patokan untuk menentukan bahasa mana yang lebih mendesak untuk direvitalisasi. Penelitian ini akan memaparkan hasil pemetaan vitalitas bahasa di Bengkulu dan posisi strategisnya dalam usaha pelindungan bahasa daerah. Jumlah bahasa didasarkan pada Peta Bahasa keluaran Pusat Bahasa. Untuk menentukan derajat kepunahan bahasa digunakan rumusan UNESCO yang mencakup sembilan indikator, yaitu (1) transmisi bahasa antargenerasi, (2) besarnya jumlah penutur, (3) perbandingan penutur dengan jumlah penduduk, (4) kecenderungan dalam ranah pemakaian bahasa, (5) daya tanggap terhadap ranah baru dan media, (6) materi untuk pendidikan bahasa dan keberaksaraan, (7) kebijakan bahasa oleh pemerintah dan institusi, (8) termasuk status resmi dan pemakaiannya, (9) sikap komunitas penutur terhadap bahasa mereka, serta 10) jumlah dan kualitas dokumentasi bahasa. Data dikumpulkan dengan beberapa metode, yaitu studi pustaka (indikator 2, 3, 6, dan 9), wawancara (indikator 7 dan 8), observasi (indikator 5), dan survey (indikator 1, 4, dan 9). Data kemudian diinterpretasikan berdasarkan derajat kepunahan bahasa yaitu Aman (safe), beresiko (at risk), mulai terancam punah (disappearing), parah (moribund), hampir punah (nearly extinct), dan punah (extinct). Hasil penelitian ini kemudian dituangkan ke dalam peta dengan gradasi warna tertentu.
Pengembangan Bahan Ajar BIPA Daring Tingkat Pemula Rendah Ahmad Rofiuddin; Gatut Susanto; Didin Widyartono; Sultan Sultan; Helmi Muzaki; Pensri Panich
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 10, No 1 (2021): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v10i1.3376

Abstract

The aim of this study is to develop Indonesian language teaching online materials as a Foreign Language (BIPA) which are suitable for beginner low level learners. This research is conducted in Malang in 2020. The procedure in this study uses the (Gall et al., 2007). The characteristics of the product consist of thirteen lessons that are used for online BIPA learning. Each lesson is developed based on actual topics according to beginner low level learner needs. The actual topics cover introduction, campus, home, office, canteen, park, and market. The variety of Indonesian uses in this teaching material is communicative variety. In addition, this teaching material is equipped with English as an complementary language. Based on the use test on the aspects of content, language, and presentation order, it can be concluded that online BIPA teaching material for beginner low-level learners has high feasibility. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menghasilkan bahan ajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) daring yang memiliki kelayakan untuk digunakan bagi pebelajar tingkat pemula rendah. Penelitian ini dilakukan di Malang pada tahun 2020. Prosedur yang digunakan adalah model (Gall et al., 2007). Karakteristik bahan ajar yang dihasilkan terdiri atas tiga belas unit pelajaran yang digunakan untuk pembelajaran BIPA secara daring. Tiap unit pelajaran dikembangkan bertumpu pada topik aktual sesuai dengan kebutuhan pebelajar tingkat pemula rendah. Topik-topik aktual tersebut antara lain tentang perkenalan, kampus, rumah, kantor, kantin, taman, dan pasar. Ragam bahasa Indonesia yang digunakan dalam bahan ajar ini ragam komunikatif. Selain itu, bahan ajar ini difasilitasi bahasa bantu bahasa Inggris. Berdasarkan uji pakai terhadap aspek isi, bahasa, dan struktur penyajian dapat disimpulkan bahwa bahan ajar BIPA daring untuk pebelajar tingkat pemula rendah daring ini memiliki kelayakan tinggi. 
Project Based Learning dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi Pada Masa Pandemi Hindun Hindun; Ahmad Bahtiar; Maryelliwati Maryelliwati; Elvi Susanti; Aniek Irawati; Muhammad Jabl An Nur
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 12, No 2 (2023): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v12i2.4695

