cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
ISSN : 08539987     EISSN : 23383445     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Media Health Research and Development ( Media of Health Research and Development ) is one of the journals published by the Agency for Health Research and Development ( National Institute of Health Research and Development ) , Ministry of Health of the Republic of Indonesia. This journal article is a form of research results , research reports and assessments / reviews related to the efforts of health in Indonesia . Media Research and Development of Health published 4 times a year and has been accredited Indonesian Institute of Sciences ( LIPI ) by Decree No. 396/AU2/P2MI/04/2012 . This journal was first published in March 1991.
Arjuna Subject : -
Articles 467 Documents
NILAI KARIES GIGI PADA KARYAWAN KAWASAN INDUSTRI DI PULO GADUNG JAKARTA Notohartojo, Indirawati Tjahja; Lely S, Made Ayu; .R, Woro; .N, Olwin
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 21, No 4 Des (2011)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v21i4 Des.80.

Abstract

The common caused of dental caries are poor oral hygiene, so it lead to make plaque accumulation containing various bacteria. And The study Cross Secional study design and conducted on selected sub district primary health centers in DKI Jakarta. The amount of people were 950 persons conducted both gender with 15 years age and ever lived in Jakarta.  The result of this study showed related signifikans between variable education and variable age with the DMF-t. By analyse Logistic regression only age was significant (p< 0,001)AbstrakPenyebab umum karies gigi adalah kebersihan mulut yang rendah, sehingga bertumpuknya plak yang mengandung bakteri. Penelitian  ini menggunakan desain potong lintang dan dengan memilih  puskemas yang ada di Jakarta.Hasil dari penelitian ini menunjukkan relasi yang signifikan antara variabel pendidikan dan variabel umur dengan DMF-t. Dengan analisis regresi logistik hanya pada usia yang signifikan (p< 0,001)
PENGARUH TERAPI KURKUMINOID EKSTRAK RIMPANG KUNYIT DIBANDINGKAN DENGAN NATRIUM DIKLOFENAK TERHADAP FUNGSI GINJAL PENDERITA OSTEOARTRITIS Kertia, Nyoman; Asdie, Ahmad Husain; Rochmach, Wasilah; -, Marsetyawan
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 21, No 4 Des (2011)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v21i4 Des.81.

Abstract

Background: Osteoarthritis is a joint disease most often found in the community. Patients with osteoarthritis are frequently drink non steroidal anti inflammatory drugs such diclofenac sodium. Data has shown too many side effects of diclofenac sodium especially to the kidney function. A research data in Malang shows that people who use herbs were 476 persons in city area and 580 persons in distric area per thousand patients with arthritis. Curcuma domestica Val. is one of Asia's native plants used to make herbal medicine mainly used to reduce inflammation. The purpose of this study was to assess the safety of curcuminoid from Curcuma domestica Val. rhizome extract compared to diclofenac sodium to the kidney function of patients with osteoarthritis.  Methods: This was a prospective randomized open and blinded evaluation (PROBE) study. Subjects with knee osteoarthritis were divided randomly into two groups: the group who received 30 mg 3 times daily of curcuminoid from Curcuma domestica Val rhizome extrac (curcuminoid group) and group who received 25 mg 3 times daily of diclofenac sodium (diclofenac group). Assessment of results including serum blood urea nitrogen (BUN) and creatinine level was performed before and after 4 weeks period of treatment. Data analysis compared the change of those levels in each group during the treatment period by student t test analysis. Results: In the curcuminoid group there was no significant decrease of serum BUN level (p=0.52) and there was a significant decrease of serum creatinine level (p=0.03). In the diclofenac group there was a significant increase of serum BUN level (p<0.01) and no significant increase of serum creatinine level (p=0.39). Increasing the serum level of BUN and creatinine in diclofenac group were significantly different compared to decreasing of those level in the curcuminoid group with p=0.01 and p=0.03 respectively. Conclusion: Treatment with Curcuminoid from Curcuma domestica Val. rhizome extract was significantly decreased the serum BUN and creatinin level compared to those increased level in diclofenac sodium treatment. AbstrakLatar belakang: Osteoartritis merupakan penyakit sendi yang paling banyak dijumpai di masyarakat. Pasien osteoartritis sering menggunakan obat anti inflamasi non steroid seperti natrium diklofenak. Data menunjukkan banyaknya efek samping natrium diklofenak khususnya terhadap fungsi ginjal. Data penelitian di Kotamadya dan Kabupaten Malang menunjukkan bahwa penduduk yang menggunakan jamu masing-masing adalah 476 orang dan 580 orang per seribu pasien. Kunyit (Curcuma domestica Val.) adalah salah satu tumbuhan asli Asia yang biasa dibuat jamu yang utamanya digunakan untuk mengurangi peradangan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai keamanan terapi kurkuminoid ekstrak rimpang kunyit dibandingkan dengan natrium diklofenak terhadap fungsi ginjal penderita osteoartritis. Metode: Penelitian ini dirancang sebagai prospective randomized open and blinded evaluation (PROBE). Subjek dengan osteoartritis lutut yang memenuhi syarat dan bersedia ikut dalam penelitian ini dibagi menjadi dua kelompok secara random yaitu kelompok yang mendapatkan terapi kurkuminoid ekstrak rimpang kunyit 30 mg diminum 3 kali sehari (kelompok kurkuminoid) dan kelompok yang mendapatkan terapi natrium diklofenak 25 mg diminum 3 kali sehari (kelompok diklofenak). Penilaian hasil terapi yang meliputi kadar blood urea nitrogen (BUN) dan kreatinin serum dilakukan sebelum dan setelah 4 minggu terapi. Analisis data untuk membandingkan perubahan kadar BUN dan kreatinin pada masing-masing kelompok perlakuan dilakukan dengan student t test. Hasil: Pada kelompok yang mendapat terapi kurkuminoid ekstrak rimpang kunyit terjadi penurunan kadar BUN serum yang tidak bermakna (p=0,52) dan penurunan kadar kreatinin serum secara bermakna (p=0,03). Pada kelompok yang mendapat terapi natrium diklofenak terjadi peningkatan kadar BUN serum secara bermakna (p<0,01) dan peningkatan kadar kreatinin serum yang tidak bermakna (p=0,39). Peningkatan kadar BUN dan kreatinin serum pada terapi natrium diklofenak berbeda bermakna dengan penurunan kadarnya pada terapi kurkuminoid (p=0,01 dan p=0,03). Kesimpulan: Terapi kurkuminoid ekstrak rimpang kunyit menurunkan kadar BUN dan kreatinin serum penderita osteoartritis secara bermakna dibandingkan dengan peningkatan kadarnya pada terapi dengan natrium diklofenak.
PENINGKATAN PERANSERTA MASYARAKAT DALAM PELAKSANAAN PEMBERANTASAN SARANG NYAMUK DBD (PSN-DBD) DI DUA KELURAHAN DI KOTA PALU, SULAWESI TENGAH Chadijah, Sitti; -, Rosmini; -, Halimuddin
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 21, No 4 Des (2011)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v21i4 Des.82.

