cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Animal Agricultural Journal
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 340 Documents
PENGARUH PENAMBAHAN TEPUNG RIMPANG TEMU KUNCI (Boesenbergia pandurata ROXB) DALAM RANSUM TERHADAP KETAHANAN TUBUH AYAM BROILER (The Effect of Powder Addition Fingerroot Rhizome (Boesenbergia pandurata ROXB) in The Diet on Broiler Body Resistance) Sari, Clara Sinta; Isroli, Isroli; Atmomarsono, Umiyati
Animal Agriculture Journal Vol 3, No 2 (2014): Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (170.257 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan tepung rimpang temu kunci dalam ransum terhadap ketahanan tubuh ayam broiler dengan mengamati jumlah leukosit, rasio heterofil limfosit (H/L) dan bobot bursa fabrisius. Materi yang digunakan adalah ayam broiler 120 ekor (unsex) umur 1 minggu dengan rata-rata bobot awal ayam sebesar 321,78 ± 7,8 gram. Ransum yang digunakan mengandung energi metabolis 3.133,83-3.229,79 kkal/kg dan protein kasar 21,00-21,33% dengan bahan pakan yang terdiri dari jagung kuning, bungkil kedelai, tepung ikan, pollard, poultry meat meal (PMM), bekatul, premix, minyak nabati dan tepung rimpang temu kunci. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 4 kali ulangan, setiap unit percobaan berisi 6 ekor ayam broiler . Ransum perlakuan yang diberikan yaitu T0 (ransum basal), T1 (ransum basal + 0,8% tepung temu kunci), T2 (ransum basal + 1,2% tepung temu kunci), T3 (ransum basal + 1,6% tepung temu kunci) dan T4 (ransum basal + 2,0% tepung temu kunci). Parameter yang diamati meliputi jumlah leukosit, rasio heterofil limfosit (H/L) dan bobot bursa fabrisius. Data dianalisis dengan analisis ragam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ransum perlakuan tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap jumlah leukosit, rasio heterofil limfosit (H/L) dan bobot bursa fabrisius. Berdasarkan hasil penelitain disimpulkan bahwa penambahan tepung rimpang temu kunci sampai taraf 2% dalam ransum ayam broiler selama 5 minggu perlakuan tidak mengubah ketahanan tubuh ayam broiler.Kata kunci : ayam broiler; rimpang temu kunci; ketahanan tubuh ABSTRACT The aimed of the research was determined the effect of powder addition fingerroot rhizome in the diet on broiler body resistance with observed leukocyte total, heterophile lymphocyte ratio and bursa fabricius weight. The material used were 120 broiler (unsex) age of  1 week with body weight 321.78 ± 7.8 g. The research diet based on 3,133.83-3,229.79 kcal/kg metabolic energy and 21.00-21.33% crude protein with ingredients yellow corn, fine bran, soybean meal, fish meal, pollard, poultry meat meal (PMM), bran, premix, vegetable oil and powder of fingerroot rhizome. The research used completely randomize design (CRD) with 5 treatments and 4 replicates, consisted of 6 broilers per experimental. The treatment given was T0 (basal diet), T1 (basal diet + 0.8% fingerroot powder), T2 (basal diet + 1.2% fingerroot powder), T3 (basal diet + 1.6% fingerroot powder) and T4 (basal diet + 2.0% fingerroot powder). Parameters measured were leukocyte total, heterophile lymphocyte ratio and bursa fabricius weight. The data were analyzed according to analysis of variance. The result shown that the treatment had no significant effect (P>0.05) to total of leukocyte, heterophile lymphocyte ratio and bursa fabricius weight. Based on the results of the research concluded that the addition of fingerroot rhizome powder until 2% in broiler diet during 5 week of treatment didn’t changed body resistance of broiler.Key word : broiler; fingerroot rhizome; body resistance
PENGARUH PERBEDAAN LAMA PERIODE PEMBERIAN PAKAN DAN LEVEL PROTEIN TERHADAP LAJU PAKAN, KONSUMSI PROTEIN, DAN KECERNAAN PROTEIN AYAM PELUNG UMUR 1 MINGGU SAMPAI 11 MINGGU Sholeh, Tri; Sarengat, Warsono; Atmomarsono, Umiyati
Animal Agriculture Journal Vol 1, No 1 (2012): Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (429.273 KB)

