cover
Contact Name
Abdan Rosadi Nasution
Contact Email
mandailingpublishernusantara@gmail.com
Phone
+6282260474566
Journal Mail Official
admin@mandailingpublisher.com
Editorial Address
Mompang Julu, Kec. Panyabungan Utara, Kab. Mandailing Natal, Sumatera Utara, Indonesia
Location
Kab. mandailing natal,
Sumatera utara
INDONESIA
Mandailing Journal of Education and Sciences
ISSN : -     EISSN : 31248861     DOI : https://doi.org/10.66698/mjoes
Core Subject :
Mandailing Journal of Education and Sciences (MJOES) adalah jurnal ilmiah yang mempublikasikan artikel hasil penelitian, kajian konseptual, pengembangan, serta inovasi dalam bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan. Jurnal ini bertujuan menjadi wadah akademik yang kredibel dalam menyebarluaskan pengetahuan, temuan-temuan mutakhir, serta pengembangan teori dan praktik yang relevan dengan kebutuhan dunia pendidikan dan kemajuan sains. Nama “Mandailing” dipilih sebagai representasi identitas kultural dan semangat pengembangan pendidikan serta ilmu pengetahuan yang berakar pada nilai-nilai lokal dan relevansi global. Mandailing Journal of Education and Sciences (MJOES) menerapkan proses peer-review yang objektif, transparan dengan melibatkan reviewer yang memiliki kompetensi sesuai dengan bidang keilmuannya. Pengelolaan jurnal ini berlandaskan pada prinsip etika publikasi ilmiah yang mengacu pada pedoman Committee on Publication Ethics (COPE).
Arjuna Subject : -
Articles 30 Documents
ANALISIS PERLINDUNGAN ANAK DAN PEMENUHAN HAK DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN HUKUM PADA KASUS KALIWATUWOGAT KABUPATEN SIKKA Maria Rosamistika Ina Soa; Yasinta Advensia Wea; Nova Klaudia Wula; Vantriana Ida Bewa; Rovina Owa; Maria Hildegardis Tandi; Ermelinda Nau; Fransiska Moi; Kristiana Owa Kaju; Maria Trisanti Watu; Konstantinus Dua Dhiu
Mandailing Journal of Education and Sciences Vol. 1 No. 2 (2026): Vol. 1 No. 2, Juli 2026
Publisher : PT Mandailing Publisher Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66698/mjoes.v1i2.28

Abstract

Anak merupakan kelompok yang paling rentan terhadap berbagai bentuk kekerasan, eksploitasi, dan pelanggaran hak asasi manusia sehingga membutuhkan perlindungan hukum yang maksimal dari negara, keluarga, dan masyarakat. Tragedi kali Watuwogat di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, yang menimpa seorang siswi SMP yang berusia 14 tahun akibat dugaan kekerasan seksual dan pembunuhan, menjadi bukti nyata lemahnya implementasi perlindungan anak dilingkungan sosial masyarakat. Kasus ini tidak hanya menimbulkan trauma psikologis dan keresahan sosial,  tetapi juga memunculkan kritik terhadap transparansi penegakan hukum dalam proses penyelesaian perkara. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemenuhan hak perlindungan dan keamanan anak dalam perspektif hukum serta mengkaji bentuk pertanggungjawaban pidana terhadap para pelaku berdasarkan hukum positif di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode penelitian yuridis normatif dengan sifat deskriptif analitis dan pendekatan studi kasus (case approach). Metode yang digunakan terdiri atas bahan hukum primer berupa peraturan Perundang–Undangan, bahan hukum sekunder berupa buku dan jurnal ilmiah, serta bahan hukum tersier berupa laporan media dan fakta jurnalistik terkait tragedi kali Watuwogat. Metode yang digunakan dalam artikel ini yaitu metode penelitian yuridis-normatif atau penelitian hukum kepustakaan yang bersifat deskriptif-analitis  dengan teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi kepustakaan dan dianalisis secara kualitatif dengan metode penarikan kesimpulan deduktif. Hasil penelitian menunjukan bahwa tragedi kali Watuwogat merupakan bentuk kegagalan pemenuhan hak anak atas perlindungan dan keamanan sebagaimana dijamin dalam pasal 28 ayat 2 UUD 1945, Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang perlindungan anak, dan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang tindak pidana kekerasan seksual. Lemahnya pengawasan sosial, minimnya perlindungan preventif diruang publik, serta adanya upaya menghalangi proses penyidikan memperlihatkan adanya celah perlindungan anak ( protection gap) dimasyarakat. Selain itu, penegakan hukum yang cepat, transparan, dan berkeadilan sangat diperlukan guna menjamin terpenuhinya hak anak serta memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap sistem hukum.
PERAN PENDIDIKAN DALAM MENCEGAH BERBAGAI KASUS PELECEHAN SEKSUAL TERHADAP ANAK DI BAWAH UMUR Konstantinus Dua Dhiu; Yohana Elma Sarina Ito Wea; Maria Matilda Mao Ghari; Flafiana Loda; Maria Tovilia Kila; Foninia Bebe Taung; Hendrika Doa; Yuliana Dhoso; Paulina Mao; Karolina Kugu; Maria Fancelina Sugi
Mandailing Journal of Education and Sciences Vol. 1 No. 2 (2026): Vol. 1 No. 2, Juli 2026
Publisher : PT Mandailing Publisher Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66698/mjoes.v1i2.31

