cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
elharakahjurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
El-HARAKAH : Jurnal Budaya Islam
ISSN : 18584357     EISSN : 23561734     DOI : -
Core Subject : Health,
EL HARAKAH (ISSN 1858-4357 and E-ISSN 2356-1734) is peer-reviewed journal published biannually by Maulana Malik Ibrahim State Islamic University (UIN) of Malang. The journal is accredited based on the decree No. 36a E. KPT 2016 on 23 May 2016 by the Directorate General of Higher Education of Indonesia, for the period August 2016 to August 2021 (SINTA 2). The journal emphasizes on aspects related to Islamic Culture in Indonesia and Southeast Asia. We welcome contributions from scholars in the field, papers maybe written in Bahasa Indonesia, English, or Arabic.
Arjuna Subject : -
Articles 791 Documents
Mediating Peace through Local Tradition of Cross-Religious Community in Saparua Island, Moluccas Toisuta, Hasbollah; Wakano, Abidin; Huda, Miftahul
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 24, No 2 (2022): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v24i2.18051

Abstract

On Saparua Island in the Moluccas, Indonesia, local tradition guides the interreligious community of Muslims and Christians. Issues relating to people's races, religions, and ethnic backgrounds frequently spark conflict in the community. At the moment, it is working on maintaining and advancing peace. This article presents an investigation into the factors that contribute to religious harmony in communities comprised of members of different faiths. This research was conducted on Saparua Island through observation and interviews with community figures and members of the religious, academic, youth, and female communities. It was hypothesized, and subsequent research confirmed, that the community adheres to the principles of peace and the way of life espoused by the "Basudara People" in Ale Rasa Beta Rasa, Sagu Salempeng Patah Dua, and Sei Leli Hatulo-Hatuli Eleli Esepei. Peace in the cross-religious community can be achieved through the practice of local traditions like Pela Gandong and Masohi, which are forms of community cooperation. As a consequence of this, the result demonstrates the significance of having dialogues between people of different religious and cultural backgrounds to keep and maintain the viability of interreligious peace. Tradisi lokal di Pulau Saparua, Maluku, Indonesia menjadi panduan moral (norma) bagi kehidupan komunitas lintas agama (Muslim-Kristiani) yang pernah terjadi konflik dipicu isu Suku, Agama, Ras dan saat ini sedang berproses merawat dan membangun perdamaian. Dalam artikel ini, perdamaian komunitas lintas agama dianalisis melalui tradisi lokal sebagai kriterianya. Penelitian ini didasari oleh observasi dan wawancara di antara tokoh adat, tokoh agama, tokoh pemuda, pemerhati perempuan, akademisi, dan masyarakat di Pulau Saparua. Diprediksi dan ditemukan bahwa prinsip perdamaian dari filosofi hidup “Basudara People” pada Ale Rasa Beta Rasa, Sagu Salempeng Patah Dua, dan Sei Leli Hatulo-Hatuli Eleli Esepei. Perdamaian melalui tradisi lokal Pela Gandong dan Masohi sebagai kerjasama untuk saling membantu komunitas lintas agama. Dengan demikian, hasil menunjukkan pentingnya dialogis tokoh lintas agama dan tokoh adat untuk menjaga dan memelihara keberlanjutan perdamaian lintas agama.
Manajemen Konflik Berbasis “Multicultural Competences”: Solusi Alternatif Kontestasi Pribumi dan Salafi di Lombok Fitriani, Mohamad Iwan
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 18, No 1 (2016): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v18i1.3459

