cover
Contact Name
Samuel Haris Purba
Contact Email
lembagapenerbitpenelitianmulti@gmail.com
Phone
+6282280995877
Journal Mail Official
lembagapenerbitpenelitianmulti@gmail.com
Editorial Address
jl kakak tua no. 17 medan
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Nurani: Jurnal Studi Agama dan Peradaban Spiritual
ISSN : -     EISSN : 31249000     DOI : https://doi.org/10.67096/nurani
Core Subject :
Nurani: Jurnal Studi Agama dan Peradaban Spiritual (E-ISSN: 3124-9000) adalah jurnal ilmiah peer-review dan open access yang diterbitkan oleh Lembaga Penerbit Penelitian Multidisipliner, yang didedikasikan sebagai wadah akademik untuk publikasi kajian, penelitian, dan analisis yang inovatif, kritis, serta reflektif dalam bidang studi agama dan spiritualitas. Dengan komitmen untuk memperkaya khazanah keilmuan, memperkuat dialog intelektual, serta mendorong pemahaman yang lebih mendalam mengenai hubungan antara agama, spiritualitas, dan perkembangan peradaban manusia, jurnal ini menjadi platform bagi para akademisi, peneliti, dan praktisi untuk menyebarluaskan gagasan serta temuan ilmiah mereka. Sebagai jurnal yang berfokus pada studi agama dan peradaban spiritual, Nurani menyambut kontribusi naskah dari berbagai perspektif dan disiplin ilmu. Ruang lingkup kajiannya meliputi berbagai tema seperti studi agama, filsafat dan pemikiran spiritual, hubungan agama dan budaya, etika dan moralitas, dialog antaragama, spiritualitas dalam kehidupan modern, serta dinamika peradaban dalam konteks sosial, budaya, dan global. Jurnal ini juga terbuka terhadap beragam pendekatan metodologi penelitian, termasuk pendekatan teologis, filosofis, historis, sosiologis, antropologis, serta pendekatan interdisipliner lainnya. Nurani: Jurnal Studi Agama dan Peradaban Spiritual diterbitkan secara berkala empat kali dalam setahun, yaitu pada bulan Maret, Juni, September, dan Desember, sebagai upaya berkelanjutan dalam mendukung diseminasi hasil penelitian yang berkualitas dan relevan bagi pengembangan studi agama dan spiritualitas di tingkat nasional maupun internasional.
Arjuna Subject : -
Articles 28 Documents
Berbeda Ideologi, Berbeda Tafsir: Studi Metodologi Penafsiran Al-Qur'an Mazhab Mu'tazilah dan Khawarij Intan Anggrini; Misbah; Budi Aulia; Akhmad Dasuki
Nurani : Jurnal Studi Agama dan Peradaban Spiritual Vol. 1 No. 2 (2026): Juni: Nurani: Jurnal Studi Agama dan Peradaban Spiritual
Publisher : Lembaga Penerbit Penelitian Multidisipliner

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67096/nurani.v1i2.128

Abstract

Studi ini membahas metodologi penafsiran Al-Qur'an dari mazhab Mu'tazilah dan Khawarij dari perspektif epistemologi hermeneutika Al-Qur'an kontemporer. Studi ini dimotivasi oleh perbedaan mendasar dalam memahami teks Al-Qur'an antara pendekatan rasional dan tekstual yang memengaruhi gaya penafsiran Islam klasik hingga kontemporer. Studi ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik metodologi penafsiran Mu'tazilah dan Khawarij serta mengidentifikasi persamaan dan perbedaannya. Studi ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan penelitian kepustakaan dan analisis deskriptif-komparatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Mu'tazilah menggunakan pendekatan rasional dengan menempatkan akal dan metode ta'wil sebagai instrumen utama dalam memahami ayat-ayat Al-Qur'an, sedangkan Khawarij cenderung menggunakan pendekatan literal dan tekstual tanpa memberikan banyak ruang untuk penafsiran kontekstual. Persamaan antara kedua mazhab tersebut terletak pada penggunaan Al-Qur'an sebagai legitimasi bagi ideologi teologis masing-masing. Studi ini menyimpulkan bahwa perbedaan dalam metodologi penafsiran kedua aliran pemikiran tersebut dipengaruhi oleh faktor-faktor teologis, politis, dan epistemologis, dan telah memberikan dampak besar pada perkembangan tradisi penafsiran dan hermeneutika Islam.
Program Dauroh sebagai Strategi Pembelajaran Tahfidz Al-Qur'an di SMP MBS Zam-Zam Cilongok, Banyumas Syafira Azzahra; Rahman Afandi
Nurani : Jurnal Studi Agama dan Peradaban Spiritual Vol. 1 No. 2 (2026): Juni: Nurani: Jurnal Studi Agama dan Peradaban Spiritual
Publisher : Lembaga Penerbit Penelitian Multidisipliner

