cover
Contact Name
Yasir Sidiq
Contact Email
lppi@ums.ac.id
Phone
+6282134901660
Journal Mail Official
lppi@ums.ac.id
Editorial Address
Gedung Induk Siti Walidah Jalan Ahmad Yani, Pabelan, Kartasura, Surakarta 57162, Jawa Tengah, Indonesia
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta
ISSN : 27212882     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta diterbitkan dalam rangka seminar tahunan yang diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran, Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Arjuna Subject : -
Articles 597 Documents
Seorang Perempuan Usia 35 Tahun dengan Dermatitis Numularis: Laporan Kasus Landung Wahyu Prasetya; Aris Cahyono
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2026: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Gastro
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dermatitis numularis merupakan varian kronis dermatitis ekzematosa yang ditandai oleh plak eritematosa berbatas tegas berbentuk koin disertai pruritus intens dan bersifat relaps-remisi. Kondisi ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor predisposisi, termasuk perubahan imunologis dan hormonal yang terjadi selama kehamilan. Tujuan laporan kasus ini adalah untuk mendeskripsikan gambaran klinis, faktor risiko, penegakan diagnosis, serta respons terapi pada pasien dengan dermatitis numularis. Dilaporkan seorang perempuan usia 35 tahun dengan G3P2A1 usia kehamilan 23 minggu, mengalami gatal kronis pada kedua tangan dan tungkai kiri selama enam bulan yang memberat pada malam hari dan cuaca dingin. Pemeriksaan fisik menunjukkan patch eritematosa berbentuk numular berdiameter 2-6 cm, berbatas tegas, disertai krusta kuning dan hiperpigmentasi sentral pada permukaan ekstensor ekstremitas atas dan bawah. Diagnosis dermatitis numularis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan klinis. Pasien diterapi dengan antihistamin sistemik serta kortikosteroid dan antibiotik topikal, dengan evaluasi hari ke-14 menunjukkan perbaikan klinis yang signifikan. Simpulan laporan ini menegaskan pentingnya identifikasi faktor risiko dan tata laksana komprehensif untuk memperoleh hasil klinis optimal dan meningkatkan kualitas hidup pasien.
Laporan Kasus: Hernia Inguinalis Medialis Sinistra Reponibilis pada Laki-Laki Usia 84 Tahun Fathiyya Noor Affifah; Ari Setiawan
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2026: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Gastro
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hernia inguinalis medialis merupakan kondisi penonjolan organ intestinal maupun jaringan lemak (omentum) melalui dinding posterior kanalis inguinalis pada trigonum Hesselbach di medial vasa epigastrika inferior. Hernia inguinalis lebih banyak terjadi pada laki-laki yang meningkat seiring berjalannya usia. Hernia inguinalis medialis lebih banyak terjadi pada laki-laki usia lanjut (lansia) dengan beban fisik yang berlebih. Kami melaporkan kasus observasional hernia inguinalis medialis pada pasien laki-laki usia 84 tahun yang datang ke IGD RSUD dr. Sayidiman Magetan dengan keluhan benjolan nyeri dan panas di selangkangan kiri yang tampak menonjol pada posisi berdiri tanpa disertai keluhan saluran cerna. Pemeriksaan status lokalis didapatkan massa lunak hangat di kuadran kiri bawah abdomen yang menghilang dalam posisi berbaring. Pasien didiagnosis hernia inguinalis medialis sinistra reponibilis berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Tatalaksana pembedahan dilakukan dengan herniorafi untuk memperkuat dan menutup defek di dinding posterior kanalis inguinalis. Pasien menunjukkan perbaikan klinis setelah 2 hari perawatan setelah tindakan tanpa komplikasi intraoperatif dan diperbolehkan pulang dengan kondisi stabil.
Seorang Laki-Laki 32 Tahun dengan Skabies dan Skizofrenia: Laporan Kasus Wempy Rifda Mufidah; Retna Ika Suryaningrum
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2026: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Gastro
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Skabies merupakan penyakit kulit menular yang sering dijumpai pada individu dengan kebersihan diri rendah, seperti pasien dengan gangguan jiwa skizofrenia yang mengalami hambatan dalam perawatan diri. Laporan kasus ini bertujuan untuk mendiskusikan tatalaksana skabies pada pasien skizofrenia, dengan fokus pada pendekatan multidisiplin yang mencakup aspek dermatologis dan kejiwaan. Metode yang digunakan adalah studi kasus pada seorang laki-laki berusia 32 tahun dengan diagnosis skizofrenia yang datang dengan keluhan gatal hebat terutama malam hari dan lesi kulit papuler serta ekskoriasi di seluruh tubuh. Penegakan diagnosis didasarkan pada anamnesis dan pemeriksaan fisik yang memenuhi kriteria klinis skabies. Terapi meliputi pemberian krim permetrin 5% topikal dan antihistamin oral, disertai edukasi kebersihan diri dan lingkungan kepada pasien serta keluarga. Hasil menunjukkan bahwa kombinasi terapi medikamentosa dan modifikasi perilaku berperan penting dalam penanganan infeksi dan pencegahan kekambuhan. Disimpulkan bahwa penatalaksanaan skabies pada pasien skizofrenia memerlukan pendekatan komprehensif yang melibatkan aspek pengobatan kulit, dukungan kesehatan jiwa, dan edukasi perawatan diri untuk mengendalikan infeksi dan meningkatkan kualitas hidup pasien.
