cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Fisheries Resources Utilization Management and Technology
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Topik-topik yang berhubungan dengan pemanfaatan sumberdaya perikanan, teknologi penangkapan, desain alat tangkap, fish behaviour, experimental fishing, fishing boat desain, fishing port management, sosial ekonomi perikanan.
Arjuna Subject : -
Articles 404 Documents
PENGARUH PERBEDAAN UKURAN MESH SIZE DAN HANGING RATIO SERTA LAMA PERENDAMAN JARING INSANG (GILL NET) TERHADAP HASIL TANGKAPAN IKAN RED DEVIL (Amphilophus labiatus) DI WADUK SERMO, KULONPROGO Widiyanto, Andy Tri; Pramonowibowo, -; Setiyanto, Indradi
Journal of Fisheries Resources Utilization Management and Technology Vol 5, No 2: April, 2016
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (382.746 KB)

Abstract

Mayoritas nelayan waduk Sermo menggunakan alat tangkap gill net dalam operasi penangkapannya, namun masih menggunakan gill net dengan ukuran mesh size dan hanging ratio yang belum spesifik untuk menangkap satu spesies tertentu. Sehingga untuk menangkap ikan red devil dengan gill net secara efektif dapat ditentukan ukuran mesh size dan hanging rationya. Untuk itu penyusun melakukan penelitian menggunakan ukuran mesh size 2 inchi dan 3,5 inchi serta hanging ratio 0,47 dan 0,68 dan lama perendaman 6 jam dan 12 jam. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen dengan 12 kali pengulangan pada tiap variabel. Analisa data menggunakan metode uji ANOVA untuk mesh size dan hanging ratio serta uji t independen untuk lama perendaman. Hasil analisa data diperoleh p-value 0,03 untuk hubungan antara hanging ratio dengan lingkar tubuh, hasil tersebut menunjukkan H0 diterima (<0,05) sehingga lingkar tubuh berpengaruh terhadap hanging ratio. Hubungan lingkar tubuh dengan mesh size didapatkan hasil p-value 0,04 yang menunjukkan H0 diterima (<0,05) sehingga lingkar tubuh berpengaruh terhadap mesh size. Dan hasil untuk perbedaan lama perendaman 6 jam adalah 23,29 dan 12 jam adalah 37,71. The majority of fisherman in Sermo reservoir using a gill net fishing gear in this operation, but still using gill net with mesh size and hanging ratio which have not specific to catch one of certain species. So, to catch red devil with gill net effectively can specified size on mesh size and hanging ratio. For that the author of conduct research  using 2 inches and 3,5 inches mesh size and 0,47 and 0,68 hanging ratio and soaking time 6 hours and 12 hours. The method used is experiment with 12 repetitions on each variable. Data were analyzed using ANOVA for mesh size and hanging ratio and independent t test for soaking time. Result of analysis of data obtained 0,03 for the relationship between hanging ratio and circumference of the body, these result indicate H0 accepted (<0,05) so the circumference of the body affect of the hanging ratio. The relationship circumference of the body with mesh size get result 0,04 that indicate H0 accepted (<0,05) so the circumference of the body affect of the mesh size. And the result for difference long immersion 6 hours is 23,29 and 12 hours is 37,71.
ANALISIS TINGKAT KESEJAHTERAAN NELAYAN PAYANG DI DESA MUNJUNGAGUNG KECAMATAN KRAMAT KABUPATEN TEGAL Anwar, Koerul; Ismail, -; Boesono, Herry
Journal of Fisheries Resources Utilization Management and Technology Vol 3, No 3: Agustus, 2014
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (226.245 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kesejahteraan nelayan Payang di Desa Munjungagung Kecamatan Kramat Kabupaten Tegal dengan menggunakan indikator kesejahteraan gabungan berdasarkan Badan Pusat Statistik tahun 2007 dan Pridaningsih tahun 2011. Cara pengambilan sampel dengan simple random sampling. Data kesejahteraan diperoleh melalui wawancara mendalam  berdasarkan kuesioner dan observasi lapangan. Analisis data dilakukan dengan scoring 14 indikator kesejahteraan gabungan dan berdasarkan konsep Nilai Tukar Nelayan (NTN). Hasil analisis berdasarkan indikator kesejahteraan gabungan diperoleh bahwa nelayan juragan Payang termasuk kategori sejahtera tinggi dengan rata-rata skor 38, sedangkan nelayan ABK Payang sebanyak 48 orang termasuk sejahtera tinggi dengan skor rata-rata 36 dan 9 orang ABK termasuk sejahtera sedang dengan skor rata-rata 33. Analisis secara  NTN bidang perikanan nelayan ABK Payang memiliki nilai 0,88 (NTN<1) yang berarti nelayan termasuk tingkat sejahtera rendah sedangkan nelyan juragan memiliki nilai 1,11 (NTN>1) atau termasuk sejahtera tinggi. Rata-rata NTN total pendapatan ABK Payang 1,48 dan rata-rata NTN total pendapatan juragan Payang 1,18 (NTN>1) yang berarti keduanya termasuk dalam kriteria tingkat sejahtera tinggi. The purpose of this research to analyze of Danish Seine fisherman welfare level in Munjungagung village, Kramat District, Tegal Regency used welfare level indicators based on Badan Pusat Statistik, 2007 and Pridaningsih, 2011. This research used simple random sampling through deeply interview and observation. Analyze scoring for 14 welfare level modification and based on NTN concept. The result of welfare modification indicators analysis are all employer is high prosperous level with the average 38 score and the average score for 48 crews is 36 (high prosperous level), 9 crews having average 33 score (medium prosperous level). The result of  NTN concept for fisheries, the crews having average score NTN 0,88 (low prosperous level) and average NTN score for the employers is 1.11 (high prosperous level). Based on total salary of NTN analysis showed that the value of crews is 1.48 and the value of employer NTN is 1.18 so both of them is high prosperous level.
ANALISIS TINGKAT KESEJAHTERAAN NELAYAN PEMILIK DAN BURUH PADA PERIKANANMINIPURSE SEINE DI PPP LEMPASING BANDARLAMPUNG Juzmi, Aldilla Nurul; Triarso, Imam; Fitri, Aristi Dian Purnama
Journal of Fisheries Resources Utilization Management and Technology Vol 6, No 4: Oktober 2017
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (271.611 KB)

