cover
Contact Name
supriyono
Contact Email
supriyono84@apps.ipb.ac.id
Phone
+62265-639375
Journal Mail Official
jurnalaspirator@gmail.com
Editorial Address
Jl. Pangandaran KM. 3 Kp. Kamurang, Ds. Babakan, Kec. Pangandaran, Pangandaran, Jawa Barat, Indonesia Telp/Fax : (0265) 639375
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
ASPIRATOR
ISSN : -     EISSN : -     DOI : 10.22435/aspirator.v9i1.4443.1-10
Core Subject : Health, Agriculture,
Jurnal Penelitian Penyakit Tular Vektor menerima artikel ilmiah yang ditulis berdasarkan hasil penelitian (original paper), systematic review, case reports, maupun komunikasi pendek (short-communication), serta metodologi dan pendekatan baru dalam penelitian penyakit tular vektor (vector-borne disease).
Articles 176 Documents
Nyamuk Dewasa yang Terperangkap pada Jenis Atraktan Berbeda di Kelurahan Tembalang Kota Semarang Zainul Ambiya; Martini Martini; Firda Yanuar Pradani
ASPIRATOR - Journal of Vector-borne Disease Studies Vol 12 No 2 (2020): Jurnal Aspirator Volume 12 Nomor 2 2020
Publisher : Loka Litbang Kesehatan Pangandaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (988.462 KB) | DOI: 10.22435/asp.v12i2.1440

Abstract

Abstract. Tembalang Village is one of the endemic areas of DHF in the city of Semarang (IR 479,6/100.000population). The discovery of chemical resistance cases in mosquitoes requires another alternative as an effortto control dengue that is environmentally friendly, cheap and effective, namely by using mosquito traps withattractants. This study aims to determine the differences in the types of effective attractant materials to beused in mosquito traps as an effort to control mosquitoes. This type of research is experimental with the Post-Test Only Control Group Design method. The sample of this study was 64 houses with repetitions of 6 times.Testing of attractants was carried out on 3 types of attractants, namely brown sugar yeast, sugar yeast, strawsoaking water and PAM water as a control. Environmental observations were carried out to determine thedensity of mosquitoes in Tembalang Village. The results showed that the type of attractant most favored bymosquitoes was brown sugar yeast (73,37%) and sugar yeast (26,62%). Meanwhile, the mosquito density inTembalang sub-district was low at 1.375 with the most found mosquito population being Culex (55.7%) andthe highest fishing place in the house (59%). Abstrak. Desa Tembalang merupakan salah satu daerah endemis DBD di Kota Semarang (IR 479,6/100.000 penduduk). Resistensi pada nyamuk terhadap insektisida kimiawi mendorong penelitian tentang alternative upaya penanggulangan DBD yang ramah lingkungan, murah dan efektif. Salah satu upaya tersebut adalah dengan mengembangkan perangkap nyamuk menggunakan atraktan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan jenis bahan atraktan sebagai perangkap nyamuk. Jenis penelitian ini adalah eksperimental dengan metode Post-Test Only Control Group Design. Sebanyak 64 rumah diambil sebagai sampel dengan pengulangan sebanyak 6 kali. Pengujian atraktan dilakukan pada 3 jenis atraktan yaitu ragi gula merah, ragi gula, dan air rendaman jerami. Air PAM digunakan sebagai kontrol. Dilakukan penghitungan jumlah nyamuk yang tertangkap untuk menghitung kepadatan nyamuk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis atraktan yang paling disukai nyamuk adalah ragi gula merah (73,37%) dan ragi gula putih (26,62%). Kepadatan nyamuk di Kecamatan Tembalang tergolong rendah yaitu 1,375 dengan populasi nyamuk terbanyak ditemukan adalah Culex spp (55,7%) dan Aedes spp (44,3%). Berdasarkan lokasi penangkapan, nyamuk lebih banyak tertangkap di dalam rumah (59%).
Sebaran Nyamuk Pradewasa Berdasarkan Tipe Ekosistem dan Habitat Spesifik di Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten Arda dinata; Endang Puji Astuti; Suwarno Hadisusanto
ASPIRATOR - Journal of Vector-borne Disease Studies Vol 12 No 2 (2020): Jurnal Aspirator Volume 12 Nomor 2 2020
Publisher : Loka Litbang Kesehatan Pangandaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (905.791 KB) | DOI: 10.22435/asp.v12i2.2270

