cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Animal Agricultural Journal
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 340 Documents
ANALISIS PENDAPATAN DAN PROFITABILITAS USAHA TERNAK AYAM PEDAGING KECAMATAN CLUWAK KABUPATEN PATI (The Analysis Of Income And Profitability Of Broiler Enterprisesin Cluwak District Of Pati Regency) Puspita, Putri Mahardhika; Sarengat, Warsono; Imam Santoso, Siswanto
Animal Agriculture Journal Vol 5, No 1 (2016): Volume 5 Nomor 1 Tahun 2016
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (215.292 KB)

Abstract

ABSTRAKSebuah penelitianbertujuan  untukmengetahui besarnya biaya produksi, penerimaan dan pendapatan usaha serta untuk mengetahui tingkat profitabilitas pada usaha peternakan ayam pedaging di Kecamatan Cluwak Kabupaten Pati. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode wawancara dan observasi (pengamatan). Jenis data dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui pengamatan langsung dan hasil wawancara dengan menggunakan kuesioner mengenai aspek teknis dan keuangan. Data primer berupa data Time Series selama  bulan Januari-Desember 2014. Analisis kuantitatif diuji menggunakan one sample t-test, untuk membandingkan nilai profitabilitas terhadap suku bunga deposito perbankan. Berdasarkanhasilpenelitian pendapatan bersih usaha peternakan ayam broiler di Kecamatan Cluwak pada tahun 2014 mencapai Rp 40.998.101.Nilai profitabilitas yang dicapai pada tahun 2014 sebesar 7,52%. Berdasarkan one sample t-test perbandingan profitabilitas dengan suku bunga deposito perbankan, menunjukkan hanya terdapatsatu perusahaan dari 5 perusahaan inti yang berbeda nyata (P≤0,05), sedangkan keempat yang lain tidak berbeda nyata (P>0,05). Simpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah profitabilitassebagian besar peternak plasma dari seluruh perusahaan inti di Kecamatan Cluwak menghasilkankeuntunganmelalui angka profitabilitas yang lebih besar dibanding suku bunga deposito bank.Kata kunci : ayam pedaging; pendapatan;profitabilitas ABSTRACT A study aimed to determine the cost of production, revenues and incomes as well as to determine the level of profitability in broiler chicken farm in the district Cluwak Pati Regency. Methods of data collection in this study using interviews and observation (observation). The type of data collected primary data and secondary data. The primary data obtained through direct observation and interviews with questionnairs regarding technical and financial aspects. Primary data was Time Series’sdataduring January to December 2014. The quantitative analysis was tested using a one-sample t-test, to compare the profitability towards of the bank deposit interest rate. Based on the research net,  income of broiler chicken farm in the Cluwak district in 2014 reached Rp 40,998,101. Value of profitability achieved in 2014 amounted to 7.52%. Based on one sample t-test comparison of the profitability of the bank deposit interest rate, suggests there was only one company from 5 enterprisesreached significantly different (P≤0,05). The conclusions obtained from this study was mostly plasma farmers profitability from whole core companies in the District Cluwak gainedprofitabilityvalues greater than bank deposit rates.Keywords : broiler ; income; profitability
PENGARUH PERBEDAAN LAMA PERIODE (STARTER - FINISHER) PEMBERIAN PAKAN DAN LEVEL PROTEIN TERHADAP NISBAH DAGING TULANG DAN MASSA PROTEIN DAGING DADA DAN PAHA AYAM PELUNG UMUR 1 MINGGU SAMPAI 11 MINGGU Samsudin, Muh; Sarengat, Warsono; Nasution, Maulana Hamonangan
Animal Agriculture Journal Vol 1, No 1 (2012): Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (370.239 KB)