Karsinoma Kolon Rektosigmoid dengan Kebocoran Anastomosis dan Syok Sepsis Pascaoperasi: Laporan Kasus Ramona Agustina Pramuja; Abdul Hakam Mubarok
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2026: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Gastro
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karsinoma kolon rektosigmoid merupakan salah satu keganasan saluran cerna yang sering dijumpai dan dapat menimbulkan komplikasi serius, terutama pada kasus lanjut atau dengan keterlambatan diagnosis. Laporan kasus ini bertujuan untuk menggambarkan perjalanan klinis, penatalaksanaan, serta luaran pasien dengan karsinoma kolon rektosigmoid yang mengalami komplikasi pascaoperasi berupa kebocoran anastomosis dan syok sepsis. Seorang pasien usia lanjut datang dengan keluhan gangguan pola defekasi, nyeri perut, dan perdarahan per rektal. Pemeriksaan klinis dan penunjang mengarah pada diagnosis tumor kolon kiri, sehingga dilakukan tindakan laparotomi dan reseksi tumor. Pascaoperasi, pasien mengalami perburukan kondisi akibat kebocoran anastomosis yang berkembang menjadi sepsis berat dan syok sepsis meskipun telah diberikan tatalaksana intensif. Kasus ini menyoroti tingginya risiko komplikasi dan mortalitas pada pembedahan kolorektal, khususnya pada pasien dengan faktor risiko tertentu. Optimalisasi kondisi preoperatif, teknik bedah yang adekuat, serta pemantauan pascaoperasi yang ketat sangat diperlukan untuk menurunkan risiko komplikasi dan memperbaiki luaran klinis pasien kanker kolorektal.
Seorang Bayi Laki-Laki Usia 25 Hari dengan Kolestasis Karina Dwi Hapsari; Rahma Anindita
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2026: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Gastro
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kolestasis merupakan hambatan aliran empedu yang menyebabkan terganggunya sekresi berbagai substansi yang seharusnya diekskresikan dari empedu ke duodenum, sehingga bahan-bahan tersebut tertahan di dalam hepar dan menimbulkan kerusakan hepatosit. Dilaporkan salah satu kasus kolestasis pada seorang bayi laki-laki usia 25 hari di RSUD dr. Sayidiman Magetan. Laporan kasus ini menggambarkan seorang bayi laki-laki berusia 25 hari yang mengalami kolestasis ditandai dengan ikterus persisten, peningkatan kadar bilirubin direk, dan temuan ultrasonografi berupa kandung empedu yang tidak berkontraksi setelah makan tanpa adanya obstruksi yang jelas. Pasien menunjukkan gejala klinis termasuk ikterus sklera dan warna urin kuning tua, dengan hasil laboratorium yang mengkonfirmasi hiperbilirubinemia yang signifikan. Penanganan awal melibatkan pemberian asam ursodeoksikolat dan vitamin larut lemak, diikuti dengan rujukan ke poli anak subdivisi gastrohepatologi. Kasus ini menggarisbawahi pentingnya penilaian klinis, laboratorium, dan pencitraan yang komprehensif dalam mendiagnosis kolestasis neonatal, yang dapat berasal dari berbagai etiologi seperti atresia bilier, infeksi, atau gangguan metabolisme. Diagnosis dini dan intervensi yang tepat sangat penting untuk mengoptimalkan hasil dan mencegah komplikasi hati jangka panjang.
