cover
Contact Name
Purnama Rozak
Contact Email
jurnaljiwara@gmail.com
Phone
+6281324616616
Journal Mail Official
jurnaljiwara@gmail.com
Editorial Address
Perum GIS No. 16 Desa Sampih Kec. Wonopringgo Kab. Pekalongan Jawa Tengah
Location
Kab. pekalongan,
Jawa tengah
INDONESIA
Jiwara: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling
ISSN : 31249930     EISSN : 31249892     DOI : -
Core Subject :
Jiwara: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling adalah jurnal ilmiah yang mempublikasikan hasil penelitian dan kajian akademik di bidang psikologi, bimbingan dan konseling. Jurnal ini berfokus pada pengembangan teori, praktik, dan intervensi psikologis dalam konteks pendidikan, keluarga, dan masyarakat. Jiwara menjadi wadah ilmiah bagi akademisi, peneliti, konselor, psikolog, dan praktisi untuk mendiseminasikan temuan riset, gagasan, dan pemikiran kritis yang berkontribusi terhadap peningkatan kesehatan mental, kesejahteraan psikologis, dan layanan bimbingan konseling. Seluruh artikel yang diterbitkan melalui proses penelaahan sejawat (peer review) yang ketat dan mengacu pada standar etika publikasi ilmiah guna menjamin kualitas, objektivitas, dan integritas akademik.
Arjuna Subject : -
Articles 43 Documents
Peran Gaya Kelekatan terhadap Preferensi Pemilihan Pasangan pada Laki-Laki Dewasa Awal yang Masih Lajang Syifa Kamila Defayani; Winanti Siwi Respati
Jiwara: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 1 No. 2 (2026): Agustus 2026
Publisher : Darul Faizin Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67755/jiwara.v1i2.249

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena meningkatnya jumlah laki-laki dewasa awal yang belum menikah di Indonesia serta pentingnya pemahaman mengenai faktor-faktor yang memengaruhi preferensi pemilihan pasangan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji peran gaya kelekatan terhadap preferensi pemilihan pasangan pada laki-laki dewasa awal yang masih lajang. Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif non-eksperimental dengan desain asosiatif kausal. Sampel penelitian melibatkan 145 responden laki-laki berusia 20-40 tahun yang dipilih menggunakan teknik purposive dan insidental sampling. Pengumpulan data menggunakan skala Trent-Relationship Scales Questionnaire (T-RSQ) untuk mengukur gaya kelekatan (secure, dismissing, fearful, dan preoccupied) serta skala Nine-Mate Selection Question (NMSQ) untuk mengukur preferensi pemilihan pasangan. Analisis data dilakukan menggunakan teknik regresi linear berganda. Hasil uji regresi simultan maupun parsial menunjukkan bahwa keempat pola gaya kelekatan tidak berperan secara signifikan terhadap preferensi pemilihan pasangan pada laki-laki dewasa awal yang masih lajang (sig. = 0,810, p > 0,05). Kontribusi total keempat gaya kelekatan terhadap preferensi pemilihan pasangan hanya sebesar 1,1% (R Square = 0,011), sedangkan 98,9% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain di luar penelitian ini, seperti status sosial-ekonomi, pendidikan, maupun faktor eksternal lainnya. Dengan demikian, hipotesis yang diajukan tidak terbukti, mengindikasikan bahwa gaya kelekatan lebih relevan menjelaskan aspek afektif atau kesiapan psikologis ketimbang kriteria kognitif dalam memilih pasangan.
Hubungan Emotional Intelligence dengan Organizational Citizenship Behaviour (OCB) pada Pekerja Generasi Z di Indonesia Siti Zahroo Rihhadatul Aisy; Aisyah Ratnaningtyas; Grin Rayi Prihandini; Hellya Agustina
Jiwara: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 1 No. 2 (2026): Agustus 2026
Publisher : Darul Faizin Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67755/jiwara.v1i2.250