Abstract

Masyarakat nelayan merupakan salah satu pelaku utama dalam bidang perikanan akan tetapi dalam beberapakasus dijumpai bahwa nelayan hidup dalam kondisi miskin.Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasitingkat kesejahteraan nelayan pemilik dan buruh berdasarkan indikator kesejahteraan, dan variabel apa saja yangmembedakan kesejahteraan pemilik dan buruh mini purse seine dengan tingkat kesejahteraan menggunakanindikator kesejahteraan gabungan dan NTN di PPP Lempasing. Metode yang digunakan adalah metodedeskriptif yang bersifat studi kasus dengan pendekatan kuantitatif. Populasi penelitian ini adalah nelayan minipurse seine di PPP Lempasing, yang terdiri dari sub populasi pemilik 25 orang dan sub populasi buruh 79 orangyang umumnya mendaratkan hasil tangkapan di TPI Lempasing. Hasil Nilai Tukar Nelayanmenunjukkan bahwatingkat kesejahteraan nelayan pemilik dengan indikator gabungan yaitu di atas 34 atau sejahtera tinggi,sedangkan nelayanburuh yaitu 24-30 yang artinya sejahtera sedang dan sejahtera tinggi. Sedangkan hasilanalisis tingkat kesejahteraan nelayan berdasarkan konsep Nilai Tukar Nelayan (NTN) untuk nelayanpemilikyaitu1,49 >1 yang menunjukkan bahwa pemilik termasuk dalam kriteria sejahtera tinggi, sedangkanuntuk nelayan buruh yaitu 1,34>1 yang artinya sejahtera tinggi
RESPONS TINGKAH LAKU IKAN NILA MERAH (Oreochromis niloticus) PADA JARING ARAD (SMALL BOTTOM TRAWL) MODIFIKASI PADA UJI FLUME TANK (SKALA LABORATORIUM) Simeon, Benaya Meitasari
Journal of Fisheries Resources Utilization Management and Technology Vol 2, No 1: Januari, 2013
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (219.328 KB)