Abstract

The relationship between salafism and indigeneous moslem at Lombok caused several contestations and needed to be studied deeply. In this study, salafism and indigeneous moslem will be classified into rural and urban. This classification based on their unique relations: (1) salafism gets high resistence from rural indigenous moslems, (2) meanwhile, salafism receives tolerance from urban indigenous moslem. This study uses qualitative approach with interpretive paradigm to answer causes of rural indigeneous moslems resistences toward rural salafism, causes of urban indigeneous moslems tolerance toward urban salafism and how to formulate conflict management based on multicultural competences. This study shows that different responses of indigenous moslems toward salafism aren’t only caused by the contestations of Ahlu-al sunnah but also many other elements. Then, multicultural competences needed to be developed by religious elite as an alternative to manage conflict in plural society for the sake of peace built on reciprocal multicultural values. Relasi antara antara salafi dan pribumi di Lombok telah melahirkan berbagai kontestasi yang perlu diulas secara mendalam. Dalam kajian ini, salafi dan pribumi diklasifikasi menjadi dua yaitu salafi desa dan kota serta pribumi desa dan kota. Klasifikasi ini didasarkan pada keunikan relasinya: (1) salafi desa mendapat resistensi tinggi dari muslim pribumi desa, (2) salafi kota mendapatkan toleransi dari pribumi kota. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan paradigma interpretatif untuk menjawab penyebab resistensi pribumi desa terhadap salafi desa, penyebab toleransi pribumi kota terhadap salafi kota serta bagaimana rumusan model manajemen konflik berbasis kompetensi multikultural. Kajian ini menunjukkan bahwa perbedaan respon pribumi terhadap salafi tidak hanya disebabkan oleh kontestasi ahlu al-sunnah tetapi juga banyak unsur-unsur yang lain. Selanjutnya, multicultural competence perlu dikembangkan oleh elit agama sebagai alternatif manajemen konflik dalam realitas sosial yang plural demi kerukunan yang dibangun oleh nilai-nilai resiprokal-multikultural.
Problematics in Postmodernism: An Opportunity and Challenge in Discourse of Prophetic Sociology Method Peribadi, Peribadi; Samsul, Samsul
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 21, No 2 (2019): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v21i2.5907

Abstract

Almost all aspects of the social life of this beloved nation and country tended to be colonized including for the academicians that up to now have still been subduing and been kneeling under the influence of western epistemology. Therefore, in the case of obtaining the independence of thinking academically to develop the charitable science and scientific charity, it needs the paradigm and alternative epistemology according to the socio-psychological and socio-anthropological of the nation. In addition to the urgent independence demand for thinking academically, it also still opened the opportunity to develop a prophetic based methodology discourse. There is still an empty space in the context of methodological compilation enabling a new methodology emerges in the future. As the first step to construct a prophetic paradigm is formulating the philosophical foundation in the context of ontology, epistemology, and axiology in social science. This paper offered several strategic phases towards the discourse of metaphysical realism to develop alternative methodologies within the circle of postmodernism problematics. Hampir semua aspek kehidupan sosial bangsa dan negara tercinta ini cenderung dijajah termasuk para akademisi yang sampai sekarang masih tunduk dan berlutut di bawah pengaruh epistemologi barat. Oleh karena itu, dalam hal memperoleh kemandirian berpikir secara akademis untuk mengembangkan ilmu amal dan amal ilmiah, diperlukan paradigma dan epistemologi alternatif sesuai dengan sosio-psikologis dan sosio-antropologis bangsa. Selain tuntutan kemandirian yang mendesak untuk berpikir secara akademis, masih terbuka peluang untuk mengembangkan wacana metodologi berbasis kenabian. Masih ada ruang kosong dalam konteks kompilasi metodologis yang memungkinkan metodologi baru muncul di masa depan. Sebagai langkah pertama untuk membangun paradigma profetik adalah merumuskan landasan filosofis dalam konteks ontologi, epistemologi, dan aksiologi dalam ilmu sosial. Makalah ini menawarkan beberapa fase strategis menuju wacana realisme metafisik untuk mengembangkan metodologi alternatif dalam lingkaran problematika postmodernisme.
Kalam Aktual: Upaya Revitalisasi Ilmu Kalam Muhammad In'am Esha
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 6, No 2 (2004): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v6i2.4671