Abstract

Pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur di Indonesia masih menjadi krisis sosial yang serius dengan modus operandi fluktuatif yang sering kali melibatkan lingkaran terdekat (inner circle) korban. Mengingat pengawasan fisik konvensional tidak lagi memadai, anak-anak membutuhkan bekal kapasitas kognitif untuk melindungi diri secara mandiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran strategis pendidikan sebagai instrumen preventif utama, serta merumuskan substansi materi, metode instruksional, dan sinergi tanggung jawab dalam ekosistem pendidikan. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif deskriptif-analitis. Data sekunder dikumpulkan melalui studi dokumentasi terhadap jurnal ilmiah tematik, laporan resmi KPAI (2023), serta regulasi Permendikbudristek No. 46 Tahun 2023, yang kemudian dieksplorasi menggunakan teknik analisis isi (content analysis). Hasil penelitian menegaskan bahwa pendidikan berfungsi sebagai mekanisme pertahanan primer (primary defense) untuk menjembatani kesenjangan kesadaran (awareness gap), mengubah ketidaktahuan menjadi kedaulatan tubuh, serta menumbuhkan keberanian melapor. Proteksi yang efektif wajib diterapkan secara simultan dan konsisten di tiga lingkungan utama: keluarga, sekolah, dan masyarakat. Materi adaptif usia anak mencakup pengenalan anatomi privat, batasan privasi, hak menolak asertif, dan prosedur pelaporan berbasis media visual-interaktif. Kesimpulannya, pendidikan berperan vital dalam merekonstruksi posisi anak menjadi subjek yang berdaya. Keberhasilan implementasi jangka panjang ini sepenuhnya bergantung pada komitmen kolektif dan kesatuan visi yang kuat antara orang tua, pendidik, dan lingkungan sosial.
PERAN PARENTING DALAM MENCEGAH KEKERASAN TERHADAP ANAK DI LINGKUNGAN RUMAH TANGGA Klemetina Ye Meo; Benediktus Aprianus; Teresia Benedikta Ito; Maria Wihelmina Mamo; Patrisia Serlinda Meo; Katarina Ndekung; Oktaviana Loni; Bonafania Dhongo; Margaretha Wea
Mandailing Journal of Education and Sciences Vol. 1 No. 2 (2026): Vol. 1 No. 2, Juli 2026
Publisher : PT Mandailing Publisher Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66698/mjoes.v1i2.34