Abstract

Fish have differential response on each part of fishing gear. Small bottom trawl was debated as irresponsible fishing gear always efforted as sustainable fishing gear by modification. Small bottom trawl miniatur with addittional part had modification composed by flapper as non-return device, square mesh selector, and square mesh codend. These modification needs laboratorium test related fish behavior, flapper efectivity, and squaremesh selectivity. Laboratorium test using flume tank usual used for fish behavior observation and fishing gear perform. Method that used was descriptive by case study. Descriptive was facts about fish behavior that obserrved and case study giving detail explaination about background, and spesific characters in this case was small bottom trawl modification. Result of this research were fish response for small bottom modification parts, escape level, and selectivity of square mesh selector. Flapper addition had 95% efectivity. Selectivity of squaremesh selector was shown on 4,7 for F 50 and 4,7 for SF. Selectivity of squaremesh codend was shown on 4,5 for F 50 and 6,4 for SF. Laboratorium test was hoped could giving delination aboout this modification fishing gear on the sea.
Analisis Perbedaan Umpan dan Kedalaman Pada Pancing Kalar terhadap Hasil Tangkapan Ikan Gabus (Ophiocepalus striatus) di Perairan Rawapening, Kabupaten Semarang Kurniawan, Septian Adi; Pramonowibowo, -; Boesono, Herry
Journal of Fisheries Resources Utilization Management and Technology Vol 4, No 2: April, 2015
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (520.74 KB)

Abstract

Masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan Rawapening banyak yang berprofesi sebagai nelayan. Salah satu ikan hasil tangkapan yang memiliki nilai ekonomis tinggi adalah ikan gabus, dimana ikan gabus (Ophiochepalus striatus) ini cukup banyak ditangkap di perairan Rawapening dengan hasil tangkapan sekitar 72.182 kg/th. Pancing Kalar merupakan alat tangkap pasif yang dioperasikan di perairan Rawapening, umpan yang biasa digunakan pada alat tangkap tersebut adalah katak/precil. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya pengaruh perbedaan jenis umpan dan kedalaman alat tangkap pancing kalar terhadap hasil tangkapan ikan gabus (Ophiochepalus striatus), serta mengetahui ada tidaknya interaksi antara kedua faktor tersebut. Metode eksperimental pada penelitian ini menggunakan 2 variabel atau 2 faktor yaitu perbedaan umpan dan kedalaman. Analisis data yang dilakukan adalah uji normalitas, uji homogenitas dan analisis One Way Anova dengan bantuan program SPSS 16. Hasil penelitian dengan menggunakan uji Anova menunjukan penggunaan jenis umpan yang berbeda berpengaruh nyata terhadap hasil tangkapan, dimana nilai sig untuk umpan anakan katak/precil (0,00) dan umpan katak palsu (0,00) < 0,05. Sedangkan kedalaman penangkapan baik 1 m maupun kedalaman 3 m juga berpengaruh terhadap hasil tangkapan dengan nilai sig (0,00) dan (0,00) < 0,05. Selain itu tidak ada interaksi antara jenis umpan dengan waktu penangkapan dibuktikan dengan nilai sig 0,394 > 0,05. The people of Rawapening area mostly worked as a fisherman. One of the most valuable species that utilized is snakehead fish (Ophiocepalus striata). This species is commonly catched in the area with production rate reaches 72.182 kg/year. Pancing Kalar” is a passive fishing gear that used small frogs as it bait. The aim of the research was to revealed the effect of bait giving and operation depth variations to snakehead fish (Ophiochepalus striatus) catches and also knowing the interaction between both factors. The research used experiment method with two kind of variables. Data was analyzed by normality test, homogeny test and One Way Anova with SPSS 16 software support. The Anova test showed that variations of bait giving were significantly effected the total catch of snakehead fish, with sig value for original small frogs was (0,00) an the imitation was (0,00) < 0,05. while the depth variation were also significantly effected the totl catch with sig value for 1 m and 3 m depth were (0,00) < 0,05. The result also showed that there’re no interaction between bait and time variation proofed with sig value 0,394 > 0,05.
ANALISIS CPUE DAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHI HASIL TANGKAPAN TUNA MADIDIHANG (Thunnus albacares) DI PELABUHAN PERIKANAN SAMUDERA CILACAP Sri Lestari; Abdul Kohar Mudzakir; Sardiyatmo Sardiyatmo
Journal of Fisheries Resources Utilization Management and Technology Vol 5, No 4: Oktober, 2016
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (298.551 KB)