Abstract

The science of Kalam (Islamic theology) is a historical product which needs to be discussed and restored its ‘elan vital’. Its strategic position and content, since it directly relates to human’s fundamentalism aspect (human’s belief principles), should not be considered as something ‘holy’ and ‘sacred’. Kalam is no other than the experts’ manifestation of sense of social crisis in responding the problematic and mainstream thought at the time. Hence, in the mid of modern phenomenon, the challenge and mainstream thought faced by Moslem is a fate to hold a reposition and revitalization (actualization) of ‘elan vital’ of Kalam science. Each Moslem has an obligation to learn about the recent issues regarding pluralism and humanity crisis and to put it into a serious discussion in a modern perspective. Ilmu kalam adalah produk historis yang perlu untuk dikaji ulang dan dikembalikan elan vital-nya. Posisi dan kandungannya yang strategis, karena sangat bersentuhan dengan aspek fundamental manusia (pokok-pokok keyakinan manusia), hendaknya tidak dipandang sebagai sesuatu yang suci dan sakral. Ilmu kalam tidak lain merupakan manifestasi sense of social crisis para pemikir dalam merespon problematika dan mainstream pemikiran pada zamannya. Oleh karena itu, di tengah berbagai fenomena kekinian, tantangan dan mainstream pemikiran yang tengah dihadapai umat Islam adalah sesuatu yang niscaya untuk mengadakan reposisi dan revitalisasi (aktualisasi) elan vital ilmu kalam. Setiap Muslim diharuskan untuk mempelajari isu-isu terkini mengenai pluralism dan krisis kemanusiaan dan mendiskusikannya dalam perspektif era kontemporer. 
The Dynamics of Wayang Golek in Pandemic and Globalization: Traditional Art Sustainability Islamy, Mohammad Rindu Fajar; Abdussalam, Aam; Adzkia, Giani
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 23, No 2 (2021): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v23i2.13290

Abstract

This research aims to explore the dynamics of wayang golek art and to highlight its sustainability in the future. Modernity, the acceleration of technological devices and globalization wave in the last two decades, transfers great pressure on traditional arts and culture. Wayang Golek, a performing art originally from West Java, has recently received a fairly strong wave of resistance due to changes in the social culture which is mainly leading to modernity. By using a qualitative approach, data collection techniques were carried out by interviewing two main players as the puppeteers of Wayang Golek. The data analysis uses the theory of Miles and Hubberman, and the theoretical review of Islamic studies. The results of the study show that 1) Wayang Golek has unique characteristics, where the talent needed tends to go through the "inheritance" tradition, 2) Wayang Golek can be a bridge for internalizing religious and humanist values for the community through unique stories based on custom, 3) the restriction of Wayang Golek performance due to the Covid-19 pandemic leads the puppeteers to be more creative to survive, such as creating videos and uploading them in YouTube and other social media, and 4) the preservation of this art depends on the serious attention of all parties, from the government, regional officials, and the community. Penelitian ini bertujuan untuk mengeskplorasi dinamika kesenian wayang golek, serta menyoroti keberlangsungan ‘hidup’ seni tradisional wayang golek dimasa yang akan datang. Era modernitas, akselerasi perangkat teknologi dan gelombang arus globalisasi dalam dua dekade terakhir, memberikan tekanan hebat pada wilayah seni dan budaya tradisional. Wayang Golek sebuah seni pertunjukkan yang berasal dari Jawa Barat akhir-akhir ini mengalami gelombang resistensi cukup kuat imbas dari perubahan kultur sosial masyarakat yang bergerak kearah modernitas. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara terhadap dua pemain utama sebagai “Dalang” Wayang Golek, observasi dan dokumentasi. Adapun analisis data menggunakan teori Miles dan Hubberman, dan kajian teoritis Islamic studies. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) Seni Wayang Golek memiliki karakteristik unik, dimana bakat yang dibutuhkan cenderung melalui tradisi “warisan”, 2) Wayang Golek dapat menjadi jembatan internalisasi nilai-nilai religius dan humanis bagi masyarakat melalui cerita-cerita unik berbasis adat, 3) dilarangnya pagelaran Wayang Golek akibat pandemi Covid-19 membuat para dalang lebih kreatif untuk bertahan, seperti membuat video dan menunggahnya ke YouTube dan media sosial yang lain, dan 4) Kelestarian kesenian ini bergantung terhadap perhatian serius semua pihak baik dari pemerintah, pejabat daerah, maupun masyarakat.
The Representation of Sufistic Life Value to Build Growth Mindset in Movie “Buya Hamka Vol.1” Syarifani, Nara; Naan, Naan; Widarda, Dodo; Setiawan, Cucu; Hakim, Maman Lukmanul
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 25, No 2 (2023): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v25i2.23886

