cover
Contact Name
Putu Indra Christiawan
Contact Email
indra.christiawan@undiksha.ac.id
Phone
+6281805329239
Journal Mail Official
indra.christiawan@undiksha.ac.id
Editorial Address
Jl. Udayana Kampus Tengah Singaraja, Bali, Indonesia 81116
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora
Core Subject : Humanities, Social,
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora (JISH) is a journal that uses a double-blind peer review model that can be accessed online. The purpose of JISH is to publish a journal containing quality articles that will be able to contribute thoughts from a theoretical and empirical perspective in society and humanities at a regional, national, and global scale. The writings at JISH will significantly contribute to critical thinking in the area of society and humanities. The scope of the fields contained in JISH covers the following areas: social work, social welfare, social change, and social policy; humanism and human rights; corporate governance, and community studies; crosscultural and multiculturalism studies; population, and development studies; ethics, and intergroup relations; war, conflict, and international relations; linguistics, literature, and media studies; performing arts (music, theatre, and dance); studies of inequality (class, race and gender studies); and other related areas. Articles published on research results and literature review with acceptable research methodologies, qualitative studies, quantitative studies, or a combination of both, statistical analysis, case studies, field research, and historical studies. JISH received manuscripts from various related circles, such as relevant researchers, professors, students, policy-makers, scientists, and others.
Articles 19 Documents
Search results for , issue "Vol 14 No 2 (2025)" : 19 Documents clear
Dinamika Kesenjangan Sosial di Perkotaan: Studi Kasus pada Komunitas Miskin di Makassar Tahir G, Muhammad; Tinri, M. Darwis Nur; Anas, Firdaus
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 14 No 2 (2025)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jish.v14i2.86657

Abstract

Kesenjangan sosial di kota besar, seperti Makassar, merupakan fenomena yang kompleks dan berlapis. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis faktor-faktor penyebab kesenjangan sosial serta dampaknya terhadap kualitas hidup kelompok miskin di Makassar. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi kasus terpadu, penelitian memanfaatkan wawancara mendalam, observasi partisipatif, focus group discussion, dan pemetaan partisipatif untuk mengumpulkan data komprehensif. Temuan utama penelitian menunjukkan tiga faktor penyebab kesenjangan sosial di Makassar: (1) ketidakmerataan akses pendidikan, dengan 82% keluarga di kawasan kumuh melaporkan kesulitan membiayai pendidikan dan tingkat putus sekolah mencapai 23% dibandingkan hanya 0,5% di kawasan elite; (2) terbatasnya kesempatan kerja, dengan 64% penduduk kawasan kumuh terperangkap dalam sektor informal berpendapatan rendah, sementara 78% lapangan kerja baru membutuhkan keterampilan yang tidak mereka miliki; dan (3) penyimpangan kebijakan sosial, dengan 47% program pengentasan kemiskinan tidak mencapai target dan 68% penduduk kawasan kumuh melaporkan tidak pernah dilibatkan dalam perencanaan pembangunan. Disparitas akses terhadap layanan kesehatan (87% di kawasan kumuh vs 8% di kawasan elite mengalami kesulitan akses) dan kesenjangan pendapatan bulanan (Rp1.200.000 di kawasan kumuh vs Rp18.500.000 di kawasan elite) semakin memperburuk kualitas hidup kelompok miskin. Penelitian ini merekomendasikan reformasi kebijakan yang lebih inklusif melalui integrasi spasial-sosial kawasan kumuh, pengembangan pendidikan berorientasi keterampilan lokal, implementasi kebijakan sosial partisipatif, dan strategi pengembangan ekonomi inklusif untuk mengurangi kesenjangan sosial di Makassar.
55 Tahun Perkembangan Gerakan Sosial melalui Feminisme : Refleksi dan Tren Utama Lutfiah, Riska Nofharina; Rahmawati, Dian Eka
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 14 No 2 (2025)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jish.v14i2.90884

