cover
Contact Name
supriyono
Contact Email
supriyono84@apps.ipb.ac.id
Phone
+62265-639375
Journal Mail Official
jurnalaspirator@gmail.com
Editorial Address
Jl. Pangandaran KM. 3 Kp. Kamurang, Ds. Babakan, Kec. Pangandaran, Pangandaran, Jawa Barat, Indonesia Telp/Fax : (0265) 639375
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
ASPIRATOR
ISSN : -     EISSN : -     DOI : 10.22435/aspirator.v9i1.4443.1-10
Core Subject : Health, Agriculture,
Jurnal Penelitian Penyakit Tular Vektor menerima artikel ilmiah yang ditulis berdasarkan hasil penelitian (original paper), systematic review, case reports, maupun komunikasi pendek (short-communication), serta metodologi dan pendekatan baru dalam penelitian penyakit tular vektor (vector-borne disease).
Articles 176 Documents
Enkapsulasi B. bassiana menggunakan maizena dan daya infeksinya terhadap larva Aedes aegypti, Anopheles sp., Culex sp Mutiara Widawati; Heni Prasetyowati; Dewi Nur Hodijah; Muhammad Umar Riandi
ASPIRATOR - Journal of Vector-borne Disease Studies Vol 7 No 2 (2015): Jurnal Aspirator Volume 7 Nomor 2 2015
Publisher : Loka Litbang Kesehatan Pangandaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (717.311 KB)

Abstract

Abstrak. Pembuatan formula bioinsektisida yang optimal sebagai salah satu alternatif untuk pengen-dalian nyamuk vektor perlu di kembangkan. Sediaan mikoinsektisida yang dibuat harus dapat memper-tahankan viabilitas jamur B. bassiana sehingga masih efektif pada saat penggunaannya. Salah satu cara yang digunakan untuk menjaga kestabilan sediaan mikoinsektisida yang berdampak langsung pada via-bilitas jamur adalah dengan menerapkan metode enkapsulasi. Penelitian ini bertujuan untuk meng-hasilkan sediaan mikokapsul dari Beauvaria bassiana melalui proses enkapsulasi menggunakan maizena yang memiliki kapabilitas tinggi sebagai penyimpan B. bassiana dan efektif dalam membunuh larva dan telur Aedes aegypti, Anopheles sp. dan Culex sp. Semua larva uji berasal dari insektarium laboratorium penelitian kesehatan Loka litbang P2B2 Ciamis. Pembuatan enkapsulasi dimulai dengan kultur dan pema-nenan B. bassiana, uji viabilitas, proses enkapsulasi serta uji larvasida di laboratorium. Uji dilakukan dengan satu perlakuan dan satu kontrol untuk masing masing spesies dengan tiga kali ulangan. Pada penelitian ini dihasilkan formulasi maizena yang yang berpotensi untuk menjadi larvasida alami. Formulasi ini menghasilkan sediaan mikokapsul yang viable dalam menyimpan jamur B. bassiana, akan tetapi belum cukup efektif untuk menjadi salah satu alternatif pengendalian larva nyamuk Aedes, Anopheles dan Culex.
Permasalahan Filariasis dan vektornya di Desa Soru Kecamatan Umbu Ratunggai Kabupaten Sumba Tengah Nusa Tenggara Timur Ruben Wadu Willa; Monika Noshirma
ASPIRATOR - Journal of Vector-borne Disease Studies Vol 7 No 2 (2015): Jurnal Aspirator Volume 7 Nomor 2 2015
Publisher : Loka Litbang Kesehatan Pangandaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (712.046 KB)

