cover
Contact Name
Winci Firdaus
Contact Email
wincifirdaus1@gmail.com
Phone
+6288802310216
Journal Mail Official
jurnalranahbahasa@gmail.com
Editorial Address
Jalan Daksinapati Barat IV
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
ISSN : 23388528     EISSN : 25798111     DOI : https://doi.org/10.26499/rnh
Core Subject :
https://ojs.badanbahasa.kemendikdasmen.go.id/jurnal/index.php/jurnal_ranah/about/editorialPolicies#focusAndScope
Arjuna Subject : -
Articles 386 Documents
Kentrung Solokuro sebagai Representasi Toponimi Desa-Desa di Wilayah Pesisir Kabupaten Lamongan Dewi Herlina; Sueb Sueb
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 13, No 2 (2024): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v13i2.5296

Abstract

This study aims to describe the toponymy of villages in the coastal area of Lamongan Regency. The researcher used the oral speech of Solokuro kentrung art as data to explore toponyms. In this study, the forms of linguistic units and categories of toponymy meaning of villages in the coastal area of Lamongan Regency will be identified. This study uses a qualitative descriptive method with a linguistic anthropological approach. The data in this study are the utterances of the mastermind behind the kentrung Solokuro, namely Mr. Ahmad Kusairi. The source of the data comes from a video of the Kentrung Solokuro art performance which was uploaded on the YouTube site entitled “Stories of Pesisir Lamongan 1”. The spoken data in the video is transcribed into written data and presented in the form of words based on the results of the researcher's interpretation of the observed behavior. Based on the results of the study, the names of the villages in the coastal area of Lamongan Regency are dominantly using polymorphemic words and based on their meanings are dominantly using aspects of cultural toponymy in the form of folklore. Efforts to document kentrung art need to be made to capture cultural and linguistic landscapes that future generations can benefit from. The results of this study are expected to provide an overview of the artistic values of Kentrung Solokuro from a linguistic point of view. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan toponimi desa-desa di wilayah pesisir Kabupaten Lamongan. Peneliti memanfaatkan tuturan lisan kesenian kentrung Solokuro sebagai data guna menelusuri toponim. Dalam penelitian ini, akan diidentifikasi bentuk satuan kebahasaan dan kategori makna toponimi desa-desa di wilayah pesisir Kabupaten Lamongan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan antropologi linguistik. Data dalam penelitian ini adalah tuturan dalang kentrung Solokuro yaitu bapak Ahmad Kusairi. Sumber data berasal dari video pertunjukan kesenian Kentrung Solokuro yang diunggah di situs youtube berjudul “Cerita Pesisir Lamongan 1”. Data lisan pada video tersebut ditranskripsi ke data tulis dan disajikan dalam bentuk kata-kata berdasarkan hasil interpretasi peneliti terhadap perilaku yang diamati. Berdasarkan hasil penelitian, nama desa-desa di wilayah pesisir Kabupaten Lamongan dominan menggunakan kata polimorfemis dan berdasarkan maknanya dominan menggunakan aspek toponimi kebudayaan berupa folklor. Upaya pendokumentasian kesenian kentrung perlu diupayakan untuk memotret lanskap kebudayaan dan kebahasaan yang dapat dimanfaatkan generasi mendatang. Hasil kajian ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai nilai-nilai kesenian Kentrung Solokuro dari sudut pandang linguistik.
Skinny, Slim, dan Thin: Analisis Berbasis Korpus Kata Sifat Identik dan Implikasinya pada Pengajaran Bahasa Inggris Millatul Islamiyah; Muchamad Sholakhuddin Al Fajri
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 8, No 1 (2019): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v8i1.894