Abstract

Perairan Cilacap masuk wilayah WPP 573 yang memiliki potensi hasil tangkapan Tuna Madidihang yang ditangkap dengan menggunakan tuna longline. Permasalahan yang ada perlu dikaji dari segi eksploitasi kegiatan penangkapan dan faktor yang mempengaruhi hasil tangkapan Tuna Madidihang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai CPUE Tuna Madidihang di Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap dan mengetahui faktor yang mempengaruhi hasil tangkapan Tuna Madidihang yang didaratkan di PPS Cilacap secara simultan dan parsial. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif yang bersifat studi kasus dengan metode pengambilan sampel purposive sampling. Metode analisis yang digunakan adalah regresi linier sederhana, uji asumsi klasik, dan fungsi produksi Cobb-Douglas. Hasil penelitian menunjukan nilai CPUE sebesar 248,71 kg/trip dan faktor-faktor yang berpengaruh nyata pada unit penangkapan tuna longline ada empat faktor dari tujuh variabel yang diamati, diantaranya bahan bakar (X1), ukuran kapal (X5), daya mesin (X6), dan lama trip (X7). Hubungan antara faktor-faktor produksi dengan produksi unit penangkapan tuna longline dapat direpresentasikan dalam model fungsi Cobb-Douglas, yaitu: Ln Y = 314,427 + 2,236 ln X1 + 5,217 ln X5 – 1,568 ln X6 + 0,475 ln X7. Terlihat bahwa elastisitas produksi dari penjumlah koefisien regresi (Σbi = 2,236 + 5,217 – 1,568 + 0,475 = 6,360), elastisitas menunjukkan nilai sebesar 6,360 yang berarti setiap penambahan 1 persen faktor-faktor produksi secara bersama-sama akan meningkatkan produksi sebesar 6,360 persen
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI HARGA IKAN MANYUNG (Arius thalassinus) DI TPI BAJOMULYO JUWANA PATI Febrianti, Sischa Silviana; Boesono, Herry; Hapsari, Trisnani Dwi
Journal of Fisheries Resources Utilization Management and Technology Vol 2, No 3: Agustus, 2013
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (419.074 KB)