Abstract

Penelitian ini menganalisis perkembangan literatur akademik bertema gerakan sosial dan feminism selama 55 tahun terakhir dengan pendekatan bibliometrik. Data diperoleh dari basis data Scopus menggunakan kata kunci social movement AND feminism, dengan filter bahasa Inggris, tipe dokumen artikel jurnal, dan tahap publikasi final. Dari 1.318 dokumen awal, sebanyak 776 artikel dianalisis menggunakan Biblioshiny (RStudio). Hasil menunjukkan puncak publikasi terjadi pada 2021, dengan subjek area dominan ilmu sosial. Namun, terdapat kesenjangan representasi geografis yang signifikan, di mana negara-negara Global North, Amerika Serikat, dan Inggris mendominasi, sementara kontribusi dari Global South sangat terbatas. Temuan kata kunci dominan seperti feminism, gender issues, dan social change memperlihatkan fokus pada isu kesetaraan, namun interseksional dan berbasis komunitas masih kurang dieksplorasi. Selain itu, literatur feminisme digital masih kurang terintegrasi dalam bidang ilmu terapan seperti teknologi informasi dan keperawatan. Studi ini menyoroti ketimpangan visibilitas pengetahuan akademik yang disebabkan oleh dominasi publikasi berbahasa Inggris dan struktur indeksasi global, serta merekomendasikan mengembangkan kajian feminisme digital yang lebih inklusif, interdisipliner, dan berakar pada epistemologi Global South.
Studi Bibliometrik Penelitian tentang Masyarakat Adat dalam Database Scopus 2015-2024: Menggunakan VOSviewer dan Publish or Perish (PoP) Mariani, Mariani; Hidayat, Dadang Rahmat; Rahmat, Agus
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 14 No 2 (2025)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jish.v14i2.91015

Abstract

Selama sepuluh tahun terakhir, telah terjadi peningkatan yang signifikan dalam penelitian tentang masyarakat adat. Berbagai bidang ilmu semakin memperhatikan masalah keberlanjutan hidup, hak-hak masyarakat adat, dan pelestarian budaya mereka. Tujuan dari artikel ini adalah untuk memeriksa perkembangan penelitian terkait masyarakat adat dari 2015 hingga 2024 dengan menggunakan pendekatan bibliometrik dan database Scopus. Sampel penelitian terdiri dari 1,906 artikel penelitian yang diterbitkan antara tahun 2015 dan 2024 dan terindeks di Scopus. Hasil analisis menunjukkan bahwa artikel ilmiah tentang masyarakat adat telah meningkat pesat, dengan artikel membentuk jenis dokumen yang paling banyak diindeks (73,5%). Dengan 37 publikasi, penulis Kanada adalah kontributor terbesar. Peningkatan yang signifikan dalam jumlah publikasi ini menunjukkan kesadaran yang meningkat terhadap masalah yang dihadapi masyarakat adat di seluruh dunia. Fokus penelitian saat ini adalah perubahan iklim, pengelolaan sumber daya alam, dan hak-hak masyarakat adat, dengan fokus pada kesehatan, sosial, dan budaya. Jumlah publikasi yang terus meningkat menunjukkan bahwa penelitian tambahan tentang masyarakat adat sangat penting, terutama dalam hal kesehatan mental, kebijakan publik, dan penanganan marginalisasi. Penyakit genetika dan dampak perubahan iklim terhadap masyarakat adat adalah contoh topik yang kurang dibahas, meskipun banyak penelitian telah dilakukan. Untuk menciptakan kebijakan yang lebih baik di masa depan, penelitian yang lebih menyeluruh, yang melibatkan kebijakan pemerintah dan perlindungan hak-hak masyarakat adat, masih sangat diperlukan. Ke depan, untuk meningkatkan kualitas penelitian tentang masyarakat adat, kolaborasi internasional, terutama dengan negara-negara yang mendominasi publikasi seperti Kanada dan Amerika Serikat, harus diperkuat.
Environmental Conflict and Human Rights: Indigenous Peoples' Struggle Against Land Exploitation in Papua Rimordiaz, Alexa; Suswanta, Suswanta
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 14 No 2 (2025)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jish.v14i2.91563

Abstract

Environmental conflict in Papua represents a complex intersection of land dispossession, ecological degradation, and the systemic violation of indigenous rights. While substantial research has addressed agrarian conflict in Papua, much of it remains concentrated on historical and structural dimensions particularly the legacy of colonialism in facilitating land exploitation. However, limited attention has been paid to how digital media frames these conflicts and the implications such portrayals have on public perception and the political agency of indigenous communities. This study fills that gap by analyzing how environmental conflicts in Papua are represented in online media and how these representations shape discourses around human rights and indigenous resistance. This research Using a qualitative content analysis, this research draws on secondary data from two major Indonesian news platforms, detik.com and kumparan.com, covering a specific period to ensure contextual relevance. The data comprising news reports, opinion pieces, and analytical articles were analyzed using NVivo 12 Plus to examine sentiment patterns, actor dynamics, and framing mechanisms. Social conflict theory and the principle of Free, Prior and Informed Consent (FPIC) were applied to interpret findings within a rights-based framework. Results reveal a dominant narrative centered on resource exploitation and indigenous opposition, with favorable framing of state and corporate actors and minimal attention given to indigenous perspectives. This framing bias obscures the structural roots of the conflict and undermines public understanding of its multidimensional nature. The study highlights the media’s dual role in shaping discourse and calls for more equitable communication strategies that affirm indigenous participatory rights within sustainable development agendas aligned with human rights and FPIC standards.
Collaborative Governance of the Tourism Potential Development in Merauke District Maturbongs, Edoardus E.; Lekatompessy, Ransta L.
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 14 No 2 (2025)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jish.v14i2.91755

