cover
Contact Name
Yasir Sidiq
Contact Email
lppi@ums.ac.id
Phone
+6282134901660
Journal Mail Official
lppi@ums.ac.id
Editorial Address
Gedung Induk Siti Walidah Jalan Ahmad Yani, Pabelan, Kartasura, Surakarta 57162, Jawa Tengah, Indonesia
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta
ISSN : 27212882     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta diterbitkan dalam rangka seminar tahunan yang diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran, Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Arjuna Subject : -
Articles 597 Documents
Seorang Anak Laki-Laki dengan Skabies, Furunkel dan Karbunkel Hanafi, Maulana; Suryaningrum, Retna Ika
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2026: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Gastro
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Skabies merupakan penyakit kulit menular yang disebabkan oleh infestasi tungau Sarcoptes scabiei var. hominis dan masih menjadi masalah kesehatan masyarakat, terutama di lingkungan padat penduduk. Penyakit ini sering menimbulkan komplikasi berupa infeksi bakteri sekunder akibat garukan berulang. Laporan kasus ini bertujuan untuk menggambarkan manifestasi klinis, diagnosis, serta penatalaksanaan skabies yang disertai furunkel dan karbunkel pada seorang anak. Seorang anak laki-laki berusia 12 tahun datang dengan keluhan gatal hebat sejak satu bulan, terutama pada malam hari, disertai lesi kulit di sela jari tangan dan kaki. Pemeriksaan dermatologis menunjukkan papula eritematosa, pustula, ekskoriasi, serta abses yang konsisten dengan skabies dengan infeksi sekunder. Diagnosis ditegakkan berdasarkan terpenuhinya tiga dari empat tanda kardinal skabies. Pasien diberikan terapi topikal berupa permetrin 5% serta terapi sistemik berupa antibiotik, antihistamin, dan analgesik. Edukasi mengenai kebersihan diri dan lingkungan juga diberikan. Setelah terapi, keluhan gatal berkurang dan lesi kulit menunjukkan perbaikan. Penanganan komprehensif diperlukan untuk mencegah komplikasi dan kekambuhan skabies.
Seorang Laki-Laki Usia 60 Tahun dengan Tuberkulosis Paru Terkonfirmasi Bakteriologis disertai Bronkiektasis dan Anemia: Laporan Kasus Ala, Faryn Dzaky Al; Musdalifah, M
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2026: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Gastro
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Tuberkulosis (TB) masih menjadi masalah kesehatan utama di Indonesia, dengan angka kejadian dan kematian yang tinggi. TB paru dapat menimbulkan berbagai komplikasi, salah satunya adalah bronkiektasis, akibat destruksi jaringan paru yang menetap dan inflamasi kronik. Laporan Kasus: Seorang laki-laki usia 60 tahun datang dengan keluhan sesak napas sejak tiga bulan terakhir dan batuk berdahak yang berlangsung selama enam bulan. Pasien juga mengalami keringat malam, penurunan berat badan, dan nafsu makan menurun. Pemeriksaan penunjang menunjukkan adanya anemia mikrositik hipokromik, trombositosis, dan rasio neutrofil limfosit tinggi. Hasil rontgen thoraks dan pemeriksaan TCM menunjukkan TB paru aktif disertai bronkiektasis anemia, dan efusi pleura dekstra. Hasil: Diagnosis ditegakkan sebagai TB paru terkonfirmasi secara bakteriologis dengan komplikasi bronkiektasis dan anemia. Faktor risiko utama pasien adalah riwayat merokok berat dan status gizi buruk. Penatalaksanaan dilakukan secara komprehensif, termasuk pemberian OAT 4 FDC, nebulisasi bronkodilator dan kortikosteroid, mukolitik, antibiotik empiris, proteksi lambung, serta dukungan nutrisi. Terapi bertujuan untuk eradikasi infeksi, mengontrol inflamasi, memperbaiki fungsi pernapasan, dan mencegah komplikasi lanjutan. Kesimpulan: Penegakan diagnosis dini dan pendekatan terapi multidisiplin penting untuk keberhasilan pengobatan TB paru dengan komplikasi bronkiektasis. Kombinasi terapi definitif dan suportif menjadi kunci dalam pemulihan klinis pasien dan pencegahan progresivitas penyakit.