Abstract

Ikan Manyung (Arius thalassinus) merupakan salah satu produk perikanan pantai di Laut Jawa yang termasuk dalam kelompok ikan demersal dan jenis ikan lepas pantai. Produksi ikan Manyung (Arius thalassinus) terbanyak di Kabupaten Pati didaratkan di TPI Bajomulyo Unit I Juwana. Total produksi ikan Manyung (Arius thalassinus) yang didaratkan di TPI Bajomulyo Unit I selama tahun 2008 – 2012 adalah 1.720.389 kg dengan rata-rata produksi per tahun 344.077 kg. Ikan Manyung (Arius thalassinus) di TPI Bajomulyo Unit I memiliki harga yang tinggi tetapi tidak stabil. Faktor - faktor yang mempengaruhi harga yang akan diteliti untuk penelitian antara lain jumlah produksi (X1), jumlah bakul (X2), mutu ikan (X3) dan ukuran berat ikan (X4). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi harga ikan Manyung (Arius thalassinus) yang didaratkan di TPI Bajomulyo Juwana unit I dan menganalisis margin pemasaran ikan Manyung (Arius thalassinus) di TPI Bajomulyo Juwana unit I. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi kasus dengan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan produksi ikan Manyung (Arius thalassinus) di TPI Bajomulyo Juwana unit I tahun 2008 - 2012 mengalami peningkatan yaitu 214.363 kg (2008); 334.020 kg (2009); 517.504 kg (2010); 324.423 kg (2011); dan 330.079 kg (2012). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa faktor yang mempunyai hubungan berbanding lurus dengan harga rata-rata ikan Manyung (Arius thalassinus) adalah mutu ikan dan ukuran berat ikan Manyung (Arius thalassinus) dengan persamaan regresi Y = 7347,557 - 0,096 X1 + 286,301 X2 +132,055 X3 + 928,037 X4. Lembaga pemasaran yang memperoleh margin terbesar dalam saluran pemasaran ikan Manyung (Arius thalassinus) di TPI Bajomulyo Unit I adalah di restoran dengan harga jual Rp. 18.000,-
ANALISIS PERBEDAAN JENIS UMPAN DAN KEDALAMAN PADA PANCING RAWAI DASAR TERHADAP HASIL TANGKAPAN IKAN MANYUNG (Arius thalassinus) DI PERAIRAN BANYUTOWO, KABUPATEN PATI, JAWA TENGAH Marom, Khoirul; Pramonowibowo, -; Dewi, Dian Ayunita NN
Journal of Fisheries Resources Utilization Management and Technology Vol 4, No 4: Oktober, 2015
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (534.908 KB)

