cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
elharakahjurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
El-HARAKAH : Jurnal Budaya Islam
ISSN : 18584357     EISSN : 23561734     DOI : -
Core Subject : Health,
EL HARAKAH (ISSN 1858-4357 and E-ISSN 2356-1734) is peer-reviewed journal published biannually by Maulana Malik Ibrahim State Islamic University (UIN) of Malang. The journal is accredited based on the decree No. 36a E. KPT 2016 on 23 May 2016 by the Directorate General of Higher Education of Indonesia, for the period August 2016 to August 2021 (SINTA 2). The journal emphasizes on aspects related to Islamic Culture in Indonesia and Southeast Asia. We welcome contributions from scholars in the field, papers maybe written in Bahasa Indonesia, English, or Arabic.
Arjuna Subject : -
Articles 791 Documents
Moral Value Analysis in Serat Kitab Kalam Qodrat for Women’s Moral Education Juniarti, Anugrah Putri; Saddhono, K.; Wibowo, Prasetyo Adi Wisnu
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 22, No 1 (2020): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v22i1.8643

Abstract

Morality is a personal guide of distinguishing goodness from badness with their mind. Indonesian women, especially Javanese, are perceived to be moral when they possess noble character reflected in gentle, polite, loyal, and religious attitudes. Many Indonesian cultural products portray the ideal female figure in terms of physical to a moral image. One of the cultural products dedicated to illustrate the typical moral for women is Tambang Macapat. Macapat songs containing moral values for women are the song in Serat Kitab Kalam Qodrat (KKQ). This study focuses on examining the content and moral values of Serat KKQ using gender perspective, with a primary emphasis on women’s gender. The results can be used as a model for Indonesian women and their character education support. This research is qualitative descriptive with a content analysis method. The primary data are the literary works in KKQ from Mpu Tantular Museum collection, Sidoarjo and the thesis of Sri Sulistianingsih (2016) titled Kalam Qodrat book: text edits and structural analysis. The study results are related to women’s morals, respect to parents and a husband (obedient to a husband, loyal, and harmonious), determination, maintaining self-esteem (honor) and the motivation of study. Moralitas merupakan upaya untuk membimbing manusia menggunakan akalnya untuk membedakan kebaikan dan keburukan. Wanita Indonesia khususnya wanita Jawa disebut bermoral ketika memiliki budi pekerti luhur yang tercermin dari sikap lembut, santun, setia dan taat beragama. Banyak produk budaya Indonesia yang menggambarkan sosok perempuan ideal dari segi fisik hingga moralitas. Salah satu produk budaya yang didedikasikan untuk menggambarkan moral ideal bagi perempuan adalah tembang macapat. Salah satu tembang macapat yang memuat nilai moral bagi perempuan adalah tembang macapat yang ada di dalam serat Kitab Kalam Qodrat (KKQ). Fokus studi ini mengkaji isi dan nilai moral dari Serat KKQ menggunakan perspektif gender, dengan fokus utama pada gender perempuan. Hasil kajian dapat digunakan sebagai model bagi perempuan Indonesia serta untuk mendukung pendidikan karakter perempuan. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif, dengan objek kajian serat KKQ. Menggunakan metode analisis isi. Data utama penelitian ini adalah serat KKQ koleksi museum Mpu Tantular Sidoarjo dan skripsi Sri Sulistianingsih (2016) dengan judul Kitab Kalam Qodrat: suntingan teks dan analisis struktural. Hasil dari penelitian berkaitan dengan moral (akhlak) perempuan, hormat pada orang tua, hormat kepada suami (sikap patuh pada suami, tidak durhaka, setia dan rukun), akhlak berpendirian teguh, menjaga harga diri (kehormatan) serta semangat menuntut ilmu.
The Social Meaning of 4,444 Sholawat Nariyah in The Covid-19 Pandemic Sofiyah, Siti Lailatus; Susanti, Emy; Sutinah, Sutinah
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 24, No 2 (2022): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v24i2.17467