Abstract

Dengue hemorrhagic fever (DHF) is still one of the most important public health problem in Indonesia. Disease control efforts have been widely carried out, such as larvaciding, fogging focus, and mosquito breeding control. The efforts will be performing well if its involves community participation. The objectives of this study was to enhance community participation in the implementation of the mosquito control program of Dengue Hemorrhagic fever in Palupi and Singgani villages, Palu. The research design is a quasi experimental to analyze the difference between two approach, i.e. larvae surveyors (in Indonesia called as Jumantik) empowerment and the participation of the community leadres (in Indonesia called Ketua RT). Mosquito larvae survey was conducted with a single larval method. The population in this tsudy is all house in the two villages. Sample are consist of 100 houses in each village which were randomly selected. The result showed that during the first larvae survey in Palupi village, the larva-free rate (ABJ) was 68% with the result of CI, HI and BI were 20.81%, 32% and 46 respectively. In the village of Siranindi, the number of larva-free rate was 78%, with CI 19.64%, HI 22% and BI 33. At the seven weeks after the intervention with community participation  suggests that the larva-free rate in Palupi village was became 89%, with the number of CI 3.67%, HI 11% and BI 1%. While in Siranindi village, the larva-free rate was 85% with the CI, HI and BI were 8.4%, 15% and 21% respectively. According to that result, the most effective of community participation on DHF vector control is larva monitors (jumantik) empowerment.AbstrakDemam berdarah dengue (DBD) masih merupakan salah satu masalah kesehatan yang paling penting masyarakat di Indonesia. Upaya pengendalian penyakit telah banyak dilakukan, seperti larvaciding, fokus fogging, dan pengendalian nyamuk berkembang biak. Upaya ini akan lebih baik jika  melibatkan partisipasi masyarakat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan program pengendalian nyamuk demam berdarah Dengue di Palupi dan desa-desa Singgani, Palu. Desain penelitian adalah kuasi eksperimental untuk menganalisis perbedaan antara dua pendekatan, yaitu surveyor larva (di Indonesia disebut sebagai Jumantik) pemberdayaan dan partisipasi masyarakat leadres (di Indonesia disebut Ketua RT). Larva nyamuk survei dilakukan dengan metode larva tunggal. Populasi dalam penelitian ini adalah semua rumah di dua desa. Sampel terdiri dari 100 rumah di setiap desa yang dipilih secara acak. Hasilnya menunjukkan bahwa selama survei larva pertama di desa Palupi, larva yang bebas nilai (ABJ) adalah 68% dengan hasil CI, HI dan BI 20,81%, 32% dan 46 masing-masing. Di desa Siranindi, jumlah larva yang bebas nilai adalah 78%, 19,64% dengan CI, HI 22% dan BI 33. Pada tujuh minggu setelah intervensi dengan partisipasi masyarakat menunjukkan bahwa tingkat larva-bebas dalam Palupi desa menjadi 89%, dengan jumlah 3,67% CI, HI dan BI 11% 1%. Sementara di Siranindi desa, tingkat larva-bebas adalah 85% dengan CI, HI dan BI 8,4%, 15% dan 21% masing-masing. Menurut hasil itu, yang paling efektif partisipasi pemberdayaab masyarakat dalam pengendalian vektor DBD adalah larva surveyor (jumantik).
EFEKTIFITAS VECTRON 20 WP TERHADAP NYAMUK ANOPHELES SUNDAICUS DI DESA PENAGA, KECAMATAN TANJUNG UBAN KABUPATEN BINTAN, KEPULAUAN RIAU -, Santoso; Saikhu, Achmad; Taviv, Yulian; Budiyanto, Anif
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 21, No 4 Des (2011)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v21i4 Des.84.

