cover
Contact Name
Winci Firdaus
Contact Email
wincifirdaus1@gmail.com
Phone
+6288802310216
Journal Mail Official
jurnalranahbahasa@gmail.com
Editorial Address
Jalan Daksinapati Barat IV
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
ISSN : 23388528     EISSN : 25798111     DOI : https://doi.org/10.26499/rnh
Core Subject :
https://ojs.badanbahasa.kemendikdasmen.go.id/jurnal/index.php/jurnal_ranah/about/editorialPolicies#focusAndScope
Arjuna Subject : -
Articles 386 Documents
Variasi Maksud Kata Emotif “Wela” dalam Bahasa Jawa: Perspektif Sosiopragmatik Kunjana Rahardi
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 9, No 2 (2020): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v9i2.2937

Abstract

This study aims to describe manifestation of the variations of  meanings of the emotive word 'wela' in Javanese language. The research data were in the form of snippets of utterances which contain variations of meanings of the Javanese emotive word 'wela'. The source of the substantive data was the daily speech of villagers in which there were manifestations of variations in the meaning of the emotive word 'wela'. The data were collected using the observation and interview method. The observation method was done by using the recording and note-taking technique. The interview method was carried out with the face-to-face interview and the indepth interviewing techniques. The next step is the data identification, data classification, and data typification. Data that had been typified were then subjected to data analysis methods and techniques, but previously triangulated to the experts. Data analysis was performed using extralingual equivalent analysis method. Through this research, six meanings of the emotive word 'wela' have been found in Javanese language, namely: (1) showing the intention of surprise, (2) showing the intention of defense, (3) showing the intention of reminding, (4) showing the intention of surprise, (5) shows the intention of relief to give thanks, (6) shows the intention of disappointment. AbstrakPenelitian ini bertujuan mendeskripsikan variasi manifestasi maksud kata emotif ‘wela’ dalam bahasa Jawa. Data penelitian berupa cuplikan-cupkikan tuturan yang di dalamnya terkandung variasi maksud kata emotif ‘wela’. Sumber data substantifnya adalah tuturan keseharian warga masyarakat perdesaan yang di dalamnya terdapat manifestasi variasi maksud kata emotif ‘wela’. Data dikumpulkan dengan metode simak dan cakap. Metode simak dilakukan dengan teknik rekam dan catat. Metode cakap dilaksanakan dengan teknik cakap semuka dan cakap tansemuka. Langkah selanjutnya adalah identifikasi data, klasifikasi data, dan tipifikasi data. Data yang telah ditipe-tipekan lalu dikenai metode dan teknik analisis data, tetapi  sebelumnya ditriangulasikan terlebih dahulu kepada pakar. Analisis data dilakukan dengan metode analisis padan ekstralingual. Melalui penelitian ini telah ditemukan enam maksud kata emotif ‘wela’dalam bahasa Jawa, yakni maksud: (1) menunjukkan maksud keterkejutan, (2) menunjukkan maksud pembelaan, (3) menunjukkan maksud mengingatkan, (4) menunjukkan maksud keheranan, (5) menenunjukkan maksud kelegaan untuk bersyukur, (6) menunjukkan maksud kekecewaan.
Problematika Pembelajaran Bahasa Sunda Dimensi Linguistik dan Nonlinguistik Opah Ropiah; Fahmi Rakhman; Fajar Sukma Nur Alam
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 12, No 1 (2023): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v12i1.5197