Abstract

Masuknya Generasi Z ke dunia kerja kerap memunculkan kesenjangan antara ekspektasi lingkungan kerja yang fleksibel dengan realitas tuntutan efisiensi yang tinggi. Kondisi ini menuntut pengelolaan emosi yang baik guna mendorong kesediaan menampilkan perilaku kerja sukarela di luar peran formal atau Organizational Citizenship Behaviour (OCB). Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara emotional intelligence dengan OCB pada pekerja Generasi Z di Indonesia. Menggunakan desain kuantitatif korelasional melalui teknik purposive sampling, penelitian melibatkan 100 pekerja Generasi Z berusia 18–28 tahun dengan masa kerja minimal satu tahun. Instrumen ukur berupa skala psikologis dengan nilai reliabilitas Cronbach's Alpha sebesar 0,900 untuk emotional intelligence dan 0,794 untuk OCB. Uji hipotesis menggunakan korelasi Pearson Product Moment menghasilkan koefisien korelasi sebesar 0,730 dengan tingkat signifikansi 0,000 (p < 0,05). Hasil tersebut menunjukkan adanya hubungan positif yang kuat dan signifikan antara kedua variabel dengan kategori sedang secara keseluruhan. Temuan ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi kecerdasan emosional pekerja Generasi Z, semakin tinggi pula kecenderungan mereka untuk terlibat dalam perilaku kerja ekstra peran demi mendukung efektivitas organisasi. 
Hubungan Social Support dengan Psychological Well-Being pada Mahasiswa Rantau JIP Angkatan 2024 Universitas Sanata Dharma Marselina Dwi Rahmawati; Prias Hayu Purbaning Tyas
Jiwara: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 1 No. 2 (2026): Agustus 2026
Publisher : Darul Faizin Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67755/jiwara.v1i2.251

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi: (1) tingkat social support pada mahasiswa rantau Jurusan Ilmu Pendidikan (JIP) Angkatan 2024 Universitas Sanata Dharma, (2) tingkat psychological well-being pada mahasiswa rantau JIP Angkatan 2024 Universitas Sanata Dharma, dan (3) hubungan social support dengan psychological well-being pada mahasiswa rantau JIP Angkatan 2024 Universitas Sanata Dharma. Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain korelasional. Penelitian melibatkan 72 mahasiswa rantau yang berasal dari luar wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah melalui teknik purposive sampling. Data diperoleh melalui dua skala, yaitu skala social support dan skala psychological well-being, yang menggunakan empat alternatif respons dalam model Likert. Pengolahan data mencakup analisis deskriptif dan uji korelasi Pearson Product-Moment menggunakan perangkat lunak JASP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) social support pada mahasiswa rantau berada dalam kategori sangat tinggi dengan persentase 50%, (2) psychological well-being berada dalam kategori sangat tinggi dengan persentase 41,67%, dan (3) social support memiliki hubungan positif dan signifikan dengan psychological well-being, ditunjukkan oleh nilai r = 0,624 dan p < 0,001. Temuan tersebut mendukung hipotesis penelitian, yaitu terdapat hubungan positif antara kedua variabel. Mahasiswa rantau yang memiliki social support lebih tinggi cenderung menunjukkan psychological well-being yang lebih tinggi.
Pengaruh Regulasi Emosi Terhadap Burnout Akademik pada Mahasiswa Tingkat Akhir yang sedang Mengerjakan Skripsi Khoirunnisa Khoirunnisa; Grin Rayi Prihandini
Jiwara: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 1 No. 2 (2026): Agustus 2026
Publisher : Darul Faizin Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67755/jiwara.v1i2.252