Abstract

Malaria is still a public health problem in Tanjung Uban Health Center, Bintan regency, Kepulauan Riau. Annual Malaria Incidence (AMI) in Tanjung Uban Health Center in 2006 was reported 101.5?. Though house spraying had been done in 2003-2006. The number of mosquitoes was still high based in entomology survey in July 2008-December 2008. The number of mosquitoes collection was as many as 2212 An. sundaicus and after ELISA test sprozoit were found in the blood of mosquitoes that carried out bio-assay test to determine the effectiveness of insecticides used in vector control. The study was designed as an experimental post test only with 5 treatment groups and one control group in 2 repetitions. The samples were mosquitoes collected from the village of acacia with the bait method. Each group was consisted of 20 of mosquitoes. The 24 hours observation in the first test showed mortality mosquito 97%, and in the second test mosquito mortality was 98%. While mortality of mosquitoes in the control group in first and second test were 0%. Bio-assay showed that vectron 20 WP insecticide was tolerance for An.sundaicus in Tanjung Uban Health CenterAbstrakMalaria masih menjadi masalah kesehatan di Puskesmas Tanjung Uban Kabupaten Bintan. Annual Malaria Incidence (AMI) di wilayah Puskesmas Tanjung Uban tahun 2006 sebesar 101,5?. Kegiatan penyemprotan rumah telah dilakukan pada tahun 2003-2006, namun berdasarkan hasil survey entomologi selama bulan Juli 2008-Desember 2008 ternyata kepadatan nyamuk masih tinggi. Jumlah nyamuk An.sundaicus yang tertangkap sebanyak 2212 ekor dan setelah dilakukan pemeriksaan ELISA ditemukan adanya sprozoit dalam kelenjar ludah nyamuk sehingga dilakukan uji bio assay untuk menilai efektifitas insektisida yang digunakan dalam pengendalian vektor. Penelitian dilakukan dengan eksperimen dengan desain post test only with control group terdiri dari 5 kelompok perlakuan dan 1 kelompok kontrol dengan 2 kali pengujian. Sampel dalam penelitian adalah nyamuk yang tertangkap di Desa Penaga dengan metode umpan orang yang dikelompokkan dalam 6 kelompok. Hasil pengamatan setelah 24 jam pada uji I menunjukkan kematian nyamuk uji sebesar 97% dan pada uji II kematian nyamuk sebesar 98% sedangkan kematian nyamuk kontrol pada uji I dan uji II sebesar 0%. Hasil uji bio assay menunjukkan bahwa insektisida vectron 20 WP toleran terhadap nyamuk An.sundaicus di wilayah Puskesmas Tanjung Uban
LEUKOPENIA SEBAGAI PREDIKTOR TERJADINYA SINDROM SYOK DENGUE PADA ANAK DENGAN DEMAM BERDARAH DENGUE DI RSPI. Prof. dr. SULIANTI SAROSO Risniati, Yenni; Tarigan, Lukman Hakim; Tjitra, Emiliana
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 21, No 3 Sept (2011)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v21i3 Sept.85.