Abstract

Rawai merupakan alat tangkap yang sederhana, yang biasa digunakan oleh nelayan di Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Banyutowo. Salah satu ikan hasil tangkapan di perairan Banyutowo yang memiliki nilai ekonomis tinggi adalah ikan manyung dengan hasil tangkapan sekitar 256.398 kg/th.  Rawai yang terdapat di PPI Banyutowo adalah rawai dasar dengan umpan cumi-cumi segar yang biasa di operasikan pada kedalaman 5 m. Peneliti menggunakan rawai dasar dengan umpan cumi-cumi segar, cumi-cumi awetan, ikan rucah segar dan ikan rucah awetan dan di operasikan pada kedalaman 5 m dan 10 m. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis umpan yang paling efektif dan jumlah hasil tangkapan paling banyak antara kedalaman 5 m dan 10 m dalam operasi penangkapan Ikan Manyung (Arius thalassinus). Penelitian  ini dilaksanakan pada bulan April - Mei 2014 yang bertempat di Perairan Pati, Desa Banyutowo, Kecamatan Dukuh seti, Kabupaten Pati. Metode eksperimental pada penelitian ini menggunakan 2 variabel yaitu perbedaan umpan dan kedalaman operasi penangkapan. Analisis data yang dilakukan adalah uji normalitas, uji homogenitas, analisis One Way Anova pada perlakuan perbedaan umpan pada masing-masing kedalaman dan analisis T Paired-Sample T Test pada perlakuan dengan perbedaan kedalaman. Hasil uji F (One Way Anova) perbedaan perlakuan umpan pada kedalaman 5m dan 10m didapatkan hasil bahwa nilai Fhitung<Ftabel , maka H0 diterima dan H1 ditolak. Dengan demikian perbedaan perlakuan umpan penangkapan tidak memberikan perbedaan rata- rata jumlah tangkapan Ikan Manyung (Arius thalassinus) yang signifikan. Sedangkan jumlah rata-rata hasil tangkapan Ikan Manyung (Arius thalassinus) dengan perbedaan perlakuan kedalaman didapatkan hasil nilai Thitung>Ttabel , maka H0 ditolak dan H1 diterima. Dengan demikian perbedaan perlakuan kedalaman penangkapan memberikan perbedaan rata – rata jumlah tangkapan  Ikan Manyung (Arius thalassinus) pada kedalaman 10 m lebih besar daripada jumlah rata-rata hasil tangkapan ada kedalaman 5 m. Kesimpulan dari penelitian ini adalah rawai dasar menggunakan beda umpan tidak memberikan perbedaan jumlah hasil tangkapan yang signifikan. Namun perbedaan kedalaman memberikan perbedaan jumlah rata-rata hasil tangkapan Ikan Manyung (Arius thalassinus) yang signifikan. Jumlah pada hasil tangkapan Ikan Manyung (Arius thalassinus) pada kedalaman 10 m lebih besar daripada jumlah rata-rata hasil tangkapan ada kedalaman 5 m. Rawai is a capture tool that is simple, commonly used by fishermen on the base of fish Landings (PPI) Banyutowo. One of the fish in the waters of Banyutowo that have high economic value is marine catfish with catches of approximately 256.398 kg/yr. Rawai in PPI Banyutowo is basic with bait rawai Squid in fresh running at a depth of 5 m. Researchers initiate using Basic with bait rawai squid fresh, squid preserved, fresh fish and fish preserved preservation and in running at a depth of 5 m and 10 m. The purpose of this research is to know the type of bait is the most effective and the most number of catches between 5 m and 10 m depth in the operation of Marine catfish (Arius thalassinus). This research was carried out in April-May 2014 in the waters of Starch, village Banyutowo, district Dukuh seti, Pati. Experimental research on the method of using two variables the where depth fishing operation and different fishing baits. The data analysis used normality test, homogeneity test, One Way Anova for bait in 5m and 10m  and analysis of Paired-Samples T Test for depth operation. F test results (One Way Anova) the difference in treatment of the bait at 5 m and 10 m, that H0 accepted. Thus the difference bait had no distinction average number of Marine catfish (Arius thalassinus). While the average number of Marine catfish (Arius thalassinus) and the difference in depth operation  get  result that H0. H means difference in depth gives the difference in average number of Marine catfish (Arius thalassinus) 10m depth has greater average captured than 5m depth. Conclusion of this research were the different baits of bottom long line had no distinction number of fishing captured. The difference in depth gives the difference in the average number of Marine catfish (Arius thalassinus). The number of Fish captured in Marine catfish (Arius thalassinus) at 10 m greater than 5 m depth.
ANALISIS ADAPTASI PERUBAHAN SALINITAS DAN SURVIVAL RATE IKAN KOAN (Ctenopharyngodon idella) SEBAGAI ALTERNATIF UMPAN HIDUP PADA POLE AND LINE Firdaus, Muhammad Wahyu; Purnama Fitri, Aristi Dian; Jayanto, Bogi Budi
Journal of Fisheries Resources Utilization Management and Technology Vol 7, No 2: April 2018
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (209.279 KB)