Abstract

The study purpose to determine the effect of difference in feeding period (starter – finisher) and protein level meat – bone ratio and protein mass of breast and thigh of pelung chicken from 1 to 11 weeks old of age. The material used was 1 week old chickens pelung with sex between male and female are not distinguishability (mixture) of 96 tail-weight 49.92 +0.35 grams (0.701% CV). Feed used in this study are corn, rice bran, fish meal and broiler concentrate so CP 112. Research using experimental design using Complete Randomized Design (CRD) with 3 treatments ie T1 = treatment by administering Coarse Protein (PK) 18% for 3 weeks and PK 15% for 7 weeks; T2 = treated with PK 18% for 5 weeks and PK 15% for 5 weeks; and T3 = treatment with PK 18% for 7 weeks and then given PK 15% for 3 weeks and each of 8 replicates for each treatment. The parameters observed were feed intake, and feed rate. The results showed that the difference in length of feeding period and protein level no significant effect (P> 0.05) against the ratio of meat and bone mass of the thigh meat protein, while the mass of the protein significantly affect breast meat (P <0.05).Key words: pelung chicken, meat - bone ratio, the mass of the chest and thigh meat protein.
KARAKTERISTIK KARKAS KAMBING KACANG, KAMBING PERANAKAN ETTAWA, DAN KAMBING KEJOBONG JANTAN PADA UMUR SATU TAHUN Sumardianto, Tubagus Adi Prasojo; Purbowati, Endang; Masykuri, Masykuri
Animal Agriculture Journal Vol 2, No 1 (2013): Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.432 KB)

Abstract

ABSTRACT Bangsa ternak merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi karakteristik karkas sebelum pemotongan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui karateristik karkas meliputi bobot potong, bobot dan persentase karkas, komponen karkas (daging, tulang, dan lemak), serta meat bone ratio tiga bangsa kambing di Jawa Tengah. Materi penelitian ini adalah 11 ekor kambing jantan dengan umur 1 tahun (poel 1) yang terdiri atas 4 ekor kambing Kacang, 4 ekor kambing Peranakan Ettawa (PE), dan 3 ekor kambing Kejobong. Penelitian mengunakan metode Independent Sample Comparison. Data hasil penelitian dianalisis dengan uji F dan apabila terdapat perbedaan dilanjutkan dengan uji Wilayah-Berganda Duncan. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa bobot potong dan karkas kambing Kacang (15 dan 5,63 kg) sangat nyata (P<0,01) lebih rendah dari pada Kambing PE (24,49 dan 9,89 kg) dan Kejobong (23,45 dan 10,35 kg), tetapi persentase karkasnya tidak berbeda nyata (P>0,05). Bobot daging, lemak, tulang, dan jaringan ikat pada kambing Kacang (3,34 kg, 546,22 g, 1,56 kg, dan 146,98 g) lebih rendah (P<0,01) dari pada kambing PE (6,09 kg, 837,10 g, 2,65 kg, dan 301,30 g) dan Kejobong (6,40 kg, 977,45 g, 2,67 kg, dan 293,64 g), tetapi persentase komponen karkas tidak berbeda nyata. Meat bone ratio tidak berbeda nyata diantara ke-3 bangsa kambing, dengan rata-rata 2,61. Disimpulkan bahwa bobot potong, bobot karkas, dan bobot komponen karkas kambing Kacang lebih rendah daripada kambing Peranakan Etawa, dan Kejobong jantan pada umur 1 (satu) tahun, tetapi persentase karkas dan komponen karkasnya relatif sama.Kata kunci : karkas, komponen karkas, kambing Kacang, kambing Peranakan Ettawa, kambing KejobongABSTRACTBreed livestock was one of the factors that affected carcass characteristics before slaughter. The purpose of this study was to determine carcass characteristics includes the slaughter weight, , weight and percentage of carcass, carcass components (meat, bone, and fat) and meat bone ratio of three different breeds of goats in Central Java. The material used in this study were 11 male goats by age 1 year which consists of the Kacang goat (four heads), Ettawa Crossbred goat (four heads), and Kejobong goat (three heads). The research method used the Independent Sample Comparison. The data obtained were analyzed by analysis of variance, and if there was any significant difference it was followed by Duncan Multiple Range test. The results showed that the slaughter and carcass weight of Kacang goat (15 and 5.63 kg) was significantly (P <0.01) lower than Ettawa Crossbred goat (24.49 and 9.89 kg) and Kejobong goat (23.45 and 10.35 kg), but the carcass percentage were not significantly different (P> 0.05). Weight of meat, fat, bone, and connective tissue in Kacang goat (3.34 kg, 546.22 g, 1.56 kg and 146.98 g) was lower (P <0.01) than Ettawa Crossbred goat (6 .09 kg, 837.10 g, 2.65 kg and 301.30 g) and Kejobong goat (6.40 kg, 977.45 g, 2.67 kg and 293.64 g), but the percentage of carcass components were not significantly different. Meat bone ratio was not significantly different among the three breeds of goats, with an average of 2.61. It was concluded that the slaughter weight, carcass weight, and the weight of carcass components of male Kacang goat were lower than male Ettawa Crossbred goats, and male Kejobong at one year old, but the percentage of carcasses and carcass components relatively similar.Keywords: carcass, carcass components, Kacang goat , Ettawa Crossbreed goat, Kejobong goat
PENGARUH UMUR TERHADAP UKURAN TESTIS, VOLUME SEMEN DAN ABNORMALITAS SPERMATOZOA PADA SAPI SIMMENTAL DI BALAI INSEMINASI BUATAN UNGARAN (Influence of Age on The Testiscular Size, Volume of Semen and Sperm Abnormalities at Simmental Cattle in Ungaran of Art Wiyanto, Aris; Yase Mas, I Ketut Gorde; Sutiyono, Barep
Animal Agriculture Journal Vol 3, No 2 (2014): Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.627 KB)