Abstract

The development of DHF patient usually assessed base on clinical condition, platelet count and haematocrit value as the DSS indicators. While leukocyte count is irrespective though leucopenia is common in  viral infection. Therefore, further analysis was run to determine whether leucopenia could be as a predictor of DSS  This study was a  retrospective study with a case control (1:2) design using hospitalized children medical records from January 2006 to April 2008 at Prof. Dr. Sulianti Saroso Infectious Diseases Hospital. DSS cases were purposive sampling, and DHF controls were selected using simple random sampling. There  were 43 children diagnosed as DSS, and 86 diagnosed as DHF. By multivariate analysis, DHF subjects  with leucopenia showed 2.9 times higher risk to develop DSS than DHF subjects without leucopenia. ( 95% CI: 1.2-6.6). Increasing hematocrite was  found as a confounding variable  with  (ORa: 4.0 ; 95% CI: 1.7-9.5). As conclusion, leucopenia could be  a predictor of  progression DHF to DSS.AbstrakPerkembangan penyakit DBD umumnya dinilai dari kondisi klinis pasien, jumlah trombosit dan nilai hematokrit sebagai indikator. Jumlah leukosit seringkali diabaikan walaupun pada  infeksi virus biasanya disertai dengan leukopenia. Oleh sebab itu dilakukan analisis mendalam terhadap leukopenia sebagai prediktor terjadinya Sindroma Syok Dengue (SSD). Penelitian ini merupakan penelitian retrospektif dengan rancangan kasus kontrol (1:2) menggunakan  rekam medis subyek anak yang dirawat dari bulan Januari 2006-April 2008 di RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso. Sampel kasus (SSD)dipilih secara purposif, sedangkan kontrol (DBD) ditentukan secara acak sederhana. Sampel  terdiri dari 43 SSD kasus dan 86 DBD sebagai kontrol. Dengan analisis multivariat logistic regression didapatkan subyek DBD dengan leukopenia mempunyai risiko mengalami SSD 2,9 (95% CI: 1,23-6,62) kali lebih besar dibandingkan subyek DBD tanpa leukopenia. Variabel yang menjadi konfounding adalah peningkatan nilai hematokrit (OR: 4,0 ; 95% CI: 1,68-9,50). Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa leukopenia bisa dipakai sebagai prediktor terjadinya SSD pada anak dengan DBD.
DETEKSI DAN SPESIASI PARASIT MALARIA SAMPEL MONITORING PENGOBATAN DIHYDROARTEMISININ-PIPERAQUINE DI KALIMANTAN DAN SULAWESI: MIKROSKOPIS VS POLYMERASE CHAIN REACTION Herman, Reni; Ariyanti, Endah; Salwati, Ervi; -, Delima; Tjitra, Emiliana
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 21, No 3 Sept (2011)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v21i3 Sept.91.

Abstract

In monitoring the treatment of malaria with Dihydroartemisinin-piperaquine (DHP), microscopic cross check and Polymerase Chain Reaction (PCR) performed to validate the results of laboratory examinations in the field. This study used finger prick samples from subjects with a diagnosis of malaria in monitoring the treatment of malaria with DHP in Kalimantan and Sulawesi. Samples taken at day 0, blood smears made on slides for microscopic and blood spot on filter paper for PCR examination. The PCR method used is a single-round multiplex polymerase chain reaction that has been modified, the examination of each species carried out in different tubes to distinguish the species P. falciparum or P. Vivax. Target of DNA amplification is a species-specific gene sequences in the small-subunit ribosomal RNA (SSUrRNA), 300 bp for P. falciparum and 276 bp for P.vivax.  P. falciparum and P.vivax identified in 229 samples of blood smears and blood spots. Microscopic and PCR gave the same results, positive 93.4% and negative 6.6% with a sensitivity of  99% and specificity 93.3%. P.falciparum sensitivity and specificity of 92% and 99%, P.vivax 97% and 94%, PCR as a gold standard. There are differences in the results of examination of 5 samples, ie with microscopic examination identified as P.vivax  while the PCR as P. falciparum. In this study, identification of  the microscopic parasite similar to the results of identification by PCR, but differ in determining the types of parasites. In general, the ability to microscopic diagnosis of malaria is very good, but confirmation by PCR is still needed.AbstrakPada monitoring pengobatan malaria  dengan Dihydroartemisinin-piperaquine (DHP),cek silang mikroskopis dan Polymerase Chain Reaction (PCR) dilakukan untuk memvalidasi hasil pemeriksaan di laboratorium lapangan. Penelitian ini menggunakan sediaan darah jari dari subyek dengan diagnosis malaria pada monitoring pengobatan malaria dengan DHP di Kalimantan dan Sulawesi. Sampel diambil pada hari 0, dibuat sediaan apus darah pada kaca benda dan sediaan tetes darah (Blood spot) pada kertas saring. Terhadap sediaan apus darah dilakukan pemeriksaan mikroskopis, dan terhadap sediaan tetes darah dilakukan pemeriksaan PCR. Metode PCR yang digunakan adalah multiplex single round Polymerase Chain Reaction yang telah dimodifikasi, pemeriksaan masing-masing spesies dilakukan pada tabung yang berbeda untuk membedakan spesies P.falciparum atau P. Vivax. Target amplifikasi DNA adalah gen species-specific sequences pada small-subunit ribosomal RNA (SSUrRNA), 300 bp untuk P.falciparum dan P.vivax. P.falciparum dan P.vivax diidentifikasi pada 229 sampel berupa sediaan apus darah pada kaca benda dan blood spot. Hasil identifikasi dengan mikroskopis dan PCR, sampel positif 93,4% dan negatif 6,6% dengan  sensitifitas 99% dan spesifisitas 93,3%. Sensitifitas dan spesifisitas P.falciparum adalah 92% dan 99%, P.vivax 97% dan 94%, dihitung dengan PCR sebagai baku standar. Terdapat perbedaan hasil pemeriksaan terhadap 5 sampel, yaitu dengan pemeriksaan mikroskopis diidentifikasi sebagai P.vivax sementara pada pemeriksaan PCR sebagai P.falciparum. Pada penelitian ini, hasil identifikasi parasit dengan mikroskopis sama dengan hasil identifikasi dengan PCR, namun berbeda pada penentuan jenis parasit. Secara umum kemampuan tenaga mikroskopis pusat untuk menegakkan diagnosis malaria sudah sangat baik, namun untuk penentuan jenis Plasmodium masih memerlukan konfirmasi PCR.
KELUHAN DAN KEPATUHAN PENDERITA MALARIA TERHADAP PENGOBATAN MALARIA ARTESUNAT-AMODIAKUIN DI KALIMANTAN DAN SULAWESI Raini, Mariana; Gitawati, Retno; Isnawati, Ani; Tjitra, Emiliana
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 21, No 3 Sept (2011)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v21i3 Sept.92.