Abstract

This study discusses the social meaning of reading sholawat nariyah 4,444 times. The purpose is to understand it as a social reality practiced in Badang Village during the COVID-19 pandemic. Sholawat nariyah is interpreted as a religious tradition that continues to be preserved and maintained. It uses a qualitative approach from the phenomenological aspect, with in-depth interviews and observations. The findings cover five categories of sholawat nariyah: as a symbol of religion, as a solidarity action, as sacredness, as collective awareness, and as a tool of power. This study concludes that the social meaning of reading sholawat nariyah for 4,444 times is social capital and cultural wealth in Badang Village. Sholawat nariyah is also as a social reality in understanding sholawat nariyah. Penelitian ini membahas tentang makna sosial dari bacaan sholawat nariyah sebanyak 4,444 kali. Tujuannya yaitu untuk memahami pembacaan sholawat nariyah sebagai realitas sosial di desa Badang pada masa pandemi COVID-19. Sholawat nariyah dimaknai sebagai tradisi keagamaan yang terus dilestarikan dan dipertahankan. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dari aspek fenomenologis, dengan wawancara mendalam dan observasi. Penelitian ini mengklasifikasikan temuan ke dalam lima kategori, antara lain:  sholawat nariyah sebagai simbol agama; sebagai aksi solidaritas; dalam kesucian; sebagai kesadaran kolektif; dan sebagai sebuah alat kekuasaan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa makna sosial yang terkandung dalam bacaan sholawat nariyah sebanyak 4,444 kali merupakan modal sosial dan kekayaan budaya di desa Badang, sholawat nariyah sebagai ralitas sosial dalam memahami sholawat nariyah.
Persepsi Masyarakat tentang Makam Raja dan Wali Gorontalo Ibrahim, Muhammad Rusli
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 18, No 1 (2016): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v18i1.3417

Abstract

This study aims to elucidate community perception of royal cemetery and friends of God of Gorontalo by using an approach of phenomenology of religion. The result of research pointed out that cemetery was interpreted as a resting place of human kinds after realm. The purpose of cemetery pilgrimage also has a variety, such as, the place of religious excursion, the efficacious place for praying, the place to get blessing from God by invoking the remains, the place to recall the goodness of a hero and a carrier of Islam, the place to learn both of  the history and Ladunni. A conducting variant procession of visiting cemetry is divided into by self-praying and praying by a priets. Particular things brought for the cemetry of Sultan Amai are for graping the water believed to have a blessing whereas pilgrims, at Ju Pangola, bring bottled water placed before cemetry and prayed by priests and also take glebe to get grace. Boon for pilgrims is:  to get a grace of life with praying for the King and Friends of God, appreciate the kindness of Islamic spreaders and Islamic heroes, and to be a guidance of life that human beings will end and return to the God. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji persepsi masyarakat tentang makam raja dan wali Gorontalo dengan menggunakan pendekatan fenomenologi agama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makam dimaknai sebagai tempat peristirahatan manusia setelah alam dunia. Adapun tujuan ziarah makam memiliki varian yakni: Makam sebagai tempat wisata religi; Tempat mustajab berdoa; Tempat untuk mendapatkan berkah dari Allah dengan mendoakan si mayit; Tempat untuk mengenang jasa pahlawan dan pembawa Islam; Tempat untuk belajar baik sejarah maupun ilmu Ladunni. Varian prosesi pelaksanaan ziarah kubur terbagi dua berdoa sendiri dan didoakan oleh imam. Adapun perlengkapan yang menyertai khususnya di makam Sultan Amai adalah mengambil air sumur yang diyakini memiliki berkah sedangkan di makam Ju Pangola adalah air mineral kemasan botol yang ditempatkan di depan makam dan didoakan oleh imam dan mengambil tanah makam untuk mendapatkan keberkahan. Hikmah bagi peziarah: untuk mendapatkan keberkahan hidup dengan mendoakan raja dan para wali Allah, menghargai jasa para pengembang Islam dan para pahlawan; serta menjadikan sebagai pelajaran hidup bahwa manusia pasti akan mati dan kembali ke Allah. 
Expressive Speech Acts and Cultural Values in Collection of Short Stories Wahah al-Asdiqa’ Anggraeni, Syifa Fauziah; Tajuddin, Shafruddin; Nuruddin, Nuruddin
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 20, No 1 (2018): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v20i1.4828

