cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
elharakahjurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
El-HARAKAH : Jurnal Budaya Islam
ISSN : 18584357     EISSN : 23561734     DOI : -
Core Subject : Health,
EL HARAKAH (ISSN 1858-4357 and E-ISSN 2356-1734) is peer-reviewed journal published biannually by Maulana Malik Ibrahim State Islamic University (UIN) of Malang. The journal is accredited based on the decree No. 36a E. KPT 2016 on 23 May 2016 by the Directorate General of Higher Education of Indonesia, for the period August 2016 to August 2021 (SINTA 2). The journal emphasizes on aspects related to Islamic Culture in Indonesia and Southeast Asia. We welcome contributions from scholars in the field, papers maybe written in Bahasa Indonesia, English, or Arabic.
Arjuna Subject : -
Articles 791 Documents
How Humanitarian Islam Fosters Peace: The perspective of Nahdlatul Ulama Tania, Basma; Chusniyah, Tutut; Pambudi, Kukuh Setyo; Haqq, Syauqi Arinal
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 26, No 1 (2024): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v26i1.26592

Abstract

This paper explores the perspective of Nahdlatul Ulama (NU), the largest Islamic organization in Indonesia, on the relationship between Islam and citizenship, and how its Humanitarian Islam initiative fosters peace and harmony among Muslims and non-Muslims. Using a literature review method, it examines the historical and conceptual background of Islam and citizenship and their relevance and implications in the context of Indonesia. It argues that NU and Humanitarian Islam view Islam and citizenship as compatible and mutually beneficial, based on the Islamic values and principles that are in line with the ideals and norms of citizenship. It also analyzes the main features and achievements of NU and Humanitarian Islam in promoting and practicing Islam and citizenship in Indonesia and beyond, such as their role in countering extremism, advancing democracy, and enhancing social justice. It discusses the challenges and opportunities that NU and Humanitarian Islam encounter in the contemporary world, such as the rise of Islamophobia, the impact of globalization, and the need for interfaith dialogue. It concludes that NU and Humanitarian Islam can serve as a model and a catalyst for the Muslim world and humanity at large, to foster a more peaceful, tolerant, and inclusive society. Makalah ini mengeksplorasi perspektif Nahdlatul Ulama (NU), organisasi Islam terbesar di Indonesia, mengenai hubungan antara Islam dan kewarganegaraan, serta bagaimana inisiatif Islam Humanitarian mereka mempromosikan perdamaian dan harmoni di antara umat Muslim dan non-Muslim. Dengan menggunakan metode tinjauan literatur, makalah ini mengkaji latar belakang historis dan konseptual Islam dan kewarganegaraan serta relevansi dan implikasinya dalam konteks Indonesia. Makalah ini berargumen bahwa NU dan Islam Humanitarian memandang Islam dan kewarganegaraan sebagai hal yang kompatibel dan saling menguntungkan, berdasarkan nilai dan prinsip Islam yang selaras dengan ide dan norma kewarganegaraan. Makalah ini juga menganalisis fitur utama dan pencapaian NU dan Islam Humanitarian dalam mempromosikan dan mempraktikkan Islam dan kewarganegaraan di Indonesia dan lebih luas, seperti peran mereka dalam menangkal ekstremisme, memajukan demokrasi, dan meningkatkan keadilan sosial. Selanjutnya, makalah ini membahas tantangan dan peluang yang dihadapi NU dan Islam Humanitarian di dunia kontemporer, seperti munculnya Islamofobia, dampak globalisasi, dan kebutuhan akan dialog antariman. Makalah ini menyimpulkan bahwa NU dan Islam Humanitarian dapat berfungsi sebagai model dan katalisator bagi dunia Muslim dan umat manusia secara luas, untuk membina masyarakat yang lebih damai, toleran, dan inklusif.
Budaya Mitoni: Analisis Nilai- Nilai Islam dalam Membangun Semangat Ekonomi Machmudah, Umi
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 18, No 2 (2016): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v18i2.3682

