cover
Contact Name
supriyono
Contact Email
supriyono84@apps.ipb.ac.id
Phone
+62265-639375
Journal Mail Official
jurnalaspirator@gmail.com
Editorial Address
Jl. Pangandaran KM. 3 Kp. Kamurang, Ds. Babakan, Kec. Pangandaran, Pangandaran, Jawa Barat, Indonesia Telp/Fax : (0265) 639375
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
ASPIRATOR
ISSN : -     EISSN : -     DOI : 10.22435/aspirator.v9i1.4443.1-10
Core Subject : Health, Agriculture,
Jurnal Penelitian Penyakit Tular Vektor menerima artikel ilmiah yang ditulis berdasarkan hasil penelitian (original paper), systematic review, case reports, maupun komunikasi pendek (short-communication), serta metodologi dan pendekatan baru dalam penelitian penyakit tular vektor (vector-borne disease).
Articles 176 Documents
Ekologi Anopheles spp. Di Kabupaten Lombok Tengah Majematang Mading; Muhammad Kazwaini
ASPIRATOR - Journal of Vector-borne Disease Studies Vol 6 No 1 (2014): Jurnal Aspirator Volume 6 Nomor 1 2014
Publisher : Loka Litbang Kesehatan Pangandaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (234.374 KB)

Abstract

Abstrak. Kasus malaria di Kabupaten Lombok Tengah tahun 2006-2008 terus meningkat dengan Annual Malaria Incidence (AMI) berturut-turut 5,9 per mil, 6,7 per mil, dan 8,1 per mil. Penelitian bertujuan untuk mengambarkan kondisi ekologi nyamuk Anopheles spp. dengan cara melakukan pengamatan dan pengukuran variabel lingkungan, pencidukan jentik, dan penangkapan nyamuk dewasa. Populasi adalah semua nyamuk dan habitat perkembangbiakannya di lokasi penelitian. Pengamatan ekologi meliputi pengukuran pH, salinitas, keterpaparan sinar matahari, dan biota air serta pengukuran suhu dan kelembaban udara. Hasil pengamatan pada habitat perkembangbiakan nyamuk meliputi salinitas berkisar 0–14 ppm, pH berkisar 0–9, biota air yang ditemukan berupa lumut, rumput, udang, ikan, berudu, dan kepiting dengan rata-rata kepadatan jentik 0,1–28,8 ekor/cidukan. Rata-rata suhu di Desa Selong Belanak 23,78°C, Desa Kute 25,4°C dan di Desa Bilalando 26,5°C dengan kelembaban 65%–84%. Disimpulkan bahwa kondisi ekologi cocok untuk perkembangan jentik dan nyamuk dewasa Anopheles spp., tipe habitat perkembangbiakan didominasi oleh laguna, rata-rata suhu udara di Desa Selong Belanak di bawah suhu optimal perkembangbiakan nyamuk Anopheles spp.
Penggunaan Model Standard Deviational Ellipse (SDE) Pada Analisis Kasus Penyakit Demam Berdarah Dengue di Kota Banjar Tahun 2013 Martya Rahmaniati; Tris Eryando; Dewi Susanna; Dian Pratiwi; Fajar Nugraha
ASPIRATOR - Journal of Vector-borne Disease Studies Vol 6 No 1 (2014): Jurnal Aspirator Volume 6 Nomor 1 2014
Publisher : Loka Litbang Kesehatan Pangandaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (539.329 KB)