Laki-Laki Usia 77 Tahun dengan Ileus Obstruktif Et Causa Adhesi Kompleks Wibowo, Muhammad Irfan Sulystyo; Widayat, Catur
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2026: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Gastro
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ileus obstruktif akibat adhesi pascaoperasi merupakan penyebab tersering obstruksi usus halus dan masih menjadi masalah klinis yang signifikan, terutama pada pasien lanjut usia dengan riwayat pembedahan abdomen berulang. Adhesi kompleks dapat meningkatkan risiko kegagalan terapi konservatif serta komplikasi intraoperatif dan pascaoperatif. Melaporkan kasus ileus obstruktif et causa adhesi kompleks pada pasien usia lanjut serta menggambarkan pendekatan diagnostik dan tatalaksana bedah yang dilakukan. Dilaporkan satu kasus laki-laki usia 77 tahun dengan riwayat dua kali laparotomi sebelumnya yang datang dengan keluhan nyeri perut, mual, muntah, dan gangguan buang air besar. Pemeriksaan fisik dan radiologi abdomen menunjukkan tanda obstruksi usus halus. Pasien awalnya mendapat terapi konservatif berupa dekompresi dan suportif, namun tidak menunjukkan perbaikan klinis sehingga dilakukan laparotomi eksplorasi. Pada tindakan operatif ditemukan adhesi kompleks yang melibatkan omentum, kolon, mesenterium, appendix, dan beberapa segmen ileum. Dilakukan adhesiolisis selektif, namun pada segmen ileum dengan adhesi sangat padat disertai nekrosis dilakukan reseksi usus dan anastomosis ileo-ileo. Pasien menunjukkan perbaikan klinis pascaoperasi, tanpa komplikasi bermakna, dan dipulangkan dalam kondisi stabil.
Laporan Kasus: Seorang Perempuan Usia 50 Tahun dengan Human Immunodeficiency Virus Stadium 2 dengan Anemia Baiquni, Ilham Bunaya; Ajibroto, Patti Muhammad Ananto Cahyo
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2026: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Gastro
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan infeksi kronis yang menyerang sel CD4 dan menyebabkan penurunan imunitas progresif hingga berisiko berkembang menjadi AIDS. Meskipun terapi antiretroviral (ARV) efektif menekan replikasi virus dan meningkatkan harapan hidup, komplikasi seperti anemia masih sering terjadi dan berperan penting dalam meningkatkan morbiditas serta mortalitas. Anemia pada HIV dapat disebabkan oleh inflamasi kronis, infeksi oportunistik, gangguan nutrisi, maupun efek terapi, sebagaimana ditunjukkan pada kasus ini dengan kadar hemoglobin 8,6 g/dL. Kondisi ini berdampak pada kelelahan, penurunan kualitas hidup, dan percepatan progresivitas penyakit. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan terintegrasi yang mencakup deteksi dini, terapi ARV optimal, dan penatalaksanaan anemia. Rekomendasi dari World Health Organization, Centers for Disease Control and Prevention, dan International Antiviral Society-USA menegaskan bahwa pendekatan multidisiplin menjadi kunci dalam meningkatkan klinis dan kualitas hidup pasien HIV.
Laporan Kasus: Hernia Umbilikal pada Perempuan Usia 43 Tahun Maharani, Mita Nuriza; Setiawan, Ari
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2026: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Gastro
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hernia umbilikal merupakan kondisi penonjolan viskus intraabdominal melalui cincin umbilikalis akibat kelemahan dinding perut. Penyakit ini dapat terjadi pada anak maupun dewasa, dengan faktor risiko antara lain peningkatan tekanan intraabdominal (obesitas, kehamilan, asites) dan kelemahan jaringan ikat. Untuk menjelaskan gambaran klinis, faktor risiko, diagnosis, dan penatalaksanaan hernia umbilikalis.Penulisan dilakukan dengan metode tinjauan pustaka dari berbagai literatur terkait hernia umbilikalis, meliputi aspek anatomi, epidemiologi, etiologi, klinis, diagnosis, dan terapi. Hernia umbilikalis sering ditemukan pada bayi prematur karena belum sempurnanya penutupan cincin umbilikalis, sedangkan pada dewasa lebih sering dipicu oleh kondisi peningkatan tekanan intraabdominal. Diagnosis ditegakkan berdasarkan pemeriksaan fisik berupa benjolan di daerah umbilikus yang menonjol saat batuk atau mengejan. Komplikasi yang dapat timbul adalah inkarserasi dan strangulasi. Terapi utama pada kasus simptomatik maupun berisiko komplikasi adalah hernioplasti atau herniorafi. Hernia umbilikalis merupakan kelainan dinding perut yang cukup sering terjadi, dengan diagnosis klinis yang relatif mudah ditegakkan. Penatalaksanaan definitif berupa tindakan operatif perlu dipertimbangkan untuk mencegah komplikasi serius.