Abstract

Mahasiswa tingkat akhir yang sedang mengerjakan skripsi rentan mengalami burnout akademik akibat tuntutan penyelesaian tugas akhir yang tinggi dan berkepanjangan. Salah satu faktor yang diduga berperan dalam menekan risiko burnout akademik ialah kemampuan regulasi emosi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh regulasi emosi terhadap burnout akademik pada mahasiswa tingkat akhir yang sedang mengerjakan skripsi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain regresional. Sampel penelitian berjumlah 125 mahasiswa tingkat akhir yang dipilih menggunakan teknik non-probability sampling jenis convenience sampling. Analisis data dilakukan menggunakan uji regresi linier sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa regulasi emosi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap burnout akademik dengan nilai koefisien regresi sebesar -0,613 dan signifikansi < 0,001. Nilai R Square sebesar 0,217 menunjukkan bahwa regulasi emosi mampu memprediksi burnout akademik sebesar 21,7%, sedangkan 78,3% sisanya dijelaskan oleh faktor lain di luar model penelitian. Dengan demikian, H1 yang menyatakan terdapat pengaruh regulasi emosi terhadap burnout akademik pada mahasiswa tingkat akhir yang sedang mengerjakan skripsi dinyatakan diterima. Artinya, semakin tinggi regulasi emosi yang dimiliki mahasiswa, maka semakin rendah burnout akademik yang dialami, dan sebaliknya.
Hubungan Dukungan Orang Tua dengan Quarter Life Crisis pada Perempuan Dewasa Awal Ardella Naurah Sani; Yulisa Susanti
Jiwara: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 1 No. 2 (2026): Agustus 2026
Publisher : Darul Faizin Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67755/jiwara.v1i2.253

Abstract

Dewasa awal merupakan tahap dari remaja menuju kedewasaan. Pada tahap ini, individu mulai menghadapi perubahan-perubahan, seperti kemandirian secara ekonomi, pengambilan keputusan, dan tanggung jawab yang lebih besar. Adanya perubahan serta tuntutan, khususnya pada perempuan lebih rentan mengalami tekanan psikologis saat merasa tidak dapat memenuhi standar sosial yang ditetapkan, sehingga dapat memicu munculnya quarter life crisis. Salah satu faktor yang dapat berperan dalam menghadapi kondisi tersebut yaitu berasal dari dukungan orang tua. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan dukungan orang tua dengan quarter life crisis pada perempuan dewasa awal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain penelitian korelasional. Partisipan berjumlah 385 perempuan berusia 20-25 tahun, yang berdomisili di DKI Jakarta, menggunakan teknik non-probabilty sampling dengan jenis purposive sampling. Alat ukur dukungan orang tua sebanyak 27 item dengan koefisien reliabilitas (α) = 0,926 dan alat ukur quarter life crisis sebanyak 27 item dengan koefisien reliabilitas (α) = 0,910. Penelitian ini menggunakan uji korelasi Spearman rank, dengan nilai koefisien korelasi -0,556 dan nilai signifikansi (p) = 0,000. Hipotesis pada penelitian ini yaitu terdapat hubungan negatif yang signifikan antara dukungan orang tua dengan quarter life crisis pada Perempuan dewasa awal, artinya semakin tinggi dukungan orang tua, maka semakin rendah quarter life crisis, dan sebaliknya semakin rendah dukungan orang tua, maka semakin tinggi quarter life crisis.
Gambaran Bedtime Procrastination pada Dewasa Awal yang Mengakses Platform Layanan Streaming Sandrha Sandrha; Sulis Mariyanti
Jiwara: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 1 No. 2 (2026): Agustus 2026
Publisher : Darul Faizin Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67755/jiwara.v1i2.256

