cover
Contact Name
Rizki Zakwandi
Contact Email
r.zakwandi@upi.edu
Phone
+6285669180173
Journal Mail Official
wapfi@upi.edu
Editorial Address
JL. Setiabudhi No. 229 Bandung, 40154 Jawa Barat - Indonesia. e-mail: wapfi@upi.edu Tel / fax : (022) 2004548 / (022) 2004548
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
WAPFI (Wahana Pendidikan Fisika)
ISSN : 23381027     EISSN : 26854414     DOI : https://doi.org/10.17509/wapfi
The below mentioned areas are just indicative. The editorial board also welcomes innovative articles that redefine any Science, especially Physics and Technology Education field. Earth Science and Education Basic Science in Physics Education New Technologies in Physics Education Research and Development in Physics Education Globalisation in Physics Education Women in Physics Education Computers, Internet, Multimedia in Physics Education Organization of Laboratories of Physic Curriculum Development on Physics Education Teaching, Media, and Learning Physics
Articles 216 Documents
PROFIL PERKEMBANGAN KEMAMPUAN BEREKSPERIMEN SISWA SMP PADA PEMBELAJARAN LEVELS OF INQUIRY (LoI) MATERI ENERGI Inka Danika; Harun Imansyah; Setiya Utari; Muhamad Gina Nugraha; Nurti Istila
WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) Vol 3, No 1 (2018): WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) 2018
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (72.561 KB) | DOI: 10.17509/wapfi.v3i1.10951

Abstract

ABSTRAK Sejak tahun 1960, orang sudah berpikir bahwa  dalam pengajaran sains tidak hanya memfokuskan pada hal-hal yang perlu siswa ketahui tetapi penting juga untuk membangun cara bagaimana siswa memperoleh apa yang diketahui. Kemampuan bereksperimen merupakan gabungan antara pengetahuan dan ketrampilan untuk merencanakan, melaksanakan dan melaporkan hasil eksperimen. Penelitian eksperimen dengan desain one group pretest-posttest design ini menggunakan populasi 6 kelas VII di salah satu SMPN di Kota Bandung dengan sampel 1 kelas yang diambil secara random cluster. LoI dipilih sebagai cara untuk melatihkan kemampuan bereksperimen mengingat LoI memiliki tahapan yang dipandang cocok  serta memiliki keleluasaan untuk menentukan dominasi peran guru dan siswa  berdasarkan kondisi siswa. Kemampuan bereksperimen yang diamati meliputi menggunakan hubungan matematik untuk meramalkan gambaran hasil observasi dan eksperimen, hipotesis dan situasi eksperimen yang dibayangkan, mendesain eksperimen serta menyimpulkan hasil eksperimen. Untuk melihat perkembangan kemampuan ini dianalisis berdasarkan jawaban LKS dengan kategori perkembangan merujuk rubrik yang di kembangkan oleh Lati. Hasil penelitian menunjukkan profil perkembangan kemampuan bereksperimen pada aspek mendesain eksperimen memiliki perkembangan yang paling rendah, meskipun dalam implementasi ini guru memiliki dominasi yang lebih besar. Oleh karenanya perlu dikembangkan cara-cara yang lebih fokus terhadap melatihkan kemampuan mendesain eksperimen terutama pada tahapan interactive demonstration dan inquiry lesson dengan lebih menekankan dominasi peran siswa di dalam pembelajaran.     Kata kunci: Profil perkembangan kemampuan bereksperimen; LoI ABSTRACT Since 1960, people have thought that in science teaching is not only focus on things that students need to know but it is also important to build the way students get to know. The ability to experiment is a combination of knowledge and skills to plan, execute and report on experimental results. The experimental research with the design of one group pretest-posttest design uses 6 class VII in one of SMP N in Bandung with 1 class sample taken by random cluster. The LoI was chosen as a way to experiment with the ability to experiment in considering that the LoI has the appropriate stages and has the flexibility to determine the dominant role of teachers and students based on the condition of the students. The experimental abilities observed include using mathematical relationships to forecast images of observations and experiments, hypotheses and experimental situations imagined, designing experiments and summarizing experimental results. To see the development of this capability in the analysis based on the answer of LKS with development category refer to the rubric developed by Lati. The results showed that the development profile of experimental ability in the experimental design aspect has the lowest development, although in this implementation the teacher has greater dominance. Therefore, it is necessary to develop more focused ways to practice experimental design skills, especially in the interactive demonstration and inquiry lesson stages by emphasizing the dominance of student roles in learning. Keyword: experimental ability, LoI
Implementasi POE2WE dengan LKS untuk Peningkatan Penguasaan Konsep Getaran Harmonis Sederhana Siswa Fatin Noor Ulya; Sarwi Sarwi
WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) Vol 7, No 1 (2022): WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) Februari 2022
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (395.675 KB) | DOI: 10.17509/wapfi.v7i1.43966