Abstract

Abstract. The vector-borne disease remains a health problem in Pandeglang District. Entomological data is important in the strategy of controlling the vector-borne disease. This study aimed to determine the distribution of mosquito larvae based on specific habitat and ecosystem typea. This research is a secondary data analysis of Rikhus Vektora 2016 in Pandeglang, Banten Province. This type of observational research with cross-sectional study design. The purposive sampling technique is used based on geographical and ecosystem stratification. We found 12 types of environments of the six types of ecosystems (HDP, HJP, NHDP, NHJP, PDP, and PJP) that had larvae: forest (secondary, homogeneous, and coastal); lagoon; brackish water swamp; bamboo clumps; rice fields; plantations; and residential areas. The most ecosystem types were larvae in HJP (160 larvae) and the least larvae in NHDP (9 larvae). Species of larvae are 16 types: rice fields (Cx. vishui, Cx. tritaeniorhynchus, An. barbirostris); small hole in the ground (Anopheles sp., Culex sp.); coconut shell (Ae. albopictus, Ar. malayi, Ar. kuchingensis, Malaya sp, Culex sp.); armpit taro leaves and banana leaves (Ae. albopictus, Malaya genurostris); freshwater swamp (Cx. vishnui, Cx. gelidus) and brackish water (Anopheles sp.); riverside (Anopheles sp., Cx. quinquefasciatus); ditch (Culex sp.); pool (Cx. quinquefasciatus); lagoon (Anopheles sp., Culex sp.); bamboo stumps (Ae. albopictus); Limnocharis flava garden (Culex sp.); and used bottles (Ae. albopictus). The characteristics of larvae habitat: temperature (25-33oC); pH 8-9 (67.3%); light intensity (115-32,000 lux); vegetation (12.7%); algae (3.6%); water is temporary (61.6%), inundated (78.2%) and clear (50,9%). Abstrak. Penyakit tular vektor masih menjadi masalah kesehatan di Kabupaten Pandeglang. Data vektor penting dalam strategi pengendalian penyakit tular vektor. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui sebaran jentik nyamuk berdasarkan habitat spesifik dan tipe ekosistem. Penelitian ini merupakan analisa data sekunder Rikhus Vektora 2016 di Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten. Jenis penelitian observasional dengan rancangan studi potong lintang. Teknik purposive sampling, digunakan berdasarkan stratifikasi geografis dan ekosistem. Didapatkan 12 jenis lingkungan yang berhasil diidentifikasi dari enam tipe ekosistem (HDP, HJP, NHDP, NHJP, PDP, dan PJP) dengan jentik, yaitu: hutan (sekunder, homogen, pantai); laguna; rawa air payau; rumpun bambu; sawah; perkebunan (salak, pisang, kelapa, kopi); daerah pemukiman. Tipe ekosistem terbanyak jentik di HJP (160 jentik) dan sedikit jentik di NHDP (9 jentik). Habitat spesifik jentik ada 16 jenis, yaitu: sawah (Cx. vishui, Cx. tritaeniorhynchus, An. barbirostris); kobakan (Anopheles sp., Culex sp.); tempurung kelapa (Ae. albopictus, Ar. malayi, Ar. kuchingensis, Malaya sp., Culex sp.); ketiak daun talas dan daun pisang (Ae. albopictus, Malaya genurostris); rawa air tawar (Cx. vishnui, Cx. gelidus) dan air payau (Anopheles sp.); tepi sungai (Anopheles sp., Cx. quinquefasciatus); parit (Culex sp.); kolam (Cx. quinquefasciatus); laguna (Anopheles sp., Culex sp.); tunggul bambu (Ae. albopictus); kebun genjer (Culex sp.); serta botol bekas (Ae. albopictus). Karakteristik habitat jentik pada: suhu (25-33oC); pH 8-9 (67,3%); intensitas cahaya (115-32.000 lux); vegetasi(12,7%); alga (3,6%); air bersifat sementara (61,6%), tergenang (78,2%) dan jernih (50,9%).
Studi Epidemiologi dan Gambaran Program Eliminasi Filariasis Limfatik di Kabupaten Bogor Muhammad Nirwan; Upik Kesumawati Hadi; Susi Soviana; Surachmi Setyaningsih; Fadjar Satrija
ASPIRATOR - Journal of Vector-borne Disease Studies Vol 12 No 2 (2020): Jurnal Aspirator Volume 12 Nomor 2 2020
Publisher : Loka Litbang Kesehatan Pangandaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1206.961 KB) | DOI: 10.22435/asp.v12i2.2710