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh umur pada pejantan terhadap ukuran testis, abnormalitas sperma dan volume semen. Penelitian menggunakan 15 ekor pejantan sapi Simmental yaitu sapi dengan umur kurang  36 bulan sebanyak 4 ekor,  36–<72 bulan sebanyak 7 ekor dan 72-<108 bulan sebanyak 4 ekor. Metode mengelompokkan sapi berdasarkan umur. Parameter penelitian adalah pengukuran panjang, lebar dan tebal testis serta kualitas dan kuantitas spermatozoa. Analisis statistik adalah Analysis of  Variance  (Anova) pada taraf kepercayaan 5%. Jika terdapat perbedaan dilanjutkan dengan Uji Duncan’s dan analisis korelasi regresi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata pengukuran  pajang testis adalah umur <36 bulan = 15,4 cm, umur 36-<72 bulan = 17,9 cm dan umur 72-<108 bulan = 21,9 cm. Rata-rata lebar testis adalah umur <36 bulan = 6,1 cm, umur 36-<72 bulan = 8 cm dan umur 72-<108 bulan = 8,3 cm. Rata-rata tebal testis adalah umur <36 bulan = 4,9 cm, umur 36-<72 bulan = 6,4cm dan umur 72-<108 bulan = 7,2 cm. Rata-rata abnormalitas primer spermatozoa umur <36 bulan = 12,5%, umur 36-<72 bulan = 8,1% dan umur 72-<108 bulan = 7,9%. Sedangkan rata-rata volume semen umur <36 bulan = 7,2 ml, umur 36-<72 bulan = 7,7 ml dan umur 72-<108 bulan = 9 ml. Berdasarkan analisis data umur pejantan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap panjang testis, lebar testis, tebal testis dan abnormalitas spermatozoa. Sedangkan umur tidak berpengaruh nyata terhadap volume semen. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu pejantan yang mempunyai umur 72-<108 bulan mempunyai kualitas spermatozoa baik dan mempunyai ukuran testis yang paling besar.Kata kunci : Sapi; Umur; Testis; Semen; Spermatozoa. ABSTRACT This research was conducted with the purpose to know the influence of age on the size of the testiscular, sperm abnormalities and semen volume. The research using 15 tails of Simmental cattle is less than 36 month of age as much as 4 tails, 36-<72 month as much as 7 tails and 72-<108 month as much as 4 tails The method is grouping cows by age group. The parameters of the research are measurements the length, width and thickness of testicular as well as the quality and quantity of spermatozoa. Statistical analysis is the Analysis of Variance (ANOVA) at 5% confidence level. If there is a difference then followed by Duncan's Test and regression and analysis of correlation regression.The results showed that the average measurements length of testicular age <36 month = 15,4 cm, age 36-<72 month = 17.9 cm and age 72-<108 month = 21.9 cm.  Average width of testicular age <36 month = 6.1 cm, age 36-<72 month = 8 cm and age 72-<108 month = 8.3 cm. Average thickness of testicular age <36 month = 4.9 cm, age 36-<72 month = 6,4 cm, age 72-<108 month = 7,2 cm. Average primary abnormality of spermatozoa age <36 month = 12.5%, age 36-<72 month = 8,1%and age 72-<108 month = 7,9%. While the average volume of cement age <36 month = 7.2 ml, age 36-<72 month = 7.7 ml and  age 72-<108 month = 9 ml. Base on the data analysis of cattle age significantly (p <0.05) against testicular length, testicular width, testicular thickness and abnormalities of primary spermatozoa. While age had no effect real against volume semen. The conclusions of this research are cow who have aged 72-<108 month having good sperm quality and testicular size have the greatest.Key words: Cattle; Age; testes; semen; spermatozoa.
PEMANFAATAN TANIN ALAMI DALAM MEMPROTEKSI PROTEIN BUNGKIL KELAPA DITINJAU DARI FERMENTABILITAS PROTEIN SECARA IN VITRO Zamsari, Muhamad; Sunarso, Sunarso; Sutrisno, Sutrisno
Animal Agriculture Journal Vol 1, No 1 (2012): Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (192.557 KB)