Abstract

Productivity of Pelung chicken optimal must be supported by the provision of adequate food, both quality and quantity, to the feeding program should be carried out right on the pelung chicken as needed to serve as a guideline maintenance. The material used was 1 week old pelung chicken unsex as much as 96 tail that is placed on the 24 plots with a size of 60 x 60 x 70 cm, each row there are 4 chickens. Models of experimental design used was Randomized Complete Design (CRD) with 3 treatments ie T1 = treatment by administering Coarse Protein (PK) 18% for 3 weeks and PK 15% for 3 weeks; T2 = treated with PK 18% for 5 weeks and PK 15% for 5 weeks; and T3 = treatment with PK 18% for 7 weeks and then given PK 15% for 3 weeks and each of 8 replicates for each treatment. The parameters observed were feed intake, and feed rate. The data obtained were then analyzed using a variety of F test The results showed that the average of feed rate T1, T2 and T3 was 162.38 minutes 167.25 minutes and 156.83 minutes. The average consumption of protein T1, T2 and T3 32.23 grams, 31.38 grams and 33.02 grams. The average protein digestibility of 76.22% T1, T2 and T3 80.81% 78.93%. The analysis showed that the influence of different kinds of long periods of feeding and protein level and digestibility of feed protein, feed rate no significant effect (P> 0.05), while the fact protein intake is significantly effect (P> 0.05).Key words: pelung chicken, feeding, protein level, feed rate, protein intake, protein digestibility
PENGARUH BERBAGAI FILLER (BAHAN PENGISI) TERHADAP SIFAT ORGANOLEPTIK BEEF NUGGET Astriani, Rina Putri; Kusrahayu, Kusrahayu; Mulyani, Sri
Animal Agriculture Journal Vol 2, No 1 (2013): Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.013 KB)