Abstract

The purpose of this research is to find out the problems of learning Sundanese in linguistic and non-linguistic dimensions. The method used is a descriptive method with a qualitative research type. Sources of data in this study were the deputy head of curriculum, Sundanese language teachers, and class X students. Data collection techniques included observation, interviews, and documentation. The instruments used were stationery, interview guides, cell phones, and questionnaires. Data analysis using content analysis. The results of this study are 1) Problems of learning Sundanese language linguistic dimensions phonological errors in 72 cases with a percentage of 53.33%, syntactic errors in 75 cases with a percentage of 55.5%, syntactic errors in 80 cases with a percentage of 59.2, lexical errors -Semantic 20 cases with a percentage of 15%.; 2) The problems of learning Sundanese in the non-linguistic dimension have several obstacles in the implementation of the 2013 curriculum, the teacher's learning model is still monotonous, the teacher's understanding of IT is still lacking, the learning media is still limited, and there is still a lack of student interest and motivation in learning languages. AbstrakTujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui problematika pembelajaran bahasa Sunda dimensi linguistik dan nonlinguistik. Metode yang digunakan yaitu metode deskriptif dengan jenis penelitian kualitatif. Sumber data dalam penelitian yaitu wakil kepala sekolah bagian kurikulum, guru bahasa Sunda, dan siswa kelas X. Teknik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Instrumen yang digunakan yaitu alat tulis, pedoman wawancara, handphone, dan angket. Analisis data menggunakan analisis isi. Hasil penelitian ini yaitu: 1) Problematika pembelajaran bahasa Sunda dimensi linguistik terdiri dari kesalahan fonologi sebanyak 72 kasus dengan persentase 53,33%, kesalahan morfologi sebanyak 75 kasus dengan persentase 55,5%, kesalahan sintaksis 80 kasus dengan persentase 59,2%, dan kesalahan leksiko-semantis 20 kasus dengan persentase 15%; 2) Problematika pembelajaran bahasa Sunda dimensi nonlinguistik terdapat beberapa kendala dalam penerapan kurikulum 2013, model pembelajaran guru yang masih monoton, pemahaman guru terhadap IT masih kurang, media pembelajaran masih terbatas, dan masih kurangnya minat dan motivasi siswa dalam belajar kebahasaan. 
An Attitude in Appraisal Analysis of Interrogator–Suspect Interaction in Indonesia Ramadani Ramadani; Amin Basri; Prima Yanti Siregar; Heridayani Heridayani; Nurima Rizki Dongoran; Asri Sanusi
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 15, No 1 (2026): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v15i1.8538

Abstract

This study aimed to analyse the interpersonal strategies in appraisal system particularly in attitude used by interrogator and suspects during police interrogations in Indonesia. This research employed a qualitative approach with a case study design. Data consisted of interrogation exchanges between interrogator and five theft suspects, collected through recording, observation, and note-taking techniques. Data analysis was conducted using appraisal theory within a Systemic Functional Linguistics (SFL) framework, focusing on the attitude categories (affect, assessment, and appreciation). The results indicate that the affect (feeling) category was the most dominant, primarily used by suspects to express their emotional states. Meanwhile, interrogator predominantly used appraisal (assessment) to shape the suspects' behaviour. These findings suggest a strong power relationship in the interrogation interaction, with interrogator acting as the controlling and enabling party, while the suspects were emotionally distressed. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi interpersonal dalam sistem penilaian, khususnya sikap yang digunakan oleh penyidik dan tersangka selama interogasi polisi di Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data terdiri dari pertukaran interogasi antara penyidik dan lima tersangka pencurian, yang dikumpulkan melalui teknik perekaman, observasi, dan pencatatan. Analisis data dilakukan menggunakan teori penilaian dalam kerangka Linguistik Fungsional Sistemik (SFL), dengan fokus pada kategori sikap (afek, penilaian, dan apresiasi). Hasil menunjukkan bahwa kategori afek (perasaan) adalah yang paling dominan, terutama digunakan oleh tersangka untuk mengekspresikan keadaan emosional mereka. Sementara itu, penyidik sebagian besar menggunakan penilaian (assessment) untuk membentuk perilaku tersangka. Temuan ini menunjukkan hubungan kekuasaan yang kuat dalam interaksi interogasi, dengan penyidik bertindak sebagai pihak pengendali dan pendukung, sementara tersangka mengalami tekanan emosional.
KELAPA SAWIT DAN PUNAHNYA BAHASA LOKAL Sahril Sahril
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 2, No 1 (2013): Jurnal Ranah
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v2i1.54

Abstract

Kehadiran kelapa sawit di tengah masyarakat sebenarnya adalah untuk menambah penghasilan bagi masyarakat setempat. Akan tetapi, di sebalik itu semua ada sektor yang dirugikan, yaitu lingkungan dan ekologi yang berdampak pada punahnya flora dan fauna setempat. Punahnya flora dan fauna berdampak pula pada punahnya bahasa lokal yang ada di daerah tersebut. Di antara bahasa yang punah adalah penamaan untuk flora dan fauna yang punah itu. Melalui kajian ekolinguistik ditemukan penyebab punahnya bahasa lokal. Dari hasil penelitian, ditemukan ada 49 nama flora dan fauna yang tidak lagi diketahui oleh penuturnya, khususnya di kalangan generasi muda.
Pembelajaran Bahasa Indonesia Berbasis Literasi dalam Meningkatkan Minat Baca Siswa: Systematic Literature Review Abdul Kadir; Arisa Arisa; Nur Rahmi
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 15, No 1 (2026): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v15i1.8367