Abstract

This study aims to describe expressive speech acts and cultural values of Arab society contained in a collection of short stories Wahah al-Asdiqa’. This research uses qualitative approach with content analysis method. First, the researcher reads and studies the data, then records some expressive speech acts, after that she classifies and analyzes the speech into expressive speech acts and cultural values of Arab society, and most recently interpretes the data. The data analysis found that in the Wahah al-Asdiqa’ there are eight types of thanks using expressive speech acts, one replies from thank you, five apologies, seven greetings, two congratulations, fourty praises, five sad expressions, fourteen joyful expressions, and three offensive words, and there are some values of Arabic culture such as language, art, religion, technology, occupation, social organization, and science. Most of the culture of Arab society is based on the teachings of Islam, such as how to greet, praise always given to God, stories of prophets, culture makes poetry, etc. The expressive speech acts and cultural values must be taught to the Arabic students to improve expressive speech acts and have multicultural competence in communicating. Kajian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tindak tutur ekspresif dan nilai-nilai budaya dalam masyarakat Arab dalam kumpulan cerita pendek Wahah al-Asdiqa’. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode konten analisis. Pertama, peneliti membaca dan mengkaji data lalu mencatat tindak tutur ekspresif, setelah itu mengklasifikasi dan menganalisis perkataan tersebut dalam tindak tutur ekspresif dan nilai-nilai budaya dalam masyarakat Arab, dan kemudian menginterpretasikan data. Berdasar hasil analisis, ada delapan tipe ucapan berterima kasih yang menggunakan tindak tutur ekspresif, satu respon dari ucapan terima kasih, lima permintaan maaf, tujuh sapaan, dua ucapan selamat, 40 pujian, lima ungkapan sedih, 14 ungkapan bahagia, dan tiga kata hinaan, selain itu ada beberapa nilai budaya Arab seperti bahasa, seni, agama, teknologi, mata pencaharian, organisasi sosial, dan ilmu. Kebanyakan budaya masyarakat Arab didasarkan pada pengajaran Islam, seperti cara menyapa, pujian terhadap Tuhan, kisah-kisah nabi, budaya membuat puisi, dan sebagainya. Tindak tutur ekspresif dan nilai budaya harus diajarkan kepada siswa yang mempelajari Bahasa Arab untuk meningkatkan tindak tutur ekspresif dan memiliki kompetensi multi kultural dalam berkomunikasi.
The Values of Islamic Conduct in The Javanese Novel by Tulus Setiyadi Sulaksono, Djoko; Hasanah, Eryneta Nurul
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 24, No 1 (2022): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v24i1.15607