Abstract

ABSTRACT This study aimed to to determine the effect of various filler on the organoleptic characteristic of beef nugget. This research used Completely Randomized Design (CRD) with 4 replications and 5 treatments ie T0 = wheat flour by 10% of the weight of the meat, cassava flour T1 = 10% of the weight of the meat, arrowroot flour T2 = 10% of the weight of the meat , T3 = yellow sweet potato flour by 10% of the weight of the meat, flour mocaf T4 = 10% of the weight of the meat. Data obtained from the calculation of organoleptic tests continued using non-parametric analysis of Kruskal-Wallis. Based on our research the average value of texture ranging from 2.74 to 3.05 with the criteria of good - not good, and colors ranging from 2.52 to 3.27 with the criteria of chocolate - less chocolate. So it can be concluded that the use of starch derived from tubers by 10% as a filler can be used as a substitute for wheat flour.Keywords: beef nugget, arrowroot flour, cassava flour, yellow sweet potato flour, mocaf flourABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh berbagai filler (bahan pengisi) terhadap sifat organoleptik beef nugget. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan 4 kali ulangan dan 5 perlakuan yaitu T0 = tepung terigu sebesar 10% dari berat daging, T1 = tepung gaplek sebesar 10% dari berat daging, T2 = tepung garut sebesar 10% dari berat daging, T3 = tepung ubi jalar kuning sebesar 10% dari berat daging, T4 = tepung mocaf sebesar 10% dari berat daging. Data yang diperoleh dari hasil perhitungan uji organoleptik dilanjutkan dengan menggunakan analisis non parametrik Kruskal-Wallis. Berdasarkan hasil penelitian rata-rata nilai tekstur yaitu berkisar antara 2,74 - 3,05 dengan kriteria baik - kurang baik ; dan warna yaitu berkisar antara 2,52 - 3,27 dengan kriteria coklat - kurang coklat. Jadi dapat disimpulkan penggunaan tepung yang berasal dari umbi-umbian sebesar 10% sebagai bahan pengisi (filler) dapat digunakan sebagai pengganti tepung terigu.Kata kunci : beef nugget, tepung garut, tepung gaplek, tepung ubi jalar kuning, tepung mocaf
PENGARUH PENAMBAAN EKSKRETAWALET DALAM RANSUM TERHADAP KADAR HEMOGLOBIN, HEMATOKRIT, DAN JUMLAH ERITROSIT DARAH AYAM BROILER Rini, Prima Laksita; Isroli, Isroli; Widiastuti, Endang
Animal Agriculture Journal Vol 2, No 3 (2013): Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.292 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar hemoglobin, hematokrit, dan eritrosit ayam broiler umur 0-5 minggu yang diberi tambahan ekskreta walet dalam ransum. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah 200 ekor ayam broiler umur 1 hari dengan bobot hidup rata-rata 30 g. Pakan yang digunakan merupakan pakan standar dan ditambah ekskreta walet sebanyak 4%, 8%, 12% dan 16%. Kandang yang digunakan pada penelitian ini adalah kandang ”panggung” , terbagi menjadi 20 unit dengan ukuran 80x70 cm per unit untuk 10 ekor ayam broiler. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang digunakan adalah T0= ransum tanpa ekskreta walet; T1= ransum ditambah 4% ekskreta walet; T2= ransum ditambah 8% ekskreta walet; T3= ransum ditambah 12% ekskreta walet; T4= ransum ditambah 16% ekskreta walet. Parameter yang diamati adalah kadar hemoglobin, hematokrit dan eritrosit. Seluruh data yang diperoleh akan dilakukan analisis varians (analisis ragam) untuk membandingkan perbedaan antar perlakuan. Hasil penelitian menunjukan bahwa penambahan ekskreta walet dalam ransum tidak berpengaruh terhadap rataan parameter yang diukur, sehingga tidak dilakukan uji lanjutan yaitu Duncan, dimana rata-rata yangdiperoleh pada perlakuan T0, T1, T2, T3 dan T4 berturut-turut untuk hemoglobin masing-masing adalah 7,33; 6,33; 6,28; 5,95 dan 5,98 (mg/dl), hematokrit adalah 25,25; 24,75; 23,5; 23 dan 22,75 (%). Eritrosit adalah 2,60; 2,24; 2,21; 2,09 dan 1,79 (j/ml). Kesimpulan dari penelitian ini, penggunaan ekskreta walet dalam ransum sampai tingkat 16% tidak berpengaruh terhadap kadar hemoglobin, hematokrit, dan eritosit darah ayam broiler.
PERUBAHAN SIFAT FUNGSIONAL TELUR AYAM RAS PASCA PASTEURISASI Siregar, Risa Fazriyati; Hintono, Antonius; Mulyani, Sri
Animal Agriculture Journal Vol 1, No 1 (2012): Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (340.133 KB)