Abstract

Tujuan penelitian adalah menjelaskan perbedaan penerapan LKS sebagai suplemen model Prediction, Observation, Explanation, Elaboration, Write dan Evaluation (POE2WE), dalam penguasaan konsep getaran harmonis sederhana.  Metode penelitian yang akan digunakan adalah kuantitatif desain kuasi eksperimen. Subjek penelitian sebanyak 72 siswa yang ditentukan secara purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah tes objektif pilihan ganda.  Hasil penelitian dilaporkan bahwa model pembelajaran POE2WE berpengaruh terhadap peningkatan pemahaman siswa tetapi efektifitasnya masih tergolong rendah. Hasil yang menarik adalah ditemukan perbedaan yang signifikan dari hasil uji t dengan perolehan nilai thitung (12.30) ttabel ( ), dapat diambil keputusan hipotesis kerja diterima. Nilai g yang didapatkan pada kelas kontrol sebesar 0,08  dan nilai gain pada kelas eksperimen sebesar 0,27 . Simpulan penelitian bahwa adalah penggunaan LKS pada POE2WE berpengaruh positif terhadap penguasaan konsep getaran harmonis sederhana dan diperoleh peningkatan penguasaan konsep termasuk kategori rendah setelah penerapan model pembelajaran.
Penggunaan Bahan Ajar Berbasis Socioscientific Issues untuk Meningkatkan Pemahaman Nature of Science Siswa SMP pada Materi Tata Surya Pris Izma; Parsaoran Siahaan; Purwanto Purwanto; Hutnal Basori
WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) Vol 4, No 1 (2019): WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) 2019
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (227.795 KB) | DOI: 10.17509/wapfi.v4i1.15768

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat peningkatkan pemahaman Nature of Science (NOS) siswa pada materi tata surya melalui penggunaan bahan ajar berbasis Socioscientific Issues. Metode penelitian yang digunakan yaitu pra eksperimental dengan desain one group pretest-postest. Penelitian ini dilaksanakan di salah satu SMP Negeri di Bandung pada kelas IX menggunakan teknik random sampling, dengan memilih satu kelas dari sebelas kelas. Partisipan penelitian melibatkan 26 siswa. Instrumen penelitian berupa kuesioner pemahaman Nature of Science (NOS). Hasil analisis menggunakan panduan penilaian Das, dkk (2008) dilihat adanya peningkatan pemahaman Nature of Science (NOS) siswa, dengan adanya 6 dari 7 aspek dari Nature of Science yang mengalami perubahan pemahaman. Pandangan rendah (naif) menjadi pandangan transisi serta dari pandangan transisi menjadi pandangan memadai. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan bahan ajar berbasis Socioscientific Issues dapat meningkatkan pemahaman Nature of Science siswa. Kata kunci : Bahan Ajar; Nature of Science ; Socioscientific Issue. ABSTRACT The purpose of this study is to see the enhancement of students' understanding of the science of science (NOS) on solar materials through the use of teaching materials based on Socioscientific Issues. The research method used is pre experimental with one group pretest-postest design. This research was conducted in one of Junior High School in Bandung in class IX using random sampling technique, by choosing one class from eleven classes. The study participants involved 26 students. The research instrument is an understanding of Nature of Science (NOS) questionnaire. The results of the analysis using assessment guidance, Das, et al (2008) found an increase in the understanding of the students' Nature of Science (NOS), with 6 from 7 aspects of Nature of Science undergoing change of understanding. A naive view becomes a transitional view and from a transitional perspective to an infromed view. The results show that the use of teaching materials based on Socioscientific Issues can improve the understanding of the students' Nature of Science. Keywords : Teaching Materials, Nature of Science, Socioscientific Issues,
Pengaruh Pembelajaran Inquiry Terhadap Kemampuan Practices Of Scientific Investigation Peserta Didik : Analisis Menggunakan Pendekatan Instruksional Implisit dan Eksplisit Muhammad Zaky Zulkarnain
WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) Vol 7, No 2 (2022): WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) September 2022
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1075.277 KB) | DOI: 10.17509/wapfi.v7i2.48006