Abstract

Javanese novel is one of the literary works which is still popular today. It is closely related to the author's background, such as social conditions, education, and religion. Every Javanese novel contains the values of character education or moral values that the author wants to convey to the readers. Thus, as a literary work, it cannot be separated from religion. This study aimed to analyze and describe Islamic moral values in Javanese novels. The data sources of the current research are three Javanese novels by Tulus Setiyadi. It is a descriptive qualitative study with a sociology of literature approach which includes three stages of data analysis: data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The results of this study demonstrate that the Javanese novels by Tulus Setiyadi contain Islamic moral values based on the Qur'an and hadith which cover the relationship between human and God, human relationships with fellow humans, and human relationships with oneself. The moral values are expected to imitate and implement by the society in their daily life. It can be used to instil and promote a noble character among society. Novel Jawa adalah salah satu karya sastra yang masih populer hingga saat ini. Novel Jawa berkaitan erat dengan latar belakang pengarang, seperti keadaan sosial masyarakat, pendidikan, maupun agama. Setiap novel Jawa tentu mengandung nilai-nilai pendidikan karakter atau nilai budi pekerti yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca. Dengan demikian, novel Jawa sebagai salah satu karya sastra tidak dapat dipisahkan dari agama. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan nilai-nilai budi pekerti Islam yang terkandung dalam novel-novel Jawa karya Tulus Setiyadi. Sumber data penelitian ini adalah tiga novel Jawa karya Tulus Setiyadi. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan sosiologi sastra yang meliputi tiga tahap analisis data, yaitu reduksi data, sajian data, dan penarikan simpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa novel-novel Jawa karya Tulus Setiyadi mengandung nilai budi pekerti Islam yang didasarkan pada Alquran dan hadis meliputi hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan sesama manusia, dan hubungan manusia dengan diri sendiri. Adanya nilai-nilai budi pekerti dalam novel-novel Jawa karya Tulus Setiyadi diharapkan dapat diteladani dan diimplementasikan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dapat dijadikan sebagai upaya untuk membentuk pribadi yang berakhlak mulia.
The Meaning of Bhanti-Bhanti as Learning Media for Early Childhood in Wakatobi Udu, Sumiman; Jumaidin, La Ode; Ibrahim, Irianto; Marwati, Marwati; Susanto, Aris
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 25, No 2 (2023): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v25i2.24351

Abstract

The "lunga-lunga" tradition is a custom of putting a baby to sleep by lying on a pillow placed on the shins of the feet while chanting the traditional "bhanti-bhanti" as musical accompaniment. In this "bhanti-bhanti" text, the mother expresses all cultural values to her child. This research used an ethnographic paradigm to explore the education values and the cultural learning from the “bhanti-bhanti’ practiced in Wakatobi. Thus, data collection and processing were carried out using the principles of the ethnographic paradigm. It was found that this tradition is a custom of learning various cultural values that exist in the Wakatobi community. The teaching content consists of moral values, explaining history, and building hope for children. A mother creates sacred texts and simultaneously builds hope about the importance of education, including morals in the family, environment, and social life. Another lesson is to instill the value that "it is better to be hungry than to eat food that is not rightfully yours." Lastly, "bhanti-bhanti" in the "lunga-lunga" tradition teaches cultural values that can contribute to the formation of children from an early age. Tradisi “lunga-lunga” merupakan pranata menidurkan bayi dengan cara berbaring di atas bantal yang diletakkan di atas tulang kering kaki sambil melantunkan lagu adat “bhanti-bhanti” sebagai musik pengiringnya. Dalam teks “bhanti-bhanti” ini, ibu mengungkapkan segala nilai budaya kepada anaknya. Penelitian ini menggunakan paradigma etnografi untuk mengulas nilai Pendidikan dan pembelajaran budaya dari “bhanti-bhanti” yang diterapkan di Wakatobi. Dengan demikian pengumpulan dan pengolahan data dilakukan dengan menggunakan prinsip paradigma etnografi. Diketahui bahwa tradisi “lunga-lunga” merupakan tradisi pembelajaran berbagai nilai budaya yang ada pada masyarakat Wakatobi. Isi pengajarannya terdiri dari nilai-nilai moral, menjelaskan sejarah, dan membangun harapan bagi anak. Seorang ibu menciptakan teks-teks suci dalam waktu dan ruang yang sama, membangun harapan akan pentingnya pendidikan, termasuk akhlak dalam keluarga, lingkungan, dan kehidupan bermasyarakat. Hikmah lainnya adalah dengan menanamkan nilai bahwa “lebih baik lapar daripada makan makanan yang bukan haknya”. Terakhir, “bhanti-bhanti” dalam tradisi “lunga-lunga” mengajarkan nilai-nilai budaya yang dapat memberikan kontribusi dalam pembentukan anak sejak dini.
Politik Identitas Masyarakat Tengger dalam Mempertahankan Sistem Kebudayaan dari Hegemoni Islam dan Kekuasaan Maksum, Ali
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 17, No 1 (2015): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v17i1.3083