Abstract

ABSTRACT The study was conducted in three stages: 1) extraction of tannin tea waste, 2) protection of feedstuff protein using tannin extract, 3) test fermentability coconut cake that has been protected with the dregs of tea tannins in vitro. The parameters measured were the production of ammonia, undegraded proteins and total protein. The experiment was conducted using a completely randomized design with 4 treatments and 4 replications. Treatment consists of T0 (coconut + tannin 0%), T1 (+ coconut cake tannins 0.25%), T2 (coconut + tannin 0.50%), T3 (coconut + tannin 0.75%). The data obtained with the analysis conducted various statistical tests and if there are further differences tested using Duncan's Multiple Range Test to determine differences between treatments. The results showed that the protective tannins in tea coconut meal protein can lower ammonia concentration (P <0.05) and increased the proportion of undegraded proteins (P <0.05) and increased production of total protein (P <0.05). The average production of ammonia T0 (3.73 mM) T1 (3.34 mM) T2 (3.25 mM) T3 (2.76 mM), undegraded protein T0 (39.42%) T1 (43.18% ) T2 (42.24%) T3 (41.31%) and total protein T0 (245.35 mg / g) T1 (272.33 mg / g) T2 (311.78 mg / g) T3 (351.48 mg / g). Conclusions from this research that uses tannin protein protection against coconut tea dregs shown to reduce the production of ammonia, increasing undegraded protein and total protein. ABSTRAK Penelitian dilakukan dalam tiga tahap : 1) ekstraksi tanin ampas teh, 2) proteksi bahan pakan sumber protein menggunakan ekstrak tanin, 3) uji fermentabilitas bungkil kelapa yang telah diproteksi dengan tanin ampas teh secara in vitro. Parameter yang diamati adalah produksi amonia, protein tidak terdegradasi dan protein total. Penelitian dilaksanakan menggunakan Rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan terdiri dari T0 (bungkil kelapa+tannin 0 %), T1 (bungkil kelapa+tanin 0,25%), T2 (bungkil kelapa+tanin 0,50%), T3 (bungkil kelapa+tanin 0,75%). Data yang diperoleh dilaksanakan uji statistik dengan analisis ragam dan apabila terdapat perbedaan dilakukan uji lanjut menggunakan Duncan Multiple Range Test untuk mengetahui beda antar perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proteksi tanin ampas teh pada protein bungkil kelapa dapat menurunkan konsentrasi amonia (P<0,05) dan meningkatkan proporsi protein tidak terdegradasi (P<0,05) serta meningkatkan produksi protein total (P<0,05). Rata-rata produksi amonia T0 (3,73 mM) T1 (3,34 mM) T2 (3,25 mM) T3 (2,76 mM), protein tidak terdegradasi T0 (39,42 %) T1 (43,18 %) T2 (42,24 %) T3 (41,31 %) dan protein total T0 (245,35 mg/g) T1 (272,33 mg/g) T2 (311,78 mg/g) T3 (351,48 mg/g). Simpulan dari penelitian ini yaitu proteksi protein menggunakan tanin ampas teh terhadap bungkil kelapa terbukti menurunkan produksi amonia, meningkatkan protein tidak terdegradasi dan protein total.
KUALITAS FISIK TELUR AYAM ARAB PETELUR FASE I DENGAN BERBAGAI LEVEL Azolla microphylla Argo, Langga Bayu; Tristiarti, Tristiarti; Mangisah, Istna
Animal Agriculture Journal Vol 2, No 1 (2013): Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (294.736 KB)