Abstract

Communicators may use movies as a medium to deliver their message. Movies offer great insights, lessons, and morals that viewers can apply in their lives. Grounded to Pierce’s semiotic analysis, the biographical movie “Buya Hamka Vol.1” presents lessons and interpretations of Sufistic life principles. This study aimed to elucidate the connection between the movie “Buya Hamka Vol. 1”, an inspirational video for a growth mindset, and the conveyed message and meaning inherent in a Sufistic existence. It employed a qualitative methodology under Charles Sanders Pierce's semiotic theory of content analysis. The findings indicated that the movie “Buya Hamka Vol. 1” is relevant to the values of a Sufistic life value, including lust and sense, sincerity, zuhud, tawakal, qonaah, and happiness. The audience can cultivate a growth mindset through the inspirational life narrative of Buya Hamka, shaping moral character, seeking guidance from spiritual mentors, and looking for a positive and nurturing environment. Film dapat menjadi medium untuk menyampaikan pesan komunikan kepada komunikator. Para penonton dapat mengambil nilai-nilai penting, pelajaran serta hikmah berharga dari film tersebut sehingga dapat direalisasikan pada kehidupan nyata. Film Buya Hamka vol.1 merupakan film biopic yang terdapat pesan dan makna nilai kehidupan sufistik dalam konteks Pierce. Penelitian ini berfokus untuk mengungkap relasi di antara pesan serta makna nilai kehidupan sufistik dalam film Buya Hamka vol.1 yang berperan sebagai inspiration video dengan proses pengembangan growth mindset. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode konten analisis teori semiotika Charles Sanders Pierce melalui tahapan interpretasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada film Buya Hamka vol.1 memiliki relevansi dengan nilai-nilai kehidupan sufistik perspektif Tasawuf Modern Buya Hamka seperti hawa nafsu dan akal, ikhlas, zuhud, tawakal, qonaah dan bahagia. Nilai-nilai tersebut dapat membangun growth mindset pada penonton dengan menginspirasi mereka melalui perjalanan hidup Buya Hamka, mengembangkan karakter yang baik, mencari bimbingan dari guru spiritual, dan mencari lingkungan yang positif dan mendukung.
Relevansi Nilai-Nilai Budaya Bugis dan Pemikiran Ulama Bugis: Studi Tafsir Berbahasa Bugis Karya MUI Sulsel Yusuf, Muhammad
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 15, No 2 (2013): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v15i2.2766

