cover
Contact Name
Tri Wardhani
Contact Email
twd@widyagama.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
agrika@widyagama.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
AGRIKA
Published by Universitas Widyagama
ISSN : 19075871     EISSN : 25416529     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Agrika mempublikasikan hasil-hasil penelitian dalam bidang ilmu pertanian meliputi penelitian di bidang budidaya pertanian, agrobisnis dan teknologi pengolahan hasil pertanian, juga menginformasikan berbagai paket teknologi, ulasan ilmiah, komunikasi singkat dan informasi pertanian.
Arjuna Subject : -
Articles 236 Documents
PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN BAYAM MERAH (Amaranthus tricolor L.) PADA SISTEM AEROPONIK DENGAN PERLAKUAN ARAH PENANAMAN DAN JUMLAH TANAMAN/LUBANG Firmansyah, Muhammad Farhan; Suhardjono, Hadi; Suryandika, Fadila
Agrika Vol. 19 No. 1 (2025): MEI 2025
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/ja.v19i1.6712

Abstract

Bayam merah adalah sayuran populer di Indonesia terutama di perkotaan, tetapi keterbatasan lahan akibat urbanisasi menjadi tantangan. Sistem aeroponik vertikal heksagonal memiliki struktur seperti tower berbentuk segi enam yang dapat meningkatkan produksi di lahan sempit. Kelemahannya adalah struktur tersebut mengakibatkan distribusi cahaya kurang merata. Tujuan penelitian ini untuk mengevaluasi apakah terdapat pengaruh arah penanaman serta menentukan populasi tanam optimal untuk meningkatkan produksi bayam merah. Penelitian dilakukan dengan percobaan faktorial menggunakan metode rancangan petak terbagi (RPT) dengan dua faktor perlakuan. Faktor pertama (main plot) adalah arah penanaman yang terdiri atas 6 taraf yaitu A1 (Timur), A2 (Timur Laut), A3 (Barat Laut), A4 (Barat), A5 (Barat Daya), A6 (Tenggara). Faktor kedua (sub plot) adalah jumlah populasi/lubang tanam yang terdiri atas 3 taraf yaitu P1 (2 tanaman/lubang) P2 (4 tanaman/lubang), dan P3 (6 tanaman/lubang). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kombinasi perlakuan A1P2 (Timur dan 4 tanaman/lubang) menghasilkan total berat segar/lubang terberat, sementara A1P1 (Timur dan 2 tanaman/lubang) memberikan hasil terbaik untuk jumlah daun, panjang akar, rata-rata berat segar, dan berat kering.  
POTENSI FORMULASI BIOFUNGISIDA Bacillus sp. (Bth-22) DAN Streptomyces sp. (TMP) TERHADAP PERKECAMBAHAN BENIH JAGUNG Maharani, Salsabilla Diva; Purnawati, Arika; Suryaminarsih, Penta
Agrika Vol. 19 No. 1 (2025): MEI 2025
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/ja.v19i1.6754

Abstract

Jagung (Zea mays) adalah salah satu tanaman pangan utama yang memiliki peran penting dalam ketahanan pangan global. Fusarium sp. merupakan patogen tanah yang sering ditemukan pada lahan jagung dan dapat mengganggu perkecambahan dan pertumbuhan tanaman jagung. Penggunaan bakteri Bacillus sp. dan Streptomyces sp. sebagai bahan aktif biofungisida dapat meningkatkan persentase perkecambahan benih dan pertumbuhan tanaman jagung yang terserang patogen Fusarium sp.. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis media dan potensi formulasi biofungisida dengan bahan aktif Bacillus sp. dan Streptomyces sp. dalam menunjang perkecambahan dan pertumbuhan tanaman jagung. Penelitian dilakukan dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua faktor. Faktor pertama yakni media produksi bakteri: K: Air rebusan kedelai, E: Estrak Kentang Gula (EKG), dan A: Air kelapa. Faktor kedua adalah perbandingan formulasi Bacillus sp. dan Streptomyces sp. yang terdiri atas 4 taraf yaitu BS0 (0:0), BS1 (3:3), BS2 (2:4), dan BS3 (1:5). Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat interaksi antara kedua faktor perlakuan. Perlakuan BS2 merupakan perlakuan terbaik yang memberikan presentase perkecambahan sebesar 82%, hari berkecambah 3.64 HST, jumlah daun pada 35 HST sebanyak 5.7 helai dan 62.8 cm.
PERBEDAAN KERAPATAN MANGSA TERHADAP PERILAKU DAN KEMAMPUAN PEMANGSAAN Sycanus annulicornis Dohrn. (Hemiptera: Reduviidae) Batubara, Junianto S.; Nasution, Riska Romaito; Pani, Mario; Tuti, Harlina Kusuma
Agrika Vol. 19 No. 1 (2025): MEI 2025
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/ja.v19i1.6843