Abstract

This paper is an exploratory corpus-based investigation into a group of near synonymous adjectives: skinny, slim, and thin. It employs the British National Corpus (BNC) as data and Sketch Engine as data analysis instrument. By using corpus linguistics techniques such as concordance and collocation analysis, it compares the synonymous words’ usage, meaning, and pattern to identify which synonymous words are more appropriate in a certain context. The results suggest that thin has neutral nuance expression and slim tends to carry positive connotation, while skinny is often used by speakers when they want to be more pejorative or deprecating. Moreover, unlike skinny which mainly modifies animate-related nouns, slim is more heterogeneous as they also can modify inanimate-related nouns and when it collocates with inanimate nouns, it often extends its’ meaning into metaphor expression which means ‘small’. Thin is used in many idiomatic expressions and when combined with common words it can also be used to denote metaphorical meaning. These findings can be applied in English language teaching so that students will be able to use the synonymous adjectives in an apt context and to avoid undesirable implication. ABSTRAKPenelitian ini adalah analisis berbasis korpus pada kelompok kata sifat yang hampir sama: “skinny”, “slim”, dan “thin”. Penelitian ini menggunakan British National Corpus (BNC) sebagai data dan Sketch Engine sebagai instrumen analisis data. Dengan menggunakan teknik linguistik korpus seperti konkordansi dan analisis kolokasi, artikel ini membandingkan penggunaan, makna, dan pola kata sinonim untuk mengidentifikasi kata-kata sinonim yang lebih tepat dalam konteks tertentu. Hasilnya menunjukkan bahwa “thin” memiliki ekspresi nuansa netral dan “slim” cenderung membawa konotasi positif, sementara “skinny” sering digunakan oleh pembicara ketika mereka ingin lebih merendahkan atau mencela. Selain itu, tidak seperti “skinny” yang banyak memodifikasi nomina yang berhubungan dengan benda hidup, “slim” lebih heterogen karena mereka juga dapat memodifikasi nomina yang tidak hidup dan ketika ia bertaut dengan kata benda tak hidup, ia sering memperluas maknanya menjadi ekspresi metafora yang berarti “small”/kecil. “Thin” digunakan dalam banyak ekspresi idiomatis dan ketika dikombinasikan dengan kata-kata umum, “thin” juga dapat digunakan untuk menunjukkan makna metaforis. Temuan ini dapat diterapkan dalam pengajaran bahasa Inggris sehingga siswa akan dapat menggunakan kata sifat sinonim dalam konteks yang tepat dan untuk menghindari implikasi yang tidak diinginkan.
Integrasi AI dalam Pembelajaran Bahasa untuk Penguatan Literasi Budaya Multikultural di Lingkungan Sekolah Swasta dengan Tantangan Infrastruktur Terbatas Indramini Indramini; Rahmatiah Rahmatiah; Indah Ainun Mutiara
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 14, No 1 (2025): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v14i1.8205

Abstract

The integration of artificial intelligence (AI) in multicultural cultural literacy learning within school environments presents both challenges and opportunities in modern education. This study aims to analyze the effectiveness of AI implementation in enhancing students' understanding and appreciation of cultural diversity. The method used is quantitative research with an experimental design conducted in several secondary schools. Data were collected through observations, interviews, and questionnaires. Data analysis was performed using inferential statistical tests, such as t-tests and ANOVA, to examine significant differences between experimental and control groups, as well as descriptive analysis to present patterns in student responses. The results indicate that the use of AI in multicultural cultural literacy learning provides a more interactive, adaptive, and student-centered learning experience. However, challenges remain in implementation, including limited infrastructure and educator readiness. Therefore, synergy among schools, government, and technology developers is essential to optimize the utilization of AI in multicultural education. Abstrak Integrasi kecerdasan buatan (AI) dalam pembelajaran literasi budaya multikultural di lingkungan sekolah menjadi tantangan sekaligus peluang dalam pendidikan modern. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas penerapan AI dalam meningkatkan pemahaman dan apresiasi siswa terhadap keberagaman budaya. Metode yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan desain eksperimen di beberapa sekolah menengah. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan kuesioner. Analisis data dilakukan menggunakan uji statistik inferensial, seperti uji-t dan ANOVA, untuk menguji perbedaan signifikan antara kelompok eksperimen dan kontrol, serta analisis deskriptif untuk memaparkan pola respons siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan AI dalam pembelajaran literasi budaya multikultural memberikan pengalaman belajar yang lebih interaktif, adaptif, dan sesuai dengan kebutuhan siswa. Namun, terdapat tantangan dalam implementasi, seperti keterbatasan infrastruktur dan kesiapan tenaga pendidik. Oleh karena itu, sinergi antara sekolah, pemerintah, dan pengembang teknologi sangat diperlukan untuk mengoptimalkan pemanfaatan AI dalam pendidikan multikultural.
Membandingkan Partikel Fatis deh dan dong dalam Bahasa Indonesia Umi Kulsum
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 1, No 1 (2012): Jurnal Ranah
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v1i1.15

