cover
Contact Name
Yasir Sidiq
Contact Email
lppi@ums.ac.id
Phone
+6282134901660
Journal Mail Official
lppi@ums.ac.id
Editorial Address
Gedung Induk Siti Walidah Jalan Ahmad Yani, Pabelan, Kartasura, Surakarta 57162, Jawa Tengah, Indonesia
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta
ISSN : 27212882     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta diterbitkan dalam rangka seminar tahunan yang diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran, Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Arjuna Subject : -
Articles 597 Documents
Peran Gangguan Elektrolit terhadap Kejang pada Penyakit Ginjal Kronik: Tinjauan Sistematis Dela Putri Pratikno; Sekar Arum Srigati; Ditya Pramudyaning Tias; Meutia Citra Aisya; Dimas Widyadhana Bhanu Aryasatya; Annisa Kalma Athalia
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2026: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Gastro
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kejang merupakan komplikasi neurologis yang sering terjadi pada pasien penyakit ginjal kronik (PGK), terutama pada stadium lanjut atau yang menjalani dialisis. Gangguan elektrolit dianggap sebagai penyebab utama, namun dalam praktiknya, umumnya bersifat multifaktorial. Tinjauan sistematik ini bertujuan mengevaluasi peran gangguan elektrolit terhadap kejadian kejang pada pasien PGK serta mengidentifikasi faktor lain yang berkontribusi. Penelusuran literatur dilakukan pada PubMed, ScienceDirect, SpringerLink, dan Google Scholar. Sebanyak 11 artikel studi memuat pasien PGK atau gagal ginjal tahap akhir yang melaporkan kejadian kejang disertai data elektrolit diinklusikan. Data yang diekstraksi meliputi stadium PGK, status dialisis, elektrolit serum, parameter uremikum, karakteristik kejang, faktor pencetus yang diduga, serta luaran klinis. Mengingat heterogenitas desain dan pelaporan luaran, hasil dianalisis secara naratif. Hiponatremia dan hipokalsemia merupakan gangguan elektrolit yang paling sering dilaporkan dan berperan sebagai pencetus langsung atau penurun ambang kejang. Namun demikian, faktor lain seperti sindrom disequilibrium dialisis, posterior reversible encephalopathy syndrome, status epileptikus nonkonvulsif, serta neurotoksisitas akibat obat atau toksin lebih konsisten diidentifikasi sebagai penyebab utama terjadinya kejang. Pada sebagian besar kasus, gangguan elektrolit ditemukan bersamaan dengan kondisi-kondisi tersebut, bukan sebagai faktor etiologi tunggal. Tinjauan ini menunjukkan bahwa kejang pada penderita PGK kemungkinan disebabkan oleh kombinasi gangguan elektrolit dan metabolik, sehingga tatalaksana kejang pada PGK bersifat komprehensif.
Laporan Kasus: Seorang Laki-Laki Usia 26 Tahun dengan Keratitis Viral Afif Iqbal Hibatullah; Yessi Primanda Sari
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2026: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Gastro
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Keratitis viral merupakan penyebab penting peradangan kornea yang dapat menyebabkan gangguan penglihatan hingga kebutaan apabila tidak ditangani secara adekuat. Etiologi tersering adalah virus herpes simpleks, meskipun adenovirus juga sering ditemukan pada usia produktif. Tujuan: Laporan kasus ini bertujuan untuk menggambarkan karakteristik klinis, penegakan diagnosis, serta tata laksana keratiti viral berdasarkan temuan klinis dan pemeriksaan penunjang. Laporan kasus: Dilaporkan seorang laki-laki usia 26 tahun dengan keluhan mata kanan merah, nyeri, rasa mengganjal, dan penurunan tajam penglihatan selama satu minggu. Pemeriksaan dan evaluasi dilakukan melalui anamnesis, pemeriksaan oftalmologi, uji fluorescein, dan pemeriksaan sensitivitas kornea. Hasil: Pemeriksaan menunjukkan tajam penglihatan mata kanan 2/60, injeksi siliaris, defek epitel kornea numular multipel, hasil fluorescein positif, serta penurunan sensitivitas kornea. Pasien didiagnosis sebagai keratitis viral dan diberikan terapi antivirus sistemik, antibiotik topikal, serta terapi suportif, dengan perbaikan klinis pada kontrol lanjutan. Kesimpulan: Diagnosis dini dan tata laksana yang tepat pada keratitis viral berperan penting dalam mencegah komplikasi dan menentukan prognosis visual yang baik.
