cover
Contact Name
Tri Wardhani
Contact Email
twd@widyagama.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
agrika@widyagama.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
AGRIKA
Published by Universitas Widyagama
ISSN : 19075871     EISSN : 25416529     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Agrika mempublikasikan hasil-hasil penelitian dalam bidang ilmu pertanian meliputi penelitian di bidang budidaya pertanian, agrobisnis dan teknologi pengolahan hasil pertanian, juga menginformasikan berbagai paket teknologi, ulasan ilmiah, komunikasi singkat dan informasi pertanian.
Arjuna Subject : -
Articles 258 Documents
EFIKASI FORMULASI Trichoderma TERHADAP LAYU Fusarium PADA TANAMAN TOMAT Satrio Hanif Haryawan; Arika Purnawati; Herry Nirwanto
Agrika Vol. 20 No. 1 (2026): MEI 2026
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/ja.v20i1.7645

Abstract

Penyakit layu Fusarium yang disebabkan oleh Fusarium oxysporum merupakan kendala utama dalam budidaya tomat karena dapat menurunkan pertumbuhan dan hasil secara signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efikasi berbagai formulasi Trichoderma sp. dengan volume inokulasi berbeda dalam mengendalikan layu Fusarium pada tanaman tomat. Metode yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) faktorial.  Faktor pertama adalah jenis formulasi (air kelapa, ekstrak kentang gula, dan rendaman kedelai) dan faktor kedua Adalah volume inokulasi (15 ml dan 25 ml), serta kontrol. Parameter yang diamati meliputi kerapatan spora Trichoderma sp., masa inkubasi penyakit, intensitas serangan, dan tinggi tanaman. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa faktor formulasi dan volume inokulasi memberikan pengaruh nyata terhadap seluruh parameter, tetapi interaksi antara keduanya hanya ditemukan nyata pada parameter intensitas serangan di akhir pengamatan. Formulasi rendaman kedelai menghasilkan kerapatan spora tertinggi dan masa inkubasi penyakit terlama (15 hari). Kombinasi formulasi rendaman kedelai dengan volume inokulasi 25 ml merupakan perlakuan paling efektif dalam menekan intensitas serangan penyakit. Sementara itu, pertumbuhan tinggi tanaman tomat terbaik dicapai pada penggunaan formulasi air kelapa dan volume inokulasi 25 ml. Formulasi Trichoderma sp. berbasis bahan organik lokal berpotensi dikembangkan sebagai biofungisida ramah lingkungan untuk pengendalian layu Fusarium.
RESPON PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN SORGUM (Sorghum bicolor L.) TERHADAP Dried Decanter Solid (LIMBAH PADAT KELAPA SAWIT) DAN POC BONGGOL PISANG Devi Syafitri; Syamsul Bahri; Ainul Mardiyah
Agrika Vol. 20 No. 1 (2026): MEI 2026
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/ja.v20i1.7646

Abstract

Sorgum (Shorgum bicolor L.) merupakan tanaman serealia potensial yang dapat dikembangkan sebagai sumber pangan alternatif, pakan ternak, serta bahan baku industri karena memiliki kandungan nutrisi tinggi, toleran terhadap kekeringan, dan mampu tumbuh pada lahan marginal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon pertumbuhan dan hasil tanaman sorgum terhadap pemberian dried decanter solid (limbah padat kelapa sawit) dan POC bonggol pisang serta interaksi antara kombinasi perlakuan tersebut. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari-Mei 2025 di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian, Universitas Samudra. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) faktorial dengan 2 faktor, yakni dried decanter solid (D) yang terdiri dari 4 taraf, yaitu D0 = 0 kg/plot (kontrol), D1 = 2 kg/plot, D2 = 4 kg/plot, dan D3 = 6 kg/plot, serta faktor POC bonggol pisang (P) yang terdiri dari 3 taraf, yaitu P1 = 80 ml/liter/plot, P2 = 120 ml/liter/plot, dan P3 = 160 ml/liter/plot. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antara dried decanter solid dan POC bonggol pisang berpengaruh tidak nyata pada semua parameter pengamatan. Faktor tunggal pemberian dried decanter solid berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman umur 14 dan 56 HST serta jumlah daun umur 14 HST, tetapi berpengaruh tidak nyata terhadap parameter lainnya., hasil terbaik diperoleh pada perlakuan D0 = 0 kg/plot. Pemberian POC bonggol pisang berpengaruh sangat nyata terhadap berat 1000 biji kering, dan hasil terbaik diperoleh pada perlakuan P2 = 120 ml/liter/plot.
PENGARUH JENIS PLANLET DAN APLIKASI PACLOBUTRAZOL TERHADAP PERTUMBUHAN KRISAN (Chrysanthemum morifolium) DI DATARAN RENDAH Berlian Rasul; Afifatun Nisa; Mahrus Ali; Nurul Huda; Yeni Ika Pratiwi; Nurlina Nurlina
Agrika Vol. 20 No. 1 (2026): MEI 2026
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/ja.v20i1.7647