Abstract

ABSTRAKPenelitian bertujuan untuk mengkaji pengaruh penggunaan Azolla microphylla dalam ransum ayam Arab petelur terhadap kualitas fisik telur (indeks Haugh, warna kuning telur, indeks kuning telur, indeks putih telur, berat kuning telur, berat putih telur dan berat telur). Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dengan 5 ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah pemberian A. microphylla level berbeda (0%, 3%, 6% dan 9%). Parameter yang diamati adalah indeks Haugh, warna kuning telur, indeks kuning telur, indeks putih telur, berat kuning telur, berat putih telur dan berat telur. Materi yang digunakan adalah 82 ekor ayam Arab petelur (umur ± 9 bulan) dengan rata-rata bobot badan 1125±77,6g. Penyusunan ransum perlakuan menggunakan prinsip iso protein dan iso energi Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan Azolla microphylla sampai level 9% dalam ransum, menghasilkan bobot kuning telur, indeks haugh, indeks putih telur, dan indeks kuning telur yang sama pada telur ayam Arab. Penggunaan Azolla microphylla sampai level 6% dalam ransum ayam Arab dapat meningkatkan bobot telur, bobot putih telur dan warna kuning telur.Kata kunci: ayam Arab; Azolla microphylla; kualitas telurABSTRACT The objective of this research was to study the effect of A. microphylla in Arabic layer rations on physical qualities of eggs (Haught unit, yolk color, yolk index, albumen index, yolk weight, albumen weight and egg weight). This research used completely randomized design (CRD) with 4 treatments and 5 replications. The treatment given is the gift of A. microphylla different levels (0%, 3%, 6% and 9%). Parameters measured were Haught unit, yolk color, yolk index, albumen index, yolk weight, albumen weight and egg weight. The materials used are 82 Arabic layers (age ± 9 months) with average body weight at 1125±77,6g. The making of ration is based on iso protein and iso energy principle. The results showed that combining the A. microphylla into the ration up to level 9% give the same results of yolk weight, haught unit, albumen index and yolk index. Utilizing the A. Microphylla into the ration up to level 6% at Arabic layer ration to increase the egg weight, albumen weight and yolk color.Keywords : Arabic layer, Azolla microphylla,egg quality.
TOTAL BAKTERI ASAM LAKTAT DAN Escherichia coli PADA AYAM BROILER YANG DIBERI CAMPURAN HERBAL DALAM RANSUM Rahmah, Atika; Suthama, Nyoman; Yunianto, Vitus Dwi
Animal Agriculture Journal Vol 2, No 3 (2013): Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (131.93 KB)