Abstract

Learning during the pandemic is changing from face-to-face to distance learning (PJJ). The system changes learning, including Indonesian language in universities, which has an impact on students and lecturers. For this reason, in addition to being supported by adequate infrastructure, PJJ must use an appropriate model so that learning is effective so that learning objectives are achieved. During the pandemic, Indonesian language learning at the Universtas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran  Jakarta used the project based learning model. With this model, not only learning becomes effective but also increases student creativity so that they can produce various products in the form of writings in scientific publications and various mass media articles. Each student is not only able to write one article but two or three articles during the lesson. This model is expected to continue to be used and developed so that Indonesian language learning becomes interesting and of high quality. AbstrakPembelajaran selama pandemi mengubah dari tatap muka langsung menjadi PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh). Perubahan tersebut mengubah sistem pembelajaran termasuk bahasa Indonesia di perguruan tinggi yang berdampak pada mahasiswa dan dosen. Tujuan penelitian ini adalah membuat pembelajaran menjadi lebih efektif sebab kreativitas mahasiswa didorong untuk menghasilkan berbagai produk tulisan yang bisa dipublikasikan di media massa. Melalui PJJ selama pandemi, maka project based learning menjadi model yang tepat dalam melakukan metode penelitian di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir semua mahasiswa bisa mempublikasikan produk tulisannya berupa artikel selama pembelajaran. Dengan demikian, ketersediaan infrastruktur pada perguruan tinggi ini dapat mewujudkan pembelajaran bahasa Indonesia di perguruan tinggi menjadi lebih berkualitas.
Menyingkap Akar Ideologi Lirik Lagu “Epiphany”: Analisis Tiga Kode Narasi Roland Barthes Koesworo Setiawan
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 15, No 1 (2026): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v15i1.8207

Abstract

This article aims to construct the core meaning, identify the ideological roots, and explain how the ideology of the song "Epiphany" sung by Kim Seok-jin (a member of the vocal group BTS) was formed. Data validity was achieved through data triangulation, namely by combining primary data in the form of the lyrics of the song "Ephipany" with secondary data from relevant literature. Data was observed by examining all the song lyrics and cross-analyzing them. The lyrics were categorized into three narrative codes according to Roland Barthes: semantic, symbolic, and cultural. The lyrics were interpreted through Barthes's three main concepts: denotation, connotation, and myth. This study found that three codes appeared simultaneously relatively consistently in almost every verse. The symbolic code constructs the strong hegemony of idolatry. The semantic code conveys the severity of inner turmoil in the fight against hegemony. The cultural code describes the changes in attitudes and perspectives that pose a challenge to the destruction of hegemony. In conclusion, the core meaning of the song lyrics is success in being yourself (“self-love”). Self-love is an ideology formed through three transitional phases: the hegemony of idol figures, breaking free from idolatry (self-reflection), and believing in one's own abilities. Abstrak Artikel ini bertujuan untuk mengkonstruksi makna inti, mengidentifikasi akar ideologis, dan bagaimana proses terbentuknya ideologi dari lagu “Epiphany” yang dinyanyikan oleh Kim Seok-jin (personel grup vokal BTS). Validitas data ditempuh dengan teknik triangulasi data, yakni dengan memadukan data primer berupa lirik lagu “Ephipany” dengan data sekunder yang diperolah dari literatur yang relevan. Data diobservasi dengan memeriksa seluruh lirik lagu dan menganalisis secara silang. Lirik dikategorisasi dengan tiga kode narasi Roland Barthes: semantik, simbolik dan budaya. Lirik dimaknai berdasarkan tiga konsep utama Barthes: denotatif, konotatif dan mitos. Penelitian ini menemukan tiga kode muncul secara bersamaan relatif konsisten pada hampir setiap bait. Kode simbolik mengkonstruksi kuatnya hegemoni pengaruh dari idola. Kode semantik menunjukkan kerasnya pergolakan batin selama melawan hegemoni. Kode budaya menggambarkan perubahan sikap dan cara pandang yang berjalan penuh tantangan untuk meruntuhkan hegemoni. Kesimpulannya, makna inti lirik lagu adalah sukses menjadi diri sendiri (self love). Self love merupakan ideologi yang terbentuk dari tiga fase transisi: hegemoni sosok idola, keluar dari pengaruh idola (refleksi diri), dan percaya kemampuan diri sendiri.
Menyingkap Makna dan Tanda dalam Iklan Rokok A-Mild Versi “Hasrat”: Kajian Semiotika Fathin Shofa; Meina Astri Utami
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 6, No 2 (2017): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v6i2.266