Abstract

Abstrak. Sampai saat ini filariasis masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat. Kabupaten Sumba Tengah merupakan salah satu daerah dengan kasus klinis filariasis dan terdapat 306 kasuspada tahun 2013. Penelitianini bertujuan untuk menentukan endemisitas dan nyamuk penular filariasis di desa Soru Kabupaten Sumba Tengah. Survei darah jari dan vektor dilaksanakan tahun 2014 di desa Soru Ka-bupaten Sumba Tengah. Penelitian merupakan penelitian observasional dengan pendekatan potong lin-tang. Jumlah penduduk yang di survei darah jarinya sebanyak 500 orang. Untuk mengetahui vektornya dilakukan survei nyamuk dewasa dan habitat perkembangbiakan. Hasil survei darah jari diperoleh angka Mf-rate sebesar 0,2% dengan jenis cacing penyebab filariasis adalah Brugia timori. Hasil pembedahan terhadap probosis dan thoraks nyamuk tidak ditemukan satupun nyamuk yang positif mengandung larva cacing filarial semua stadium. Nyamuk yang ditemukan terdiri dari beberapa genera antara lain Anophe-les sp sebanyak 9 spesies, Aedes sp sebanyak 3 spesies dan Culex sp sebanyak 7 spesies. Kepadatan menggigit tertinggi yaitu An. kochi di luar rumah, serta An. maculatus dan An. aconitus di dinding. Desa Soru bukan merupakan daerah endemis filariasis dengan nyamuk yang diduga sebagai vektor adalah An. kochi, An. maculatus dan An. aconitus.
Perilaku mikrofilaria Brugia malayi pada subjek Filariasis di Desa Polewali Kecamatan Bambalamotu Kabupaten Mamuju Utara Sulawesi Barat Sitti Chadijah; Rosmini Rosmini; Yuyun Srikandi
ASPIRATOR - Journal of Vector-borne Disease Studies Vol 7 No 2 (2015): Jurnal Aspirator Volume 7 Nomor 2 2015
Publisher : Loka Litbang Kesehatan Pangandaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (728.155 KB)

Abstract

Abstrak. Brugia malayi merupakan spesies cacing filaria yang tersebar luas di Indonesia. Di Sulawesi Barat, khususnya di Kabupaten Mamuju Utara ditemukan spesies Brugia malayi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan perilaku mikrofilaria B. malayi. Penelitian dilakukan di Desa Polewali, Kecamatan Bambalamotu, Kabupaten Mamuju Utara, Provinsi Sulawesi Barat pada tahun 2011. Studi periodisitas dilakukan terhadap orang yang di dalam darahnya positif ditemukan mikrofilaria. Pengambilan dan pemeriksaan darah dilakukan setiap jam selama 24 jam. Pengambilan darah jari dilakukan mulai pukul 09.00 sampai pukul 08.00 waktu setempat. Analisis statistik yang dipergunakan dalam menentukan peri-odisitas cacing filaria adalah formula Aikat dan Das. Ditemukan lima subjek positif B. malayi dengan pun-cak kepadatan mikrofilaria (K) dimulai pukul 23.00’00” sampai 01.27’00”, variasi kepadatan mikrofilaria (F)menunjukkan bahwa kasus-kasus tersebut memiliki gelombang yang harmonik atau sirkardian, danindeks periodisitas (D) lebih dari 100%. Perilaku mikrofilaria B. malayi di Desa Polewali, KecamatanBambalamotu, Kabupaten Mamuju Utara yaitu periodik nokturna.
Deteksi Brugia malayi pada Armigeres subalbatus dan Culex quinquefasciatusyang diinfeksikan darah penderita filariasis dengan metode PCR Yahya Yahya; Santoso Santoso; Milana Salim; Maya Arisanti
ASPIRATOR - Journal of Vector-borne Disease Studies Vol 6 No 2 (2014): Jurnal Aspirator Volume 6 Nomor 2 2014
Publisher : Loka Litbang Kesehatan Pangandaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (747.144 KB)