Abstract

Tidur merupakan kebutuhan penting, tetapi perkembangan teknologi digital dan kemudahan akses platform layanan streaming membuat dewasa awal semakin rentan menunda waktu tidur secara sengaja meskipun menyadari konsekuensinya. Bedtime procrastination dapat dipengaruhi oleh kegagalan pengendalian diri, kondisi energi mental yang rendah, impulsivitas, rendahnya ketelitian dan tanggung jawab, distraksi modern dan lingkungan digital, serta kronotipe (eveningness). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran bedtime procrastination pada dewasa awal pengguna platform layanan streaming. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan teknik incidental sampling. Sampel penelitian berjumlah 176 dewasa awal berusia 18-25 tahun yang menggunakan platform layanan streaming dan memiliki kebiasaan menonton pada malam hari. Pengumpulan data menggunakan Bedtime procrastination Scale (BPS) yang diadaptasi dan dimodifikasi menjadi 54 item. Pengujian validitas menggunakan corrected item-total correlation (≥ 0,30), menghasilkan 27 item valid pada putaran kedua dengan uji reliabilitas Cronbach's Alpha sebesar 0,893. Hasil penelitian menunjukkan 92 responden (52,3%) berada pada kategori bedtime procrastination tinggi dan 84 responden (47,7%) pada kategori rendah. Mayoritas responden menonton streaming 1-3 jam per malam (67,1%) dan memiliki waktu tidur 5-6 jam per hari (65,9%). Uji Chi-Square menunjukkan adanya hubungan signifikan antara jumlah waktu tidur per hari (???? = 0,007) serta durasi menonton streaming per malam (???? = 0,002) dengan bedtime procrastination. Namun, tidak terdapat hubungan signifikan antara status kuliah atau bekerja dengan bedtime procrastination (???? = 0,641). Hasil penelitian menunjukkan bahwa bedtime procrastination pada dewasa awal pengguna streaming cenderung tinggi.
Hubungan Leader-Member Exchange (LMX) dengan Turnover Intention Karyawan di PT BTU Farida Aryani; Raden Yudhi Satria
Jiwara: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 1 No. 2 (2026): Agustus 2026
Publisher : Darul Faizin Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67755/jiwara.v1i2.257

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara Leader-Member Exchange (LMX) dengan turnover intention karyawan di PT BTU. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional dan cross-sectional. Populasi penelitian terdiri atas karyawan level supervisor, staf, dan admin yang memiliki atasan langsung dan telah bekerja minimal satu bulan. Seluruh populasi sasaran sebanyak 77 karyawan digunakan sebagai sampel melalui teknik sampel jenuh. Pengumpulan data menggunakan skala LMX yang dikembangkan berdasarkan Liden dan Maslyn (1998) serta skala turnover intention berdasarkan Mobley et al. (1979). Analisis data dilakukan menggunakan korelasi Product Moment Pearson. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan negatif dan signifikan antara LMX dan turnover intention, dengan koefisien korelasi r = −0,405 dan signifikansi p = 0,000. Hubungan tersebut berada pada kategori sedang. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi kualitas hubungan antara atasan dan bawahan yang dipersepsikan karyawan, semakin rendah turnover intention. Sebaliknya, rendahnya kualitas LMX berkaitan dengan meningkatnya kecenderungan karyawan untuk meninggalkan organisasi. Hasil penelitian dapat menjadi pertimbangan bagi PT BTU dalam meningkatkan kualitas hubungan atasan-bawahan sebagai bagian dari strategi mempertahankan karyawan.
Hubungan Makna Kerja dengan Komitmen Organisasi pada Karyawan Perusahaan Logistik Siska Septianus; Marhisar Simatupang; Aisyah Ratnaningtyas; Linus Kali Palindangan
Jiwara: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 1 No. 2 (2026): Agustus 2026
Publisher : Darul Faizin Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67755/jiwara.v1i2.258

Abstract

Perusahaan logistik membutuhkan karyawan yang memiliki komitmen organisasi tinggi agar mampu menjalankan tugas secara optimal dan mendukung keberlangsungan operasional perusahaan. Salah satu faktor psikologis yang diduga berkaitan dengan komitmen organisasi adalah makna kerja, yaitu sejauh mana individu memandang pekerjaannya sebagai sesuatu yang bernilai, memiliki tujuan, dan memberikan manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara makna kerja dengan komitmen organisasi pada karyawan perusahaan logistik. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional dan melibatkan 127 karyawan perusahaan logistik yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Hasil uji reliabilitas menunjukkan koefisien Cronbach’s Alpha sebesar 0,934 pada skala makna kerja dan 0,920 pada skala komitmen organisasi. Analisis data menggunakan korelasi Spearman’s Rank karena salah satu variabel tidak berdistribusi normal. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan positif dan signifikan antara makna kerja dengan komitmen organisasi (rₛ = 0,673; p < 0,001) dengan kekuatan hubungan berada pada kategori kuat. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi makna kerja yang dirasakan karyawan, semakin tinggi pula komitmen organisasinya. Dengan demikian, penguatan makna kerja dapat menjadi salah satu aspek penting dalam mendukung peningkatan komitmen organisasi pada karyawan perusahaan logistik.
Peran Kecerdasan Emosi Terhadap Resiliensi pada Perempuan Dewasa Awal Korban Kekerasan dalam Pacaran Ucu Ida Farida; Srifianti Srifianti
Jiwara: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 1 No. 2 (2026): Agustus 2026
Publisher : Darul Faizin Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67755/jiwara.v1i2.259