Abstract

Kekerasan rumah tangga masih merupakan masalah serius yang dapat menghambat pertumbuhan fisik, psikologis, sosial, dan emosional anak. Penelitian ini mengeksplorasi peran keluarga, khususnya orang tua, dalam mencegah kekerasan di lingkungan rumah tangga dan mengidentifikasi peran pola asuh positif dalam menciptakan lingkungan keluarga yang aman bagi anak. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif yang menggunakan pendekatan kajian review literatur. Data ini dikumpulkan dari berbagai artikel ilmiah, jurnal elektronik, dan sumber lain yang relevan yang membahas parenting dan pencegahan kekerasan terhadap anak. Organizing, synthesizing, dan identifying adalah langkah-langkah yang diperlukan untuk melakukan analisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keluarga dapat mencegah kekerasan terhadap anak melalui pola asuh yang positif, komunikasi yang terbuka, kasih sayang dan perhatian, pengawasan yang baik, dan penerapan nilai moral, agama, dan sifat sejak dini. Selain itu, faktor ekonomi dan sosial turut memengaruhi kualitas pengasuhan yang diberikan orang tua. Pola pengasuhan yang demokratis dan penuh kasih sayang terbukti mampu menciptakan lingkungan keluarga yang aman dan harmonis yang membantu anak tumbuh dengan baik. Oleh karena itu, peningkatan peran orang tua dalam pengasuhan merupakan langkah penting untuk mencegah kekerasan terhadap anak di rumah tangga.
UPAYA PERLINDUNGAN ANAK MELALUI PENDIDIKAN PARENTING BAGI ORANG TUA Prisko Yanuarius Djawaria Pare; Maria Anjelina Odje; Maria Rosalinda Dhone; Maria Kristina Nau; Irsan Sauda; Maria Yunita Owa; Eustakia Mogi; Clara Yunita Ngedhi; Maria Sari Senda
Mandailing Journal of Education and Sciences Vol. 1 No. 2 (2026): Vol. 1 No. 2, Juli 2026
Publisher : PT Mandailing Publisher Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66698/mjoes.v1i2.38

Abstract

Perlindungan anak merupakan upaya penting untuk menjamin terpenuhinya hak-hak anak agar dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Namun, berbagai kasus kekerasan dan penelantaran anak masih sering terjadi, terutama dilingkungan keluarga. Salah satu faktor yang memengaruhi kondisi tersebut adalah rendahnya pengetahuan dan keterampilan orang tua dalam pengasuhan. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji peran pendidikan parenting sebagai upaya perlindungan anak melalui peningkatan kapasitas pengasuhan orang tua. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan kajian literatur. Data diperoleh dari berbagai artikel ilmiah, jurnal, dan peraturan perundang-undangan yang relevan dengan topik kajian. Hasil kajian menunjukkan bahwa pendidikan parenting berperan dalam meningkatkan pengetahuan, sikap, keterampilan orang tua dalam menerapkan pola asuh yang positif, responsif, dan bebas dari kekerasan. Selain itu, pendidikan parenting juga berperan penting dalam mencegah terjadinya kekerasan terhadap anak, meningkatkan keterlibatan orang tua dalam tumbuh kembang anak, serta mendukung kesejahteraan anak secara menyeluruh.
PENDIDIKAN PARENTING BAGI ORANG TUA DALAM MENCEGAH KEKERASAN PADA ANAK USIA DINI Prisko Yanuarius Djawaria Pare; Sisilia Sela; Maria Felinsia Mbipi; Marselina Susana Suba; Eleonora Susanti Menge; Kristina Risan Noo; Agustina Dhone; Fransiska Karolina Titu; Sesantris Elkana Nio
Mandailing Journal of Education and Sciences Vol. 1 No. 2 (2026): Vol. 1 No. 2, Juli 2026
Publisher : PT Mandailing Publisher Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66698/mjoes.v1i2.39