Abstract

This study aims to analyze strategies, media, and instructional practices in Indonesian language learning based on literacy that contribute to improving students’ reading interest. The research employed a Systematic Literature Review (SLR) method with a descriptive qualitative approach. Data were obtained from 102 research articles published in nationally accredited and internationally reputable journals between 2018 and 2025. A stepwise selection process using inclusion and exclusion criteria resulted in 22 relevant articles for analysis. Data were collected through database searches (Google Scholar, Sinta, ScienceDirect, and ERIC) using keywords such as “literacy-based learning,” “Indonesian language,” and “students’ reading interest.” Data were analyzed through thematic synthesis to identify patterns and trends. The findings indicate that literacy-based Indonesian language learning effectively enhances students’ reading interest when supported by contextual strategies, interactive digital media, and active involvement of teachers and school environments. Four main themes emerged from the synthesis: (1) project- and reflection-based literacy strategies, (2) use of digital and multimodal media, (3) teachers’ and school culture roles in building a literacy ecosystem, and (4) challenges and future directions of literacy in the Merdeka Curriculum era. This study provides theoretical contributions by mapping literacy-based learning practices and practical implications for teachers and policymakers to strengthen literacy culture in schools. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis berbagai strategi, media, dan praktik pembelajaran Bahasa Indonesia berbasis literasi yang berkontribusi terhadap peningkatan minat baca siswa. Metode yang digunakan adalah Systematic Literature Review (SLR) dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Data diperoleh dari 102 artikel ilmiah yang dipublikasikan pada jurnal nasional terakreditasi dan jurnal internasional bereputasi selama rentang waktu 2018–2025. Proses seleksi dilakukan secara bertahap menggunakan kriteria inklusi dan eksklusi, hingga terpilih 22 artikel yang relevan untuk dianalisis. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui database search (Google Scholar, Sinta, ScienceDirect, dan ERIC) dengan menggunakan kata kunci “pembelajaran berbasis literasi”, “Bahasa Indonesia”, dan “minat baca siswa.” Analisis data menggunakan teknik sintesis tematik untuk mengidentifikasi pola dan kecenderungan hasil penelitian. Hasil kajian menunjukkan bahwa pembelajaran Bahasa Indonesia berbasis literasi efektif meningkatkan minat baca siswa apabila didukung oleh strategi yang kontekstual, penggunaan media digital yang interaktif, dan keterlibatan aktif guru serta lingkungan sekolah. Empat tema utama yang muncul dalam hasil sintesis meliputi: (1) strategi pembelajaran literasi berbasis proyek dan refleksi, (2) pemanfaatan media digital dan multimodal, (3) peran guru dan budaya sekolah dalam membangun ekosistem literasi, serta (4) tantangan dan arah pengembangan literasi di era Kurikulum Merdeka. Penelitian ini memberikan kontribusi teoretis dalam pemetaan praktik literasi Bahasa Indonesia, sekaligus implikasi praktis bagi guru dan pengembang kebijakan pendidikan untuk memperkuat budaya literasi di sekolah.
UNGKAPAN LISAN BERMAKNA BUDAYA SUATU TINJAUAN ETNOLINGUISTIK Sjane F. Walangarei
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 2, No 1 (2013): Jurnal Ranah
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v2i1.474

