cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
elharakahjurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
El-HARAKAH : Jurnal Budaya Islam
ISSN : 18584357     EISSN : 23561734     DOI : -
Core Subject : Health,
EL HARAKAH (ISSN 1858-4357 and E-ISSN 2356-1734) is peer-reviewed journal published biannually by Maulana Malik Ibrahim State Islamic University (UIN) of Malang. The journal is accredited based on the decree No. 36a E. KPT 2016 on 23 May 2016 by the Directorate General of Higher Education of Indonesia, for the period August 2016 to August 2021 (SINTA 2). The journal emphasizes on aspects related to Islamic Culture in Indonesia and Southeast Asia. We welcome contributions from scholars in the field, papers maybe written in Bahasa Indonesia, English, or Arabic.
Arjuna Subject : -
Articles 791 Documents
The Effect of Aswaja Values and Javanese Islam on Students' Moderate Islamic Thinking Sunda, Yauma Trin; Fitri, Agus Zaenul
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 24, No 2 (2022): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v24i2.16924

Abstract

This article examines the issue of dialectical Islam with local culture in Indonesia, which eventually forms a distinctive and unique variant of Islam, as well as the acculturation of Aswaja values and Javanese Islam. Indonesian Islamic State Universities (UIN) are part of the component that forms a nationalist and religious generation. Undeniably, it is free from the Islamic variant of the times. The variant of Islam is not Islam which is separated from its purity, but Islam, which is acculturated with local culture. The study's mixed-method results showed that 72.4% of Aswaja's values influenced the formation of moderate thinking. Meanwhile, 42% of Javanese Islam also contributes to Moderate Islamic thought. As a variant of cultural Islam in Indonesia, Javanese Islam tends to be syncretic with its distinctive traditions. It can be seen in the dialectic of religion and culture, such as the “Grebek Pancasila”, the early Genduri of a sermon, and Wayang performances. Its substance is to transform the prophetic spirit of the teachings of monotheism while preserving local culture. Javanese Aswaja and Islamic values struggle with the realities of modernity and globalization. In this context, it can be seen how the response of groups of Islamic organizations, particularly the moderate Islam Rahmatan Lil Alamin. Artikel ini mengkaji persoalan dialektika Islam dengan budaya lokal di Indonesia yang pada akhirnya membentuk varian Islam yang khas dan unik, serta akulturasi nilai-nilai Aswaja dan Islam Jawa. Universitas Islam Negeri (UIN) di Indonesia merupakan bagian dari komponen yang membentuk generasi nasionalis dan agamis, yang tidak bisa dipungkiri terbebas dari varian Islam zaman. Varian Islam bukanlah Islam yang lepas dari kemurniannya, melainkan Islam yang berakulturasi dengan budaya lokal. Hasil penelitian dengan menggunakan metode campuran menunjukkan bahwa 72,4% nilai Aswaja mempengaruhi pembentukan berpikir moderat. Sementara itu, 42% Islam Jawa juga berkontribusi pada pemikiran Islam Moderat. Sebagai varian Islam budaya di Indonesia, Islam Jawa cenderung sinkretis dengan tradisi khasnya. Hal ini terlihat dalam dialektika agama dan budaya, seperti “Grebek Pancasila”, Genduri awal ceramah, dan pertunjukan wayang. Substansinya adalah mentransformasikan semangat profetik dari ajaran tauhid sekaligus melestarikan budaya lokal. Aswaja Jawa dan nilai-nilai Islam berjuang dengan realitas modernitas dan globalisasi. Dalam konteks ini, terlihat bagaimana respon kelompok ormas Islam, khususnya Islam moderat, Rahmatan Lil Alamin.
Religious Conflicts Management Based on Local Wisdom in The Temple Village of Malang Indonesia Abidin, Munirul
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 16, No 2 (2014): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v16i2.2780