Abstract

Kekerasan terhadap anak usia dini masih menjadi permasalahan yang sering terjadi dalam lingkungan keluarga dan dapat memberikan dampak negatif terhadap perkembangan fisik, emosional, sosial, maupun kognitif anak. Salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya kekerasan dalam pengasuhan adalah kurangnya pemahaman orang tua mengenai pola asuh yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan pendidikan parenting bagi orang tua dalam mencegah kekerasan pada anak usia dini (AUD). Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan melibatkan orang tua, guru, dan kepala sekolah sebagai subjek penelitian. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum mengikuti program parenting, sebagian orang tua masih memiliki pemahaman yang terbatas mengenai bentuk-bentuk kekerasan terhadap anak, khususnya kekerasan verbal dan emosional. Orang tua juga cenderung menggunakan hukuman sebagai cara mendisiplinkan anak. Setelah mengikuti pendidikan parenting, terjadi peningkatan pemahaman mengenai pengasuhan positif, komunikasi yang efektif, pengelolaan emosi, serta penerapan disiplin tanpa kekerasan. Selain itu, ditemukan perubahan perilaku orang tua dalam mendidik anak, yaitu lebih mengutamakan pendekatan persuasif, memberikan teladan yang baik, serta menggunakan pujian dan penghargaan sebagai bentuk penguatan positif. Program parenting juga membantu orang tua menjadi lebih sabar dan mampu mengendalikan emosi ketika menghadapi perilaku anak yang menantang. Dengan demikian, pendidikan parenting terbukti berperan penting dalam meningkatkan kualitas pengasuhan dan mencegah terjadinya kekerasan terhadap anak usia dini sehingga tercipta lingkungan keluarga yang aman, nyaman, dan mendukung perkembangan anak secara optimal.
ANALISIS KOLABORASI ORANG TUA DAN SEKOLAH DALAM MENCIPTAKAN RUANG AMAN BAGI ANAK USIA DINI Prisko Yanuarius Djawaria Pare; Maria Felsita Eno Wou; Oliva Fareda Pandang; Maria Enjelina Kalana; Yasintha Lusi; Maria Hermina Bhebhe; Tekla Dua Ona; Maria Nadila Wea; Maria Yosefa Oje
Mandailing Journal of Education and Sciences Vol. 1 No. 2 (2026): Vol. 1 No. 2, Juli 2026
Publisher : PT Mandailing Publisher Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66698/mjoes.v1i2.43

Abstract

Penciptaan ruang aman bagi anak usia dini di satuan PAUD saat ini sering kali didelegasikan secara sepihak kepada sekolah, sementara keluarga hanya dianggap sebagai pihak penitip anak. Ketidakselarasan pola pengasuhan ini berisiko memicu kebingungan karakter dan menurunkan efektivitas perlindungan anak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan menyintesis bentuk kolaborasi antara orang tua dan pihak sekolah dalam menciptakan ruang aman yang multi-dimensi (fisik, psikologis, dan sosial) bagi anak usia dini. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan metode kajian literatur (literatur review). Data sekunder dikumpulkan secara sistematis melalui penelusuran digital pada basis data akademik, dengan kriteria inklusi jurnal ilmiah dan regulasi formal lima tahun terakhir yang dianalisis secara deskriptif-kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kolaborasi yang terstruktur dan setara menjadi determinan utama dalam membangun jaring pengaman berlapis (multi-layered safety). Sinkronisasi nilai melalui komunikasi dua arah, program parenting, dan pelibatan orang tua terbukti berdampak signifikan dalam menurunkan kecemasan anak serta memaksimalkan deteksi dini kekerasan. Meskipun di lapangan terdapat hambatan berupa keterbatasan waktu dan ekspektasi sepihak, tantangan tersebut dapat diatasi melalui strategi rekonstruktif seperti formulasi Kontrak Kerja Sama Belajar, optimalisasi teknologi informasi untuk edukasi daring, dan program kunjungan rumah (home visit) secara humanis. Kesimpulan penelitian menegaskan bahwa sinergi yang kokoh antara rumah dan sekolah merupakan kebutuhan mutlak demi menjamin keselamatan, kesejahteraan (well-being), dan perlindungan hakiki anak pada fase usia emas.
STUDI TENTANG PERAN ORANG TUA DALAM PERLINDUNGAN ANAK DI LINGKUNGAN PEDESAAN Faustina Ude; Maria Melania Ito; Edeltrudis Bena; Maria Theresia Anjelin Dhiko Meo; Lazarus Wiku Ghele; Emirensiana Meo; Aprilia Werner Bhoko Fao; Prisko Yanuarius Jawa Ria
Mandailing Journal of Education and Sciences Vol. 1 No. 2 (2026): Vol. 1 No. 2, Juli 2026
Publisher : PT Mandailing Publisher Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66698/mjoes.v1i2.45