Abstract

Drug resistance is one of the global problems, particularly in communicable diseases control including Indonesian malaria elimination program. Since 2004, Artesunate-Amodiaquine (AS+AQ), an Artemisinin based Combination Therapy (ACT), has been used in Indonesia as recommended by the WHO for treatment of acute uncomplicated malaria, replacing of chloroquine resistant antimalarial. Since then, implementation of AS+AQ has never been evaluated. It was reported that AS+AQ coverage was 33,7% because the patients did not comply due to adverse events, and the combination therapy was not a single formulation (fixed-dose). Therefore, there is a need to assess and evaluate the compliance of AS+AQ on subjects malaria treated with AS+AQ at Health Center (Puskesmas) sentinel sites in Kalimantan and Sulawesi.  This was a cross-sectional and non intervention observational study. There were 99 malaria subjects participated in this study.  All subjects were treated with 3 days regimen AS+AQ as the national malaria treatment guideline, and they were followed-up on days 3, 7 and 28. Indepth interview was done in several subjects  as informants and staff of puskesmas for knowledge, attitude, practice (KAP) of AS+AQ used. Of the 99 malaria subjects evaluated, there were 34 P. falciparum, 36 P. vivax, and 29 mixed infection malaria subjects. Almost all the study subjects (92,9%)  completed the therapy. There were 2 subjects withdrawn due to serious adverse event (SAE), 4 subjects were withdrawn because of having severe untolerable adverse events and 1 subject because of lost to follow up. About 84% subjects experienced clinical complaints after AS+AQ administered. Most of the complaints were mild to moderate and tolerable. Overall, the compliance of the 3-day AS+AQ regimen was moderately satisfied. AbstrakResistensi obat merupakan salah satu masalah kesehatan di dunia, khususnya  dalam pengendalian penyakit menular termasuk program pemberantasan malaria di Indonesia. Sejak tahun 2004, Program Pemberantasan Malaria menggunakan Artemisinin-based Combination Therapy (ACT) yaitu kombinasi Artesunat dan Amodiakuin (AS+AQ) untuk pengobatan malaria falciparum dan vivax tanpa komplikasi sebagai pengganti obat malaria klorokuin yang telah resisten. Sejak itu implementasi AS+AQ belum pernah dievaluasi. Telah dilaporkan bahwa cakupan AS+AQ adalah 33,7% kemungkinan karena ketidakpatuhan pasien  akibat keluhan yang ditimbulkan dan formula obat yang tidak tunggal (fixed dose). Penelitian ini bertujuan untuk menilai dan mengevaluasi keluhan dan kepatuhan subyek yang mendapatkan pengobatan AS+AQ pada penderita malaria falciparum, vivax dan campuran falciparum-vivax di puskesmas sentinel di Kalimantan dan Sulawesi. Desain penelitian adalah potong lintang  melibatkan 99 subyek malaria dewasa (usia ?15 tahun) yang diobati dengan AS+AQ (Artesunat-Amodiakuin) selama 3 hari sesuai dengan pedoman. Upaya tindak lanjut (follow up) kepada subyek dilakukan pada hari ke 3 (H3), hari ke 7 (H7) dan hari ke 28 (H28) setelah minum AS+AQ. Di samping itu, dilakukan wawancara mendalam (kualitatif) pada sejumlah subyek dan tenaga kesehatan untuk menilai Pengetahuan Sikap dan Perilaku (PSP) terhadap kepatuhan pengobatan AS+AQ.Hasil penelitian : Sebagian besar subyek (92,9 %) menyelesaikan terapi dan 7,1% drop out dari penelitian;  dua subyek diantaranya mengalami Serious Adverse Events (SAE), empat subyek mengalami keluhan yang tidak dapat ditolerir dan dua subyek tidak datang pada kunjungan ulang yang telah ditetapkan jadwalnya. Meskipun 84,1% mengalami keluhan setelah minum AS+AQ, namun keluhan bersifat ringan-sedang, masih dapat ditolerir dan jauh berkurang setelah 1 minggu pengobatan. Kesimpulan : pengobatan AS+AQ selama 3 hari relatif masih dapat ditoleransi dan kepatuhan subyek minum obat  masih cukup baik.
HUBUNGAN KEPADATAN PARASIT DENGAN MANIFESTASI KLINIS PADA MALARIA Plasmodium FALCIPARUM DAN Plasmodium VIVAX Avrina, Rossa; Risniati, Yenni; Siswantoro, Hadjar; Hasugian, Armedy Ronny; Tjitra, Emiliana; -, Delima
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 21, No 3 Sept (2011)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v21i3 Sept.93.