Abstract

Indonesia is a country prone to conflict, because it has a pluralistic, multi-ethnic, multi-religious and multi-cultural society. Therefore, it must be certain efforts to prevent the conflict between them in the community. This research aims to describe the conflict resolution through values of local wisdom. It employs qualitative approach with observation, interview,  and documentation as methods to collect data.  The finding shows that local wisdom values have big contribution to make community with complex religions and ethnic lived in harmony.  Local wisdom values also have big role to resolve all conflict problems in the community and make them more humble, tolerant and wise to face the problem in their lives. Indonesia merupakan negara yang rawan terjadi konflik. Salah satu penyebabnya adalah karena Indonesia negara yang memiliki masyarakat majemuk, multi etnis, multi agama dan multi budaya. Karena itu, harus ada upaya-upaya tertentu agar konflik antar etnis, agama dan budaya tersebut tidak terjadi dalam masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan managemen konflik berbasis nilainilai budaya lokal. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah pengamatan, wawancara dan dokumentasi. Penelitian ini menemukan bahwa nilai-nilai budaya lokal memiliki kontribusi yang besar untuk menciptakan masyarakat yang memiliki kompleksitas agama dan suku hidup dalam suasana yang harmonis. Nilai-nilai budaya lokal juga memiliki peran penting dalam memecahkan masalah konflik dalam masyarakat, serta menjadikan mereka lebih ramah, toleran dan bijaksana dalam menghadapi problem-problem kehidupan.
Sekar Macapat Pocung: Study of Religious Values Based on The Local Wisdom of Javanese Culture Saddhono, Kundharu; Pramestuti, Dewi
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 20, No 1 (2018): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v20i1.4724

Abstract

Javanese culture is a system of ideas which directs Javanese people’s attitude and behaviors. It contains local wisdom that has a great influence on their daily life. The research method employed in this study is descriptive qualitative by implementing content analysis approach. The data studied are the scripts of Sekar Macapat Pocung. Local wisdom has a highly philosopical meaning which enhances the tenacity of nations. Tembang Macapat is considered as a form of local wisdom in Javanese culture. Sekar Macapat Pocung is the eleventh popular meters of recited Javanese poem. Through the recited Javanese poem, Islamic religious values and noble values are delivered meaningfully. It becomes precept and inseparable part of Javanese people in leading religious and national life. Budaya Jawa merupakan suatu sistem yang menjadi pedoman bagi masyarakat Jawa dalam berperilaku dan bersikap. Di dalam budaya Jawa terdapat kearifan lokal sebagai pendorong yang kuat dalam kehidupan masyarakat Jawa. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan analisis isi. Data yang dikaji adalah naskah Sekar Macapat Pocung. Kearifan lokal budaya Jawa mengandung makna filosofis yang meningkatkan ketahanan nasional sebuah bangsa. Tembang Macapat termasuk wujud kearifan lokal budaya Jawa. Sekar Macapat Pocung adalah metrum kesebelas yang dikenal sebagai produk budaya berbentuk puisi Jawa kuno yang dilagukan. Melalui syair dalam tembang, nilai-nilai religus Islam dan pitutur bijak disampaikan penuh makna. Nilai-nilai religus Islam dan pitutur bijak dalam Sekar Macapat Pocung menjadi pegangan dan bagian hidup yang tak terpisahkan dari masyarakat Jawa dalam menjalani kehidupan beragama dan berbangsa.
Islam, Local Wisdom and Religious Harmony: Religious Moderation in East-Java Christian Village Bases Sumbulah, Umi; Purnomo, Agus; Jamilah, Jamilah
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 24, No 1 (2022): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v24i1.16264