Abstract

This article investigates the relevance between Bugis culture values and Muslim Scholars’ views on gender issues in Bugis Quranic Interpretation by MUI of South Sulawesi. This research uses content analysis. Woman’s right to be public leader is not questioned as long it fulfills qualitative and functional criteria. In household affairs, a married couple is a partner with equal responsibilities. The concept of ‘iddah emphasizes on religious principle and the culture of self- esteem and purity. The inheritance distribution does not only relate to the right, but also responsibility in order to uphold justice. The expertise of Bugis Muslim scholars to link between Bugis values and its interpretation is not always explicit, some were identifiable implicitly and inherently. The Quranic and local values are two values integrated in giving solution to people. The Bugis people are inspiring to uphold value system and harmonious interaction system in organizing people.  Social establishment through the manifestation of core values of culture and the Quranic principle becomes an effective strategy to maintain the identity of community with Islamic doctrine values. Artikel ini membahas relevansi antara nilai-nilai budaya Bugis dan pemikiran ulama Bugis mengenai isu-isu jender dalam Tafsir Berbahasa Bugis Karya MUI Sulawesi selatan. Kajian ini menggunakan pendekatan analisis isi. Hak kepemimpinan perempuan dalam ranah publik tidak dipersoalkan sepanjang memenuhi syarat kualitatif dan fungsional. Dalam rumah tangga, suami dan istri merupakan mitra dengan prinsip sepenanggungan. Konsep ‘iddah lebih menekankan prinsip agama dan budaya harga diri,dan makna kesucian. Pembagian harta warisan tidak hanya menyangkut hak melainkan juga tanggung jawab demi tegaknya keadilan. Kepiawaian ulama Bugis dalam merelevansikan nilai-nilai budaya Bugis dengan penafsirannya tidak selalu disebutkan secara ekplisit, sebagian diantaranya diketahui dari substansi penjelasannya secara implisit dan inheren. Kearifan Qurani dan kearifan lokal adalah integrasi dua nilai kearifan yang dapat memberikan solusi bagi masyarakat. Masyarakat Bugis dapat memberikan inspirasi bagi tegaknya tata nilai dan pola interaksi yang harmonis dalam menata masyarakat. Pembinaan masyarakat melalui pengejawantahan nilai-nilai utama kebudayaan dan prinsip Qurani adalah strategi yang efektif dalam rangka mempertahankan jati diri suku bangsa dengan nilai-nilai ajaran Islam.
Family-Based Corruption Prevention through Pesantren Values Arifin, Samsul; Baharun, Mokhammad; Saputra, Rahmat
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 23, No 1 (2021): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v23i1.11657

Abstract

Pesantren (Islamic boarding school) has a great potential for family-based corruption prevention. This study aims to determine the values of pesantren and portraits of sakinah family personalities in the texts of “Zadu Az-Zaujayn” and “Syair Madura” in relation to the prevention of corruption. It uses an ethnographic-hermeneutic qualitative approach. The research concludes that the value of pesantren associated with the prevention of corruption lies in the expression "Mondhuk entar ngabdi bhen ngaji (the intention of going to pesantren is to learn and to serve)" and “Mon ngecok jerum e pondok mon mole ka romana ngecok jheren (if you steal a needle in pesantren, you will steal a horse once you get back home)". Through the values, students are accustomed to serving people and being careful of taking others’ belongings. Meanwhile, the values of sakinah family within the text are wara’ (being cautious and able to self-control), zuhud (living a simple life and prioritizing others’ need), and patient (being tender and dare to face difficulties); qona'ah (accepting life as it is), ridha (accepting the provisions of God); and self-presentation. This research is vital to develop to achieve sakinah families free of corruption. Pondok pesantren memiliki potensi besar dalam mencegah korupsi berbasis keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan nilai-nilai pesantren dan potret kepribadian keluarga sakinah dalam teks kitab “Zadu Az-Zaujayn” dan “Syair Madura” terkait pencegahan korupsi. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif tipe etnografi-hermeneutik.  Hasil penelitian: nilai-nilai pesantren yang terkait dengan pencegahan korupsi yaitu  “Mondhuk entar ngabdi dan ngaji (mondok untuk mengabdi dan mengaji)”. Santri juga menghindari ngecok (mencuri):“Mon ngecok jerum e pondok mon mole ka romana ngecok jheren, (kalau mencuri sebuah jarum di pondok, pulangnya akan mencuri seekor kuda)”. Dengan kedua nilai tersebut, santri akan terbiasa melayani orang lain dan menjauhi mengambil hak milik orang lain. Sedang kepribadian pasangan suami-istri sakinah yaitu mampu mengendalikan diri: yaitu wara’ (hati-hati dan mampu mengendalikan diri), zuhud (hidup sederhana dan lebih mementingkan kepentingan orang lain), dan sabar (lapang dada dan berani menghadapi kesulitan-kesulitan); penerimaan hidup apa adanya: qona’ah (menerima kenyataan yang ada), ridha (ketenangan hati menerima ketentuan-ketentuan dari Allah); dan presentasi diri. Penelitian ini penting untuk dikembangkan, agar tercipta keluarga sakinah yang bebas dari korupsi.
Sunda Wiwitan Baduy: Agama Penjaga Alam Lindung di Desa Kanekes Banten Wahid, Masykur
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 13, No 2 (2011): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v0i0.1888