Abstract

Abstrak. Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) masih merupakan penyakit endemis di Kota Banjar. Diperlukan informasi yang dapat memetakan penyebaran, pemusatan, dan arah pergerakan pola kasus DBD dalam kegiatan surveilans untuk mengetahui luas cakupan program pengendalian penyakit DBD. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi wilayah penyakit DBD melalui Model Standard Deviational Ellipse (SDE) di Kota Banjar. Penelitian ini merupakan studi observasional yang bersifat Explanatory Spatial Data Analysis (ESDA). Analisis data menggunakan model SDE pada lingkup seluruh kecamatan di Kota Banjar. Data yang digunakan adalah data kasus DBD dari tahun 2007-2012, sebanyak 315 kasus. Gambaran umum penderita DBD di Kota Banjar secara sosiodemografi, sebagian besar adalah laki-laki (58,1%) dengan kelompok usia produktif yaitu anak sekolah (39,7%) dan usia bekerja (45,7%). Kasus DBD di Kota Banjar selama periode tahun 2007-2012 sebagian besar berada pada ketinggian 25-37,5 mdpl (55,8%). Secara umum, model SDE di Kota Banjar mempunyai arah pergerakan kasus yang cenderung mengikuti sumbu X dan pola berkelompok sesuai batas fisiografis Model SDE dapat dimanfaatkan untuk mengetahui pola disperse dan arah pergerakan kasus DBD sehingga intervensi program pengendalian penyakit DBD dapat dilakukan berdasarkan lokasi spesifik sebagai bahan pendukung keputusan.
Kondisi Entomologi Dan Upaya Pengendalian Demam Berdarah Dengue Oleh Masyarakat Di Daerah Endemis Kelurahan Baros Kota Sukabumi Heni Prasetyowati; Nurul Hidayati Kusumastuti; Dewi Nur Hodijah
ASPIRATOR - Journal of Vector-borne Disease Studies Vol 6 No 1 (2014): Jurnal Aspirator Volume 6 Nomor 1 2014
Publisher : Loka Litbang Kesehatan Pangandaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (926.438 KB)

Abstract

Abstrak. Banyak upaya sudah dilakukan oleh masyarakat di Kelurahan Baros, namun tingkat infeksi di Kelurahan Baros masih tinggi. Untuk mengetahui tingkat risiko penularan DBD dilihat dari kondisi entomologisnya maka dilakukan survei entomologi dan wawancara upaya pengendalian dengan tujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor entomologi pada lingkungan Kelurahan Baros serta mengetahui upaya pengendalian DBD yang dilakukan masyarakat di daerah tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desain cross-sectional. Populasi survei entomologi dan wawancara upaya pengendalian adalah semua Rukun Warga (RW) di wilayah Kelurahan Baros yang tergolong wilayah endemis DBD. Sampel adalah rumah/satuan bangunan di lingkungan RW 11 Kelurahan Baros. Responden wawancara adalah orang yang tinggal di rumah/bangunan tersebut. Wawancara dilakukan menggunakan kuesioner dan bertatap muka dengan responden untuk mengetahui jenis dan besaran upaya pengendalian yang dilakukan masyarakat. Pengumpulan data entomologi dilakukan melalui survei keberadaan nyamuk pra-dewasa di berbagai kontainer yang ada di lingkungan rumah/bangunan yang disurvei dengan mata telanjang. Indeks entomologi yang diukur berupa Container Index (CI), Breteau Index (BI), serta House Index (HI). Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan pengendalian vektor yang dilakukan masyarakat RW 11 Kelurahan Baros dikelompokkan menjadi pengendalian secara budaya, fisik, biologi, kimia, dan pengendalian secara terpadu, dengan jenis upaya pengendalian tertinggi adalah pengendalian terpadu (37,6%). Indikator entomologi RW 11 Kelurahan Baros adalah HI = 33,98%; CI = 11,1%; BI = 45,63%. Berdasarkan indikator CI, RW 11 memiliki density figure 4, sedangkan berdasar indikator HI dan BI, memiliki density figure 6. Hal ini menunjukkan bahwa Kelurahan Baros memiliki risiko penularan sedang terhadap penyebaran penyakit DBD.
KONFIRMASI ANOPHELES BARBIROSTRIS SEBAGAI VEKTOR MALARIA DI WAIKABUBAK MELALUI DETEKSI PROTEIN CIRCUM SPOROZOITE Mara Ipa; Heni Prasetyowati; Yuneu Yuliasih
ASPIRATOR - Journal of Vector-borne Disease Studies Vol 4 No 1 (2012): Jurnal Aspirator Volume 4 Nomor 1 2012
Publisher : Loka Litbang Kesehatan Pangandaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (316.644 KB)