Abstract

This semiotic study seeks to investigate how meanings and ideology in the A-Mild advertisement are represented through denotation, connotation and myth. By using Barthes’ (1991) Orders of Signification and Dyer’s (1982) theory of visual elements, this study uses a descriptive qualitative method as the basic principle of methodology. The results of the study show that the advertisement tries to attract consumers by delivering a message that ‘desire’ is something crucial in someone’s life. Moreover, it is indicated that there are several myths in the advertisement. First, ‘desire’ is something which can determine someone’s success in life. Second, happiness can be defined as freedom, pleasure, success, luxury and happiness with beloved ones. Third, smoking may help someone to find his hidden desire and lead him to his true choice in life. Furthermore, it is also revealed that the advertisement has hidden ideologies. The advertisement has implicitly suggested a life style which is consumptive and hedonistic such as a high class life (having a luxurious car). It also distorts the idea that smoking is not threatening and dangerous. Considering the underlying ideologies in this advertisement, it is found that there is a form of persuasiveness which has implicitly tried to make a good image of cigarette on the consumers’ minds. Therefore, the results of this study are expected to show the real image of the advertisement that it affects the consumers’ psychology and in consequence they unconsciously perceive the act of smoking as something elegant (as implied in the hedonism and freedom view) or not dangerous. AbstrakPenilitian ini berjudul Analisis Semiotika: Menyingkap Makna dan Tanda dalam Iklan Rokok A-Mild Versi “Hasrat”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana makna dan ideologi dalam iklan rokok A Mild versi “Hasrat” direpresentasikan melalui makna denotasi, konotasi serta mitos. Dengan melakukan metode penelitian deskriptif kualitatif, penelitian ini menggunakan analisis semiotika sebagai prosedur penelitian yang berbasis pada teori tatanan signifikasi milik Barthes (1991) dan teori elemen visual milik Dyer (1982). Temuan menunjukan bahwa iklan rokok ini mencoba menarik minat konsumen dengan cara penyampaian pesan krusial mengenai pencarian hasrat dalam kehidupan seseorang. Akan tetapi, lebih  jauh temuan mengindikasikan bahwa terdapat beberapa mitos dalam iklan rokok ini. Pertama, hasrat merupakan sesuatu yang dapat menentukan kesuksesan hidup seseorang. Kedua, kebahagiaan didefinisikan sebagai kebebasan, kesenangan, kesuksesan, kemewahan serta kebahagian bersama orang-orang terkasih. Ketiga, produk rokok ini dapat menginspirasi seseorang dalam menemukan hasrat terpendam yang dapat menghantarkannya pada pilihan kehidupannya. Selain itu, iklan ini terindikasi memiliki ideologi tersembunyi. Iklan ini telah secara implisit menawarkan gaya hidup konsumtif dan hedonistik seperti gaya hidup yang berkelas (memiliki mobil, dll.). Iklan ini juga mendistorsi konsep bahwa merokok bukanlah sesuatu yang membahayakan dan mengancam nyawa. Merujuk pada nilai-nilai ideologi yang terkandung dalam iklan ini, ditemukan suatu bentuk persuasivitas iklan yang secara implisit berusaha meningkatkan citra rokok dalam benak para konsumen. Ini berdampak pada psikologi para konsumen yang secara tidak sadar memandang bahwa merokok merupakan bentuk perilaku yang elegan (tersirat dalam makna hedonisme serta kebebasan) ataupun tidak membahayakan (ironis).
Konstruksi Interogatif dalam Bahasa Aceh: Teori X-Bar Mukramah Mukramah; Mulyadi Mulyadi
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 11, No 1 (2022): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v11i1.2114

Abstract

This study aims to describe the question word functional category and to frame the principle of interrogative construction structure in Acehnese by applying the X-Bar theory. The data is the utterances in Acehnese taken from the natives and the descriptive method is chosen in this research. This method is applied to find out what categories can be combined with question words in interrogative construction. This research results in the question word functional category which are the complement and complement. The function of the complement as the interrogative construction is occupied by the closed interrogative construction and open interrogative construction. Moreover, the function of the interrogative construction as complement is occupied by the echo interrogative sentences can be seen as follows: KT → (Pm) + Spes + I + Komp + Pm + (Spes + I + Komp).  AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kategori fungsional kata tanya dan merumuskan kaidah struktur konstruksi interogatif dalam bahasa Aceh dengan menggunakan teori X-Bar. Data penelitian merupakan kalimat dalam bahasa Aceh yang bersumber dari penutur asli bahasa Aceh. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif menggunakan metode observasi atau wawancara. Teknik ini digunakan untuk mengetahui kategori apa saja yang dapat bergabung dengan kata tanya dalam konstruksi interogatif. Hasil ditunjukkan dengan kategori fungsi konstruksi interogatif dalam konstruksi interogatif bahasa Aceh yaitu komplemen dan pemerlengkap. Fungsi pemerlengkap sebagai konstruksi interogatif ditempati oleh konstruksi interogatif ya-tidak, konstruksi interogatif dengan kata tanya, lalu fungsi konstruksi interogatif sebagai komplemen ditempati oleh konstruksi interogatif gema/gaung tipe yang diikuti adalah: KT → (Pm) + Spes + I + Komp + Pm + (Spes + I + Komp).

Page 4 of 39 | Total Record : 386