Abstract

Produksi krisan di Indonesia mengalami fluktuasi dan sebagian besar masih bergantung pada budidaya di dataran tinggi, sementara keterbatasan lahan dan perubahan iklim mendorong perlunya pengembangan budidaya di dataran rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis planlet dan waktu aplikasi paclobutrazol terhadap pertumbuhan tanaman krisan (Chrysanthemum morifolium) di dataran rendah. Penelitian dilaksanakan di screen house di Surabaya pada bulan Maret–Juni 2024 menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) faktorial dengan dua faktor. Faktor pertama adalah jenis planlet (planlet utuh, planlet pucuk, dan planlet batang berakar) dan faktor kedua waktu aplikasi paclobutrazol (7, 14, dan 21 hari setelah aklimatisasi). Setiap kombinasi perlakuan diulang tiga kali sehingga diperoleh 27 satuan percobaan, dan data dianalisis menggunakan sidik ragam (anova) yang dilanjutkan dengan uji BNJ 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antara jenis planlet dan waktu aplikasi paclobutrazol tidak menunjukkan pengaruh nyata terhadap semua parameter yang diamati. Perlakuan tunggal jenis planlet berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman dan jumlah daun, di mana planlet utuh dan planlet pucuk menghasilkan tanaman paling tinggi dan jumlah daun terbanyak. Planlet batang berakar memiliki tanaman paling rendah. Perlakuan tunggal waktu aplikasi paklobutrazol berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman dan jumlah daun pada umur 4–7 minggu setelah tanam, dengan waktu aplikasi terbaik diperoleh pada 7 hari setelah aklimatisasi.
REKOMENDASI PEMUPUKAN UNTUK PERKEBUNAN KELAPA SAWIT RAKYAT DI KABUPATEN LABUHAN BATU Heru Fadli Sagala; Zulkifli Nasution; Rahmawaty Rahmawaty
Agrika Vol. 20 No. 1 (2026): MEI 2026
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/ja.v20i1.7648

Abstract

Permasalahan pemupukan pada kelapa sawit umumnya disebabkan oleh variasi kebutuhan hara yang dipengaruhi oleh jenis tanah, varietas, dan umur tanaman. Idealnya pemupukan dilakukan secara spesifik lokasi, tetapi keterbatasan sumber daya dan kapasitas petani menjadi kendala utama. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kebutuhan pupuk berdasarkan status hara makro tanah pada perkebunan kelapa sawit rakyat di Kabupaten Labuhan Batu. Penelitian dilaksanakan melalui metode survei dengan observasi lapangan dan pengambilan sampel tanah secara purposive sampling. Analisis tanah dilakukan di Laboratorium Tanah Universitas Sumatera Utara pada Januari hingga September 2024. Parameter yang diamati meliputi pH tanah, C-organik, N-total, P-tersedia, K-total, Mg, dan Ca. Hasil penelitian menunjukkan adanya variasi kandungan unsur hara antar desa. Desa Pangkatan memiliki kandungan N, P, dan K yang relatif lebih tinggi dibandingkan desa lainnya, sedangkan Desa Tebing Lingga Lama dan Kampung Padang menunjukkan kandungan hara yang lebih rendah. Sementara itu, kandungan Ca dan Mg relatif seragam, yang mengindikasikan kondisi kejenuhan basa yang tidak berbeda nyata antar lokasi. Variasi kandungan N, P, dan K mencerminkan perbedaan status kesuburan tanah dan potensi ketersediaan hara bagi tanaman kelapa sawit di setiap lokasi. Berdasarkan hasil tersebut, pengelolaan hara pada perkebunan kelapa sawit rakyat di Kabupaten Labuhan Batu sebaiknya menerapkan pendekatan spesifik lokasi, seperti metode Muhali, untuk meningkatkan efisiensi pemupukan dan keberlanjutan pengelolaan tanah.
PENGARUH BERBAGAI POC CAMPURAN DAUN KELOR (Moringa oleifera) DAN AIR KELAPA (Cocos nucifera, L.) TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN SAWI HIJAU (Brassica rapa var. parachinensis) Armed Armed; Elik Murni Ningtias NIngsih; Tri Wardhani; Toto Suharjanto
Agrika Vol. 20 No. 1 (2026): MEI 2026
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/ja.v20i1.7654