Abstract

Abstract. Filariasis is still a health problem in Bogor Regency. The discovery of filariasis sufferers has growing during the year since 2004 until now with a total of 117 people. The mass prevention drug administration program (POPM) has been implemented since 2015. This study aims to identify the epidemiological distribution of clinical filariasis sufferers and an overview of the achievement of filariasis elimination program in Bogor district. The research using descriptive design with a quantitative approach. The data in this study used secondary data from Bogor District Health Office and Bogor Central Bureau of Statistics. Data were analyzed descriptively and identify differences and relationships between variables used the chi-square test. The results of the study showed the epidemiological distribution of filariasis in Bogor Regency with predominantly female patients (59.8%) and productive age (36-45 years). The results from chi-square test showed that there was a significant difference between the age groups and theincidence of filariasis from year to year with a P value (0.000) <0.05, while the relationship between sex and the incidence of filariasis from year to year did not show a significant difference with the P value ( 0.07)>0.05. The spread of filariasis tends to fluctuate and continues to increase (75%). The results of the relationship test showed that there was no significant relationship between the number of cases and the level of family welfare with a P value (0.279)>0.05. The implementation of POPM, both treatment outcomes and treatment success rates, has exceeded the national target. Abstrak. Filariasis masih merupakan masalah kesehatan di Kabupaten Bogor. Penemuan penderita filariasis terus berkembang dari tahun ke tahun sejak tahun 2004 hingga sekarang dengan jumlah penderita sebesar 117 orang. Program pemberian obat pencegahan massal (POPM) telah dilaksanakan sejak tahun 2015. Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengidentifikasi sebaran epidemiologi penderita filariasis klinis serta gambaran pencapaian program eliminasi filariasis di kabupaten Bogor. Desain penelitian adalah deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Data dalam penelitian ini menggunakan data sekunder dari dinas kesehatan Kabupaten Bogor dan Badan Pusat Statistik Kabupaten Bogor. Data dianalisis secara deskriptif dan untuk melihat perbedaan dan hubungan antar variabel digunakan uji chisquare. Hasil studi menunjukkan sebaran epidemiologi filariasis di Kabupaten Bogor dengan penderita dominan pada perempuan (59,8%) dan umur produktif (36-45 tahun). Hasil uji chi-square menunjukkan ada perbedaan signifikan antara kelompok umur dengan kejadian Filariasis dari tahun ke tahun dengan P value (0,000) < 0,05, sedangkan hubungan antara jenis kelamin dan kejadian Filariasis dari tahun ke tahun tidak menunjukkan perbedaan signifikan dengan P value (0,07) > 0,05. Penyebaran filariasis cenderung fluktuatif dan terus bertambah wilayahnya (75%). Hasil uji hubungan menunjukkan tidak ada hubungan signifikan antara jumlah kasus dengan tingkat kesejahteraan keluarga dengan P value (0,279) > 0,05. Pelaksanaan POPM baik angka capaian pengobatan dan angka keberhasilan pengobatan sudah melebihi dari target nasional.
Karakteristik Klinis dan Virologis Penderita Demam Berdarah Dengue di Kota Bandar Lampung Nurminha Nurminha; Tori Rihiantoro; Mara Ipa
ASPIRATOR - Journal of Vector-borne Disease Studies Vol 12 No 2 (2020): Jurnal Aspirator Volume 12 Nomor 2 2020
Publisher : Loka Litbang Kesehatan Pangandaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (877.993 KB) | DOI: 10.22435/asp.v12i2.3095