Seorang Wanita Usia 22 Tahun dengan Hemoroid Interna Grade IV Andri Sugeng Prasetyo; Ari Setiawan
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2026: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Gastro
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hemoroid adalah pelebaran dan inflamasi dari pleksus arteri-vena, biasanya penyebab tersebut yaitu konstipasi, mengejan terlalu lama, kehamilan maupun obesitas. Dilaporkan kasus seorang perempuan dengan keluhan benjolan di dubur. Benjolan dirasakan tidak nyaman dan terasa nyeri. Terdapat darah yang menetes setelah feses keluar. Merasa susah buang air besar sehingga harus mengejan dan durasi jongkok di toilet dirasa cukup lama. Pada pemeriksaan status lokalis ditemukan benjolan di dubur yang keluar kembali saat di reposisi. Tatalaksana hemoroid dilakukan tergantung dengan tingkat keparahan hemoroid, mulai dari pilihan konservatif hingga pilihan operasi. Tindakan operasi yaitu hemoroidektomi diperlukan pada kasus ini. Operasi dilakukan dengan steril dan memiliki tingkat kekambuhan yang rendah. Terdapat pilihan tatalaksana lain yang dapat membersihkan benjolan. Tujuan utama tatalaksana untuk menghilangkan keluhan awal yang diraskan dan pasien dapat melakukan aktivitas kembali seperti biasa. Edukasi juga diperlukan tidak hanya setelah operasi tetapi dapat diterapkan selama menjalani kehidupan. Tatalaksana dan edukasi sesuai pedoman sangat penting dilakukan untuk mencegah kekambuhan.
Disregulasi Sumbu Usus-Otak sebagai Dasar Psikosomatik Gangguan Pencernaan Fungsional Wahyu Waseso
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2026: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Gastro
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Gangguan pencernaan fungsional banyak ditemukan di praktik klinis dan dipengaruhi oleh interaksi kompleks antara faktor biologis, psikologis, dan sosial; penelitian terbaru menyoroti peran disregulasi sumbu usus-otak dalam menjembatani pengalaman emosional dan manifestasi gastrointestinal, sehingga tujuan ulasan ini adalah menelaah bukti mekanistik yang mendukung sumbu tersebut sebagai dasar psikosomatik pada gangguan pencernaan fungsional. Metode: Dilakukan tinjauan naratif melalui pencarian di basis data utama (PubMed, Scopus, Google Scholar) dengan istilah kunci terkait sumbu usus-otak, gangguan pencernaan fungsional, mikrobiota, dan mekanisme psikosomatik; studi dipilih berdasarkan relevansi terhadap pemahaman jalur patofisiologi dan implikasi klinis, lalu disintesis secara tematik. Hasil: Sintesis literatur menunjukkan keterlibatan disbiosis mikrobiota dan perubahan metabolit, aktivasi jalur neuroinflamasi, gangguan transmisi saraf enterik, serta peningkatan sensitisasi viseral yang memediasi hubungan antara stres atau gangguan mood dengan keluhan gastrointestinal; namun heterogenitas metode dan minimnya data longitudinal membatasi kekuatan inferensi kausal. Simpulan: Disregulasi sumbu usus-otak kemungkinan besar merupakan dasar mekanistik psikosomatik pada gangguan pencernaan fungsional; penelitian longitudinal dan uji intervensi yang menarget mekanisme ini diperlukan untuk memperkuat bukti dan membimbing strategi terapeutik.
Perawatan Berkelanjutan Pasca Persalinan Komprehensif pada Wanita dengan Preeklampsia Pascapersalinan: Laporan Kasus dengan Pemantauan Multidisiplin dan berbasis Keluarga Muhammad Naufal Firdaus; Tri Nugroho Wibowo
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2026: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Gastro
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Preeklamsia merupakan gangguan hipertensi kehamilan yang dapat berlanjut pada masa pascapersalinan dan meningkatkan risiko morbiditas maternal jangka pendek maupun panjang. Berbagai guideline internasional merekomendasikan pemantauan tekanan darah dan evaluasi klinis hingga 12 minggu postpartum, namun implementasinya dalam praktik sehari-hari masih belum optimal. Kasus: Dilaporkan seorang wanita 22 tahun, G1P0A0, dengan preeklamsia aterm yang menjalani seksio sesarea. Pasien memperoleh tindak lanjut pascapersalinan melalui pendekatan continuity of care yang melibatkan rumah sakit rujukan, puskesmas, bidan komunitas, dan dukungan keluarga. Pemantauan difokuskan pada tekanan darah, keluhan klinis, kepatuhan pengobatan, edukasi gaya hidup, dan dukungan psikososial. Meskipun secara ideal pasien dengan preeklamsia memerlukan pemantauan hingga 12 minggu postpartum, penerapan tindak lanjut terstruktur sesuai rekomendasi tersebut belum sepenuhnya dapat dilakukan pada kasus ini. Hasil: Setelah persalinan, gejala subjektif pasien berangsur membaik dan proteinuria menghilang sejak awal masa nifas. Namun, tekanan darah masih menunjukkan fluktuasi pada kunjungan pascapersalinan, menandakan perlunya pemantauan berkelanjutan untuk mendeteksi hipertensi persisten. Kesimpulan: Kasus ini menyoroti kesenjangan antara rekomendasi guideline dan praktik klinis aktual pada tindak lanjut pascapersalinan pasien preeklamsia. Continuity of care tetap penting untuk mendukung pemantauan klinis, kepatuhan perawatan, dan deteksi dini hipertensi persisten.