Abstract

Malaria is still a public health problem in Indonesia. The clinical manifestation of malaria is varied, and many factors may influence its clinical manifestation. Despite the species of malaria, density of parasitemia is known related to the severity or malignancy of malaria. It is worth to analyse the clinical and laboratory data of malaria cases in monitoring dihydroartemisinin-piperaquine (DHP) treatment. The extended analysed was done to assess the relationship between density of parasitemia and clinical manifestations. A subset data of monitoring DHP treatment in subjects with uncomplicated falciparum and vivax malaria in Kalimantan and Sulawesi which were consist of clinical and laboratory day-0 data was used in analysing. Clinical data were recorded through anamnesis and physical examination. Parasite density was counted by health centre microscopist and then cross-checked by certified microscopists of the Natiional Institute of Health Reseach and Development. Haemoglobin level was also measured  by health centre analyst using the existing Sahli hemoglobinmeter. For parasite density category, median is used for cut off point. In P.falciparum malaria, the cut off point is 5588/µl  and in P.vivax malaria is 3375/µl.  The relationship between parasite density and clinical manifestation in falciparum and vivax malaria was determined by bivariate and multivariate analysis with logistic regression using SPSS 17 software. The most of subject with P.falciparum and P.vivax malaria are children (<15 yeras old), male, and non indigenous. From analysis bivariate, variabels that can be analyzed by multivariate in P.falciparum malaria (p<0,25) are children under 15 years old (p=0,0 12) and Sulawesi island where subject live(p=0,163) and In P.vivax malaria is children under 15 years old (p=0,218). Because of other variables are considered biologicaly related to parasite density, therefore all variabel are analyzed with multivariate. From multivariate analysis, there is significant relationship between parasite density and chidren under 15 years old in P.falciparum malaria (OR = 0,4, CI95%= 0,2-1,0). In P.vivax malaria, parasite density is related to children under 15 years old (OR = 0,6, CI 95% =0,2-1,9), haemoglobin level under 11gr/dl (OR= 1,4, CI 95%= 0,5-3,8), non indigenous OR= 0,3, CI 95%= 0,1-1,2) and the sum of clinical symptom <7  (OR=0,7, CI 95%=0,3-1,9). Parasite density is not related with clinical manifestation in P.falciparum malaria.. Parasite density is related to children under 15 years old significantly in P.falciparum malaria. In P.vivax malaria, parasite density are related to children under 15 years old, anemia, non indigenous, and the sum of clinical symptom <7. But the relationship  isn?t significant. AbstrakMalaria merupakan salah satu masalah kesehatan di Indonesia. Gejala/manifetasiklinis malaria bervariasi dan banyak faktor yang dapat mempengaruhi beratnya manifestasi tersebut. Selain spesies dari malaria, kepadatan parasit diketahui berhubungan dengan berat atau keparahan malaria. Untuk itu penting menaganalisa data klinik dan laboratorium dari subyek malaria pada monitoring pengobatan DHP. Bagian Data dari Monitoring drug resistance in subject with P.falciparum and P.vivax malaria in  Kalimantan and Sulawesi, Indonesia yang terdiri dari klinis dan laboratorium hari 0 dianalisa. Data klinis diambil melaluli anamnesa dan pemeriksaan fisik. Kepadatan parasit diperiksa oleh petugas mikroskopis Puskesmas dan di cek silang oleh petugas mikroskopis bersertifikasi di Badan Litbangkes. Data laboratorium lain yaitu kadar hemoglobin diperiksa oleh analis di Puskesmas menggunakan hemogobinmeter Sahli. Untuk pengelompokkan variabel kepadatan parasit , nilai median diambil sebagai cut off. Pada  malaria P.falciparum cut off nya adalah 5588/µl, dan pada malaria P.vivax adalah 3375/µl.  Hubungan antara kepadatan parasit dan manifestasi klinis pada malaria P.falciparum dan P.vivax ditentukan dengan analisis bivariat dan multivariat menggunakan regresi logistik dengan program SPSS 17.Subyek terbanyak pada malaria P.falciparum dan P.vivax adalah anak-anak (<15tahun), berjenis kelamin laki-laki, dan merupakan pendatang. Pada analisis bivariat,  variabel yang dapat  dianalisis multivariat pada malaria P.falciparum (p<0,25) adalah anak-anak yang berusia kurang 15 tahun  (p=0,012) dan pulau Sulawesi sebagai tempat tinggal subyek (p=0,163), sedangkan pada malaria P.vivax adalah anak-anak yang berusia kurang dari 15 tahun(p= 0,218). Namun karena variabel-variabel lainnya dianggap berpengaruh secara biologis terhadap kepadatan parasit, maka semua variabel masuk kedalam analisis multivariat. Hasil dari analisis multivariat terlihat bahwa kepadatan parasit pada malaria P.falciparum berhubungan signifikan dengan anak ?anak yang berusia kurang dari 15 tahun (OR = 0,4, CI95%= 0,2-1,0). Pada malaria P.vivax, kepadatan parasit berhubungan dengan anak ?anak yang berusia kurang dari 15 tahun (OR = 0,6, CI 95% =0,2-1,9), kadar hemoglobin kurang dari 11gr/dl (OR= 1,4, CI 95%= 0,5-3,8), pendatang (OR= 0,3, CI 95%= 0,1-1,2) dan jumlah gejala klinik sedikit (OR=0,7, CI 95%=0,3-1,9). Namun hubungannya tidak bermakna. Pada malaria P.falciparum, kepadatan parasit tidak berhubungan dengan manifestasi klinis. Kepadatan parasit behubungan bermakna dengan anak- anak yang berusia kurang dari 15 tahun pada malaria  P.falciparum.  Pada malaria P.vivax, kepadatan parasit berhubungan dengan anak-anak yang berusia kurang dari 15 tahun, anemia, pendatang, dan jumlah gejala klinik. Namun hubungan variabel-variabel tersebut tidak bermakna.
RASIONALISASI PENGGUNAAN OBAT SIMPTOMATIK DAN OBAT LAIN YANG DIBERIKAN BERSAMAAN DENGAN OBAT ARTESUNATE-AMODIAKUIN PADA SUBYEK MALARIA DI DELAPAN PUSKESMAS SENTINEL KALIMANTAN DAN SULAWESI Isnawati, Ani; Gitawati, Retno; Tjitra, Emiliana; Rooslamiati, Indri; Raini, Mariana; -, Delima
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 21, No 3 Sept (2011)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v21i3 Sept.94.