Abstract

Abstract. Clinical symptoms of dengue virus (DENV) infection range from asymptomatic mild dengue fever (DF), more severe dengue hemorrhagic fever (DHF) up to dengue shock syndrome. One of the determinants of dengue infection severity was virus virulence. This study aimed to determine the clinical and virological characteristics of dengue virus infection patients based on the severity degree. A cross-sectional study was conducted in RSUD Dr. H. Abdul Moeloek, Lampung Province between July-November 2016 with 56 dengue patients as samples selected using purposive sampling. The serological test was done using a rapid diagnostic test. Blood samples for DENV serotype identification were examined using reverse-transcription polymerase chain reaction. Classification of DENV infection severity was obtained from the patient’s medical record. The results showed that the most common clinical manifestations were fever, headache, and retroorbital pain, appearing in all patients from every degree of severity. There were Grade I DHF patients who experienced Myalgia (15.6%) and petechiae (22.2%). Laboratory results showed that thrombocytopenia appeared in every grade, even though 13.3% of grade I patients did not experience it. Secondary infection was found in 92.9% of samples, and all DENV serotype can be detected in 39.2%samples: DENV-1 (46.7%), DENV-2 (6.7%), DENV-3 (26.7%), and DENV-4 (20%). This study concluded that the majority of clinical characteristics in DHF patients are in line with the degree of severity, with the bleeding as the dominant manifestation in patients with grade II-IV. Virological characteristics of DENV-1 are dominant in all patients with DHF grade I-IV. Abstrak. Manifestasi klinis infeksi virus dengue (DENV) dapat berupa demam dengue (DD), hingga demam berdarah dengue (DBD) dan sindrom syok dengue (DSS). Salah satu determinan keparahan dengue adalah oleh virulensi virus. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan karakteristik klinis dan virologis penderita DBD berdasarkan derajat keparahan. Penelitian deskriptif berbasis rumah sakit dilakukan di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung dengan rancangan studi cross sectional. Sampel sebanyak 56 dipilih dari penderita DBD secara purposive pada bulan Juli-November 2016. Uji serologis menggunakan rapid diagnostic test (RDT). Sampel darah diambil untuk penentuan serotipe dengue dengan teknik reverse transcription polymerase chain reaction (RT-PCR). Derajat keparahan infeksi virus dengue diperoleh dari penelusuran rekam medis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa manifestasi klinis yang paling sering ditemukan adalah demam, sakit kepala dan nyeri retro-orbital, yang muncul pada semua penderita mulai derajat keparahan DBD. Penderita grade I yang mengalami Myalgia (15,6%) dan Petechiae (22,2%). Hasil uji laboratorium memperlihatkan trombositopenia pada semua derajat keparahan (I-IV), meskipun 13,3% pasien grade I tidak mengalaminya. Infeksi sekunder ditemukan sebanyak pada 92,9% sampel. Semua serotipe virus dengue terdeteksi pada 22 sampel (39,2%), yaitu DENV-1 (46,7%), DENV-2 (6,7%), DENV-3 (26,7%), dan DENV-4 (20%). Simpulan dari penelitian ini adalah bahwa karakteristik klinis mayoritas pada penderita DBD sesuai dengan derajat keparahannya dengan manifestasi berupa perdarahan dominan pada penderita grade II-IV. Karakteristik virologis DENV-1 dominan pada seluruh penderita DBD grade I-IV.
Urgensi Kebijakan Peraturan Daerah tentang Pengendalian Demam Berdarah Dengue di Kota Tasikmalaya Berdasarkan Pendekatan Analisis Stakeholder Aryo Ginanjar; Laksono Trisnantoro; Dwi Handono Sulistyo
ASPIRATOR - Journal of Vector-borne Disease Studies Vol 12 No 2 (2020): Jurnal Aspirator Volume 12 Nomor 2 2020
Publisher : Loka Litbang Kesehatan Pangandaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (909.685 KB) | DOI: 10.22435/asp.v12i2.3109

Abstract

Abstract. Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is still a public health problem that is difficult to deal with in Tasikmalaya City, West Java Province. In 2019, the region experienced very significant cases increase leading to an Outbreak. Various attempts have been made without optimal results. DHF control program managers expressed the urgent need for strong policies, but no empirical studies have been carried out. It is important to analyze evidence as justification for urgency and impetus in the policy agenda. This policy research with naturalistic qualitative research with Analysis for Policy approach aims to explore evidence on the urgency of DHF control regional regulations at policy stakeholders’ aspect. The results of this study revealed the evidence of DHF Control Regional Regulation’s establishment urgency. Those are increasing community endangering situation of DHF cases; the urgent need of policies for program managers; and the corroborating evidence, asthe results of stakeholder analysis, in the form of majority stakeholder are the main policy stakeholder who have the power and strong interest in supporting the policies’ urgency. The urgency level of DHF control Regional Regulation based on this research has reached an emergency level, so there should be efforts to establish DHF control Regional Regulation in Tasikmalaya City. Abstrak. Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang sulit ditangani di Kota Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat. Pada tahun 2019, Kota Tasikmalaya mengalami peningkatan kasus yang sangat signifikan mengarah kepada Kejadian Luar Biasa. Berbagai upaya telah dilakukan namun belum mendapatkan hasil yang optimal. Kebutuhan mendesak akan kebijakan yang kuat diungkapkan oleh pengelola program, namun belum pernah dilakukan studi empiris. Penting untuk menganalisis bukti sebagai justifikasi urgensi dan pendorong dalam agenda kebijakan dalam bentuk Peraturan Daerah (Perda) tentang pengendalian DBD di Kota Tasikmalaya. Penelitian ini merupakan riset kebijakan dengan jenis penelitian kualitatif naturalistik yang bertujuan mengeksplorasi bukti urgensi Perda tentang Pengendalian DBD pada aspek stakeholder kebijakan. Proses analisis kebijakan menggunakan pendekatan Analysis for Policy. Hasil penelitian ini mengungkapkan bukti perlunya pembentukan Perda tentang Pengendalian DBD. Bukti pertama adalah situasi kasus DBD yang semakin membahayakan masyarakat. Bukti kedua adalah kebutuhan adanya kebijakan bagi pengelola program yang semakin mendesak. Bukti selanjutnya yang menguatkan adalah hasil analisis stakeholder menunjukkan bahwa mayoritas stakeholder merupakan stakeholder kebijakan utama yang memiliki kekuatan dan ketertarikan yang kuat untuk mendukung urgensi kebijakan. Tingkat urgensi berdasarkan penelitian ini menunjukkan bahwa kebutuhan Perda Pengendalian DBD telah berada pada tingkat darurat sehingga perlu segera dilakukan upaya-upaya untuk pembentukan Perda tentang Pengendalian DBD di Kota Tasikmalaya.
Pemberdayaan Keluarga Sebagai Upaya Menurunkan Kepadatan Larva Aedes spp. dalam Pencegahan Penularan Demam Berdarah Dengue Lukman Hakim; Endang Puji Astuti; Heni Prasetyowati; Andri ruliansyah
ASPIRATOR - Journal of Vector-borne Disease Studies Vol 12 No 2 (2020): Jurnal Aspirator Volume 12 Nomor 2 2020
Publisher : Loka Litbang Kesehatan Pangandaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (883.698 KB) | DOI: 10.22435/asp.v12i2.3140