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pendekatan instruksional implisit dan eksplisit pada pembelajaran POSI peserta didik dan membandingkan pengaruh pendekatan instruksional implisit dan eksplisit pada pembelajaran POSI peserta didik. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode Quasi-Experimental, dimana desain penelitian yang digunakan adalah One Grup Pretest - Posttest Design dengan sampel penelitian adalah 30 peserta didik kelas X MIPA 5 dan X MIPA 6 SMA Negeri 4 Kota Cirebon. Instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes tulis dengan menggunakan kertas dan pulpen, berupa pretest dan posttest tentang kemampuan Practices of Sciencetific Investigation (POSI). Bentuk instrument yang digunakan ialah pilihan ganda. Dalam penelitian ini, terlebih dahulu dilakukan pengukuran kemampuan POSI peserta didik sebelum diberikan perlakuan berupa pretest kemudian kedua kelas eksperimen tersebut diberikan perlakuan yang berbeda,.Terakhir, peserta didik diberikan posttest tentang kemampuan POSI. Uji yang dilakukan terhadap penelitian, yaitu menggunakan Independent t Test dan Paired t Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua model berpengaruh terhadap kemampuan POSI peserta didik, Namun peserta didik yang menerapkan pendekatan instruksional eksplisit memiliki kemampuan POSI yang lebih besar dibandingkan dengan peserta didik yang menerapkan pendekatan implisit. Secara substansial pendekatan instruksional eksplisit ini lebih efektif dalam mendorong kemampuan POSI peserta didik dan Pendekatan instruksional eksplisit ini juga tampaknya dapat menjadi pendekatan yang menjanjikan untuk mendukung kemampuan POSI peserta didik.Kata kunci: Inquiry, instruksional eksplisit, Intruksional Implisit, Kemampuan Practices of Sciencetific Investigation
Penerapan Pembelajaran Berbasis Proyek dan Pembelajaran Berbasis Masalah pada Mata Pelajaran Fisika untuk Meningkatkan Keterampilan Abad 21 (4Cs) Siswa SMP Taryono Taryono; Duden Saepuzaman; Meiry Akmara Dhina; Nurwulan Fitriyanti
WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) Vol 4, No 1 (2019): WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) 2019
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (540.138 KB) | DOI: 10.17509/wapfi.v4i1.15825

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan keterampilan berpikir kritis dan kreativitas serta mengetahui keterampilan kolaborasi dan komunikasi siswa yang mendapatkan pembelajaran berbasis proyek dan siswa yang mendapatkan pembelajaran berbasis masalah. Hasil penelitian 1) terdapat perbedaan signifikan antara keterampilan berpikir kritis siswa yang mendapatkan pembelajaran berbasis proyek dengan siswa yang mendapatkan pembelajaran berbasis masalah; 2) terdapat perbedaan yang signifikan antara kreativitas siswa yang mendapatkan pembelajaran berbasis proyek dengan siswa yang mendapatkan pembelajaran berbasis masalah; 3) keterampilan kolaborasi siswa yang mendapatkan pembelajaran berbasis proyek lebih baik daripada siswa yang mendapatkan pembelajaran berbasis masalah; 4) keterampilan komunikasi siswa yang mendapatkan pembelajaran berbasis proyek lebih baik daripada siswa yang mendapatkan pembelajaran berbasis masalah; Secara umum pembelajaran berbasis proyek dan pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan keterampilan keterampilan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi siswa pada mata pelajaran fisika dengan topik energi. Kata kunci: berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, komunikasi, keterampilan abad 21, pembelajaran berbasis proyek, pembelajaran berbasis masalah
Profil Keterampilan Abad 21 (4C’s) Siswa SMA pada Materi Suhu dan Kalor Melalui Model Project Based Learning (PjBL) Ating Herawati; Didi Teguh Candra; Agus Jauhari; Setiya Utari
WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) Vol 4, No 2 (2019): WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) 2019
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (371.858 KB) | DOI: 10.17509/wapfi.v4i2.20183