Abstract

Abstrak. Kecamatan Pemayung Kabupaten Batanghari Provinsi Jambi merupakan wilayah endemis filariasis di Provinsi Jambi Karena angka Mf rate mencapai 1,5% pada tahun 2011. Penelitian ini untuk mengetahui tingkat kerentanan nyamuk Ar. subalbatus dan Cx. quinquefasciatus terhadap infeksi B. malayi subperiodik nokturna yang dilakukan pada tahun 2013, sehingga dapat dianalisis potensi nyamuk tersebut sebagai vektor filariasis di lokasi penelitian. Desain penelitian adalah eksperimental dengan rancangan acak lengkap dan enam kali pengulangan. Variabel perlakuan dalam penelitian ini adalah waktu (jam) yang dipilih untuk menggigitkan nyamuk pada penderita filariasis (infeksi percobaan). Waktu yang dipilih adalah pukul 09.00 WIB, pukul 17.00 WIB, pukul 21.00 WIB dan pukul 01.00 WIB. Hasil penelitian menunjukkan bahwa belum ditemukan larva L3 filaria yang ada pada Ar. subalbatus dan Cx.quinquefasciatus pada saat pembedahan nyamuk di hari ke-11, ke-12 dan ke-13 setelah infeksi. Kepadatan mikrofilaria pada darah manusia sebagai sumber infeksi adalah 17 mikrofilaria per 20 μl darah. Hasil uji PCR, terdeteksi B. malayi pada bagian toraks dan probosis pada nyamuk Cx. quinquefasciatus. Nyamuk Cx. quinquefasciatus lebih berpotensi untuk menjadi vektor filariasis dari B. malayi dibandingkan Ar. subalbatus.
Efektivitas Pentagamavunon-0 (PGV-0) pada fase awal infeksi virus Dengue-2 Dewi Marba; Sardjiman Sardjiman; Risfah Yuliant
ASPIRATOR - Journal of Vector-borne Disease Studies Vol 6 No 2 (2014): Jurnal Aspirator Volume 6 Nomor 2 2014
Publisher : Loka Litbang Kesehatan Pangandaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (806.895 KB)

Abstract

Abstrak.Virus Dengue menginfeksi 50 sampai 100 juta orangper tahun, namun terapi yang spesifik atau obat antivirus yang efektif belum ditemukan. Kurkumin diketahui mampu melakukan penghambatan system ubiquitin-proteasome yang menyebabkan penurunan produksi salah satu jenis Flavivirus yaitu Japanese encephaitis. Modifikasi struktur kurkumin terbukti meningkatkan aktivitas biologisnya. Pentagamavunon-0 (PGV-0) diketahui memiliki aktifitas mirip atau bahkan lebih baik dari kurkumin. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh pemberian PGV-0 pada fase awal infeksi virus Dengue-2 (satu hari infeksi). Penelitian ini termasuk penelitian kuasi-eksperimental. Metode yang digunakan untuk deteksi virus Dengue-2 dalam penelitian ini adalah imunositokimia, setelah sebelumnya dilakukan uji sitotoksik PGV-0 terhadap sel vero. Hasil uji sitotoksik menunjukkan konsentrasi yang aman (tidak memberikan efek toksik) dari PGV-0 terhadap sel Vero adalah 4,44 μM. Hasil uji imunositokimia menunjukkan nilai rata-rata sel positif akibat infeksi Dengue-2 satu hari dengan perlakuan PGV-0 jauh lebih kecil (3.8 ± 3.89) dibandingkan kontrol positifnya (14.55 ± 7.25). Disimpulkan bahwa PGV-0 mampu menurunkan positive rate akibat infeksi Den-2 pada periode awal infeksi
Monitoring efikasi pengobatan kombinasi Artesunate- Amodiaquine (AAQ) pada penderita malaria Plasmodium falciparum tanpa komplikasi di Sulawesi Tenggara Junus Widjaja; Hayani Anastasia,; Phetisya Pamela Frederika Sumolang; Leonardo Taruk Lobo
ASPIRATOR - Journal of Vector-borne Disease Studies Vol 6 No 2 (2014): Jurnal Aspirator Volume 6 Nomor 2 2014
Publisher : Loka Litbang Kesehatan Pangandaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (724.896 KB)