Abstract

Abstract. One House One Jumantik Programme (G1R1J) has been launched by the Indonesian government since 2015. This programme emphasizes the participation of family members as jumantik rumah by monitoring and controlling larvae in their houses. Family’s coaching in the G1R1J’s programme is carried out by each jumantik coordinator. Tasikmalaya and Cimahi were Dengue endemic areas with high cases in the last five years. This study aimed to determine the effect of family empowerment by the Jumantik Coordinator in reducing the density of Aedes spp. larvae, reducing the number of DHF cases and increasing family participation in vector surveillance. The study was located in the Tasikmalaya and Cimahi areas and conducted with an intervention. The interventions included RW-level workshops, coaching, and observation by jumantik coordinator. The sample unit is a family, consist of 400 unit in the intervention area and 200 unit in the comparison area. The results showed that there were significant differences in the status of community participation in eradicating mosquito nests (PSN). The presence of dengue patients and the presence of Aedes spp mosquito larvae were different between before and after the intervention both in Tasikmalaya and Cimahi. In addition, there are significant differences in the status of community participation in PSN, the presence of dengue cases, the presence of Aedes spp. larvae and the implementation of vector surveillance by families in the intervention and comparison areas. The results concluded that family coaching interventions and observations by the Jumantik Coordinator, proved to have an effect on community participation in PSN, decreasing dengue cases, increasing larvae free index (ABJ) and vector surveillance implementation by families. Abstrak. Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik (G1R1J) sudah diluncurkan oleh pemerintah sejak tahun 2015. Tujuan gerakan ini adalah menekankan keikutsertaan anggota keluarga sebagai jumantik rumah dalam pemantauan dan pemberantasan jentik di rumahnya. Pembinaan keluarga dalam G1R1J dilakukan oleh masing masing koordinator jumantik. Kota Tasikmalaya dan Cimahi merupakan daerah endemis Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan kasus tinggi dalam lima tahun terakhir. Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh pemberdayaan keluarga oleh Koordinator Jumantik dalam menurunkan kepadatan larva nyamuk Aedes spp, menurunkan jumlah penderita DBD serta meningkatkan peran serta keluarga dalam surveilans vektor. Penelitian dilakukan di wilayah Kota Tasikmalaya dan Cimahi. Penelitian dilakukan dengan adanya pretest dan postest. Intervensi yang dilakukan adalah kalakarya tingkat RW serta pembinaan dan pengamatan oleh Koordinator Jumantik. Unit sampel adalah keluarga, terdiri dari 400 unit di daerah intervensi dan 200 unit di daerah pembanding. Hasil analisis data menunjukkan bahwa diantara Kota Tasikmalaya dan Cimahi, terdapat perbedaan bermakna pada status peran serta masyarakat dalam pemberantasan sarang nyamuk (PSN), keberadaan penderita DBD dan keberadaan jentik nyamuk Aedes spp antara sebelum dan sesudah intervensi. Selain itu, terdapat perbedaan bermakna pada status peran serta masyarakat dalam PSN,keberadaan penderita DBD, keberadaan jentik nyamuk Aedes spp dan pelaksanaan surveilans vektor oleh keluarga di daerah intervensi dan pembanding. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa intervensi pembinaan keluarga serta pengamatan oleh Koordinator Jumantik, terbukti berpengaruh terhadap partisipasi masyarakat dalam PSN, penurunan penderita DBD, peningkatan Angka Bebas Jentik (ABJ), serta pelaksanaan surveilans vektor oleh keluarga.
Habitat Aedes aegypti dan Aedes albopictus sebagai Vektor Potensial Demam Berdarah Dengue di Kecamatan Ranomeeto Barat, Provinsi Sulawesi Tenggara Asti Tri Pramadani; Upik Kesumawati Hadi; Fadjar Satrija
ASPIRATOR - Journal of Vector-borne Disease Studies Vol 12 No 2 (2020): Jurnal Aspirator Volume 12 Nomor 2 2020
Publisher : Loka Litbang Kesehatan Pangandaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1116.426 KB) | DOI: 10.22435/asp.v12i2.3269