Abstract

This article discusses about the dynamics of interaction and harmony among believers in 41 Christian villages spread over 15 districts in East Java. Although called the Christian Villages, they are populated by Muslims, Catholics, Hindus, and Buddhists. The social diversity is formed through kinship and marriage. The Christian villages, which are called “Pancasila Villages” and “Villages of Diversity”, are melting pots that unite all wisdom, teachings, mythology, and religious traditions. The current qualitative research conducted in Christian villages in Jombang, Malang, and Situbondo go into the following results: first, the esoteric-inclusive interpretation that religion is a way of life that directs its adherents to achieve peace and happiness becomes the basis for religious people to respect each other and guarantee religious freedom; second, interfaith awareness that all religions have an exoteric dimension in the variety of rites to approach God is a basic principle in building harmony; third, the diversity meaning of symbols in the form of values, rituals, and sacred objects are embodied in the interactions of daily life. Religious moderation manifests in tolerance, inclusivism, equality, and cooperation in various cultural spaces. Further researches on interaction pattern and level of religious moderation would be worth investigating. Artikel ini membahas dinamika interaksi dan kerukunan umat beragama di basis desa Kristen yang berjumlah 41 desa yang tersebar di 15 kabupaten di Jawa Timur. Meski disebut Desa Kristen, desa ini juga dihuni pemeluk Islam, Katolik, Hindu, dan Budha. Keberagaman masyarakat terbentuk melalui kekerabatan dan perkawinan. Basis Desa Kristen yang dijuluki “Desa Pancasila” dan “Desa Keragaman” adalah melting pot yang menyatukan semua kearifan, ajaran, mitologi, dan tradisi keagamaan. Hasil penelitian kualitatif yang dilakukan di desa-desa Kristen di Jombang, Malang, dan Situbondo ini menunjukkan: pertama, interpretasi esoteris-inklusif bahwa agama adalah cara hidup yang mengarahkan pemeluknya untuk mencapai kedamaian dan kebahagiaan, menjadi dasar bagi umat beragama untuk saling menghormati dan menjamin kebebasan beragama. Kedua, kesadaran lintas agama bahwa semua agama memiliki dimensi eksoteris dalam ragam ritus untuk mendekati Tuhan merupakan prinsip dasar dalam membangun harmoni. Ketiga, makna keragaman simbol berupa nilai, ritual, dan benda sakral diwujudkan dalam interaksi kehidupan sehari-hari. Moderasi beragama terwujud dalam toleransi, inklusivisme, kesetaraan, dan kerjasama dalam berbagai ruang budaya. Penelitian lebih lanjut tentang pola interaksi dan tingkat moderasi beragama layak dilakukan.
Religious Insight: Ethnozoology of Tota’an Dove Jember Jamil, Robit Nurul
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 25, No 2 (2023): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v25i2.24383

Abstract

In Jember's culture, dove symbolizes peace and purity. Tota'an tradition captures attention as a cultural symbol that fosters a sense of brotherhood, connecting communities. This study delves into the role of local culture in strengthening interpersonal relationships, transcending beyond cultural expressions. Using ethnozoology, it explores the perspectives and roles of doves in the Tota'an tradition. The research focuses on examining the Tota'an tradition in three lenses: ethnozoology, local culture, and Islam. It seeks to understand how Islamic values, such as solidarity and compassion, are reflected in Tota'an, and how these values are connected to ethnozoological aspects, particularly the symbolism of doves. The result presents the exploration of the analysis of Tota'an's impact in the Islamic context. It emphasizes the intricate balance formed by local culture, serving as a bridge between Islam and ethnozoology. It also provides profound insights into the interconnected relationship of ethnozoology, local culture, and Islam through Tota'an. By following a specific sequence in examining the tradition, it reveals deeper layers of meaning, enhancing our understanding of the mutual reinforcement of values within the context of the vibrant local culture. By preserving and understanding the cultural and religious values in Tota'an, the Jember community can maintain their cultural identity while strengthening social cohesion. Dalam budaya Jember, merpati dianggap sebagai simbol perdamaian dan kesucian. Tradisi Tota’an, menarik perhatian masyarakat, sebagai simbol budaya yang menghubungkan masyarakat dalam semangat persaudaraan, sehingga tradisi ini perlu dilestarikan. Penelitian ini menggali peran budaya lokal dalam memperkuat hubungan interpersonal, melampaui sekadar ekspresi budaya semata. Dengan menggunakan etnozoologi, penelitian ini menjelajahi perspektif dari merpati sebagai tradisi Tota'an. Penelitian ini fokus menguji tradisi Tota'an melalui tiga lensa: etnozoologi, budaya lokal, dan Islam. Tujuannya memahami bagaimana nilai-nilai Islam, seperti solidaritas dan welas asih, tercermin dalam tradisi Tota'an, dan bagaimana nilai-nilai tersebut terhubung dengan aspek etnozoologi, khususnya simbolisme merpati. Hasil penelitian menyajikan pemaparan analisis dampak Tota'an dalam konteks Islam. Studi ini menekankan keseimbangan kompleks yang terbentuk oleh budaya lokal, berfungsi sebagai jembatan antara Islam dan etnozoologi. Penelitian ini memberikan wawasan mendalam tentang hubungan terkait etnozoologi, budaya lokal, dan Islam melalui tradisi Tota'an. Dengan mengikuti urutan spesifik dalam mengkaji tradisi, penelitian ini mengungkap lapisan makna yang lebih dalam, meningkatkan pemahaman tentang penguatan nilai-nilai yang saling berhubungan dalam konteks budaya lokal yang dinamis. Dengan melestarikan dan memahami nilai-nilai budaya dan agama dalam Tota'an, masyarakat Jember dapat menjaga identitas budaya mereka serta memperkuat koherensi sosial.
Pengaruh Islam terhadap Perkembangan Budaya Jawa: Tembang Macapat Asmaun Sahlan; Mulyono Mulyono
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 14, No 1 (2012): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v0i0.2196