Abstract

Penelitian deskriptif kuantitatif ini bertujuan untuk mengetahui profil keterampilan abad ke-21 (4C’s) siswa SMA pada materi suhu dan kalor dan pada pembelajaran Project Based Learning (PjBl). Penelitian menggunakan populasi siswa kelas XI di salah satu SMA Negeri di Kota Cimahi  dengan jumlah sampel 62 orang yang di pilih secara random clauster. Profill keterampilan abad ke-21 yang diamati meliputi keterampilan berpikir kritis (critical thnking), keterampilan kreativitas dan inovasi (creativity and innovation), keterampilan komunikasi (communication) dan keterampilan kolaborasi (collaboration). Profil keterampilan abad ke-21 tersebut diperoleh melalui observasi berdasarkan lembar observasi oleh observer yang telah dilatih terlebih dahulu dan LKS sebagai penunjuk arah bagi siswa selama kegiatan pembelajaran. Hasil analisis data menunjukkan bahwa pada keterampilan critical thinking terdapat 51% siswa berada pada kategori “mendekati standar” , untuk keterampilan  kreativitas dan inovasi (creativity and innovation) terdapat 40% siswa berada pada kategori  mendekati standar”, dan keterampilan komunikasi (communication) terdapat 59% siswa berada pada kategori “mendekati standar” sedangkan untuk keterampilan kolaborasi (collaboration) terdapat 64% siswa berada pada kategori “sesuai standar”. Berdasarkan data tersebut menunjukkan bahwa keterampilan abad 21 (4C’s) sudah muncul dan dimiliki oleh siswa. Hal tersebut menunjukkan bahwa keterampilan kreativitas dan inovasi (creativity and innovation) siswa pada pembelajaran Project Based Learning (PjBL) dengan materi Suhu dan Kalor masih perlu dioptimalkan.terutama untuk keterampilan berpikir kritis  (critical thinking) , keterampilan kreativitas dan inovasi (creativity and innovation), dan keterampilan komunikasi (communication). Kata Kunci :  Keterampilan abad 21 (4C’s), Model Project Based Learning (PjBL) ABSTRACT This quantitative descriptive study aims to determine the profile of 21st century skills (4Cs) of high school students in the material of temperature and heat and in learning Project Based Learning (PjBl). The study used a population of class XI students in one of the Public High Schools in Cimahi City with a sample of 62 people selected by random clauster sampling. The professions of the 21st century skills observed include critical thinking skills, creativity and innovation skills (creativity and innovation), communication skills and collaboration skills. The profile of 21st century skills is obtained through observation based on the observation sheet by observers who have been trained in advance and LKS as a guide for students during the learning activities. The results of data analysis show that in skill critical thinking there are 51% of students in the category of "approaching standards", for creativity and innovation skills there are 40% of students in the category “approaching standard "and communication skills there are 59 % of students are in the category of "approaching standard" while for collaboration skills there are 64% of students in the category " at standards". Based on these data shows that 21st century skills (4Cs) have emerged and are owned by students. This shows that students' creativity and innovation skills in Project Based Learning (PjBL) with Temperature and Heat material still need to be optimized. Especially for critical thinking skills, creativity and innovation skills. and communication skills. Keywoard  : 21st century skills (4Cs), Project Based Learning (PjBL)
PENERAPAN MULTIMEDIA DALAM PEMBELAJARAN IPA DENGAN METODE INKUIRI TERBIMBING UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP PERPINDAHAN KALOR SISWA KELAS VII Tri Endro Pranowo; Parsaoran Siahaan; Wawan Setiawan
WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) Vol 2, No 1 (2017): WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) 2017
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.306 KB) | DOI: 10.17509/wapfi.v2i1.4848