Abstract

Abstract. Dengue hemorrhagic fever (DHF) is still a problem in some countries, resulting in 390 million infections a year in the world. DHF vaccine has not found so the treatment is focused on vector controls. Entomological data describing the bio ecology of vectors in the region can help vector control diseases moreeffectively. The study aims at assessing distribution, characteristic and risk factors in the habitat of Aedes larvain the DHF endemic region of West Ranomeeto subdistrict of Southeast Sulawesi province. This study is ananalytic observational study with a sectional study approach. Data collection was carried out using singlelarva method in 600 houses by purposive sampling. Data analysis uses chi square’s descriptive analysis andlogistics multinomial regression. The result shows larva density in Sindangkasih higher than Jati Bali. Ae.aegypti dominated in Sindangkasih and Ae. albopictus dominated in Jati Bali. Buckets, dispenser tray,refrigerator tray, container made of cements and plastics and container with volume <1 L and 20-100 L arerisk factors affected the exixtence of larvae in Sindangkasih (p<0.05). Plastic containers and dark-coloredcontainer are risk factors that influence the larva’s existence in Jati Bali (p<0.05). Differences in charateristicsof the larvae affect mosquito oviposition in Sindangkasih and Jati Bali. Therefore, it is important to monitorvector populations dynamic and breeding mosquito to prevent outbreak. Abstrak. Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit arbovirus yang masih menjadi masalah di beberapa negara dan mengakibatkan 390 juta orang terinfeksi per tahun di dunia. Belum ditemukannya vaksin DBD, penanganan difokuskan pada pengendalian vektor. Data entomologi yang menggambarkan bioekologi vektor di wilayah dapat membantu pengendalian penyakit tular vektor lebih efektif. Penelitian ini bertujuan menganalisis distribusi, karakteristik serta faktor risiko habitat larva Aedes spp di daerah endemis DBD Kecamatan Ranomeeto Barat Kabupaten Konawe Selatan Provinsi Sulawesi Tenggara. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional study. Pengumpulan data dilakukan dengan single larva method di 600 rumah secara purposive sampling. Analisis data menggunakan analisis deskriptif chi square dan regresi logistik multinomial. Hasilnya menunjukan kepadatan larva di Sindangkasih lebih tinggi daripada Jati Bali. Ae. aegypti mendominasi di Sindangkasih dan Ae. albopictus mendominasi di Jati Bali. Ember, tatakan dispenser, penampungan air pada kulkas, wadah berbahan semen dan plastik, serta wadah bervolume air >1 L dan 20-100 L merupakan faktor risiko yang memengaruhi keberadaan larva di Sindangkasih (p<0,05). Wadah berbahan plastik dan wadah berwarna gelap merupakan faktor risiko yang memengaruhi keberadaan larva di Jati Bali (p<0,05). Adanya perbedaan karakteristik habitat larva yang memengaruhi perilaku oviposisi nyamuk di Sindangkasih dan Jati Bali. Oleh karena itu, penting dilakukan pemantauan dinamika populasi vektor, dan perkembangbiakan nyamuk untuk mencegah terjadinya lonjakan kasus.
Mortalitas Aedes albopictus akibat infeksi horizontal Beauveria bassiana dan aktivitas enzim Kitinase B. bassiana Firda Yanuar Pradani; Mutiara Widawati
ASPIRATOR - Journal of Vector-borne Disease Studies Vol 7 No 2 (2015): Jurnal Aspirator Volume 7 Nomor 2 2015
Publisher : Loka Litbang Kesehatan Pangandaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (757.19 KB)