Abstract

Telur pasteurisasi merupakan salah satu cara untuk mebunuh mikroba khususnya Salmonella yang terdapat pada cangkang telur tanpa mengurangi sifat fungsionalnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh interaksi lama penyimpanan dan metode pasteurisasi pada telur segar terhadap sifat fungsional telur. Telur pasteurisasi diamati sifat fungsionalnya mulai minggu pertama hingga minggu keempat. Kriteria yang diamati meliputi: stabilitas emulsi kuning telur, daya buih putih telur dan stabilitas buih putih telur. Pengamatan diulang sebanyak 3 kali, kemudian dianalisis dengan uji Duncan Multiple Range Test. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa stabilitas emulsi kuning telur berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap lama penyimpanan tetapi tidak ada interaksi antara lama penyimpanan dan metode pasteurisasi. Daya buih putih telur menunjukkan ada pengaruh interaksi antara lama penyimpanan dengan metode pasteurisasi. Daya buih putih telur tertinggi diperoleh pada metode pasteurisasi kering pada lama penyimpanan minggu ke-3 yaitu dengan rata-rata 373,33 %. Stabilitas buih putih telur berperngaruh nyata (P<0,05) terhadap lama penyimpanan tetapi tidak ada interaksi antara lama penyimpanan dan metode pasteurisasi. Dari penelitian ini daat disimpulkan bahwa sifat fungsional telur pasteurisasi tidak berbeda dengan sifat fungsional telur tanpa pasteurisasi sehingga layak untuk digunakan atau diolah menjadi pangan.ABSTRACTPasteurization egg is one way to kill the microbes, especially Salmonella which found in egg shell without decreasing the functional charateristic. The purpose of this research are to knowing the effect of strorage time interaction and pasteurization method in fresh egg functional characteristic of fresh egg. Pasteurization egg have been checked starts from the fist week until the fourth week. There are many characteristic have been checked, such as the stability of yolk emulsion egg, egg foam caacity and albumin foam stability. Observation have replicate in 3 time and the result were analyzed with duncan Multiple Range Test. The result of observation showed that the stability of yolk emulsion have a real (P<0,05) to stroge time but there is not in interaction between stroge time and pasteurization method. The albumin foam capacity showed that there’s an interaction effect between storsge time with pasteurization method. The highest albumin foam capacity were founded in dry pasteruzation method in the 3rd week, with 373,33% in rate. The stabiliti of albumin foam have the real effect (P<0,05) at storaget time, but there is no interaction this research. We can conclude that the funcitional characteristic of pasteurization egg is not different with the fungtional characteristic of egg without pasteurizatoin so secyre to consumen 
PENGARUH PENGGUNAAN TEPUNG BUAH JAMBU BIJI MERAH DALAM RANSUM TERHADAP PERTUMBUHAN TULANG AYAM BROILER Hastuti, Desi Tri; Mahfuds, Luthfi Djauhari; Sarengat, Warsono
Animal Agriculture Journal Vol 2, No 2 (2013): Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.672 KB)

Abstract

ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan tepung buah jambu biji merah dalam ransum terhadap pertumbuhan tulang ayam broiler. Ayam broiler umur 16 hari unsex strain MB 202 sebanyak 120 ekor dengan bobot rata – rata 389,33 ± 7,9 g. Dua puluh unit petak kandang dengan masing-masing unit berisi 6 ekor ayam. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan, T0 (kontrol) : ransum tanpa penggunaan tepung buah jambu biji merah; T1 : ransum dengan penggunaan tepung buah jambu biji merah 1,7%; T2 : ransum dengan penggunaan tepung buah jambi biji merah 3,4% ; T3 : ransum dengan penggunaan tepung buah jambu biji merah 5,1%; T4 : ransum dengan vitamin C 500 ppm. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan prosedur analisis ragam dengan uji F pada taraf 5 % dan apabila hasil analisis menunjukkan pengaruh perlakuan yang nyata akan dilanjutkan dengan uji wilayah ganda Duncan dengan program SAS versi 9.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan dengan penggunaan tepung buah jambu biji merah level 1,7% berpengaruh terhadap lingkar tulang tibia dan panjang tulang tarsometatarsus, namun tidak berpengaruh terhadap bobot hidup, panjang, berat, dan lingkar tulang femur, panjang, berat tulang tibia, berat dan lingkar tulang tarsometatarsus.Kata kunci : broiler, ransum, jambu biji merah, pertumbuhan tulangABSTRACT The goals of this study is to find out the utilization of red guava fruit meal in the diet on broiler bone growth. Broiler chickens at 16 days old unsex strain MB 202 ammount 120 with average weight 389,33 ± 7,9 g. Twenty unit cages with each unit placed 6 broiler chicken This research used completely randomized design with 5 treatments and 4 replications, T0 (control): rations without red guava fruit meal, T1: ration with red guava fruit meal 1,7%, T2: ration with red guava fruit meal 3,4%, T3: ration with red guava fruit meal 5,1%. The data obtained were analyzed using various analytical procedures F-test with level 5% and if the result of the analysis show that the real effect of treatment will be followed by Duncan's test with SAS program version 9.0. The results showed that treatment with red guava fruit meal 1,7% in the diet give effect to diameters of tibia bone and long of tarsometatarsus bone, but had not effected to live weight, long; diameter and weight of femur bone, long and weight of tibia bone, diameter and weight of tarsometatarsus bone.Key words: broiler, ration, red guava fruit, bone growth
KANDUNGAN LEMAK, TOTAL BAHAN KERING DAN BAHAN KERING TANPA LEMAK SUSU SAPI PERAH AKIBAT INTERVAL PEMERAHAN BERBEDA Vergi, Mentari Diana; Suprayogi, Teguh Hari; Sayuthi, Suranto Moch
Animal Agriculture Journal Vol 4, No 2 (2015): Volume 4 Nomor 2 Tahun 2015
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (162.622 KB)