Abstract

ABSTRAK Pengendalian hayati merupakan alternatif yang efektif untuk mengurangi dampak negatif penggunaan pestisida sintetis, seperti resistensi hama, resurgensi, munculnya hama sekunder, pencemaran lingkungan, residu pada produk pertanian, dan risiko terhadap kesehatan manusia. Salah satu agen pengendalian hayati yang potensial adalah Sycanus annulicornis (Hemiptera: Reduviidae), predator polifagus yang mampu memangsa berbagai jenis hama defoliator. Penelitian ini dilakukan untuk mempelajari lama pencarian dan penanganan mangsa oleh S. annulicornis terhadap Spodoptera frugiperda, serta menganalisis kemampuan pemangsaan predator ini pada kerapatan mangsa yang berbeda. Metode yang digunakan melibatkan pengamatan terhadap perilaku pemangsaan S. annulicornis pada kerapatan mangsa 5, 10, dan 15 ekor S. frugiperda. Parameter yang diamati meliputi waktu pencarian mangsa pertama dan kedua, waktu penanganan mangsa, serta jumlah mangsa yang dimangsa setelah 1, 3, dan 6 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerapatan mangsa berpengaruh signifikan terhadap kemampuan predasi S. annulicornis. Semakin tinggi kerapatan mangsa, semakin cepat waktu pencarian dan semakin tinggi jumlah mangsa yang dimangsa. Pada kerapatan 5 dan 15 ekor, waktu pencarian mangsa pertama masing-masing adalah 7 dan 3 menit, fenomena serupa juga terjadi pada pencarian mangsa kedua.
EFEKTIVITAS APLIKASI BERBAGAI Trichoderma sp. PADA FASE VEGETATIF TANAMAN CABAI (Capsicum annum L.) Panjaitan, Iman; nurhajijah, nurhajijah; Iskandar, Nur Liayana
Agrika Vol. 19 No. 1 (2025): MEI 2025
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/ja.v19i1.6845

Abstract

ABSTRAK Cabai (Capsicum annum L.) merupakan tanaman hortikultura yang penting dalam sektor pertanian dan ekonomi, terutama di negara beriklim tropis seperti indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh berbagai jenis Trichoderma sp. terhadap pertumbuhan awal tanaman cabai (Capsicum annum L.), khususnya pada fase perkecambahan dan vegetatif awal. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) non-faktorial dengan 6 perlakuan dan 3 ulangan, yaitu T1 (Trichoderma sp asperellum), T2 (Trichoderma sp konigi), T3 (Trichoderma sp asperellum inokulum), T4 (Trichoderma sp virens inokulum), T5 (karboksimetil selulosa 0.1%) dan T6 (kontrol). Pemberian Trichoderma sp. memberikan pengaruh positif terhadap persentase perkecambahan, panjang akar dan panjang tunas tanaman cabai. Trichoderma asperellum inoculum (T3) dan Trichoderma virens inoculum (T4) merupakan perlakuan terbaik pada persentase perkecambahan dan pertumbuhan panjang tunas tanaman cabai dibandingkan jenis Trichoderma sp lainnya.
PENGARUH BAGIAN ASAL STEK BATANG DAN ZAT PENGATUR TUMBUH KECAMBAH KACANG HIJAU TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT SAMBUNG NYAWA (Gynura procumbens (Lorr.) Merr Ardiansyah, Mohamad Yusuf; Ningsih, Elik Murni Ningtias; Nugroho, Yuni Agung; Wardhani, Tri
Agrika Vol. 19 No. 1 (2025): MEI 2025
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/ja.v19i1.7066