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengkaji pengaruh penambahan campuran herbal dalam ransum terhadap total bakteri asam laktat (BAL) dan Escherichia coli (E. coli) pada saluran pencernaan, serta pertambahan bobot badan ayam broiler. Penelitian menggunakan ayam broiler day old chick (DOC) sebanyak 200 ekor dengan bobot badan 37 g ± 3,08 g dalam rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan. Ransum yang digunakan terdiri dari jagung, bungkil kedelai, tepung ikan, dedak, dan mineral dengan campuran herbal, yaitu bawang putih, kunyit, jahe dan kencur. Perlakuan yang diterapkan adalah T0 = ransum tanpa penambahan herbal (kontrol), T1 = ransum + 0,5% campuran herbal, T2 = ransum + 1,0% campuran herbal, T3 = ransum + 1,5% campuran herbal. Parameter yang diamati adalah total BAL, total E. coli dan pertambahan bobot badan. Sampel diambil pada saat ayam umur 42 hari secara acak pada setiap unit percobaan. Berdasarkan hasil penelitian bahwa penambahan campuran herbal dalam ransum ayam broiler tidak berpengaruh nyata (p>0,05) terhadap total BAL, total E.coli dan pertambahan bobot badan. Penambahan campuran herbal dalam ransum ayam broiler menghasilkan total BAL berkisar dari yang terendah 4,69 x 109 cfu/g (T1) sampai yang yang tertinggi 2,41 x 1010 cfu/g (T3) dan total E.coli terendah 6,47 x 104 cfu/g (T2) tertinggi 3,57 x 105 cfu/g (T3), sedangkan pertambahan bobot badan berkisar dari 57 g/ekor/hari (T1) sampai 60 g/ekor/hari (T0). Simpulan dari penelitian adalah peningkatan level penambahan campuran herbal dalam ransum belum dapat meningkatkan total BAL atau menurunkan E.coli sehingga menghasilkan pertambahan bobot badan yang sama.
TAMPILAN TOTAL BAKTERI DAN pH PADA SUSU KAMBING PERAH AKIBAT DIPPING DESINFEKTAN YANG BERBEDA Mahardika, Okto; Sudjatmogo, Sudjatmogo; Suprayogi, Teguh Hari
Animal Agriculture Journal Vol 1, No 1 (2012): Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (396.603 KB)