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran orang tua dalam perlindungan anak di lingkungan pedesaan melalui pendekatan tinjauan pustaka. Penelitian ini menggunakan metode tinjauan pustaka kualitatif dengan menganalisis lima artikel jurnal yang diperoleh dari Google Scholar. Tinjauan tersebut berfokus pada abstrak, pendahuluan, metode, dan temuan dari penelitian sebelumnya yang berkaitan dengan peran orang tua dalam melindungi anak. Tahapan penelitian meliputi penentuan topik, pengumpulan referensi yang relevan, analisis informasi berdasarkan tema, dan pengambilan kesimpulan dari literatur yang ditinjau. Temuan menunjukkan bahwa orang tua memiliki peran penting dalam memastikan perkembangan fisik, emosional, sosial, moral, dan spiritual anak. Di masyarakat pedesaan, orang tua bertanggung jawab untuk memberikan perawatan, bimbingan, kasih sayang, disiplin, dan perlindungan terhadap berbagai ancaman, termasuk kenakalan remaja, pernikahan anak, dan kekerasan seksual. Tinjauan ini juga mengungkapkan bahwa baik faktor internal dari orang tua maupun faktor lingkungan eksternal memengaruhi implementasi perlindungan anak. Selain itu, kolaborasi antara orang tua dan lembaga pendidikan, serta program pendidikan orang tua, berkontribusi secara signifikan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, dan praktik orang tua mengenai perlindungan anak. Oleh karena itu, keterlibatan aktif orang tua merupakan faktor penting dalam mendukung perkembangan anak yang sehat dan menumbuhkan perilaku positif. Memperkuat kesadaran dan tanggung jawab orang tua sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung bagi pertumbuhan dan kesejahteraan anak.
PERAN PENDIDIKAN KARAKTER SEBAGAI UPAYA MENGATASI MASALAH BUNUH DIRI PADA ANAK DI KECAMATAN JEREBU'U Konstantinus Dua Dhiu; Maria Eleonora Lejo; Yasinta Sangi; Maneldis Romana Ngode; Febronia Yasinta Wea; Agatha Mau Teguh; Yustina Wona; Maria Susanty Moi; Maria Fransiska Manggus; Maria Marselina Muja; Maria Bellicia Ruda; Resensia Ermelinda Odo
Mandailing Journal of Education and Sciences Vol. 1 No. 2 (2026): Vol. 1 No. 2, Juli 2026
Publisher : PT Mandailing Publisher Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66698/mjoes.v1i2.47

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam kasus bunuh diri yang menimpah seorang siswa Sekolah Dasar berusia 10 tahun berinsial YBR di Desa Naruwolo, Kecamatan jerebu’u, Kabupaten Ngada, serta mengkaji peran strategi Pendidikan karakter sebagai solusi utama pencegahan kasus serupa di masa mendatang. Masalah ini menjadi perhatian serius karena mengungkapkan kerentanan psikologis anak di wilayah yang memiliki tingkat kemiskinan cukup tinggi, struktur keluarga tidak lengkap, serta sistem pendidikan yang masih berorientasi pada pencapaian akademik semata. Metode yang digunakan Adalah studi literatur denga pendekatan kualitatif, di mana pengumpulan data dilakukan melalui penenlusuran buku dan jurnal ilmiah. Hasil penelitian menunjukan bahwa peristiwa tragis ini bukanlah akibat satu faktor Tunggal, melainkan akumulasi dari tekanan ekonomi, lemahnya komunikasi dan perhatian keluarga, budaya diam dalam Masyarakat serta kegaagalan sekolah dalam membengun ketangguhan mental anak. Akibatnya, korban mengembangkan pemahaman keliru bahwa dirinya merupakan beban bagi keluarga dan tidak memahami nilai kehidupan yang sesungguhnya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Pendidikan yang dilakukan secara terintegrasi dan sistematis melibatkan keluarga, sekolah, dan Masyarakat sangat krusial agar anak mampu tumbuh dengan keyakinan bahwa diri mereka berharga. Pendidikan karakter berbasis budaya lokal memegang peran paling vital sebagai tameng psikologis, yang berfungsi menanamkan nilai penghargaan hidup, harga diri, keberanian berbagi masalah, dan ketabahan dalam meyekini bahwa setiap masalah ada jalan keluarnya.
TINJAUAN LITERATUR MENGENAI PENGGUNAAN TEKNOLOGI DIGITAL DALAM PEMBELAJARAN ANAK AUTISME Media Lestari; Rahmahtrisilvia Rahmahtrisilvia
Mandailing Journal of Education and Sciences Vol. 1 No. 2 (2026): Vol. 1 No. 2, Juli 2026
Publisher : PT Mandailing Publisher Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66698/mjoes.v1i2.49