Abstract

Islam came to Indonesia since the seventh century AD has a major influence on the transformation of the local culture. From cultures that were previously heavily influenced by Hinduism is primarily based on two major books from India, the Ramayana and the Mahabharata to the new culture that is influenced by Islamic values. One form of cultural transformation in the field of Javanese literature is the birth of the tembang macapat (song of macapat). Tembang macapat is a form of transformation from Javanese literature of the form kakawin literary dan kidung (ancient Javanese song) became a form of Java new song (gending). During its development, macapat song contains a lot of Islamic values so utilized by teachers, preachers, religious scholars and Ulama’ to the means of education and transformation of Islamic values. Islam datang ke Indonesia sejak abad ke tujuh Masehi memiliki pengaruh besar terhadap transformasi budaya setempat. Dari kebudayaan yang sebelumnya banyak dipengaruhi oleh agama Hindu terutama didasarkan pada dua karya besar dari India yaitu Ramayana dan Mahabharata menuju kepada kebudayaan baru yang dipengaruhi oleh nilai-nilai Islam. Salah satu bentuk transformasi kebudayaan dalam  bidang sastra Jawa adalah lahirnya tembang macapat. Tembang macapat merupakan bentuk transformasi sastra Jawa dari bentuk kakawin dan kidung menjadi sastra puisi yang berupa lagu/gending. Dalam perkembangannya, tembang macapat banyak mengandung nilai-nilai Islam sehingga dimanfaatkan oleh para guru, mubaligh, kyai maupun ulama’ untuk sarana pendidikan dan dakwah nilai-nilai Islam. 
Agama Sikh di India: Sejarah Kemunculan, Ajaran dan Aktivitas Sosial-Politik Esha, Muhammad In'am
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 8, No 1 (2006): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v8i1.4615

Abstract

The paper examines the Sikhism on its history, doctrines, and political activities. The Sikhism was founded by Guru Nanak whose ideology was initially closed to Islam and further moved to Hindu. However, the political conflict in India between Hindu and Islam is as one strong reason to make eclecticism. Therefore, the doctrines of Sikhism were taken from Islam on one side and Hindu on another side. It results in the Sikhism as a dualistic doctrine in its concept on God, human beings and nature. The Sikhism was involved conflict in India's society when the leader of Sikhism dragged in the political sphere. In the beginning it tried to mediate the conflict between Islam and Hindu. However, it turned to be a trigger into triangle conflict, The Sikh, Islam and Hindu. It becomes obvious that religion is not immune from political conflict, as politics can also become the conflict trigger among religions. Makalah ini mengkaji Sikhisme mengenai sejarah, doktrin, dan aktivitas politiknya. Sikhisme didirikan oleh Guru Nanak yang ideologinya awalnya tertutup bagi Islam dan selanjutnya beralih ke Hindu. Namun, konflik politik di India antara Hindu dan Islam adalah salah satu alasan kuat untuk membuat eklektisisme. Oleh karena itu, doktrin Sikhisme diambil dari Islam di satu sisi dan Hindu di sisi lain. Ini menghasilkan Sikhisme sebagai doktrin dualistik dalam konsepnya tentang Tuhan, manusia dan alam. Sikhisme terlibat konflik di masyarakat India ketika pemimpin Sikhisme menyeret dalam ranah politik. Pada awalnya ia berusaha menengahi konflik antara Islam dan Hindu. Namun, hal itu berubah menjadi pemicu konflik segitiga, Sikh, Islam dan Hindu. Menjadi jelas bahwa agama tidak kebal dari konflik politik, karena politik juga bisa menjadi pemicu konflik antar agama.
The Levels of Joy in Muslims’ Celebrations: A Comparison between Eid and Weddings Husain, Waqar; Zahoor, Kiren; Ijaz, Farrukh
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 23, No 2 (2021): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v23i2.14084