Abstract

Global and cultural mixture exist around the world. Big culture will press small culture. This situation can cause the decadency of cultural values and the most importantly demoralization in this generation can be passed over the next generation. This research have been done as one of many ways to save a generation. The research discuss cultural expressions are used by Tondanonese in their daily conversation. These expressions, in general, are in the form of advice and insinuation to warn the society that everything has its rule and must be obeyed by them. Those cultural expressions have been used since long time ago until now. But unfortunately, Tondanonese are unaware those expressions which are in the form of language that emphasize cultural attitudes and actions in which social values/norms, mindsets, and life style existed. The cultural expressions of Tondanonese research have been done to save this generation from the decadency of ethic and to preserve Tondanonese culture which social values and educated thought bounded. ABSTRAKEra global dan penyesuaian budaya terjadi di berbagai belahan dunia ini. Budaya yang kuat akan menekan budaya yang kecil. Situasi ini menyebabkan kemerosotan nilai-nilai budaya dan yang paling dikuatirkan adalah kemerosotan etika pada generasi sekarang dan dikuatirkan akan berlanjut pada generasi berikutnya. Menyikapi hal tersebut, mengangkat budaya orang Tondano adalah salah satu upaya menyelamatkan suatu generasi. Upaya tersebut adalah mengangkat ungkapan yang bermakna budaya di masyarakat Tondano dalam percakapan sehari-hari dan digambarkan secara umum dalam bentuk nasihat dan sindiran. Selain itu, Ungkapan tersebut untuk memperingatkan masyarakat bahwa segala sesuatu memiliki aturan dan harus ditaati sebagai kesepakatan bersama. Hal menarik dari pada masyarakat Tondano yaitu ungkapanungkapan tersebut masih digunakan sampai sekarang. Namun sangat disayangkan, masyarakat Tondano tidak menyadari bahwa ungkapan-ungkapan tersebut merupakan bagian dari bahasa yang mampu menegaskan sikap budaya dan perilaku tentang nilainilai, norma, pola pikir, dan cara hidup masyarakat. Studi tentang ungkapan-ungkapan budaya masyarakat Tondano dilakukan untuk penyelamatan generasi dari kemerosotan etika dan penyelamatan budaya Tondano yang mengandung nilai sosial dan pemikiran-pemikiran yang mendidik.
Promoting an Appreciation for Diversity Through Reading Literary Works to Prevent Radicalism Yunidar Yunidar; Gusti Ketut Alit Suputra; Anjar Kusuma Dewi
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 13, No 2 (2024): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v13i2.7874

Abstract

This study aims to identify the factors of prejudice that can lead to radicalization among elementary school students and to improve understanding of the values of diversity and tolerance through academic literacy. This study was conducted in elementary schools in Palu City involving 500 students who were divided into two groups: experimental and control. The research method used was descriptive research with a quasi-experimental design, where both groups were given pre- and post-tests to measure the increase in attitudes of respect and tolerance. Data were collected through test instruments that measured students' moral attitudes towards diversity and radicalization, while data analysis techniques used descriptive statistics and hypothesis testing. The results showed that the experimental group that participated in the "Baku Sayang and Baku Jaga" program experienced a significant increase in respect and tolerance values. The N-gain score for respect in the experimental group increased by 0.79 (high category), and for tolerance increased by 0.82 (high category), while the control group only showed a moderate increase with N-gain scores of 0.33 and 0.35, respectively. The findings confirm that the program is effective in increasing students’ respect and tolerance which can reduce the potential for radicalization among them. This study suggests that academic literacy-based approaches and discussion groups are effective strategies to support character education in elementary schools. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor prasangka yang dapat menyebabkan radikalisasi di kalangan siswa sekolah dasar serta untuk meningkatkan pemahaman tentang nilai-nilai keberagaman dan toleransi melalui literasi akademik. Penelitian ini dilaksanakan di sekolah dasar Kota Palu dengan melibatkan 500 siswa yang dibagi menjadi dua kelompok: eksperimen dan kontrol. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan desain kuasi-eksperimental, di mana kedua kelompok diberi tes pra dan pasca untuk mengukur peningkatan sikap menghormati dan toleransi. Data dikumpulkan melalui instrumen tes yang mengukur sikap moral siswa terhadap keberagaman dan radikalisasi, sedangkan teknik analisis data menggunakan statistik deskriptif dan uji hipotesis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok eksperimen yang mengikuti program “Baku Sayang dan Baku Jaga” mengalami peningkatan yang signifikan pada nilai rasa hormat dan toleransi. Skor N-gain untuk rasa hormat pada kelompok eksperimen meningkat sebesar 0,79 (kategori tinggi), dan untuk toleransi meningkat sebesar 0,82 (kategori tinggi), sementara kelompok kontrol hanya menunjukkan peningkatan yang moderat dengan skor N-gain masing-masing 0 ,33 dan 0,35. Temuan ini menegaskan bahwa program ini efektif dalam meningkatkan sikap menghormati dan toleransi siswa yang dapat mengurangi potensi radikalisasi di kalangan mereka. Penelitian ini menyarankan bahwa pendekatan berbasis literasi akademik dan kelompok diskusi merupakan strategi yang efektif untuk mendukung pendidikan karakter di sekolah dasar.
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Ranah, Volume 7, Nomor 2, Desember 2018
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 7, No 2 (2018): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Campur Kode dan Alih Kode dalam Pembelajaran Pada Sekolah Dasar di Kabupaten Ogan Kemering Ulu Bambang Sulistyo; Wikanengsih Wikanengsih; Nurhasanah Nurhasanah
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 14, No 1 (2025): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v14i1.8270