Abstract

Culture as the result of ideas, feelings and intention in Islam is the manifestation of worship. This paper is written through literary review that is completed with observation from some mitoni traditions. The culture form of ideas, activities and artifact is applied in 'mitoni'. It is a celebration on seventh month of pregnancy age. The activities done in mitoni are 1) bathing, 2) 'brojolan' ritual, 3) clothing change ritual, 4) prayer, 5) gift. Islamic values that inspire economic activities in mitoni are 1) thanksgiving that encourages people to be productive, 2) 'tafaa’ul' through prayer to be selective in consuming goods, 3) helping each others to manage the production cost, 4) implied education as all the activities are based on knowledge, 5) visitation to make connection through service distribution, 6) almsgiving through the gift that will maximize the production value, 7) reciting the verses of al-Quran and their meaning, some of which related to prosperity, 8) economic creativity, through the use of various apparatus and foods, bearing production activities. Budaya sebagai hasil dari cipta, rasa dan karsa manusia, dalam Islam merupakan manifestasi dari ibadah. Makalah ini ditulis melalui kajian pustaka dilengkapi dengan observasi dari beberapa acara mitoni. Wujud budaya yang berupa gagasan, kegiatan dan artefak yang teraplikasi pada budaya 'mitoni' 'Mitoni' adalah perayaan tujuh bulan usia kehamilan. Rangkaian mitoni adalah 1) siraman, 2) upacara brojolan, 3) upacara pergantian busana, 4) doa dan 5) 'mberkat'. Nilai-nilai Islam yang menyemangati aktivitas ekonomi dalam budaya 'mitoni' adalah: a) tasyakuran, mendorong orang untuk produktif 2) 'tafaa’ul' (optimisme) melalui doa, yang menjadi kekuatan untuk selektif dalam mengkonsumsi barang, 3) tolong menolong, yang berdampak pada penekanan biaya produksi, 4) pendidikan (pre natal) yang tidak terstruktur, menyebabkan penghematan biaya operasional, karena semua tindakan dilandasi ilmu pengetahuan, 5) silaturrahmi, berarti membuat jejaring untuk memperluas distribusi barang atau jasa. 6) sedekah melalui 'mberkat' akan memaksimalkan nilai produksi, 7) tilawah al-Quran dan tadabbur maknanya, yang sebagian berhubungan dengan kemakmuran, 8) kreatifitas ekonomi, melalui penggunaan berbagai piranti dan makanan, yang melahirkan aktivitas produksi.
Religion, Local Wisdom, and Power of The Madurese Society: Islamic Perspective and Social Theory Takdir, Mohammad; Roibin, Roibin; Sumbulah, Umi
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 26, No 1 (2024): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v26i1.25398

Abstract

This research aims to elucidate the relationship between religion, local wisdom, and power relations in the dynamics of Madurese community life from an Islamic perspective, religious scripture texts, and social theory. The research employs qualitative methods focusing on the Madura community as a distinct ethnic group in conducting social interactions and identifying language expressions that symbolize everyday peace. This study employs various data collection methods, including observation, interviews, and documentation. A thorough examination of the dynamics of religion, traditional knowledge, and power dynamics within the Madurese community serves as the data analysis technique employed in this study. By focusing on ontological and epistemological issues, this research utilizes social theory and an Islamic viewpoint to conceptually explain the study of religion, local wisdom, and power relations. The findings show that the Madurese people are known for their unwavering commitment to togetherness, balance, peace, and harmony. This is reflected in 'rampak naong bringen korong,' a concept of local wisdom that represents their deeply ingrained cultural values and moderate religious teachings. These insights hold implications for further studies in exploring the practical applications of local wisdom in promoting social cohesion, governance effectiveness, and community well-being. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan hubungan antara agama, kearifan lokal, dan hubungan kekuasaan dalam dinamika kehidupan masyarakat Madura dari perspektif Islam, teks-teks agama, dan teori sosial. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang berfokus pada komunitas Madura sebagai kelompok etnis yang berbeda dalam melakukan interaksi sosial dan mengidentifikasi ekspresi bahasa yang melambangkan perdamaian sehari-hari. Studi ini menggunakan berbagai metode pengumpulan data, termasuk observasi, wawancara, dan dokumentasi. Pemeriksaan menyeluruh terhadap dinamika agama, pengetahuan tradisional, dan dinamika kekuasaan dalam komunitas Madura berfungsi sebagai teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini. Dengan memfokuskan pada isu ontologis dan epistemologis, penelitian ini menggunakan teori sosial dan sudut pandang Islam untuk menjelaskan secara konseptual studi tentang agama, kearifan lokal, dan hubungan kekuasaan. Temuan menunjukkan bahwa masyarakat Madura dikenal karena komitmennya yang teguh terhadap kebersamaan, keseimbangan, perdamaian, dan harmoni. Hal ini tercermin dalam 'rampak naong bringen korong,' sebuah konsep kearifan lokal yang mewakili nilai-nilai budaya mereka yang sangat tertanam dan ajaran agama yang moderat. Temuan ini memiliki implikasi untuk penelitian lebih lanjut dalam mengeksplorasi aplikasi praktis kearifan lokal dalam mempromosikan kohesi sosial, efektivitas tata kelola, dan kesejahteraan masyarakat.
Tradition and Transformation: Islamic influence on animal slaughter in Padang Bolak funeral customs Siregar, Ilham Ramadan; Rababah, Mahmoud Ali; Amiruddin, Amiruddin; Akhyar, Akhyar; Hasibuan, Sri Wahyuni
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 26, No 1 (2024): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v26i1.26545