Abstract

Abstrak. Malaria masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia dan merupakan salah satu penyebab kematian terutama pada kelompok risiko tinggi seperti bayi, balita dan ibu hamil. Salah satu kendala dalam pemberantasan malaria adalah kegagalan pengobatan, karena resistensi parasit terhadap obat anti malaria. Provinsi Sulawesi Tenggara merupakan daerah endemis malaria di Indonesia, selama tahun 2010 ditemukan 28.205 kasus malaria dan tahun 2011 ditemukan 32.040 kasus malaria dan sejak tahun 2004 telah menggunakan AAQ. Penelitian merupakan studi prospektif single-arm, parasitologis dan klinis, subyek diamati selama 28 hari untuk yang diobati dengan AAQ. Sampel paling banyak adalah laki-laki sebesar 89%, sedangkan perempuan sebesar 11%. Pada umumnya subyek penelitian berusia produktif sebesar 78% dan anak-anak 22%. Pengamatan selama 28 hari respon parasitologis sesudah pengobatan hari bebas parasit pada hari ke-2 (H2). Respon gametosida berupa hari bebas parasit ditemukan pada ke-3 (H3). Dianalisis dengan menggunakan lembar analisis pada Excel spreadsheet. Artesunate Amodiquine (AAQ) yang diberikan selama 3 hari pada penderita malaria Plasmodium falciparum tanpa komplikasi di Provinsi Sulawesi Tenggara menunjukkan respon baik yaitu respon parasitologis dan klinis yang memadai sebesar 100%.
Pemanfaatan citra ASTER dalam penentuan dan verifikasi daerah rawan Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Banjar Provinsi Jawa Barat Andri Ruliansyah; Yuneu Yuliasih; Setiazy Hasbullah
ASPIRATOR - Journal of Vector-borne Disease Studies Vol 6 No 2 (2014): Jurnal Aspirator Volume 6 Nomor 2 2014
Publisher : Loka Litbang Kesehatan Pangandaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1216.205 KB)

Abstract

Abstrak. Penyebaran virus Demam Berdarah Dengue (DBD) antara lain dapat diketahui dari perspektif informasi keruangan (geospasial), yaitu berdasarkan informasi suhu, curah hujan, kelembaban, dan penggunaan lahan tertentu yang merupakan faktor yang mempengaruhi terjadinya DBD. Usaha mengetahui faktor risiko diperlukan suatu sistem efektif dan efisien yaitu penggunaan penginderaan jauh dan sistem informasi geografis sebagai suatu basis data yang dapat digunakan sebagai penentuan kebijakan pencegahan dan pengendalian DBD. Dikarenakan sistem tersebut dapat melihat trend atau kecenderungan peningkatan kasus, sehingga pihak pemerintah daerah dapat segera melakukan tindakan pencegahan pada daerah yang rawan kasus DBD. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuat peta penentuan daerah rawan DBD dengan Citra ASTER dan verifikasinya di Kota Banjar, Jawa Barat. Penelitian ini merupakan penelitian observasi dengan pendekatan cross sectional yang dilakukan di Kota Banjar pada bulan Maret-Oktober tahun 2012 dengan sampel seluruh penduduk yang menderita DBD pada semua umur beserta kondisi lingkungannya. Sample jentik diambil dengan metode single larva. Hasil penelitian menunjukkan bahwa luas zona daerah kerawanan tinggi DBD di Kota Banjar adalah 18,29 %, luas zona daerah kerawanan sedang 63,45% dan luas zona daerah kerawanan rendah 18,27 % dan setelah dilakukan verifikasi terhadap peta kerawanan dan jika dilakukan pengelompokkan antara zona kerawanan tinggi dan zona kerawanan sedang menjadi kelas rawan DBD sedangkan zona kerawanan rendah menjadi zona bebas DBD. Secara umum (dengan ketepatan mencapai 94,74%) kasus DBD tersebar di daerah rawan DBD.
Beberapa aspek perilaku Anopheles sundaicus di Desa Konda Maloba Kecamatan Katikutana Selatan Kabupaten Sumba Tengah Ira Indriaty Paskalita Bule Sopi
ASPIRATOR - Journal of Vector-borne Disease Studies Vol 6 No 2 (2014): Jurnal Aspirator Volume 6 Nomor 2 2014
Publisher : Loka Litbang Kesehatan Pangandaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (912.906 KB)