Abstract

Abstrak. Nyamuk Anopheles spp. dinyatakan sebagai vektor malaria apabila ditemukan sporozoitdi kelenjar ludahnya dan salah satu metode yang dapat dilakukan adalah melalui uji Enzyme-LinkedImmunosorbent Assay (ELISA). Penelitian ini dilakukan untuk mendeteksi protein circum sporozoite padatersangka vektor malaria Anopheles barbirostris melalui metode ELISA. Penelitian ini dilakukan di daerahendemis malaria di Desa Modu Waimaringu, Kecamatan Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat pada bulanMaret 2011. Desain studi penelitian ini adalah cross sectional, nyamuk uji diperoleh melalui penangkapannyamuk sekitar kandang. Uji ELISA dilakukan pada bagian kepala dan dada nyamuk An. barbirostrisyang potensial mengandung sporozoit Plasmodium falciparum dan Plasmodium vivax. Hasil penelitianmenunjukkan dari 40 sampel An. barbirostris yang diuji di Desa Modu Waimaringu seluruhnya negatif(100%). Hal ini berarti tidak ditemukannya protein circum sporozoite dan An.barbirostris bukan vektorpada daerah tersebut.
POTENSI DAUN DEWA (GYNURA PSEUDOCHINA [L.] DC.) SEBAGAI LARVASIDA AEDES AEGYPTI (LINN.) Hubullah Fuadzy; Rina Marina
ASPIRATOR - Journal of Vector-borne Disease Studies Vol 4 No 1 (2012): Jurnal Aspirator Volume 4 Nomor 1 2012
Publisher : Loka Litbang Kesehatan Pangandaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (390.679 KB)

Abstract

Abstrak. Aedes aegypti merupakan vektor utama terjadinya penularan penyakit demam dengue.Pengendalian efektif untuk menurunkan kasus demam dengue adalah dengan menggunakan insektisidabiologi seperti Gynura pseudochina pada stadium larva. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensiekstrak daun Gy. pseudochina sebagai larvasida Ae. aegypti. Jenis penelitian ini adalah eksperimentaldengan rancangan acak lengkap dan menggunakan tujuh konsentrasi yang berbeda (0%, 5%, 6%, 7%, 8%,9%, 10%).Terdapat perbedaan rata-rata kematian larva Ae. aegypti pada kelompok konsentrasi Gy. pseudochina,kecuali pada konsentrasi 5% terhadap 6% dan 9% terhadap 10%. Pengujian setelah 24 jam, nilai LC50adalah 6,271% dengan batas atas dan batas bawah adalah 5,322% dan 7,005%. Dengan demikian, ekstrakdaun Gy. pseudochina memiliki potensi sebagai larvasida Ae. aegypti.
PREVALENSI DAN KEBERADAAN VEKTOR MALARIA DI DESA TELUK LIMAU, KECAMATAN JEBUS, KABUPATEN BANGKA BARAT, PROVINSI BANGKA BELITUNG Roy Nusa R.E.S
ASPIRATOR - Journal of Vector-borne Disease Studies Vol 4 No 1 (2012): Jurnal Aspirator Volume 4 Nomor 1 2012
Publisher : Loka Litbang Kesehatan Pangandaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (385.898 KB)