Abstract

This research aims to describe the acculturation of Islam and local culture in the tradition of animal slaughter at funeral ceremonies preserved by the Padang Bolak community, as part of the religious system reflecting the community's understanding of the Hadith. This study is a field study employing a qualitative method within the framework of living Hadith theory. The research findings indicate that this tradition of animal slaughter at funeral ceremonies in the community is motivated by several factors, including efforts to preserve customs and culture, as an act of devotion to parents, the deceased's will to conduct an animal slaughter before passing away, to honor guests, maintain the good name of the deceased parents within the community, as an expression of love for parents, and the belief that the merits of charity performed on that day will benefit the deceased. In Islamic legal studies, this tradition is fundamentally contradictory to Islamic teachings in all its processes and requirements. The acculturation of Islam with this tradition has led to modifications that eliminate elements conflicting with Islamic teachings. Further studies are needed on how such modifications can aid in understanding and potentially guiding the process of cultural adaptation in other Islamic communities. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan akulturasi Islam dan budaya lokal dalam tradisi penyembelihan hewan pada upacara pemakaman yang dipertahankan oleh komunitas Padang Bolak, sebagai bagian dari sistem religius yang mencerminkan pemahaman masyarakat tentang Hadits. Studi ini adalah studi lapangan yang menggunakan metode kualitatif dalam kerangka teori Hadits hidup. Temuan penelitian menunjukkan bahwa tradisi penyembelihan hewan pada upacara pemakaman di komunitas tersebut didorong oleh beberapa faktor, termasuk upaya untuk melestarikan adat dan budaya, sebagai tindakan pengabdian kepada orang tua, keinginan almarhum untuk melakukan penyembelihan hewan sebelum meninggal, untuk menghormati tamu, mempertahankan nama baik orang tua yang telah meninggal di dalam komunitas, sebagai ungkapan cinta kepada orang tua, dan keyakinan bahwa pahala amal yang dilakukan pada hari itu akan menguntungkan almarhum. Dalam studi hukum Islam, tradisi ini secara mendasar bertentangan dengan ajaran Islam dalam semua proses dan persyaratannya. Akulturasi Islam dengan tradisi ini telah mengarah pada modifikasi yang menghilangkan elemen-elemen yang bertentangan dengan ajaran Islam. Studi lebih lanjut diperlukan tentang bagaimana modifikasi tersebut dapat membantu dalam memahami dan berpotensi mengarahkan proses adaptasi budaya di komunitas Islam lainnya.
Culture and Religion: The Movement and Thought of Islam Nusantara Nowadays, A Socio-Cultural Reflection Gaus A.F., Ahmad; Sahrasad, Herdi
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 21, No 1 (2019): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v21i1.6513