Abstract

Background. Since 2004, Malaria Program in Indonesia has used Artemisinin Combination Therapy (ACT) to replace the chloroquine resistance. The recommended ACT is Artesunate dan Amodiaquine (AAQ) combination for uncomplicated falciparum malaria. To relieve side effects and clinical complaints of malaria , health workers usually gave  symptomatic and other drugs in addition to antimalarial drugs. Methods. The methodology implemented in this study was a cross-sectional study to evaluate symptomatic and other drugs given together with antimalarial (AAQ) to uncomplicated malaria subjects (patients) infected by falciparum, vivax and mixed (falciparum dan vivax) plasmodium. Data were collected from case report form in 6 months (July to December 2010) from 8 (eight) sentinels puskesmas (primary health centers) in North Sulawesi, Central Sulawesi, West Kalimantan and East Kalimantan. Results. Total number of cases (89,4%) were given symptomatic and other drugs in addition to antimalarial drugs. Symptomatic and other drugs that mostly given were antipyretic/analgesic (90.8%) and vitamin-mineral (70%). There seemed to be over-use of vitamin-minerals since the indication to giving those medications were not quite clear. Antibiotics were mostly given to subjects with gastrointestinal complaints such as nausea, vomiting, and abdominal pain. The administration of antibiotic for non-bacterial infection were  irrational. Antihistamines were given to 94,3% subjects without cold and flu, and this cases also be defined as inappropriate use of medicine. In addition, antacids were also given to 12,5 %  subjects  without gastrointestinal complaints to anticipate side effects of antimalarial. AbstrakLatar belakang.Tahun 2004 Program Pemberantasan Malaria mulai menggunakan ACT menggantikan klorokuin yang telah resisten. ACT yang direkomendasikan adalah kombinasi Artesunat dan Amodiakuin (AAq), untuk malaria falsiparum tanpa komplikasi. Untuk mengatasi efek samping obat malaria dan untuk mengurangi gejala klinik akibat penyakit malaria serta gejala klinik penyakit penyerta, maka tenaga kesehatan (Nakes) akan memberikan obat simtomatik atau obat lain selain obat malaria. Pemberian obat kadang-kadang tidak hanya satu jenis tetapi berupa kombinasi dari beberapa jenis obat. Metode.Desain penelitian cross-sectional (potong lintang) dengan jenis penelitian observasional non intervensi, untuk mengetahui obat simtomatik atau obat lain yang diberikan tenaga kesehatan selain obat terapi malaria dengan Artesunat-Amodiakuin (AAq). Subyek penelitian adalah semua pasien yang didiagnosis malaria falsiparum, vivaks dan infeksi campuran (falsiparum dan vivaks) tanpa komplikasi Pelaksanaan pengumpulan data dimulai dari bulan Juli sampai dengan awal Desember 2010. Tempat penelitian dilakukan di empat provinsi yaitu provinsi Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Kalimantan Timur dan Kalimantan Barat. Hasil.  Obat simtomatik paling banyak diberikan oleh Nakes adalah Antipiretik/analgesik sebesar 90,8% dan vitamin-mineral (70%). Vitamin-mineral diberikan tanpa indikasi jelas dan cenderung berlebihan.  Antibiotik  banyak diberikan pada subyek untuk indikasi gangguan saluran cerna (mual, muntah, nyeri abdomen) non-infeksi bakteri adalah cenderung tidak rasional. Antihistamin tercatat diberikan pada subyek tanpa keluhan batuk pilek dan ini termsuk pemberian obat yang tidak tepat. Ditemukan pemberian antasida dan antiemetik untuk subyek tanpa keluhan gangguan saluran cerna dalam upaya mengantisipasi efek samping obat malaria.
EFIKASI DAN KEAMANAN DIHIDROARTEMISININ-PIPERAKUIN (DHP) PADA PENDERITA MALARIA FALSIPARUM TANPA KOMPLIKASI DI KALIMANTAN DAN SULAWESI Avrina, Rossa; Risniati, Yenni; Tjitra, Emiliana; Siswantoro, Hadjar; Hasugian, Armedy Ronny
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 21, No 3 Sept (2011)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v21i3 Sept.95.