Abstract

This article explores the dynamic of Tengger communities life in order to defend its culture with regard to the expansion of Islam and the power of Indonesian government. The research were conducted in two villages, Ngadisari and Sapikerep, Probolinggo. Using the perspective of representation theory, this study  elaborate more detail about the strategy of the Tengger people in representing their identity in the midst of the dynamics of the changing time. The dynamics dialectic between the Tengger and power (Islam) have brought out two important propositions. First, because of the strong tradition and culture Tengger systems, both Hindu and Islamic ideology interpreted as a cultural system that only symbolically attached to the Tengger. Second, although impressed syncretic, in fact, Islam and Hinduism also established world view Tengger substantive and culturally. The second view is as commonly as Islam in Java, "Javanese Islam" behind its character as if syncretic. However, it shows "substantial Islam" because it is based on religious traditions of Sufism. Artikel ini mengeksplorasi dinamika masyarakat Tengger dalam mempertahankan sistem kebudayaan dari ekspansi Islam dan kekuasaan pemerintah Indonesia. Penelitian dengan mengambil lokus di dua desa, Ngadisari dan Sapikerep, Probolinggo. Dengan menggunakan perspektif teori representasi, penelitian ini hendak mengelaborasi strategi masyarakat Tengger dalam merepresentasi identitas diri mereka di tengah-tengah dinamika perubahan zaman. Dinamika dialektika antara Tengger dengan kekuasaan (Islam) melahirkan dua proposisi penting. Pertama, karena kuatnya tradisi dan sistem kebudayaan masyarakat Tengger, baik ideologi Hindu maupun Islam, dimaknai sebagai sistem kebudayaan yang tidak ubahnya hanya melekat secara simbolik bagi masyarakat Tengger. Kedua, meskipun terkesan sinkretis, sesungguhnya Islam maupun Hindu juga membentuk world view masyarakat Tengger secara subtantif dan kultural. Pandangan kedua tidak ubahnya seperti sistem keagamaan masyarakat Jawa pada umumnya yang menganut agama Islam. ”Islam Jawa” di balik wataknya seolah-olah sinkretis, namun sesungguhnya tetap menunjukkan ”Islam subtansial” karena berbasis tradisi keagamaan tasawuf.
Acculturation of Islam in Kabumi Cultural Tradition of Lebuawu Village Jepara Nuha, Muchammad Ulin
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 26, No 1 (2024): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v26i1.25526

Abstract

This study examines the acculturation of Islam in the implementation of the Kabumi tradition in Lebuawu Village, Pecangaan District, Jepara Regency, Central Java. It employed a qualitative descriptive method to describe the cultural facts surrounding the traditional Kabumi celebration. The findings show that the Kabumi tradition has become a traditional celebration as a form of gratitude by the people of Lebuawu Village to the Creator for allowing them to live on Earth by His grace. They heavily rely on the earth to grow crops, obtain food and drink, and carry out other activities. As a result, they perform earth alms as a way to express their gratitude to the earth. Additionally, the alms to the earth also represent a form of gratitude for the salvation and sustenance received by the community, and are believed to bring protection to their fields, ensuring abundant harvests. The acculturation of Islam in the implementation of Kabumi also teaches the community to always maintain an attitude of tolerance among people of different religions, as this acculturation preserves local traditions that characterize this custom. Penelitian ini mengkaji tentang akulturasi Islam dalam pelaksanaan tradisi Kabumi di Desa Lebuawu, Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk mendeskripsikan fakta budaya seputar perayaan adat Kabumi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa tradisi Kabumi telah menjadi perayaan adat sebagai wujud rasa syukur masyarakat Desa Lebuawu kepada Sang Pencipta yang telah mengizinkan mereka hidup di bumi atas karunia-Nya. Mereka sangat bergantung pada bumi untuk bercocok tanam, memperoleh makanan dan minuman, serta melakukan aktivitas lainnya. Oleh karena itu, mereka melakukan sedekah bumi sebagai wujud rasa syukurnya terhadap bumi. Selain itu, sedekah bumi juga merupakan wujud rasa syukur atas keselamatan dan rezeki yang diterima masyarakat, serta dipercaya dapat memberikan perlindungan pada ladangnya dan menjamin hasil panen yang melimpah. Akulturasi Islam dalam pelaksanaan Kabumi juga mengajarkan masyarakat untuk selalu menjaga sikap toleransi antar umat yang berbeda agama, karena akulturasi ini melestarikan tradisi lokal yang menjadi ciri adat tersebut.
Symbolic Function and Meaning of Ontalan Tradition in Maduranese Wedding Hasan, Nor; Susanto, Edi
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 21, No 2 (2019): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v21i2.6826