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan peningkatanpemahaman konsep perpindahan kalor siswa kelas VII SMP melalui pembelajaran metode inkuiri terbimbing berbantuan multimedia dengan tanpa bantuan multimedia. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen semu dengan desain “pretest-posttest control group design. Subyek penelitian adalah siswa kelas VII sebanyak 66 orang di salah satu SMPN di Kabupaten Cianjur, yang dibagi menjadi 2 kelompok masing-masing 33 siswa. Kelompok pertama (kelompok eksperimen) menggunakan pembelajaran inkuiri terbimbing berbantuan multimedia, sedangkan kelompok kedua (kelompok kontrol) menggunakan pembelajaran inkuiri terbimbing tanpa bantuan multimedia. Pengumpulan data dilakukan menggunakan instrumen tes pemahaman konsep. Hasil gain yang dinormalisasi pada kelompok eksperimen sebesar 0,54, sedangkan pada kelompok kontrol sebesar 0,45, keduanya berada pada klasifikasi sedang. Hasil uji hipotesis menggunakan uji t dua sampel independen menggunakan SPSS 16menunjukkan bahwa nilai sig (2-tailed) = 0,04. Hasil ini lebih kecil dibandingkan dengan nilai p= 0,05. Hal ini menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan pemahaman konsep siswa pada materi perpindahan kalor yang mendapatkan pembelajaran menggunakan metode inkuiri terbimbing berbantuan multimedia dengan siswa yang mendapatkan pembelajaran menggunakan metode inkuiri terbimbing tanpa bantuan multimedia.
Pengembangan Media Pembelajaran Fisika Berbasis Board Game Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Fisika Peserta Didik SMA Kelas X Kurniasari Kurniasari; Anthony Wijaya; Theresia Fransiska; Agung Prasetyo; Putri Indah Cahyani; Adeodatus Yohanes Kopong
WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) Vol 5, No 1 (2020): WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) 2019
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (555.635 KB) | DOI: 10.17509/wapfi.v5i1.23435

Abstract

ABSTRAK Media papan permainan (Board Games) memiliki karakteristik tertentu dimana peserta didik tidak hanya memperhatikan media saja tetapi juga berperan aktif dalam penggunaannya, sehingga. diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik pada pelajaran fisika. Desain penelitian pengembangan ini menggunakan model pengembangan ADDIE (Analysis-Design-Develop-Implement-Evaluate). Hasil penelitian ini adalah dikembangkannya media pembelajaran fisika berbasis Board Game, yang diimplementasikan dalam pembelajaran fisika SMA Kelas X. Pengembangan media pembelajaran yang telah dilakukan terdiri dari 4 papan permainan yaitu, Journey of Physics, Slide And Ladder, Jumanji Physics dan Ludo in Physics. Hasil validasi ahli terhadap media pembelajaran fisika berbasis Board Game yang dikembangkan berturut-turut adalah 4,46; 4,21; 4,36; 4,11, dari skala maksimal 5. Pada tahap implementasi, dilakukan One Group Pretest-Posttest Design melalui indikator N-Gain Score, dengan hasil adalah 0,58; 0,49; 0,65; 0,33 dengan kategori sedang. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran fisika berbasis Board Game yang telah dikembangkan dapat meningkatkan hasil belajar fisika peserta didik SMA Kelas X.  ABSTRACT Board Games media have certain characteristics in which students not only pay attention to the media but also play an active role in their use, thus. is expected to improve student learning outcomes in physics. This development research design uses the ADDIE (Analysis-Design-Develop-Implement-Evaluate) development model. The results of this study are the development of Board Game-based physics learning media, which is implemented in high school physics learning in Class X. The development of learning media that has been carried out consists of 4 board games namely, Journey of Physics, Slide and Ladder, Jumanji Physics and Ludo in Physics. The results of expert validation on Board Game-based physics learning media developed respectively were 4.46; 4.21; 4.36; 4.11, from a maximum scale of 5. At the implementation stage, One Group Pretest-Posttest Design is carried out through the N-Gain Score indicator, with a result of 0.58; 0.49; 0.65; 0.33 in the medium category. From these results it can be concluded that the Board Game-based physics learning media that have been developed can improve the physics learning outcomes of Class X high school students. Kata kunci : Board Game, Hasil belajar siswa, Media pembelajaran fisika. 
HUBUNGAN ANTARA SIKAP KEMANDIRIAN BELAJAR DAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS X PADA PEMBELAJARAN FISIKA BERBASIS PORTOFOLIO A Saefullah; P Siahaan; I M Sari
WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) Vol 1, No 1 (2013): WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) 2013
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.3 KB) | DOI: 10.17509/wapfi.v1i1.4891