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67096/nurani.v1i2.137

Abstract

Program dauroh merupakan model pembelajaran tahfidz Al-Qur'an yang bersifat intensif dan terstruktur yang mulai banyak diterapkan di lembaga pendidikan Islam formal di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan secara mendalam implementasi program dauroh dalam pembelajaran tahfidz Al-Qur'an di SMP MBS Zam-Zam Cilongok, Kabupaten Banyumas. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan jenis penelitian lapangan (field research). Subjek penelitian terdiri dari guru tahfidz (ustadzah) dan siswi kelas VIII F yang berjumlah 31 orang. Teknik pengumpulan data meliputi observasi non-partisipan, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi, sedangkan keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber dan teknik. Analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang mencakup reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program dauroh di SMP MBS Zam-Zam Cilongok dilaksanakan satu kali setiap bulan selama satu pekan (Senin–Jumat) dengan enam sesi halaqah setiap harinya. Program ini memiliki tiga komponen utama, yaitu: tahap persiapan yang mencakup penyusunan jadwal, penetapan target hafalan (minimal satu lembar per hari), dan seleksi pembimbing; tahap pelaksanaan melalui mekanisme setoran hafalan (ziyadah) yang didokumentasikan dalam buku mutaba'ah; serta tahap evaluasi melalui rekapitulasi capaian hafalan pada hari terakhir dauroh. Faktor pendukung keberhasilan program meliputi ketersediaan Rumah Tahfidz sebagai fasilitas khusus, sistem reward berupa izin perkeluaran pondok bagi siswa yang berhasil tasmi' satu juz, dan kompetensi guru pembimbing. Faktor penghambat yang ditemukan adalah keterbatasan sarana-prasarana dan gangguan dari pihak eksternal (wali santri yang berkunjung di luar jadwal). Program dauroh terbukti efektif meningkatkan fokus dan kuantitas hafalan siswa dibandingkan pembelajaran tahfidz pada hari-hari biasa.
Teori-Teori Kebijakan dalam Konteks Pendidikan Islam Perspektif Ulama Klasik Agung Wibisono; Usman; Nor Fadhilah
Nurani : Jurnal Studi Agama dan Peradaban Spiritual Vol. 1 No. 2 (2026): Juni: Nurani: Jurnal Studi Agama dan Peradaban Spiritual
Publisher : Lembaga Penerbit Penelitian Multidisipliner