Abstract

ABSTRAK    Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan interval pemerahan yang berbeda guna memperbaiki tampilan mutu susu atau kandungan lemak, total bahan kering dan bahan kering tanpa lemak (BKTL). Materi yang digunakan adalah 16 ekor sapi perah Friesian Holstein (FH) pada bulan laktasi ke-4 dan 5, bobot badan rata-rata 373,27±27,32 kg (CV 7,32%), dan produksi susu rata-rata 12,50±0,06 liter (CV 0,46%). Rancangan percobaan yang digunakan adalah Crossover Designs. Perlakuan yang dicobakan adalah P1 (interval pemerahan 12:12 jam) dan P2 (interval pemerahan 16:8 jam). Parameter yang diamati meliputi lemak susu, total bahan kering dan bahan kering tanpa lemak. Data hasil penelitian dianalisis dengan uji F. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan lemak susu P1 dan P2, masing-masing 0,56 dan 0,50 kg/ekor/hari dan berbeda nyata (P<0,05). Kandungan total bahan kering pada P1 dan P2, masing-masing 1,80 dan 1,56 kg/ekor/hari dan berbeda nyata (P<0,05). Kandungan BKTL pada susu untuk perlakuan P1 dan P2, masing-masing 19,76 dan 17,34  kg/ekor/hari dan berbeda nyata (P<0,05). Kesimpulan yang dapat diambil adalah interval pemerahan 12:12 jam dapat meningkatkan kualitas susu dibandingkan interval pemerahan 16:8 jam.Kata kunci : Sapi Perah FH; Interval Pemerahan; Kualitas Susu. ABSTRACT This study aimed to compare the milking interval on milk fat content, Total Solid and Solid Non Fat (SNF). The dairy cattle used was 16 Frisien Holstein cows at the second and third milking periods and at fourth and fifth months of lactation. The average of body weight and milk production were 373.27 ± 27.32 kg (CV 7.32%) and  12.50 ± 0.06 liters (CV 0.46%). The experimental design used was Crossover Design. The treatment was T1 (milking interval 12:12 hours) and T2 (milking interval 16:8 hours). The parameters observed were milk fat, total solid and solid non fat. The data were analysed by F test. The results showed that milk fat content was 0.56 and 0.50 kg/head/day (P<0.05), total solid content was 1.80 and 1.56 kg/head/day (P<0.05), Solid non fat on milk was 19.76 and 17.34 kg/ head/day (P<0.05 ) for P1 and P2, respectively. In conclusion, the milking interval used by 12:12 hours was better than 16:8 hours to increase milk quality.Keywords: Milking Interval; Fat Content; Total Solid; Solid Non Fat.
KECERNAAN BAHAN KERING DAN BAHAN ORGANIK SECARA IN VITRO HIJAUAN Desmodium cinereum PADA BERBAGAI DOSIS PUPUK ORGANIK CAIR DAN JARAK TANAM Setiyaningsih, Kristiana Desy; Christiyanto, Marry; Sutarno, Sutarno
Animal Agriculture Journal Vol 1, No 2 (2012): Volume 1, Nomor 2, Tahun 2012
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (233.886 KB)