Abstract

Tanaman sambung nyawa (Gynura procumbens (Lor.) Merr) dikenal sebagai tanaman obat yang memberi manfaat bagi kesehatan karena daunnya mengandung senyawa bioaktif seperti saponin, flavonoid, dan terpenoid. Penelitian ini berfokus pada pengaruh bagian asal stek batang tanaman sambung nyawa yang paling baik untuk bahan stek dengan zat pengatur tumbuh kecambah kacang hijau dan. Desain percobaan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) faktorial dengan 2 faktor. Faktor pertama adalah bagian asal bahan stek terdiri dari B1: bagian pucuk; B2: bagian tengah; dan B3: bagian bawah. Faktor kedua yaitu dosis ZPT kecambah kacang hijau yang terdiri dari: P0: tanpa perlakuan; P1: konsentrasi ZPT 125 ml/500ml air; P2: konsentrasi ZPT 250 ml/500ml air; P3: konsentrasi ZPT 375 ml/500ml air. Data hasil pengamatan dianalisis menggunakan uji F, jika terdapat pengaruh perlakuan yang nyata dilakukan uji BNJ taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Terdapat pengaruh nyata antara bagian asal stek batang dan ZPT alami kecambah kacang hijau terhadap waktu inisiasi tunas dan panjang akar bibit tanaman sambung nyawa. Perlakuan terbaik untuk waktu inisiasi tunas bibit tanaman sambung nyawa yang tercepat adalah bagian asal stek tengah dengan konsentrasi ZPT 375ml/500ml (B2P3), dan perlakuan terbaik akar bibit tanaman sambung nyawa terpanjang adalah perlakuan bagian asal stek atas dengan konsentrasi ZPT 375/ml/500ml air (B1P3) dan perlakuan stek bagian batang bawah dengan konsentrasi ZPT 250 ml/500ml air (B3P2).
PEMBERIAN PUPUK ORGANIK DAN KALSIUM NITRAT TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KUALITAS BUNGA POTONG KRISAN (Chrysanthemum sp.) Aminullah, Mukhammad; Nugroho, Yuni Agung; Suharjanto, Toto; Prihandarini, Ririen
Agrika Vol. 19 No. 1 (2025): MEI 2025
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/ja.v19i1.7067

Abstract

Tanaman krisan menjadi salah satu tanaman yang paling banyak diproduksi karena lebih dari setengah produksi tanaman hias di Indonesia berasal dari tanaman krisan. Budidaya tanaman krisan dilakukan secara monokultur dan berulang-ulang dalam setiap periode tanam yang mengakibatkan unsur hara yang terkandung dalam tanah menjadi berkurang. Perlu ada upaya penambahan unsur hara agar pertumbuhan tanaman seragam dan bunga yang berkualitas. Unsur hara yang diberikan dapat berupa pupuk organik dan pupuk anorganik. Bahan organik yang digunakan salah satunya adalah pupuk kandang sapi. Sementara itu, pupuk sintetis yang diberikan umumnya pupuk majemuk yang mengandung unsur N, P, K dan mikro lainnya. Pupuk kalsium nitrat digolongkan sebagai pupuk tambahan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk organik dan pupuk kalsium nitrat terhadap pertumbuhan dan kualitas bunga potong tanaman krisan. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 1 kontrol dan 9 perlakuan kombinasi dan setiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Data hasil penelitian dianalisis dengan uji F, apabila terdapat perbedaan maka dilanjutkan dengan uji lanjut BNJ dengan taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi yang nyata antara perlakuan pupuk kandang sapi dengan pupuk kalsium nitrat terhadap jumlah daun tanaman krisan, dan ketahanan bunga potong. Perlakuan terbaik adalah kombinasi perlakuan P3H2 (pupuk kandang sapi 20 ton/ha & pupuk kalsium nitrat 10 g/l) yang memiliki jumlah daun terbanyak (14.9 helai) pada 28 HST, ketahanan bunga potong selama 13.3 hari dan memiliki kualitas bunga grade A.
PENGARUH INSEKTISIDA NABATI DAN TEKNIK APLIKASI TERHADAP MORTALITAS HAMA ULAT GRAYAK (Spodoptera frugiperda J.E. Smith) Ardiansyah, Ardiansyah; Mulyani, Cut; ., Rosmaiti
Agrika Vol. 19 No. 2 (2025): NOVEMBER 2025
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/ja.v19i2.6607