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meninjau penggunaan teknologi digital dalam pembelajaran anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) melalui metode literature review. Sumber data diperoleh dari berbagai artikel ilmiah, jurnal nasional dan internasional, serta publikasi akademik lain yang relevan dengan topik penelitian. Penelusuran literatur dilakukan melalui basis data Google Scholar, Garuda, dan ScienceDirect dengan menggunakan kata kunci autisme, teknologi digital, media pembelajaran digital, digital learning, dan autism education. Hasil kajian menunjukkan bahwa penggunaan teknologi digital seperti internet, Virtual Reality (VR), Artificial Intelligence (AI), multimedia interaktif, dan Augmented Reality (AR) memberikan dampak positif terhadap pembelajaran anak autisme. Teknologi digital terbukti mampu meningkatkan perhatian, motivasi belajar, komunikasi, interaksi sosial, serta pemahaman konsep pembelajaran. Selain itu, media digital juga menciptakan pengalaman belajar yang lebih menarik, fleksibel, dan sesuai dengan karakteristik belajar anak autisme yang cenderung responsif terhadap stimulus visual dan interaktif. Namun, efektivitas penerapan teknologi digital dipengaruhi oleh ketersediaan sarana pendukung, kompetensi guru dalam memanfaatkan teknologi, serta pendampingan orang tua selama proses pembelajaran. Dengan demikian, teknologi digital dapat menjadi alternatif media pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan kualitas pendidikan anak autisme apabila digunakan secara tepat sesuai kebutuhan individual peserta didik.
PENGARUH POLA ASUH ORANG TUA  TERHADAP PERLINDUNGAN ANAK DALAM LINGKUNGAN KELUARGA Maria Anjelina Bude; Maria Yunita Dhema; Florentina Dasilfa Bhoko; Karolina Ngora; Hildegardis Jesika Beka; Grasiana Sandra Mugi; Fransiska Febyola Saja; Prisko Yanuarius Jawa Ria
Mandailing Journal of Education and Sciences Vol. 1 No. 2 (2026): Vol. 1 No. 2, Juli 2026
Publisher : PT Mandailing Publisher Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66698/mjoes.v1i2.51

Abstract

Lingkungan keluarga merupakan institusi pertama dan utama dalam memberikan perlindungan bagi anak. Namun, maraknya kasus kekerasan dan pengabaian hak anak di ranah domestik menunjukan bahwa fungsi perlindungan ini belum berjalan optimal, yang salah satu nya dipengaruhi oleh faktor pengasuhan. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh berbagai tipe pola asuh orang tua terhadap efektifitas perlindungan anak didalam lingkungan keluarga melalui metode kajian literatur (literature review). Sumber data diperoleh dari analisis sintesis terhadap artikel artikel ilmiah relevan dari database akademis yang terbit dalam sepuluh tahun terakhir. Hasil kajian menunjukan bahwa pola asuh otoriter dan permisif berkolerasi signifikan terhadap rendahnya perlindungan anak, dimana pola asuh otoriter memicu kekerasan fisik dan verbal sedangkan pola asuh permisif berdampak penelantaran  (neglect). Sebaliknya, pola asuh demokratis (authoritative) terbukti menjadi model pengasuhan paling ideal yang secara linier mampu menciptakan lingkungan domestik yang aman, responsif, dan melindungi hak hak dasar anak. Kajian ini juga berhasil mengintegrasikan aspek perilaku cyberbullying, konflik domestik, kesehatan mental anak, serta perlindungan anak marginal sebaga dimensi baru dalam sistem proteksi keluarga. Kajian ini  menyimpulkan bahwa penguatan edukasi  pengasuhan positif (positive parenting) bagi orang tua sangat krusial sebagai fondasi utama sistem perlindungan anak berbasis keluarga. Temuan ini menegaskan pentingnya peran orang tua dalam menciptakan lingkungan keluarga yang aman dan mendukung perkembangan anak secara optimal.

Page 3 of 3 | Total Record : 30