Abstract

Abstrak. Desa Konda Maloba merupakan salah satu wilayah risiko malaria cukup tinggi. Penelitian survey dilakukan di wilayah tersebut dengan pengumpulan data secara cross-sectional. Tujuan penelitian untuk mengetahui gambaran beberapa aspek perilaku An .sundaicus meliputi jenis habitat perkembangbiakan, kepadatan, karakteristik lingkungannya, aktifitas menghisap darah dan istirahat. Pengumpulan data melalui metode koleksi umpan badan orang dan istirahat, pencidukan nyamuk pradewasa dan observasi habitat perkembangbiakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik habitat perkembangbiakan An.sundaicus pada aliran air dengan kepadatan 4,1, suhu 25ºC, pH 8,8, salinitas 12%, keruh, heliophilik dan biota Cambarus virilis, Poa Annua, dan Sphagnum sp. Nyamuk An. sundaicus yang tertangkap sebanyak 681 ekor meliputi umpan orang luar (30,90%), umpan orang dalam (30,40%), istirahat di dinding (23,20%) dan di kandang (15,95%). Kepadatan nyamuk An.sundaicus yang menghisap darah per orang per malam (MBR) paling tinggi pada bulan November (MBR= 7,21) di dalam rumah. Rata-rata kepadatan nyamuk per jam (MHD) An. sundaicus (MHD=0,78) paling tinggi menghisap darah di dalam rumah pada jam 01.00-02.00. Karakteristik lingkungan habitat perkembangbiakan dan perilaku An. sundaicus sangat mendukung terjadinya penularan malaria di Desa Konda Maloba, Kecamatan Katikutana Selatan.
Efektivitas Ekstrak Daun Jeruk Purut (Citrus hystrix), Jeruk Limau (Citrus amblycarpa), Dan Jeruk Bali (Citrus maxima) Terhadap Larva Aedes aegypti Hebert Adrianto; Subagyo Yotopranoto; Hamidah Hamidah
ASPIRATOR - Journal of Vector-borne Disease Studies Vol 6 No 1 (2014): Jurnal Aspirator Volume 6 Nomor 1 2014
Publisher : Loka Litbang Kesehatan Pangandaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (945.235 KB)

Abstract

Abstrak. Penggunaan bahan kimia sebagai larvasida telah menimbulkan resistensi, masalah kesehatan, dan masalah lingkungan. Ekstrak dari daun jeruk sebagai biolarvasida Aedes aegypti dapat digunakan sebagai alternatif larvasida. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui spesies jeruk dari penelitian ini yang paling efektif sebagai biolarvasida Aedes aegypti. Penelitian eksperimen menggunakan metode rancangan nested dengan enam konsentrasi dan lima kali ulangan. Kematian larva dihitung setelah 24 dan 48 jam. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisa dengan probit. Hasil penelitian menunjukkan (1) LC95 24 jam dari ekstrak daun Citrus hystrix, Citrus amblycarpa, dan Citrus maxima, yaitu masing-masing 3.176 ppm, 4.174 ppm, dan 6.369 ppm. (2) LC95 48 jam dari ekstrak daun Citrus hystrix, Citrus amblycarpa, dan Citrus maxima, yaitu masing-masing 2.499 ppm, 3.256 ppm, dan 4.886 ppm. (3) Ekstrak daun Citrus hystrix paling efektif sebagai biolarvasida terhadap larva Aedes aegypti dibandingkan ekstrak jeruk lainnya. Ekstrak daun Citrus hystrix dapat dijadikan bahan alternatif biolarvasida.
Resistance Detection of Aedes aegypti Larvae To Cypermethrin from Endemic Area In Cimahi City West Java Endang Puji Astuti; Mara Ipa; Firda Yanuar Pradani
ASPIRATOR - Journal of Vector-borne Disease Studies Vol 6 No 1 (2014): Jurnal Aspirator Volume 6 Nomor 1 2014
Publisher : Loka Litbang Kesehatan Pangandaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (924.984 KB)