Abstract

Umpan hidup merupakan faktor penting dalam metode penangkapan dengan alat tangkap huhate. Ikan air tawar dapat dijadikan alternatif umpan karena memiliki variasi jenis lebih beragam dan stok yang selalu tersedia. Ikan koan dipilih karena memiliki karakteristik yang sesuai dengan umpan hidup pada alat tangkap huhate yaitu juvenil bandeng dan teri. Penelitian bertujuan untuk mengkaji batas optimal toleransi ikan uji terhadap  perubahan salinitas sebagai dasar penentuan kesesuaian ikan sebagai alternatif umpan hidup pada huhate. Penelitian dilakukan pada bulan Agustus–September 2017 di Laboratorium Fishing gear Departemen Perikanan Tangkap, Universitas Diponegoro dan Perairan Tambak Lorok, Semarang. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen. Analisis yang digunakan adalah analisis skor dan survival rate. Hasil penelitian uji laboratorium skor kriteria pengamatan berkisar antara 14,69 – 17,00 dengan kategori direkomendasikan, uji lapangan dengan tiga kriteria pengamatan mencakup pergerakan, persebaran dan ciri fisik ikan memiliki skor 4 – 4,67 dengan kategori dipertimbangkan dan nilai ekonomis ikan sebesar Rp. 400,- yang lebih murah disbanding juvenil bandeng yakni Rp. 900,- per ekornya. Ikan koan memiliki batas toleransi salinitas optimal sebesar 10‰, setelah salinitas lebih dari 10‰ ikan mulai tidak mau makan dan pada salinitas 13‰ ikan hanya mampu hidup   2 – 3 hari sebelum akhirnya mati. Ikan koan tergolong dipertimbangkan sebagai alternatif pengganti umpan hidup pada huhate.
PERBEDAAN UKURAN MATA PANCING ALAT TANGKAPRAWAI TERHADAP HASIL TANGKAPAN YANG DI TANGKAP DI PERAIRAN SRAU KABUPATEN PACITAN Amirulloh, Reza Putra; Pramonowibowo, -; Bambang, Azis Nur
Journal of Fisheries Resources Utilization Management and Technology Vol 3, No 2: April 2014
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (304.995 KB)

Abstract

Mata pancing (hook) merupakan bagian yang paling penting dari suatu alat tangkap pancing. Pada penelitian ini digunakansatu unit rawai yang memiliki 120 buah mata pancing dengan tiga macam ukuran yaitu mata pancing nomor 7, 8 dan 9. Penelitian dilakukan dengan malakukan 10 kali setting yang dianggap sebagai ulagan dan dalam jangka waktu tujuh hari.Tujuan dilaksanakan penelitian ini adalah untuk mengetahui keefektifanmata pancing rawai nomer 7, 8, dan 9 terhadap hasil tangkapan, untuk mengetahui laju tangkap mata pancing (hook rate) tiap-tiap mata pancing, dan juga untuk mengetahui komposisi hasil tangkapan rawai dengan nomer pancing yang berbeda.Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode experimental fishing yaitu dengan melakukan kegiatan operasi penangkapan ikan langsung di lapangan.Dalam penelitian ini digunakan satu unit alat tangkap rawai dengan tiga mata pancing yang berbeda.Rawai dasar tersebut memiliki perbedaan pada konstruksi mata pancing.Hasil penelitian menunjukan bahwa perbedaan nomer mata pancing pada penelitian ini berpengaruh terhadap jumlah hasil tangkapan alat tangkap rawai dasar. Dilihat dari hasil tangkapan mata pancing nomer 7 sebanyak  20 ekor, mata pancing nomer 8 sebanyak 12 ekor, dan mata pancing nomer 9 sebanyak 10 ekor. Uji pembedaan menggunakan ANOVA menunjukkan bahwa, mata pancing nomer 7 lebih baik dari pada nomer 8 dan 9. Hook is the most important part of the fishing gear. In this study used a longline that has 120 hooks with three kinds of sizes hook numbers 7, 8, and 9. The study was conducted as many as 10 times setting that considered as replicates within seven days.The purpose of this study was conducted to assess the effectiveness of longline hook number 7, 8, and 9 on the catch, to assess the rate of fishing hook (hook rate) of each hook, and also to examine the composition of longline catches by different number of hooks.The research was conducted by using experimental fishing is conducting fishing operations in the field. This study used a unit of longline gear with three different hooks. The basic longline coined the difference in the construction of the hook.The results showed the difference of hook numbers in this study affect the number of catches bottom logline. It is seen from the hook catches as many as 20 tail number 7, number 8 hook as many as 12 tails, and hook as many as 10 tail number 9. ANOVA test showed the difference in hooks and number 7 is better than the number 8 and 9.