Abstract

Ulat grayak (Spodoptera frugiperda J.E. Smith) dapat menyebabkan penurunan hasil yang signifikan jika tidak ditangani dengan segera dan tepat. Pengendalian hama S. frugiperda dapat dilakukan menggunakan senyawa kimia alami dari tumbuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh insektisida nabati dan teknik aplikasi terhadap larva ulat grayak. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap faktorial (RAL) yang terdiri dari 2 faktor yaitu jenis insektisida nabati dan teknik aplikasi. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis varians (Anova), kemudian dilanjutkan dengan Uji Duncan (DMRT) dengan taraf 5%. Hasil menunjukkan bahwa interaksi jenis insektisida nabati dan teknik aplikasi berpengaruh nyata pada  pengamatan 1 HSA dan berpengaruh sangat nyata pada  pangamatan 2 HSA terhadap persentase mortalitas larva S. frugiperda tetapi tidak berpengaruh nyata pada  pengamatan 3, 4 dan 5 HSA. Hasil terbaik diperoleh pada  perlakuan ekstrak kombinasi daun pepaya dan bawang putih dengan teknik aplikasi pakan direndam (I3A2). Perlakuan jenis insektida nabati berpengaruh sangat nyata terhadap persentase pupa yang terbentuk dan persentase imago yang muncul. Perlakuan terbaik jenis insektisida nabati adalah daun pepaya dan bawang putih (I3) yang mampu membunuh larva S. frugiperda sebesar 100%. Perlakuan teknik aplikasi terbaik adalah pakan direndam (A2) yang mampu menekan 75% mortalitas larva S. frugiperda.
PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN SELADA (Lactuca sativa L.) DENGAN SISTEM AEROPONIK VERTIKAL HEKSAGONAL PADA BERBAGAI INTERVAL WAKTU PENYIRAMAN Wibisono, Ari; Suhardjono, Hadi; Suryandika, Fadila
Agrika Vol. 19 No. 2 (2025): NOVEMBER 2025
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/ja.v19i2.6808

Abstract

Aeroponik merupakan salah satu teknologi pada budidaya  secara urban farming. Tanaman selada (Lactuca sativa L.) merupakan salah satu jenis tanaman sayuran yang sangat cocok dibudidayakan menggunakan sistem aeroponik. Sistem aeroponik yang tepat juga dapat mendukung pertumbuhan dan hasil tanaman selada. Sistem aeroponik juga memiliki faktor penting yaitu interval waktu penyemprotan. Pada tanaman selada, interval waktu penyemprotan yang jaraknya terlalu singkat dapat menyebabkan akar tanaman menjadi busuk karena terkena larutan nutrisi dalam waktu yang lama. Sebaliknya, interval waktu penyemprotan yang jaraknya terlalu lama dapat menyebabkan tanaman kekurangan air dan nutrisi, sehingga pertumbuhannya terhambat. Oleh karena itu penelitian yang mengkaji interval waktu penyemprotan pada model instalasi aeroponik vertikal heksagonal perlu dilakukan. Penelitian dilaksanakan di Greenhouse Fakultas Pertanian UPN “Veteran” Jawa Timur, Kecamatan Gunung Anyar, Kota Surabaya. Perlakuan diaplikasin menggunakan pompa yang diatur interval waktu semprotnya. Waktu penyemprotan terdiri dari 3 macam waktu yaitu I1: menyala selama 24 jam (non Stop); I2: 5 menit menyala (on), 5 menit mati (off); I3: 5 menit menyala (on), 10 menit mati (off). Hasil penelitian menunjukkan Perlakuan interval waktu penyemprotan berpengaruh nyata pada beberapa parameter antara lain jumlah daun, berat segar dan berat kering. Interval waktu penyemprotan I2 (5 menit menyala (on); 5 menit mati (off)) memiliki nilai tertinggi pada jumlah daun, berat segar dan berat kering, tetapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan I1 (menyala selama 24 jam (non stop)). Interval waktu penyemprotan I2 (5 menit menyala (on); 5 menit mati (off)) menjadi interval waktu penyemprotan terbaik pada budidaya selada dengan sistem aeroponik vertikal heksagonal.
IDENTIFIKASI MORFOLOGI BUAH PADA GENOTIPE CABAI RAWIT HASIL IRADIASI SINAR GAMMA Gumelar, Rima; Setyowati, Ratih; Nabila, Nailan; Huda, Amalia Nurul; Mumtaza, Suha Ra Idah
Agrika Vol. 19 No. 2 (2025): NOVEMBER 2025
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/ja.v19i2.6823