Abstract

Pengamatan terhadap bahasa Indonesia ragam lisan belum sebanyak pengamatan terhadap ragam tulis. Partikel deh dan dong banyak digunakan dalam ragam lisan dan belum ada yang mengungkap secara detail kedua partikel ini dan/atau membandingkan penggunaan keduanya. Pengamatan mengenai deh dan dong ini meliputi (1) jenis kalimat, (2) posisi, (3) pola, (4) fungsi, dan (5) kesinoniman keduanya. Pengamatan mengenai keduanya menggunakan metode deskriptif dengan teknik penyulihan dan permutasian. Kedua partikel yang diamati mempunyai persamaan dan perbedaan. Kedua partikel ini terdapat pada kalimat deklaratif dan imperatif dengan posisi final atau medial.  Selain itu, partikel dong terdapat juga pada kalimat interogatif. Kedua partikel ini tidak ditemukan pada posisi inisial. Posisi final merupakan posisi dominan bagi keduanya. Kedua partikel hampir mempunyai fungsi yang sama, terutama fungsi yang dipunyai keduanya pada kalimat imperatif, yaitu menghaluskan perintah. Akan tetapi, fungsi deh pada kalimat deklaratif lebih bervariasi jika dibandingkan dengan fungsi dong. Namun, dong mempunyai fungsi sebagai penegas pertanyaan dan fungsi ini tidak dipunyai deh. Partikel deh bersinonim dengan dong hanya pada kalimat imperatif, sedangkan pada kalimat interogatif dong tidak bersinonim dengan deh. Partikel deh pada kalimat deklaratif sebagian besar bersinonim dengan dong.
Analisis Kesalahan Pengucapan Pada Program Talk Show Di Televisi Indonesia Emmy Erwina
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 9, No 2 (2020): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v9i2.2849

Abstract

This study discusses the analysis of pronunciation errors in talk shows that occur in several television stations in Indonesia. The data collected for analysis was to see whether the standard spoken language used in talk shows or not when Speaking in talk shows and the errors found in their talk shows were constructed by their language standards. This research is a phonetic study of Indonesian sounds and pronunciation only. The theoretical framework used in this study is based on error analysis theory such as Corder, Selinker and Richards. It is also based on structural linguistic theories such as those elaborated by Pike and those put forward by Kridalaksana in analyzing sound errors in Indonesian. The design of the research method used in this study is in accordance with the error analysis in analyzing the error data collected from the talk show audience survey at each television station in Indonesia. This research was conducted to analyze the errors of vowels, diphtongs, and consonants. This investigation shows that the errors found in the data are as follows: inter-language errors such as hypercorrection to take advantage of the use of standard languages caused by mother tongues such as Javanese, Batak, and Slang. AbstrakPenelitian ini membahas tentang analisis kesalahan pengucapan pada talkshow yang terjadi di beberapa stasiun televisi di Indonesia. Data yang dianalisis merupakan data yang digunakan untuk mengetahui apakah bahasa lisan standar digunakan dalam acara bincang-bincang atau tidak dan apakah kesalahan yang ditemukan dalam acara bincang-bincang dipengaruhi oleh bahasa standar yang digunakan. Penelitian ini merupakan studi fonetik tentang bunyi dan pengucapan bahasa Indonesia. Kerangka teori yang digunakan dalam penelitian ini didasarkan pada teori analisis kesalahan seperti Corder, Selinker, dan Richards. Hal ini juga didasarkan pada teori-teori linguistik struktural seperti yang dielaborasi oleh Pike dan yang dikemukakan oleh Kridalaksana dalam menganalisis kesalahan bunyi bahasa Indonesia. Rancangan metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini sesuai dengan analisis kesalahan dalam menganalisis data kesalahan yang dikumpulkan dari survei penonton talk show di setiap stasiun televisi di Indonesia. Penelitian dilakukan untuk menganalisis kesalahan bunyi vokal, diftong, dan konsonan. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa kesalahan yang ditemukan pada data adalah sebagai berikut: kesalahan antarbahasa seperti hypercorrection untuk menghindari penggunaan bahasa standar yang disebabkan oleh bahasa ibu seperti bahasa Jawa, Batak, dan bahasa gaul.
Corpus Driven Analysis of the Coronavirus Prevention Handbook Ayu Humairoh Hakim; Zamzani Zamzani
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 12, No 1 (2023): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v12i1.3483