Abstract

This study explores the use of code switching and code mixing in elementary education in Ogan Kemering Ulu (OKU) Regency. The main objectives of this study were to identify patterns of code switching and code mixing, factors that influence their use, and their impact on student understanding and engagement. The study was conducted using a qualitative descriptive method, with data collection through classroom observation and semi-structured interviews. This study found that code switching and code mixing are often used by teachers to facilitate student understanding, especially in subjects that use abstract concepts in learning activities. The use of regional languages (Ogan) in teacher explanations helps students understand material that is difficult to understand in Indonesian when the teacher explains. This study also identifies factors that influence the use of code switching and code mixing, such as students' language abilities and socio-cultural contexts. Although the use of these strategies can increase student engagement and participation, there are concerns about the dependence on the mother tongue that can hinder the mastery of Indonesian. The conclusion of the study is that the use of code switching and code mixing strategies in moderation and strategically is important to create an inclusive learning environment and support students' cognitive development and language acquisition. This study contributes to the development of more effective and inclusive teaching practices in multilingual classrooms, as well as providing insights for educational policies in areas with linguistic diversity. Abstrak Penelitian ini mengeksplorasi penggunaan alih kode dan campur kode dalam pendidikan dasar di Kabupaten Ogan Kemering Ulu (OKU). Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi pola penggunaan alih kode dan campur kode, faktor-faktor yang memengaruhi penggunaannya, serta dampaknya terhadap pemahaman dan keterlibatan siswa. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif, dengan pengumpulan data melalui observasi kelas dan wawancara semi-terstruktur. Penelitian ini menemukan bahwa alih kode dan campur kode sering digunakan oleh guru untuk memfasilitasi pemahaman siswa, terutama dalam mata pelajaran yang menggunakan konsep-konsep abstrak yang abstrak pada kegiatan pembelajaran. Penggunaan bahasa daerah (Ogan) dalam penjelasan guru membantu siswa memahami materi yang sulit dipahami dalam bahasa Indonesia ketika guru menjelaskan. Penelitian ini juga mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi penggunaan alih kode dan campur kode, seperti kemampuan bahasa siswa dan konteks sosial budaya. Meskipun penggunaan strategi ini dapat meningkatkan keterlibatan dan partisipasi siswa, terdapat kekhawatiran mengenai ketergantungan pada bahasa ibu yang dapat menghambat penguasaan bahasa Indonesia. Kesimpulan penelitian adalah penggunaan strategi alih kode dan campur kode secara moderat dan strategis penting untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang inklusif dan mendukung perkembangan kognitif serta penguasaan bahasa siswa. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan praktik pengajaran yang lebih efektif dan inklusif di kelas multibahasa, serta memberikan wawasan bagi kebijakan pendidikan di daerah yang memiliki keragaman linguistik.
PENERAPAN MODEL TERAPI LINGUISTIK UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBICARA PENDERITA DISARTRIA Gusdi Sastra; Noviatri Noviatri
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 2, No 2 (2013): Jurnal Ranah
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v2i2.5

Abstract

Penelitian tentang terapi linguistik sudah banyak dilakukan terhadap pasien yang menderita disartria. Disartria adalah gangguan dalam bertutur yang disebabkan oleh kerusakan sistem saraf pusat yang secara langsung mengontrol aktivitas otot-otot yang berperan dalam proses tuturan dalam pembentukan suara pengucapan. Kajian ini membahas tiga isu, yakni bentuk-bentuk lingual dapat diterapkan pada penderita disartria sebelum memperoleh terapi linguistik, pengaruh-pengaruh emosional terhadap pengetahuan leksikal dan semantis dari pasien, dan capaian model terapi linguistik yang diterapkan pada pasien disartria yang kemampuan bertuturnya sudah cacat. Dalam menganalisis data, kajian ini menggunakan teori Prins (2004) dan metode Nunan (1992) yang dipadu dengan Sudaryanto (1993). Bersadarkan penelitian yang sudah dilakukan sebelumnya, dan dengan menerapkan model terapi linguistik, ditemukan bahwa terdapat peningkatan berbicara pasien, hampir 40 persen dari indeks pengetahuan atau informasi lingual, 20 persen semantik, dan 40 persen perasaan. Indeks lingual sangat penting sebagai sebuah cara terapi bagi pasien yang menderita disartria. Peningkatan dalam kemampuan bertutur ini menambah rasa percaya diri bagi penderita disatria di dalam kehidupan sosial.

Page 9 of 39 | Total Record : 386