Abstract

Abstrak. Demam berdarah dengue (DBD) merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti sebagai vektor primer dan Ae. albopictus sebagai vektor sekunder. Pengendalian vektor selama ini dilakukan dengan menggunakan insektisida dengan resiko terjadi resistensi. Upaya pencarian insektisida alternatif yang ramah lingkungan dan aman terus dilakukan dengan melakukan penelitian potensi mikroorganisme seperti bakteri dan fungi. Salah satu fungi yang diketahui memiliki daya patogen terhadap nyamuk adalah B. bassiana. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian konidium B. bassiana dengan konsentrasi berbeda terhadap mortalitas Ae. albopictus. Penelitian ini juga bertujuan untuk melihat pengaruh kondisi nyamuk terhadap infeksi fungi, potensi infeksi horizontal dari nyamuk jantan yang terinfeksi kepada nyamuk betina sehat dan aktivitas enzim kitinase yang dihasilkan oleh B. bassiana. Data kematian dianalisis menggunakan uji univariate dan dilakukan uji lanjut dengan menggunakan uji Tukey. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi konidia berpengaruh terhadap mortalitas Ae. albopictus. Kondisi nyamuk tidak ikut mempengaruhi mortalitas tetapi mempengaruhi kerentanan nyamuk. Tidak ada interaksi dari kedua faktor yang diujikan sehingga kedua faktor berdiri sendiri dalam menentukan kematian nyamuk. Pada konsentrasi 105 angka kematian nyamuk adalah sebesar 23,05%. Konsentrasi lebih tinggi yaitu 107 mengakibatkan mortalitas yang lebih tinggi yaitu sebesar 31,47%. Indeks kitinolitik B. bassiana adalah sebesar 1,67 dan aktivitas spesifik enzim adalah sebesar 1,0557 unit/mg.
Hubungan keberadaan larva Aedes spp dengan kasus Demam Berdarah Dengue di Kota Bandung Lukman Hakim; Andri Ruliansyah
ASPIRATOR - Journal of Vector-borne Disease Studies Vol 7 No 2 (2015): Jurnal Aspirator Volume 7 Nomor 2 2015
Publisher : Loka Litbang Kesehatan Pangandaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (799.088 KB)

Abstract

Abstrak. Kota Bandung merupakan wilayah dengan kasus demam berdarah dengue (DBD) paling banyak di Jawa Barat dengan 24.491 kasus pada periode tahun 2009-2013. Penularan virus dengue terjadi dari penderita DBD melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Ae. albopictus sebagai vektor primer, sedangkan Ae. polynesiensis, Ae. scutellaris dan Ae. (Finlaya) niveus sebagai vektor sekunder. Telah dilakukan penelitian dengan survei larva dan analisis kasus DBD di Kota Bandung dengan tujuan mengetahui hubungan keberadaan larva nyamuk Aedes spp dengan kesakitan DBD, Penelitian dilakukan dengan pencatatan penderita DBD periode tahun 2011-2013, selanjutnya dikunjungi untuk dilakukan wawancara dan survei larva nyamuk Aedes spp pada kontainer air di dalam dan luar rumah. Sampel yang berhasil dikunjungi adalah 402 rumah dari 8 kampung terdiri atas 201 rumah tangga yang ada kasus DBD dan 201 rumah tangga yang tidak ada kasus DBD sebagai pembanding. Hasil penelitian menunjukkan, dari 402 sampel penelitian, didapatkan 75 sampel positif larva nyamuk Aedes spp (House Index/HI 18,7%) terdiri dari 36 rumah tidak ada kasus DBD dan 39 rumah dengan kasus DBD. Di antara 8 kampung lokasi penelitian, HI paling tinggi adalah kampung Cijawura (21,9%) dan paling rendah adalah kampung Manjahlega (11,1%), sedangkan di kampung Cidurian tidak ditemukan larva Aedes spp. Jumlah rumah dengan kontainer air yang positif larva nyamuk Aedes spp, paling banyak adalah kampung Sekejati yaitu 37 rumah dan yang paling sedikit adalah kampung Manjahlega yaitu 2 rumah. Hasil analisis Chi-square dan korelasi, menunjukan bahwa tidak terdapat hubungan bermakna antara keberadaan larva nyamuk Aedes spp dengan kasus DBD. Disimpulkan, keberadaan larva Aedes spp tidak berhubungan dengan kasus DBD di Kota Bandung Jawa Barat. Untuk terjadinya kasus DBD, selain keberadaan nyamuk Aedes spp, juga dipengaruhi faktor lain seperti vector capacity, virulensi virus dengue, dan status kekebalan pejamu. Selanjutnya disarankan, dalam pengendalian DBD, selain melakukan pengendalian vektor juga perlu dilakukan kegiatan lain yang berkaitan dengan penanggulangan faktor risiko munculnya kasus DBD
Beberapa aspek bioekologi Anopheles spp. di Desa Karuni Kecamatan Laura Kabupaten Sumba Barat Daya Nusa Tenggara Timur Ira Indriaty Paskalita Bule Sopi; Eka Triana
ASPIRATOR - Journal of Vector-borne Disease Studies Vol 7 No 2 (2015): Jurnal Aspirator Volume 7 Nomor 2 2015
Publisher : Loka Litbang Kesehatan Pangandaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (817.915 KB)