Abstract

Baduy-style Islamic is pronounced with syahadat and practiced with tapa to maintain and preserve the natural heritage, karuhun. Tapa of Baduy is working in the fields to plant rice as a form to practice Islamic teachings, by mating the goddess of rice to the earth. Baduy’s action was guided by the pikukuh, custom, following the buyut, taboo. Religious teachings, tapa, pikukuh and buyut have shaped simple personalities Baduy people in maintaining the Kanekes natural conservation. Thus, welfare and peace can be felt by mankind. This paper describes the system of religion and religious rituals Sunda Wiwitan. In the perspective of religion phenomenology issue, the phenomena are studied using direct observation method and in-depth interviews. One of the finding illustrated that the Baduy people’s faith and obedience to God appears in their actions in taking care of forests, rivers and mountain to life in harmony. Their faith is not in the form of memorizing or interpreting old religious scripture. Furthermore, worship rituals are practiced by working in the fields under custom rules guidance and abiding the taboo to have successful harvest and prosperous people. Worship is not intended to become a respected man or benefactor. This is the Sunda Wiwitan people with life perspective of maintaining the Kanekes natural conservation. Islam ala Baduy diucapkan dengan syahadat dan diamalkan dengan tapa untuk menjaga dan melestarikan alam warisan karuhun, nenek moyang. Tapa Baduy adalah bekerja di ladang dengan menanam padi sebagai amalan ajaran agama, mengawinkan dewi padi dengan bumi. Tindakan masyarakat Baduy itu berpedoman kepada pikukuh, aturan adat, dengan mematuhi buyut, tabu. Ajaran agama, tapa, pikukuh dan buyut telah mengkonstruksi pribadi-pribadi Baduy yang sederhana dalam menjaga alam lindung Kanekes. Sehingga, kesejahteraan dan kedamaian dapat dirasakan oleh umat manusia. Tulisan ini memaparkan sistem religi dan ritual keagamaan Sunda Wiwitan. Dalam perspektif fenomenologi agama permasalahan itu dikaji dengan metode observasi terlibat langsung dan wawancara mendalam. Ditemukan jawaban bahwa keimanan dan ketaatan umat Baduy kepada Allah tampak dalam tindakan mereka menjaga hutan, sungai dan gunung hidup harmoni. Keimanannya bukan dalam hafalan ataupun penafsiran kitab suci. Sedangkan, 2 ibadah ritualnya dipraktikkan lewat bekerja di ladang dengan aturan adat dan patuh pada tabu supaya panen berhasil dan umat sejahtera. Ibadahnya bukan ingin menjadi manusia yang dihormati ataupun dermawan. Inilah umat Sunda Wiwitan dengan pandangan hidup menjaga alam lindung Kanekes.
Agama, Etnis dan Politik dalam Panggung Kekuasaan: Dinamika Politik Tauke dan Kiai di Madura Zamroni, M. Imam
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 10, No 1 (2008): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v10i1.4596