Abstract

Abstract. Vector control programs using chemical insecticide e.g organochlorin, organophosphate, carbamate, and pyrethroid (cypermethrin). When those insecticides were applied continuously, it may lead to vector resistance. The aim of this research was to detect any resistance of Ae. aegypti to cypermethrin in endemic areas of Cimahi. This research is a laboratory study that used biochemical test which referred to Lee’s method. Larva samples were collected from 8 villages, which are endemic area. Samples of larvae were collected from 15 villages belonged to dengue endemic areas in town of Cimahi, however, villages that meet the availability of larvae were only 8 villages. To detect the activity of monooxygenase enzyme, a biochemical assay was used in this research by created a reaction between larvae homogenate and sodium acetate substrate. The results of reaction were read using ELISA reader with spectrophotometer wave length of 595 nm. Overall, the results showed that most of the larvae in eight villages of Cimahi is still susceptible to cypermethrin. However, larvae from Cibabat village were 4% resistant, 2% tolerant, and 94% susceptible. On the other hand, Cigugur village showed that 12.7% larvae were tolerant and 87.3% still susceptible. Other villages like Cimahi, Cibeureum, Melong, Baros, Cipageran, and Pasirkaliki still remains susceptible. Resistance detection using biochemical assay of cypermethrin insecticide for Ae.aegypti resulting data stated that in 6 villages were still susceptible but in 3 other villages were already tolerant and 1 village was already resistance.

Filter by Year

2009 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 14 No 1 (2022): Jurnal Aspirator Volume 14 Nomor 1 2022 Vol 13 No 2 (2021): Jurnal Aspirator Volume 13 Nomor 2 2021 Vol 13 No 1 (2021): Jurnal Aspirator Volume 13 Nomor 1 2021 Vol 12 No 2 (2020): Jurnal Aspirator Volume 12 Nomor 2 2020 Vol 12 No 1 (2020): Jurnal Aspirator Volume 12 Nomor 1 2020 Vol 11 No 2 (2019): Jurnal Aspirator Volume 11 Nomor 2 2019 Vol 11 No 1 (2019): Jurnal Aspirator Volume 11 Nomor 1 2019 Vol 10 No 2 (2018): Jurnal Aspirator Volume 10 Nomor 2 2018 Vol 10 No 1 (2018): Jurnal Aspirator Volume 10 Nomor 1 2018 Vol 9 No 2 (2017): Jurnal Aspirator Volume 9 Nomer 2 2017 Vol 9 No 1 (2017): Jurnal Aspirator Volume 9 Nomer 1 2017 Vol 8 No 2 (2016): Jurnal Aspirator Volume 8 Nomer 2 2016 Vol 8 No 1 (2016): Jurnal Aspirator Volume 8 Nomer 1 2016 Vol 7 No 2 (2015): Jurnal Aspirator Volume 7 Nomor 2 2015 Vol 7 No 1 (2015): Jurnal Aspirator Volume 7 Nomor 1 2015 Vol 6 No 2 (2014): Jurnal Aspirator Volume 6 Nomor 2 2014 Vol 6 No 1 (2014): Jurnal Aspirator Volume 6 Nomor 1 2014 Vol 5 No 2 (2013): Jurnal Aspirator Volume 5 Nomor 2 2013 Vol 5 No 1 (2013): Jurnal Aspirator Volume 5 Nomor 1 2013 Vol 4 No 2 (2012): Jurnal Aspirator Volume 4 Nomor 2 2012 Vol 4 No 1 (2012): Jurnal Aspirator Volume 4 Nomor 1 2012 Vol 3 No 2 (2011): Jurnal Aspirator Volume 3 Nomor 2 2011 Vol 3 No 1 (2011): Jurnal Aspirator Volume 3 Nomor 1 2011 Vol 2 No 2 (2010): Jurnal Aspirator Volume 2 Nomor 2 2010 Vol 2 No 1 (2010): Jurnal Aspirator Volume 2 Nomor 1 2010 Vol 1 No 2 (2009): Jurnal Aspirator Volume 1 Nomor 2 2009 Vol 1 No 1 (2009): Jurnal Aspirator Volume 1 Nomor 1 2009 More Issue