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67096/nurani.v1i2.173

Abstract

Kebijakan pendidikan Islam kontemporer saat ini menghadapi tantangan besar berupa disrupsi identitas akibat dominasi paradigma teknokratis-sekuler yang cenderung mengabaikan dimensi spiritual. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan rekonstruksi teoretis terhadap pemikiran ulama klasik guna merumuskan kerangka kebijakan pendidikan Islam yang otentik dan relevan bagi manajemen pendidikan abad ke-21. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan jenis penelitian pustaka (library research) yang bersifat deskriptif-analitis. Data primer bersumber dari karya-karya monumental ulama klasik seperti Al-Ghazali, Ibnu Khaldun, dan Al-Mawardi, yang kemudian dianalisis menggunakan metode analisis isi dan analisis wacana kritis melalui kacamata teori kebijakan publik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teori kebijakan pendidikan dalam perspektif ulama klasik bertumpu pada prinsip Siyasah Syar’iyyah yang mengintegrasikan nilai ketauhidan, keadilan distributif, dan kemaslahatan umat (maslahah). Temuan ini mengidentifikasi tiga pilar utama kebijakan: pertama, kebijakan kurikulum berbasis hirarki ilmu (fardu ain dan fardu kifayah); kedua, kebijakan profesionalisme pendidik yang mengutamakan integritas moral; dan ketiga, kebijakan aksesibilitas pendidikan melalui sistem filantropi Islam. Studi ini menyimpulkan bahwa pemikiran klasik tidak sekadar bersifat historis-filosofis, melainkan memiliki relevansi strategis sebagai basis formulasi regulasi institusional yang profesional namun tetap Islami. Implikasi praktis dari penelitian ini menuntut para pengambil kebijakan untuk menyintesiskan manajemen mutu modern dengan nilai-nilai transendental klasik guna mewujudkan institusi pendidikan yang unggul secara intelektual dan mulia secara spiritual. Rekonstruksi ini diharapkan dapat mengisi kekosongan landasan teoretis bagi praktisi dalam menyusun kebijakan pendidikan Islam yang berdaulat di tengah arus globalisasi.
Rekonstruksi Altruisme Qur’ani di Era Individualisme Generasi Z: Integrasi Tafsir Tematik dan Grounded Theory Muhammad Faris; Mohamad Hambali; Hikmatul Luthfi
Nurani : Jurnal Studi Agama dan Peradaban Spiritual Vol. 1 No. 2 (2026): Juni: Nurani: Jurnal Studi Agama dan Peradaban Spiritual
Publisher : Lembaga Penerbit Penelitian Multidisipliner

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67096/nurani.v1i2.193

Abstract

Penelitian ini bertujuan merekonstruksi konsep altruisme Qur’ani sebagai respons terhadap kecenderungan individualisme pada Generasi Z melalui integrasi pendekatan tafsir tematik dan grounded theory. Kajian altruisme modern selama ini cenderung berfokus pada dimensi psikologis individual berbasis empati, sehingga belum sepenuhnya mengakomodasi aspek moral dan spiritual yang menjadi fondasi perilaku sosial dalam Islam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif eksploratif dengan metode grounded theory berbasis teks (text-based grounded theory). Data penelitian berupa ayat-ayat Al-Qur’an yang relevan secara semantik dengan konsep altruisme, seperti kepedulian sosial, pengorbanan, empati, dan tanggung jawab moral. Sebanyak 19 ayat dipilih secara purposif dan dianalisis melalui tahapan open coding, axial coding, dan selective coding dengan dukungan perangkat lunak ATLAS.ti 9.0. Validitas data diperkuat melalui triangulasi dengan Tafsir al-Misbah, Tafsir Ibn Kathir, dan Mafātiḥ al-Ghayb. Hasil penelitian menunjukan bahwa konstruksi altruisme Qur’ani terbentuk melalui tiga domain utama, yaitu internal orientation, social altruistic action, dan spiritual transcendental orientation. Dimensi internal orientation mencakup empati, keikhlasan, dan kesadaran moral; social altruistic action meliputi īthār, solidaritas sosial, dan pengorbanan; sedangkan spiritual-transcendental orientation mencakup orientasi ibadah, ridha Allah, dan kesadaran pahala ukhrawi. Ketiga dimensi tersebut terintegrasi dalam model Qur’anic Altruism Construction (QAC) yang memperluas teori altruisme modern dengan menambahkan aspek spiritual-transendental sebagai fondasi perilaku sosial. Penelitian ini berkontribusi dalam pengembangan psikologi Islam dan tafsir sosial Al-Qur’an melalui penyusunan model konseptual altruisme yang sistematis, kontekstual, dan relevan dalam merespons fenomena individualisme Generasi Z.
Stabilitas Emosional Keluarga dalam Perspektif Sakinah, Mawaddah, Wa Rahmah (Studi Tafsir Ghara’ib al-Qur’an) Nakhwa Azkia; Salsabila Azahra
Nurani : Jurnal Studi Agama dan Peradaban Spiritual Vol. 1 No. 2 (2026): Juni: Nurani: Jurnal Studi Agama dan Peradaban Spiritual
Publisher : Lembaga Penerbit Penelitian Multidisipliner