Abstract

Upaya meningkatkan produksi cabai rawit untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat perlu terus dilakukan. Salah satu cara yang dapat dilakukan yaitu dengan perakitan varietas baru cabai rawit berdaya hasil tinggi melalui kegiatan pemuliaan tanamanPenelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi morfologi buah pada cabai rawit hasil iradiasi sinar gamma. Indentifikasi atau karakterisasi penting untuk dilakukan karena informasi dari kegiatan tersebut akan membantu pemulia dalam mengidentifikasi dan memahami perbedaan karakter diantara genotipe. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Wedomartani Fakultas Pertanian UPN Veteran Yogyakarta, mulai bulan Juli 2023 sampai Januari 2024. Bahan genetik yang digunakan yaitu 87 genotipe M1 cabai rawit dan 2 varietas pembanding. Rancangan percobaan yang digunakan yaitu Rancangan Bersekat (Augmented Design) dengan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) sebagai rancangan lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan keragaman pada karakter kuantitatif maupun kualitatif. Genotipe KL1-46 memiliki diameter buah, tebal daging buah, panjang buah, bobot/buah, jumlah buah/tanaman, dan bobot buah/tanaman nyata lebih tinggi dibandingkan dengan kedua varietas pembanding. Beberapa genotipe M1 cabai rawit juga menunjukkan perbedaan dengan varietas pembanding pada karakter kualitatif bentuk buah, lengkung keriting buah, penampang melintang buah, bentuk ujung buah, dan warna buah tua. Sementara itu, hasil analisis klaster membagi genotipe-genotipe yang diamati dalam 5 klaster.
PENGARUH PEMBERIAN IAA DAN BAP TERHADAP WAKTU MUNCUL TUNAS TANAMAN PULE PANDAK (Rauvolfia serpentina) SECARA IN VITRO Pribadi, Nathasya Yusvie; Nugrahani, Pangesti; Makhziah, Makhziah
Agrika Vol. 19 No. 2 (2025): NOVEMBER 2025
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/ja.v19i2.6839

Abstract

Rauvolfia serpentina merupakan tanaman obat yang memiliki berbagai manfaat farmakologis, terutama dalam mengatasi hipertensi, gangguan saraf, dan insomnia. Populasi tanaman ini semakin menurun akibat kesulitan perkecambahan dan eksploitasi bagian akar sebagai bahan obat. Penelitian ini bertujuan mengoptimalkan multiplikasi tunas pule pandak melalui kultur jaringan dengan kombinasi zat pengatur tumbuh (ZPT) indole-3-acetic acid (IAA) dan 6-benzylaminopurine (BAP). Rancangan yang dipergunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) faktorial yang terdiri dari dua faktor perlakuan yaitu IAA (0.0, 0.5, 1.0, dan 1.5 mg/l) dan BAP (0, 1, 2, dan 3 mg/l). Parameter yang diamati meliputi persentase hidup, waktu muncul tunas, dan waktu muncul daun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi nyata pada kombinasi antara perlakuan IAA dan BAP pada waktu muncul daun. Kombinasi perlakuan 1.0 mg IAA dengan 2 ppm + 3 ppm BAP serta 1.5 ppm IAA + 1 ppm , 2 ppm dan 3 ppm BAP mengakibatkan daun muncul paling cepat, berturut-turut sebesar 15.33, 1567, 15.67, 16.00 dan 14.67 hari.  Sementara itu tidak terdapat interaksi nyata antara perlakuan IAA dan BAP pada parameter persentase hidup dan waktu muncul tunas. Persentase hidup akibat perlakuan 0.5 mg/l dan 1.5 mg/l lebih besar dibanding tanpa IAA, berturut-turut sebesar 86.22%, 83.33% dan 69.44%, sementara semua pemberian konsentrasi BAP mengakibatkan persentase hidup yang lebih tinggi dibanding tanpa BAP. Waktu muncul tunas tercepat diakibatkan perlakuan tunggal 1.0 ppm IAA, yaitu 16.66 hari, juga diakibatkan perlakuan 2 dan 3 ppm BAP, selama 16.00 dan 16.00 hari.