Abstract

The current study intended to analyze the levels of joy in religious festivals. It involved 387 Pakistani Muslims including men (n=143) and women (n=282). Data was collected through a specifically developed questionnaire in Urdu. The findings revealed that Pakistani Muslims enjoy their festivals at a very low degree and the levels of joy in Eid-ul-Fitr and Eid-ul-Adha remains significantly lower than the levels of joy in weddings.  The level of joy for Pakistanis during different festivals could not exceed 31 percent. The findings further revealed that, instead of being joyous, a little minority of the respondents felt sadness and tiredness while celebrating different festivals. Men had significantly higher levels of joy on Eid-Ul-Fitr and Eid-Ul-Adha as compared to women. Women had significantly higher levels of joy on close-relative’s wedding as compared to men. Unmarried had significantly higher levels of joy on friend’s wedding as compared to married.  Kajian kali ini bertujuan untuk menganalisis tingkat keceriaan pada hari raya keagamaan. Ini melibatkan 387 Muslim Pakistan termasuk pria (n=143) dan wanita (n=282). Data dikumpulkan melalui kuesioner yang dikembangkan secara khusus dalam bahasa Urdu. Temuan mengungkapkan bahwa Muslim Pakistan menikmati festival mereka pada tingkat yang sangat rendah dan tingkat kegembiraan di Idul Fitri dan Idul Adha tetap jauh lebih rendah daripada tingkat kegembiraan dalam pernikahan. Tingkat kegembiraan orang Pakistan selama festival yang berbeda tidak bisa melebihi 31 persen. Temuan lebih lanjut mengungkapkan bahwa, alih-alih gembira, sebagian kecil responden merasakan kesedihan dan kelelahan saat merayakan festival yang berbeda. Pria memiliki tingkat kegembiraan yang jauh lebih tinggi pada Idul Fitri dan Idul Adha dibandingkan dengan wanita. Wanita memiliki tingkat kegembiraan yang jauh lebih tinggi pada pernikahan kerabat dekat dibandingkan dengan pria. Belum menikah memiliki tingkat kegembiraan yang jauh lebih tinggi pada pernikahan teman dibandingkan dengan menikah.
Ketedasan Terjemahan Ayat-Ayat Imperatif Bernuansa Budaya Al Farisi, Mohamad Zaka
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 19, No 2 (2017): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v19i2.3934

Abstract

Each language has its own uniqueness because of the existence of cultural concepts that exist in it. To bring clarity to the translation of the nuanced cultural speech, including those contained in the imperative verses, often becomes an obstacle in translation. The study, which used a qualitative-evaluative approach with the design of embedded case study research, aims to reveal the clarity of the translation of imperative verses that have cultural nuance meanings. Samples were selected purposively regarding imperative verses that have specific pragmatic meanings. The clarity of the translation of the imperative verses relies on the techniques and procedures of translation applied in dealing with micro-translation units. Couplet procedure that combines literal and amplification techniques may fulfill clarity aspect in translation. Setiap bahasa mempunyai keunikan tersendiri berkat keberadaan konsep-konsep budaya yang ada di dalamnya. Dalam penerjemahan, menghadirkan ketedasan terjemahan tuturan yang bernuansa budaya, termasuk dalam ayat-ayat imperatif, seringkali menjadi kendala tersendiri. Penelitian ini, yang menggunakan pendekatan kualitatif-evaluatif dengan desain studi kasus terpancang, bertujuan untuk mengungkap ketedasan terjemahan ayat-ayat imperatif yang bernuansa budaya. Sampel penelitian dipilih secara purposif berupa ayat-ayat imperatif yang memiliki makna pragmatik tertentu. Ketedasan terjemahan ayat-ayat imperatif tidak terlepas dari teknik dan prosedur penerjemahan yang diterapkan dalam menangani unit-unit mikro terjemahan. Prosedur kuplet yang memadukan teknik literal dan teknik amplifikasi dapat menghadirkan ketedasan terjemahan yang berterima.
Pamali Culture of Polewali Community in West Sulawesi and Appreciation of Islamic Jurisprudence Sadat, Anwar; Yusuf, Muhammad
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 22, No 2 (2020): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v22i2.9372