Abstract

Kekerasan dalam pacaran dapat menimbulkan berbagai dampak psikologis pada perempuan dewasa awal, seperti kecemasan, rendah diri, trauma, ketakutan membangun hubungan kembali, dan tekanan emosional. Kemampuan untuk bangkit dan beradaptasi setelah mengalami kondisi tersebut berkaitan dengan resiliensi, yang diduga salah satunya dipengaruhi oleh kecerdasan emosi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran kecerdasan emosi terhadap resiliensi pada perempuan dewasa awal korban kekerasan dalam pacaran. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif non-eksperimental dengan desain korelasional. Partisipan berjumlah 144 perempuan dewasa awal berusia 18–29 tahun yang pernah mengalami kekerasan dalam pacaran dan telah keluar dari hubungan tersebut, yang diperoleh melalui teknik incidental sampling. Resiliensi diukur menggunakan The Connor-Davidson Resilience Scale (CD-RISC) yang terdiri atas 24 item valid dengan reliabilitas Cronbach’s Alpha sebesar 0,919. Kecerdasan emosi diukur menggunakan The Assessing Emotion Scale (AES) yang terdiri atas 25 item valid dengan reliabilitas sebesar 0,885. Analisis data menggunakan regresi linier sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecerdasan emosi berperan positif dan signifikan terhadap resiliensi (p < 0,001), dengan persamaan regresi Y = 16,269 + 0,767X dan nilai R² sebesar 0,421. Artinya, kecerdasan emosi memberikan kontribusi sebesar 42,1% terhadap resiliensi. Sebagian besar responden memiliki kecerdasan emosi tinggi (55,6%) dan resiliensi tinggi (57,6%). Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi kecerdasan emosi, semakin tinggi pula resiliensi perempuan dewasa awal korban kekerasan dalam pacaran.
Hubungan Antara Persepsi Dukungan Sosial Dengan Culture Shock Pada Taruna/Kadet Tingkat I Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran Indonesia Pitriyanti Pitriyanti; Raden Yudhi Satria
Jiwara: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 1 No. 2 (2026): Agustus 2026
Publisher : Darul Faizin Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67755/jiwara.v1i2.260

Abstract

Masa awal pendidikan di lingkungan kedinasan berasrama dengan sistem semi-militer menuntut taruna/kadet tingkat I untuk menyesuaikan diri dengan rutinitas baru, disiplin, aturan ketat, kehidupan komunal, serta keberagaman latar belakang sosial budaya. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan culture shock. Persepsi dukungan sosial dari keluarga, teman, dan orang penting lainnya dipandang sebagai sumber daya psikososial yang dapat membantu taruna/kadet menghadapi tuntutan adaptasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara persepsi dukungan sosial dan culture shock pada taruna/kadet tingkat I Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran Indonesia. Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif non-eksperimental dengan desain korelasional. Partisipan berjumlah 229 taruna/kadet tingkat I yang dipilih melalui teknik simple random sampling. Data dikumpulkan menggunakan skala persepsi dukungan sosial dengan 18 item (α=0,952) dan skala culture shock dengan 20 item (α=0,858). Analisis dilakukan menggunakan korelasi Pearson Product Moment dan regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara persepsi dukungan sosial dan culture shock (r=−0,486; Sig.=0,000). Nilai koefisien determinasi R²=0,236 menunjukkan bahwa persepsi dukungan sosial menjelaskan 23,6% variasi culture shock dalam model penelitian. Semakin tinggi persepsi dukungan sosial, semakin rendah tingkat culture shock yang dialami taruna/kadet tingkat I.