Abstract

Tanaman sawi hijau (Brassica rapa var. parachinensis) adalah komoditas sayuran yang banyak dikonsumsi.  Ketergantungan pada pemakaian pupuk kimia dengan kenaikan harga pupuk menjadi penyebab turunnya produktivitas tanaman sawi. Pemakaian pupuk organik dapat menjadi alternatif untuk meningkatkan hasil tanaman sawi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pupuk organik cair (POC) campuran daun kelor (Moringa oleifera) dan air kelapa (Cocos nucifera, L.) terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman sawi hijau. Penelitian dilaksanakan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) faktor tunggal terdiri dari  lima taraf konsentrasi POC yaitu K0 (kontrol), K1 (50%), K2 (60%), K3 (70%), dan K4 (80%) dengan empat ulangan.  Analisa data menggunakan analisa of variance. Jika perlakuan menunjukkan pengaruh nyata dilanjutkan dengan kontras orthogonal. Variabel pengamatan terdiri dari panjang tanaman, jumlah daun, luas daun dan hasil tanaman pada parameter luas daun, bobot segar, dan bobot kering. Hasil penelitian menunjukkan bahwa POC campuran kelor+air kelapa meningkatkan panjang tanaman sejak 14 HST dan berdampak nyata pada luas daun, berat segar, dan berat kering pada 28 HST. Konsentrasi POC daun kelor+air kelapa 70% dapat meningkatkan pertumbuhan vegetatif dan hasil sawi hijau. Perlakuan K3 (70%) adalah konsentrasi optimal dengan hasil agronomis tertinggi, dengan luas daun 664.88 cm2, berat segar 64.46 g, dan berat kering 9.20 g.
KAJIAN HUBUNGAN KARAKTERISTIK MORFOLOGI DENGAN PRODUKSI TANAMAN STROBERI (Fragaria spp.) Yuni Agung Nugroho; Elik Murni Ningtias Ningsih; Mayrini Dwi Kusuma; Ririen Prihandarini
Agrika Vol. 20 No. 1 (2026): MEI 2026
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/ja.v20i1.7658

Abstract

Penelitian ini mengkaji hubungan antara karakteristik morfologi dan hasil pada tanaman stroberi (Fragaria spp.), dengan fokus pada varietas lokal di Indonesia. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi ciri morfologi kunci yang secara nyata berkontribusi terhadap produksi buah. Dengan menggunakan analisis partial least squares (PLS), penelitian ini menunjukkan bahwa ciri seperti jumlah daun dan jumlah buah memainkan peran penting dalam menentukan jumlah buah/tanaman, diameter buah, dan kadar gula buah stroberi. Hasil analisis menunjukkan bahwa dari dua belas hubungan antarvariabel yang diuji, enam hubungan terbukti nyata secara statistik pada taraf nyata 5%. Jumlah buah/tanaman berpengaruh negatif nyata terhadap diameter buah, tetapi berpengaruh positif nyata terhadap kadar gula buah. Jumlah daun berpengaruh negatif nyata terhadap bobot buah/tanaman, diameter buah, dan jumlah buah/tanaman. Selain itu, panjang tanaman berpengaruh positif nyata terhadap jumlah buah/tanaman. Sementara itu, hubungan antara bobot buah/tanaman terhadap diameter buah dan kadar gula buah, diameter buah terhadap kadar gula buah, serta pengaruh langsung panjang tanaman terhadap bobot buah, jumlah daun, dan kadar gula buah tidak nyata. Temuan ini menunjukkan bahwa jumlah buah/tanaman dan jumlah daun merupakan variabel penting yang mempengaruhi karakter hasil dan kualitas buah. Secara umum, model PLS menunjukkan adanya hubungan struktural yang kompleks antara pertumbuhan vegetatif dan karakter buah, terutama berkaitan dengan kompetisi sumber daya dalam pembentukan ukuran dan mutu buah.
RESPON MULTI-SKALA DAN AMBANG OPTIMAL CURAH HUJAN TERHADAP PRODUKSI KELAPA SAWIT PADA LAHAN GAMBUT SUMATERA SELATAN, INDONESIA Zuhri Multazam; Bagas Saputra; Ias Marroha Doli Siregar; Christian Yosua Salomo Aritonang; J. Junainah
Agrika Vol. 20 No. 1 (2026): MEI 2026
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/ja.v20i1.7659