Abstract

The article explores the values of the local wisdom (‘urf) of the West Sulawesi Polewali community and an appreciation of Islamic law towards it. This research used a qualitative approach. Data collection was done through triangulation techniques that were intended to obtain more complete data. Data were analyzed with content analysis techniques and semiotics analysis approach. Content analysis can provide closer philosophical meaning of the phrase. While the semiotics approach can help to understand the meaning of the symbolic expressions of Pamali. The phrases in Pamali contain very deep and philosophical meanings. This research showed that Pamali has a depth of meaning so that a symbolic and contextual analysis approaches can give exact meaning of Pamali expression. Thus, the local wisdom in muamalat can be considered in formulating Islamic law that applies to the Mandar community in general and the Polewali community in particular. Local wisdom in the Polewali community can be used as a consideration in the formulation of Islamic law and development policies in Polewali. Artikel ini mengupas tentang nilai-nilai kearifan local (‘urf) masyarakat Polewali Sulawesi Barat dan apresiasi hukum Islam terhadapnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik triangulasi yang bertujuan untuk memperoleh data yang lebih lengkap. Data dianalisis dengan teknik analisis isi dan pendekatan analisis semiotika. Hal itu karena pesan di dalam Pamali menggunakan bahasa simbolik untuk tujuan tertentu. Analisis isi dapat lebih mendekatkan pada makna filosofis dari ungkapan. Sedangkan pendekatan semiotika dapat membantu untuk memahami makna ungkapan simbolik Pamali. Ungkapan pada Pamali mengandung makna yang sangat dalam dan filosofis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pamali memiliki makna yang dalam sehingga hanya dengan pendekatan analisis simbolik dan kontekstual dapat menempatkan makna ungkapan Pamali secara tepat. Dengan demikian, kearifan lokal dalam muamalat itu dapat menjadi pertimbangan dalam merumuskan hukum Islam yang berlaku bagi masyarakat Mandar umumnya dan masyarakat Polewali pada khususnya. Kearifan lokal pada masyarakat Polewali memungkinkan untuk dijadikan pertimbangan dalam perumusan hukum Islam dan kebijakan pembangunan di Polewali.

Filter by Year

1999 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2025): EL HARAKAH Vol 27, No 1 (2025): EL HARAKAH Vol 26, No 2 (2024): EL HARAKAH Vol 26, No 1 (2024): EL HARAKAH Vol 25, No 2 (2023): EL HARAKAH Vol 25, No 1 (2023): EL HARAKAH Vol 24, No 2 (2022): EL HARAKAH Vol 24, No 1 (2022): EL HARAKAH Vol 23, No 2 (2021): EL HARAKAH Vol 23, No 1 (2021): EL HARAKAH Vol 22, No 2 (2020): EL HARAKAH Vol 22, No 1 (2020): EL HARAKAH Vol 21, No 2 (2019): EL HARAKAH Vol 21, No 1 (2019): EL HARAKAH Vol 20, No 2 (2018): EL HARAKAH Vol 20, No 1 (2018): EL HARAKAH Vol 19, No 2 (2017): EL HARAKAH Vol 19, No 1 (2017): EL HARAKAH Vol 18, No 2 (2016): EL HARAKAH Vol 18, No 1 (2016): EL HARAKAH Vol 17, No 2 (2015): EL HARAKAH Vol 17, No 1 (2015): EL HARAKAH Vol 16, No 2 (2014): EL HARAKAH Vol 16, No 1 (2014): EL HARAKAH Vol 15, No 2 (2013): EL HARAKAH Vol 15, No 1 (2013): EL HARAKAH Vol 14, No 2 (2012): EL HARAKAH Vol 14, No 1 (2012): EL HARAKAH E-Harakah (Vol 14, No 2 Vol 13, No 2 (2011): EL HARAKAH Vol 13, No 1 (2011): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 13, No 1 Vol 12, No 3 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 2 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 1 (2010): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 12, No 3 el-Harakah (Vol 12, No 2 el-Harakah (Vol 12, No 1 Vol 11, No 3 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 2 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 1 (2009): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 11, No 2 el-Harakah (Vol 11, No 1 Vol 10, No 3 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 2 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 1 (2008): EL HARAKAH Vol 9, No 3 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 2 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 1 (2007): EL HARAKAH Vol 8, No 3 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 2 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 1 (2006): EL HARAKAH Vol 7, No 1 (2005): EL HARAKAH Vol 6, No 2 (2004): EL HARAKAH Vol 5, No 2 (2003): EL HARAKAH Vol 5, No 1 (2003): EL HARAKAH Vol 4, No 3 (2002): EL HARAKAH Vol 4, No 2 (2002): EL HARAKAH Vol 3, No 1 (2001): EL HARAKAH Vol 2, No 2 (2000): EL HARAKAH Vol 2, No 1 (2000): EL HARAKAH Vol 1, No 3 (1999): EL HARAKAH More Issue