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan di Unit Pelayanan Teknis Pembibitan Ternak dan Hijauan Makanan Ternak Singosari Malang pada tanggal 6 Agustus sampai 20 Agustus 2011. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari 3 macam desinfektan yang dicobakan untuk dipping puting kambing PE laktasi terhadap total bakteri dan pH. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah 12 ekor kambing perah Peranakan Ettawa laktasi dengan kriteria kondisi sehat,dengan bobot badan rata-rata 40 kg dan sedang dalam masa laktasi bulan laktasi ke 2, 3 macam desinfektan yaitu povidon iodine, kaporit (calcium hyphochloride 60%), desinfektan (benzalkonium chloride dan isopropanol) dengan merk dagang destasan dan aquabides. Peralatan yang digunakan timbangan digital, ember, gelas ukur, gelas pencelup untuk dipping, stop watch, botol sampel, pH meter merk Hanna dengan skala 0-14 dengan kepekaan 0,01, dan termos kedap cahaya serta plate count agar. Perlakuan yang diterapkan adalah T1 (dipping dengan larutan iodine), T2 (dipping dengan larutan kaporit) dan T3(dipping dengan larutan destasan). Parameter yang diamati dalam penelitian ini adalah total bakteri dan pH susu. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 4 ulangan. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan Anova. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dipping dengan desinfektan yang berbeda tidak menunjukkan perbedaan (P>0,05) terhadap total bakteri dan pH susu. Rataan total bakteri T1, T2 dan T3 masing-masing 5,80 x 105 cfu/ml ; 5,53 x 105 cfu/ml dan 5,40 x 105 cfu/ml. Rataan pH susu T1, T2 dan T3 masing-masing 6,52; 6,59 dan 6,61. Berdasarkan hasil penelitian dapat diambil kesimpulan bahwa 3 jenis desinfektan (iodine, kaporit, destasan) yang digunakan untuk dipping puting kambing laktasi mempunyai kemampuan yang sama dalam mengendalikan jumlah bakteri dan mempertahankan nilai pH.Kata kunci: total bakteri, pH susu, dippingABSTRACT This research was conducted at the Technical Services Unit and the Livestock Breeding Livestock Forage Food Singosari Malang on August 6 until August 20, 2011. This study aimed to determine the effect of three kinds of disinfectants were tested for dipping goat nipple lactation on total bacteria and pH. The material used in this study were 12 dairy goats Peranakan Ettawa healthy lactation criteria, with an average body weight of 40 kg and is in the months of lactation to lactation 2, 3 kinds, namely povidone iodine disinfectant, chlorine (60% calcium hyphochloride ), disinfectants (benzalkonium chloride and isopropanol) with destasan trademarks and aquabides. Equipment used digital scales, buckets, measuring cups, glasses dyer for dipping, stop watch, sample bottles, brand Hanna pH meter with a scale of 0-14 with a sensitivity of 0.01, and a light-tight flask and plate count agar. The treatment is applied to T1 (dipping with iodine solution), T2 (dipping with chlorine solution) and T3 (dipping the solution destasan). Parameters observed in this study is the total bacteria and pH of milk. Experimental design used was completely randomized design (CRD) with 3 treatments and 4 replications. The data obtained were then analyzed using ANOVA. The results showed that dipping with different disinfectants showed no difference (P> 0.05) on total bacteria and pH of milk. Mean total bacterial T1, T2 and T3 respectively 5.80 x 105 cfu / ml; 5.53 x 105 cfu / ml and 5.40 x 105 cfu / ml. Mean pH of milk T1, T2 and T3 respectively 6.52; 6.59 and 6.61. Based on these results it can be concluded that the three types of disinfectant (iodine, chlorine, destasan) used for dipping the nipple lactating goats have the same ability to control the amount of bacteria and maintain the pH value.Keywords: total bacteria, the pH of milk, dipping
PENGARUH PENGGUNAAN TEPUNG LIMBAH RUMPUT LAUT (Gracilaria verrucosa) TERFERMENTASI DALAM RANSUM TERHADAP KUALITAS KIMIAWI TELUR PUYUH (Coturnix coturnix japonica) (The Effect of Seaweed by Product Powder (Gracilaria verrucosa) Fermented in The Diet on Che Ujilestari, Tri; Kismiati, Sri; Suprijatna, Edjeng
Animal Agriculture Journal Vol 4, No 1 (2015): Volume 4 Nomor 1 Tahun 2015
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (262.746 KB)