Abstract

Information about coronavirus prevention is important to know because coronavirus as the global pandemic after being designated by the World Health Organization (WHO) for four years. The aim of this article is to find out linguistic evidences from the lexical aspects such as lexical items, lexical categories, lexical cohesion and lexical bundles. Then analyzed it through corpus-driven analysis using AntConc software, this software is employed to process the data. This research uses a mix method and concurrent embedded model, after that downloading the data, observation and documentation as technique of collecting data, while the technique of analysis data use converting and compiling data, reduction data classification data and display data. The results of the quantitative and qualitative analyses show the result of corpus driven analysis through AntConc show the most common of lexical and syntactical aspects such as word classes, and sentences patterns used in the coronavirus prevention handbook.  AbstrakInformasi tentang pencegahan virus korona penting untuk diketahui, karena virus korona sebagai pandemi global setelah ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) setelah berjalan selama satu tahun. Tujuan dari artikel ini adalah untuk mencoba mencari tahu bukti linguistik dari aspek leksikal dan sintaksis. Kemudian dianalisis melalui analisis berbasis korpus menggunakan aplikasi Antconc, perangkat lunak ini digunakan untuk memproses data. Penelitian ini menggunakan metode campuran dan model campuran tidak berimbang, setelah itu mengunduh data, observasi, dan dokumentasi sebagai teknik pengumpulan data, adapun teknik data analisis menggunakan data konversi dan penyusunan data, data klasifikasi data pengurangan dan data tampilan. Hasil analisis kuantitatif dan kualitatif menunjukkan hasil AntConc dan menunjukkan aspek leksikal dan sintaksis yang paling umum seperti kelas kata, dan pola kalimat yang digunakan dalam buku pegangan pencegahan virus korona. 
Inovasi Leksikal dalam Tuturan Bahasa Aceh Generasi Z Denni Iskandar; Armia Armia; Dohra Fitrisia; Nurrahmah Nurrahmah
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 14, No 2 (2025): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v14i2.8472