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67096/nurani.v1i2.204

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya problem emosional dalam keluarga Muslim kontemporer yang tampak pada konflik berkepanjangan, lemahnya komunikasi, dan menurunnya kualitas kasih sayang dalam rumah tangga. Berangkat dari kondisi tersebut, penelitian ini merumuskan pertanyaan mengenai konsep sakinah, mawaddah, wa rahmah dalam Al-Qur’an, penafsiran QS. Ar-Rum [30]: 21 dalam Tafsir Ghara’ib al- Qur’an wa Ragha’ib al-Furqan, serta relevansinya terhadap pembangunan stabilitas emosional keluarga Muslim masa kini. Penelitian ini bertujuan menjelaskan fondasi Qur’ani keluarga harmonis, menganalisis penafsiran al-Naisaburi, dan mengungkap kontribusinya bagi ketahanan emosional keluarga. Metode yang digunakan adalah penelitian kepustakaan dengan pendekatan kualitatif-deskriptif dan analisis tafsir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sakinah merepresentasikan ketenteraman batin, mawaddah menunjukkan cinta yang aktif, dan rahmah menegaskan kasih sayang yang matang. Tafsir al-Naisaburi menampilkan keluarga sebagai ruang ketenangan, kedekatan afektif, dan empati. Penelitian ini menyimpulkan bahwa nilai sakinah, mawaddah, wa rahmah tetap relevan sebagai landasan spiritual dan emosional keluarga Muslim kontemporer.
Konstruksi Makna Pamali: Analisis Sosiologi Komunikasi Auguste Comte terhadap Kepercayaan Magis Mahasiswa FUD IAIN Bone Hartati; Ade Amelia; Muhammad Aidil; Muhammad Ishak; Kurniati Abidin
Nurani : Jurnal Studi Agama dan Peradaban Spiritual Vol. 1 No. 2 (2026): Juni: Nurani: Jurnal Studi Agama dan Peradaban Spiritual
Publisher : Lembaga Penerbit Penelitian Multidisipliner

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67096/nurani.v1i2.220

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk konstruksi makna pamali dalam perspektif sosiologi komunikasi Auguste Comte terhadap kepercayaan magis mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Dakwah (FUD) IAIN Bone. Pamali sebagai larangan tradisional dalam budaya Bugis tidak hanya dipahami sebagai pantangan magis, tetapi juga sebagai sarana pendidikan moral, etika, dan sopan santun. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, penelitian ini menggali bagaimana mahasiswa menafsirkan pamali dalam kehidupan akademik mereka. Hasil penelitian menunjukkan adanya pergeseran makna pamali dari tahap teologis, di mana larangan dikaitkan dengan kekuatan gaib, menuju tahap metafisis yang menekankan nilai abstrak seperti sopan santun dan kedisiplinan, hingga tahap positivistik yang menjelaskan pamali secara rasional dan ilmiah. Mayoritas mahasiswa mengenal pamali sejak kecil melalui orang tua atau nenek, dan meskipun sebagian masih memercayainya sebagai pantangan gaib, banyak yang menafsirkannya sebagai nasihat moral atau aturan praktis yang logis. Temuan ini menegaskan bahwa pamali tetap memiliki posisi penting sebagai identitas budaya yang relevan, sekaligus menjadi jembatan antara tradisi lokal dan rasionalitas akademik. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan kajian sosiologi komunikasi serta menjadi referensi bagi generasi muda dalam melestarikan nilai-nilai moral dan etika yang terkandung dalam tradisi pamali.
Kebangkitan dan Misi Matius 28:1-10 dalam Perspektif Pendekatan History of Redemption Lamria Br Tumanggor
Nurani : Jurnal Studi Agama dan Peradaban Spiritual Vol. 1 No. 2 (2026): Juni: Nurani: Jurnal Studi Agama dan Peradaban Spiritual
Publisher : Lembaga Penerbit Penelitian Multidisipliner