Abstract

The Islamic ummah is usually used to struggling and wrestling with diversity. There are Nusantara Islam, Progressive Islam (Islam Berkemajuan), Wasathiyah Islam or Moderate Islam and a range of other terms such as Transformative Islam, Hadhari Islam, or Progressive Islam which community organizations try to develop Islam or Muslim intellectuals. This paper explores the movement and thought of Islam Nusantara. Since Nahdlatul Ulama (NU) was established, various dynamics of Islamic views have taken place. NU recognizes the diversity of religious opinions in four schools, but puritan Islamic groups feel that only their views are correct, only Islam has the right to enter heaven, only certain books can be read, and only the opinions of the teacher are considered authoritative. They looked enthusiastic and attracted attention of young generation and people who are just passionate about Islam, they are like a meteor that shines brightly, but then fades quickly and finally goes out. The time has proven, movements like that, then grow and disappear and change rapidly. The Nusantara Islam, however, has been down to earth, along with the Progressive Islam have taken steps, both are moving and developing in the future. Umat Islam sudah biasa bergumul dan bergulat dengan keanekaragaman. Ada Islam Nusantara, Islam Berkemajuan (berarti ada Islam yang tidak berkemajuan), ada Islam Wasathiyah atau Islam Moderat (berarti ada Islam yang tidak Moderat), dan sederetan istilah lainnya seperti Islam Transformatif, Islam Hadhari, atau Islam Progresif yang coba dikembangkan oleh organisasi masyarakat Islam atau intelektual Muslim. Artikel ini mengulas pergerakan dan pemikiran Islam Nusantara NU didirikan, beragam dinamika terhadap pandangan keislaman sudah terjadi. NU mengakui keragaman pendapat agama dalam empat mazhab, namun kelompok-kelompok Islam puritan merasa bahwa hanya pandangannya saja yang benar, hanya Islamnya saja yang berhak masuk surga, hanya kitab tertentu yang boleh dibaca, dan hanya pendapat gurunya saja yang dianggap otoritatif. Mereka tampak penuh semangat dan menarik generasi muda atau orang yang baru bersemangat dalam berislam, mereka bagai meteor yang bersinar terang, tapi kemudian cepat pudar dan akhirnya padam. Zaman telah membuktikan, gerakan-gerakan seperti itu tumbuh dan hilang berganti dengan cepat. Islam Nusantara sudah membumi, bersama dengan Islam Berkemajuan, keduanya bergerak dan berkembang ke depan.
Patriarchy and Paternalistic Culture of Religious Leader Deification Causing Sexual Harassment in Islamic Educational Institutions Razak, Abd; Nuraini, Nuraini; Putra, Rahmad Syah; Kurniawan, Rahmat
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 26, No 1 (2024): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v26i1.26215

Abstract

The rise of sexual harassment perpetrated by religious figures in Islamic educational institutions has raised doubts about the role and objectives of these institutions in Aceh. This research aims to determine how sexual harassment is influenced by religious culture and the impact of such cases on the image of Islamic educational institutions. It is qualitative-descriptive in nature. Data were collected using observation, interviews, and documentation instruments. Meanwhile, data analysis was carried out using descriptive analysis. The results show that cult-like practices contribute to sexual harassment in Islamic educational institutions as part of the religious culture within these institutions. The strength of these cult practices, as part of the religious culture, is intertwined with the role of patriarchal culture and paternalistic leadership deeply rooted in society. This harassment occurs through the abuse of religious dogma, such as the method of transferring metaphysical knowledge. With the continued increase in cases of sexual harassment within Islamic educational institutions, parents have grown doubtful about the educational process in institutions run by religious figures, leading them to prefer general educational institutions instead. This finding is helpful for understanding the causes and methods of preventing the recurrence of sexual harassment in Islamic educational institutions. Maraknya pelecehan seksual yang dilakukan oleh tokoh agama di lembaga pendidikan Islam telah menimbulkan keraguan tentang peran dan tujuan lembaga-lembaga tersebut di Aceh. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan bagaimana pelecehan seksual dipengaruhi oleh budaya agama dan dampak kasus-kasus tersebut terhadap citra lembaga pendidikan Islam. Penelitian ini bersifat kualitatif-deskriptif. Data dikumpulkan menggunakan instrumen observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sementara itu, analisis data dilakukan menggunakan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik-praktik seperti sekte berkontribusi terhadap pelecehan seksual di lembaga pendidikan Islam sebagai bagian dari budaya agama dalam lembaga-lembaga tersebut. Kekuatan praktik-praktik sekte ini, sebagai bagian dari budaya agama, terkait erat dengan peran budaya patriarki dan kepemimpinan paternalistik yang sangat tertanam dalam masyarakat. Pelecehan ini terjadi melalui penyalahgunaan dogma agama, seperti metode transfer pengetahuan metafisik. Dengan terus meningkatnya kasus pelecehan seksual di lembaga pendidikan Islam, orang tua semakin meragukan proses pendidikan di lembaga-lembaga yang dijalankan oleh tokoh agama, sehingga mereka cenderung memilih lembaga pendidikan umum. Temuan ini berguna untuk memahami penyebab dan metode pencegahan berulangnya pelecehan seksual di lembaga pendidikan Islam.
Values behind Osong Kapali Ceremony: Sociocultural Review of Indigenous and Religious Tradition Samiran, Fahmil; Elfiani, Elfiani; Daipon, Dahyul; Rahmiati, Rahmiati; Hendri, Hendri
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 24, No 2 (2022): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v24i2.17338