Abstract

Produktivitas kelapa sawit pada lahan gambut sangat dipengaruhi oleh variabilitas curah hujan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis respon multi-skala curah hujan terhadap produksi kelapa sawit dan menentukan ambang optimal curah hujan pada lahan gambut di PT. Cahya Vidi Abadi, Sumatera Selatan. Data yang digunakan berupa curah hujan dan produksi bulanan selama periode 2013-2024. Analisis dilakukan untuk mengidentifikasi pola temporal, efek waktu tunda (lag), serta kisaran ambang curah hujan yang mempengaruhi produksi. Hasil menunjukkan bahwa respon produksi bersifat non-linear dan bergantung pada fase, di mana rata-rata curah hujan bulanan memberikan efek negatif kuat pada lag pendek (lag 3; r=-0.61) dan beralih positif pada lag menengah (lag 7; r=0.55). Analisis distribusi menunjukkan zona optimal curah hujan secara konsisten pada rentang 140-270 mm/bulan, dengan interval kepercayaan 95% terkonsentrasi pada kisaran 200-260 mm/bulan (zona defisit <140 mm/bulan dan zona berlebih >270 mm/bulan). Pendekatan probabilistik menunjukkan bahwa pada produksi tinggi (P>50) memiliki proporsi terbesar 47.1% terjadi pada zona optimal, sementara pada produksi rendah (P<50) didominasi zona defisit sebesar 48.5%. Pada kondisi produksi sangat rendah ekstrem (P<25), zona defisit mendominasi sebanyak 59.4% kejadian, sedangkan pada produksi tertinggi (P>75) zona optimal paling dominan (44.4%) dari zona lainnya. Zona berlebih memungkinkan produksi lebih tinggi, tetapi dengan kestabilan yang lebih rendah dibandingkan zona optimal. Analisis odds ratio menunjukkan bahwa peluang produksi tinggi pada zona optimal sekitar 2.2-5.6 kali lebih besar banding zona defisit. Temuan ini memberikan dasar kuantitatif untuk pengelolaan air berbasis ambang curah hujan serta mendukung strategi adaptif pada lahan gambut dalam menghadapi variabilitas iklim yang semakin meningkat.
PEMANFAATAN SINERGIS ABU JANJANG KOSONG DAN BIOCHAR ARANG SEKAM PADI SEBAGAI MEDIA TANAM BIBIT KELAPA SAWIT PADA PEMBIBITAN AWAL Dwika Karima Wardani; Maya Sari Marbun
Agrika Vol. 20 No. 1 (2026): MEI 2026
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/ja.v20i1.7669

Abstract

Media tanam pada pembibitan kelapa sawit umumnya adalah tanah alluvial atau latosol. Tanah-tanah tersebut sering memiliki keterbatasan, karena kandungan unsur hara yang rendah, pH masam, serta kapasitas tukar kation yang terbatas. Di sisi lain, abu janjang kosong kelapa sawit merupakan limbah padat hasil pembakaran tandan kosong kelapa sawit (TKKS) yang dihasilkan dalam jumlah besar oleh industri pengolahan kelapa sawit. Limbah ini berpotensi besar sebagai pembenah tanah dan media tanam. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh interaksi abu janjang kosong kelapa sawit dan biochar arang sekam padi terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) pada fase pembibitan awal. Penelitian dilaksanakan bulan Mei-Agustus 2025 di lahan percobaan Fakultas Pertanian Universitas Medan Area. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) faktorial dengan dua faktor, yaitu dosis abu janjang kosong kelapa sawit dan dosis biochar arang sekam padi. Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, dan panjang akar pada umur 5-12 minggu setelah tanam (MST). Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa interaksi antara abu janjang kosong kelapa sawit dan biochar arang sekam padi berpengaruh nyata terhadap jumlah daun pada umur 9 MST, sedangkan pada parameter lainnya tidak menunjukkan pengaruh nyata. Kombinasi perlakuan A0B1 dan A1B0 menghasilkan jumlah daun tertinggi, yaitu 5.00 helai. Perlakuan abu janjang kosong kelapa sawit secara tunggal berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman dan jumlah daun, sedangkan biochar arang sekam padi secara tunggal tidak berpengaruh nyata terhadap seluruh parameter pengamatan.