Penatalaksanaan Kasus Multiple Fracture akibat Kecelakaan Lalu Lintas: Laporan Kasus Dania Talitha Rahma
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2026: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Gastro
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Multiple fracture akibat kecelakaan lalu lintas merupakan kondisi traumatik berat yang sering terjadi pada usia produktif dan berpotensi menyebabkan komplikasi sistemik, terutama perdarahan dan gangguan fungsi muskuloskeletal. Penanganan yang cepat, sistematis, dan sesuai prinsip Advanced Trauma Life Support (ATLS) sangat menentukan luaran klinis pasien. Dilaporkan seorang laki-laki usia 34 tahun yang datang ke Instalasi Gawat Darurat RSUD Dr. Hardjono S. Ponorogo dengan keluhan nyeri hebat pada ekstremitas kanan setelah mengalami kecelakaan lalu lintas sepeda motor. Pemeriksaan klinis dan radiologis menunjukkan close fracture 1/3 medial femur dextra, open fracture 1/3 distal tibia dan fibula dextra, serta vulnus amputatum digiti V manus dextra. Pasien mendapatkan penatalaksanaan awal sesuai protokol ATLS, meliputi stabilisasi hemodinamik, kontrol nyeri, pemberian antibiotik, serta imobilisasi ekstremitas. Tindakan definitif yang direncanakan adalah Open Reduction Internal Fixation (ORIF). Fraktur tulang panjang, khususnya femur dan tibia, dapat menyebabkan kehilangan darah yang signifikan dan meningkatkan risiko syok hemoragik. Penilaian menyeluruh melalui primary dan secondary survey sangat penting untuk mendeteksi cedera yang mengancam nyawa. Penanganan multidisiplin dan perencanaan terapi definitif yang tepat berperan penting dalam mencegah komplikasi dini maupun lanjut, termasuk infeksi dan gangguan penyembuhan tulang. Multiple fracture akibat kecelakaan lalu lintas memerlukan pendekatan komprehensif berbasis ATLS. Diagnosis yang cepat, stabilisasi awal yang adekuat, serta tatalaksana bedah dan rehabilitasi yang optimal dapat meningkatkan prognosis dan pemulihan fungsi pasien.
Manajemen Open Fraktur 1/3 Distal Femur Sinistra pada Remaja Laki-Laki: Sebuah Laporan Kasus Nia Auria Silalahi; F Farhat
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2026: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Gastro
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fraktur femur merupakan hilangnya kontinuitas tulang akibat trauma fisik hebat yang memerlukan penanganan komprehensif untuk mencegah komplikasi sistemik seperti syok. Laporan kasus ini bertujuan untuk mendokumentasikan diagnosis dan penatalaksanaan bedah pada kasus fraktur terbuka 1/3 distal femur sinistra. Metode yang digunakan adalah studi laporan kasus klinis yang meliputi evaluasi melalui survei primer dan sekunder, pemeriksaan penunjang radiologi, serta tindakan operatif Open Reduction Internal Fixation (ORIF). Subjek adalah seorang laki-laki berusia 17 tahun yang mengalami kecelakaan sepeda motor dengan keluhan nyeri hebat (VAS 9) disertai luka terbuka dengan paparan tulang. Hasil intervensi menunjukkan bahwa setelah dilakukan fiksasi internal menggunakan plat dan sekrup, kondisi pasien stabil dengan penyembuhan luka yang baik. Dalam pemantauan selama empat minggu, skala nyeri pasien menurun signifikan hingga mencapai VAS 0, luka operasi tampak kering, dan dilakukan pengangkatan jahitan tanpa adanya komplikasi infeksi. Simpulan dari laporan ini menegaskan bahwa keberhasilan penanganan fraktur terbuka sangat bergantung pada penerapan prinsip 4R (Recognize, Reduksi, Retaining, dan Rehabilitasi) serta manajemen nutrisi dan rehabilitasi pasca-operasi guna memulihkan fungsi ekstremitas secara optimal.