Abstract

ABSTRAK           Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh penggunaan tepung limbah rumput laut terfermentasi dalam ransum terhadap kandungan protein, lemak dan antioksidan telur puyuh. Materi yang digunakan dalam penelitian adalah 160 ekor puyuh petelur, umur 8 minggu dengan rata-rata bobot badan 211,75 ± 4,43 g. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan, T0: ransum tanpa penggunaan tepung limbah rumput laut; T1: ransum dengan penggunaan tepung limbah rumput laut non fermentasi 10%; T2: ransum dengan penggunaan tepung limbah rumput laut terfermentasi 12,5%; T3: ransum dengan penggunaan tepung limbah rumput laut terfermentasi 15%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan tidak berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kandungan protein, lemak dan antioksidan telur puyuh. Simpulan penelitian adalah penggunaan tepung limbah rumput laut fermentasi sampai 15% tidak memberikan dampak pada kandungan protein, lemak dan antioksidan telur puyuh. Kata kunci : telur puyuh; limbah rumput laut; protein; lemak; antioksidan. ABSTRACTThis study aims to determine the effect of fermented seaweed by product powder in rations for protein, fat and antioxidants of quail eggs. The material that used in this study were 160 quails laying period, 8 weeks of age with an average body weight of 211,75 ± 4,43 g. This study used a completely randomized design (CRD) with 4 treatments and 5 replications, T0: ration without seaweed by product powder; T1: ration with seaweed by product powder non fermentation 10%; T2: ration with seaweed by product powder fermentation 12,5%; T3: ration with seaweed by product powder fermentation 15%. The results showed that the treatment had no significant effect (P<0,05) for protein, fat and antioxidants of quail eggs. The conclusion of the study is the use of seaweed by product powder fermentation until 15% did not affect protein, fat and antioxidants of quail eggs. Key words : quail eggs; seaweed by product; protein; fat; antioxidants.
PENGARUH PENGGUNAAN TEPUNG DAUN KAYAMBANG (Salvinia molesta) DALAM RANSUM TERHADAP KUALITASKARKAS DAN NILAI NUTRISI DAGING AYAM BROILER (The use Effect of Kayambang Leaves Powder ( Salvinia molesta) in Feeding On Carcass Quality and Nutritional Value Broi Annisya, Shintya Wahyu; Nurwantoro, Nurwantoro; Sarengat, Warsono
Animal Agriculture Journal Vol 4, No 2 (2015): Volume 4 Nomor 2 Tahun 2015
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (178.759 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh tepung Salvinia molesta pada pakan terhadap persentase karkas, kadar protein dan lemak daging ayam broiler. Materi yang digunakan daging komposit 20 ekor ayam. Rancangan Acak Lengkap (RAL) 4 perlakuan diulang 5 kali (To= ransum+S. molesta  0%; T1= ransum+S. Molesta 6%; T2 = ransum+S. molesta 12%; T3= ransum+S. molesta 18%). Analisis proksimat dan penimbangan karkas menggunakan 20 sampel daging ayam dari 4 perlakuan 5 ulangan acak. Data kadar protein dan lemak dianalisis uji F (One Way Anova) taraf signifikansi (α)= 0,05. Hasil penelitian menunjukkan pemberian pakan perlakuan sampai taraf 18% pada ayam broiler tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap kadar protein tetapi berpengaruh nyata terhadap kadar lemakdaging ayam serta persentase karkas ayam broiler.Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa pemberian tepung daun Salvinia molesta pada pakan tidak berdampak positif terhadap kadar protein, tetapi dapat menurunkan  kadar lemak dan persentase karkas  jika dibandingkan dengan perlakuan kontrol sehingga diketahui batas toleransi kandungan Salvinia molesta dalam pakan adalah 6%.Kata kunci : karkas; kadar protein;kadar lemak ABSTRACT             The study aimed to determine the effect of Salvinia molesta flour in diets on carcass percentage, protein and fat content of broiler meat. The material was used a composite meat chicken from 20 chickens (35 days old). The study design used a completely randomized design (CRD) with 4 treatments and repeated 4 times (To = ration with S. molesta 0%; T1 = ration + S. Molesta 6%; T2 = ration + S. Molesta 12%; T3 = ration + S. molesta 18%). Proximate analysis and carcass weighing using 20 samples of chicken meat 4 5 treatments random replications. Protein and fat content data were analyzed by F test (One Way ANOVA) at a significance level (α) = 0.05. Results showed that feeding treatment to some 18% in broiler chickens was not significant (P> 0.05) on protein content but significant effect on fat content in chicken meat and percentage of broiler chicken carcasses.  Based on the results of the study that administration of Salvinia molesta in the feed flour had no positive effect on protein content, however could reduce levels of fat and carcass percentage if compared with the control treatment that tolerance limits Salvinia molesta content in the feed was 6%Keywords: carcass;protein content;fat content