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67096/nurani.v1i2.221

Abstract

Penelitian ini mengkaji perikop Matius 28:1–10 dalam perspektif History of Redemption (sejarah penebusan) untuk memahami makna teologis kebangkitan Kristus dan implikasinya terhadap misi gereja. Kebangkitan Yesus Kristus merupakan puncak karya penebusan Allah yang telah dinyatakan secara progresif sepanjang sejarah keselamatan. Melalui pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka, penelitian ini menganalisis teks Matius 28:1–10 berdasarkan konteks historis, sastra, dan teologi biblika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebangkitan Kristus bukan hanya peristiwa historis yang menegaskan kemenangan atas dosa dan maut, tetapi juga deklarasi penggenapan janji keselamatan Allah yang telah dinubuatkan dalam Perjanjian Lama. Dalam kerangka sejarah penebusan, kebangkitan menjadi titik kulminasi karya Allah sekaligus awal dari fase baru sejarah keselamatan yang ditandai dengan pengutusan para saksi untuk memberitakan Injil. Narasi para perempuan sebagai saksi pertama kebangkitan memperlihatkan bahwa pengalaman akan Kristus yang bangkit selalu menghasilkan tanggung jawab misioner. Dengan demikian, kebangkitan dan misi merupakan dua realitas yang tidak dapat dipisahkan dalam rencana penebusan Allah. Misi gereja dipahami sebagai kelanjutan dari karya keselamatan yang telah digenapi melalui kematian dan kebangkitan Kristus serta menjadi sarana pemberitaan Injil kepada segala bangsa hingga penggenapan Kerajaan Allah pada akhir zaman.
Konsep Al Sharih Dalam Penetapan Hukum Talaq: Kajian Tafsir Surah Al Baqarah Ayat 229-230 Afifa Nurfitria Wadina; Mutiara Azizah; Ayu Lestari; Akhmad Dasuki
Nurani : Jurnal Studi Agama dan Peradaban Spiritual Vol. 1 No. 2 (2026): Juni: Nurani: Jurnal Studi Agama dan Peradaban Spiritual
Publisher : Lembaga Penerbit Penelitian Multidisipliner

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67096/nurani.v1i2.236

Abstract

Talak merupakan salah satu mekanisme pemutusan hubungan perkawinan yang dibenarkan dalam Islam, tetapi pelaksanaannya diatur secara ketat untuk menjaga keadilan dan kepastian hukum. Permasalahan yang sering muncul di masyarakat adalah kurangnya pemahaman mengenai penggunaan lafaz talak, khususnya perbedaan antara lafaz ṣharīḥ dan kināyah, yang dapat memengaruhi keabsahan perceraian. Selain itu, kajian mengenai konsep al-ṣharīḥ dalam perspektif tafsir QS. Al-Baqarah ayat 229–230 masih relatif terbatas dibandingkan pembahasan hukum talak secara umum. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep al-ṣharīḥ dalam penetapan hukum talak berdasarkan kajian tafsir QS. Al-Baqarah ayat 229–230. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Data diperoleh dari Al-Qur’an, kitab-kitab tafsir, buku, dan literatur ilmiah yang relevan, kemudian dianalisis menggunakan metode analisis isi (content analysis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa QS. Al-Baqarah ayat 229–230 menetapkan batas talak yang dapat dirujuk hanya dua kali, sedangkan talak ketiga bersifat final. Ayat tersebut juga menekankan prinsip imsāk bi ma‘rūf dan tasrīḥ bi iḥsān sebagai pedoman etika dalam mempertahankan maupun mengakhiri perkawinan. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa lafaz ṣharīḥ memiliki kedudukan penting dalam memberikan kepastian hukum talak karena secara tegas menunjukkan makna perceraian tanpa memerlukan penafsiran tambahan. Dengan demikian, pemahaman terhadap konsep al-ṣharīḥ sangat diperlukan untuk mewujudkan kepastian hukum serta mencegah kesalahan dalam praktik perceraian di masyarakat Muslim.
ETIKA BERPAKAIAN ORANG KRISTEN DI TENGAH TREN FASHION GENERASI MUDA ZAMAN KINI Yola Fhivian Hutagaol; Nova Natalia Siahaan; Joy Carolina Simamora
Nurani : Jurnal Studi Agama dan Peradaban Spiritual Vol. 1 No. 2 (2026): Juni: Nurani: Jurnal Studi Agama dan Peradaban Spiritual
Publisher : Lembaga Penerbit Penelitian Multidisipliner