Abstract

Abstrak. Eliminasi malaria di Indonesia perlu dukungan data sebagai dasar perencanaan dan pelaksanaankegiatan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperkirakan prevalensi malaria dan keberadaannyamuk vektor potensialnya. Untuk mengetahui endemisitas malaria dilakukan pemeriksaan sediaan darah(SD) pada kelompok masyarakat di daerah penelitian pada tanggal 24-30 November 2010. Pengumpulannyamuk tersangka vektor dilakukan dengan metode human landing di dalam dan di luar rumah selama 12jam mulai pukul 18.00 sampai 06.00. Persentase SD positif dibanding SD diperiksa mencapai 4,21% (18dari 428 SD). Persentase gametosit dibanding SD positif mencapai 18,75 % dan dari 18 SD positif, 3 diantaranya terdapat gametosit. Dua spesies nyamuk Anopheles spp. yang ditemukan adalah An. sundaicusdan An. letifer. Jumlah An. sundaicus tertangkap di luar rumah sebanyak 5 ekor, An. letifer di dalam rumah3 ekor, dan An. letifer di luar rumah sebanyak 8 ekor. Hal ini menunjukkan potensi transmisi malaria dilokasi penelitian dan perlunya dilakukan survailans malaria. Bila memungkinkan, dilakukan pembagiankelambu berinsektisida dan menganjurkan agar penduduk tidak terlalu sering berada di luar rumah padamalam hari.
Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Tokoh Masyarakat Dengan Perannya Dalam Pengendalian Demam Berdarah Di Wilayah Puskesmas Kawalu Kota Tasikmalaya Yanyan Bahtiar
ASPIRATOR - Journal of Vector-borne Disease Studies Vol 4 No 2 (2012): Jurnal Aspirator Volume 4 Nomor 2 2012
Publisher : Loka Litbang Kesehatan Pangandaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (269.56 KB)

Abstract

Abstrak. Demam berdarah adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkanoleh vektor nyamuk Aedes aegypti. Jika tidak ditangani secara cepat dapat berkembang menjadi penyakitperdarahan yang mematikan. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan cross-sectional desigen yangbertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap tokoh masyarakat dengan perannya dalampengendalian demam berdarah di wilayah Puskesmas Kawalu Kota Tasikmalaya. Populasi penelitian yaituseluruh tokoh masyarakat yang berada di Wilayah Kerja Puskesmas Kawalu, dengan jumlah sampel 68responden yang ditentukan secara purposif. Hasil penelitian dianalisis dengan metode chi-square (X2) untukmelihat hubungan pengetahuan dan sikap tokoh masyarakat dengan perannya dalam pengendalian demamberdarah. Hasil penelitian menunjukan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara pengetahuandengan peran tokoh masyarakat dalam pengendalian demam berdarah (ρ = 0,578), begitu juga dengansikap tidak ada hubungan yang signifikan dengan peran tokoh masyarakat (ρ = 0,177). Peran masyarakatyang tidak didasari dengan pengetahuan dan sikap yang positif, ataupun sikap positif dan tahu saja tetapibelum dicerminkan dalam perannya pada pengendalian demam berdarah mungkin saja menjadi salah satupenyebab sulit tertanggulanginya masalah demam berdarah selama ini. Petugas kesehatan terutama petugaspuskesmas diharapkan dapat melakukan pendekatan dan kajian lapangan secara lebih mendalam sehinggamasyarakat lebih berperan secara nyata dalam pengendalian demam berdarah
DAYA LARVASIDA EKSTRAK BIJI SRIKAYA (ANNONA SQUAMOSA) DENGAN RENTANG WAKTU PENYIMPANAN YANG BERBEDA TERHADAP LARVA CULEX QUINQUEFASCIATUS Wisnu Satria A.K; Heni Prasetyowati
ASPIRATOR - Journal of Vector-borne Disease Studies Vol 4 No 1 (2012): Jurnal Aspirator Volume 4 Nomor 1 2012
Publisher : Loka Litbang Kesehatan Pangandaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (378.337 KB)