Abstract

Ontalan is a Maduranese tradition at weddings. The term of ontalan (oncal: Javanese) means throwing, which is throwing money at the bride and groom when they are sitting side by side. As a tradition, ontalan is something that has been done and has become part of the life and local wisdom of the Pamekasan community which is still being implemented. The social function of ontalan is to strengthen social relations between families, a symbol of family cohesiveness, and also as a symbol of agreement on the marriage of the bride and groom. While the economic function of ontalan is in order to help families who have an intention and as a provision of life for a new couple. Some people continue to try preserving these traditions through inheritance to the next generation, construction and modification so that the tradition is in accordance with the times. Ontalan adalah tradisi orang Madura di pesta pernikahan. Istilah ontalan (oncal: Jawa) berarti melempar, yaitu melempar uang ke pengantin saat mereka duduk berdampingan. Sebagai sebuah tradisi, ontalan adalah sesuatu yang telah dilakukan dan telah menjadi bagian dari kehidupan dan kearifan lokal masyarakat Pamekasan yang masih dilaksanakan. Fungsi sosial ontalan adalah untuk memperkuat hubungan sosial antar keluarga, simbol kekompakan keluarga, dan juga sebagai simbol kesepakatan tentang pernikahan mempelai pria dan wanita. Sedangkan fungsi ekonomi ontalan adalah untuk membantu keluarga yang memiliki niat dan sebagai bekal hidup bagi pasangan baru. Beberapa orang terus mencoba melestarikan tradisi ini melalui warisan kepada generasi berikutnya, konstruksi dan modifikasi sehingga tradisi tersebut sesuai dengan zaman.
At-Tarbiyah Al-Qiyadiyyah Al-Islamiyah fi Al-Ma‘Ahid Al-Islamiyyah bi Indonesia Wifqa Manzhuri Thariq As-Suwaidan Rohim, Abd.; Mujahidin, Endin; Saefuddin, Didin; Husaini, Adian
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 19, No 2 (2017): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v19i2.4232

Abstract

توصل الباحث من هذه الدراسة إلى استنتاج وهو أن مفهوم التربية القيادية لطارق السويدان تربوي، وتدريبي، وواقعي، وأسوتي، وإسلامي، بمعنى أن تشكيل قائد هو من خلال التعليم والتدريب ووفق الواقع، وليكون نموذجا، وبالمعايير الإسلامية، وأن مفهوم التربية القيادية لطارق السويدان هو تعزيز نظرية وارن بلانك باسم "108 مهارات قيادية طبيعية" وهي النظرية التي أكدت على أنه لا يوجد شخص ولد قائدا في شكل طبيعي، لأن القيادة هي مجموعة من الخصائص والمهارات التي يمكن تعلُّمها، وأن تطبيق مفهوم التربية القيادية لطارق السويدان في إندونيسيا هو باسم "برنامج تعليم وتدريب الشباب القيادة الإسلامية 30 ساعة"، والتطبيقات للتربية القيادية الإسلامية وفق منظور طارق السويدان هي برنامج التعليم والتدريب القيادي الذي يُقدَّم للشباب الذين هم من أشد الموارد البشرية خصبة، خطوة خطوة، في مؤسسة أو دورة تدريبية أنشئت خاصة بهذا الغرض، وذلك باستخدام مختلف أساليب التعليم والتدريب المتنوعة، وأن مثل هذا التعليم حدث ولا يزال يحدث في واقع المجتمع الإندونيسي مما يؤكد على أهمية دور الكيايات (الشيوخ) في البسانترينات (المعاهد الإسلامية) في إعداد كوادر العلماء الذين هم قادة للمستقبل. The conclusion of this research is that the concept of leadership education of Thariq as-Suwaidan is the concept of leadership education that having the characteristic of tarbawi, tadribi, waqi‘iy, uswati and Islami. In the sense of the formation of a leader must be through education, training, reality, model, and Islamic. Thariq as-Suwaidan’s Leadership Concept is to strengthen Warren Blank’s theory by the name of “108 Skills of Natural Born Leaders”, the theory that there is no natural leader. Leadership is a collection of traits and skills that can be learned. Application of Thariq as-Suwaidan Leadership Education Concept in Indonesia is under the name of “Youth Leadership Education Training Program 30 Hours”. The application of Islamic leadership education of Thariq as-Suwaidan is a leadership and leadership training program provided to the youngest of the most fertile human resources, step by step, in a training institute or course established specifically for this purpose, using various varied learning methods. The kind of education has really happened and will constantly happen in the reality of Indonesian society. The condition strictly shows the importance of the roles of Islamic scholars (ulama) in Islamic schools or Islamic institutions to perform and to shape their next generation to become the future leaders.