Optimalisasi Essential Newborn Care pada Bayi Berat Lahir Cukup (BBLC) Lahir Sectio Caesarea: Laporan Kasus An Nisa Nuri Prihasti; Kautsar Prastudia Eko Binuko
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2026: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Gastro
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bayi Berat Lahir Cukup (BBLC) merupakan bayi dengan berat lahir 2500-4000 gram dan usia kehamilan aterm yang umumnya memiliki prognosis baik, namun tetap memerlukan pemantauan ketat pada masa transisi awal kehidupan untuk mencegah komplikasi ringan neonatal. Laporan kasus ini bertujuan menggambarkan penerapan perawatan neonatal esensial pada bayi BBLC guna mendukung adaptasi fisiologis dan keberhasilan menyusui dini. Dilaporkan seorang bayi laki-laki BBLC lahir melalui sectio caesarea dari ibu primigravida usia 23 tahun dengan indikasi cephalopelvic disproportion pada usia kehamilan 40-41 minggu. Bayi lahir dengan kondisi klinis baik, APGAR score 7-8-9, menangis kuat, aktif, dan tanpa tanda distres. Pemeriksaan fisik serta Skor Ballard sesuai usia gestasi 40 minggu. Tatalaksana dilakukan berdasarkan prinsip Essential Newborn Care, meliputi perawatan tali pusat, pemberian vitamin K, salep mata, imunisasi hepatitis B dosis awal, serta pemantauan tanda vital dan eliminasi. Inisiasi menyusu dini belum dilakukan karena kondisi ibu pascaoperatif, namun bayi mampu menyusu aktif setelah rawat gabung. Selama masa observasi tidak ditemukan komplikasi, dan skrining hipotiroid kongenital telah dilakukan. Bayi dipulangkan dalam kondisi sehat dan menyusu baik. Simpulan, penerapan perawatan neonatal esensial secara sistematis disertai observasi ketat dan edukasi ibu berperan penting dalam menjamin adaptasi fisiologis optimal serta mendukung keberhasilan ASI eksklusif pada bayi BBLC.
Paraparese Spastic Sub Akut Progresif Ec Spondilitis Tuberkulosa: Sebuah Laporan Kasus Arsely Aisyah; Erupsiana Fitri Indrihapsari
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2026: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Gastro
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Spondilitis tuberkulosa (STB) merupakan bentuk TB ekstrapulmoner sering menyerang tulang belakang dan menyebabkan tetap ada defisit neurologis berupa paraparese hingga paraplegi. Risiko komplikasi meningkat jika terdapat deformitas struktural seperti skoliosis atau adanya trauma spinal yang tidak ditangani secara medis. Tujuan: Melaporkan kasus pada pasien dengan spondilitis TB yang disertai skoliosis dan riwayat trauma spinal, serta menyoroti pentingnya diagnosis dini dan tatalaksana multidisipliner. Laporan Kasus: Seorang pria 28 tahun dengan keluhan tidak dapat menggerakkan kedua tungkai setelah mengalami kebas dan kelemahan progresif pada ekstremitas bawah selama empat bulan, disertai gangguan buang air besar dengan riwayat skoliosis dan hernia nukleus pulposus (HNP) dengan pijat alternatif. Pemeriksaan MRI menunjukkan gambaran spondilitis TB dengan destruksi vertebra dan abses paravertebral yang menekan kanalis spinalis serta HNP. Pasien menjalani operasi dekompresi dan stabilisasi tulang belakang disertai terapi obat antituberculosis (OAT). Dua bulan pascaoperasi, pasien dapat berjalan dengan perbaikan fungsional bertahap. Kesimpulan: Diagnosis dan intervensi dini pada spondilitis TB sangat krusial untuk mencegah kecacatan neurologis permanen. Keluhan paraparese dengan riwayat trauma dan deformitas harus menjadi perhatian klinisi, terutama di pelayanan primer. Dokter umum memiliki peran penting dalam mengenali gejala red flag dan melakukan rujukan tepat waktu.