Abstract

Lexical innovation is a linguistic phenomenon that reflects the dynamic development of language amid social change and the rise of digital culture. This study aims to describe the forms of lexical innovation used by Generation Z speakers of Acehnese in their everyday interactions, particularly within the domain of digital communication. This research employs a qualitative descriptive method. The data consist of authentic utterances collected from online conversations on WhatsApp, Instagram, and TikTok, recordings of face-to-face interactions, and informal interviews with Generation Z speakers. The data were gathered through non-participant observation, documentation of screenshot messages, and responsive interviewing. The analysis draws on theories of lexical innovation and the framework of contextual clues to word-making to examine how new lexical forms are created, how their functions shift, and how their meanings change.The findings reveal that Generation Z produces lexical innovations through four main mechanisms: (1) adaptation of Indonesian slang, (2) phonological modification, (3) morphological play, and (4) semantic shift. Forms such as emang boleh, sapay, gemoy, lucknut, misqueen, ani-ani, online, and di luar jangkauan illustrate how elements of Indonesian, English, and digital-technology discourse are utilized to create new variations within Acehnese speech. These innovations serve to express humor, social closeness, evaluation, and generational identity. The study demonstrates that the Acehnese language continues to adapt to technological developments and the communicative patterns of the digital generation, revealing linguistic creativity that contributes to sustaining the vitality of regional languages in contemporary digital communication. Abstrak Inovasi leksikal merupakan salah satu fenomena kebahasaan yang menunjukkan dinamika perkembangan bahasa di tengah perubahan sosial dan budaya digital. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk-bentuk inovasi leksikal yang digunakan oleh Generasi Z penutur bahasa Aceh dalam interaksi sehari-hari, khususnya pada ranah komunikasi digital. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data penelitian berupa tuturan autentik yang diperoleh dari percakapan daring pada WhatsApp, Instagram, TikTok, rekaman interaksi langsung, dan wawancara informal dengan penutur Generasi Z. Data dikumpulkan melalui observasi nonpartisipatif, dokumentasi tangkapan layar percakapan, serta wawancara responsif. Analisis data dilakukan menggunakan teori inovasi leksikal dan kerangka contextual clues to word-making untuk melihat proses pembentukan, perubahan fungsi, dan pergeseran makna bentuk-bentuk leksikal tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Generasi Z menghasilkan inovasi leksikal melalui empat mekanisme utama: (1) adaptasi slang bahasa Indonesia, (2) modifikasi fonologis, (3) pelesetan morfologis, dan (4) pergeseran makna. Bentuk-bentuk seperti emang boleh, sapay, gemoy, lucknut, misqueen, ani-ani, online, dan di luar jangkauan menunjukkan bagaimana unsur bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan teknologi digital dimanfaatkan untuk membentuk variasi baru dalam tuturan bahasa Aceh. Inovasi tersebut berfungsi untuk mengekspresikan humor, keakraban sosial, penilaian, dan identitas generasi muda. Temuan ini menunjukkan bahwa bahasa Aceh terus menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi dan pola komunikasi generasi digital, serta memperlihatkan kreativitas linguistik yang berperan dalam mempertahankan vitalitas bahasa daerah dalam praktik komunikasi era digital.
MODEL PENGGUNAAN BAHASA INGGRIS PADA IKLAN DI STASIUN TELEVISI INDONESIA Sany Rohendi Apriad; Vina Fatimah Agustina
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 1, No 2 (2012): Jurnal Ranah
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v1i2.49

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan iklan di stasiun televisi di Indonesia yang lebih memilih menggunakan bahasa Inggris dalam mengemas suatu iklan agar lebih menarik perhatian pemirsanya. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif, yaitu menggambarkan secara sistematis fakta dan karakteristik objek yang diteliti secara tepat. Data yang diteliti adalah fakta bahasa yang terkandung dalam iklan di media televisi di Indonesia. Penelitian ini akan menggambarkan situasi kebahasaan seperti campur kode, alih kode dan bahasa tunggal yang disebabkan oleh penggunaan bahasa Inggris dalam iklan di mana ketiga situasi kebahasaan tersebut terklasifikasikan pada model-model penggunaan bahasa Inggris seperti (1) percakapan yang menggunakan bahasa Inggris, (2) slogan iklan yang menggunakan bahasa Inggris, (3) pertanyaan artis/aktor kepada pemirsa yang menggunakan bahasa Inggris, (4) penamaan produk barang dengan menggunakan bahasa Inggris, (5) monolog yang menggunakan bahasa Inggris dan (6) nyanyian yang menggunakan bahasa Inggris.
Pengembangan Model Pembelajaran SNC Berbasis Teori Strukturalisme, Generativisme, dan Nativisme untuk Meningkatkan Membaca Pemahaman Siswa Sekolah Dasar Nurhaedah Nurhaedah; Jufri Jufri; Sakaria Sakaria
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 15, No 1 (2026): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v15i1.8562