Abstract

Penelitian dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui dan mempelajari kecernaan bahan kering (KcBK) dan bahan organik (KcBO) secara in vitro hijauan D. cinereum pada berbagai dosis pupuk organik cair dan jarak tanam. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) pola faktorial 4 x 2 dengan 3 ulangan. Dosis pupuk organik cair (P) sebagai faktor A (0, 1, 3, dan 5 ml/1 l air/petak) dan jarak tanam (S) sebagai faktor B (50 x 75 cm dan 25 x 50 cm). Parameter yang diamati adalah KcBK dan KcBO. Hasil penelitian menunjukkan bahwa KcBK dan KcBO yang tertinggi dicapai oleh P1S0 dibandingkan P2S0, P0S1, P2S1, P3S1, P1S1, P0S0 dan P3S0. Dosis pupuk organik cair (POC) berpengaruh nyata (p<0,05) terhadap KcBK dan KcBO. Jarak tanam tidak berpengaruh nyata terhadap KcBK dan KcBO. Nilai KcBK dan KcBO adalah 61,64; 61,39; 59,98; 59,67; 58,97; 58,86; 57,86; 53,88% dan 59,63; 59,45; 57,67; 57,23; 56,73; 56,15; 55,75; 48,02%. Dosis POC 3 ml/1 l air/petak (P2) memberikan pengaruh dengan nilai KcBK dan KcBO 60,53% dan 58,34% merupakan nilai kecernaan tertinggi.Kata kunci : D. cinereum; jarak tanam; pupuk organik cair; kecernaan in vitroABSTRACTThis research was conducted with the objective of identifying and studying the dry matter digestibility (DMD) and organic matter digestibility (OMD) in vitro forage D. cinereum at various doses of liquid organic fertilizer and plant spacing. This study used a completely randomized design (CRD) 4 x 2 factorial with three replications. Liquid organic fertilizer (P) as the factor A (0, 1, 3, and 5 ml / 1 l water / plot) and spacing (S) as the factor B (50 x 75 cm and 25 x 50 cm). Parameters measured were DMD and OMD. The results showed that the highest DMD and OMD achieved by comparison P1S0 P2S0, P0S1, P2S1, P3S1, P1S1, P0S0 and P3S0. Liquid organic fertilizer significantly (p <0.05) against DMD and OMD. Planting space did not significantly affect DMD and OMD. DMD and OMD value is 61.64; 61.39; 59.98; 59.67; 58.97; 58.86; 57.86; 53.88% and 59.63; 59.45; 57.67; 57.23; 56.73; 56.15; 55.75; 48.02%. Liquid organic fertilizer dose 3 ml / 1 l water / plot (P2) to give effect to the values DMD 60.53% and OMD 58.34% which is the highest digestibility values.Keyword : D. cinereum; planting space; liquid organic fertilizer; in vitro digestibility
EVALUASI KEBERHASILAN INSEMINASI BUATAN PADA SAPI SIMENTAL – PO (SIMPO) DI KECAMATAN PATEAN DAN PLANTUNGAN, KABUPATEN KENDAL, JAWA TENGAH (Evaluation of Artificial Insemination Simmental – PO (SIMPO) Cow in the Sub-District of Patean and Plantungan, Kend San, Dona Bella Apri; Yase Mas, I Ketut Gorde; Setiatin, Enny Tantini
Animal Agriculture Journal Vol 4, No 1 (2015): Volume 4 Nomor 1 Tahun 2015
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (247.861 KB)