Periappendikular Infiltrat pada Pasien Lanjut Usia: Laporan Kasus Prasetya, Dimas Tegar Rika; Widayat, Catur
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2026: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Gastro
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Periappendikular infiltrat merupakan komplikasi apendisitis akut yang terjadi akibat proses inflamasi berlanjut atau mikroperforasi appendiks yang dibatasi oleh omentum dan jaringan sekitarnya, sehingga membentuk massa inflamasi. Kondisi ini memiliki tantangan diagnostik dan terapeutik tersendiri, terutama pada pasien usia lanjut dengan komorbiditas. Laporan kasus ini bertujuan untuk menggambarkan manifestasi klinis, pendekatan diagnostik, serta penatalaksanaan periappendikular infiltrat pada pasien geriatri, sekaligus menyoroti implikasi klinis dari keputusan terapeutik yang diambil. Metode yang digunakan adalah laporan kasus dengan penyajian data klinis secara kronologis dan objektif, meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, intervensi terapi, serta evaluasi luaran klinis. Seorang pasien laki-laki berusia 74 tahun datang dengan keluhan nyeri perut kanan bawah akut disertai mual dan muntah. Pemeriksaan fisik menunjukkan tanda peritoneal lokal dan massa teraba di kuadran kanan bawah abdomen. Pemeriksaan ultrasonografi abdomen mengonfirmasi adanya periappendikular infiltrat, sementara pemeriksaan laboratorium hematologi relatif dalam batas normal. Pasien ditatalaksana dengan pendekatan operatif berupa laparotomi terbuka disertai terapi antibiotik, analgesik, dan rehidrasi. Kondisi klinis pasien menunjukkan perbaikan signifikan dan pasien dipulangkan pada hari kelima perawatan. Laporan ini menegaskan bahwa pengenalan dini periappendikular infiltrat serta pemilihan strategi penatalaksanaan yang tepat pada pasien geriatri berperan penting dalam mencegah komplikasi lanjutan dan meningkatkan luaran klinis. Temuan ini memiliki implikasi praktis dalam pengambilan keputusan klinis pada kasus apendisitis komplikata pada populasi usia lanjut.
Tuberkulosis Paru dengan Komorbid Diabetes Melitus pada Seorang Perempuan Usia 52 Tahun: Laporan Kasus Utami, Tara Riani Putri; Mayasari, Hesti Nila
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2026: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Gastro
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tuberkulosis (TB) paru merupakan penyakit infeksi kronik yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat, terutama pada pasien dengan komorbid diabetes melitus (DM) yang dapat memperburuk perjalanan penyakit dan respons terapi. Laporan kasus ini bertujuan untuk menggambarkan manifestasi klinis, penegakan diagnosis, serta penatalaksanaan TB paru pada pasien dengan DM. Metode yang digunakan adalah laporan kasus terhadap seorang perempuan usia 57 tahun yang datang dengan keluhan sesak napas, batuk berdahak, keringat malam, dan penurunan nafsu makan, disertai riwayat diabetes melitus. Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium, radiologi, serta pemeriksaan Tes Cepat Molekuler (TCM) sputum yang menunjukkan Mycobacterium tuberculosis terdeteksi tinggi tanpa resistensi rifampisin. Pasien mendapatkan terapi obat anti tuberkulosis (OAT) kategori I disertai pengelolaan diabetes melitus dan terapi suportif. Selama perawatan, kondisi klinis pasien menunjukkan perbaikan secara bertahap. Simpulan dari laporan kasus ini menegaskan bahwa TB paru dengan komorbid DM memerlukan penatalaksanaan yang komprehensif dan pemantauan ketat karena DM dapat mempengaruhi keparahan penyakit dan keberhasilan pengobatan TB.