Multimorbiditas pada Diabetes: Prediktor Mortalitas Pasien Rawat Inap dengan Diabetes Mellitus di RS PKU Muhammadiyah Gamping Amalia Zaida; Faturahman Fauzi Azwarjaya; Yasmina Rizqie Ichsanti; Dzaka Ogan Amirudin Lutfi; Ardi Pramono
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2026: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Gastro
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Diabetes Mellitus (DM) merupakan penyakit metabolik kronis dengan karakteristik hiperglikemia yang sering disertai penyakit komorbid. Komorbiditas meningkatkan kompleksitas klinis dan menjadi prediktor signifikan terhadap risiko mortalitas pasien selama perawatan di rumah sakit. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi dan menganalisis komorbid sebagai prediktor mortalitas pasien DM yang menjalani rawat inap di RS PKU Muhammadiyah Gamping. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pengumpulan data retrospektif dari data rekam medis pasien rawat inap pada bulan Januari 2023 hingga Desember 2023. Didapatkan 105 sampel pasien DM dengan komorbid gangguan napas, sepsis, gangguan elektrolit, anemia, gangguan jantung, hipertensi, gangguan ginjal, gangguan saraf pusat, gangguan hepar dan efusi pleura. Data dianalisis menggunakan uji pearson chi square dan regresi logistik berganda. Hasil: Komorbid yang dapat menjadi prediktor mortalitas pasien DM antara lain adalah sepsis (p=0,001), gangguan pernapasan (p=0,000), gangguan ginjal (p=0,038), gangguan elektrolit (p=0,000), dan gangguan jantung(p=0,038). Sedangkan faktor resiko terbesar adalah gangguan jantung (OR=3,185). Simpulan: Penelitian ini menegaskan bahwa sepsis, gangguan pernapasan, gangguan ginjal, gangguan elektrolit, dan gangguan jantung merupakan komorbiditas utama yang menjadi prediktor kuat terhadap mortalitas pasien DM dalam rawat inap.
Hubungan Kejadian Tinea Corporis Et Cruris dengan Perbedaan Respon Imun pada Pasien Diabetes Melitus Dinda Dwi Agustina; Flora Ramona Sigit Prakoeswa; Ratih Pramuningtyas
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2026: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Gastro
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tinea adalah infeksi jamur superfisial yang disebabkan oleh dermatofit, biasanya muncul dengan lesi central healing dengan tepi aktif berupa eritema, skuama, kadang papulovesikel, disertai pruritus. Faktor risiko meliputi lingkungan lembap, kebersihan yang buruk, dan kondisi imunosupresif seperti diabetes melitus. Laporan ini menyajikan kasus seorang wanita berusia 34 tahun dengan Tinea corporis et cruris dengan kadar gula tinggi yang mengalami perluasan lesi akibat terapi antijamur topikal yang tidak adekuat dan trauma mekanis akibat garukan. Penatalaksanaan meliputi cetirizine, ketoconazole topikal, mupirocin, dan mometason furoat. Penanganan kasus seperti ini memerlukan pendekatan komprehensif, termasuk terapi antifungal sistemik bila diperlukan, edukasi pasien untuk menghindari menggaruk, kontrol glikemik yang ketat, serta kepatuhan terhadap durasi terapi yang adekuat untuk mendapatkan eradikasi mikologis dan mencegah kekambuhan pasien kadar gula tinggi dengan dermatofitosis.
Seorang Laki-Laki 64 Tahun dengan Ikterus Obstruktif Et Causa Fibrotik Striktur Annisa Dini Rachmalia; Heru Iskandar
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2026: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Gastro
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Ikterus obstruktif merupakan manifestasi klinis akibat gangguan aliran empedu intra- maupun ekstrahepatik, dengan penyebab tersering berupa choledocholithiasis dan keganasan bilier. Stenosis distal duktus koledokus (CBD) benign merupakan etiologi yang relatif jarang dan sering menimbulkan tantangan diagnostik. Laporan kasus ini bertujuan untuk menyajikan karakteristik klinis, pendekatan diagnostik, serta hasil tatalaksana operatif pada pasien dengan stenosis distal CBD benign. Seorang laki-laki berusia 64 tahun datang dengan keluhan ikterus progresif, pruritus, urin berwarna gelap, feses pucat, dan nyeri kuadran kanan atas selama tiga minggu. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan pola kolestasis dengan dominasi bilirubin terkonjugasi. Pemeriksaan MRCP menunjukkan dilatasi CBD proksimal dengan kesan filling defect distal yang dicurigai sebagai batu CBD. Namun, eksplorasi CBD saat laparotomi tidak menemukan kalkulus, melainkan penyempitan fibrotik pada segmen distal CBD, sehingga diagnosis akhir ditegakkan sebagai stenosis distal CBD benign. Pasien menjalani rekonstruksi bilier dengan anastomosis bilioenterik dan menunjukkan perbaikan klinis pascaoperasi. Kesimpulannya, stenosis distal CBD dapat menyerupai choledocolitiasis sehingga penatalaksanaan operatif memberikan hasil klinis yang baik.