Abstract

Since 2008, Dihydroartemisinin-Piperaquine (DHP) has been used as the first-line drug for treatment of falciparum malaria in Papua, which gradually will also be used in other endemic areas. The objective of the study was  to determine the safety and efficacy of DHP. Patients with uncomplicated malaria due to Plasmodium falciparum were enrolled and treated with supervised DHP (arterakin ®, no. batch 010 909) daily dose for three days. Patients were followed for 42 days. Patients during follow up did physical examination and checked for microscopic parasites, measurement of hemoglobin levels (day 0, 14, 28 and 42), making the blood spot PCR (day 0 and day relapse), pregnancy test for women of childbearing age (Day 0 and 28). 119 patients were enrolled in the study. Therapeutic efficacy of DHP by day 42 in ITT and PP population were 98.3% (95% CI: 94.1-99.5%) and 100% (95% CI: 96.9-100%). The means of parasite clearance and fever clearance were 1.0 day and 1.6 days, and clinical symptoms was reduced by over 50% by day-7 follow up. All patients with gametocytes on day 0, generally were cleared on day 28 . There were an increasing number of patients with recovery hemoglobin at day 14, 28 and 42: 61%, 78% and 84%. Adverse events were mild, ie cough (31%) and abdominal pain (10%). Dihydroartemisinin-piperaquine was safe and effective for the treatment of uncomplicated P. falciparum malaria. AbstrakSejak 2008, program telah menggunakan dihidroartemisinin-piperakuin (DHP) sebagai pilihan pertama pengobatan malaria falsiparum di Papua, yang secara bertahap juga akan digunakan di wilayah endemis lainnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai keamanan  dan efikasi obat DHP. Pasien malaria falsiparum tanpa komplikasi diikutkan dalam studi dan diobati DHP (arterakin ®, no. batch 010 909) dengan pengawasan minum obat dosis satu kali sehari selama tiga hari. Selanjutnya pasien dipantau selama 42 hari. Pasien selama kunjungan ulang dilakukan pemeriksaan fisik dan cek parasit mikroskopis, diukur kadar hemoglobin (hari 0, 14, 28 dan 42), dibuat spot darah PCR (hari 0 dan hari kambuh), tes kehamilan pada wanita usia subur. Sebanyak 119 pasien direkruit pada penelitian ini. Efikasi terapeutik obat DHP pada hari ke 42 per populasi ITT dan PP adalah 98.3% (95% CI: 94.1-99.5%) dan 100% (95% CI: 96.8-100%). Rerata bebas parasit dan bebas demam adalah 1.0 hari dan 1.6 hari, dan gejala klinis berkurang hingga di atas 50% pada hari ke-7 kunjungan ulang. Pasien dengan karier gametosit pada saat rekruitmen, umumnya pada hari ke-28 sudah bebas gametosit. Terdapat peningkatan jumlah pasien dengan perbaikan hemoglobin pada hari ke 14, 28 dan 42: 61%, 78% dan  84%.  Kejadian sampingan adalah ringan, yaitu batuk (31%) dan sakit perut (10%).Dihidroartemisinin-piperakuin adalah aman dan efektif pada pengobatan malaria falsiparum tanpa komplikasi.