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi dari hasil pra-penelitian yang menunjukan bahwa siswa belum memiliki sikap kemandirian belajar yang baik. Kurang baiknya sikap kemandirian belajar yang dimiliki siswa diyakini akan berpengaruh pada kurang baiknya pretasi belajar yang diraihnya. Sikap kemandirian belajar akan membentuk sikap inisistif, tanggung jawab, kedisiplinan, dan kepercayaan diri dalam belajar, serta kemampuan mengevaluasi hasil belajar. Sikap-sikap yang terdapat dalam kemandirian belajar merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar yang diperoleh siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara sikap kemandirian belajar yang dimiliki siswa dengan prestasi belajar yang diraihnya. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian korelasi yang mendeteksi sejauh mana variansi sikap kemandirian belajar berkaitan dengan dengan variansi prestasi belajar. Penelitian ini menggunakan skala sikap untuk mengukur sikap kemandirian belajar yang dimiliki siswa dan soal objektif berbentuk pilihan ganda untuk mengukur prestasi belajar siswa. Hasil penelitian menunjukan terdapat hubungan positif (searah) yang signifikan (berarti) antara sikap kemandirian belajar dan prestasi belajar. Ini berarti, semakin baik sikap kemandirian belajar yang dimiliki siswa, maka akan semakin baik pula prestasi belajar yang diraih siswa.The study is motivated from the pre-study that shows that students do not have a good attitude to learn independence. Less favorable attitudes students have learned independence believed to affect less favorable interpretation of learning achieved. The attitude of self study will establish a settlement attitude, responsibility, discipline, and confidence in learning, and the ability to evaluate learning outcomes. Attitudes contained in the independent learning are all factors that affect student achievement obtained. This study aimed to determine the relationship between independent learning attitude the student has achieved the learning achievements. Type of research is a correlation study to detect the extent of the variance of the attitude of learning independence in relation to academic achievement variance. This study used an attitude scale to measure attitudes students have learned independence and objective multiple-choice questions to measure student achievement. The results showed that there is a positive relationship (unidirectional) significantly (mean) between the attitude of self learning and academic achievement. This means, the better the attitude of the student learning independence, it will be better the learning achievement of students achieved. The attitude of independence study accounted for 40.96% of the students achieved the learning achievement.
EFEKTIVITAS PENGGUNAAN KIT GGL INDUKSI UNTUK MENUMBUHKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA Nur Khoiri; Wasito Rejo; Susilawati Susilawati
WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) Vol 5, No 2 (2020): WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) 2020
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (157.598 KB) | DOI: 10.17509/wapfi.v5i2.26641

Abstract

AbstrakPendidikan saat ini sangat perlu melatih siswa agar memiliki keterampilan berpikir kritis sehingga memiliki kemampuan bersikap dan berperilaku adaptif dalam menghadapi tantangan dan tuntutan kehidupan sehari-hari. Hal ini diperlukan model pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis. Inkuiri terbimbing melatih siswa untuk memecahkan masalah, membuat keputusan, serta mengembangkan kemampuan berpikir kritis. Dalam model pembelajaran ini siswa dituntut lebih aktif, sedangkan guru hanya sebagai fasilitator. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh model pembelajaran inkuiri terbimbing berbantuan PhET simulation terhadap kemampuan berpikir kritis siswa SMAN 1 Banjarharjo pada pokok bahasan pemantulanan cahaya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah quasi experimental design dengan menggunakan metode pretest posttest control group design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI MIPA SMAN 1 Banjarharjo, dengan sampel kelas XI MIPA 2 sebagai kelas kontrol dan X MIPA 1 sebagai kelas eksperimen. Hasil penelitian yang diperoleh bahwa terdapat perbedaan pengaruh yang signifikan antara kemampuan berpikir kritis siswa yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri terbimbing berbantuan PhET simulations dengan kemampuan berpikir kritis siswa yang diajar dengan model pembelajaran konvensional.Kata kunci: Inkuiri Terbimbing, Berpikir Kritis, phET Simulation