Abstract

This study describes the domination of local custom and religion behind the tradition of Osong Kapali among Sungai Patai community in Tanah Datar, Minangkabau, Indonesia during the decease of Datuak (the leader of ethnic group). It employs a qualitative method with observation, interviews, and documentation as research instruments. It revealed, for people, that the majesty of datuak is reflected on not only the time he receive the tittle but also the time he passes away. This ceremony is intended to honor the dead datuak. The tradition begins with baretong (planning), mangkaji adaik (discussing the tradition), mancabiak kain kafan (tearing the shroud), osong kapali (putting on the traditional fabric), marocak (spreading the coin along the way to Datuak grave), pidato alam (welcoming speech), and manigo ari (praying after the funeral procession). It contains values within, such as the leader’s majesty, datuak wisdom, and symbols of broad and clean thought. In addition, it holds sharia, educational, and social values. Osong kapali tradition is a combination of custom and religion represented in the ceremonial sequences which agree with the ideology of sarak basandi kitabullah, the Quran-based tradition. Penelitian ini mendeskripsikan dominasi adat dan agama pada tradisi Osong Kapali yang dilakukan oleh masyarakat Nagari Sungai Patai kabupaten Tanah Datar di Minangkabau Indonesia ketika seorang datuak meninggal dunia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi sebagai instrumen penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bagi masyarakat kebesaran seorang Datuak tidak hanya tergambar pada upacara pengangkatan gelar namun juga pada saat seorang datuak tersebut tutup usia. Upacara adat ini bertujuan untuk penghormatan kepada seorang datuak yang meninggal. Upacara Osong Kapali dimulai dengan baretong (Perencanaan), mangkaji adaik  (mendiskusikan adat), mancabiak kain kafan  (merobek kain kafan), Osong Kapali, pemasangan kain adaik  (Pemasangan kain adat), maroncak  (Menyebar koin sepanjang perjalanan ke kuburan Datuak), pidato alam  (Pidato), dan manigo hari  (berdoa setelah upacara pemakaman). Terdapat nilai nilai seperti kebesaran seorang pemimpin, kebijaksanaan seorang datuak dan symbol pemikiran yang luas dan bersih. Selain itu terdapat nilai teologi yakni nilai syari’ah, pendidikan dan sosial. Osong Kapali ini merupakan kombinasi antara adat dan agama yang terlihat dari rangkaian pelaksanaannya sesuai dengan filosofi adat ”sarak basandi kitabullah”.
Serat Cabolek, Sufism Book or Ideology Documents of Javanese Priyayi? Fauzan, Pepen Irpan; Fata, Ahmad Khoirul
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 20, No 1 (2018): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v20i1.4674

Abstract

Many researches concern with the dialectic between Islam and tradition of Java. One of them is Soebardi studying Serat Cabolek, a manuscript that illustrated the dialectic between Islam and Javanese tradition in 18/19th century. Through philological studies Soebardi has produced a PhD thesis at The Australia National University (1967), and published in 1975 under title “The Book of Cabolek”. This book should be appreciated for having presented an important study on Islam and Java. Yet, it also needs to be studied more deeply through historical studies in order to obtain clearer information about the context. This article attempts to give a short review about the content of the book, and gives a critical explanation based on its socio-historical perspective. The result is that the story in Serat Cabolek is a construction of Javanese Priyayi on their history. It is an upscale historical document, to strengthen the king’s position as Panatagama. Dialektika Islam dan tradisi Jawa menarik perhatian banyak peneliti. Salah satunya adalah Soebardi yang mengkaji Serat Cebolek, sebuah naskah yang dianggap menjadi gambaran dialektika Islam-Jawa abad 18/19 M. Melalui kajian filologis Soebardi menghasilkan karya disertasi di Australia National University tahun 1967, dan diterbitkan dengan judul “The Book of Cabolek” pada 1975. Buku ini patut diapresiasi karena telah menyajikan satu teks yang penting bagi studi Islam dan Jawa. Namun juga perlu ditelaah melalui penelusuran sejarah untuk memahami konteksnya agar informasi yang didapat lebih lengkap. Tulisan ini berusaha memberikan ikhtisar tehadap isi buku tersebut dengan disertai penjelasan kritis berdasarkan perspektif sosio-historisnya. Hasil kajian menunjukkan bahwa kisah yang terdapat dalam Serat Cebolek merupakan konstruksi priyayi mengenai realitas sejarah. Serat ini adalah dokumen sejarah sosial kelas atas, sebagai simbol peneguhan kepentingan raja sebagai panatagama.
Islamic Music and Local Identity of Sundanese Ethnicity Tohari, Amin
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 26, No 1 (2024): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v26i1.26327