Abstract

Abstrak. Insektisida sintetik telah banyak digunakan untuk mengontrol Culex quinquefasciatus, tetapipenggunaan insektisida sintetik terus-menerus berdampak buruk terhadap lingkungan dan mengakibatkanresistensi. Fakta ini menjadi alasan biji srikaya (Annona squamosa) yang mengandung alkaloid digunakansebagai insektisida alternatif yang aman bagi lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuipengaruh biji srikaya dengan perbedaan lama penyimpanan terhadap larva C. quinquefasciatus. Penelitianini merupakan penelitian eksperimental dengan desain rancangan acak kelompok. Bahan uji adalah ekstrakbiji srikaya yang telah disimpan selama 0, 1, 2, dan 3 minggu. Sampel penelitian ini adalah larva instarketiga C. quinquefasciatus, dan setiap perlakuan menggunakan 25 ekor larva. Sampel dibagi menjadiempat kelompok berdasarkan perbedaan lama penyimpanan dan satu kelompok kontrol, dengan 5 ulanganuntuk masing-masing kelompok. Konsentrasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah 0,47 ppm (LC50).Setelah 24 jam, larva yang mati dihitung. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak biji srikaya yangtelah disimpan dalam 0, 1, 2, dan 3 minggu tidak menunjukkan perbedaan yang nyata dalam mortalitaslarva. Ekstrak srikaya yang telah disimpan dalam 0, 1, 2, dan 3 minggu memiliki aktivitas yang samasebagai larvisida terhadap larva C. quinquefasciatus.
UJI EFEKTIVITAS DAN TINGKAT PENERIMAAN MASYARAKAT TERHADAP SERBUK LADA (PIPER NIGRUM L.) UNTUK MENURUNKAN KEPADATAN LARVA ANOPHELES SPP. (STUDI KASUS DI BLOK KARANGTIRTA, DUSUN CIPARI, DESA SUKARESIK, KECAMATAN SIDAMULIH, KABUPATEN CIAMIS) Fauziani Octoriani S; Andri Ruliansyah
ASPIRATOR - Journal of Vector-borne Disease Studies Vol 4 No 1 (2012): Jurnal Aspirator Volume 4 Nomor 1 2012
Publisher : Loka Litbang Kesehatan Pangandaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (369.951 KB)

Abstract

Abstrak. Buah lada (Piper nigrum L.) merupakan satu pestisida tumbuhan yang bisa digunakan sebagaiinsektisida. Tujuan dari penelitian ini adalah menguji efektivitas serbuk lada dan mengetahui penerimaanmasyarakat terhadap serbuk lada (Piper nigrum L.) untuk menurunkan kepadatan larva nyamuk Anophelesspp. Jenis penelitian yang dilakukan adalah kuasi-eksperimen dengan pre and post test with control design.Hasil pengujian serbuk lada dengan dosis 0,75 g/lt air dapat membunuh larva rata-rata sebesar 59,91%selama 24 jam perlakuan. Dari hasil uji Wilcoxon didapat bahwa serbuk lada ini efektif dalam menurunkankepadatan larva Anopheles spp. karena terdapat perbedaan yang nyata antara sebelum dan sesudah perlakuan.Berdasarkan analisis statistik uji khi-kuadrat pada tingkat penerimaan masyarakat terhadap serbuk lada ini,tidak semua masyarakat menerima (H0 ditolak, p-value < 0,05). Dari 20 responden, terdapat 15 responden(75%) menerima baik terhadap serbuk lada ini, 3 responden (15%) menerima dengan kriteria cukup baik,dan 2 responden (10%) menerima dengan kriteria tidak baik. Hasil ini menunjukkan potensi serbuk ladasebagai larvasida yang baik dan diterima masyarakat.
HUBUNGAN STATUS GIZI DAN KELOMPOK UMUR DENGAN STATUS INFEKSI VIRUS DENGUE Lukman Hakim; Asep Jajang Kusnandar
ASPIRATOR - Journal of Vector-borne Disease Studies Vol 4 No 1 (2012): Jurnal Aspirator Volume 4 Nomor 1 2012
Publisher : Loka Litbang Kesehatan Pangandaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (413.21 KB)