Seorang Laki Laki 66 Tahun dengan Trauma Okuli: Suatu Laporan Kasus Khairunnisa J. C. Wijaya; Dessira Rizka Tri Ariany
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2026: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Gastro
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Trauma okuli akibat extraocular foreign body (EOFB) adalah cedera mata yang disebabkan oleh masuknya benda asing ke permukaan mata tanpa penetrasi ke dalam bola mata. Kasus ini melaporkan seorang pria dengan trauma mata kiri. Penelitian ini bertujuan untuk melaporkan hasil diagnosis, penanganan, dan perkembangan pascaterapi pada pasien dengan trauma kiri menyebabkan erosi pada kornea. Seorang pria berusia 66 tahun yang datang ke poli mata dengan keluhan kedua mata kabur serta mata kiri mengganjal. Selain itu pasien juga merasa matanya kiri pedih, silau dan terus menerus berair. Melalui hasil pemeriksaan status lokalis mata ditemukan visus OD 5/15 dan OS 5/15, OD Pterygium dan Katarak; jaringan fibrovaskular (+); lensa keruh dan tidak rata (+), OS trauma okuli, erosi kornea dan katarak; spasme (+) hiperemis (+) edem (+) lensa keruh dan tidak rata (+). Pemeriksaan fisik dan diagnostik menunjukkan adanya trauma okuli dan erosi kornea. Dilakukan penanganan awal dengan fluorescein test. Kemudian pasien diberikan terapi farmakologi. Pascaterapi, dilakukan pemantauan terhadap perkembangan kondisi mata. Hasil penelitian menunjukkan, meskipun trauma okuli sudah dinyatakan sembuh, kedua mata akan tetap terasa kabur. Sehingga untuk mencegah kekaburan yang lebih pasien dianjurkan untuk operasi. Trauma mata akibat kelilipan pasir termasuk ke dalam trauma extra ocular foreign body dapat menyebabkan cedera yang kompleks dan memerlukan penanganan yang tepat. Meskipun perbaikan kondisi mata dapat dilakukan dengan hasil yang baik, komplikasi seperti keratitis perlu diwaspadai sebagai potensi komplikasi yang dapat mempengaruhi prognosis jangka panjang pasien.
Orchiectomy dan Hernioplasty pada Undescended Testis Unilateral: Laporan Kasus Lulu Setyawati Purwaningsih; Saut Idoan Sijabat
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2026: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Gastro
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Undescended testis merupakan kelainan kongenital pada anak laki-laki akibat kegagalan penurunan testis ke dalam skrotum dan dapat menimbulkan komplikasi seperti infertilitas, keganasan testis, torsio, serta hernia inguinalis apabila tidak ditangani secara adekuat. Laporan kasus ini bertujuan untuk melaporkan gambaran klinis, temuan diagnostik, dan penatalaksanaan bedah pada kasus undescended testis unilateral disertai hernia inguinalis pada remaja. Metode: Penelitian ini merupakan laporan kasus dengan objek penelitian seorang pasien laki-laki berusia 15 tahun yang datang dengan keluhan benjolan dan nyeri di regio inguinal kiri. Data diperoleh melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium, dan ultrasonografi, kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil: Pemeriksaan ultrasonografi menunjukkan testis berada di regio inguinal sinistra disertai defek dinding abdomen. Temuan intraoperatif menunjukkan testis nonvital dengan hernia inguinalis lateralis sehingga dilakukan orchiectomy dan hernioplasty menggunakan teknik Lichtenstein tension-free. Pasien menunjukkan perbaikan klinis tanpa komplikasi pascaoperasi. Simpulan: Penatalaksanaan bedah berupa orchiectomy dan hernioplasty merupakan pilihan efektif pada undescended testis unilateral pascapubertas untuk mencegah komplikasi lanjutan.
Herpes Zoster Otikus dengan Facial Palsy pada Pasien Lanjut Usia: Laporan Kasus Dayintha Fadell Rindyahapsari; Serafika Permoni Putri Manyakori
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2026: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Gastro
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Herpes zoster merupakan penyakit akibat reaktivasi virus varicella zoster yang umumnya menyerang usia lanjut. Salah satu manifestasi yang jarang terjadi adalah herpes zoster otikus atau Sindrom Ramsay Hunt (SRH), yang dapat melibatkan nervus fasialis dan menyebabkan paralisis nervus fasialis perifer. Kondisi ini dapat terjadi tanpa disertai ruam kulit (zoster sine herpete) sehingga sering menyerupai Bell's palsy dan berpotensi menimbulkan salah diagnosis serta keterlambatan penatalaksanaan. Tujuan laporan kasus ini adalah melaporkan manifestasi klinis dan penatalaksanaan herpes zoster otikus dengan keterlibatan nervus fasialis pada pasien lanjut usia. Metode yang digunakan adalah studi kasus dengan desain laporan kasus. Hasil laporan kasus menunjukkan seorang laki-laki berusia 71 tahun datang dengan keluhan nyeri telinga kiri, ruam vesikular unilateral pada telinga dan wajah kiri, penurunan pendengaran, tinnitus, serta kelemahan otot wajah sisi kiri sejak satu minggu sebelum masuk rumah sakit. Pemeriksaan fisik menunjukkan vesikel berkelompok yang telah berkrusta pada aurikula dan regio fasialis sinistra disertai paralisis nervus fasialis perifer derajat sedang. Pasien diberikan terapi antivirus sistemik dan terapi suportif. Pada kesimpulan, herpes zoster otikus dapat menimbulkan facial palsy perifer pada usia lanjut dan pemberian terapi antivirus secara dini berperan penting dalam memperbaiki luaran klinis pasien.