Abstract

The development of tourism potential plays a crucial role in driving community economic growth while simultaneously serving as a means of preserving tourist attractions in accordance with local environmental conditions. This study focuses on policy formulation aimed at designing a collaborative governance model for tourism potential development in Merauke Regency. The research employs a qualitative approach, utilizing field observations, in-depth interviews, Focus Group Discussions (FGDs), and document studies to collect data. Data analysis follows a descriptive qualitative method based on the Miles and Huberman framework, which includes data reduction, data presentation, and conclusion drawing and verification to interpret the data and formulate  policy recommendations. The findings indicate that a collaborative model for tourism policy development in Merauke Regency effectively integrates Thomas R. Dye’s group formulation theory with the Pentahelix framework within Collaborative Governance. The five Pentahelix elements-government, business actors, academics, community, and media-function as active stakeholders in the formulation and implementation of policies. The resulting policies are participatory, equitable, and sustainable, characterized by a holistic and locally contextualized approach that maintains ecological, social, and economic balance, as well as transparency and accountability. This model effectively addresses the needs for inclusive tourism development oriented towards community welfare. Academically, this study contributes significantly to the advancement of collaborative governance theory in the tourism sector. Practically, its findings serve as a valuable guideline for stakeholders in designing and implementing sustainable, community-oriented tourism policies.
Determinan Sosio-Demografi Keputusan Migrasi Non-Permanen: Studi Empiris pada Pekerja di Jawa Timur Triwahyudianto, Triwahyudianto
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 14 No 2 (2025)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jish.v14i2.92134

Abstract

Migrasi non permanen menjadi fenomena yang krusial dalam dinamika ketenagakerjaan di Jawa Timur. Studi ini bertujuan untuk menganalisis pola migrasi non permanen pekerja di Jawa Timur berdasarkan daerah tujuan utama serta mengidentifikasi faktor-faktor sosio-demografi yang mempengaruhi keputusan pekerja untuk menjadi komuter atau migran sirkuler. Menggunakan data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2023 dan metode regresi logistik multinomial, penelitian ini menganalisis determinan migrasi non permanen pada pekerja di Jawa Timur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kota Surabaya merupakan tujuan utama pekerja komuter dan sirkuler diikuti oleh wilayah industri seperti Sidoarjo dan Gresik. Temuan juga mengindikasikan bahwa faktor usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, lokasi tempat tinggal, status kepala rumah tangga, serta jenis pekerjaan berpengaruh signifikan terhadap kecenderungan seseorang untuk bermigrasi secara non permanen. Pekerja formal dan mereka yang bekerja di sektor manufaktur lebih cenderung menjadi migran non permanen, sementara pekerja sektor pertanian memiliki kecenderungan lebih rendah untuk bermigrasi. Studi ini merekomendasikan kebijakan yang mendukung pengelolaan mobilitas tenaga kerja guna meningkatkan efisiensi pasar tenaga kerja serta kesejahteraan pekerja di Jawa Timur.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Komuter dan Migrasi Tenaga Kerja Sirkuler di Wilayah GERBANGKERTASUSILA Pratomo, Devanto Shasta; Yuniashri, Erlyn; Arisetyawan, Kukuh; Aminullah, Brillian Akbar; Natalia, Christiayu
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 14 No 2 (2025)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jish.v14i2.92247

Abstract

This study investigates the dynamics of labour migration in the Gerbangkertasusila (Greater Surabaya) region and identifies various factors influencing workers’ decisions to commute, migrate circularly, or permanently. Utilizing data from the 2023 National Labour Force Survey (SAKERNAS) and applying a multinomial logit model, the analysis addresses research gaps related to complex migratory patterns in rapidly urbanizing areas of Indonesia. The result suggested that individuals with higher education levels are significantly more likely to commute than to migrate permanently, while employment in the formal, service, and manufacturing sectors also increases the likelihood of commuting and circular migration. Married individuals are more inclined toward permanent migration, driven by a preference for family stability, whereas urban residents are less likely to engage in circular migration. These findings highlight  the need for targeted urban and labor policies that address mobility preferences based on education, sectoral employment, and household structure to ensure inclusive and balanced regional development. The study suggests that to support inclusive regional development, policymakers should invest in integrated transportation infrastructure, design mobility-support programs for circular migrants, and ensure gender-sensitive commuting systems. These measures will help manage urban growth and enhance equitable access to employment across the region.
Budaya Suku Laut Kepulauan Riau di Ambang Perubahan: Tantangan dan Harapan Haqi, Annisa Maulidina; Puryanti, Lina; Riyanto, Edi Dwi
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 14 No 2 (2025)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jish.v14i2.92281