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67096/nurani.v1i2.238

Abstract

Berpakaian merupakan bentuk komunikasi nonverbal yang mencerminkan identitas, nilai, karakter, dan keyakinan seseorang. Bagi orang Kristen, cara berpakaian tidak hanya berkaitan dengan penampilan fisik, tetapi juga menjadi bagian dari kesaksian iman, ketaatan kepada Allah, dan cerminan kehidupan yang berlandaskan nilai-nilai Alkitab. Perkembangan teknologi dan media sosial pada era digital telah membawa perubahan yang signifikan terhadap pola berpakaian generasi muda melalui berbagai tren fashion yang tersebar dengan cepat dan luas. Kondisi tersebut memberikan peluang bagi generasi muda untuk mengekspresikan diri secara kreatif, namun di sisi lain juga menghadirkan tantangan dalam mempertahankan nilai-nilai kesopanan, kesederhanaan, dan kekudusan hidup yang diajarkan dalam kekristenan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji etika berpakaian Kristen berdasarkan prinsip-prinsip Alkitab serta menganalisis relevansinya dalam menghadapi perkembangan tren fashion generasi muda masa kini. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik studi pustaka melalui kajian terhadap Alkitab, buku-buku etika Kristen, artikel ilmiah, dan jurnal teologi yang berkaitan dengan topik penelitian. Analisis data dilakukan dengan menelaah berbagai sumber untuk menemukan prinsip-prinsip dasar etika berpakaian Kristen serta penerapannya dalam kehidupan generasi muda di tengah perkembangan budaya modern. Hasil penelitian menunjukkan bahwa etika berpakaian Kristen berlandaskan pada prinsip kesopanan, kesederhanaan, penghormatan terhadap tubuh sebagai bait Roh Kudus, keindahan karakter, serta tanggung jawab untuk tidak menjadi batu sandungan bagi sesama. Selain itu, penelitian ini menemukan bahwa perkembangan fashion modern tidak harus dipandang sebagai ancaman terhadap iman Kristen, melainkan sebagai fenomena budaya yang perlu disikapi secara kritis, selektif, dan bijaksana. Generasi muda Kristen tetap dapat mengikuti perkembangan mode dan tren berpakaian selama pilihan yang diambil tidak bertentangan dengan nilai-nilai Alkitab dan tetap mencerminkan identitas sebagai pengikut Kristus.
Perjalanan Manusia Dalam Al-Qur'an: Dari Penciptaan Adam Hingga Kemuliaan Sebagai Khalifah Rifki Ramadhan; Muhammad Alif
Nurani : Jurnal Studi Agama dan Peradaban Spiritual Vol. 1 No. 2 (2026): Juni: Nurani: Jurnal Studi Agama dan Peradaban Spiritual
Publisher : Lembaga Penerbit Penelitian Multidisipliner

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67096/nurani.v1i2.243

Abstract

Manusia selalu mempertanyakan eksistensi, asal-usul, dan tujuan hidupnya. Al-Qur’an menjawab pertanyaan ini dengan menjelaskan bahwa manusia bukan sekadar wujud fisik, melainkan makhluk spiritual yang memiliki misi ilahi. Kajian ini menelaah hakikat penciptaan manusia pertama, Nabi Adam a.s., yang dianugerahi akal, ruh, dan kedudukan istimewa sebagai khalifah di bumi. Kemuliaan ini bahkan melampaui malaikat, namun membawa tanggung jawab moral dan amanah yang besar. Selain dimensi spiritual, Al-Qur'an juga merinci fase biologis penciptaan manusia dari wujud yang lemah hingga menjadi makhluk sempurna yang mampu berpikir dan mencintai. Menggunakan pendekatan kualitatif dan studi kepustakaan terhadap teks Al-Qur’an serta literatur tafsir, kajian ini menunjukkan bahwa pemahaman utuh tentang penciptaan manusia akan menumbuhkan spiritualitas yang mendalam. Kesadaran ini akan membentuk sikap rendah hati, rasa syukur, dan tanggung jawab. Dengan menyadari kelemahan asalnya, manusia didorong untuk menjalankan peran kekhalifahannya dengan baik, mengingat segala anugerah yang dimilikinya hanyalah titipan Allah.

Page 2 of 3 | Total Record : 28