Abstract

Abstrak. Infeksi virus dengue tidak pasti menyebabkan DBD pada manusia bergantung faktor lain, salahsatunya adalah sistem imunitas tubuh yang juga dipengaruhi status gizi dan umur. Penelitian ini bertujuanmengetahui hubungan status gizi dan umur terhadap status infeksi virus dengue. Penelitian dilakukan diKabupaten Cirebon dengan desain cross sectional. Tinggi dan berat badan diukur serta dihitung indeksmassa tubuh (IMT) untuk mengetahui status gizi. Hasilnya dikelompokkan menjadi dua kategori, tidaknormal dan normal. Kelompok umur dikategorikan menjadi umur < 5 tahun dan > 5 tahun. Selanjutnyapemeriksaan sampel darah menggunakan rapid diagnostic test untuk mengetahui status infeksi. Hasilnya,dianalisis untuk mengetahui hubungan status gizi dan kelompok umur dengan status infeksi virus dengue.Dari 200 responden (86 laki-laki, 114 perempuan) didapatkan status gizi 68 orang (34%) tidak normaldan 132 orang (66%) kategori normal; kelompok umur < 5 tahun 193 orang (96,50%) dan < 5 tahun 7orang (3,5%). Pemeriksaan sampel darah menunjukan 39 orang (19,50%) responden positif antibodi virusdengue dan 161 orang (80,50%) negatif. Analisis bivariat menunjukkan status gizi dan kelompok umurmemiliki hubungan dengan status infeksi virus dengue serta kelompok umur memiliki pengaruh terbesar.Disimpulkan, status gizi dan kelompok umur terbukti berhubungan dengan status infeksi virus dengue.Status gizi tidak normal dan kelompok umur < 5 tahun, menjadi faktor risiko untuk terjadinya penularanvirus dengue.

Filter by Year

2009 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 14 No 1 (2022): Jurnal Aspirator Volume 14 Nomor 1 2022 Vol 13 No 2 (2021): Jurnal Aspirator Volume 13 Nomor 2 2021 Vol 13 No 1 (2021): Jurnal Aspirator Volume 13 Nomor 1 2021 Vol 12 No 2 (2020): Jurnal Aspirator Volume 12 Nomor 2 2020 Vol 12 No 1 (2020): Jurnal Aspirator Volume 12 Nomor 1 2020 Vol 11 No 2 (2019): Jurnal Aspirator Volume 11 Nomor 2 2019 Vol 11 No 1 (2019): Jurnal Aspirator Volume 11 Nomor 1 2019 Vol 10 No 2 (2018): Jurnal Aspirator Volume 10 Nomor 2 2018 Vol 10 No 1 (2018): Jurnal Aspirator Volume 10 Nomor 1 2018 Vol 9 No 2 (2017): Jurnal Aspirator Volume 9 Nomer 2 2017 Vol 9 No 1 (2017): Jurnal Aspirator Volume 9 Nomer 1 2017 Vol 8 No 2 (2016): Jurnal Aspirator Volume 8 Nomer 2 2016 Vol 8 No 1 (2016): Jurnal Aspirator Volume 8 Nomer 1 2016 Vol 7 No 2 (2015): Jurnal Aspirator Volume 7 Nomor 2 2015 Vol 7 No 1 (2015): Jurnal Aspirator Volume 7 Nomor 1 2015 Vol 6 No 2 (2014): Jurnal Aspirator Volume 6 Nomor 2 2014 Vol 6 No 1 (2014): Jurnal Aspirator Volume 6 Nomor 1 2014 Vol 5 No 2 (2013): Jurnal Aspirator Volume 5 Nomor 2 2013 Vol 5 No 1 (2013): Jurnal Aspirator Volume 5 Nomor 1 2013 Vol 4 No 2 (2012): Jurnal Aspirator Volume 4 Nomor 2 2012 Vol 4 No 1 (2012): Jurnal Aspirator Volume 4 Nomor 1 2012 Vol 3 No 2 (2011): Jurnal Aspirator Volume 3 Nomor 2 2011 Vol 3 No 1 (2011): Jurnal Aspirator Volume 3 Nomor 1 2011 Vol 2 No 2 (2010): Jurnal Aspirator Volume 2 Nomor 2 2010 Vol 2 No 1 (2010): Jurnal Aspirator Volume 2 Nomor 1 2010 Vol 1 No 2 (2009): Jurnal Aspirator Volume 1 Nomor 2 2009 Vol 1 No 1 (2009): Jurnal Aspirator Volume 1 Nomor 1 2009 More Issue