Laporan Kasus: Gambaran Klinis Demam Dengue dengan Pencerminan Hepatik Ringan Talitha Ulima Santosa; Mohamad Ananto Cahyoajibroto
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2026: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Gastro
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Demam dengue merupakan penyakit infeksi tropis yang disebabkan oleh virus dengue (DENV) dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti atau Aedes albopictus. Penyakit ini tetap menjadi masalah kesehatan global dengan kecenderungan peningkatan insidensi dalam beberapa tahun terakhir. Laporan kasus ini bertujuan menggambarkan manifestasi klinis demam dengue dengan temuan peningkatan SGOT tanpa disertai kenaikan SGPT, yang dapat mencerminkan keterlibatan hepatoseluler ringan. Seorang perempuan 27 tahun datang dengan demam naik turun selama enam hari, disertai gusi berdarah, pusing, mual, perut terasa panas, nyeri tekan epigastrik dan hipokondriak kanan, serta penurunan nafsu makan. Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan penunjang yang mendukung demam dengue. Pasien mendapatkan tata laksana berupa cairan Ringer Lactate, paracetamol, ondansentron, pantoprazole, asam traneksamat, dan suplemen Curcuma, serta terapi nonmedikamentosa berupa tirah baring, hidrasi adekuat, dan diet seimbang. Laporan kasus ini menekankan pentingnya deteksi dini, pemantauan fungsi hati, dan tata laksana yang tepat untuk mencegah komplikasi berat pada demam dengue.
Gangguan Kepribadian Ambang dan Depresi Berat pada Remaja Putri Usia 15 Tahun: Laporan Kasus Ishmah Nur Faizah; An Nisa Nuri Prihasti; M. Hilmi Efendi; Andri Nurdiyana Sari
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2026: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Gastro
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gangguan kepribadian ambang (Borderline Personality Disorder/BPD) merupakan kondisi yang ditandai oleh ketidakstabilan emosi, impulsivitas, serta hubungan interpersonal yang disfungsional dan sering berkomorbid dengan gangguan depresif. Komorbiditas ini meningkatkan risiko perilaku menyakiti diri dan bunuh diri, khususnya pada populasi remaja. Laporan ini menyajikan kasus seorang remaja putri berusia 15 tahun yang datang ke instalasi gawat darurat dengan keluhan mengamuk dan perilaku self-harm. Selama beberapa bulan terakhir, pasien mengalami gejala depresif berupa afek sedih menetap, kehilangan minat, kelelahan, gangguan tidur, penurunan nafsu makan, perasaan tidak berharga, serta perilaku melukai diri berulang. Faktor psikososial, termasuk konflik pertemanan, perasaan ditolak, dan kurangnya dukungan emosional, berperan dalam memperberat kondisi klinis. Pemeriksaan status mental menunjukkan hipotimia, afek depresif serasi, impulsivitas, serta gangguan pengendalian emosi tanpa disertai gejala psikotik. Diagnosis ditegakkan sebagai episode depresif berat tanpa gejala psikotik dan gangguan kepribadian ambang, dengan masalah pendidikan sebagai faktor stres dan skor GAF 11-20. Pasien mendapatkan terapi farmakologis kombinasi antidepresan dan antipsikotik, disertai psikoedukasi intensif kepada keluarga mengenai kepatuhan pengobatan dan pentingnya dukungan emosional. Laporan ini menekankan pentingnya evaluasi komprehensif pada remaja dengan depresi dan self-harm, mengingat tumpang tindih gejala BPD. Pendekatan multidisiplin, psikoterapi jangka panjang, dan keterlibatan keluarga diperlukan untuk menurunkan risiko self-harm dan memperbaiki prognosis pasien remaja.
Diagnosis dan Tatalaksana Struma Nodusa Non Toksik: Laporan Kasus Rinkisa, Candika Salsabila Shafa Putri; Bakri, B
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2026: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Gastro
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Struma nodusa non toksik merupakan pembesaran kelenjar tiroid yang ditandai adanya nodul tanpa disertai gangguan fungsi hormon tiroid dan sering berkaitan dengan defisiensi yodium. Tujuan: Laporan kasus ini bertujuan menggambarkan diagnosis dan tatalaksana struma nodusa non toksik. Laporan Kasus: Pada kasus ini dilaporkan seorang perempuan berusia 41 tahun dengan keluhan benjolan pada leher kanan yang membesar perlahan selama dua tahun tanpa nyeri maupun gejala gangguan hormon tiroid. Pemeriksaan fisik menunjukkan pembesaran kelenjar tiroid, dan ultrasonografi leher yang menunjukkan nodul solid pada tiroid kanan. Pasien menjalani rawat inap dan direncanakan menjalani tindakan tiroidektomi. Hasil: Kondisi pascaoperasi stabil dengan perbaikan klinis dan tanpa komplikasi bermakna. Kesimpulan: Diagnosis struma nodusa non toksik ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan komprehensif dan konfirmasi radiologis penting dalam menegakkan diagnosis struma nodusa non toksik serta menentukan pilihan terapi yang tepat. Tiroidektomi merupakan pilihan tatalaksana yang efektif pada struma nodusa non toksik dengan nodul progresif.