Abstract

The Riau Archipelago, rich in marine biodiversity and cultural heritage, has long been home to the Orang Suku Laut, a nomadic maritime community deeply connected to their aquatic environment. This study explores the cultural transformations experienced by the Orang Suku Laut amid rapid modernization and industrialization, with particular attention to their traditional practices, environmental challenges, and strategies for resilience. Employing a qualitative approach grounded in cultural ecology theory, this research draws on extensive library-based data—including peer-reviewed journals, government reports, and ethnographic studies—to analyze the socio-cultural and ecological impacts of development on this indigenous community. Through thematic content analysis, the study reveals significant disruptions to cultural practices, reduced access to marine resources, and identity struggles in the face of urbanization. Nevertheless, the findings highlight opportunities for resilience through community-led heritage preservation, eco-tourism, and adaptive integration into modern governance. This study argues for development policies that uphold indigenous cultural integrity while promoting inclusive sustainability in maritime regions.
Segmentasi Wilayah melalui K-Means Cluster untuk Mencapai SDGs 5 “Kesetaraan Gender” Iswahyudi, Listyanala Eka; Rahmawati, Farida
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 14 No 2 (2025)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jish.v14i2.92647

Abstract

Kesetaraan gender merupakan isu global yang telah ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai salah satu tujuan dalam Sustainable Development Goals (SDGs). Sebagai provinsi dengan penduduk terbesar di Pulau Jawa, Jawa Barat menghadapi  permasalahan dalam mewujudkan pembangunan gender yang inklusif. Pemahaman mengenai pola pembangunan gender perlu dikaji untuk merancang kebijakan pembangunan yang tepat sasaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengelompokkan Provinsi Jawa Barat berdasarkan indikator Indeks Pembangunan Gender (IPG) dan mengetahui pemetaan karakteristik masing-masing cluster yang dianalisis berdasarkan nilai tertinggi dan terendah dari indikator IPG di 27 kabupaten/kota Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan teknik analisis K-means cluster, dimana data akan dikelompokkan ke dalam beberapa cluster berdasarkan karakteristik yang sama. Penelitian ini menghasilkan cluster 1 dengan 14 kabupaten yang berada pada kategori rendah pada semua indikator IPG, cluster 2 dengan 4 kota yang berada pada kategori tinggi pada semua indikator IPG, dan cluster 3 dengan 9 kabupaten/kota yang berada pada kategori sedang. Capaian pembangunan gender menunjukkan kategori tinggi di daerah perkotaan, terutama Bandung, Bekasi, Depok, dan Cimahi. Sebaliknya sebagian besar wilayah administratif kabupaten di Jawa Barat berada pada kategori rendah. Diperlukan upaya pemerintah untuk meningkatkan program pembangunan pada aspek pendidikan, kesehatan, dan kualitas hidup masyarakat, terutama pada cluster 1 untuk mendorong capaian indeks pembangunan gender provinsi.
Supporting Young Digital Workers: Acknowledging the Real Vulnerabilities of Gig Work in Today’s Marketplace System Rahmah, Hilda; Purna, Fitra Prasapawidya; Sjafiie, Sri Syamsiyah Lestari; Pamungkas, Yoma Bagus
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 14 No 2 (2025)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jish.v14i2.92899

Abstract

This study aims to explore the vulnerabilities faced by young digital workers in the marketplace and see how these young workers cope with the increasingly complex challenges of partnership-based work. The growth of the freelance economy has presented new challenges for young workers in Indonesia. These vulnerabilities arise from the partnership-based work system, which frees companies from the obligation to pay workers the regional minimum wage, ensure occupational safety and health, or provide overtime compensation. The freelance economy has resulted in job creation through platforms that   work flexibility, making freelance work attractive to young individuals seeking flexible work. This study uses an ethnography method to explore the community of young digital workers using a partnership system in the marketplace. Data in the study were obtained through virtual interviews and observations of young people’s work activities in the marketplace. The research findings reveal that the flexibility offered by the platform work system presents a paradox of vulnerability. On the one hand, workers value the freedom to work without time constraints. However, on the other hand, they simultaneously struggle with uncertain working conditions, including low wages, social discrimination, and lack of job security. This vulnerability makes them aware and encourages them to seek social support by joining telegram or WhatsApp courier groups, freelance live streamer communities, creative worker forums and doing double jobs without the platform’s knowledge. Furthermore, they create daily tactics by exploiting loopholes in the bonus or incentive system, such as accepting fictitious orders and splitting accounts. Vulnerability makes them a more preventive risk society. Furthermore, this action is a daily political practice that represents silent resistance as an effort to resist platform dominance.

Page 1 of 2 | Total Record : 19