Abstract

Derived from the dimension of locality, terebang merges Sundanese ethnic and Islamic elements into a distinctive music genre. This article explores the forms of the Sundanese Islamic musical genre and how this genre is utilized at Islamic ritual events and on the urban stage. With the involvement of cultural activists supporting the Candralijaya band, this research also examines the challenges and criticisms from various groups concerning the integration of ethnicity and Islam. Based on an ethnographic expedition in Tasikmalaya, West Java, the findings reveal a unique significance in this genre that is not evident in other parts of Indonesia or the Muslim world, such as in the Middle East and Pakistan. This study highlights the importance of expressing 'Sundanese-Islamic feelings' through musical performance art. It argues that this music genre embodies a vernacular meaning born from two distinct origins, yet it has created a distinctive genre. This confirms that both sources maintain specific boundaries, each with its own unique 'flavors.' Future studies could explore how these musical performances can foster intercultural dialogue and understanding in diverse societies, potentially serving as a bridge between different religious and ethnic communities. Berawal dari dimensi lokalitas, terebang menggabungkan elemen-etnik Sunda dan Islam menjadi genre musik yang khas. Artikel ini mengeksplorasi bentuk-bentuk genre musik Islam Sunda dan bagaimana genre ini digunakan dalam acara ritual Islam dan di panggung urban. Dengan keterlibatan aktivis budaya yang mendukung band Candralijaya, penelitian ini juga mengkaji tantangan dan kritik dari berbagai kelompok mengenai integrasi etnisitas dan Islam. Berdasarkan ekspedisi etnografi di Tasikmalaya, Jawa Barat, temuan ini mengungkapkan sebuah keunikan dalam genre ini yang tidak terlihat di bagian lain Indonesia atau dunia Muslim, seperti di Timur Tengah dan Pakistan. Studi ini menyoroti pentingnya mengekspresikan 'perasaan Islam-Sunda' melalui seni pertunjukan musikal. Argumennya adalah bahwa genre musik ini mengandung makna vernakular yang berasal dari dua sumber berbeda, namun telah menciptakan genre yang berbeda. Ini membenarkan bahwa kedua sumber tersebut mempertahankan batas-batas tertentu, masing-masing dengan 'rasa' uniknya sendiri. Studi mendatang dapat mengeksplorasi bagaimana pertunjukan musik ini dapat mendorong dialog dan pemahaman lintas budaya dalam masyarakat yang beragam, berpotensi menjadi jembatan antara komunitas agama dan etnik yang berbeda.
Java Islam: Relationship of Javanese Culture and Islamic Mystism in The Post-Colonial Study Perspective Rubaidi, Rubaidi
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 21, No 1 (2019): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v21i1.6066