Abstract

This article aims to describe political movement of employer (tauke) and kiai in Madura showing a significant role of their economic and religious capitals that have become basic of political movement to influence their society. They try to install their power by participating in a certain political party for occupying strategic positions either in village or regional level. An effort building connections with others local elites becomes one of political strategies in occupying structural power. In the one hand, Tauke are non-indigenous people as Chinese ethnic and the other hand Kiai are indigenous people as Madurese, they are having different basic resources of power. In the some case, they combined the power as political strategy to appease local democratic election (Pilkada) in Pamekasan Madura. By paying attention in a tobacco trade case, the power relation among employer, trader and broker is actually oriented towards managing huge profit in process. Finally, within elite's perspective, capital economics, cultural, social, and religion are always operated in all matter. Artikel ini bertujuan untuk menggambarkan gerakan politik pengusaha (tauke) dan kiai di Madura yang menunjukkan peran penting ibu kota ekonomi dan agama mereka yang telah menjadi dasar gerakan politik untuk mempengaruhi masyarakat mereka. Mereka mencoba memasang kekuatan mereka dengan berpartisipasi dalam partai politik tertentu untuk menduduki posisi strategis baik di tingkat desa maupun di tingkat regional. Upaya membangun hubungan dengan elite lokal lainnya menjadi salah satu strategi politik dalam menduduki kekuatan struktural. Di satu sisi, Tauke adalah orang-orang non-indigeneous karena etnis Tionghoa dan di sisi lain kiai adalah penduduk asli orang Madura, mereka memiliki sumber daya dasar yang berbeda. Dalam beberapa kasus, mereka menggabungkan kekuatan tersebut sebagai strategi politik untuk menenangkan Pilkada di Pamekasan Madura. Dengan memperhatikan kasus perdagangan tembakau, hubungan kekuasaan antara pengusaha, pedagang dan broker sebenarnya berorientasi pada pengelolaan keuntungan besar dalam proses. Akhirnya, dalam perspektif elit, ekonomi modal, budaya, sosial, dan agama selalu dioperasikan dalam segala hal.

Filter by Year

1999 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2025): EL HARAKAH Vol 27, No 1 (2025): EL HARAKAH Vol 26, No 2 (2024): EL HARAKAH Vol 26, No 1 (2024): EL HARAKAH Vol 25, No 2 (2023): EL HARAKAH Vol 25, No 1 (2023): EL HARAKAH Vol 24, No 2 (2022): EL HARAKAH Vol 24, No 1 (2022): EL HARAKAH Vol 23, No 2 (2021): EL HARAKAH Vol 23, No 1 (2021): EL HARAKAH Vol 22, No 2 (2020): EL HARAKAH Vol 22, No 1 (2020): EL HARAKAH Vol 21, No 2 (2019): EL HARAKAH Vol 21, No 1 (2019): EL HARAKAH Vol 20, No 2 (2018): EL HARAKAH Vol 20, No 1 (2018): EL HARAKAH Vol 19, No 2 (2017): EL HARAKAH Vol 19, No 1 (2017): EL HARAKAH Vol 18, No 2 (2016): EL HARAKAH Vol 18, No 1 (2016): EL HARAKAH Vol 17, No 2 (2015): EL HARAKAH Vol 17, No 1 (2015): EL HARAKAH Vol 16, No 2 (2014): EL HARAKAH Vol 16, No 1 (2014): EL HARAKAH Vol 15, No 2 (2013): EL HARAKAH Vol 15, No 1 (2013): EL HARAKAH Vol 14, No 2 (2012): EL HARAKAH Vol 14, No 1 (2012): EL HARAKAH E-Harakah (Vol 14, No 2 Vol 13, No 2 (2011): EL HARAKAH Vol 13, No 1 (2011): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 13, No 1 Vol 12, No 3 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 2 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 1 (2010): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 12, No 3 el-Harakah (Vol 12, No 2 el-Harakah (Vol 12, No 1 Vol 11, No 3 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 2 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 1 (2009): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 11, No 2 el-Harakah (Vol 11, No 1 Vol 10, No 3 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 2 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 1 (2008): EL HARAKAH Vol 9, No 3 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 2 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 1 (2007): EL HARAKAH Vol 8, No 3 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 2 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 1 (2006): EL HARAKAH Vol 7, No 1 (2005): EL HARAKAH Vol 6, No 2 (2004): EL HARAKAH Vol 5, No 2 (2003): EL HARAKAH Vol 5, No 1 (2003): EL HARAKAH Vol 4, No 3 (2002): EL HARAKAH Vol 4, No 2 (2002): EL HARAKAH Vol 3, No 1 (2001): EL HARAKAH Vol 2, No 2 (2000): EL HARAKAH Vol 2, No 1 (2000): EL HARAKAH Vol 1, No 3 (1999): EL HARAKAH More Issue