Abstract

This study aims to develop an SNC (structuralism, generativism, and nativism) learning model for fifth grade elementary school students. The study uses a research and development (R&D) approach with a 4D development model consisting of the Define, Design, Develop, and Disseminate stages. The developed model is assessed through validity and practicality tests. The validity test involved learning model experts and subject matter experts, while the practicality test was conducted through observation of the learning process, teacher responses, and student responses. The average score of the model validation test by two validators was 3.64, which is in the highly valid category. The results of the practicality test based on the observation results showed that the model was highly practical. The results of the SNC model practicality test based on teacher questionnaire responses covering the aspects of clarity, ease, suitability, and usefulness showed an average score of 3.48, which is in the very practical category. The results of the student response questionnaire for the practicality test of the model showed an average score of 3.46, which is in the very practical category. Thus, the SNC learning model is recommended as an alternative learning model in elementary schools. Abstrak Penelitian ini bertujuan mengembangkan model pembelajaran SNC (struktural, nativism, dan generativism) di kelas 5 Sekolah Dasar. Penelitian menggunakan jenis research and development (R&D) dengan model pengembangan 4D yang terdiri dari tahap Define, Design, Develop, Disseminate. Penilaian model yang dikembangkan dilakukan melalui uji validitas dan kepraktisan. Uji validitas melibatkan ahli model pembelajaran dan ahli materi, sedangkan uji kepraktisan dilakukan dengan observasi pelaksanaan pembelajaran, respons guru, dan respons peserta didik. Rerata skor uji validasi model oleh dua validator menunjukkan nilai 3,64 atau berada pada kategori sangat valid. Hasil uji kepraktisan berdasarkan hasil observasi menunjukkan kategori sangat praktis. Hasil uji kepraktisan model SNC berdasarkan respons angket guru yang memuat aspek kejelasan, kemudahan, kesesuaian, dan kemanfaatan menunjukkan rerata nilai 3,48 atau berada pada kategori sangat praktis. Hasil angket respons peserta didik untuk uji kepraktisan model menunjukkan rerata nilai 3,46 atau berkategori sangat praktis. Adapun efektivitas model pengembangan ini yakni mengoptimalkan keterlibatan aktif siswa dalam memahami teks yang kompleks, sekaligus menumbuhkan kemandirian literasi yang berkelanjutan di level pendidikan dasar. Penelitian ini memberikan kebaruan dalam cara memandang proses membaca pemahaman siswa SD, bukan sekadar sebagai aktivitas mekanis-reseptif, melainkan sebagai proses kognitif kompleks yang memanfaatkan potensi alami kebahasaan (Language Acquisition Device) untuk membedah struktur teks dan membangun makna baru secara generatif. Dengan demikian, keterkaitan ketiga teori linguistik ini dalam model SNC menciptakan sebuah ekosistem pembelajaran yang holistik; mulai dari pemanfaatan potensi biologis anak, penguasaan sistem tanda yang teratur, hingga pencapaian kemandirian kognitif dalam merekonstruksi makna bacaan di tingkat pendidikan dasar. Model pembelajaran SNC di SD Inpres Bira 2 Makassar mengintegrasikan tiga pilar linguistik untuk meningkatkan membaca pemahaman: Nativisme mengoptimalkan potensi alami otak (LAD) dalam menyerap bahasa, Strukturalisme melatih ketelitian siswa membedah pola kalimat secara sistematis, dan Generativisme mendorong kemampuan siswa mentransformasikan teks menjadi pemahaman konsep yang mendalam. Sinergi ini memastikan siswa tidak hanya mampu mengenali struktur kebahasaan, tetapi juga secara kritis memproduksi makna dari setiap bacaan. Sehingga, model pembelajaran SNC layak direkomendasikan sebagai alternatif model pembelajaran di sekolah dasar.
LEKSIKON KEKERABATAN ETNIK MELAYU PALEMBANG Rahmat Muhidin
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 6, No 1 (2017): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v6i1.258

Abstract

This is research aims to identity and classify the kinship lexicon then explain the role and meaning in Palembang Malay greetings. The research used descriptive method. The technique used was ethnographical interview Palembang Malay ethnic in communicating either in nuclear family based on matchmaking or bloodline (offspring). That research result showed that the role and meaning of lexicon kinship dislayed that the people considered as close relatitive are family. Family relation is both consanguine and afinal. It is categorized into ego aligned, over ego, and below ego. ABSTRAKPenelitian ini dilakukan untuk menjelaskan identitas dan mengklasifikasi leksikon kekerabatan dengan menjabarkan peran dan makna sapaan bahasa Melayu Palembang. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Teknik pengambilan data dengan menggunakan wawancara yang berkaitan secara etnografi. Hasil kajian leksikon kekerabatan bahasa Melayu Palembang di Kota Palembang adalah sebagai berikut: Etnik Melayu Palembang dalam berkomunikasi pada keluarga inti (keluarga batih) berdasarkan pada pertalian darah dan hubungan karena perkawinan. Kategori hubungan itu dapat dikelompokkan menjadi: hubungan sejajar ego/pribadi, di atas ego, dan di bawah ego.

Page 5 of 39 | Total Record : 386