Abstract

This paper examines and shows at the same time about Javanese Islam (Islam Nusantara) which is typical of a few Muslims in the world. The characteristic in question is a combination of Javanese culture (Javanese original religion, Hindu and Buddhist) with the intrinsic dimension of Islam itself. This combination occurs because it is bound by a red thread called mysticism, which is between Javanese mysticism and Islamic mysticism as a compound. The two conception of mysticism is because the essence of mysticism actually contains the teachings of the unity (tauhid) of God. This encounter through mysticism allows for acculturation between Javanese culture and Islam. This thesis is based on the reconstruction of the thinking of Sufi teachers in the Majelis Shalawat Muhammad in Surabaya and Bojonegoro as a research base. The Sufi masters referred to were placed as sub-alternations which were prevalent in post-colonial studies. As a sub-altern, this paper is believed to better narrate the perpetrators of Islamic mysticism in understanding the dialectic between Islamic mysticism and original Javanese culture or Javanese mysticism itself. Their relations gave birth to what is called Javanese Islam which is typical in Indonesia. Makalah ini membahas dan menunjukkan pada saat yang sama tentang Islam Jawa (Islam Nusantara) yang merupakan ciri khas beberapa Muslim di dunia. Karakteristik yang dimaksud adalah kombinasi budaya Jawa (agama asli Jawa, Hindu dan Budha) dengan dimensi intrinsik Islam itu sendiri. Kombinasi ini terjadi karena diikat oleh benang merah yang disebut mistisisme, yaitu antara mistisisme Jawa dan mistisisme Islam yang merupakan senyawa. Dua konsepsi mistisisme adalah karena esensi mistisisme sebenarnya mengandung ajaran persatuan (tauhid) Tuhan. Pertemuan ini melalui mistisisme memungkinkan akulturasi antara budaya Jawa dan Islam. Tesis ini didasarkan pada rekonstruksi pemikiran guru sufi di Majelis Shalawat Muhammad di Surabaya dan Bojonegoro sebagai basis penelitian. Para guru sufi yang disebut ditempatkan sebagai sub-pergantian yang lazim dalam studi pasca-kolonial. Sebagai pengganti, makalah ini diyakini akan lebih baik menceritakan para pelaku mistisisme Islam dalam memahami dialektika antara mistisisme Islam dan budaya Jawa asli atau mistisisme Jawa itu sendiri. Hubungan mereka melahirkan apa yang disebut Islam Jawa yang khas di Indonesia.

Filter by Year

1999 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2025): EL HARAKAH Vol 27, No 1 (2025): EL HARAKAH Vol 26, No 2 (2024): EL HARAKAH Vol 26, No 1 (2024): EL HARAKAH Vol 25, No 2 (2023): EL HARAKAH Vol 25, No 1 (2023): EL HARAKAH Vol 24, No 2 (2022): EL HARAKAH Vol 24, No 1 (2022): EL HARAKAH Vol 23, No 2 (2021): EL HARAKAH Vol 23, No 1 (2021): EL HARAKAH Vol 22, No 2 (2020): EL HARAKAH Vol 22, No 1 (2020): EL HARAKAH Vol 21, No 2 (2019): EL HARAKAH Vol 21, No 1 (2019): EL HARAKAH Vol 20, No 2 (2018): EL HARAKAH Vol 20, No 1 (2018): EL HARAKAH Vol 19, No 2 (2017): EL HARAKAH Vol 19, No 1 (2017): EL HARAKAH Vol 18, No 2 (2016): EL HARAKAH Vol 18, No 1 (2016): EL HARAKAH Vol 17, No 2 (2015): EL HARAKAH Vol 17, No 1 (2015): EL HARAKAH Vol 16, No 2 (2014): EL HARAKAH Vol 16, No 1 (2014): EL HARAKAH Vol 15, No 2 (2013): EL HARAKAH Vol 15, No 1 (2013): EL HARAKAH Vol 14, No 2 (2012): EL HARAKAH Vol 14, No 1 (2012): EL HARAKAH E-Harakah (Vol 14, No 2 Vol 13, No 2 (2011): EL HARAKAH Vol 13, No 1 (2011): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 13, No 1 Vol 12, No 3 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 2 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 1 (2010): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 12, No 3 el-Harakah (Vol 12, No 2 el-Harakah (Vol 12, No 1 Vol 11, No 3 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 2 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 1 (2009): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 11, No 2 el-Harakah (Vol 11, No 1 Vol 10, No 3 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 2 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 1 (2008): EL HARAKAH Vol 9, No 3 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 2 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 1 (2007): EL HARAKAH Vol 8, No 3 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 2 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 1 (2006): EL HARAKAH Vol 7, No 1 (2005): EL HARAKAH Vol 6, No 2 (2004): EL HARAKAH Vol 5, No 2 (2003): EL HARAKAH Vol 5, No 1 (2003): EL HARAKAH Vol 4, No 3 (2002): EL HARAKAH Vol 4, No 2 (2002): EL HARAKAH Vol 3, No 1 (2001): EL HARAKAH Vol 2, No 2 (2000): EL HARAKAH Vol 2, No 1 (2000): EL HARAKAH Vol 1, No 3 (1999): EL HARAKAH More Issue