Abstract

Abstrak. Desa Karuni terletak di wilayah kerja Puskesmas Radamata Kabupaten Sumba Barat Daya mempunyai AMI tahun 2010 sebesar 155,37‰, tahun 2011 sebesar 86,91‰. Keragaman Anopheles spp. sangat menentukan insiden dan pengendalian malaria, maka dilakukan penelitian Bioekologi Anopheles spp. Pengumpulan data dilakukan secara cross sectional, dengan populasi semua Anopheles spp. yang ada di Desa Karuni dan sampel semua Anopheles spp.adalah nyamuk pradewasa tertangkap dan observasi habitat perkembangbiakan. Pengumpulan data melalui metode koleksi umpan badan orang luar, dalam dan istirahat. Pencidukan larva Anopheles spp. ditemukan adalah kubangan kerbau, sawah, selokan, ra-wa, pencidukan dalam bekas kolam ikan dengan spesiesnya adalah An. vagus, An. aconitus dan An. barbi-rostris. Penangkapan malam hari ditemukan 5 spesies yaitu An. aconitus, An. tesselatus, An. annularis, An. vagus dan An. barbirostris. An. aconitus aktivitas menghisap darah paling tinggi dibandingkan 4 spesies lainnya yaitu pada jam 22.00-23.00 (MHD=0,67 orang/jam), diikuti An. vagus pada jam 21.00-22.00 (MHD=0,58 orang/jam). Fluktuasi menghisap darah Anopheles spp. rata-rata sebesar 0,02-0,17, dominan dijumpai pada umpan orang dalam dan di sekitar kandang. Kesimpulan penelitian ini adalah habitat yang ditemukan cocok bagi perkembangbiakan larva Anopheles spp, perilaku Anopheles spp. cenderung bersi-fat endofagik dan eksofilik. Upaya pengendalian Anopeheles spp. dengan pengendalian secara kimiawi, biologis dan pengendalian lingkungan fisik.

Page 11 of 18 | Total Record : 176


Filter by Year

2009 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 14 No 1 (2022): Jurnal Aspirator Volume 14 Nomor 1 2022 Vol 13 No 2 (2021): Jurnal Aspirator Volume 13 Nomor 2 2021 Vol 13 No 1 (2021): Jurnal Aspirator Volume 13 Nomor 1 2021 Vol 12 No 2 (2020): Jurnal Aspirator Volume 12 Nomor 2 2020 Vol 12 No 1 (2020): Jurnal Aspirator Volume 12 Nomor 1 2020 Vol 11 No 2 (2019): Jurnal Aspirator Volume 11 Nomor 2 2019 Vol 11 No 1 (2019): Jurnal Aspirator Volume 11 Nomor 1 2019 Vol 10 No 2 (2018): Jurnal Aspirator Volume 10 Nomor 2 2018 Vol 10 No 1 (2018): Jurnal Aspirator Volume 10 Nomor 1 2018 Vol 9 No 2 (2017): Jurnal Aspirator Volume 9 Nomer 2 2017 Vol 9 No 1 (2017): Jurnal Aspirator Volume 9 Nomer 1 2017 Vol 8 No 2 (2016): Jurnal Aspirator Volume 8 Nomer 2 2016 Vol 8 No 1 (2016): Jurnal Aspirator Volume 8 Nomer 1 2016 Vol 7 No 2 (2015): Jurnal Aspirator Volume 7 Nomor 2 2015 Vol 7 No 1 (2015): Jurnal Aspirator Volume 7 Nomor 1 2015 Vol 6 No 2 (2014): Jurnal Aspirator Volume 6 Nomor 2 2014 Vol 6 No 1 (2014): Jurnal Aspirator Volume 6 Nomor 1 2014 Vol 5 No 2 (2013): Jurnal Aspirator Volume 5 Nomor 2 2013 Vol 5 No 1 (2013): Jurnal Aspirator Volume 5 Nomor 1 2013 Vol 4 No 2 (2012): Jurnal Aspirator Volume 4 Nomor 2 2012 Vol 4 No 1 (2012): Jurnal Aspirator Volume 4 Nomor 1 2012 Vol 3 No 2 (2011): Jurnal Aspirator Volume 3 Nomor 2 2011 Vol 3 No 1 (2011): Jurnal Aspirator Volume 3 Nomor 1 2011 Vol 2 No 2 (2010): Jurnal Aspirator Volume 2 Nomor 2 2010 Vol 2 No 1 (2010): Jurnal Aspirator Volume 2 Nomor 1 2010 Vol 1 No 2 (2009): Jurnal Aspirator Volume 1 Nomor 2 2009 Vol 1 No 1 (2009): Jurnal Aspirator Volume 1 Nomor 1 2009 More Issue