Abstract

ABSTRAK   Tujuan penelitian untuk mengetahui keberhasilan pelaksanaan IB pada sapi SIMPO di dua kecamatan yang memiliki suhu dan kelembaban berbeda, berdasarkan perhitungan parameternon return rate (NRR), conception rate (CR) dan service per conception (S/C). Materi penelitian berupa data sekunder pelaksanaan IB tahun 2009-2013 dan data primer berupa 60 ekor sapi SIMPO. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah observatif dan dianalisis secara deskriptif serta di uji dengan Uji Proporsi untuk mengetahui perbedaan antar kedua daerah, dan analisis regresi linier untuk menduga berbagai parameterpada tahun 2014. Untuk memudahkan prosedur menghitung dan mencegah terjadinya Humman Error digunakan perangkat lunak statistik conStat.Hasil analisis menunjukan bahwa nilai dugaan tahun 2014 berturut-turut untuk Patean adalah NRR28-35 83,33%; CR 30,80%; S/C 2,9 kali; dan Plantungan NRR28-35 86,66%; CR 57,2%; S/C 1,5 kali. Hasil pengujian uji proporsi untuk CR dan S/C menunjukkan hasil yang berbeda (p<0,05) tetapi untuk NRR hasilnya tidak berbeda.Simpulan penelitian  adalah kemampuan reproduksi sapi SIMPO di Kecamatan Plantungan lebih baik dibandingkan sapi di Kecamatan Patean berdasarkan evaluasi terhadap NRR, CR, dan S/C. Kata kunci: non return rate; conception rate; service per conception; Sapi SIMPOABSTRACT The purpose of this research was to find out about the success of IB implementation for SIMPO cows in both of district which have different temperature and humidity based on, non return rate (NRR), conception rate(CR) and service per conception (S/C).The materials of this research was secondary data of IB implementation from 2009 until 2013 and the primary data was 60 SIMPO cows. The method that used in this study was observational and drscriptive analysis, and has passed the proportional test in order to determine the difference between the two regions, then linier regression analysis to estimate various parameters of 2014. To make the counting procedure easier and prevent humman error this research used statistical shoftware conStat. The result proved that presumption value 2014 there was a different results fo successively wereNRR28-35 83,33%; CR 30,80%; S/C 2,9 times for Patean and for Plantungan were NRR28-35 86,66%; CR 57,2%; S/C 1,5 times. The result of proportion test for CR and S/C showed different (p<0,05) but there was no differences for NRR result. The conclusion of this research that reproduction capability based on evaluation to NRR, CR and S/C of SIMPO cows in Plantungan district was better than SIMPO cows in Patean District Keywords : non return rate; conception rate; service per conception; SIMPO cows
KADAR VFA DAN NH3 SECARA In vitro PAKAN SAPI POTONG BERBASIS LIMBAH PERTANIAN DAN HASIL SAMPING PERTANIAN DIFERMENTASI DENGAN A. niger Probowati, Rike Cahyo; Sutrisno, Cornelius Imam; Sumarsih, Sri
Animal Agriculture Journal Vol 1, No 2 (2012): Volume 1, Nomor 2, Tahun 2012
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (238.485 KB)

Abstract

The objectives of the research was to determine and assess the effect variation of level and different time periode fermentation cattle feed based agricultural waste on in vitro level of VFA and NH3. Statistic analysis used Completely Randomized Design (CRD) with a 4x4 factorial pattern repeated 3 times to assess the influence of the levels of A. niger (0, 2, 4 and 6% of dry matter feed) and time periode cattle feed quality (0, 7, 14 and 21 days). The results showed different level starter and time periode fermentation did not show interaction (P<0,05), but each of treatments affect on VFA and NH3 content. Each adding A. niger and different time periode affect the increased VFA and NH3. Each of adding A. niger was increased the levels of VFA and NH3 highest in T4 treatment (A. niger cedar 4%). Each curing time was increase levels of VFA and NH3 highest in treatment B2 (time periode was 14 days).Keywords : agricultural by-product and A. nigerABSTRAKTujuan penelitian adalah mengetahui dan mengkaji pengaruh aras dan lama pemeraman fermentasi limbah dan hasil samping pertanian dengan A. niger terhadap kadar volatile fatty acid (VFA) dan NH3 secara in vitro. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan pola faktorial 4 x 4 dengan 3 ulangan. Faktor pertama adalah aras A. niger (T0, T1, T2, T3) masing – masing (0, 2, 4, 6% dari BK (Bahan kering)). Faktor kedua adalah lama pemeraman (B0, B1, B2, B3) masing – masing (0, 7, 14, dan 21 hari). Parameter yang diukur adalah kadar VFA dan NH3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak adanya interaksi (p>0,05) antara kombinasi perlakuan aras A. niger dan lama pemeraman pada fermentasi pakan berbasis limbah dan hasil samping pertanian terhadap VFA dan NH3. Penambahan aras A. niger dan perbedaan lama peram berpengaruh terhadap peningkatan VFA dan NH3. Masing – masing penambahan aras A. niger dapat meningkatkan kadar VFA dan NH3 tertinggi pada perlakuan T4 (aras A. niger 4%). Masing – masing peningkatan lama peram dapat meningkatkan kadar VFA dan NH3 tertinggi pada perlakuan B2 (Lama pemeraman 14 hari).Kata kunci: limbah pertanian dan A. niger