Filter by Year

1999 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2025): EL HARAKAH Vol 27, No 1 (2025): EL HARAKAH Vol 26, No 2 (2024): EL HARAKAH Vol 26, No 1 (2024): EL HARAKAH Vol 25, No 2 (2023): EL HARAKAH Vol 25, No 1 (2023): EL HARAKAH Vol 24, No 2 (2022): EL HARAKAH Vol 24, No 1 (2022): EL HARAKAH Vol 23, No 2 (2021): EL HARAKAH Vol 23, No 1 (2021): EL HARAKAH Vol 22, No 2 (2020): EL HARAKAH Vol 22, No 1 (2020): EL HARAKAH Vol 21, No 2 (2019): EL HARAKAH Vol 21, No 1 (2019): EL HARAKAH Vol 20, No 2 (2018): EL HARAKAH Vol 20, No 1 (2018): EL HARAKAH Vol 19, No 2 (2017): EL HARAKAH Vol 19, No 1 (2017): EL HARAKAH Vol 18, No 2 (2016): EL HARAKAH Vol 18, No 1 (2016): EL HARAKAH Vol 17, No 2 (2015): EL HARAKAH Vol 17, No 1 (2015): EL HARAKAH Vol 16, No 2 (2014): EL HARAKAH Vol 16, No 1 (2014): EL HARAKAH Vol 15, No 2 (2013): EL HARAKAH Vol 15, No 1 (2013): EL HARAKAH Vol 14, No 2 (2012): EL HARAKAH Vol 14, No 1 (2012): EL HARAKAH E-Harakah (Vol 14, No 2 Vol 13, No 2 (2011): EL HARAKAH Vol 13, No 1 (2011): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 13, No 1 Vol 12, No 3 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 2 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 1 (2010): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 12, No 3 el-Harakah (Vol 12, No 2 el-Harakah (Vol 12, No 1 Vol 11, No 3 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 2 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 1 (2009): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 11, No 2 el-Harakah (Vol 11, No 1 Vol 10, No 3 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 2 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 1 (2008): EL HARAKAH Vol 9, No 3 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 2 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 1 (2007): EL HARAKAH Vol 8, No 3 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 2 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 1 (2006): EL HARAKAH Vol 7, No 1 (2005): EL HARAKAH Vol 6, No 2 (2004): EL HARAKAH Vol 5, No 2 (2003): EL HARAKAH Vol 5, No 1 (2003): EL HARAKAH Vol 4, No 3 (2002): EL HARAKAH Vol 4, No 2 (2002): EL HARAKAH Vol 3, No 1 (2001): EL HARAKAH Vol 2, No 2 (2000): EL HARAKAH Vol 2, No 1 (2000): EL HARAKAH Vol 1, No 3 (1999): EL HARAKAH More Issue